Presiden Prabowo Wujudkan Investasi Masa Depan Melalui Cek Kesehatan Gratis

Oleh : Andi Mahesa )*

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan komitmen kuat dalam membangun masa depan bangsa melalui berbagai program strategis. Salah satu inisiatif paling visioner yang tengah digulirkan adalah program cek kesehatan gratis bagi masyarakat. Program ini bukan sekadar layanan medis semata, tetapi merupakan investasi besar untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan sejahtera di masa depan.

Selama ini, paradigma layanan kesehatan di Indonesia cenderung bersifat kuratif atau berorientasi pada pengobatan. Padahal, tantangan kesehatan modern membutuhkan pergeseran cara pandang menuju sistem preventif, yakni pencegahan dan deteksi dini penyakit. Dalam konteks inilah, program cek kesehatan gratis menjadi terobosan penting yang mencerminkan kepedulian pemerintah terhadap kesejahteraan masyarakat secara holistik.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menegaskan pemerintah menargetkan program cek kesehatan gratis ini dapat menjangkau 100 juta jiwa pada tahun 2025. Tahap awal ditargetkan 60 juta jiwa, kemudian bertambah hingga mencapai target tersebut pada akhir tahun. Menurut Menkes Budi, deteksi dini penyakit menjadi kunci utama dalam menciptakan masyarakat yang sehat dan mandiri.

Banyak penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung sebenarnya bisa dicegah apabila diketahui sejak dini. Dengan cek kesehatan gratis ini, masyarakat dapat mengetahui kondisi tubuhnya lebih cepat dan dapat mengambil langkah pencegahan sedini mungkin. Hasilnya, bukan hanya kesehatan yang terjaga, tetapi biaya pengobatan juga menjadi jauh lebih efisien, baik bagi individu maupun negara.

Penting disadari bahwa investasi di sektor kesehatan bukan hanya tentang meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan beralih dari pola pengobatan ke pencegahan, beban pembiayaan kesehatan negara dapat ditekan secara signifikan. Bayangkan jika masyarakat lebih sehat, produktivitas tenaga kerja akan meningkat. Angkatan kerja yang sehat akan mampu bekerja lebih optimal, menciptakan lapangan kerja, dan turut menggerakkan roda ekonomi nasional. Sebaliknya, masyarakat yang rentan terhadap penyakit kronis justru akan menjadi beban ekonomi karena tingginya biaya pengobatan dan rendahnya produktivitas.

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menyatakan program cek kesehatan gratis ini merupakan komitmen nyata pemerintah dalam memberikan layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Baginya, masyarakat yang sehat dan kuat merupakan investasi dalam membangun sumber daya manusia (SDM) unggul demi mewujudkan Indonesia Emas 2045. Hasan menegaskan, Indonesia Emas bukan hanya bicara soal bonus demografi atau usia produktif semata, tetapi juga kualitas manusianya. Pendidikan harus berkualitas, kesehatan masyarakat harus prima, dan produktivitas bangsa harus terus meningkat. Tanpa masyarakat yang sehat, semua visi besar itu akan sulit tercapai.

Program cek kesehatan gratis ini juga menjadi bagian integral dari berbagai program prioritas pemerintah lainnya, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan diluncurkan secara nasional. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, mengatakan bahwa pemeriksaan kesehatan gratis ini sangat penting sebagai dasar pembangunan masyarakat.

Menurut Arifatul, program ini menjadi pelengkap yang sangat relevan untuk menciptakan SDM unggul. Dengan asupan gizi yang baik dari program MBG dan dukungan deteksi dini melalui cek kesehatan gratis, Indonesia sedang membangun fondasi kuat untuk menciptakan generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan tangguh.

Yang perlu diketahui oleh masyarakat bahwa investasi terbesar suatu negara sesungguhnya terletak pada manusianya. Kesehatan bukan hanya hak dasar warga negara, tetapi juga modal penting untuk mencegah penyakit serius di masa depan. Ketika penyakit bisa dicegah, maka kualitas hidup meningkat dan potensi ekonomi masyarakat pun ikut tumbuh.

Dalam hal ini, program cek kesehatan gratis yang digagas Presiden Prabowo Subianto merupakan bukti nyata komitmen pemerintah dalam menyejahterakan rakyat dan membangun masa depan Indonesia yang lebih sehat dan produktif. Melalui layanan pemeriksaan kesehatan preventif ini, masyarakat didorong untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya sejak dini. Langkah ini tidak hanya berdampak positif bagi kualitas hidup individu, tetapi juga mendukung efisiensi pembiayaan kesehatan nasional, karena penyakit dapat dicegah sebelum berkembang menjadi lebih serius dan mahal untuk ditangani.
Lebih dari itu, program ini menjadi bagian penting dari investasi jangka panjang pemerintah dalam membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Dengan masyarakat yang sehat, produktivitas nasional akan meningkat, daya saing bangsa semakin kuat, dan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan lebih optimal.

Oleh karena itu, sebagai masyarakat, sudah sepatutnya mendukung penuh kebijakan ini. Tidak hanya dengan memanfaatkan layanan cek kesehatan gratis secara optimal, tetapi juga dengan ikut menyebarkan informasi positif kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Pemerintah sudah menyediakan fasilitas dan layanan terbaik demi menjaga kesehatan masyarakat. Kini saatnya seluruh pihak ikut berkontribusi aktif untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan orang-orang tercinta. Masyarakat yang sehat bukan hanya menciptakan keluarga yang bahagia, tetapi juga menjadi fondasi kokoh bagi Indonesia yang maju dan sejahtera.

)* Penulis merupakan Mahasiswa yang tinggal di Jakarta.

Cek Kesehatan Gratis Bukti Kepedulian Negara Terhadap Masyarakat

Oleh : Dirandra Falguni )*

Pemeriksaan kesehatan gratis yang tengah digalakkan oleh pemerintah menjadi salah satu bukti nyata bahwa negara hadir untuk melindungi rakyatnya, tidak hanya dalam konteks keamanan dan ekonomi, tetapi juga dalam aspek kesehatan. Program ini kini menjelma menjadi gerakan nasional yang menyentuh jutaan warga di seluruh Indonesia, dari perkotaan hingga pelosok daerah, dari usia produktif hingga lanjut usia.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Prof. Dante Saksono Harbuwono melakukan pemeriksaan kesehatan gratis di Puskesmas Kelapa Gading, Jakarta. Kegiatan ini bukan sekadar simbolik, tetapi menjadi bukti bahwa fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas kini telah mengalami peningkatan kualitas signifikan, hingga setara dengan fasilitas layanan lainnya.
Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan pihaknya ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa puskesmas yang dekat dengan rumah mereka memiliki kualitas pelayanan yang sangat baik. Selain menjalani pemeriksaan kesehatan gratis, ia juga melihat langsung berbagai fasilitas yang tersedia.
Dante menekankan bahwa pemilihan puskesmas yang dekat dari tempat tinggal mencerminkan akses mudah yang juga dirasakan masyarakat sehari-hari. Integrasi layanan primer membuat Puskesmas Kelapa Gading semakin optimal dalam melayani masyarakat. Data harian menunjukkan sekitar 30 peserta mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis di sana, menandakan antusiasme masyarakat yang terus meningkat.
Program cek kesehatan gratis ini telah dilaksanakan secara nasional dan telah menjangkau lebih dari 1,8 juta peserta, dengan 1,5 juta di antaranya telah menerima layanan di 9.001 Puskesmas di 37 provinsi. Capaian ini mencerminkan skala masif program serta komitmen kuat pemerintah dalam membangun sistem kesehatan preventif.
Cek kesehatan gratis bukan hanya sebatas kegiatan seremonial, melainkan bagian dari strategi besar deteksi dini penyakit yang bisa menghemat biaya kesehatan negara. Dante mencontohkan bagaimana penyakit ginjal jika terdeteksi sejak awal bisa ditangani tanpa harus melalui prosedur mahal seperti cuci darah. Begitu pula dengan penyakit jantung, yang bisa dicegah sebelum memicu serangan.
Dengan deteksi dini tersebut, pihaknya dapat mengurangi antrean pasien dengan kondisi berat di rumah sakit. Hal tersebut tentunya akan sangat membantu dalam pengelolaan sumber daya kesehatan secara nasional. Program ini juga dapat mengurangi beban layanan di rumah sakit, terutama untuk peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), serta mempercepat penanganan kasus secara berjenjang.
Wamenkes juga mendorong masyarakat untuk memeriksakan kesehatan minimal sekali setahun, tak perlu menunggu ulang tahun. Pemerintah pun tengah memperbaiki aspek teknis layanan, termasuk sistem pendaftaran daring untuk mempercepat proses dan meningkatkan kenyamanan.
Di berbagai wilayah, pemeriksaan kesehatan gratis juga disambut dengan antusias. Di Kelurahan Kebonsari, pada 24 Maret 2025 lalu, pemeriksaan kesehatan gratis menyasar 100 warga dari berbagai kalangan usia. Dengan penataan rapi dan suasana kekeluargaan, masyarakat memeriksakan kondisi mereka secara tertib, mulai dari tekanan darah hingga konsultasi kesehatan umum. Tim medis juga memberikan edukasi mengenai penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit menular.
Sementara itu, Pemerintah Kota Yogyakarta secara konsisten mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis khusus lansia setiap bulan. Program ini masuk dalam agenda Quick Wins Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo dan Wakil Wali Kota Wawan Harmawan. Setiap bulannya, pemeriksaan serentak dilakukan di 15 kelurahan berbeda. Pada Maret 2025 lalu, program ini berhasil melayani 1.386 lansia.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, kegiatan ini bertujuan mendeteksi dini risiko penyakit. Pemeriksaan mencakup gula darah, kolesterol, dan asam urat, serta tindak lanjut rujukan bila ditemukan kelainan. Dengan total lansia mencapai 66 ribu orang, program ini menjadi bentuk komitmen luar biasa dalam memperhatikan kelompok rentan.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa program cek kesehatan gratis merupakan bagian dari pesan langsung mantan Presiden Joko Widodo guna menjaga kesehatan seluruh rakyat Indonesia. Budi mencatat, hingga saat ini hampir 2 juta masyarakat telah memanfaatkan layanan ini, dengan partisipasi harian mencapai 110 ribu orang. Dari data yang dikumpulkan, keluhan terbanyak datang dari masalah kesehatan gigi, tekanan darah tinggi dan kadar gula darah yang tinggi. Fakta ini membuka mata bahwa masih banyak puskesmas yang belum memiliki dokter gigi.
Pihaknya tengah melakukan lobi fakultas kedokteran gigi. Hal tersebut dikarenakan sekolahnya mahal dan untuk dapat masuk ke fakultas tersebut terbilang susah. Jika hal tersebut tidak tercapai, pihaknya akan coba tingkatkan keterampilan tenaga teknis seperti tukang gigi agar bisa membantu pelayanan. Program ini juga membuka peluang untuk memperluas cakupan ke sekolah-sekolah. Kemenkes tengah menyiapkan mekanisme pemeriksaan untuk anak sekolah mulai tahun ajaran baru dengan menggandeng puskesmas.
Pemeriksaan kesehatan gratis menjadi wajah nyata hadirnya negara di tengah masyarakat. Bukan hanya sebagai respons terhadap keluhan masyarakat, tetapi sebagai strategi jangka panjang untuk membentuk bangsa yang lebih sehat dan produktif.
Melalui program ini, negara bukan hanya menunjukkan keberpihakannya kepada kelompok rentan, tetapi juga memperkuat pilar pembangunan sumber daya manusia. Dengan kesehatan yang terjaga sejak dini, maka Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan. Pemeriksaan kesehatan gratis bukan sekadar program, tetapi representasi cinta negara kepada rakyatnya.

)* Kontributor Beritakapuas.com

Waspada Politisasi Indonesia Gelap Manfaatkan Isu Penolakan UU TNI dan RUU Polri

Oleh: Dita Aida Putri )*

Polemik revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) serta wacana penyusunan ulang Undang-Undang Kepolisian (RUU Polri) kini menjadi sorotan dalam lanskap perdebatan kebangsaan. Dinamika ini memang bagian dari demokrasi, namun narasi yang berkembang menunjukkan kecenderungan mengarah pada provokasi yang membahayakan stabilitas nasional.
Penolakan yang dilandasi sentimen emosional tanpa pemahaman komprehensif terhadap substansi regulasi telah membuka ruang bagi pembentukan opini yang menyesatkan. Bahkan, sebagian kelompok tampak memanfaatkan momentum ini untuk menggiring persepsi publik agar melihat Indonesia dalam kacamata pesimistis, sebagaimana tergambar dalam wacana “Indonesia Gelap” yang akhir-akhir ini terus dikapitalisasi.
Pemerintah tidak menutup ruang partisipasi dalam pembahasan revisi UU TNI. Mekanisme pembentukan kebijakan telah dijalankan melalui proses konstitusional yang dapat diawasi dan diuji secara hukum. Meski demikian, sejumlah pihak tetap mencoba membingkai proses ini seolah bertentangan dengan prinsip demokrasi dan supremasi sipil. Padahal tudingan semacam ini tidak berdasar dan lebih merupakan upaya untuk menimbulkan keresahan. Politisasi terhadap agenda strategis ini bahkan berpotensi mengaburkan substansi yang sebenarnya: memperkuat daya tahan negara melalui pembaruan regulasi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, telah menegaskan bahwa semangat di balik revisi UU TNI adalah penguatan profesionalisme militer yang tetap dalam koridor reformasi. Penyesuaian usia pensiun perwira tinggi misalnya, bukan dimaksudkan untuk memperpanjang kekuasaan personal, melainkan untuk menjamin kesinambungan kepemimpinan strategis di tubuh TNI. Kebijakan ini justru merupakan langkah preventif agar stabilitas komando tidak mudah terganggu oleh faktor administratif. Seluruh proses yang dijalankan tetap menjunjung tinggi prinsip demokrasi dan tidak membuka ruang kembalinya peran militer dalam ranah sipil. Tuduhan tentang kebangkitan dwifungsi militer adalah kekeliruan yang tidak mencerminkan isi dari regulasi yang tengah dibahas.
Dari perspektif legislasi, Ketua Komisi III DPR RI Adies Kadir menyampaikan bahwa hingga saat ini, belum ada surat presiden (surpres) yang diajukan ke DPR terkait RUU Polri. Fakta ini menjadi penegasan bahwa wacana tentang pembahasan paksa revisi UU Kepolisian tidak memiliki dasar yang sah. Narasi yang berkembang lebih merupakan spekulasi yang belum tentu mengarah pada kenyataan, dan justru membuka ruang disinformasi yang kontraproduktif terhadap kerja-kerja kenegaraan. DPR berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap proses legislasi yang dilakukan kelak akan bersifat terbuka, melibatkan publik, dan berjalan sesuai asas transparansi.
Lebih jauh, Kepala Staf Resimen Mahasiswa Indonesia, M. Arwani Deni, menekankan bahwa isu penolakan revisi UU TNI harus dilihat dalam kerangka geopolitik yang lebih luas. Ia melihat adanya kecenderungan kekuatan eksternal yang mencoba mempengaruhi dinamika politik nasional dengan tujuan melemahkan posisi Indonesia yang kini semakin mandiri dalam menentukan arah strategisnya. Pola seperti ini bukan hal baru dalam sejarah global, di mana upaya modernisasi militer di beberapa negara kerap ditentang oleh narasi domestik yang ternyata dikendalikan oleh kepentingan luar.
Langkah Indonesia untuk bergabung dalam BRICS menjadi indikator bahwa negara ini tengah menegaskan posisinya sebagai kekuatan baru dalam sistem dunia yang semakin multipolar. Implikasi dari langkah tersebut tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga memperluas spektrum kerja sama strategis dalam bidang pertahanan dan keamanan. Dalam konteks itu, revisi UU TNI dapat dipahami sebagai bagian dari konsolidasi nasional dalam menghadapi tekanan eksternal yang semakin kompleks. Peningkatan daya tahan militer menjadi keharusan, bukan ancaman bagi demokrasi.
Arwani menyoroti bahwa narasi penolakan terhadap revisi UU TNI di Indonesia memiliki kesamaan pola dengan beberapa negara lain, di mana modernisasi militer kerap dijegal oleh opini-opini yang disusupi kepentingan luar. Ketakutan terhadap tumbuhnya kemandirian militer nasional sering kali menjadi alasan tidak langsung yang dimanfaatkan oleh kekuatan eksternal untuk menekan negara-negara berkembang. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat Indonesia untuk memiliki kesadaran geopolitik yang tinggi agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang tidak objektif.
Posisi Indonesia yang berada di jalur strategis antara Samudra Hindia dan Pasifik menjadikan negara ini sebagai titik penting dalam rivalitas global. Dalam situasi seperti ini, langkah pemerintah untuk memperkuat lembaga pertahanan negara patut dipandang sebagai bentuk tanggung jawab nasional, bukan sebagai upaya dominasi. Reaksi negatif dari pihak-pihak tertentu bisa jadi merupakan refleksi dari kekhawatiran mereka terhadap meningkatnya kemandirian dan kekuatan Indonesia di kawasan.
Melihat seluruh perkembangan ini, upaya politisasi terhadap revisi UU TNI dan wacana RUU Polri bukan sekadar perbedaan pandangan, melainkan bagian dari skenario yang berpotensi mengganggu stabilitas nasional. Pemerintah telah bertindak sesuai konstitusi dan tetap menjunjung prinsip keterbukaan. Namun, masyarakat perlu dilibatkan secara aktif untuk memahami konteks besar yang melatarbelakangi kebijakan ini. Dengan demikian, narasi provokatif tidak akan menemukan ruang, dan bangsa Indonesia tetap kokoh menghadapi tantangan global dengan kesatuan visi dan semangat kebangsaan yang utuh.

)* Pemerhati Kebijakan Publik

Pemerintah Siap Lakukan Diplomasi Cegah Pelemahan Ekonomi Akibat Kebijakan Trump

JAKARTA — Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapan menghadapi dampak kebijakan tarif impor tinggi yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Menyikapi potensi pelemahan ekonomi akibat kebijakan proteksionisme AS, Indonesia mengedepankan pendekatan diplomasi strategis, penguatan solidaritas regional, serta diversifikasi pasar ekspor sebagai langkah konkret menjaga stabilitas perdagangan nasional.

Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan jajarannya untuk tidak bersikap reaktif, namun tetap sigap dan adaptif.

“Presiden Prabowo telah memerintahkan langkah diplomasi aktif, memperkuat peran Indonesia dalam solidaritas ASEAN, serta mempercepat diversifikasi pasar ekspor. Langkah ini merupakan respons strategis dalam menghadapi kebijakan tarif resiprokal AS,” ujarnya.

Kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan Trump menargetkan negara-negara yang dianggap menghambat akses pasar AS. Indonesia sempat dikenakan tarif hingga 32 persen, sebelum akhirnya diturunkan menjadi 10 persen melalui masa penangguhan 90 hari yang ditawarkan untuk membuka ruang negosiasi.

Roro menjelaskan bahwa masa penangguhan ini harus dimanfaatkan secara maksimal. Pemerintah Indonesia telah mengirimkan tim negosiasi ke Washington DC dan memperkuat komunikasi dengan pelaku industri yang menggantungkan pasokan pada produk Indonesia. Fokus utama diplomasi mencakup komoditas strategis seperti tekstil, alas kaki, ban, elektronik, otomotif, serta kelapa sawit dan turunannya.

Tak hanya itu, Indonesia juga mendorong pendekatan multilateral melalui ASEAN. Dalam Retret Menteri Ekonomi ASEAN di Johor, Malaysia, Februari lalu, Indonesia mengusulkan penyusunan non-paper guna mempertegas sentralitas ASEAN dalam merespons tekanan perdagangan global.

“Solidaritas kawasan sangat penting agar posisi tawar ASEAN tetap kuat,” tegas Roro.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengapresiasi langkah diplomasi Presiden Prabowo.

“Ini adalah wajah diplomasi strategis yang tidak reaktif, tapi juga tidak pasif. Pemerintah memilih bergerak dengan kalkulasi dan arah yang jelas,” ujar AHY.

AHY menambahkan bahwa kebijakan tarif tinggi AS bisa menyeret dunia pada polarisasi blok ekonomi yang berisiko memperuncing konflik global. Ia mengingatkan bahwa fragmentasi ekonomi-politik baru dapat memperburuk instabilitas di kawasan, termasuk Asia Pasifik.

Sementara itu, Presiden Prabowo menyatakan bahwa Indonesia tidak berpihak dalam perang dagang antara AS dan Cina.

“Kami menghormati kedua negara sebagai sahabat. Indonesia ingin menjadi jembatan damai dalam penyelesaian konflik ini,” kata Prabowo.

Dengan pendekatan diplomasi yang terukur dan kerja sama regional yang diperkuat, Indonesia menunjukkan kesiapannya menghadapi dinamika perdagangan global demi melindungi kepentingan nasional dan kestabilan ekonomi.

Pemerintah Pertahankan Daya Saing Ekspor Indonesia Hadapi Kebijakan Trump

Jakarta – Pemerintah terus mengambil langkah strategis untuk mempertahankan daya saing ekspor nasional menyusul indikasi kebijakan proteksionisme yang kembali digaungkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan Indonesia memilih jalur negosiasi karena AS tetap merupakan mitra strategis. Presiden Prabowo Subianto juga mendukung penuh langkah ini, sembari membangun kekuatan ekonomi nasional yang tangguh dan mempertahankan daya saing ekspor Indonesia.

“Jalur negosiasi akan terus ditempuh karena AS tetap menjadi mitra strategis Indonesia dalam perdagangan global. Sementara itu, kami mendukung penuh langkah tersebut, sambil menekankan bahwa kekuatan ekonomi nasional yang tangguh dan daya saing ekspor harus terus kita pertahankan,” ujarnya.

Pemerintah juga terus memperluas pasar ekspor ke kawasan Asia Selatan, Afrika, dan Timur Tengah, guna mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional seperti AS dan Eropa. Program hilirisasi industri dan insentif fiskal juga terus digenjot bagi pelaku ekspor yang mengutamakan nilai tambah produk lokal.

Langkah-langkah ini dinilai penting untuk memastikan bahwa produk Indonesia tetap kompetitif secara harga dan kualitas di pasar global, meski menghadapi tekanan tarif.

Founder & Chairman CT Corp, Chairul Tanjung memandang kebijakan Trump dapat memicu efek domino bagi negara-negara berkembang. Sehingga, Indonesia tidak perlu mengambil sikap konfrontatif, melainkan memilih jalur negosiasi yang konstruktif.

“AS tetap merupakan mitra strategis Indonesia, dan solusi terbaik dapat dicapai melalui komunikasi ekonomi yang terbuka,” ucapnya.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan asosiasi eksportir menjadi kunci dalam menjaga momentum ekspor nasional. Kebijakan Trump dapat menjadi ujian serius, namun juga peluang bagi Indonesia untuk memperkuat fundamental ekonomi dan mempercepat transformasi industri nasional.

Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu mengungkapkan upaya jangka menengah, pemerintah juga memperkuat posisi tawar dalam forum multilateral seperti ASEAN dan G20 untuk menekan dominasi kebijakan sepihak negara besar.

“Sebagai upaya jangka menengah, pemerintah memperkuat posisi tawar Indonesia di forum-forum multilateral seperti ASEAN dan G20. Langkah ini penting untuk menekan dominasi kebijakan sepihak dari negara-negara besar yang dapat merugikan stabilitas perdagangan global.” tuturnya.

Dengan pendekatan diplomasi dagang aktif dan kebijakan strategis berbasis data, Indonesia berharap tetap dapat menjaga pertumbuhan ekspor positif di tengah ketidakpastian global.

Pemerintah menegaskan bahwa sinergi antara sektor publik dan swasta yang menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya bertahan, tapi mampu unggul dalam lanskap perdagangan global yang terus berubah.

Pemerintah Pastikan Cegah Pelemahan Ekonomi dan Jaga Stabilitas Pasca Pengumuman Tarif Trump

Oleh: Sahrul Mubarak A. *)

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merespons kebijakan tarif impor 32% dari Presiden AS, Donald Trump, dengan langkah terukur. Kebijakan ini memengaruhi perdagangan global, termasuk ekspor Indonesia. Fokus pemerintah adalah memperkuat ekonomi nasional melalui strategi yang terkoordinasi, menjaga stabilitas tanpa reaksi berlebihan.

Presiden Prabowo Subianto meyakini bahwa Indonesia memiliki kekuatan struktural untuk mengatasi gejolak ekonomi global. Dalam pernyataannya, Presiden Prabowo menggarisbawahi bahwa bangsa ini telah menunjukkan ketangguhan pada berbagai krisis besar di masa lalu, termasuk krisis 1998, krisis finansial global 2008, serta pandemi Covid-19. Keyakinan tersebut menjadi dasar bagi arah kebijakan pemerintah dalam menanggapi dinamika baru ini; yakni dengan memperkuat fondasi ekonomi, mempererat kohesi sosial, dan menghindari respons yang emosional.

Langkah cepat diambil melalui koordinasi lintas kementerian. Pemerintah mengajukan proposal konkret kepada United States Trade Representative (USTR), sebagai upaya menjembatani perbedaan kepentingan dan mempertahankan kemitraan ekonomi yang selama ini telah dibangun. Pada saat yang sama, pembaruan terhadap Perjanjian Kerangka Kerja Perdagangan dan Investasi (TIFA) tengah diupayakan agar tetap relevan dalam menghadapi tantangan baru. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya menanggapi situasi secara jangka pendek, tetapi juga mengarahkan kebijakan pada kesinambungan hubungan dagang yang sehat di masa mendatang.

Salah satu strategi adaptif yang tengah dipertimbangkan adalah relaksasi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk produk-produk teknologi informasi dan komunikasi asal Amerika Serikat. Produk dari perusahaan besar seperti Apple dan Microsoft merupakan bagian penting dalam ekosistem industri digital di Indonesia. Pemerintah menilai bahwa fleksibilitas dalam TKDN dapat menjadi instrumen sementara untuk menjaga kelangsungan dan daya saing industri nasional. Langkah ini tetap mempertimbangkan keberlangsungan penggunaan komponen lokal, sehingga produktivitas tidak dikorbankan.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menggarisbawahi bahwa relaksasi TKDN bukan bentuk kompromi terhadap kemandirian industri, melainkan penyesuaian taktis yang berbasis kebutuhan sektor. Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, strategi semacam ini menunjukkan keberanian pemerintah untuk mengambil kebijakan yang realistis, tanpa mengabaikan agenda jangka panjang.

Namun demikian, pemerintah tetap membuka ruang diskusi terhadap pandangan dari berbagai kalangan, termasuk akademisi dan ekonom. Beberapa pihak mendorong agar Indonesia lebih aktif membangun aliansi regional, terutama melalui ASEAN. Meski demikian, pemerintah tetap menempatkan diplomasi langsung dengan AS sebagai prioritas, seraya memperluas peluang kerja sama dengan kawasan lain.

Upaya pemerintah tidak berhenti pada aspek perdagangan bilateral. Di dalam negeri, penguatan ekonomi nasional menjadi fokus utama. Hilirisasi industri, terutama di sektor mineral dan energi, terus didorong sebagai salah satu pengungkit daya saing ekspor. Dengan meningkatkan nilai tambah dari produk-produk dalam negeri, pemerintah berharap ekspor tidak hanya bergantung pada komoditas mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga global.

Diversifikasi pasar ekspor juga menjadi bagian dari strategi menghadapi kebijakan tarif AS. Pemerintah mendorong penetrasi ke kawasan seperti Asia Timur, India, Amerika Latin, dan tentu saja memperkuat basis pasar di dalam ASEAN. Dengan memperluas jangkauan, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap satu pasar, tetapi juga membuka peluang baru untuk produk lokal.

Stabilitas nilai tukar rupiah dijaga dengan langkah aktif dari Bank Indonesia. Melalui intervensi di pasar valas dan instrumen DNDF, otoritas moneter menunjukkan kesiapan dalam merespons tekanan eksternal. Dengan cadangan devisa yang solid dan sistem deteksi dini yang semakin canggih, Indonesia berada pada posisi yang jauh lebih kuat dibandingkan periode krisis sebelumnya.

Di sisi lain, penundaan pemberlakuan tarif selama 90 hari oleh pemerintah AS dimanfaatkan dengan bijak oleh Indonesia. Pemerintah memandang jeda ini sebagai ruang untuk mempercepat reformasi struktural, terutama dalam memangkas biaya ekonomi tinggi dan menyederhanakan regulasi yang menghambat investasi. Pemerintah menyadari bahwa daya saing bukan hanya ditentukan oleh tarif, tetapi juga efisiensi sistem domestik.

Pemerintah juga menekankan pentingnya memberikan insentif kepada industri yang konsisten menggunakan komponen lokal. Insentif ini tidak hanya akan memperkuat TKDN sebagai prinsip jangka panjang, tetapi juga menjadi sinyal bahwa Indonesia tetap pada komitmennya terhadap penguatan industri dalam negeri.

Keseluruhan kebijakan yang ditempuh mencerminkan konsistensi pendekatan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara diplomasi internasional dan ketahanan domestik. Pemerintah tidak melihat kebijakan tarif Trump sebagai ancaman permanen, tetapi sebagai tantangan yang harus dijawab dengan strategi cerdas dan kolaboratif.

Presiden Prabowo mengajak seluruh masyarakat untuk tetap percaya pada kemampuan bangsa dalam menghadapi situasi ini. Penekanan pada gotong royong, ketenangan dalam bersikap, dan kerja keras lintas sektor menjadi fondasi dari pendekatan pemerintah yang menyeluruh. Keteguhan sikap ini bukan sekadar respons politis, tetapi cerminan dari keyakinan terhadap kekuatan nasional yang telah teruji waktu.

Dengan kombinasi langkah diplomatik, reformasi ekonomi, dan penguatan sektor strategis, bangsa Indonesia tidak hanya akan mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan global, tetapi juga dapat menjadikan krisis sebagai momentum untuk melangkah lebih maju.

*) Pengamat Ekonomi dari Pancasila Madani Institute

Pemerintah Lakukan Sejumlah Langkah Antisipatif Hadapi Kebijakan Tarif Trump

Oleh : Rivka Mayangsari*)
Di tengah gejolak perdagangan global yang semakin proteksionis, terutama akibat kebijakan tarif yang agresif dari Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Trump, pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Negara ini dengan sigap dan penuh strategi telah merumuskan berbagai langkah antisipatif demi melindungi perekonomian nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan perdagangan internasional.
Dewan Ekonomi Nasional (DEN), sebagai lembaga strategis yang selalu berada di garis depan dalam memberikan masukan kebijakan, telah menyampaikan serangkaian rekomendasi konkret kepada pemerintah untuk menghadapi potensi penerapan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat terhadap produk ekspor unggulan Indonesia. Rekomendasi ini bukanlah reaksi spontan, melainkan respons proaktif atas dinamika global yang semakin menantang dan kecenderungan proteksionisme yang menguat dari Negeri Paman Sam.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menilai bahwa kesiapan Indonesia menghadapi kebijakan resiprokal dari AS harus dilakukan secara rinci, terukur, dan penuh kehati-hatian. Pemerintah didorong untuk segera mengidentifikasi sektor-sektor ekspor yang paling rentan terkena dampak, serta menyiapkan kebijakan penyesuaian untuk memastikan kesetaraan dalam hubungan dagang bilateral.
Selain itu, DEN juga memberikan perhatian khusus pada hambatan non-tarif yang selama ini masih membatasi masuknya produk-produk asal Amerika Serikat ke Indonesia. Langkah-langkah pengurangan hambatan seperti pelonggaran larangan terbatas dan penyederhanaan aturan teknis menjadi strategi penting untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di meja perundingan.
Koordinasi lintas kementerian dan lembaga menjadi kunci dalam merespons kebijakan tarif Trump ini. DEN dengan tegas menyarankan agar pemerintah membentuk tim lintas sektor yang bertugas menganalisis rincian tarif yang diterapkan AS, menelaah dasar pertimbangannya, serta merumuskan strategi balasan yang tidak gegabah, melainkan sesuai dengan kepentingan nasional.
Sejalan dengan rekomendasi DEN, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pun bergerak cepat. Pemerintah telah mengonfirmasi bahwa dalam waktu dekat akan segera menghitung dampak pengenaan tarif AS terhadap berbagai sektor di Indonesia. Tujuan utamanya adalah melindungi stabilitas ekonomi nasional dan memberikan ruang aman bagi pelaku usaha agar tetap mampu bertahan di tengah badai proteksionisme global.
Bersama Bank Indonesia (BI), pemerintah juga memastikan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga dan ketersediaan likuiditas valas cukup untuk memenuhi kebutuhan ekspor-impor. Kolaborasi erat ini menjadi tameng utama dalam menjaga kepercayaan investor di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Langkah antisipatif ini tidak muncul secara mendadak. Sejak awal tahun 2025, pemerintah telah menyusun berbagai strategi dan skenario menghadapi potensi kebijakan tarif dari Amerika Serikat. Melalui koordinasi intensif antara tim lintas kementerian, perwakilan Indonesia di Washington DC, serta pelaku usaha nasional, Indonesia menunjukkan kesiapannya untuk menghadapi setiap dinamika global.
Presiden Prabowo sendiri telah memberi instruksi tegas kepada Kabinet Merah Putih untuk mempercepat reformasi kebijakan, baik dari sisi peraturan maupun praktik di lapangan. Reformasi ini difokuskan pada penyederhanaan regulasi serta penghapusan hambatan non-tarif (Non-Tariff Measures/NTMs) yang selama ini dinilai menghambat arus perdagangan dan investasi.
Tak hanya di tingkat bilateral, Indonesia juga menunjukkan kepemimpinannya di kawasan. Pemerintah secara aktif mendorong solidaritas ASEAN dalam menghadapi tekanan perdagangan global yang dipicu kebijakan tarif AS. Indonesia telah menjalin komunikasi intensif dengan Malaysia, yang saat ini memegang posisi Ketua ASEAN, agar sepuluh negara di Asia Tenggara dapat bersikap kompak dan berbicara dengan satu suara. Pendekatan kolektif ini diyakini akan memperkuat posisi tawar ASEAN sekaligus menciptakan kestabilan regional.
Dari sisi swasta dan analis pasar, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memandang langkah pemerintah yang menghindari konfrontasi langsung sebagai keputusan yang bijaksana. Menurutnya, dibanding membalas dengan kebijakan tarif serupa, Indonesia lebih baik memanfaatkan peluang untuk memperluas pasar ekspor, terutama ke negara-negara nontradisional yang menawarkan preferensi tarif lebih rendah.
Josua menilai bahwa sektor padat karya seperti pakaian jadi dan alas kaki adalah contoh nyata di mana Indonesia bisa lebih agresif menembus pasar baru, mengingat daya saing produk nasional yang tinggi dan preferensi tarifnya.
Selain itu, Josua juga menggarisbawahi pentingnya langkah-langkah jangka panjang yang harus diambil oleh pemerintah. Mulai dari pemberian insentif fiskal untuk industri padat karya, kemudahan akses bahan baku, hingga pembiayaan yang mendukung produktivitas nasional. Pemerintah juga didorong untuk mempercepat implementasi berbagai perjanjian perdagangan internasional seperti CPTPP, RCEP, EU-CEPA, dan BRICS+ demi memperluas akses pasar global sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika Serikat.
Dalam menghadapi tantangan global ini, diplomasi ekonomi menjadi salah satu senjata utama Indonesia. Dengan terus mengupayakan dialog dalam kerangka kerja multilateral seperti Trade and Investment Framework Agreement (TIFA), Indonesia membuktikan komitmennya dalam membangun sistem perdagangan global yang adil, stabil, dan saling menguntungkan.
Dengan semangat gotong royong, strategi yang terukur, dan kepemimpinan yang visioner, Indonesia siap menghadapi tantangan kebijakan tarif Trump. Pemerintah tidak hanya melindungi kepentingan ekonomi nasional, tetapi juga memastikan bahwa Indonesia terus melangkah maju sebagai kekuatan ekonomi yang tangguh dan disegani di kancah global.

*) Pemerhati ekonomi

Manuver Penolakan Revisi UU TNI dan RUU Polri Ancam Stabilitas Nasional

Jakarta – Aksi demonstrasi yang menentang revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) dan RUU Polri terus menuai kecaman. Sejumlah elemen masyarakat menilai demonstrasi tersebut dapat mengganggu stabilitas nasional dan berpotensi menambah ketegangan di tengah masyarakat.

Aksi ini, yang terjadi di berbagai daerah, berisiko menciptakan ketidaknyamanan bagi banyak pihak.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menyebut bahwa demonstrasi yang menolak revisi UU TNI disebabkan oleh ketidakpahaman terhadap substansi perubahan yang ada.

Menurutnya, tafsir yang berkembang di masyarakat mengenai UU tersebut seringkali salah, dan ia menegaskan bahwa revisi ini justru membatasi TNI dalam mengisi jabatan sipil.

“Ini saya melihatnya ada hambatan komunikasi, isinya gimana, draf akhirnya belum diterima,” ujar Dave.

Dave juga menjelaskan bahwa revisi UU TNI memungkinkan TNI mengisi 14 jabatan sipil, namun di luar itu, TNI yang aktif harus mundur atau pensiun. Ia menambahkan bahwa draf UU yang baru seharusnya sudah bisa diakses di laman resmi DPR untuk mencegah kekhawatiran yang tak berdasar.

Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menilai bahwa revisi UU TNI yang baru justru tidak akan mengembalikan era dwifungsi ABRI seperti pada masa Orde Baru.

“Tidak benar kalau kemudian ini akan mengembalikan ke masa orde baru dwifungsi ABRI,” kata AHY.

Menurutnya, revisi tersebut justru membatasi ruang bagi perwira TNI untuk memasuki jabatan sipil, yang seharusnya memperjelas peran TNI sesuai dengan UU yang ada.

Di sisi lain, pembahasan revisi UU Polri juga tengah menjadi sorotan.

Pada 29 Mei 2024, revisi UU Polri disetujui oleh DPR RI, namun pembahasan lebih lanjut baru akan dilanjutkan di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Meskipun demikian, Ketua DPR RI, Puan Maharani, menegaskan bahwa hingga kini, pihaknya belum menerima surat presiden (surpres) terkait revisi tersebut.

“Belum ada surpres, kami akan lihat lagi,” ujar Puan.

Perdebatan terkait revisi UU TNI dan UU Polri menunjukkan adanya ketegangan antara pemerintah, DPR, dan masyarakat.

Jika tidak dikelola dengan baik, ketegangan ini berpotensi mengganggu stabilitas nasional yang telah dibangun selama ini.

Lawatan Presiden Prabowo ke Mesir Perkuat Kerjasama Strategis Dua Negara

Kairo, Mesir – Kunjungan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto ke Republik Arab Mesir merupakan langkah strategis yang membuktikan komitmen kuat pemerintah dalam memperluas diplomasi internasional yang berdampak nyata.

Dalam kunjungan kenegaraan awal pekan ini, Presiden Prabowo disambut secara resmi oleh Presiden Republik Arab Mesir, Abdel Fattah El-Sisi di Istana Al Ittihadiya, Kairo. Penyambutan ini mencerminkan penghormatan tinggi Mesir terhadap Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, serta menegaskan bahwa Indonesia kini dipandang sebagai kekuatan besar yang diperhitungkan dalam konstelasi global.

Dalam pertemuan bilateral, kedua kepala negara menandatangani Pernyataan Bersama tentang Kemitraan Strategis, sebuah pencapaian monumental yang meningkatkan status hubungan kedua negara dari sekadar hubungan diplomatik biasa menjadi kemitraan strategis lintas sektor.

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media, Yusuf Permana menegaskan bahwa capaian ini adalah hasil nyata dari kepemimpinan Presiden Prabowo yang visioner dan aktif dalam memperluas jejaring internasional.

“Ini merupakan tonggak sejarah bagi Indonesia karena kemitraan strategis Indonesia dengan Mesir dilakukan dan ditandatangani langsung oleh kedua kepala negara. Tentu ini adalah hasil yang positif dari kunjungan Bapak Presiden ke Republik Arab Mesir,” ujar Yusuf.

Pernyataan tersebut menegaskan keseriusan pemerintah dalam memperluas pengaruh global Indonesia melalui kerja sama di bidang politik, ekonomi, pertahanan, keamanan, budaya, pendidikan, dan hubungan antar masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada urusan dalam negeri, tetapi juga mengangkat peran Indonesia di panggung dunia.

“Pernyataan kemitraan strategis ini menandai hubungan perjalanan panjang diplomatik antara Indonesia dan Mesir untuk menuju kemitraan bersama yang lebih tinggi lagi,” tambah Yusuf.

Sikap proaktif pemerintah juga mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Pengajar Hubungan Internasional President University, Virdika Rizky Utama menilai bahwa langkah ini menunjukkan peningkatan level diplomasi Indonesia ke arah yang jauh lebih progresif dan strategis.

“Presiden Prabowo berhasil menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas sebagai aktor penting dalam percaturan global. Kemitraan strategis ini tidak hanya mempererat hubungan bilateral, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di Timur Tengah dalam kerangka kerja sama multilateral dan solidaritas antarnegara berkembang,” ujar Virdika.

Menurutnya, lawatan ini merupakan wujud dari keberhasilan pemerintah dalam menerjemahkan visi politik luar negeri bebas aktif menjadi aksi nyata yang berdampak global.

Kunjungan ini tidak hanya mempererat kerja sama yang telah ada, tetapi juga menegaskan bahwa Indonesia adalah mitra strategis terpercaya yang membawa prinsip saling menghormati, saling menguntungkan, dan berlandaskan stabilitas.

Respons positif dari berbagai kalangan, baik di Indonesia maupun Mesir, membuktikan bahwa lawatan ini adalah langkah jitu pemerintah dalam menjawab tantangan global, seperti ketahanan pangan, energi, dan stabilitas kawasan.

Dengan demikian, kunjungan Presiden Prabowo ke Mesir bukan sekadar simbolik, melainkan wujud konkret dari diplomasi progresif pemerintah yang berpihak pada kepentingan nasional dan memperluas pengaruh global Indonesia. [^]

Kunjungan Presiden Prabowo ke Mesir, Bahas Geopolitik dan Perdamaian Gaza

Jakarta – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan kunjungan kenegaraan ke Mesir pada akhir pekan ini sebagai bagian dari upaya diplomatik untuk memperkuat hubungan bilateral serta membahas isu-isu penting kawasan, termasuk konflik berkepanjangan di Gaza.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tiba di Kairo, Mesir, pada Jumat malam, 11 April 2025, sekitar pukul 19.25 waktu setempat, setelah menyelesaikan kunjungan kerja (Kunker) di Turki. Setibanya di Bandara Internasional Kairo, Presiden disambut oleh sejumlah pejabat dari Mesir dan Indonesia beserta para diaspora Indonesia yang menempuh pendidikan di Mesir. Di antara para pejabat tersebut adalah Menteri Sektor Bisnis Republik Arab Mesir Mohamed Ibrahim Ahmad Shimi, Duta Besar RI untuk Mesir Lutfi Rauf, serta Atase Pertahanan KBRI Kairo Kolonel Laut (P) Dafris D. Syahruddin.
Kunjungan ke Mesir merupakan bagian penting dari upaya diplomatik Prabowo untuk mendapatkan restu dari negara-negara kawasan Timur Tengah, terutama Mesir yang memiliki akses langsung ke Gaza melalui Rafah. Sebelumnya, Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia siap mengevakuasi 1.000 warga Gaza, terutama mereka yang terluka, trauma, atau yatim piatu.
“Syaratnya adalah semua pihak harus menyetujui hal ini. Kedua, mereka di sini hanya sementara sampai pulih kembali, dan pada saat pulih dan sehat kembali, kondisi Gaza sudah memungkinkan, mereka harus kembali ke daerah mereka berasal. Saya kira itu sikap Pemerintah Indonesia. Untuk itu, saya harus konsultasi kepada pemimpin daerah tersebut,” kata Prabowo.
Presiden juga menekankan bahwa evakuasi ini merupakan tindak lanjut dari dorongan komunitas internasional yang menilai Indonesia memiliki posisi netral dan strategis untuk membantu rakyat Palestina tanpa berpihak dalam konflik.
“Komitmen kita kepada rakyat Palestina mendorong Indonesia untuk berperan lebih aktif,” tegas Prabowo.
Kunjungan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Republik Arab Mesir menghasilkan capaian penting dalam hubungan bilateral kedua negara. Dalam pertemuannya dengan Presiden Abdel Fattah El-Sisi di Istana Al Ittihadiya, kedua kepala negara telah menandatangani Pernyataan Bersama tentang Kemitraan Strategis antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Arab Mesir.
Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media, Sekretariat Presiden, Yusuf Permana mengatakan bahwa penandatanganan ini menjadi momen bersejarah dalam perjalanan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Mesir.
“Ini merupakan tonggak sejarah bagi Indonesia karena kemitraan strategis Indonesia dengan Mesir dilakukan dan ditandatangani langsung oleh kedua kepala negara. Tentu ini adalah hasil yang positif dari kunjungan Bapak Presiden ke Republik Arab Mesir,” ujar Yusuf
Selain itu, pernyataan kemitraan strategis ini juga menjadi tonggak penting yang menegaskan keseriusan kedua negara dalam memperkuat kerja sama di berbagai bidang. Penguatan pada bidang prioritas ini mulai dari politik, ekonomi, pertahanan, keamanan, hubungan budaya dan pendidikan, hingga hubungan antar masyarakat.
“Pernyataan kemitraan strategis ini menandai hubungan perjalanan panjang diplomatik antara Indonesia dan Mesir untuk menuju kemitraan bersama yang lebih tinggi lagi,” tambah Yusuf.
Kunjungan Presiden Prabowo ini merupakan bagian dari diplomasi aktif Indonesia di tingkat global, yang bertujuan tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga memosisikan Indonesia sebagai negara yang berperan dalam menjaga perdamaian dunia, sesuai dengan amanat konstitusi.