Pemerintahan Presiden Prabowo Tegaskan Semua Pelaku Judi Online Akan Ditindak Sesuai Hukum

Jakarta – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk memberantas judi online tanpa pandang bulu.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam), Budi Gunawan, menyatakan bahwa seluruh pihak yang terlibat dalam praktik ini, termasuk pejabat dan aparat yang melindungi jaringan tersebut, akan diproses sesuai hukum.

“Semua tidak ada toleransi, dan kami meyakini itu karena sudah perintah Pak Presiden bahwa semuanya akan diproses,” ujar Budi Gunawan

Budi Gunawan, yang akrab disapa BG, mengungkapkan bahwa Polri saat ini terus menyelidiki jaringan judi online untuk mengungkap keterlibatan pihak-pihak lain.

Ia juga menegaskan bahwa penyelidikan ini akan berjalan tanpa intervensi dari pihak mana pun.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, mendukung penuh langkah pemerintah untuk memberantas judi online.

Menurutnya, tindakan tegas ini diperlukan untuk melindungi masyarakat dari dampak negatif yang merusak moral, sosial, dan ekonomi bangsa.

“Penegakan hukum harus transparan, adil, dan menyentuh seluruh jaringan judi online. Tidak boleh ada celah bagi siapa pun yang terlibat, termasuk pejabat atau aparat yang melindungi praktik ini,” tegas Dave.

Ia menekankan bahwa pemberantasan judi daring harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk memutus infrastruktur pendukung seperti sistem pembayaran digital yang kerap digunakan dalam aktivitas ilegal ini.

“Parlemen akan memastikan proses ini berjalan transparan dan akuntabel. Jika ada celah hukum, kami siap mendukung pemerintah dengan peraturan yang lebih tegas,” tambahnya.

Terbaru, Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi diperiksa sebagai saksi dalam kasus judi online yang melibatkan pegawai Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Pemeriksaan dilakukan oleh Bareskrim Polri di Jakarta Selatan.

Menanggapi hal ini, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa Komdigi menyerahkan sepenuhnya kasus judi online kepada aparat penegak hukum.

Meutya Hafid menyatakan bahwa proses hukum adalah kewenangan pihak berwenang, bukan urusan kementeriannya.

“Itu kan proses hukum, kami bukan penegak hukum. Silakan diproses oleh penegak hukum,” ujarnya di Jakarta.

Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo berkomitmen penuh untuk menindak tegas segala bentuk praktik judi daring demi menjaga moralitas bangsa dan melindungi masyarakat dari dampak buruknya. [*]

Menguatkan Kebersamaan dan Kerukunan Saat Nataru

Oleh : Candra G

Natal dan Tahun Baru (Nataru) adalah momen istimewa yang dinanti-nantikan oleh banyak orang. Namun, di balik keceriaan yang biasanya hadir, terdapat tantangan untuk menjaga keharmonisan, baik dalam keluarga, komunitas, maupun masyarakat luas. Kesibukan mempersiapkan berbagai aspek perayaan sering kali membuat hubungan antarindividu menjadi tegang. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara menjaga keharmonisan agar Nataru tidak hanya meriah, tetapi juga bermakna.

Dalam hal ini, pemerintah terus berupaya menjaga keharmonisan dan keamanan di seluruh wilayah Indonesia. Langkah-langkah strategis diambil untuk memastikan perayaan berlangsung dengan lancar, aman, dan penuh semangat kebersamaan, salah satu yang dilakukan yaitu dengan himbauan dari mentri agama.

Pemerintah juga meningkatkan koordinasi dengan tokoh agama dan masyarakat untuk memastikan toleransi antarumat beragama tetap terjaga. Tempat ibadah, fasilitas umum, dan pusat keramaian dipantau dengan lebih intensif demi menciptakan rasa aman bagi semua pihak.

Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mengatakan seluruh elemen masyarakat penting menjaga keharmonisan dan memberikan dukungan, lakum dinukum waliyadin, perbedaan itu indah. Menjaga toleransi dan persatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia menjadi kesempatan untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan saling menghormati di tengah masyarakat yang majemuk.

Keharmonisan adalah dasar dari kebahagiaan dan ketenangan, terutama saat momen-momen besar seperti Nataru. Hubungan yang harmonis memungkinkan semua pihak untuk menikmati perayaan tanpa gangguan konflik atau tekanan emosional. Selain itu, menjaga keharmonisan juga memberikan kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih erat, berbagi kasih sayang, dan menciptakan kenangan indah bersama orang-orang tercinta.

Sementara itu, Polsek Kedungwaringin bersama Forkopimcam menggelar Rapat Koordinasi Lintas Agama di Aula Mako Polsek Kedungwaringin yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat. Kapolsek Kedungwaringin, AKP Aliyani, S.H mengatakan semua elemen masyarakat harus memupuk kerukunan antarumat beragama, menciptakan kenyamanan sosial serta pihaknya terus memastikan pengamanan dilakukan di setiap lokasi ibadah agar menjamin kelancaran perayaan Nataru.

Pemerintah melalui berbagai instansi terkait, seperti TNI, Polri, dan Satuan Polisi Pamong Praja, telah mempersiapkan langkah-langkah preventif guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan. Operasi lilin, yang digelar setiap tahun menjadi salah satu bentuk nyata komitmen dalam menjaga ketertiban.

Sama halnya dengan Kota Banjarmasin yang melakukan rapat Forkopimda guna membahas pengamanan perayaan Nataru yang tidak hanya difokuskan ke titik-titik keramaian, tetapi juga diperluas sampai ke perkampungan.

Sekertaris Daerah Kota Banjarmasin, Ikhsan Budiman mengatakan Forkopimda mengeluarkan instruksi pengamanan Nataru. Pihaknya berharap, dengan adanya instruksi tersebut, perayaan Natal dapat berjalan dengan khidmat. Begitu pula dengan perayaan pergantian tahun, berlangsung meriah dan aman.

Pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat terus berupaya menjaga keharmonisan dan keamanan di seluruh wilayah Indonesia. Langkah-langkah strategis diambil untuk memastikan perayaan berlangsung dengan lancar, aman, dan penuh semangat kebersamaan.

Tidak hanya pemerintah, peran masyarakat juga sangat penting dalam menjaga keharmonisan saat Nataru. Setiap individu diharapkan dapat berperan aktif dengan menjaga sikap saling menghormati, menghindari provokasi, serta berkontribusi dalam menciptakan suasana yang kondusif.

Anggota DPRD Kabupaten Balangan, Saiful Arif mengatakan partisipasi aktif masyarakat sangat penting untuk menciptakan suasana aman dan kondusif, terutama di tengah keramaian dan kegiatan sosial yang kerap mewarnai perayaan Natal dan Tahun Baru. Pentingnya masyarakat untuk tetap solid, menghargai perbedaan, dan menjadikan perayaan ini sebagai simbol persatuan dan kedamaian di tengah berbagai dinamika kehidupan.

Kegiatan sosial dan budaya yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang menjadi salah satu cara untuk mempererat persatuan. Dialog antarumat beragama dan gotong-royong dalam mempersiapkan perayaan juga dapat memperkuat rasa kebersamaan. Dengan saling menghargai tradisi dan perayaan masing-masing, masyarakat dapat menjaga kerukunan antar umat beragama di wilayah. Kebersamaan dalam keberagaman adalah kunci utama dalam menjaga keharmonisan.

Mengantisipasi meningkatnya mobilitas masyarakat selama Nataru, pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk mematuhi aturan lalu lintas dan menggunakan transportasi umum jika memungkinkan. Kepolisian telah menyiapkan rekayasa lalu lintas di berbagai titik rawan kemacetan untuk mengurangi kepadatan di jalan raya.

Bagi para pelaku usaha, khususnya di sektor pariwisata dan perhotelan, diharapkan untuk memberikan pelayanan terbaik dengan tetap mematuhi keamanan dan protokol kesehatan. Hal ini penting untuk menjaga kenyamanan para wisatawan yang datang berlibur selama Nataru.

Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Ahmad Yani mengatakan pentingnya pengaturan lalu lintas yang meliputi system satu arah (one way) dan system lajur pasang surut/tidal flow (contra flow), hal tersebut dilakukan demi menciptakan kelancaran arus lalu lintas agar semua masyarakat yang berpergian merasakan kenyamanan dan keamanan dengan mengutamakan keselamatan.

Momentum Nataru merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan makna persatuan dan kebersamaan. Dengan saling bekerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, perayaan Nataru dapat menjadi ajang untuk mempererat persaudaraan di tengah keberagaman bangsa. Mari kita jaga keharmonisan ini sebagai wujud nyata cinta kita kepada tanah air. Selamat merayakan Natal dan Tahun Baru dengan penuh damai dan sukacita.

)* Penulis adalah kontributor Jeka Media Institute

Pentingnya Menjaga Keamanan dan Toleransi Saat Perayaan Natal

Oleh : Dwi Cahya Alfarizi )*

Perayaan Natal yang jatuh pada 25 Desember 2024 membawa kegembiraan dan antusiasme yang menyelimuti umat Kristiani, tidak terkecuali di Indonesia. Tak hanya karena banyaknya momen berkumpul bersama keluarga dan sahabat, namun juga harapan untuk merayakan momen ini dengan damai dan penuh sukacita.

Namun, di balik keramaian tersebut, ada tantangan yang harus dihadapi, yakni menjaga keamanan dan toleransi antar masyarakat. Keamanan menjadi kunci utama agar perayaan Natal bisa berjalan lancar, tanpa adanya gangguan yang merusak suasana. Mulai dari pengamanan di tempat-tempat wisata, hingga menjaga ketertiban di jalan raya, setiap langkah harus diambil dengan hati-hati.

Selain itu, menjaga toleransi antar umat beragama dan berbagai kelompok masyarakat juga tak kalah penting. Di tengah keragaman budaya dan kepercayaan yang ada, kita harus memastikan bahwa perayaan Natal tidak menjadi ajang perpecahan. Dalam situasi yang penuh dengan kegembiraan, penting untuk saling menghormati perbedaan dan menjaga keharmonisan.

Dengan adanya toleransi yang tinggi, momen keagamaan yang dibarengi libur akhir tahun dapat menjadi saat-saat penuh sukacita diantara seluruh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, menjaga keamanan serta mempererat rasa toleransi adalah tanggung jawab bersama.

Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, mengajak seluruh warga negara untuk tidak hanya merayakan hari besar keagamaan masing-masing, tetapi juga saling mendukung dan menjaga hubungan baik antar sesama. Melalui ajakan ini, Menag berharap kita bisa menunjukkan jati diri bangsa Indonesia yang besar dan beradab.

Menag Nasaruddin Umar menekankan bahwa penting bagi umat beragama di Indonesia untuk menjaga kerukunan. Dalam kesempatan yang dihadiri di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DKI Jakarta pada awal Desember, ia mengungkapkan bahwa perbedaan merupakan hal yang indah dan harus dijaga dengan penuh rasa hormat. Menag berharap, perayaan tersebut bukan hanya menjadi seremonial bagi umat Kristiani, tetapi juga menjadi momen bagi umat lainnya untuk turut menjaga kedamaian.

Sementara itu, Kepala BNPT, Komjen Pol. Eddy Hartono, menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk memantau secara terus-menerus penyebaran paham radikal yang dapat mengganggu keamanan negara. Pada saat-saat penting seperti Nataru, BNPT melakukan tindakan preventif, termasuk koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk menghapus konten atau narasi yang berpotensi menyebarkan kebencian dan radikalisasi.

Eddy Hartono menegaskan bahwa jika ditemukan konten yang menyerukan paham anti-NKRI atau mendukung terorisme, langkah takedown atau pemutusan akses akan segera dilakukan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa ruang siber tetap aman dari segala bentuk penyebaran paham ekstrem yang bisa merusak kedamaian.

Selain itu, sterilisasi rumah ibadah juga menjadi bagian dari strategi untuk menjaga keamanan, yang melibatkan koordinasi antara aparat kepolisian, TNI, dan pihak terkait lainnya. Pihak keamanan rutin melakukan sterilisasi ini sebagai langkah preventif untuk mencegah adanya ancaman yang dapat membahayakan umat yang merayakan perayaan keagamaan.

Tentu saja, kegiatan pencegahan ini tidak hanya berhenti pada ruang siber dan tempat ibadah. BNPT bersama dengan aparat keamanan lainnya terus mengawasi potensi munculnya kelompok jaringan terorisme yang dapat mengganggu ketertiban umum.

Komjen Pol. Eddy mengungkapkan, pihaknya bekerja sama dengan aparat intelijen untuk mendalami setiap potensi ancaman terorisme yang mungkin timbul. Langkah-langkah ini bertujuan agar setiap umat dapat merayakan momen penting ini dengan rasa aman dan damai, tanpa ada rasa takut terhadap ancaman teror.

Dalam menjaga keamanan dan ketertiban, Polri juga menurunkan 141.443 personel yang ditempatkan di lebih dari 2.700 posko yang tersebar di seluruh Indonesia. Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo menjelaskan bahwa pengerahan pasukan ini dilakukan untuk memastikan bahwa lonjakan aktivitas pada masa Nataru dapat terjaga dengan baik. Kegiatan mudik, perjalanan wisata, dan berbagai aktivitas lain yang meningkat selama Nataru, menjadi perhatian khusus aparat kepolisian untuk mencegah tindak kriminal.

Jenderal Pol. Listyo juga mengungkapkan bahwa selain menjaga posko, aparat keamanan juga melakukan patroli rutin ke berbagai titik keramaian untuk mengantisipasi adanya tindak kriminal yang dapat meresahkan masyarakat.

Saat momentum Natal dan Tahun Baru, menjaga keamanan dan toleransi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Dalam keberagaman yang menjadi identitas bangsa, toleransi adalah perekat yang memastikan kita tetap kokoh meski berbeda-beda.

Upaya seperti pemantauan ruang siber oleh BNPT, sterilisasi rumah ibadah, hingga pengerahan ribuan personel keamanan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga ketenteraman selama momen penting ini. Namun, peran masyarakat tidak kalah penting.

Sikap saling menghormati, menghindari ujaran kebencian, dan menyebarkan pesan-pesan positif menjadi kontribusi nyata dalam menciptakan suasana yang harmonis. Ketika semua pihak berperan aktif, ancaman seperti intoleransi atau gangguan keamanan dapat ditekan, bahkan dihilangkan.

Mari rayakan Natal dan Tahun Baru dengan hati yang damai, saling menghormati, dan semangat kebersamaan. Hanya dengan begitu, kita dapat memastikan masa depan yang lebih harmonis dan penuh harapan untuk Indonesia.

)* Penulis adalah kontributor Persada Institute

Kelancaran Libur Nataru Bukti Implentasi Nilai Toleransi di Masyarakat

JAKARTA – Pemerintah bersama berbagai pihak terkait telah mempersiapkan langkah strategis untuk menghadapi lonjakan kendaraan selama libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru). Kolaborasi yang melibatkan Kementerian BUMN, Korlantas Polri, Jasa Marga, dan berbagai pihak lainnya menjadi kunci dalam menciptakan kelancaran perjalanan masyarakat. Upaya ini juga mencerminkan nilai-nilai toleransi, saling mendukung, dan kerja sama yang baik di tengah masyarakat.

Direktur Utama Jasa Marga, Subakti Syukur, menjelaskan bahwa perusahaan telah melakukan berbagai persiapan untuk mengantisipasi peningkatan arus kendaraan selama libur Nataru. “Kami memastikan operasional jalan tol dalam kondisi prima, mematuhi standar pelayanan minimal (SPM), termasuk menangani potensi genangan atau kerusakan jalan akibat cuaca ekstrem, serta menyiapkan ruas jalan tol baru yang dapat difungsionalkan,” ungkap Subakti dalam keterangan tertulis.

Sebagai bagian dari strategi operasional, Jasa Marga memproyeksikan volume kendaraan menjelang puncak arus keluar hingga arus balik dan menyiapkan berbagai rekayasa lalu lintas sesuai diskresi Kepolisian untuk mengantisipasi potensi kepadatan. Rekayasa lalu lintas meliputi contraflow di tol Jakarta-Cikampek dan Jagorawi serta penerapan sistem oneway sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang ditandatangani pada 6 Desember 2024.

Selain itu, Pemerintah berencana mengoperasikan sejumlah ruas tol baru baik secara operasional maupun fungsional, serta meningkatkan kapasitas jalan di beberapa titik strategis untuk mendukung kelancaran lalu lintas selama libur Nataru. Langkah ini bertujuan untuk menciptakan perjalanan yang nyaman bagi masyarakat.

Subakti Syukur juga mengimbau pengguna jalan untuk menghindari perjalanan saat puncak arus, mempersiapkan kendaraan dengan baik, memastikan saldo kartu elektronik cukup, dan beristirahat di rest area jika lelah. Imbauan ini diharapkan dapat membantu pengguna jalan merencanakan perjalanan mereka dengan lebih baik.

Staf Khusus Kementerian BUMN, Arya Sinulingga, menyampaikan dukungan penuh terhadap langkah strategis yang telah disiapkan oleh BUMN. “Perusahaan-perusahaan BUMN telah menunjukkan komitmen luar biasa dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya saat libur akhir tahun. Kolaborasi intensif dengan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan dalam memastikan kelancaran perjalanan masyarakat,” ujar Arya.

Sedangkan dari pihak kepolisian telah memastikan berkomitmen kelancaran operasional pengguna jalan. Irjen Pol Aan Suhanan dari Korlantas Polri menyoroti peningkatan pergerakan masyarakat selama libur Nataru, yang diprediksi mencapai 110 juta orang, meningkat 2,8% dibandingkan tahun lalu. Dengan persiapan matang, Polri bersama pihak terkait berkomitmen memastikan kelancaran operasional dan keamanan pengguna jalan.

Dukungan lintas sektor ini menegaskan pentingnya kolaborasi dan toleransi dalam menyukseskan momen-momen besar seperti libur Nataru. Pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan aspek keselamatan, kenyamanan, serta pelayanan prima kepada masyarakat. Kelancaran libur Nataru tahun ini diharapkan menjadi pengalaman perjalanan yang lancar dan menyenangkan bagi seluruh masyarakat Indonesia. [*]

Ketersediaan Pangan dan Harga Terjangkau Salah Satu Indikator Kesuksesan Libur Nataru

Jakarta – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, mengatakan pihaknya telah memastikan ketersediaan pangan pokok strategis serta kestabilan harga saat Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru).

“Jelang Nataru, stok pangan pokok strategis kita pastikan mencukupi. Terkait harga, pemerintah tentunya selalu menjaga tingkat harga agar tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi” ujar Arief Prasetyo Adi dalam keterangannya.

Langkah ini menjadi salah satu indikator keberhasilan pemerintah dalam menjaga keseimbangan kebutuhan masyarakat selama liburan akhir tahun. Presiden Prabowo Subianto sendiri sebelumnya menegaskan pentingnya swasembada pangan nasional agar Indonesia mampu menjadi lumbung pangan.

“Saya tegaskan lagi kita harus swasembada pangan, kita harus punya lumbung pangan nasional, lumbung pangan provinsi, lumbung pangan kabupaten, lumbung pangan desa,” kata Presiden Prabowo dalam acara penyerahan DIPA dan Buku Transfer ke Daerah APBN 2025,

Langkah menuju swasembada pangan diyakini semakin solid dengan ketersediaan stok pangan strategis yang dinilai aman. Misalnya, stok beras yang dikelola Perum Bulog hingga akhir tahun diperkirakan mencapai 2 juta ton. Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2024, total stok beras secara nasional mencapai 8,398 juta ton.

Tak hanya beras, stok pangan lainnya juga mencukupi. Stok jagung diperkirakan mencapai 3,665 juta ton, gula konsumsi 1,478 juta ton, dan daging ayam ras sekitar 283 ribu ton. Sementara itu, telur ayam ras diproyeksikan sebanyak 177 ribu ton, disusul daging sapi dan kerbau sebesar 68 ribu ton.

Komoditas lainnya seperti cabai besar, cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih juga dalam posisi aman dengan estimasi stok masing-masing 53 ribu ton, 26 ribu ton, 22,9 ribu ton, dan 22,4 ribu ton. Sementara itu, minyak goreng tersedia hingga 336 ribu liter dan kedelai mencapai 372 ribu ton.

Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap masyarakat dapat merasakan liburan Nataru yang tenang dengan stok pangan yang mencukupi dan harga yang terjangkau. Hal ini menjadi bukti bahwa stabilitas harga pangan dan keterjangkauan menjadi kunci penting dalam menilai kesuksesan pemerintah menghadapi momen libur akhir tahun.

Mengelola Keberagaman dengan Toleransi: Kunci Harmoni Dalam Kehidupan Berbangsa

Oleh : Pujiastuti *)

Indonesia dikenal sebagai negara dengan keberagaman luar biasa, baik dalam hal suku, adat, maupun agama. Keragaman ini adalah anugerah yang menjadi ciri khas bangsa kita. Namun, di balik keberagaman ini, terdapat potensi ancaman yang perlu diwaspadai, yaitu munculnya konflik akibat pemaksaan kehendak dari kelompok tertentu yang ingin semua pihak mengikuti pandangan atau tafsir mereka. Di sinilah pentingnya sikap toleransi dalam menjaga kerukunan hidup bermasyarakat, khususnya menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Toleransi adalah sikap menghormati dan menghargai perbedaan yang ada di sekitar kita. Dengan toleransi, kita dapat hidup berdampingan secara damai meskipun memiliki pandangan, keyakinan, atau kebiasaan yang berbeda. Mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, pernah menjelaskan bahwa ada lima tingkatan toleransi yang dapat dijadikan panduan dalam kehidupan bermasyarakat.

Langkah pertama adalah menyadari adanya perbedaan. Kesadaran ini membantu kita menerima bahwa Indonesia adalah rumah bagi berbagai macam suku, agama, budaya, dan bahasa. Kesadaran akan keberagaman ini mencegah kita memaksakan pandangan tertentu kepada orang lain.

Langkah kedua adalah bersedia mempelajari dan memahami perbedaan. Gesekan sosial sering kali muncul akibat ketidaktahuan atau kesalahpahaman. Dengan mempelajari dan memahami perbedaan, kita dapat menghindari prasangka buruk terhadap pihak lain. Setelah itu, langkah berikutnya adalah menghormati pilihan dan keyakinan orang lain.

Menghormati tidak berarti harus setuju, melainkan menerima bahwa setiap individu memiliki hak atas pilihannya sendiri. Langkah keempat adalah memfasilitasi mereka yang berbeda. Toleransi tidak hanya berhenti pada penghormatan, tetapi juga mendukung atau setidaknya tidak menghambat orang lain dalam menjalankan keyakinan dan tradisinya. Tingkatan tertinggi adalah bersinergi, di mana semua pihak berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama tanpa mempermasalahkan perbedaan.

Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, suasana khas Natal mulai terasa, baik di pusat perbelanjaan maupun di tempat kerja. Dekorasi pohon Natal, lagu-lagu bertema Natal, serta aksesori khas Natal sering kali menjadi simbol perayaan. Di samping itu, ucapan selamat Natal dan Tahun Baru menjadi bentuk penghormatan kepada umat Kristiani yang merayakannya.

Namun, tidak semua orang memiliki pandangan yang sama terkait hal ini. Ada sebagian individu atau kelompok yang merasa bahwa penggunaan aksesori Natal atau pemberian ucapan selamat tidak sesuai dengan keyakinan mereka. Hal ini sering kali menjadi perdebatan yang, jika tidak dikelola dengan baik, dapat memicu konflik.

Dengan memahami tingkatan toleransi, kita dapat mengelola perbedaan sikap ini secara bijaksana. Mereka yang merasa tidak nyaman dengan penggunaan aksesori atau pemberian ucapan dapat memilih untuk tidak melakukannya tanpa perlu menghakimi pihak lain yang melakukannya. Sebaliknya, mereka yang mendukung tradisi ini juga sebaiknya tidak memaksakan pandangannya kepada orang lain. Sikap saling menghormati ini akan menciptakan suasana damai yang mendukung harmoni sosial.

Wali Kota Jambi terpilih periode 2024-2025, Dr. dr. Maulana MKM mengatakan semangat Natal penting untuk mempererat keharmonisan dalam masyarakat, dan menjaga toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Maulana berharap semangat Natal dapat memperkuat persatuan masyarakat dalam menghadapi tantangan.

Toleransi bukan hanya soal memahami atau menghormati perbedaan, tetapi juga soal menciptakan harmoni dalam keberagaman. Sikap toleransi dapat mencegah gesekan yang tidak perlu dan membantu menjaga stabilitas sosial, terutama di momen-momen penting seperti Natal dan Tahun Baru. Toleransi juga mengajarkan kita untuk fokus pada esensi perayaan, yaitu kebahagiaan, kasih sayang, dan rasa syukur. Dengan begitu, perbedaan yang ada tidak lagi menjadi penghalang, melainkan menjadi kekayaan yang memperindah kehidupan bermasyarakat.

Meski penting, mewujudkan sikap toleransi bukanlah hal yang mudah. Masih ada tantangan berupa prasangka dan stereotip yang sering kali menjadi pemicu konflik. Ketidaktahuan juga menjadi sumber kesalahpahaman, ditambah dengan provokasi dari pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang sengaja memanfaatkan perbedaan untuk memecah belah masyarakat.

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan peran aktif semua pihak, termasuk pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat umum. Pendidikan toleransi sejak dini juga penting agar generasi muda dapat tumbuh menjadi individu yang menghargai keberagaman.

Natal dan Tahun Baru dapat dijadikan sebagai momentum untuk memperkuat sikap toleransi. Langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan dialog antaragama agar kita dapat saling berbagi pandangan dan memperkuat pemahaman terhadap keyakinan masing-masing.

Selain itu, mengadakan kegiatan bersama seperti kerja bakti atau acara kebersamaan dapat menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarkelompok. Masyarakat juga perlu lebih bijak dalam menyaring informasi, terutama yang berpotensi memecah belah. Hal sederhana seperti memberikan ruang kepada umat Kristiani untuk merayakan Natal dengan damai sudah merupakan bentuk toleransi yang besar.

Sikap toleransi adalah kunci untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, terutama di tengah keberagaman yang ada di Indonesia. Menjelang Natal dan Tahun Baru, mari kita jadikan momen ini sebagai ajang untuk memperkuat sikap toleransi dan harmoni. Dengan saling menghormati dan menghargai perbedaan, kita dapat menciptakan masyarakat yang damai, rukun, dan bersatu. Karena pada akhirnya, keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan.

*) Pemerhati Kerukunan Umat

Pemerintah Pastikan Tidak Ada Penurunan Ambang Batas Pajak UMKM

Oleh : Mika Putri Larasati )*

Pemerintah memastikan bahwa tidak ada rencana untuk menurunkan ambang batas pajak untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hal tersebut ditegaskan oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang menegaskan bahwa batas ambang pajak bagi UMKM tetap berada pada angka Rp4,8 miliar. Dengan demikian, semua kabar yang beredar di media sosial terkait penurunan ambang batas pajak untuk UMKM tidak dapat dibenarkan.

Pemerintah, melalui Airlangga, mengungkapkan bahwa setiap tahun dilakukan evaluasi terhadap kebijakan ambang batas pajak UMKM. Namun, tidak ada rencana untuk melakukan perubahan atau penurunan batas ambang tersebut, meskipun sebelumnya ada rekomendasi dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) untuk menurunkan batasnya menjadi Rp3,6 miliar. Rekomendasi tersebut tidak serta merta diikuti, dan pemerintah tetap mempertahankan batas Rp4,8 miliar untuk tahun mendatang.

Sementara itu, Sekretaris Menko Perekonomian (Sesmenko), Susiwjono Moegiarso, mengonfirmasi bahwa meski ada pembicaraan mengenai penyesuaian ambang batas, pemerintah tetap mempertahankan angka Rp4,8 miliar.

Hal tersebut bertujuan untuk memberikan insentif bagi UMKM yang memiliki omzet hingga Rp4,8 miliar per tahun, dengan fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) Final 0,5% dan bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Insentif tersebut diperkirakan akan mencapai Rp61,2 triliun pada tahun depan, sebagai bagian dari kebijakan pemerintah untuk mendukung sektor UMKM dalam menjaga daya saing dan memperluas basis pajak di Indonesia.

Dalam konteks itu, Sesmenko juga menambahkan bahwa penyesuaian ambang batas pajak UMKM seharusnya mempertimbangkan kondisi di negara-negara tetangga. Misalnya, Thailand dan Filipina menerapkan ambang batas PKP (Pengusaha Kena Pajak) senilai sekitar Rp800 juta per tahun.

Namun, Indonesia tetap memilih untuk mempertahankan batas ambang yang lebih tinggi, yakni Rp4,8 miliar, untuk memberikan keleluasaan bagi lebih banyak pelaku UMKM dalam menikmati fasilitas pajak yang lebih ringan.

Dengan demikian, meskipun ada wacana untuk menurunkan ambang batas, pemerintah berkomitmen untuk tidak mengurangi akses UMKM terhadap fasilitas PPh Final 0,5% yang telah terbukti mendukung perkembangan sektor ini.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun ada kabar yang beredar bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan penurunan ambang batas pajak untuk UMKM, hal tersebut tidaklah benar. Beberapa pihak di media sosial mencoba menyebarkan informasi yang tidak akurat mengenai hal ini, yang bisa menimbulkan kebingungannya pelaku usaha.

Namun, pemerintah secara tegas menyatakan bahwa kebijakan terkait ambang batas pajak tetap pada angka Rp4,8 miliar. Dengan demikian, para pelaku UMKM bisa merasa lebih tenang dan dapat terus mengembangkan usaha mereka tanpa harus khawatir dengan perubahan kebijakan yang tidak jelas.

Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, juga menegaskan bahwa kebijakan baru terkait pajak, terutama dengan kenaikan PPN menjadi 12%, tidak akan berdampak signifikan pada pelaku UMKM.

Kenaikan PPN hanya akan memengaruhi barang-barang yang termasuk dalam kategori barang mewah dan konsumsi kelas menengah ke atas, seperti daging premium atau fasilitas hotel mewah. Oleh karena itu, sektor UMKM yang mayoritas beroperasi di tingkat mikro dan kecil tidak akan terpengaruh oleh perubahan PPN ini.

Maman juga memastikan bahwa pemerintah tetap berkomitmen untuk memberikan berbagai insentif bagi pelaku UMKM, termasuk pengurangan pajak penghasilan (PPh) menjadi 0,5% bagi UMKM dengan omzet tahunan antara Rp500 juta hingga Rp4,8 miliar.

Kebijakan tersebut akan terus berlaku selama tujuh tahun ke depan, memberikan kesempatan bagi UMKM untuk berkembang tanpa terbebani oleh pajak yang tinggi. Bagi UMKM dengan omzet di bawah Rp500 juta per tahun, pemerintah sama sekali tidak membebankan pajak PPh 0,5%, sehingga sektor UMKM tetap bisa menikmati kemudahan dan insentif yang ada.

Sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mendukung UMKM, fasilitas PPh Final 0,5% yang diberikan kepada UMKM dengan omzet di bawah Rp4,8 miliar merupakan langkah yang strategis dalam memperkuat daya saing pelaku usaha kecil dan menengah.

Dengan adanya insentif tersebut, pelaku UMKM bisa lebih fokus dalam mengembangkan usaha mereka tanpa terbebani oleh pajak yang tinggi. Pemerintah juga memastikan bahwa UMKM yang lebih kecil, dengan omzet di bawah Rp500 juta, tetap mendapatkan kemudahan dengan bebas dari kewajiban pajak PPh.

Secara keseluruhan, kebijakan pemerintah terkait pajak UMKM menunjukkan komitmen untuk mendukung sektor ini, yang merupakan salah satu pilar utama perekonomian Indonesia. Pemerintah telah mengalokasikan berbagai bentuk insentif untuk mendorong perkembangan UMKM, termasuk perpanjangan fasilitas PPh Final 0,5% dan pembebasan PPN bagi banyak produk UMKM.

Oleh karena itu, meskipun beredar kabar mengenai penurunan ambang batas pajak, masyarakat harus bijak dalam menyaring informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh rumor yang belum tentu benar.

Ke depan, pemerintah terus berupaya menjaga ekosistem UMKM agar tetap berkembang, dengan mempertimbangkan berbagai masukan dan evaluasi yang ada. Penurunan ambang batas pajak yang sempat menjadi isu hangat tidak akan dilanjutkan, dan sektor UMKM akan tetap mendapatkan dukungan dari berbagai insentif yang telah dirancang.

Sebagai sektor yang menyerap banyak tenaga kerja dan berperan penting dalam perekonomian Indonesia, UMKM akan terus menjadi prioritas dalam kebijakan ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

Pemerintah menyadari bahwa perkembangan UMKM sangat penting untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan sejahtera. Oleh karena itu, pemerintah tetap berkomitmen untuk mempertahankan kebijakan pajak yang mendukung pertumbuhan UMKM, yang pada gilirannya akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.

)* Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara

Kebijakan Penyesuaian PPN 1% Sudah Berdasarkan UU dan Kesepakatan Stakeholder

Oleh: Adnan Ramdani )*

Kebijakan penyesuaian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 1% merupakan langkah besar yang diambil pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara dan menciptakan sistem perpajakan yang lebih efisien serta berkeadilan. Kebijakan ini telah disusun dengan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kesepakatan antara berbagai pihak terkait, sehingga tidak hanya berlandaskan pada keputusan sepihak, tetapi dengan partisipasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan.

Pengenaan penyesuaian PPN sebesar 1% ini merujuk pada Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan yang disahkan sebagai langkah reformasi pajak di Indonesia. UU ini bertujuan untuk memperbaiki sistem perpajakan yang sudah ada agar lebih modern, adil, dan efisien. Dalam proses perumusan kebijakan ini, pemerintah telah melibatkan berbagai stakeholder seperti pengusaha, asosiasi, dan masyarakat untuk memperoleh pandangan yang beragam dan mengakomodasi kepentingan berbagai pihak. Ini menunjukkan bahwa kebijakan tersebut bukan hanya kebijakan yang bersifat top-down, tetapi lebih kepada hasil kesepakatan bersama yang diharapkan mampu membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Menyoal PPN yang mengalami kenaikan sampai 12%, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto, mengatakan bahwa PPN tersebut merupakan Amanah dari Undang-Undang Nomor 7 pada tahun 2021 soal Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP). Pada Pasal 7 ayat 1 UU HPP disebutkan bahwa tarif PPN sebesar 12 persen berlaku paling lamban pada 1 Januari 2025. Selain itu, Airlangga juga menyatakan bahwa untuk mengantisipasi kenaikan tarif PPN, pemerintah telah mengeluarkan sederet paket insentif untuk tahun depan. Hal ini diperuntukan agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Tarif PPN tersebut dipertahankan dengan kebijakan insentif PPN DTP, di mana pemerintah menanggung 1 persen dari tarif PPN ketiga barang pokok penting yang seharusnya naik menjadi 12 persen.

Dengan adanya penyesuaian tarif PPN ini, banyak pihak yang melihatnya sebagai langkah yang tepat untuk memperkuat sistem perpajakan Indonesia. Sebelumnya, banyak pihak yang menganggap bahwa struktur pajak yang ada belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan ekonomi yang semakin kompleks. Kebijakan PPN yang baru ini, meskipun ada penyesuaian tarif, tetap memberikan insentif bagi sektor-sektor tertentu yang dianggap penting untuk pertumbuhan ekonomi, seperti sektor UMKM dan sektor ekspor.

Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan kepatuhan wajib pajak. Dengan adanya sistem yang lebih sederhana dan lebih terintegrasi, pengawasan terhadap penerimaan pajak diharapkan bisa lebih efektif. Hal ini juga sejalan dengan tujuan utama dari Harmonisasi Peraturan Perpajakan, yaitu untuk menciptakan sistem pajak yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat dan pelaku usaha, sehingga meminimalisir praktik-praktik penghindaran pajak yang selama ini masih menjadi masalah di berbagai sektor. Pemerintah pun telah berupaya memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat dan pelaku usaha terkait perubahan ini, agar transisi berjalan lancar dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Kebijakan penyesuaian PPN 1% juga telah mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang beragam. Dalam hal ini, pemerintah memastikan bahwa kebijakan ini tidak akan memberatkan masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah. Salah satu contoh nyata dari kebijakan ini adalah pembebasan PPN untuk barang dan jasa kebutuhan pokok, seperti makanan dan obat-obatan, yang tetap mempertahankan prinsip keadilan sosial.

Sementara itu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan Pemerintah akan menanggung kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 1 persen untuk tiga komoditas saat PPN 12 persen diimplementasikan pada 1 Januari 2025. Ketiga komoditas itu yakni tepung terigu, gula untuk industri, dan minyak goreng rakyat atau MinyaKita. Ketiga komoditas itu dinilai sangat diperlukan oleh masyarakat umum, sehingga Pemerintah memutuskan untuk menerapkan PPN ditanggung pemerintah (DTP) atas kenaikan tarif PPN yang bakal berlaku. Sri Mulyani menyatakan keputusan itu merupakan komitmen Pemerintah dalam menyiapkan instrumen fiskal yang berpihak kepada masyarakat.

Penting untuk dicatat bahwa kebijakan ini juga dirancang untuk memperbaiki daya saing Indonesia di kancah global. Salah satu tujuan utama dari harmonisasi peraturan perpajakan adalah untuk menciptakan iklim usaha yang lebih baik di Indonesia, sehingga menarik lebih banyak investasi asing. Sistem perpajakan yang transparan dan mudah dipahami adalah salah satu faktor penting yang dipertimbangkan oleh investor dalam memilih lokasi untuk berinvestasi. Dengan tarif PPN yang lebih stabil dan kesepakatan yang terjalin antara pemerintah dan pelaku usaha, Indonesia diharapkan dapat menjadi destinasi investasi yang lebih menarik di masa depan.

Kebijakan penyesuaian PPN 1% yang berbasis pada UU dan hasil kesepakatan para stakeholder ini merupakan langkah yang sangat positif bagi perekonomian Indonesia. Selain meningkatkan pendapatan negara, kebijakan ini juga mengedepankan prinsip-prinsip keadilan, transparansi, dan keberlanjutan. Dengan kerjasama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, kebijakan ini diyakini akan membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. Ke depannya, diharapkan bahwa sistem perpajakan yang lebih baik ini dapat mendukung tercapainya pembangunan yang lebih merata dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

)* Penulis adalah Pengamat Ekonomi Dalam Negeri

Pemerintah Pastikan Stabilitas Stok dan Harga Pangan Saat Nataru

Oleh : Andika Pratama

Pemerintah terus menunjukkan komitmen yang kuat dalam memastikan stabilitas stok dan harga pangan selama perayaan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru). Dalam upaya tersebut, berbagai langkah strategis telah diambil guna menjamin ketersediaan pangan pokok strategis serta menjaga harga agar tetap terkendali. Pendekatan yang holistik, melibatkan koordinasi antara kementerian, lembaga, dan berbagai pihak terkait, menjadi pilar utama dalam mewujudkan tujuan ini.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan optimisme terhadap kesiapan pemerintah menghadapi potensi lonjakan permintaan pangan saat libur Nataru. Dengan cadangan beras sebesar 2 juta ton di gudang Bulog, pemerintah memastikan bahwa masyarakat tidak akan mengalami kekurangan. Stok ini bahkan disebut sebagai yang terbesar dalam lima tahun terakhir, menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam pengelolaan pangan nasional. Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa secara nasional, stok beras mencapai 8 juta ton, mencerminkan kondisi yang sangat aman meski dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem.

Ketersediaan tidak hanya terbatas pada beras, tetapi juga mencakup komoditas lain seperti gula, garam, daging, telur, dan produk perikanan. Pemerintah menegaskan bahwa seluruh kebutuhan ini tersedia dalam jumlah cukup, bahkan hingga ke level pedagang eceran. Badan Pangan Nasional, melalui berbagai inisiatif, juga telah memastikan stabilitas harga sehingga masyarakat dapat membeli bahan pangan dengan harga yang wajar tanpa mengorbankan kesejahteraan petani.

Namun, di balik optimisme tersebut, pemerintah juga menyadari tantangan berupa fluktuasi harga pangan di beberapa wilayah. Data menunjukkan adanya kenaikan harga sejumlah komoditas seperti cabai merah keriting, bawang putih, dan minyak goreng. Meski kenaikannya relatif kecil, upaya stabilisasi tetap menjadi prioritas utama. Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan harga, baik bagi produsen maupun konsumen. Hal ini sejalan dengan visi swasembada pangan yang diusung Presiden Prabowo Subianto, di mana keseimbangan antara harga di tingkat petani dan harga di pasar menjadi fokus utama.

Visi ini diwujudkan melalui berbagai program, seperti penyaluran beras untuk bantuan pangan yang terus dilakukan guna menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan NFA, I Gusti Ketut Astawa, menambahkan bahwa carry over stok untuk berbagai komoditas seperti jagung, kedelai, dan cabai berada dalam kondisi yang sangat baik. Proyeksi neraca pangan nasional 2024 menunjukkan bahwa seluruh kebutuhan pokok dipastikan mencukupi hingga awal tahun 2025, tanpa indikasi adanya defisit.

Pendekatan ini juga melibatkan kolaborasi erat dengan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Produksi garam lokal, misalnya, telah mencapai angka 2,2 juta ton, jauh melampaui kebutuhan rumah tangga yang hanya 400 ribu ton. Untuk gula, pemerintah menargetkan stok sebesar 25 ribu ton hingga akhir 2024. Komoditas lain seperti daging ayam dan telur juga diproyeksikan dalam kondisi surplus, memastikan bahwa kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa harus mengandalkan impor.

Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran pemerintah dalam mengelola cadangan strategis dan memastikan distribusi berjalan lancar. Koordinasi antara Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, dan Perum Bulog menjadi kunci utama dalam menjaga kestabilan ini. Selain itu, pemantauan harga secara real-time melalui Panel Harga Badan Pangan Nasional memungkinkan pemerintah merespons secara cepat terhadap perubahan pasar.

Di tengah pencapaian ini, pemerintah juga menekankan pentingnya meningkatkan efisiensi distribusi pangan. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi biaya logistik yang kerap menjadi penyebab utama kenaikan harga di pasar. Dengan infrastruktur yang semakin baik, termasuk pembangunan jalan dan fasilitas penyimpanan, distribusi pangan ke seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil, dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien.

Selain itu, pemerintah turut melibatkan peran masyarakat dalam menjaga stabilitas pangan. Edukasi kepada konsumen mengenai pentingnya tidak melakukan panic buying saat libur panjang menjadi bagian dari upaya untuk menjaga kestabilan harga. Kesadaran kolektif ini diyakini mampu mendorong terciptanya ekosistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, langkah-langkah yang telah diambil pemerintah dalam menjaga stabilitas stok dan harga pangan selama Nataru mencerminkan komitmen terhadap kesejahteraan masyarakat. Dengan memastikan ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup dan harga yang stabil, pemerintah tidak hanya menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi kuat untuk ketahanan pangan di masa depan. Tantangan seperti cuaca ekstrem dan fluktuasi harga pasar direspons dengan strategi yang terukur, sehingga masyarakat dapat menjalani perayaan Natal dan Tahun Baru dengan tenang.

Pendekatan yang berimbang antara melindungi konsumen dan menjaga kesejahteraan produsen menjadi inti dari kebijakan pemerintah. Dengan stok pangan yang memadai, distribusi yang efisien, serta kebijakan harga yang bijaksana, stabilitas pangan selama Nataru tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga simbol keberhasilan kolektif dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.

*Penulis adalah kontributor Jabartrigger.com

Memperkokoh Kerukunan Menyambut Momentum Nataru 2024/2025

Jakarta – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025, berbagai elemen masyarakat diimbau untuk memperkuat kerukunan dan menjaga toleransi demi terciptanya suasana yang aman dan kondusif. Pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat sipil menekankan pentingnya kolaborasi untuk memastikan momentum ini menjadi refleksi harmoni dan persatuan bangsa.

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyampaikan bahwa Nataru bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan.

“Mari kita saling memelihara hubungan baik antar sesama warga bangsa Indonesia. Kita saling memberikan dukungan, lakum dinukum waliyadin, perbedaan itu indah, iya kan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Administrator Diosesan Keuskupan Surabaya, RD. Yosef Eko Budi Susilo. Dalam kesempatan tersebut Yosef mengajak masyarakat untuk meningkatkan kerukunan jelang perayaan Natal 2024 mendatang.

“Tahun ini dalam perayaan Natal, kita diingatkan supaya tetap melakukan perayaan dengan cara yang sederhana yakni, menghayati kelahiran Yesus serta memberikan pengharapan dan semangat yang baru,” ungkapnya.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan seluruh gereja untuk memastikan keamanan dalam perayaan Hari Raya Natal 2024. Pemkot Surabaya juga bekerja sama dengan berbagai organisasi masyarakat (ormas) untuk menjaga keamanan dan kenyamanan umat Kristen dalam menjalankan ibadahnya.

“Gereja tidak boleh lengah, termasuk masjid juga. Pengelola tempat ibadah harus memperketat pengamanan, terutama di pintu masuk yang dijaga satpam. Jika ada orang dengan pakaian tertutup rapat, seperti bercadar, satpam harus menanyakan keperluannya,” jelas dia.

Momentum Nataru selalu menjadi waktu yang dinanti oleh masyarakat Indonesia, tidak hanya sebagai momen perayaan tetapi juga sebagai wujud nyata dari nilai-nilai keberagaman dan kebhinekaan yang menjadi dasar kehidupan berbangsa.

Di tengah tantangan global dan dinamika sosial yang terus berkembang, menjaga kerukunan menjadi semakin relevan untuk memastikan stabilitas sosial dan memperkuat rasa persatuan. Melalui perayaan ini, diharapkan setiap individu dapat merefleksikan pentingnya toleransi sebagai fondasi utama dalam membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman budaya, agama, dan suku di Indonesia.

Dengan semangat gotong royong, Nataru 2024/2025 diharapkan dapat menjadi momentum mempererat persatuan dan kebhinekaan Indonesia. Semua pihak diharapkan turut mengambil peran aktif dalam menjaga kedamaian demi kelancaran perayaan Natal dan Tahun Baru di seluruh wilayah Tanah Air.