Sinergitas Antar K/L Kunci Keberhasilan Pemberantasan Narkoba

Mataram – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendukung penuh upaya pemberantasan Narkoba sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto. Sebab, NTB menjadi salah satu wilayah yang menunjukkan adanya fenomena penyalahgunaan Narkoba sangat mengkhawatirkan. Sinegitas semua pihak sangat penting untuk mengatasi masalah pemberantasan Narkoba, khususnya di NTB.

Berdasarkan hasil penghitungan yang dilakukan Pusat Penelitian, Data dan Informasi (Puslidatin) BNN RI, sebanyak 64.623 jiwa penduduk Nusa Tenggara Barat (NTB) usia 15-64 tahun dikabarkan pernah menggunakan narkoba, dengan prevalensi yang hampir setara dengan angka nasional.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) NTB, Brigadir Jenderal Polisi Marjuki, mengatakan bahwa fenomena tersebut sebagai “gunung es”. Artinya, angka yang muncul di permukaan hanya sebagian kecil dari masalah besar yang ada di dalamnya.

“Masalah Narkoba ini menjadi keprihatinan kita bersama, dan kita harus bersatu dalam menghadapinya,” ujar Marjuki.

Marjuki menjelaskan bahwa BNNP NTB bersama berbagai pihak akan melaksanakan beragam kegiatan untuk mencegah peredaran Narkoba, salah satunya adalah penyuluhan kepada masyarakat dan pelajar.

Penyuluhan ini sangat penting karena pelajar adalah generasi muda yang akan mengisi Indonesia Emas 2045.

Selain itu, BNNP NTB juga akan melakukan tes urin terhadap seluruh perangkat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di NTB sebagai contoh komitmen pemerintah dalam pemberantasan Narkoba.

“Kami juga akan terus meningkatkan pemberantasan narkoba bersama Polda NTB dan pihak-pihak terkait lainnya,” kata Marjuki.

Meskipun di Indonesia Timur belum ada rumah rehabilitasi Narkoba, BNNP NTB telah menyiapkan rumah rehabilitasi yang dapat menampung hingga 1.000 orang per tahun. Namun, hingga saat ini, hanya 27 orang yang menjalani rehabilitasi rawat inap, dan 872 orang menjalani rehabilitasi rawat jalan.

“Masalah ini memerlukan perhatian serius dari kita semua,” ungkap Marjuki.

Sementara itu, Ketua DPRD NTB, Hj. Baiq Isvie Rupaeda, mengatakan pentingnya penambahan fasilitas rehabilitasi Narkoba di NTB, yang juga telah disarankan oleh Kejaksaan Tinggi NTB. Ia berharap pada tahun 2025, pemerintah provinsi dapat menyediakan ruang rawat inap rehabilitasi Narkoba di Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma atau Rumah Sakit Umum Provinsi NTB, seiring dengan perubahan kebijakan yang mengarah pada rehabilitasi bagi pengguna narkoba, bukan lagi hukuman penjara.

“Kita berharap penambahan ruang perawatan rehabilitasi dapat terwujud di tahun 2025,” kata Baiq Isvie.

Makan Bergizi Gratis Bangkitkan Perekonomian Daerah

JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025, mendapat apresiasi luas dari berbagai pihak. Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Herman Khaeron, menilai program ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.

“Selain memberikan asupan gizi dan nutrisi, program MBG juga menjadi pembangkit ekonomi baru di daerah,” ujar Herman.

Khaeron menjelaskan bahwa MBG, yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, mampu memberikan dampak signifikan baik di sektor kesehatan maupun ekonomi. Dengan memastikan asupan gizi cukup bagi anak-anak di tingkat SD, SMP, dan SMA, program ini diharapkan mencetak generasi unggul yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Generasi emas adalah generasi yang ekonominya maju, adil, dan sejahtera. Dengan program MBG, kita berinvestasi pada masa depan bangsa,” kata Herman.

Menurutnya, program MBG turut melibatkan potensi lokal dengan memberdayakan petani, pedagang, dan UMKM di daerah. Dari sisi ekonomi, bahan baku lokal menjadi elemen utama dalam penyediaan makanan bergizi melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Ekonomi daerah meningkat melalui keterlibatan petani dan pengusaha lokal yang menyediakan komoditas seperti sayur-mayur, ikan, daging, dan telur. Ini menciptakan efek domino yang positif bagi perekonomian lokal,” tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Bogor, Rudy Mashudi. Menurutnya, anggaran pemerintah sebesar Rp 71 triliun untuk program MBG harus dimanfaatkan optimal untuk mendukung ekonomi daerah.

“Program ini melibatkan jejaring petani dan UMKM lokal sehingga dapat menjadi pengungkit ekonomi di daerah. Multiplier effect-nya besar,” kata Rudy.

Sementara itu, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menegaskan bahwa MBG tak hanya bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), tetapi juga memberdayakan ratusan UMKM. Hingga saat ini, ratusan UMKM telah terlibat sebagai rantai pasok program MBG.

“Program ini tidak hanya menurunkan tingkat malnutrisi dan stunting, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal dengan melibatkan UMKM, petani, dan nelayan. Ini adalah wujud nyata pembangunan yang inklusif,” terang Hasan.

Kebijakan Paket Stimulus Presiden Prabowo Dorong Pertumbuhan dan Atasi Tantangan Struktural Ekonomi Indonesia

Jakarta, Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai bahwa kebijakan stimulus ekonomi yang diusung oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dapat menjadi pendorong utama aktivitas konsumsi, investasi, dan produksi, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah maupun kelas atas. Sejumlah tantangan dan peluang pun turut menjadi sorotan.

Dalam dialog di salah satu radio swasta di jakarta, Fithra Faisal menerangkan, meskipun ekonomi Indonesia diprediksi tumbuh di atas 5% sepanjang 2025, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi 10 tahun terakhir, yaitu 5,07%. Pada Kuartal I hingga Kuartal III 2024, pertumbuhan ekonomi berturut-turut tercatat sebesar 5,11%, 5,05%, dan 4,9%.

“Yang menjadi tantangan adalah konsumsi domestik yang tidak pernah berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi. Ini menunjukkan perlunya langkah-langkah lebih strategis untuk mendorong daya beli masyarakat,” ujarnya.

Inflasi sepanjang tahun 2024 tercatat mencapai 1,57%, terendah sejak 1958. Namun, inflasi rendah ini juga mengindikasikan melambatnya permintaan domestik.

“Kelas menengah merupakan penghela utama ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan stimulus yang mampu mengatasi tantangan struktural ini,” tambahnya.

Salah satu kebijakan Presiden yang dianggap mendukung pemulihan ekonomi adalah tidak menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) secara luas. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021, PPN semestinya naik 1% pada 2025. Namun, kebijakan ini hanya berlaku untuk kelompok kaya, sementara kelompok lainnya diimbangi dengan paket stimulus ekonomi sebesar Rp265 triliun.

Fithra Faisal juga mencatat bahwa spending belanja pemerintah untuk konsumsi mencapai Rp867 hingga Rp900 triliun, dengan fokus pada kelompok menengah bawah, seperti melalui program bantuan sosial (bansos) dan subsidi kebutuhan pokok. Stimulus untuk sektor produksi, termasuk program padat karya, juga diharapkan mampu mendorong produktivitas dan memperbaiki Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang sempat terkontraksi selama lima bulan berturut-turut akibat tingginya ongkos produksi.

Fithra Faisal memperkirakan, jika stimulus dapat digunakan secara efektif dan tepat sasaran, ada potensi tambahan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5% hingga 1%. Namun, ia juga mengingatkan bahwa iklim ekonomi global yang dinamis dapat menjadi tantangan signifikan bagi target pertumbuhan pemerintah.

Kebijakan refocusing anggaran dan penghematan belanja dinilai menjadi kunci untuk mencegah pembengkakan defisit. “Penggunaan anggaran harus lebih selektif, dan pemerintah perlu mengalokasikan belanja pada program-program yang memberikan dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Skenario kenaikan PPN dari 11% ke 12%, meskipun telah dipersempit hanya untuk barang mewah melalui Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), tetap perlu diawasi dampaknya. Namun, langkah ini dinilai tidak akan signifikan bagi kelompok masyarakat non-atas.

Fithra Faisal menutup dengan menekankan pentingnya reformasi struktural dan manajemen fiskal yang efisien untuk mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Stimulus yang tepat diharapkan tidak hanya mampu memitigasi perlambatan, tetapi juga membuka jalan menuju perekonomian yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Apresiasi Keputusan Pemerintah Jalankan Paket Stimulus Ekonomi

Oleh : Reenee WA. (Former Journalist/Social Economy Observer)

 

Kebijakan pemerintah untuk membatalkan kenaikan PPN secara menyeluruh dari 11% ke 12% dan hanya menerapkannya pada produk barang dan jasa mewah, layak mendapatkan apresiasi. Pemerintah berkomitmen untuk tetap menjalankan paket stimulus ekonomi. Kebijakan tersebut memberikan dampak positif di tengah tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat Indonesia.

Salah satu kebijakan Presiden yang dianggap mendukung pemulihan ekonomi adalah tidak menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) secara luas. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021, PPN semestinya naik 1% pada 2025. Namun, kebijakan ini hanya berlaku untuk kelompok kaya, sementara kelompok lainnya diimbangi dengan paket stimulus ekonomi sebesar Rp265 triliun.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meluncurkan paket stimulus ekonomi yang bertujuan untuk mendorong aktivitas konsumsi, investasi, dan produksi. Stimulus ini diharapkan memberikan dampak positif bagi masyarakat kelas menengah kebawah.

Keputusan ini juga memperlihatkan kepekaan pemerintah dalam merespons suara rakyat dan memahami kondisi perekonomian mereka. Berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh publik hingga pimpinan organisasi, menyambut baik kebijakan yang dianggap sesuai dengan kepentingan publik ini. Pembatalan rencana kenaikan PPN tersebut menjadi kebijakan strategis yang mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mempertimbangkan aspirasi dan kesejahteraan rakyat, sekaligus menunjukkan komitmen mereka terhadap stabilitas ekonomi masyarakat.

Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menjelaskan bahwa pemerintah memperkuat program bantuan sosial (bansos) dan stimulus konsumsi. Sekitar 16 juta penerima manfaat akan mendapatkan bantuan berupa makanan, pakaian, dan beras melalui program ini. Di sisi lain, pemerintah juga fokus pada penguatan sektor produksi dengan memberikan insentif padat karya sehingga produktivitas manufaktur dapat kembali bangkit.

Untuk mendukung konsumsi dan produksi, kenaikan PPN hanya akan difokuskan pada orang-orang kaya, seperti yang diatur dalam PMK 131 Tahun 2024. Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan stimulus ekonomi sebesar Rp265 triliun pada tahun 2025. Jika stimulus ini digunakan secara efektif, ada potensi tambahan pertumbuhan ekonomi hingga 0,5-1%.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global.

Selain itu, pemerintah juga melakukan intervensi pada Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Akan tetapi, Fithra juga menekankan pentingnya pengelolaan anggaran yang selektif dimana pemerintah harus menghindari kebocoran anggaran dan melakukan penghematan untuk mengurangi potensi defisit. Refocusing anggaran pada produk yang lebih efisien dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Fithra juga mengingatkan bahwa iklim ekonomi global yang dinamis dapat menjadi tantangan signifikan bagi target pertumbuhan pemerintah.

Kebijakan stimulus ekonomi ini mencerminkan langkah nyata pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi global, sekaligus membangun optimisme untuk pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dari perspektif ekonomi, penetapan PPN yang lebih tinggi hanya untuk barang dan jasa mewah dianggap sebagai langkah strategis dalam menjaga daya beli masyarakat.

Pemerintah menunjukkan komitmennya untuk menciptakan kebijakan yang lebih adil dan merata. Ini adalah sinyal positif bagi masyarakat bahwa pemerintah selalu terbuka terhadap kritik dan saran dari berbagai elemen. Hal ini sejalan dengan tuntutan masyarakat yang semakin menginginkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan pemerintah.

Masyarakat tentu mengharapkan agar pemerintah terus berkomitmen untuk mendengarkan suara rakyat dan membuat kebijakan yang berpihak pada kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Apresiasi masyarakat terhadap pembatalan kenaikan PPN ini dapat menjadi dorongan bagi pemerintah untuk terus berinovasi dan menciptakan kebijakan yang lebih baik di masa mendatang.

Keputusan pemerintah tersebut dengan tetap menjalankan program stimulus ekonomi, membuka jalan bagi transformasi yang lebih baik di masa depan. Partisipasi aktif dan suara masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan sangat diperlukan untuk mewujudkan kemakmuran bersama. Dukungan kolektif terhadap pemerintah akan membantu terwujudnya kebijakan-kebijakan yang mengutamakan kepentingan rakyat, menciptakan masyarakat yang makmur dan adil. Setiap langkah pemerintah selanjutnya harus senantiasa memprioritaskan perbaikan ekonomi, pemerataan sosial, dan peningkatan taraf hidup seluruh lapisan masyarakat.

Patut diapresiasi keputusan pemerintah yang memilih untuk tidak menaikkan tarif PPN dari 11% menjadi 12% secara umum, dan membatasi kenaikan tersebut hanya untuk produk dan layanan premium. Pemerintah menunjukkan keseriusannya dalam melanjutkan program stimulus untuk mendukung perekonomian. Langkah ini memberikan angin segar bagi masyarakat Indonesia yang sedang menghadapi berbagai tantangan ekonomi. [rwa]

Ekonom UI: Stimulus Ekonomi Pemerintahan Prabowo-Gibran Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Jakarta – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meluncurkan paket stimulus ekonomi yang bertujuan untuk mendorong aktivitas konsumsi, investasi, dan produksi. Stimulus ini diharapkan memberikan dampak positif bagi masyarakat kelas bawah, menengah, dan atas.Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2024 tetap cukup baik. “Sejak Kuartal I hingga Kuartal III, pertumbuhan ekonomi selalu berada di atas 5%, meskipun ada penurunan di Kuartal III menjadi 4,9%,” ujar Fithra.

 

Namun, Fithra menyoroti tantangan utama pada sektor konsumsi. “Pertumbuhan konsumsi tidak pernah berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih,” tambahnya.

Untuk mendukung konsumsi, pemerintah telah mengambil langkah strategis dengan tidak menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada tahun 2025, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021, sehafrusnya PPN menjadi 12% pada 2025 ini. “Kenaikan PPN hanya akan difokuskan pada orang-orang kaya, seperti yang diatur dalam PMK 131 Tahun 2024. Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan stimulus ekonomi sebesar Rp265 triliun untuk mengkompensasi kenaikan PPN,” ungkap Fithra.

Selain konsumsi, pemerintah juga memberikan perhatian pada sektor produksi, khususnya melalui insentif padat karya. “Dengan adanya insentif ini, tekanan ongkos produksi yang sebelumnya menjadi tantangan utama sektor manufaktur dapat berkurang. Jika stimulus ini digunakan secara efektif, ada potensi tambahan pertumbuhan ekonomi hingga 0,5-1%,” jelas Fithra.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global. [-red]

Pemerintahan Prabowo-Gibran Prioritaskan Stimulus Ekonomi untuk Kelas Menengah dan Bawah

Jakarta – Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, mengungkapkan bahwa inflasi Indonesia sepanjang tahun 2024 berada pada level terendah sejak 1958, yaitu 1,57%. “Meskipun inflasi rendah, ini menunjukkan perlambatan permintaan yang menjadi permasalahan struktural selama lima tahun terakhir. Kelompok kelas menengah, yang merupakan penggerak utama ekonomi, juga mengalami penurunan jumlah dari 57 juta menjadi sekitar 47 juta,” jelasnya.

 

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah memperkuat program bantuan sosial (bansos) dan stimulus konsumsi. “Sekitar 16 juta penerima manfaat akan mendapatkan bantuan berupa makanan, pakaian, dan beras melalui program ini,” ungkap Fithra.

Di sisi lain, pemerintah juga fokus pada penguatan sektor produksi dengan memberikan insentif padat karya. “Selama lima bulan berturut-turut tahun lalu, PMI Manufaktur Indonesia berada di fase kontraksi akibat tekanan ongkos produksi. Dengan adanya insentif padat karya, produktivitas manufaktur dapat kembali bangkit,” ujar Fithra.

Selain itu, pemerintah juga melakukan intervensi pada Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). “Efek domino dari kenaikan PPN dapat dihindari karena kenaikannya hanya berlaku untuk barang mewah, sehingga tidak terlalu berdampak pada masyarakat selain kelas atas,” jelasnya.

Namun, Fithra menekankan pentingnya pengelolaan anggaran yang selektif. “Pemerintah harus menghindari kebocoran anggaran dan melakukan penghematan untuk mengurangi potensi defisit. Refocusing anggaran pada produk yang lebih efisien dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi jangka pendek,” tambahnya.

Kebijakan stimulus ekonomi ini mencerminkan langkah nyata pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi global, sekaligus membangun optimisme untuk pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. [-red]

Pemerintah Pastikan Langkah Hukum Tegas Terhadap OPM Pelaku Kekerasan

Jayapura – Pemerintah, melalui TNI dan Polri, menegaskan komitmennya untuk mengambil tindakan hukum yang tegas terhadap pelaku kekerasan yang berafiliasi dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Salah satu target prioritas saat ini adalah Aske Mabel, mantan anggota Polri yang kini menjadi Panglima TPNPB-OPM Kodap Balim Timur Yali-Yalimo.

Diketahui, Aske Mabel sebelumnya merampas empat senjata jenis AK-47 dari Polres Yalimo, Papua Pegunungan, dan terlibat dalam berbagai aksi kekerasan yang meresahkan.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah Papua, Brigjen Pol Faizal Rahmadani, menyatakan bahwa Aske Mabel kini menjadi buronan utama Satgas Penegakan Hukum (Gakkum) Operasi Damai Cartenz 2025.

Dalam arahannya kepada personel Satgas di Jayapura, Faizal menegaskan, untuk memburu OPM.

“Perintahnya jelas: kejar, tangkap hidup atau mati. Kalian memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan DPO Aske Mabel.” tegasnya.

Pernyataan ini menggambarkan keseriusan aparat dalam menindak tegas siapa pun yang terlibat dalam aksi separatisme dan kekerasan di Papua.

Polda Papua bersama Satgas Operasi Damai Cartenz terus melakukan koordinasi untuk mengungkap kasus penembakan yang menewaskan lima warga sipil di Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan.

Faizal memastikan bahwa langkah-langkah strategis sedang diambil untuk menangkap Aske Mabel dan kelompoknya, termasuk melalui pemetaan, pengejaran, dan penindakan langsung di lapangan.

Dukungan terhadap langkah tegas pemerintah ini datang dari berbagai pihak.

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Golkar, Dave Akbarshah Firkano, menekankan pentingnya memberantas OPM hingga ke akar-akarnya untuk mencegah jatuhnya korban lebih lanjut.

“Pemberantasan ini harus menyasar tidak hanya pada kegiatan, tetapi juga ideologi mereka. Pemerintah perlu memberikan otoritas penuh kepada TNI untuk menjalankan tugas ini,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh politikus senior Partai Golkar, Aburizal Bakrie, yang menyebut tindakan keras terhadap OPM sebagai langkah yang wajib dilakukan demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Tidak ada kompromi untuk pemberontakan terhadap RI. Langkah Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengubah penyebutan KKB menjadi OPM adalah langkah tepat. Ini menunjukkan sikap tegas negara terhadap ancaman separatisme,” ungkapnya.

Aburizal juga mengingatkan bahwa meski tindakan tegas diperlukan, pendekatan kesejahteraan tidak boleh diabaikan.

Ia menilai, pendekatan yang mengedepankan pembangunan ekonomi dan sosial dapat menciptakan situasi kondusif di Papua.

“Kondisi yang stabil memungkinkan masyarakat untuk beraktivitas dengan tenang, sehingga kesejahteraan mereka dapat meningkat,” tambahnya. []

Pemerintah Pastikan Perlindungan Warga Papua dari OPM

Oleh: Roslina Kadepa )*

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk melindungi masyarakat Papua di tengah berlangsungnya operasi pemberantasan kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Di bawah koordinasi TNI dan Polri, langkah ini dilakukan dengan tetap mengutamakan prinsip hak asasi manusia serta menjaga keamanan masyarakat sipil dari ancaman kelompok bersenjata. Berbagai tuduhan terhadap aparat keamanan yang beredar, termasuk klaim penggunaan tempat ibadah sebagai pos militer, telah dibantah keras oleh pihak terkait.

Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz, yang dipimpin oleh Kombes Pol Yusuf Sutejo sebagai Kepala Satgas Hubungan Masyarakat, dengan tegas membantah tuduhan bahwa Gereja Efesus GIDI di Distrik Oksop dijadikan markas militer atau gudang logistik perang. Tuduhan tersebut dinilai sebagai upaya provokasi yang bertujuan memicu kegaduhan di Papua.

Yusuf melaporkan bahwa situasi di Distrik Oksop saat ini telah kondusif, dengan masyarakat menjalani aktivitas sehari-hari secara aman. Aparat TNI-Polri hadir di wilayah tersebut untuk menjaga kedamaian serta memastikan keamanan masyarakat tetap terjamin.

Pemerintah menyadari bahwa narasi provokatif yang beredar, termasuk melalui saluran informasi yang tidak dapat diverifikasi, berpotensi menciptakan keresahan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Satgas Operasi Damai Cartenz meminta masyarakat Papua untuk tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu negatif yang tidak memiliki dasar fakta. Sebaliknya, warga diminta mengonfirmasi setiap informasi kepada pihak berwenang atau melalui jalur resmi yang tersedia.

Di sisi lain, operasi pemberantasan OPM yang dilakukan oleh TNI dan Polri berlandaskan pada peraturan yang berlaku, termasuk Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2020 tentang percepatan pembangunan kesejahteraan di Papua. Landasan hukum ini menegaskan bahwa kehadiran aparat keamanan di Papua bertujuan untuk menciptakan stabilitas yang diperlukan dalam mendukung pembangunan kesejahteraan. Selain melindungi masyarakat dari ancaman kelompok bersenjata, kehadiran TNI-Polri di lapangan juga mencakup peran mendukung pelayanan dasar dan komunikasi sosial yang inklusif.

Namun, tantangan besar masih dihadapi dalam pelaksanaan operasi tersebut. Aktivitas kelompok bersenjata, seperti yang dilakukan oleh OPM, sering kali menghambat pembangunan di Papua. Insiden kekerasan terhadap warga sipil dan aparat keamanan, termasuk penembakan yang menewaskan seorang pilot asal Selandia Baru, menjadi contoh nyata dampak destruktif dari kelompok ini. Peristiwa semacam itu tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menciptakan ketidakstabilan yang memaksa masyarakat setempat untuk meninggalkan wilayah mereka demi keselamatan.

Menurut Komandan Satgas Media Komando Operasi TNI Habema, Letkol Arh Yogi Nugroho, tugas TNI di Papua berlandaskan pada Instruksi Presiden untuk mendukung percepatan pembangunan kesejahteraan. Yogi menyebut bahwa kehadiran TNI di wilayah ini bertujuan menciptakan kondisi aman yang memungkinkan seluruh pemangku kepentingan menjalankan tugas pembangunan dengan baik. Ia menegaskan bahwa stabilitas keamanan adalah prioritas utama demi kesejahteraan masyarakat Papua.
Dalam menghadapi situasi ini, TNI telah menunjukkan langkah-langkah kemanusiaan, termasuk melakukan evakuasi terhadap korban tanpa menunggu permintaan resmi dari pihak terkait. Langkah ini menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah adalah melindungi setiap individu yang berada di wilayah konflik.

Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen Izak Pangemanan, juga menegaskan bahwa kehadiran pasukan di Papua dirancang untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat setempat. Meskipun masih ada kelompok bersenjata yang mengancam, keberadaan aparat keamanan justru telah membantu menciptakan ketenangan di berbagai wilayah.

Pemerintah terus mengedepankan pendekatan menyeluruh dalam menangani situasi di Papua. Selain operasi keamanan, upaya mempercepat pembangunan kesejahteraan tetap menjadi prioritas. Pendekatan ini bertujuan untuk menjawab akar masalah yang kerap menjadi alasan munculnya ketidakpuasan di sebagian kalangan. Dengan mengutamakan keamanan, pembangunan, dan dialog, pemerintah berharap dapat menciptakan situasi yang kondusif untuk mendorong Papua menjadi wilayah yang damai dan sejahtera.

Meski begitu, tantangan dalam menghadapi narasi provokatif yang disebarkan oleh kelompok tertentu masih menjadi perhatian utama. Pemerintah terus menekankan pentingnya verifikasi informasi sebelum menyebarkannya lebih lanjut. Dengan menyaring informasi secara kritis, masyarakat dapat membantu mengurangi potensi konflik yang diakibatkan oleh kesalahpahaman atau manipulasi fakta.

Dalam konteks ini, dukungan terhadap upaya pemerintah tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga melibatkan komunitas internasional. Pemerintah menegaskan bahwa langkah pemberantasan OPM tidak hanya untuk menjaga kedaulatan negara, tetapi juga untuk melindungi hak-hak masyarakat Papua agar dapat hidup tanpa ancaman kekerasan. Pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah mencerminkan keseimbangan antara penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia.

Operasi keamanan yang dilakukan di Papua bukanlah upaya represif semata. Pemerintah menegaskan bahwa setiap tindakan telah direncanakan dengan cermat untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat sipil. Aparat keamanan juga telah dilatih untuk menjalankan tugas mereka dengan menghormati norma-norma hukum dan etika yang berlaku. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa masyarakat Papua merasa aman dan percaya bahwa kehadiran aparat keamanan adalah untuk melindungi, bukan sebaliknya.

Langkah-langkah pemerintah dalam menangani situasi di Papua mencerminkan komitmen yang kuat untuk menjaga stabilitas, melindungi masyarakat, dan memastikan keberlanjutan pembangunan. Pemerintah mengajak semua pihak untuk bekerja sama menciptakan Papua yang damai dan sejahtera, serta menjadikan wilayah tersebut sebagai bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang maju dan harmonis.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Makassar

Sinergitas Pemerintah dengan Kelompok UMKM Bantu Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional

Oleh : Rahmat Hidayat )*

Sinergitas antara berbagai pihak, terutama dengan kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), memainkan peran penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan. UMKM, yang merupakan bagian integral dari perekonomian Indonesia, memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi signifikan terhadap penyediaan pangan yang tidak hanya mencukupi kebutuhan domestik, tetapi juga mendukung ketahanan pangan jangka panjang di tanah air. Dengan dukungan yang tepat, kelompok UMKM ini dapat menjadi pilar utama dalam menciptakan sistem pangan yang lebih stabil dan mandiri.

Di Indonesia, sebagian besar UMKM bergerak di sektor pangan, mulai dari petani, nelayan, hingga produsen makanan olahan. Sektor-sektor ini sangat dekat dengan kebutuhan dasar masyarakat, yaitu pangan. Dengan jumlah yang besar dan tersebar di seluruh wilayah, UMKM memiliki kapasitas untuk meningkatkan produksi pangan lokal serta menciptakan sistem distribusi yang lebih efisien. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan kelompok UMKM menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi ini. Pemerintah, misalnya, melalui kebijakan yang mendukung pemberdayaan UMKM dan akses pasar, dapat memperkuat daya saing produk pangan lokal yang dihasilkan oleh kelompok UMKM.

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman menegaskan komitmen Kementerian UMKM dalam mendukung ketahanan pangan melalui pembiayaan penyediaan peralatan untuk keberlangsungan peningkatan usaha para pengusaha UMKM. Sejumlah langkah strategis akan dilakukan untuk memastikan UMKM dapat berkontribusi optimal dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Saat ini pihaknya sedang menyiapkan Peraturan Menteri (Permen) untuk mengalokasikan Rp20 triliun untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus peralatan produksi. Program ini bertujuan membantu khususnya petani, peternak, dan pengusaha UMKM di sektor perikanan dalam mendapatkan alat usaha dengan plafon hingga Rp2 miliar.

Dalam konteks ketahanan pangan, UMKM juga memiliki peran penting dalam mengurangi kerawanan pangan di daerah-daerah terpencil dan daerah yang terdampak bencana. Sinergitas antara pemerintah dan UMKM dalam menyediakan produk pangan yang mudah diakses dan terjangkau sangat krusial dalam menjaga keberlanjutan pasokan pangan, terutama di daerah yang kesulitan mendapatkan pasokan pangan dari luar. Selain itu, UMKM yang bergerak di bidang pertanian dan perikanan lokal dapat membantu menjaga keberagaman pangan di Indonesia, sekaligus meningkatkan pendapatan para petani dan nelayan yang tergabung dalam kelompok UMKM tersebut.

Salah satu contoh keberhasilan sinergitas ini adalah program kemitraan antara petani lokal dan perusahaan besar yang bergerak di sektor pangan. Dalam hal ini, perusahaan besar bertindak sebagai mitra dalam hal pemasaran, pelatihan, serta pendanaan bagi petani. Di sisi lain, petani yang tergabung dalam kelompok UMKM mendapat akses yang lebih baik terhadap pasar yang lebih luas, teknologi, dan pembiayaan yang lebih mudah. Hal ini tentu saja meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor pangan lokal, yang berdampak langsung pada peningkatan ketahanan pangan nasional.

Sementara itu, Kepala Bidang Konsumsi dan Penganekaragaman Pangan, Dinas Pangan Provinsi Sumatera Barat, Devi Erma Yeni mengatakan UMKM memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Sebagai pelaku ekonomi yang tersebar di berbagai wilayah, UMKM mampu mendukung produksi, pengolahan, dan distribusi pangan hingga ke pelosok negeri. Dengan berfokus pada produk lokal, UMKM membantu memastikan ketersediaan pangan yang beragam di tengah masyarakat. UMKM di sektor pangan sering kali memanfaatkan bahan baku lokal, seperti hasil pertanian, peternakan, atau perikanan.

Selain itu, dalam menghadapi tantangan global terkait perubahan iklim dan fluktuasi harga pangan internasional, sinergitas yang kuat antara UMKM, pemerintah, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk menciptakan sistem pangan yang lebih resilien. Inovasi dalam teknik pertanian dan pengolahan pangan yang ramah lingkungan serta penerapan teknologi yang efisien dalam distribusi dan penyimpanan pangan menjadi hal penting dalam menjaga kestabilan pasokan pangan di seluruh Indonesia. Dalam hal ini, peran UMKM sangat krusial, karena mereka dapat menjadi pelopor dalam mengadopsi teknologi tepat guna yang sesuai dengan kondisi lokal dan budaya setempat.

Tidak kalah pentingnya, program pelatihan dan pemberdayaan yang diselenggarakan oleh pemerintah dan lembaga swasta untuk kelompok UMKM dalam sektor pangan dapat meningkatkan kapasitas mereka dalam hal kualitas produk dan manajemen usaha. Dengan meningkatnya keterampilan dan pengetahuan, UMKM di sektor pangan mampu menghasilkan produk yang tidak hanya memenuhi standar kesehatan dan keamanan pangan, tetapi juga memiliki daya saing di pasar global. Hal ini tentu saja akan berdampak positif pada penguatan ketahanan pangan nasional, yang pada gilirannya juga berkontribusi pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Dalam rangka mempercepat terwujudnya ketahanan pangan nasional, sinergitas ini harus terus dijaga dan diperkuat. Semua pihak, baik pemerintah, sektor swasta, maupun kelompok UMKM, harus bersatu dalam upaya menciptakan sistem pangan yang inklusif, berkelanjutan, dan tangguh. Dengan dukungan yang tepat, UMKM di sektor pangan memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan ketahanan pangan yang tidak hanya mencakup aspek ketersediaan pangan, tetapi juga mencakup keberagaman, kualitas, dan distribusi pangan yang merata di seluruh penjuru Indonesia.

)* Penulis adalah pengamat Ekonomi

UMKM Berperan Penting dalam Wujudkan Ketahanan Pangan

Jakarta – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peranan penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Sebagai penggerak ekonomi rakyat, UMKM pangan berkontribusi besar dalam menjaga ketersediaan bahan pokok melalui produksi, distribusi, dan pemasaran produk pangan di berbagai wilayah Indonesia.

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, menegaskan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah menyediakan pembiayaan untuk peralatan yang dibutuhkan oleh pelaku UMKM di berbagai sektor. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan keberlanjutan usaha dan memperkuat posisi UMKM sebagai motor penggerak ekonomi.

” Kami berkomitmen mendukung ketahanan pangan nasional dengan menyediakan pembiayaan untuk peralatan yang dibutuhkan pelaku UMKM di berbagai sektor. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan keberlanjutan usaha dan memperkuat posisi UMKM sebagai motor penggerak ekonomi,” ujar Maman.

Senada dengan hal tersebut, Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga mengatakan BUMN perlu menciptakan program konkret yang bertujuan mendorong pelaku UMKM bisa naik kelas.

“Misalnya merancang program pelatihan atau pendampingan terhadap pelaku UMKM. Atau membantu akses pasar. Itu arahan dari Pak Menteri BUMN,” kata Arya.

Tidak hanya pemerintah, para pengusaha juga mendukung program tersebut. Corporate Secretary PT Semen Indonesia (Persero/SIG) Tbk, Vita Mahreyni mengatakan pihaknya terus mendukung agar UMKM naik kelas untuk mewujudkan ketahanan pangan. Program pendampingan terhadap UMKM, menjadi bagian dari komitmen SIG dalam menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

“Selama ini, SIG melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) terus memberikan bantuan dan pendampingan kepada para pegiat UMKM agar berdaya saing dan mampu mengembangkan usaha,” ungkapnya.

Peran BUMN melalui program pendampingan dan bantuan akses pasar turut mendorong pelaku UMKM naik kelas. Komitmen perusahaan swasta, seperti PT Semen Indonesia melalui program CSR, juga memperkuat daya saing UMKM di berbagai daerah. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu memperkokoh posisi UMKM sebagai motor penggerak ekonomi dan menjamin ketersediaan pangan nasional secara berkelanjutan.

Dengan dukungan dan sinergi lintas sektor, pemerintah optimistis bahwa UMKM akan terus menjadi pilar penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan mewujudkan kedaulatan pangan di seluruh wilayah Indonesia.

UMKM memiliki peran strategis dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional melalui produksi, distribusi, dan pemasaran hasil pangan yang menopang ekonomi rakyat. Dukungan pemerintah, seperti pembiayaan peralatan usaha dan pelatihan, menjadi langkah konkret yang memperkuat keberlanjutan usaha UMKM.