Pemerintah Komitmen Berantas Judi Online, Dua Tersangka TPPU Ditangkap

Jakarta – Pemerintah menunjukkan keseriusan dalam memberantas praktik judi online dengan langkah tegas terhadap pelaku yang terlibat.

Terkait hal itu, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menetapkan dua tersangka dalam kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) hasil judi online yang dialihkan menjadi pembangunan Hotel Aruss di Semarang, Jawa Tengah.

Direktur Dittipideksus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Helfi Assegaf, mengungkapkan bahwa kedua tersangka terdiri dari PT AJP sebagai korporasi dan FH sebagai individu.

“Tersangka yang pertama korporasi PT AJP yang berkantor di Hotel Aruss, Semarang. Kemudian tersangka yang kedua yaitu FH,” ujarnya.

Menurut Helfi, PT AJP berperan sebagai penampung uang hasil tindak pidana judi online yang disalurkan oleh FH. FH sendiri diketahui menjabat sebagai komisaris di PT AJP.

“Aliran dana yang diterima oleh FH itu masuk ke rekening PT AJP. Hal ini untuk mengaburkan asal-usul uang yang diterima oleh PT AJP. Sehingga dikelola oleh PT AJP, dibangunkan hotel, kemudian hasil operasional hotel dinikmati oleh FH,” jelasnya.

Uang hasil pencucian ini disalurkan FH melalui lima rekening berbeda atas nama beberapa individu, serta melalui perantara berinisial GP dan AS. Atas perbuatannya, PT AJP dijerat dengan Pasal 6 Jo Pasal 69 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU serta sejumlah pasal lainnya dengan ancaman denda hingga Rp100 miliar. FH juga dikenai pasal serupa dengan ancaman hukuman berat.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menegaskan pentingnya langkah tegas untuk memberantas kejahatan digital, termasuk judi online. “Dan saya titipkan pesan untuk judi online dan kejahatan-kejahatan seperti pinjaman online ilegal serta kejahatan keuangan lainnya, termasuk juga pornografi, termasuk juga human trafficking di ruang digital kita. Tolong dilakukan secara baik dan tetap transparan terbuka,” kata Meutya.

Ia juga menekankan agar masyarakat diberi informasi terbuka melalui media massa mengenai penanganan kasus-kasus ini.

“Informasi ini harus disampaikan kepada masyarakat melalui media massa,” tambahnya.

Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memitigasi dampak negatif judi online sekaligus menindak tegas para pelaku yang terlibat.

Judi Online Sumber Malapetaka di Masyarakat

Oleh : Astrid Kumala )*

 

Persoalan judi online merupakan masalah bersama yang tidak saja dapat menghancurkan hidup seseorang, namun juga masa depan bangsa. Dalam menghadapi tantangan ini, diperlukan sinergi lintas sektor yang melibatkan semua pihak untuk memberantas judi online dan dampak sosialnya.

Judi online telah menjadi ancaman besar yang terus berkembang di era digital. Praktik ini bukan hanya merugikan secara finansial, tetapi juga membawa dampak serius lainnya seperti meningkatnya kemiskinan, gangguan kesehatan mental, dan ancaman terhadap keamanan data pribadi. Masifnya iklan yang menyesatkan di berbagai platform digital turut memperburuk situasi, memikat jutaan orang untuk terjebak dalam lingkaran perjudian yang merugikan. Menurut data, lebih dari 8,8 juta orang telah terlibat dalam aktivitas ini, menjadikannya salah satu penyebab utama lahirnya kaum miskin baru.

Dampak negatif judi online tidak hanya terbatas pada kerugian ekonomi. Banyak individu yang terjebak dalam aktivitas ini kehilangan tabungan, aset, bahkan pekerjaan karena ketergantungan mereka. Selain itu, judi online sering kali disertai dengan risiko keamanan data pribadi. Situs-situs ilegal yang tidak memiliki kebijakan privasi yang jelas dapat menyalahgunakan data seperti nomor ponsel, alamat email, dan nomor rekening bank. Ancaman ini semakin nyata ketika pemain judi mengalami kerugian besar, yang tidak hanya menyebabkan masalah finansial tetapi juga memicu gangguan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi.

Di sisi lain, kecanduan judi juga memengaruhi hubungan sosial dan keluarga. Individu yang kecanduan cenderung memprioritaskan aktivitas berjudi dibandingkan tanggung jawab mereka, sehingga menyebabkan konflik di lingkungan keluarga maupun pekerjaan. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan kecanduan judi sebagai gangguan kesehatan mental dalam International Classification of Diseases (ICD-11).

Literasi digital menjadi kunci utama dalam upaya mengedukasi masyarakat tentang bahaya judi online. Meningkatkan kesadaran publik terhadap modus operandi judi online dan iklan yang menyesatkan sangat penting untuk membangun resistensi masyarakat terhadap godaan ini. Literasi digital juga dapat membantu individu memahami risiko yang mereka hadapi ketika terlibat dalam perjudian, baik dari segi finansial maupun keamanan data pribadi.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar, langkah-langkah preventif harus dimulai dari tingkat desa dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, seperti pendamping desa, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), dan kader penggerak pembangunan daerah. Melalui pendekatan berbasis komunitas, masyarakat dapat lebih mudah memahami bahaya judi online dan bersama-sama menangkal penyebarannya.

Memberantas judi online tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Koordinasi antara berbagai kementerian dan lembaga sangat diperlukan untuk menciptakan solusi yang komprehensif. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk mengatasi masalah ini secara terpadu. Salah satu langkah konkret yang dapat diambil adalah memperketat moderasi konten di platform digital seperti Facebook, Google, dan WhatsApp, yang selama ini menjadi media penyebaran iklan judi online.

Salah satu pendekatan yang efektif dalam memberantas judi online adalah mengatasi akar permasalahan yang mendorong individu terlibat dalam aktivitas ini. Banyak orang memandang judi sebagai cara instan untuk keluar dari kesulitan ekonomi atau sekadar hiburan tanpa memahami risiko jangka panjangnya. Oleh karena itu, penting untuk menyediakan alternatif yang positif, seperti pelatihan keterampilan, akses ke pekerjaan yang layak, dan program pemberdayaan ekonomi di tingkat lokal. Pendekatan ini juga harus melibatkan pemimpin lokal, tokoh masyarakat, dan pendidik untuk menjadi agen perubahan. Mereka dapat berperan sebagai penyampai pesan yang efektif dalam menyebarkan informasi tentang bahaya judi online dan memberikan solusi konkret untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Era digital membawa tantangan baru dalam pemberantasan judi online, terutama dengan pesatnya pertumbuhan teknologi yang semakin mempermudah akses masyarakat ke platform perjudian. Menurut riset, nilai pasar global untuk sektor kasino dan perjudian daring mencapai US$ 292,1 miliar pada tahun 2023, dengan tingkat pertumbuhan yang jauh lebih cepat dibandingkan kasino tradisional.

Kondisi ini menunjukkan bahwa judi online tidak hanya menjadi masalah lokal, tetapi juga fenomena global yang memerlukan perhatian serius. Untuk menghadapi tantangan ini, Indonesia dapat belajar dari negara-negara lain yang telah berhasil mengurangi dampak negatif perjudian melalui regulasi yang ketat dan program edukasi masyarakat. Kerja sama internasional juga dapat menjadi salah satu solusi untuk memberantas situs judi online yang beroperasi lintas negara.

Mengatasi judi online membutuhkan kerja sama dan komitmen dari seluruh elemen masyarakat. Pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, media, dan masyarakat umum harus bersinergi dalam membangun kesadaran akan bahaya praktik ini. Tidak hanya upaya preventif, tetapi juga tindakan tegas terhadap pelaku dan penyedia layanan judi online harus dilakukan untuk memberikan efek jera. Melalui kolaborasi yang kuat, kita dapat melindungi masyarakat, terutama generasi muda, dari dampak buruk judi online. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan digital yang sehat dan bebas dari ancaman judi online, demi masa depan yang lebih cerah dan sejahtera bagi bangsa Indonesia.

 

)* Penulis adalah kontributor Forum Indonesia Emas

Apresiasi Upaya Penegakan Hukum Cegah Penyebaran Narkoba di Masyarakat

Oleh: Melia S. Eretan*)

 

Penyalahgunaan dan peredaran narkotika merupakan ancaman serius bagi bangsa. Upaya pemberantasan narkoba memerlukan sinergi antara berbagai pihak, termasuk aparat penegak hukum, pemerintah daerah, legislatif, dan masyarakat. Tiga kasus pemberantasan narkoba yang baru-baru ini terjadi di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan bagaimana kolaborasi dan komitmen bersama dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kondusif.

 

Kepolisian Daerah (Polda) NTB menunjukkan keberhasilannya dalam memerangi peredaran narkoba. Polda NTB memaparkan berbagai langkah konkret yang telah dilakukan sepanjang tahun 2024. Direktur Narkoba Polda NTB, Kombes Pol. Deddy Supriadi, menyatakan bahwa Polri terus mengoptimalkan upaya pemberantasan narkoba di wilayah NTB. Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2024, Polda NTB berhasil mengungkap 863 kasus narkoba dengan jumlah tersangka mencapai 1.150 orang. Keberhasilan ini juga telah menyelamatkan potensi kerugian negara sebesar Rp76,87 miliar. Kombes Pol. Deddy menegaskan pentingnya pendekatan menyeluruh, yang fokus pada penindakan hukum dan melibatkan pemberdayaan masyarakat untuk memutus rantai penyebaran narkoba.

 

Selain itu, kegiatan yang melibatkan berbagai elemen, termasuk pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan mahasiswa, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan membangun komitmen kolektif. Polda NTB juga terus mendorong masyarakat untuk melaporkan segala informasi terkait aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan narkoba. Kombes Pol. Deddy Supriadi mengatakan bahwa setiap informasi yang diterima akan ditindaklanjuti secara serius, sebagai bagian dari upaya mewujudkan NTB yang bersih dari narkoba.

 

Sementara itu, Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Sumut mencatat keberhasilan signifikan dalam pekan kedua Januari 2025. Dalam periode 7 hingga 13 Januari 2025, Polda Sumut mengungkap 73 kasus tindak pidana narkotika dengan total tersangka sebanyak 92 orang. Dari jumlah tersebut, 23 orang merupakan pengguna, sementara 69 lainnya diduga kuat terlibat sebagai jaringan pengedar narkoba.

 

Dalam pengungkapan ini, aparat berhasil menyita sejumlah barang bukti narkotika, seperti 547 gram sabu, 72 butir pil ekstasi, 178 gram ganja, dan 15 batang pohon ganja. Selain itu, barang bukti non-narkotika, seperti kendaraan, alat komunikasi, dan uang tunai, turut diamankan sebagai bagian dari upaya mempersempit ruang gerak para pengedar.

 

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol. Hadi Wahyudi, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras tim yang solid antar penegak hukum. Ia menambahkan bahwa operasi pemberantasan narkoba akan terus dilakukan secara intensif, terutama di wilayah-wilayah rawan. Hadi menyampaikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi personel yang terlibat dalam pengungkapan kasus ini. Menurutnya, komitmen Polda Sumut adalah untuk menciptakan Sumatera Utara yang bersih dan aman dari narkotika. Ia juga mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam memberikan informasi terkait aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar, sebagai bentuk dukungan terhadap upaya penegakan hukum.

 

Tidak hanya aparat kepolisian, dukungan legislatif juga menjadi komponen penting dalam memerangi penyalahgunaan narkoba. Ketua Komisi III DPRD Kalteng, Sugiyarto, menyampaikan bahwa pencegahan merupakan langkah paling efektif dalam menghadapi ancaman narkoba. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kondusif.

 

Sugiyarto menekankan pentingnya sosialisasi dan edukasi kepada generasi muda tentang bahaya narkoba. Ia juga mengapresiasi berbagai upaya instansi terkait dalam memberantas jaringan peredaran narkoba di Kalteng. Sugiyarto menegaskan bahwa langkah ini harus terus diperkuat agar jaringan narkoba dapat diberantas hingga ke akarnya. Melalui dukungan penuh DPRD Kalteng terhadap program pencegahan dan penindakan, diharapkan Provinsi Kalteng dapat menjadi daerah yang bersih dari narkoba, serta melahirkan generasi muda yang sehat, berintegritas, dan bebas dari ancaman narkotika.

 

Ketiga upaya tersebut menunjukkan bahwa pemberantasan narkoba bukan hanya tanggung jawab aparat penegak hukum, tetapi juga membutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dalam memerangi narkoba menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari pengaruh narkotika. Edukasi, sosialisasi, dan kerja sama lintas sektor merupakan kunci untuk memutus rantai penyebaran narkoba di seluruh Indonesia.

 

Selain itu, peran aktif masyarakat dalam memberikan informasi dan melaporkan aktivitas mencurigakan juga sangat diperlukan. Hal ini sejalan dengan pendekatan preventif yang lebih mengutamakan pencegahan sebelum terjadinya pelanggaran. Dengan melibatkan masyarakat, aparat penegak hukum dapat lebih efektif dalam mendeteksi dan menangani kasus-kasus narkotika di berbagai wilayah.

 

Pemberantasan narkoba juga memerlukan keberlanjutan dan konsistensi. Operasi yang dilakukan secara intensif harus diimbangi dengan langkah pencegahan yang masif, seperti kampanye anti-narkoba di sekolah, universitas, dan komunitas. Generasi muda perlu diberikan pemahaman yang mendalam tentang dampak buruk narkoba, baik dari sisi kesehatan, sosial, maupun hukum.

 

Apresiasi perlu diberikan kepada berbagai pihak atas komitmen dan kerja keras mereka dalam memberantas peredaran narkoba. Upaya ini tidak hanya melindungi masyarakat dari bahaya narkoba, tetapi juga menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, legislatif, dan masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kondusif. Dengan tekad yang kuat dan kerja sama yang solid, Indonesia dapat menuju masa depan yang bebas dari ancaman narkotika.

 

 

*)Penulis merupakan Mahasiswa Kesehatan asal NTB

Apresiasi Upaya Penegakan Hukum Cegah Penyebaran Narkoba di Masyarakat

Oleh: Melia S. Eretan*)

 

Penyalahgunaan dan peredaran narkotika merupakan ancaman serius bagi bangsa. Upaya pemberantasan narkoba memerlukan sinergi antara berbagai pihak, termasuk aparat penegak hukum, pemerintah daerah, legislatif, dan masyarakat. Tiga kasus pemberantasan narkoba yang baru-baru ini terjadi di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan bagaimana kolaborasi dan komitmen bersama dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kondusif.

 

Kepolisian Daerah (Polda) NTB menunjukkan keberhasilannya dalam memerangi peredaran narkoba. Polda NTB memaparkan berbagai langkah konkret yang telah dilakukan sepanjang tahun 2024. Direktur Narkoba Polda NTB, Kombes Pol. Deddy Supriadi, menyatakan bahwa Polri terus mengoptimalkan upaya pemberantasan narkoba di wilayah NTB. Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2024, Polda NTB berhasil mengungkap 863 kasus narkoba dengan jumlah tersangka mencapai 1.150 orang. Keberhasilan ini juga telah menyelamatkan potensi kerugian negara sebesar Rp76,87 miliar. Kombes Pol. Deddy menegaskan pentingnya pendekatan menyeluruh, yang fokus pada penindakan hukum dan melibatkan pemberdayaan masyarakat untuk memutus rantai penyebaran narkoba.

 

Selain itu, kegiatan yang melibatkan berbagai elemen, termasuk pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan mahasiswa, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan membangun komitmen kolektif. Polda NTB juga terus mendorong masyarakat untuk melaporkan segala informasi terkait aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan narkoba. Kombes Pol. Deddy Supriadi mengatakan bahwa setiap informasi yang diterima akan ditindaklanjuti secara serius, sebagai bagian dari upaya mewujudkan NTB yang bersih dari narkoba.

 

Sementara itu, Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Sumut mencatat keberhasilan signifikan dalam pekan kedua Januari 2025. Dalam periode 7 hingga 13 Januari 2025, Polda Sumut mengungkap 73 kasus tindak pidana narkotika dengan total tersangka sebanyak 92 orang. Dari jumlah tersebut, 23 orang merupakan pengguna, sementara 69 lainnya diduga kuat terlibat sebagai jaringan pengedar narkoba.

 

Dalam pengungkapan ini, aparat berhasil menyita sejumlah barang bukti narkotika, seperti 547 gram sabu, 72 butir pil ekstasi, 178 gram ganja, dan 15 batang pohon ganja. Selain itu, barang bukti non-narkotika, seperti kendaraan, alat komunikasi, dan uang tunai, turut diamankan sebagai bagian dari upaya mempersempit ruang gerak para pengedar.

 

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol. Hadi Wahyudi, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras tim yang solid antar penegak hukum. Ia menambahkan bahwa operasi pemberantasan narkoba akan terus dilakukan secara intensif, terutama di wilayah-wilayah rawan. Hadi menyampaikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi personel yang terlibat dalam pengungkapan kasus ini. Menurutnya, komitmen Polda Sumut adalah untuk menciptakan Sumatera Utara yang bersih dan aman dari narkotika. Ia juga mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam memberikan informasi terkait aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar, sebagai bentuk dukungan terhadap upaya penegakan hukum.

 

Tidak hanya aparat kepolisian, dukungan legislatif juga menjadi komponen penting dalam memerangi penyalahgunaan narkoba. Ketua Komisi III DPRD Kalteng, Sugiyarto, menyampaikan bahwa pencegahan merupakan langkah paling efektif dalam menghadapi ancaman narkoba. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kondusif.

 

Sugiyarto menekankan pentingnya sosialisasi dan edukasi kepada generasi muda tentang bahaya narkoba. Ia juga mengapresiasi berbagai upaya instansi terkait dalam memberantas jaringan peredaran narkoba di Kalteng. Sugiyarto menegaskan bahwa langkah ini harus terus diperkuat agar jaringan narkoba dapat diberantas hingga ke akarnya. Melalui dukungan penuh DPRD Kalteng terhadap program pencegahan dan penindakan, diharapkan Provinsi Kalteng dapat menjadi daerah yang bersih dari narkoba, serta melahirkan generasi muda yang sehat, berintegritas, dan bebas dari ancaman narkotika.

 

Ketiga upaya tersebut menunjukkan bahwa pemberantasan narkoba bukan hanya tanggung jawab aparat penegak hukum, tetapi juga membutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dalam memerangi narkoba menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari pengaruh narkotika. Edukasi, sosialisasi, dan kerja sama lintas sektor merupakan kunci untuk memutus rantai penyebaran narkoba di seluruh Indonesia.

 

Selain itu, peran aktif masyarakat dalam memberikan informasi dan melaporkan aktivitas mencurigakan juga sangat diperlukan. Hal ini sejalan dengan pendekatan preventif yang lebih mengutamakan pencegahan sebelum terjadinya pelanggaran. Dengan melibatkan masyarakat, aparat penegak hukum dapat lebih efektif dalam mendeteksi dan menangani kasus-kasus narkotika di berbagai wilayah.

 

Pemberantasan narkoba juga memerlukan keberlanjutan dan konsistensi. Operasi yang dilakukan secara intensif harus diimbangi dengan langkah pencegahan yang masif, seperti kampanye anti-narkoba di sekolah, universitas, dan komunitas. Generasi muda perlu diberikan pemahaman yang mendalam tentang dampak buruk narkoba, baik dari sisi kesehatan, sosial, maupun hukum.

 

Apresiasi perlu diberikan kepada berbagai pihak atas komitmen dan kerja keras mereka dalam memberantas peredaran narkoba. Upaya ini tidak hanya melindungi masyarakat dari bahaya narkoba, tetapi juga menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, legislatif, dan masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kondusif. Dengan tekad yang kuat dan kerja sama yang solid, Indonesia dapat menuju masa depan yang bebas dari ancaman narkotika.

 

 

*)Penulis merupakan Mahasiswa Kesehatan asal NTB

Pemerintah Tingkatkan Pengawasan Cegah Peredaran Narkoba di Indonesia

Jakarta – Pemerintah Indonesia terus memperkuat langkah-langkah strategis untuk mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba di seluruh wilayah Tanah Air.

Salah satu upaya signifikan dilakukan oleh Polda Kaltara, yang telah menerapkan lima strategi utama: Pencegahan, Pemberantasan, Rehabilitasi, Kerjasama, dan Teknologi. Wakapolda Kaltara Brigjen Pol. Soeseno Noerhandoko, menjelaskan bahwa strategi pencegahan menjadi salah satu fokus utama mereka.

“Kami melakukan berbagai langkah penting, seperti kampanye kesadaran tentang bahaya narkoba melalui media massa, sekolah, dan komunitas. Selain itu, materi anti-narkoba juga diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah, dan kami memberikan pelatihan kepada guru, orang tua, dan masyarakat,” ungkap Soesono.

Selain pencegahan, strategi kerjasama juga menjadi prioritas penting. Polda Kaltara menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk aparat penegak hukum untuk penindakan, pemerintah daerah untuk meningkatkan kesadaran, serta sektor swasta untuk mendukung program pencegahan narkoba.

“Kami juga menjalin kerja sama internasional untuk memantau peredaran narkoba global,” tambah Soesono.

Langkah serupa juga dilakukan oleh DPD Gerakan Rakyat Anti Madat (Geram) Jawa Tengah. Ketua DPD Geram, Havid Sungkar, menegaskan bahwa pihaknya telah berkolaborasi dengan BPOM Semarang untuk meningkatkan pengawasan terhadap makanan dan minuman yang beredar di pasaran.

“Kita khawatir karena di pasaran rawan ditemukan peredaran narkoba dan obat-obatan berbahaya yang bisa saja ada pada makanan atau minuman. Oleh karena itu, kami bekerja sama dengan BPOM untuk ikut membantu dalam pengawasan dan pencegahan,” terang Havid.

Dukungan penuh juga datang dari Ketua Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Sugiyarto. Ia menegaskan pentingnya langkah strategis untuk menanggulangi peredaran narkoba, baik dari sisi penegakan hukum maupun edukasi masyarakat.

“Kami mendukung sepenuhnya setiap program yang bertujuan menekan peredaran narkoba. Kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari narkoba,” ujar Sugiyarto.

Peredaran narkoba yang terus menjadi ancaman serius membutuhkan upaya kolektif dari seluruh elemen masyarakat. Pemerintah Indonesia, bersama berbagai pihak terkait, berkomitmen untuk memastikan bahwa langkah-langkah pencegahan dan penindakan terus berjalan secara optimal demi menciptakan Indonesia yang bersih dari narkoba.

Dalam jangka panjang, pemerintah juga berencana memperluas program rehabilitasi untuk korban penyalahgunaan narkoba, dengan mendirikan lebih banyak pusat rehabilitasi yang terjangkau di seluruh wilayah Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat membantu korban untuk pulih sepenuhnya dan kembali produktif di tengah masyarakat.

Mengapresiasi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat melalui Program Makan Bergizi Gratis

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mendapatkan perhatian luas karena dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Program ini tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan, tetapi juga mendukung diversifikasi pangan dan pemerataan ekonomi di daerah-daerah.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Prof. Dr. Rachmat Pambudy menyatakan, program MBG dirancang untuk memperkuat ketersediaan pangan lokal sambil meningkatkan taraf hidup masyarakat.

“Program ini memperkuat diversifikasi pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan lokal melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta,” ujarnya.

Senada juga diungkapkan Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi mengatakan bahwa Program MBG memberikan dampak positif bagi pengrajin tahu dan tempe di Indonesia. Program ini membuka peluang besar bagi mereka untuk menjadi pemasok bahan baku bagi dapur-dapur MBG atau Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh negeri.

“Kita dukung pengrajin tempe untuk terlibat dalam Program MBG. Pasokan bahan baku kedelai bagi para pengrajin juga harus terjamin agar suplai tempe untuk MBG stabil,” kata Budi.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila, Bambang Soesatyo, menekankan pentingnya ketahanan pangan dalam mendukung keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“Ketahanan pangan adalah faktor kunci dalam pembangunan ekonomi. Dengan program MBG, kita tidak hanya memastikan ketersediaan pangan, tetapi juga memberikan akses kepada pangan yang bergizi dan berkelanjutan,” jelasnya.

Program MBG juga berkontribusi pada upaya pengentasan masalah gizi buruk, seperti stunting, yang masih menjadi tantangan nasional. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting pada balita mencapai 21,5% pada tahun 2023.

“Melalui pemberian makanan bergizi secara gratis, kualitas hidup masyarakat dapat ditingkatkan, sekaligus mendukung pembangunan generasi yang lebih sehat,” lanjut Bambang.

Selain manfaat langsung terhadap masyarakat, program MBG juga dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis pangan. Dengan anggaran yang memadai dan komitmen dari seluruh pihak, program ini diharapkan dapat terus berjalan lancar dan memberikan dampak signifikan.

Program MBG mencerminkan sinergi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Dukungan dari berbagai pihak menjadi fondasi utama keberhasilan program ini, yang pada akhirnya akan memperkokoh stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. {}

Pemerintah Maksimalkan Roda Perekonomian Lokal Dalam Program MBG

Oleh: Nurul Janida )*

 

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025, telah menjadi salah satu inovasi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sembari memastikan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Inisiatif ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak.

 

Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Herman Khaeron, mengatakan bahwa program ini tidak hanya memberikan manfaat kesehatan tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Program MBG dirancang untuk menjangkau berbagai kelompok masyarakat, terutama anak-anak sekolah di tingkat SD, SMP, dan SMA, serta ibu hamil.

 

Pemerintah mengoperasikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai daerah, dengan memprioritaskan penggunaan bahan baku lokal dalam penyediaan makanan bergizi. Pendekatan ini diharapkan mampu mendukung perekonomian daerah melalui peningkatan permintaan terhadap produk-produk lokal.

 

Herman Khaeron menyatakan bahwa program ini merupakan langkah strategis dalam mencetak generasi muda yang unggul untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Dengan memastikan kebutuhan gizi anak-anak terpenuhi, generasi muda Indonesia diharapkan dapat tumbuh sehat, cerdas, dan produktif. Hal ini dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk menciptakan sumber daya manusia berkualitas yang mampu menghadapi tantangan global.

 

Tidak hanya berdampak pada kesehatan, program MBG juga berpotensi menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Melalui pemberdayaan warga lokal, baik sebagai penyedia bahan baku maupun tenaga kerja dalam operasional SPPG, program ini memberikan peluang penghasilan tambahan bagi masyarakat. Dengan demikian, roda perekonomian lokal pun bergerak lebih dinamis.

 

Pemerintah mencatat, sejak awal peluncurannya, sudah ada 190 titik SPPG yang beroperasi. Jumlah ini diproyeksikan meningkat hingga 937 titik pada akhir Januari 2025, dengan target menjangkau tiga juta penerima manfaat. Ke depan, cakupan program ini akan terus diperluas hingga menyentuh 82,9 juta penerima manfaat pada 2029. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memberikan dampak yang lebih luas dan signifikan bagi masyarakat.

 

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Sultan Najamuddin, mengatakan masyarakat Indonesia yang terkenal dermawan dapat berkontribusi secara signifikan dalam mendukung keberlanjutan program ini melalui partisipasi aktif. Potensi dana ZIS yang besar dapat dimanfaatkan untuk menutup sebagian kebutuhan anggaran program MBG. Pengelolaan dana tersebut akan melibatkan lembaga-lembaga terpercaya seperti Badan Zakat Nasional (BAZNAS) serta organisasi masyarakat keagamaan. Usulan ini diharapkan mampu menciptakan sistem pembiayaan yang transparan dan akuntabel sehingga masyarakat merasa nyaman untuk turut berpartisipasi.

 

Dukungan internasional juga datang dari Jepang. Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, mengatakan komitmen negaranya untuk mendukung pelaksanaan program MBG di Indonesia. Jepang, yang memiliki pengalaman lebih dari 80 tahun dalam program makan bergizi, menawarkan pelatihan dan pengiriman tenaga ahli untuk membantu optimalisasi implementasi MBG. Langkah ini menegaskan pentingnya kerja sama internasional dalam mengatasi isu kesehatan dan gizi masyarakat.

 

Presiden Prabowo Subianto menyambut baik inisiatif Jepang tersebut. Presiden Prabowo menekankan bahwa pengalaman dan keahlian Jepang dalam menyediakan makanan bergizi dapat menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Dukungan ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam membangun generasi emas yang sehat dan berdaya saing tinggi di kancah global.

 

Sejalan dengan program MBG, pemerintah juga tetap menjaga fokus pada prioritas lainnya seperti kemandirian pangan, energi, dan air. Sinergi antara berbagai program strategis ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem pembangunan yang berkelanjutan. Dengan melibatkan masyarakat dan sektor swasta, pemerintah optimistis dapat mencapai target pembangunan nasional secara lebih efektif.

 

Program MBG telah menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan publik dapat dirancang untuk memberikan dampak ganda. Selain memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, program ini turut mendorong pemberdayaan ekonomi lokal dan membangun solidaritas sosial. Dengan dukungan semua pihak, program ini diharapkan mampu menjadi pilar penting dalam menciptakan Indonesia yang lebih sejahtera.

 

Selain itu, program MBG juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam proses pembangunan. Dengan melibatkan berbagai kelompok, mulai dari pemerintah, sektor swasta, hingga komunitas lokal, program ini menciptakan ekosistem kolaboratif yang memperkuat rasa tanggung jawab bersama. Pendekatan ini tidak hanya mempercepat pencapaian tujuan program, tetapi juga membangun kepercayaan antara pemangku kepentingan. Keberhasilan program ini pun dapat menjadi model bagi inisiatif serupa di wilayah lain yang ingin mencapai dampak serupa.

 

Di sisi lain, keberlanjutan program ini memerlukan perhatian terhadap inovasi dan adaptasi kebijakan sesuai dengan dinamika sosial dan ekonomi yang terus berkembang. Investasi dalam teknologi dan pelatihan sumber daya manusia menjadi elemen kunci untuk memastikan program ini tetap relevan dan efektif dalam jangka panjang. Dengan langkah strategis yang konsisten, program MBG memiliki potensi besar untuk tidak hanya mengatasi tantangan saat ini, tetapi juga menciptakan pondasi bagi generasi mendatang untuk hidup dalam kesejahteraan dan harmoni.

 

Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus mengevaluasi dan memperbaiki pelaksanaan program ini agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat. Melalui kolaborasi yang inklusif antara pemerintah, masyarakat, dan mitra internasional, program MBG diharapkan dapat menjadi katalisator transformasi sosial-ekonomi Indonesia.

 

Dengan berbagai langkah strategis yang telah direncanakan, optimisme menyelimuti perjalanan program MBG. Pemerintah percaya bahwa sinergi yang kuat antar pihak akan membawa dampak positif yang berkelanjutan, tidak hanya bagi masyarakat saat ini tetapi juga bagi generasi mendatang.

 

)* Penulis adalah mahasiswa Malang tinggal di Jakarta

Pemerintah Prabowo – Gibran Komitmen Wujudkan Swasembada dengan Produksi Lokal

Jakarta – Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berkomitmen untuk mewujudkan swasembada pangan melalui optimalisasi produksi lokal, khususnya di pedesaan. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah penanaman benih jagung di Desa Cisaat, Ciater, Subang, sebagai bagian dari Festival Bangun Desa, Rabu (15/1).

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Yandri Susanto, menyebutkan bahwa jagung adalah komoditas strategis yang ditargetkan tidak lagi diimpor mulai 2025.

“Maka, semua harus bergerak ke arah yang sama, yaitu menuntaskan swasembada pangan yang digagas Presiden Prabowo Subianto,” ungkapnya.

Yandri juga menyoroti potensi besar lahan pertanian di desa yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Ia mendorong Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk memanfaatkan lahan-lahan tersebut melalui skema pinjam pakai tanpa biaya.

“Saya mengajak, melalui Hari Desa ini, kita bangun semangat untuk menuju swasembada pangan,” tegasnya.

Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga disebut berkaitan erat dengan swasembada pangan, di mana desa diharapkan menjadi pemasok utama bahan baku.

“Putaran uang di desa nantinya akan sangat besar. Jangan sampai masyarakat desa tidak merasakan manfaat dari hal ini,” tambah Yandri.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian menegaskan bahwa desa memegang peran penting dalam mendukung swasembada pangan sekaligus meningkatkan perekonomian.

“Desa didorong untuk memberikan kontribusi dengan memanfaatkan berbagai potensi yang ada,” ujar Tito.

Ia optimis bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen bisa tercapai jika seluruh desa berkontribusi optimal. Tito mendorong kepala desa untuk memanfaatkan anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) secara produktif.

“Uang yang dari APBN itu hanya stimulan saja, hanya untuk merangsang, mancing supaya desanya bisa hidup, mandiri, kemudian desa itu bisa maju,” jelasnya.

Kemampuan kewirausahaan, menurut Tito, menjadi faktor penting yang harus dimiliki kepala desa untuk meningkatkan pendapatan asli desa (PADes). Ia mendorong pemanfaatan lahan kosong, penguatan sektor pangan, hingga pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Kepala desa juga dapat mengaktifkan badan usaha milik desa (BUMDes) untuk mendukung hal ini,” tambahnya.

Tito berharap momentum Peringatan Hari Desa 2025 dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi berbagai upaya pembangunan desa.

“Harapan bangsa Indonesia tidak hanya bergantung pada pemerintah pusat, tetapi juga ada di tangan kepala desa dengan dukungan dari kepala daerah,” pungkasnya.

Apresiasi Komitmen Pemerintah Wujudkan Swasembada Pangan

Oleh: Agus Soepomo
Komitmen pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan menjadi langkah besar menuju kedaulatan pangan yang hakiki. Hal ini bukan hanya soal kebijakan teknis, tetapi juga visi besar untuk memastikan Indonesia berdiri kokoh di atas kaki sendiri.
Larangan impor terhadap empat komoditas utama seperti beras, jagung, gula, dan garam menjadi simbol nyata dari tekad tersebut. Dengan segala potensi yang dimiliki, Indonesia dihadapkan pada peluang besar untuk membuktikan bahwa swasembada pangan bukan sekadar wacana, tetapi tujuan yang dapat diraih dengan kerja keras bersama.
Optimisme pemerintah terlihat jelas dari berbagai langkah strategis yang telah dilakukan. Dukungan kepada petani diperkuat melalui akses pembiayaan, distribusi pupuk yang lebih baik, dan penyediaan bibit unggul. Tidak hanya itu, desa-desa pun digerakkan untuk menjadi pusat ekonomi lokal yang mendukung kemandirian pangan.
Namun, perjalanan ini tentu tidak mulus. Tantangan seperti ketergantungan pada bahan impor untuk produksi tertentu hingga ketimpangan dalam distribusi hasil pertanian masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diatasi. Dalam konteks ini, komitmen pemerintah tidak hanya berbicara tentang kebijakan, tetapi juga tentang semangat kolektif untuk melibatkan semua elemen masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan keyakinannya bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai swasembada pangan. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya, mulai dari penyuluhan kepada petani, peningkatan akses terhadap pembiayaan, perbaikan distribusi pupuk, hingga penyediaan bibit unggul.
Semua langkah ini dirancang agar petani, yang menjadi aktor utama dalam produksi pangan, dapat lebih mandiri, produktif, dan efisien. Namun, tantangan di sektor pangan masih cukup kompleks. Salah satunya adalah ketergantungan pada satu pihak dalam rantai pasok, seperti pada bahan kedelai untuk tahu dan tempe, yang sebagian besar masih bergantung pada impor. Hal ini menjadi sorotan yang harus segera mendapatkan solusi nyata.
Selain itu, desa memainkan peran yang sangat penting dalam agenda swasembada pangan. Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menekankan bahwa desa bukan hanya sekadar unit administratif, tetapi juga pusat penggerak ekonomi melalui pemanfaatan potensi lokal. Dengan adanya alokasi dana desa yang besar, kepala desa didorong untuk memanfaatkan anggaran tersebut secara maksimal, terutama untuk pengembangan sektor pangan.
Pemberdayaan ini diharapkan mampu menghidupkan usaha kecil, mengembangkan badan usaha milik desa (BUMDes), dan pada akhirnya memperkuat ekonomi lokal. Melalui pendekatan ini, desa diharapkan tidak hanya menjadi konsumen hasil pangan, tetapi juga menjadi pusat produksi yang mandiri.
Peran penting lainnya datang dari sektor UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menyampaikan bahwa UMKM menjadi ujung tombak dalam mendukung kedaulatan pangan, terutama pada sektor-sektor seperti pertanian, perikanan, dan peternakan.
Pemerintah pun memberikan perhatian besar pada akselerasi pertumbuhan UMKM melalui berbagai kebijakan yang memberdayakan masyarakat. Contohnya, Sumatera Selatan telah menjadi salah satu provinsi yang sukses menjadi produsen pangan utama. Hal ini terjadi berkat kolaborasi erat antara pemerintah daerah dan pelaku usaha lokal, yang menjadi bukti bahwa kerja sama dapat menghasilkan dampak yang signifikan.
Lebih dari itu, Presiden Prabowo Subianto dengan tegas menyatakan bahwa swasembada pangan adalah salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Presiden melihat kedaulatan pangan dan energi sebagai fondasi utama untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang kuat dan mandiri. Hal ini juga sejalan dengan semangat UUD 1945, di mana melindungi rakyat melalui ketersediaan pangan yang cukup adalah salah satu tugas utama pemerintah.
Presiden menekankan bahwa tanpa ketahanan pangan yang kokoh, stabilitas dan kedaulatan negara bisa terancam. Oleh karena itu, visi swasembada pangan bukan hanya soal teknis produksi, tetapi juga soal menjaga kehormatan dan kemandirian bangsa.
Namun, keberhasilan program ini tentu saja tidak bisa dicapai hanya oleh pemerintah. Partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama. Dari petani di pelosok desa, pelaku UMKM di kota, hingga konsumen akhir, semua memiliki peran strategis dalam mendukung terciptanya sistem pangan yang tangguh. Sebagai contoh, masyarakat dapat berkontribusi dengan mendukung produk lokal, mengurangi ketergantungan pada bahan impor, serta mendukung kebijakan yang mendukung kedaulatan pangan.
Langkah besar ini sejatinya adalah sebuah gerakan kolektif yang bertujuan untuk menciptakan sistem pangan yang adil, merata, dan berkelanjutan. Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, swasembada pangan adalah simbol harga diri bangsa.
Hal ini adalah sebuah pernyataan kepada dunia bahwa Indonesia mampu berdiri tegak dengan kekuatan sendiri. Dengan kebijakan yang tepat, dukungan masyarakat, serta kerja sama yang solid, mimpi untuk mencapai swasembada tanpa impor pangan bukanlah hal yang mustahil.
Kita semua memiliki tanggung jawab untuk mendukung upaya besar ini. Dari membeli produk lokal hingga mendukung kebijakan pemerintah yang pro-petani, setiap langkah kecil memiliki dampak besar. Indonesia sedang berada di jalur yang tepat untuk menjadi bangsa yang mandiri dalam hal pangan. Tidak ada yang lebih membanggakan daripada melihat negeri ini berdiri kokoh dengan kekuatan sendiri. Swasembada tanpa impor pangan adalah tujuan besar, tetapi dengan tekad yang kuat, langkah ini pasti bisa terwujud.
*) Konsultan Kebijakan Ekonomi – Forum Ekonomi Rakyat

Pemerintah Alokasikan Dana dalam Program Penghapusan Utang UMKM

Jakarta – Pemerintah menunjukkan komitmennya dalam mendukung sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan mengalokasikan dana besar dalam program penghapusan utang. Program ini bertujuan untuk memberikan peluang kedua bagi para pelaku UMKM yang terbelit utang, sehingga dapat bangkit kembali dan berkontribusi pada pemulihan ekonomi nasional. Melalui kebijakan ini, pemerintah menargetkan untuk menghapus utang dari 1 juta UMKM, dengan total nilai mencapai Rp 14 triliun.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman mengungkapkan bahwa hingga saat ini, pemerintah telah memproses penghapusan utang untuk 67 ribu nasabah UMKM di seluruh Indonesia, dengan nilai total mencapai Rp 2,5 triliun.

“Ini adalah langkah awal yang signifikan untuk meringankan beban UMKM, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, namun sering kali terhambat oleh masalah keuangan. Penghapusan utang ini agar lebih banyak lagi pelaku UMKM yang terbebas dari beban finansial yang menghambat pertumbuhannya,” ujar Maman.

Anggota Komisi VII DPR RI, Ilham Permana, menyambut baik kebijakan ini dan menyebutnya sebagai langkah strategis dalam mendukung pemulihan ekonomi Indonesia. Menurutnya, sektor UMKM merupakan pilar penting dalam perekonomian Indonesia dan patut didukung oleh Pemerintah.

“Penghapusan utang ini memberikan UMKM peluang kedua untuk bangkit, mengurangi beban finansial, dan berperan aktif dalam perekonomian nasional. Sektor ini adalah pilar penting dalam perekonomian Indonesia, dan penghapusan utang akan meningkatkan produktivitas dan daya saing UMKM di pasar global,” kata Ilham.

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar mengungkapkan bahwa OJK mendukung penuh program penghapusan utang UMKM dan akan terus memantau agar pelaksanaan program tersebut dapat berjalan dengan baik.

“Kami memberikan dukungan penuh terhadap implementasi Peraturan Pemerintah (PP) No 47 Tahun 2024 yang berkaitan dengan penghapusan piutang macet UMKM. OJK akan terus memantau pelaksanaan program ini untuk memastikan kesuksesannya,” kata Mahendra.

Mahendra menambahkan bahwa pengawasan yang ketat terhadap implementasi kebijakan ini akan memastikan bahwa dana yang dialokasikan tepat sasaran dan digunakan sesuai dengan tujuannya.

“Kebijakan ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi pasca-pandemi dan memberikan dorongan yang dibutuhkan untuk memajukan sektor UMKM yang terbukti mampu menyerap lapangan kerja dalam jumlah besar,” tutupnya.