Dewi Puspitorini Pemersatu Para Alumni UI Lewat Platform Digital UI Connect

Jakarta – Menjelang pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) periode 2025–2028, sosok dr. Dewi Puspitorini muncul sebagai kandidat kuat dengan gagasan progresif dan inklusif. Dokter spesialis paru ini mengusung visi menjadikan ILUNI UI sebagai rumah besar yang menyatukan seluruh alumni lintas fakultas dan generasi melalui pendekatan digital dan semangat kebersamaan.

Mengangkat tagline “U&I Guyub, U and I become Us”, Dewi menekankan pentingnya membangun ILUNI UI yang guyub, terbuka, dan berdampak nyata bagi alumni, almamater, serta bangsa.

“ILUNI UI harus menjadi rumah besar bagi semua alumni, tempat bertukar gagasan, tumbuh bersama, dan berkontribusi nyata,” ujar Dewi di Jakarta.

Sebagai wujud komitmennya terhadap transformasi digital, Dewi merancang penguatan platform UI Connect, sebuah ekosistem digital yang menghubungkan alumni di seluruh penjuru dunia. Platform ini akan menjadi jembatan kolaborasi lintas sektor, memudahkan sinergi tanpa batas ruang dan waktu.

“Digitalisasi total sistem ILUNI menjadi misi utama, agar komunikasi dan kontribusi alumni dapat berlangsung efektif dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” katanya.

Lima misi strategis disusun Dewi dalam mewujudkan visinya, yakni: digitalisasi sistem ILUNI UI, penguatan jaringan alumni global, pemberdayaan alumni di bidang kesejahteraan dan kesehatan, kontribusi nyata untuk Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera, serta program kepemimpinan perempuan yang inklusif.

Perhatian besar juga diberikan pada pengarusutamaan kesetaraan gender. Dewi menilai alumni perempuan harus diberi ruang lebih luas untuk tampil dan memimpin di berbagai sektor.

“Perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan. Sudah saatnya kita mendorong lebih banyak pemimpin perempuan dari lingkungan alumni,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum ILUNI Fakultas Kedokteran UI (FKUI), Wawan Mulyawan, menyatakan dukungannya terhadap Dewi.

“Beliau memiliki visi dan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan organisasi alumni hari ini. Kemampuannya mempersatukan lintas fakultas dan generasi sangat dibutuhkan,” ungkap Wawan.

Pemilihan Ketua Umum ILUNI UI akan berlangsung secara e-voting pada 23–24 Agustus 2025. Dengan nomor urut 6, Dewi mengajak seluruh alumni UI untuk bergerak bersama membangun kekuatan kolektif demi menyongsong Indonesia Emas 2045.

Dewi Puspitorini Dorong Peran Strategis Melalui ILUNI UI Think Tank

Jakarta – Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) periode 2025–2028 menjadi momentum penting bagi masa depan organisasi alumni terbesar di Tanah Air ini.

Salah satu kandidat yang mendapat perhatian luas adalah dr. Dewi Puspitorini, SpP, MARS. Mengusung visi inklusif, progresif, dan berbasis kolaborasi, Dewi bertekad menjadikan ILUNI UI sebagai kekuatan strategis yang berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Dewi menegaskan bahwa ILUNI UI harus menjadi “rumah besar” bagi seluruh alumni, lintas fakultas, angkatan, dan profesi, tanpa sekat perbedaan.

“ILUNI UI harus menjadi simpul koneksi dan kolaborasi yang memperkuat kontribusi alumni dalam pembangunan nasional,” ujarnya.

Visi besarnya dituangkan dalam lima misi strategis: digitalisasi total ILUNI UI melalui platform UI Connect, penguatan jejaring alumni global, program kesejahteraan dan kesehatan alumni, kontribusi untuk Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera, serta pemberdayaan perempuan dalam kepemimpinan.

Melalui UI Connect, Dewi ingin memperluas keterhubungan antaralumni di berbagai daerah dan sektor, memfasilitasi pertukaran ide serta kolaborasi untuk mendukung agenda pembangunan.

“Dengan jaringan alumni yang tersebar di seluruh penjuru dunia, ILUNI UI memiliki potensi besar menjadi motor penggerak inovasi dan solusi strategis bagi bangsa,” kata Dewi.

Perhatian khusus juga ia berikan pada isu kesetaraan gender. Dewi menilai, peningkatan peran perempuan dalam kepemimpinan strategis akan memperkaya perspektif dan memperkuat daya saing Indonesia.

“Kesetaraan gender adalah kunci membangun organisasi yang modern, responsif, dan tangguh,” tegasnya.

Dalam misinya, Dewi juga menginisiasi ILUNI UI Think Tank sebagai wadah kolaborasi alumni UI lintas disiplin untuk merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis data pada isu-isu strategis bangsa.

“Melalui ILUNI UI Think Tank, kami membangun forum rekomendasi kebijakan untuk isu-isu strategis bangsa. Di sini, alumni lintas disiplin bertukar gagasan, mengolah data, dan merumuskan masukan yang aplikatif bagi para pengambil keputusan, agar kebijakan yang lahir lebih berbasis bukti dan berdampak nyata bagi masyarakat,” dalam pernyataan tertulisnya.

Dukungan terhadap Dewi datang dari berbagai kalangan. Ketua Umum ILUNI Fakultas Kedokteran UI, Dr. Wawan Mulyawan, menyebut Dewi sebagai figur pemersatu lintas fakultas dan generasi yang memiliki rekam jejak kepemimpinan kuat.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal ILUNI UI, Ahmad Fitrianto, menekankan pentingnya memperkuat sinergi dengan Himpunan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (HIMPUNI) dan pemerintah dalam mendorong inovasi digital, kemandirian pangan, serta peningkatan kesejahteraan rakyat.

Dewi resmi terdaftar sebagai kandidat Ketua Umum ILUNI UI dengan nomor urut 6. Pemilihan akan dilaksanakan melalui e-voting pada 23–24 Agustus 2025. Ketua Umum ILUNI UI saat ini, Didit Ratam, mengajak seluruh alumni untuk segera melakukan verifikasi akun dan berpartisipasi aktif.

Dengan visi kolaboratif, inovasi digital, dan kepedulian terhadap isu kebangsaan, Dr. Dewi Puspitorini diyakini mampu membawa ILUNI UI menjadi kekuatan alumni yang solid, berdaya saing global, dan berperan strategis dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. [-red]

[edRW]

Dewi Puspitorini Calon Terkuat Ketua Umum ILUNI UI 2025–2028

JAKARTA – Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) periode 2025–2028 akan berlangsung pada 23–24 Agustus 2025 secara elektronik melalui aplikasi UI Connect. Dari tujuh kandidat yang maju, dr. Dewi Puspitorini, Sp.P, MARS menjadi salah satu calon terkuat dengan dukungan luas lintas fakultas. Mengusung tagline U&I Guyub, U and I become Us, Dewi menawarkan kepemimpinan yang progresif, inklusif, dan berdampak nyata.

“Saya siap membangun ILUNI UI yang guyub, progresif, inklusif, berdampak nyata bagi alumni, almamater, dan bangsa menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Dewi Puspitorini.

Dalam visi besarnya, Dewi merumuskan lima pilar strategis. Digitalisasi total sistem ILUNI UI untuk transparansi dan efisiensi menjadi langkah awal. Penguatan jaringan alumni global, pemberdayaan berkelanjutan di bidang kesejahteraan dan kesehatan, kontribusi bagi Indonesia yang lebih sehat, serta penguatan peran perempuan dalam kepemimpinan juga menjadi prioritas.

Dr. Risman Pasaribu, Dewan Pakar KAHMI Nasional, menilai Dewi sebagai figur tepat untuk memimpin ILUNI UI.

“Mbak Dewi memiliki kapasitas tinggi dan gagasan membangun ILUNI UI ke depan, sehingga menjadi harapan besar bagi para alumni,” tegas Risman Pasaribu.

Pandangan positif juga datang dari alumni lintas angkatan. Adisti, alumni tahun 2001, mengapresiasi semangat kerja Dewi.

“Beliau pekerja keras, memiliki semangat berkarya, dan selalu mengutamakan kebersamaan,” tambah Adisti.

Sabi, alumni Teknik Sipil angkatan 2000, menyatakan keyakinan penuh.

“Di bawah kepemimpinan dr. Dewi, ILUNI UI akan semakin guyub dan berdampak nyata bagi semua alumni,” ungkap Sabi.

Konsistensi program menjadi daya tarik tersendiri. Tsabitah Addinni, alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat UI tahun 2021, menilai program “alumni UI berdaya” milik Dewi mampu menjawab tantangan peluang kerja.

“Inilah yang membuat saya memilih Mbak Dewi,” tuturnya.

Sementara itu, Ekasakti Octohariyanto, MPdKed, alumni tahun 2002, menyoroti pengalaman Dewi di bidang manajerial dan kolaborasi lintas sektor.
“Dengan jargon guyub bersama, mari kita wujudkan kebersamaan alumni UI,” pungkas Ekasakti.

Dengan rekam jejak, visi, dan dukungan luas, Dewi Puspitorini tampil sebagai kandidat yang tidak hanya siap memimpin, tetapi juga menyatukan potensi alumni UI demi kontribusi nyata bagi bangsa.

Misi Besar dr. Dewi Puspitorini Jadikan ILUNI UI Lokomotif Perubahan

Jakarta – Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) periode 2025–2028 akan diwarnai persaingan sehat dengan harapan arah baru yang lebih progresif. Salah satu kandidat kuat, dr. Dewi Puspitorini, SpP, MARS, tampil dengan visi besar menjadikan ILUNI UI sebagai motor penggerak kemajuan nasional melalui penguatan peran alumni lintas generasi dan sektor.

“ILUNI UI harus menjadi rumah besar bagi semua alumni, tempat bertukar gagasan, tumbuh bersama, dan berkontribusi nyata,” ujar Dewi.

Ia berkomitmen membangun ekosistem digital alumni yang terintegrasi melalui platform UI Connect untuk memperluas konektivitas antaralumni lintas daerah dan bidang, sehingga kolaborasi nyata dapat terwujud dalam berbagai program pembangunan bangsa.

“Dengan UI Connect, kami ingin membuka ruang partisipasi yang inklusif, mempertemukan ide-ide besar dengan jejaring kuat alumni di berbagai sektor, dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat,” jelasnya.

Sekretaris Jenderal ILUNI UI, Ahmad Fitrianto, menyambut positif gagasan tersebut. “ILUNI UI tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan Himpunan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (HIMPUNI) dan pemerintah sangat penting, terutama dalam mendorong kemandirian pangan, inovasi digital, serta peningkatan kesejahteraan rakyat,” kata Ahmad.

Dewi mengusung lima misi utama: digitalisasi total sistem ILUNI, penguatan jaringan alumni global, program pemberdayaan alumni yang berkelanjutan, kontribusi nyata untuk Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera, serta program pemberdayaan perempuan Indonesia. “Kesetaraan gender adalah bagian dari kemajuan organisasi. Sudah saatnya perempuan diberi ruang lebih besar dalam kepemimpinan,” tegasnya.

Rekam jejak sosial Dewi menjadi modal penting. Pada 26 November 2022, ia memimpin langsung pengiriman donasi tahap pertama bagi korban gempa Cianjur bersama ILUNI Fakultas Kedokteran UI. Bantuan disalurkan dengan dukungan sejumlah pihak, serta partisipasi para dokter alumni dan mahasiswa FKUI.

“Alumni UI telah tersebar di seluruh penjuru negeri dan dunia. Inilah kekuatan kita. Jika disatukan dalam semangat gotong royong dan kontribusi nyata, maka ILUNI UI bisa menjadi pilar penting dalam mewujudkan Indonesia yang adil, maju, dan berdaya saing global,” pungkas Dewi.***

Program Rumah Subsidi Dorong Pemerataan Hunian Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat langkah nyata dalam mewujudkan hunian terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui Program 3 Juta Rumah. Upaya ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan dasar papan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan pergerakan industri terkait.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, menegaskan bahwa pembangunan rumah subsidi menunjukkan tren positif dan memberi manfaat luas.

“Program 3 Juta Rumah sesuai arahan Presiden Prabowo membutuhkan sinergi lintas sektor, termasuk dukungan Bank Indonesia, untuk memperluas akses hunian bagi MBR,” ujar Maruarar Sirait.

Maruarar Sirait menilai rumah subsidi di kawasan Puri Delta Angsana menjadi contoh ideal dengan spesifikasi memadai, seperti luas tanah 72 meter persegi dan plafon tinggi 3,20 meter. Menurutnya, kualitas ini harus menjadi standar agar rumah subsidi tidak hanya terjangkau, tetapi juga layak huni dan estetik. Ia mengusulkan kuota subsidi tahun depan meningkat menjadi 500 ribu unit guna mempercepat target dan memperluas dampak program.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa BI mendukung penuh pembiayaan perumahan rakyat.

“BI telah menyiapkan insentif likuiditas hingga Rp80 triliun untuk mempercepat penyaluran KPR subsidi serta membeli SBN dengan alokasi Rp45 triliun bagi pembiayaan perumahan rakyat,” tegas Perry.

Perry menjelaskan, perumahan rakyat menjadi prioritas karena mampu meningkatkan kesejahteraan, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja di sektor konstruksi serta rantai pasok. Dukungan ini juga memperluas inklusi keuangan dengan memberikan akses perbankan formal kepada MBR.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menuturkan bahwa APBN berperan strategis melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk mengurangi kesenjangan sosial.

“Alokasi anggaran meningkat signifikan dari Rp29,1 triliun menjadi Rp47,4 triliun pada 2025, mencakup FLPP, Tapera, SMF, dan subsidi bunga serta uang muka,” pungkas Sri Mulyani.

Dengan dukungan fiskal, moneter, dan sinergi lintas sektor, program rumah subsidi diharapkan tidak hanya mengatasi backlog perumahan, tetapi juga membangun lingkungan permukiman sehat, tertata, dan berkelanjutan. Pemerintah menargetkan semakin banyak keluarga memiliki rumah layak sehingga kesejahteraan dan keadilan sosial dapat terwujud merata di seluruh Indonesia.

Pemerintah Tegaskan Nasionalisme Tidak Bisa Diwakili Bendera Bajak Laut

Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa nasionalisme sebagai semangat kebangsaan yang luhur tidak dapat dan tidak semestinya direpresentasikan melalui simbol-simbol yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan, termasuk bendera bajak laut seperti yang identik dengan serial fiksi populer One Piece. Penegasan ini menjadi respons atas fenomena maraknya penggunaan atribut bajak laut dalam berbagai aksi publik, termasuk yang mengklaim sebagai simbol “perlawanan terhadap ketidakadilan” di tanah air.

Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin mengatakan bahwa tindakan tidak etis dan menodai sakralitas perjuangan bangsa. Apalagi, hal tersebut dilakukan bertepatan dengan momen sakral 17 Agustus, hari di mana bendera Merah Putih sebagai simbol kedaulatan bangsa seharusnya dikibarkan dengan penuh khidmat.

“Bendera Merah Putih diperjuangkan oleh para pahlawan dengan darah dan nyawa, sampai dengan kemudian diproklamirkan pada 17 Agustus. Mengibarkan bendera selain Merah Putih pada tanggal tersebut tidak hanya tidak etis, tetapi juga menyinggung kewibawaan dan makna dari Bendera Negara,” kata TB Hasanuddin

Dalam konteks ini, pemerintah mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali memperkuat identitas nasional dengan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila, mempererat persatuan dalam keberagaman, dan terus membangun bangsa dengan semangat optimisme. Mengedepankan simbol-simbol lokal dan sejarah perjuangan nasional bukan hanya soal kebanggaan, tetapi juga soal ketahanan budaya dan ideologis bangsa di tengah derasnya pengaruh budaya global.

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Budi Gunawan mengingatkan ada ancaman pidana dari tindakan yang mencederai kehormatan bendera merah putih. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Pasal 24 ayat (1) berbunyi Setiap orang dilarang mengibarkan bendera negara di bawah bendera atau lambang apa pun.

“Ini adalah upaya untuk melindungi martabat dan simbol negara,” kata Budi

Menurutnya, dalam beberapa hari terakhir, mencermati serius adanya upaya provokasi dari sebagian kelompok untuk menurunkan marwah merah putih dan menggantinya dengan bendera simbol fiksi tertentu. Menurut dia, hal itu sangat memprihatinkan.

“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menghargai pengorbanan para pejuang dan pahlawan yang telah berkorban,” tegas Budi.

Pemerintah akan mengambil tindakan hukum secara tegas dan terukur jika ada unsur kesengajaan dan provokasi. Tujuannya, memastikan ketertiban dan kewibawaan simbol-simbol negara.

“Mari kita rayakan HUT ke-80 Kemerdekaan RI dengan penuh rasa syukur dan juga harapan bahwa bendera tersebut akan terus berkibar selamanya di bumi pertiwi Indonesia,” pungkas Budi

Program Rumah Subsidi Langkah Nyata Pemerintah Wujudkan Hunian Terjangkau

Oleh : Nakula Wijayanto*)

Pemerintah kembali menunjukkan komitmen kuatnya terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat melalui Program 3 Juta Rumah, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Program ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan dasar akan hunian, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan pergerakan sektor industri terkait. Langkah ini menjadi bukti bahwa pemerintah tidak berhenti pada janji, melainkan benar-benar mewujudkan kebijakan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (Menteri PKP), Maruarar Sirait (Ara), menyampaikan bahwa pembangunan rumah subsidi saat ini menunjukkan tren kenaikan positif dan telah memberi manfaat luas. Menurutnya, Program 3 Juta Rumah sebagaimana arahan Presiden Prabowo memerlukan sinergi lintas sektor, termasuk dukungan dari Bank Indonesia. Rumah subsidi juga berkontribusi membuka lapangan pekerjaan, terutama di sektor konstruksi dan industri pendukung. Lebih jauh, masyarakat sektor informal seperti pedagang kecil kini memiliki peluang yang lebih besar untuk memiliki hunian layak.

Ara mengapresiasi kualitas rumah subsidi yang dibangun di kawasan Puri Delta Angsana. Ia menilai spesifikasi seperti luas tanah 72 meter persegi, tinggi plafon 3,20 meter, dan penataan lingkungan yang rapi menjadi contoh ideal rumah subsidi berkualitas. Kualitas ini penting untuk memastikan rumah subsidi tidak hanya terjangkau dari segi harga, tetapi juga layak secara fungsi dan estetika. Ara pun mengusulkan agar kuota subsidi tahun depan dapat ditingkatkan menjadi 500 ribu unit. Peningkatan kuota ini diharapkan mempercepat pencapaian target dan memperluas dampak positif program.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan bahwa BI berkomitmen mendukung penuh pembiayaan perumahan rakyat. BI telah menyiapkan insentif likuiditas hingga Rp80 triliun untuk perbankan guna mempercepat penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi. Selain itu, BI membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp155 triliun, di mana sekitar Rp45 triliun dialokasikan untuk pembiayaan perumahan rakyat. Perry menjelaskan tiga alasan utama menjadikan perumahan rakyat sebagai prioritas, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja di sektor konstruksi serta rantai pasoknya. Kebijakan ini menunjukkan sinergi kuat antara instrumen moneter dan kebijakan sosial.

Dukungan BI terhadap program perumahan rakyat merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperluas inklusi keuangan. Dengan memperlancar pembiayaan rumah subsidi, masyarakat berpenghasilan rendah memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengakses layanan perbankan formal. Hal ini diharapkan tidak hanya membantu pemenuhan kebutuhan papan, tetapi juga memperkuat fondasi perekonomian melalui peningkatan daya beli dan perputaran ekonomi di daerah.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, juga menegaskan peran penting Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam mendukung program rumah subsidi. Melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), APBN membantu menyediakan hunian bagi MBR, mengurangi kesenjangan sosial, dan memperkuat pemerataan pembangunan. Ia menekankan perlunya percepatan di semester kedua untuk mencapai target tahunan. Alokasi anggaran program ini pun meningkat signifikan dari Rp29,1 triliun menjadi Rp47,4 triliun pada 2025, mencakup FLPP, Tapera, SMF, serta subsidi bunga dan uang muka.

Dari sisi kebijakan fiskal, pemerintah tidak hanya fokus pada jumlah unit rumah yang dibangun, tetapi juga memastikan keberlanjutan pembiayaan jangka panjang. Dukungan anggaran diarahkan untuk memberikan subsidi bunga agar cicilan rumah tetap terjangkau bagi MBR. Pemerintah juga bekerja sama dengan perbankan dan pengembang agar proses pengajuan KPR menjadi lebih mudah dan cepat. Dengan kolaborasi lintas sektor, program ini memiliki potensi besar untuk mengatasi backlog perumahan nasional.

Selain memberi dampak ekonomi, program rumah subsidi turut membentuk lingkungan permukiman yang sehat dan tertata. Rumah yang layak huni akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga keamanan sosial. Pemerintah akan terus memastikan bahwa rumah subsidi memenuhi standar kualitas bangunan yang baik, serta memiliki akses ke fasilitas umum seperti sekolah, pusat kesehatan, dan transportasi publik. Dengan demikian, program ini tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga membangun ekosistem kehidupan yang berkelanjutan bagi keluarga penerima manfaat.

Pemerataan akses rumah subsidi juga membantu memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat. Ketika warga memiliki rumah yang aman dan layak, stabilitas sosial cenderung meningkat, mengurangi potensi konflik akibat ketimpangan. Di sisi lain, pembangunan rumah subsidi yang merata di berbagai wilayah mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini menciptakan efek ganda yang menguntungkan masyarakat secara keseluruhan.

Kerja keras pemerintah dalam menyinergikan kebijakan perumahan rakyat patut diapresiasi. Program rumah subsidi telah menjadi bukti bahwa kebijakan yang dirancang dengan sinergi lintas sektor mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Ke depan, dengan kuota yang terus ditingkatkan dan kualitas yang dijaga, semakin banyak keluarga Indonesia akan memiliki hunian layak. Harapannya, tidak ada lagi warga yang kesulitan memiliki rumah sendiri. Inilah langkah nyata menuju pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial di seluruh Indonesia.

)* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik

Kolaborasi Antar Instansi Percepat Implementasi Program Rumah Subsidi

Oleh: Rahman Prawira)*

Perumahan layak dan terjangkau merupakan salah satu kebutuhan paling pokok bagi masyarakat. Keberhasilan mewujudkannya secara masif melalui Program Rumah Subsidi menjadi salah satu tonggak prestisius pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam beberapa pekan terakhir, kolaborasi antar instansi negara menduduki peran sentral dalam mempercepat implementasi program ini baik dari sektor pembiayaan, pembangunan, hingga distribusi.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, menekankan pentingnya sinergi dengan lembaga keuangan untuk mempercepat realisasi rumah subsidi. Adanya dukungan dari Bank Indonesia (BI) adalah bentuk dari sinergi lembaga keuangan dalam program rumah subsidi Presiden Prabowo. Hingga saat ini pembangunan rumah subsidi masih menunjukkan tren positif sehingga program 3 juta rumah ini perlu melibatkan berbagai pihak dan bersinergi termasuk dengan BI.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan bahwa BI mendukung program perumahan termasuk perumahan rakyat melalui dua hal. Pertama, pemberian insentif likuiditas kepada perbankan yang menyalurkan kredit. Yang kedua, BI juga mendanai dan melakukan sharing untuk program khusus perumahan rakyat.

Wujud konkret kolaborasi ini adalah dukungan finansial dari BI berupa insentif likuiditas senilai Rp 80 triliun melalui penurunan Giro Wajib Minimum (GWM), yang sudah disalurkan perbankan untuk sektor perumahan rakyat. Selain itu, BI juga telah berkontribusi melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 155 triliun, sekitar Rp 45 triliun di antaranya difokuskan untuk perumahan rakyat. Langkah ini mencerminkan komitmen BI dalam mendorong pertumbuhan sektor perumahan yang inklusif dan berdampak luas.

Langkah strategis lainnya dijalankan melalui kerja sama dengan perbankan nasional. Dalam acara penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI), untuk pertama kalinya dalam sejarah, pemerintah menetapkan kuota rumah subsidi tahun ini sebanyak 350.000 unit, serta mendorong BRI memperluas penyaluran sebagai bank utama penyalur KPR Subsidi (KPRS). Dengan MoU ini, diharapkan realisasi rumah subsidi dapat lebih cepat, lancar, dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

Selain itu, Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, telah menyalurkan lebih dari 101.000 unit KPRS hingga Juni 2025. Penyaluran itu dilakukan dengan outstanding pembiayaan hampir Rp 14 triliun dan 97% diantaranya melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). BRI juga telah melampaui target Juli dengan penyaluran sebesar 105,88 persen dari kuota 17.700 unit.

Selain dengan lembaga keuangan kolaborasi ini juga berlangsung lintas kementerian. Rumah subsidi akan hadir di seluruh penjuru negeri sebagai wujud keadilan sosial. Dukungan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sangat konkret melalui Nota Kesepahaman antara Kemendagri dan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera). Melalui perjanjian tersebut, Kemendagri menyediakan kuota khusus 2.000 rumah subsidi bagi pegawai negeri, memfasilitasi pendaftaran 1.190 pegawainya dalam program KPR FLPP, dan mempercepat proses administratif seperti Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) demi memperlancar akses perumahan layak bagi ASN.

Dalam acara penyerahan kunci rumah subsidi yang diberikan secara simbolis kepada pegawai Kemendagri, Maruar mengatakan bahwa angsuran KPR FLPP bagi pegawai hanya sebesar Rp 1,7 juta per bulan, lebih ringan dibandingkan ongkos sewa sekitar Rp 2–3 juta per bulan. Pihaknya juga memuji Kemendagri yang mendukung program pro rakyat. Karena dukungan yang dilakukan Kemendagri dalam proses ini dilaksanakan dengan cepat serta penuh pengawasan.

Langkah kolaboratif tidak terbatas pada lembaga pemerintahan saja. Kementerian PKP, juga menjalin kemitraan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Penandatanganan MoU antara Kementerian PKP dan MUI serta pemberian kunci simbolis untuk guru ngaji dan aktivis Islam menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kelompok sosial yang selama ini jarang tersentuh program perumahan. Selain itu, dengan dukungan pembiayaan syariah melalui Bank Tabungan Negara (BTN) dan BP Tapera, ditargetkan sebanyak 5.000 unit rumah subsidi dapat segera disalurkan kepada kalangan dai, guru ngaji, dan aktivis Islam dalam tahun 2025.

Kolaborasi yang telah dilakukan antar instansi mulai dari Bank Indonesia, perbankan nasional, Kementerian Dalam Negeri, hingga lembaga keagamaan Majelis Ulama Indonesia telah membentuk ekosistem yang semakin solid. Integrasi dukungan pendanaan, perluasan kuota, penyederhanaan birokrasi, hingga penyediaan data dan distribusi sosial menjadi kunci mempercepat pencapaian target rumah subsidi. Pemerintah telah membuktikan bahwa kebijakan ini sangat pro rakyat, inklusif, dan terstruktur.

Masyarakat perlu merespons semangat ini dengan antusiasme. Hal ini merupakan hal positif bagi masyarakat yang belum memiliki rumah dengan manfaatkan kesempatan ini melalui skema KPR FLPP. Pemerintah mendapatkan apresiasi atas langkah-langkah konkret dalam mendukung percepatan penyediaan hunian layak. Arahnya yang jelas mencerminkan perhatian terhadap peningkatan akses perumahan. Sinergi antara Kementerian PKP, Bank Indonesia, dan BRI menunjukkan adanya koordinasi dalam menyediakan dukungan finansial.

Kemendagri juga memudahkan proses melalui penyederhanaan regulasi, sementara keterlibatan tokoh-tokoh keagamaan mencerminkan dimensi sosial yang diperhatikan. Lewat kolaborasi ini, pemerintah menegaskan komitmen untuk menjangkau hunian layak hingga pelosok negeri, sambil memastikan kebijakan menyentuh kebutuhan langsung masyarakat. Seluruh langkah ini menjadi bukti nyata bahwa kebijakan pro rakyat berkembang ke seluruh lapisan sosial melalui program Rumah Subsidi dalam menghadapi tantangan backlog perumahan nasional.

*)Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Pemerintah

[edRW]

Pemerintah Serukan Peringatan HUT RI Fokus pada Merah Putih Bukan Bendera Bajak Laut

Oleh : Andika Damadewa

Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah mengeluarkan seruan yang kuat dan tegas: kibarkan bendera Merah Putih, bukan bendera fiksi seperti simbol bajak laut dari serial anime One Piece. Di tengah maraknya fenomena pengibaran bendera “Jolly Roger” menjelang 17 Agustus 2025, pemerintah kembali mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi lambang kedaulatan nasional.

Langkah pemerintah ini tidak muncul dari ruang hampa. Fenomena budaya populer memang tidak bisa dibendung, terlebih ketika generasi muda menjadikannya sebagai bentuk ekspresi identitas dan pernyataan sikap. Namun, ekspresi tersebut tetap harus berada dalam koridor konstitusi dan nilai-nilai kebangsaan. Pemerintah, dalam hal ini, tidak bersikap represif, melainkan menunjukkan sikap tegas yang tetap membuka ruang dialog dan edukasi.

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan bahwa jika pengibaran bendera bajak laut hanya sebagai ekspresi, maka hal itu masih dapat dimaklumi. Namun, pemerintah menggarisbawahi bahwa dalam konteks Hari Kemerdekaan, tidak boleh ada bendera lain yang menggeser atau menyaingi posisi Merah Putih. Bendera Merah Putih adalah satu-satunya simbol resmi yang mewakili semangat dan pengorbanan bangsa Indonesia.

Sikap ini mencerminkan kepemimpinan yang moderat namun tetap berwibawa. Di tengah kemajuan zaman dan derasnya pengaruh budaya luar, kepala negara tetap konsisten dalam menjaga jati diri bangsa. Pemerintah tidak menghalangi kreativitas, tetapi menegaskan batas yang tak boleh dilewati, kehormatan terhadap simbol negara.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, turut menyampaikan keprihatinannya. Ia menilai bahwa pengibaran bendera bajak laut, apalagi dilakukan menjelang peringatan kemerdekaan, merupakan tindakan yang tidak etis. Ia mengingatkan bahwa bendera Merah Putih bukan sekadar kain berwarna, melainkan simbol perjuangan yang telah ditebus dengan darah dan nyawa para pahlawan. Karena itu, menjadikan bendera lain lebih menonjol dalam momen sakral ini adalah bentuk pengaburan sejarah dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai kebangsaan.

Hasanuddin juga menekankan bahwa jika ada kritik terhadap pemerintah, maka salurannya haruslah substantif dan konstitusional. Menyampaikan protes melalui simbol fiktif justru berpotensi menciptakan mispersepsi dan memperlemah spirit nasionalisme generasi muda. Pesan ini sangat relevan di tengah tren generasi digital yang mudah terseret narasi-narasi simbolik tanpa pemahaman sejarah yang mendalam.

Dari sisi yang lebih reflektif, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, mengatakan pihaknya menggarisbawahi fenomena ini bisa menjadi sinyal sosial bagi pemerintah. Ia melihat bahwa pengibaran bendera bajak laut merupakan bentuk kebebasan berekspresi yang dijamin konstitusi. Namun, menurutnya, ekspresi semacam ini menjadi bahan introspeksi, agar ke depan lebih peka terhadap keresahan masyarakat, terutama generasi muda. Aspirasi dan suara anak bangsa telah direspons dengan kebijakan yang inklusif dan adaptif.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tidak menutup mata terhadap dinamika sosial. Sebaliknya, pemerintah justru mendorong pendekatan yang seimbang antara penegakan hukum, penghormatan terhadap simbol negara, dan pembinaan generasi muda. Pendekatan ini jauh dari otoriterisme, justru menunjukkan kecanggihan negara dalam mengelola kebebasan berekspresi tanpa membiarkan dekadensi nasionalisme.

Melihat dinamika ini, sangat jelas bahwa pemerintah Indonesia tidak sedang anti terhadap budaya populer atau ekspresi kreatif anak bangsa. Yang menjadi titik tekan adalah konteks dan momentum. Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bukanlah ruang bebas nilai. Ia adalah momen sakral yang mengikat seluruh elemen bangsa untuk kembali mengingat sejarah, menghormati pengorbanan, dan memperkuat identitas kebangsaan.

Justru melalui momen ini, pemerintah ingin mengajak generasi muda untuk tidak terjebak pada simbolisme yang dangkal, melainkan menggali makna terdalam dari kemerdekaan itu sendiri. Bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum untuk merefleksikan kontribusi nyata sebagai warga negara. Kreativitas tentu tetap diberi ruang, namun harus dibarengi dengan kesadaran sejarah dan semangat menjaga marwah simbol negara yang telah diwariskan dengan perjuangan.

Oleh karena itu, masyarakat, terutama generasi muda, perlu disadarkan bahwa dalam setiap peringatan 17 Agustus, hanya satu bendera yang layak dikibarkan dengan penuh kehormatan yaitu bendera Merah Putih. Simbol bajak laut, betapapun populernya di kalangan anak muda, bukanlah representasi kemerdekaan, tidak memiliki akar sejarah, tidak membawa makna perjuangan, dan tentu tidak mencerminkan kepribadian bangsa.

Kemudian tanggung jawab menjaga marwah bendera Merah Putih tidak hanya ada di pundak pemerintah, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari pelajar hingga pemimpin daerah, semua harus menjadi bagian dari gerakan nasional yang mengedepankan kebanggaan terhadap simbol negara.

Mari kita maknai kemerdekaan ke-80 ini dengan semangat yang sama seperti para pendiri bangsa, hormat kepada sang Merah Putih, setia pada Indonesia, dan teguh pada nilai-nilai kebangsaan. Di tengah tantangan zaman dan derasnya arus globalisasi, hanya identitas nasional yang mampu menjaga kita tetap utuh sebagai bangsa. Tinggalkan simbol bajak laut, tegakkan panji Merah Putih. Karena hanya dengan semangat itu, kita bisa benar-benar merdeka, lahir dan batin.

)* Penulis merupakan Pengamat Sosial

Masyarakat Adat Jadi Ujung Tombak Kesuksesan MBG di Papua

Oleh : Ricky Rinaldi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua berkembang jauh melampaui sekadar kebijakan nasional. Kini, di kampung-kampung, program ini telah menjadi napas kehidupan yang mengalir melalui tradisi, kearifan lokal, dan cinta masyarakat adat terhadap komunitas mereka. Bupati Jayapura, Yunus Wonda, menegaskan bahwa tanpa keterlibatan masyarakat adat, MBG tidak akan memiliki akar yang kuat; tradisi berkebun, menangkap ikan, dan memanen hasil kebun yang diwariskan turun-temurun menjadi bagian vital dari rantai pangan lokal. Karena peran mereka, MBG tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menyentuh budaya dan hati masyarakat.

Pemerintah daerah kini tengah memetakan peran masyarakat adat dari proses produksi hingga distribusi untuk memastikan MBG menjadi bagian rutin kehidupan masyarakat, bukan program sesaat. Penempatan masyarakat adat sebagai pengendali utama pasokan pangan sehat ke sekolah-sekolah memperkuat posisi mereka sebagai pelaku utama keberlanjutan. Pendekatan ini dirancang sebagai intervensi jangka panjang, menyelaraskan gaya hidup sehat, tradisi, dan nilai kemandirian pangan komunitas.

Yunus Wonda menekankan bahwa keberhasilan MBG menuntut sinergi antara pemerintah, masyarakat adat, pendidikan, dan kesehatan. Kolaborasi ini diharapkan mendorong dampak nyata tidak sekadar di atas kertas terhadap keluarga dan anak-anak di kampung. Ia meyakini keterlibatan masyarakat adat akan turut memacu ekonomi lokal; kegiatan seperti berkebun, beternak, dan membudidayakan ikan dalam rangka MBG menciptakan arus ekonomi sehat dan membuka peluang usaha baru serta memperkuat ketahanan pangan desa.

Lebih dari sekadar ekonomi, MBG juga melestarikan budaya kuliner adat. Memprioritaskan pangan lokal dalam diet harian tradisi, nilai, dan rasa khas diwariskan kepada generasi muda. Ini membangun kebanggaan identitas adat dan pondasi masa depan yang sehat serta mandiri.

Dukungan MBG juga datang dari tokoh adat. Tokoh adat Sentani, Yansen Ohee, menyampaikan bahwa Papua menghadapi tantangan serius dalam pemenuhan gizi, terutama di pedalaman. Baginya, MBG adalah harapan bagi orang tua merajut masa depan anak-anak. Ia menegaskan bahwa tanpa tubuh sehat, pendidikan menjadi tak bermakna. Sekretaris Dewan Adat Suku Moy, Benhur Yaboisembut, menyatakan bahwa MBG adalah solusi nyata menekan malnutrisi dan stunting serta meningkatkan prestasi belajar. Ia melihat peluang pemberdayaan ekonomi lokal melalui suplai pangan oleh petani dan nelayan kampung, sekaligus menyambut program ini dengan rasa syukur dan harapan agar anak-anak Papua tumbuh lebih cerdas karena gizi memadai.

Lebih lanjut, Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut MBG membuka ruang partisipasi masyarakat di Jayapura. Pendamping Mitra Sukses MBG, Bagus Septiyan, menyampaikan kunjungan ke dapur SPPG Robhing di Sentani menyoroti pentingnya kebersihan, fasilitas lengkap, dan pengelolaan limbah dapur sebagai wujud kesiapan. Ia juga mencatat antusiasme tinggi masyarakat sekitar Danau Sentani. BGN percaya dapur MBG yang dikelola masyarakat adalah strategi berkelanjutan sesuai arahan Presiden.

Secara lebih luas, MBG telah dilaksanakan di empat daerah di Papua: Kota Jayapura, Sarmi, Yapen, dan Biak. Penjabat Gubernur Papua, Ramses Limbong, menyebut pelaksanaannya bersifat bertahap dan kebutuhan dapur gizi di Kota Jayapura mencakup pembangunan sekitar 20 unit, sementara baru satu yang aktif melayani sekitar 3.000–3.500 siswa. Ini menunjukkan tantangan logistik dan pentingnya penyebaran dapur demi cakupan program lebih luas.

Pelaksanaan MBG di Kabupaten Jayapura juga diperluas ke beberapa sekolah. Pada 22 April 2025, MBG dilaksanakan di SMP Negeri 1 Sentani, TK Ria Sentani, dan SD YPK Sentani dengan sekitar 3.300 siswa menikmati paket bergizi seharga Rp20.000 per porsi yang mencakup nasi, ikan goreng, tahu krispi, sayur, dan lauk lainnya. Pelaksanaan ini berlangsung bertahap untuk menjaga kualitas makanan dan efisiensi dapur.

Biro Pengadaan Barang dan Jasa Papua mencatat bahwa pelaku usaha lokal juga memperoleh manfaat dari program MBG melalui pengadaan berbasis e-katalog. Kepala Biro, Debora Salosa, mendorong pelaku usaha orang asli Papua untuk aktif dalam sistem tersebut agar ekonomi lokal tetap berjalan meski anggaran terbatas.

Lebih banyak tokoh adat menyatakan dukungan mereka. Di Waropen, tokoh masyarakat Wonti, Kaleb Woisiri, menyebut MBG sebagai investasi masa depan anak-anak Papua. Ismail Ulof, Kepala Suku Elseng Keerom, mendesak pelaksanaan MBG di wilayahnya agar anak tetap sehat dan siap belajar. Ondoafi Kampung Senggi, Matias Manggu, siap mengawal agar program berjalan tepat sasaran. Kepala Suku Manirem Sarmi, Billy Kreuw, dan Anggota DPRK sekaligus Kepala Suku Sobey, Adolf Wersementawar, menilai kolaborasi pemerintah dan masyarakat adalah kunci keberhasilan. Di Yapen, Sekretaris Umum Dewan Adat Yapen, Alex Sangganefa, mengingatkan untuk menjaga kesinambungan program agar manfaatnya luas dirasakan. Dan di Kota Jayapura, Ketua LMA Port Numbay, George Arnold Awi, menyoroti bahwa MBG meringankan beban orang tua dan memberi solusi atas masalah gizi anak-anak Papua.

Gambaran yang muncul menunjukkan MBG bukan hanya program gizi, tetapi membentuk ekosistem kesejahteraan, ekonomi, dan budaya yang saling menguatkan. Ketika masyarakat adat menjadi pelaku aktif, manfaatnya tidak sekadar instan, tetapi menjadi bagian budaya hidup sehat yang tertanam dalam komunitas.

Kini aktivitas harian seperti berkebun, panen hasil tani, dan merawat ternak di berbagai kampung bukan hanya rutinitas, tetapi bagian dari gerakan produktif membangun masa depan. MBG bukan hanya tentang makan hari ini; ini adalah upaya mencetak generasi tangguh, memperkuat ekonomi lokal, dan menjaga warisan budaya tetap berkembang.

*) Pengamat isu strategis

[edRW]