Hadapi Lonjakan Arus Nataru, Pemerintah Operasikan Posko Terpadu Nasional

Oleh: Lalu Jefri Adiyatma )*

Pemerintah memastikan kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) melalui pengoperasian posko terpadu lintas sektor. Langkah ini menjadi bagian dari strategi negara untuk menjamin pengelolaan transportasi, komunikasi, dan layanan publik berjalan terkoordinasi, responsif, serta mengutamakan keselamatan dan kenyamanan masyarakat di tengah meningkatnya pergerakan orang dan barang di seluruh wilayah Indonesia.

Kementerian Perhubungan secara resmi mengaktifkan Posko Pusat Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 sebagai pusat kendali nasional. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menjelaskan bahwa pembentukan posko tersebut didasarkan pada hasil survei potensi pergerakan masyarakat yang memproyeksikan lebih dari 119 juta orang akan melakukan perjalanan selama periode libur akhir tahun.

Posko Pusat Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 ini dirancang sebagai instrumen pengaturan, pengendalian, dan koordinasi transportasi nasional agar seluruh kebijakan dan langkah operasional di lapangan dapat berjalan terpadu, konsisten, dan tepat waktu.

Lonjakan mobilitas pada masa Nataru tidak hanya dipicu oleh perayaan Natal dan perjalanan mudik umat Nasrani, tetapi juga oleh meningkatnya aktivitas wisata, silaturahmi, dan liburan keluarga. Kondisi tersebut secara alami menimbulkan tekanan pada seluruh moda transportasi.

Pemerintah menilai bahwa tanpa koordinasi yang kuat dan sistem pemantauan yang terintegrasi, risiko keselamatan dan gangguan layanan dapat meningkat. Karena itu, kehadiran posko terpadu dipandang krusial untuk memastikan kesiapan operasional sekaligus kecepatan respons terhadap dinamika di lapangan.

Dalam penyelenggaraan Angkutan Nataru, Kementerian Perhubungan menempatkan sejumlah fokus utama, yakni keselamatan sebagai prioritas tertinggi, penguatan sinergi lintas kementerian dan lembaga, ketelitian terhadap detail operasional, serta kesiapan menghadapi ketidakpastian seperti cuaca ekstrem dan potensi bencana.

Dudy Purwagandhi menilai bahwa keselamatan dan kelancaran transportasi bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari perencanaan matang, pengawasan konsisten, dan koordinasi yang disiplin.

Sebagai bentuk penguatan koordinasi pusat dan daerah, Menteri Perhubungan melakukan peninjauan langsung ke berbagai simpul transportasi di sejumlah wilayah, mulai dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara.

Dialog langsung dengan kepala daerah dilakukan untuk memastikan kesiapan wilayah serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah memandang langkah ini penting agar kebijakan nasional dapat diterjemahkan secara efektif di lapangan.

Posko Pusat Angkutan Nataru beroperasi selama 24 jam penuh sepanjang periode libur akhir tahun dan melibatkan berbagai instansi strategis, termasuk kepolisian lalu lintas, Basarnas, BMKG, KNKT, BNPB, serta BUMN dan operator transportasi nasional. Keterlibatan lintas sektor ini memungkinkan pemantauan real time, pengambilan keputusan cepat, serta respons terpadu terhadap situasi darurat maupun gangguan operasional.

Kesiapsiagaan posko terpadu juga diperkuat dari sisi komunikasi dan digital. Kementerian Komunikasi dan Digital mengaktifkan ratusan posko telekomunikasi di seluruh provinsi dengan melibatkan seluruh operator seluler.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyampaikan bahwa posko tersebut disiagakan untuk memastikan stabilitas jaringan di tengah lonjakan trafik data yang diperkirakan meningkat signifikan selama Nataru. Pemerintah memandang layanan komunikasi sebagai kebutuhan dasar, mengingat lebih dari dua ratus juta penduduk Indonesia telah terkoneksi dengan internet.

Untuk menjaga kualitas layanan, kapasitas jaringan diperbesar di ratusan titik strategis seperti simpul transportasi dan kawasan wisata. Selain itu, pemerintah membentuk satuan tugas dan posko bersama yang bertugas mengawasi kualitas jaringan, mengamankan spektrum frekuensi radio, serta mendukung penyebaran informasi darurat.

Sistem peringatan dini dan informasi lalu lintas darurat turut diintegrasikan, termasuk melalui layanan pesan singkat di titik-titik rawan kecelakaan. Layanan Call Center 112 juga terus diperluas sebagai bagian dari perlindungan publik selama masa libur.

Di sektor kepelabuhanan, kesiapan posko terpadu ditunjukkan melalui pengoperasian Posko Nataru di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Sebagai salah satu gerbang utama konektivitas laut menuju Kawasan Timur Indonesia, pelabuhan ini memiliki peran strategis dalam menjaga kelancaran arus penumpang dan logistik.

Posko di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara berfungsi sebagai pusat koordinasi, pemantauan, dan pelayanan terpadu yang melibatkan pemerintah, TNI/Polri, BUMN, serta pemangku kepentingan kepelabuhanan.

Kepala Bidang Perkapalan dan Kepelautan KSOP Utama Tanjung Perak, Dr. Capt. Mustamin, M.Pd., M.Mar., menyampaikan bahwa keselamatan pelayaran menjadi prinsip utama dalam penyelenggaraan angkutan laut selama Nataru.

Seluruh kapal yang beroperasi telah melalui pemeriksaan kelaiklautan yang mencakup aspek keselamatan, kapasitas angkut, dan kelengkapan peralatan. Puluhan kapal dari berbagai operator disiapkan untuk melayani puluhan ribu penumpang, dengan pengawasan yang dilakukan secara ketat dan berkesinambungan.

Melalui pengoperasian posko terpadu di sektor transportasi, komunikasi, dan kepelabuhanan, pemerintah menegaskan kehadiran negara dalam memastikan Nataru berlangsung aman, tertib, dan terkendali. Pendekatan kolaboratif lintas sektor ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk tidak hanya mengantisipasi lonjakan mobilitas, tetapi juga melindungi keselamatan masyarakat serta menjaga kualitas layanan publik di momen penting akhir tahun.

*) Pengamat Kebjakan Publik

Pemerintah Pastikan Transportasi Publik Siap Layani Masyarakat Nataru

Oleh: Fajriani Lula )*

Pemerintah memastikan kesiapan sektor transportasi publik secara menyeluruh untuk melayani mobilitas masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.

Dengan potensi lonjakan pergerakan yang signifikan di seluruh wilayah Indonesia, negara menempatkan aspek keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran perjalanan sebagai prioritas utama melalui koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, serta operator transportasi.

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan lebih dari 35 ribu armada transportasi lintas moda yang siap beroperasi selama masa Nataru. Armada tersebut mencakup angkutan darat, laut, udara, kereta api, dan penyeberangan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Menurut Dudy, kesiapan transportasi ini merupakan hasil perencanaan dan pengawasan berlapis yang dilakukan pemerintah untuk memastikan seluruh sarana dan prasarana transportasi dapat berfungsi optimal dalam melayani masyarakat.

Kesiapan moda darat ditopang oleh puluhan ribu unit bus dan ratusan terminal, sementara moda laut didukung ratusan kapal penumpang serta kapal patroli dan navigasi. Di sektor udara, ratusan pesawat dan bandara disiapkan untuk melayani peningkatan penumpang, sedangkan layanan kereta api diperkuat dengan ribuan rangkaian yang beroperasi di jaringan Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.

Untuk layanan penyeberangan, pemerintah melakukan penguatan armada dan prasarana di lintasan-lintasan padat yang selama ini menjadi titik krusial pergerakan Nataru.

Dudy menegaskan bahwa kesiapan tersebut tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga ditopang oleh pengawasan ketat terhadap aspek keselamatan. Puluhan ribu kendaraan angkutan darat telah menjalani pemeriksaan kelaikan, ratusan kapal laut dinyatakan laik beroperasi, pesawat udara disiapkan sesuai standar keselamatan, serta ribuan sarana perkeretaapian telah memenuhi ketentuan teknis. Pemeriksaan ini terus dilakukan hingga mendekati puncak Nataru untuk memastikan tidak ada kompromi terhadap keselamatan penumpang.

Selain kesiapan armada, pemerintah juga menyiapkan landasan kebijakan operasional untuk mendukung kelancaran Angkutan Nataru. Sejumlah kebijakan diterbitkan sebagai panduan operasional, termasuk pengaturan angkutan barang, penerapan e-ticketing pada kapal penumpang, pembentukan posko terpadu, serta pemberian stimulus bagi BUMN sektor transportasi. Pemerintah juga mendorong pemerataan arus perjalanan melalui kebijakan diskon tarif pada berbagai moda transportasi, yang diharapkan dapat mengurangi kepadatan pada waktu dan lokasi tertentu.

Berdasarkan survei potensi pergerakan yang dilakukan Kementerian Perhubungan, destinasi wisata masih menjadi tujuan utama perjalanan masyarakat selama Nataru. Kota Yogyakarta diproyeksikan menjadi destinasi favorit nasional, diikuti sejumlah daerah lain yang dikenal sebagai pusat wisata budaya, alam, dan rekreasi keluarga.

Secara regional, Pulau Jawa diperkirakan tetap menjadi tujuan terbesar, sementara di luar Jawa, beberapa provinsi juga mengalami peningkatan signifikan minat perjalanan. Pemerintah menggunakan data ini sebagai dasar penyesuaian operasional transportasi di berbagai simpul strategis.

Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil peran aktif dalam memastikan kesiapan angkutan Nataru, mengingat Jakarta menjadi salah satu wilayah asal perjalanan terbesar.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meninjau langsung kesiapan layanan transportasi di Terminal Terpadu Pulo Gebang dan memastikan seluruh fasilitas serta layanan angkutan telah siap menghadapi lonjakan penumpang. Ia menilai kesiapan sarana, prasarana, dan pelayanan menjadi kunci agar masyarakat dapat menikmati perjalanan dengan aman dan nyaman.

Pramono juga mencermati adanya peningkatan signifikan jumlah penumpang menjelang libur panjang. Pemerintah daerah memprediksi lonjakan penumpang harian yang cukup tajam, sehingga langkah-langkah antisipatif dilakukan untuk mencegah kepadatan berlebihan dan memastikan arus penumpang tetap terkendali. Keselamatan dan keamanan penumpang menjadi fokus utama dalam pengelolaan angkutan selama Nataru.

Untuk mendukung hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Syafrin Liputo, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan empat terminal utama sebagai simpul pelayanan Nataru, serta menambah tiga terminal bantuan guna mengantisipasi lonjakan penumpang.

Selain itu, Dishub DKI Jakarta melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh bagi seluruh pengemudi bus, baik pengemudi utama maupun cadangan, termasuk tes kesehatan dan tes bebas narkoba. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif untuk menekan risiko kecelakaan selama perjalanan jarak jauh.

Pemeriksaan kelaikan kendaraan atau ramp check juga dilakukan secara intensif di terminal-terminal utama sejak jauh hari hingga berakhirnya masa Nataru. Dishub DKI Jakarta memastikan bahwa hanya kendaraan yang memenuhi standar keselamatan yang diizinkan beroperasi.

Fasilitas pendukung di terminal, seperti toilet, kantin, ruang tunggu, ruang bermain anak, dan ruang baca, turut dipastikan dalam kondisi layak guna meningkatkan kenyamanan penumpang.

Di tengah potensi cuaca ekstrem, pemerintah pusat dan daerah memperkuat koordinasi dengan BMKG dan Basarnas untuk mitigasi risiko. Kesiapsiagaan diterapkan melalui penyiagaan personel dan peralatan di titik-titik rawan, penguatan pengawasan moda transportasi, serta pengelolaan fenomena lokal seperti pasar tumpah dan kawasan wisata padat. Seluruh langkah ini dilakukan untuk memastikan perjalanan masyarakat selama Nataru berlangsung aman dan tertib.

Dengan kesiapan yang terencana dan terkoordinasi dari pemerintah pusat hingga daerah, sektor transportasi publik diharapkan mampu melayani masyarakat secara optimal selama Natal dan Tahun Baru. Pendekatan menyeluruh ini menegaskan komitmen negara untuk hadir dan bekerja memastikan mobilitas masyarakat tetap aman, nyaman, dan lancar di momentum akhir tahun.

*) Pengamat Kebijakan Sosial

Infrastruktur Transportasi Dipastikan Siap Hadapi Arus Nataru

Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan kesiapan infrastruktur transportasi di Provinsi Sumatera Utara dalam kondisi siap untuk mendukung kelancaran arus Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Fokus utama diarahkan pada pemulihan konektivitas pascabencana banjir dan tanah longsor agar mobilitas masyarakat dan distribusi logistik tetap berjalan aman dan lancar.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa pemulihan akses jalan dan jembatan menjadi prioritas utama pemerintah.

Menurutnya, infrastruktur transportasi memiliki peran vital dalam menopang pergerakan masyarakat.

“Kementerian PU terus berusaha agar akses ini kembali fungsional secepat mungkin. Jalan dan jembatan merupakan urat nadi pergerakan masyarakat dan distribusi logistik,” kata Dody.

Untuk menghadapi Nataru 2025/2026, Kementerian PU menyiagakan 85 personel di posko-posko Nataru, didukung 96 unit alat berat serta ribuan material penanganan darurat berupa agregat dan geobag.

Seluruh peralatan disiapkan guna mengantisipasi potensi kondisi darurat selama masa libur panjang.

Di sektor jalan tol, Kementerian PU memastikan seluruh ruas tol di Sumatera Utara telah kembali beroperasi normal. Ruas Tol Medan–Kualanamu–Tebing Tinggi yang sebelumnya menerapkan sistem contraflow ditargetkan kembali beroperasi penuh.

Ruas strategis lain seperti Tol Medan–Binjai, Medan–Pangkalan Brandan, Medan–Sinaksak, serta Tebing Tinggi–Kisaran juga dipastikan beroperasi optimal selama arus Nataru.

Sementara itu, sektor penyeberangan juga dipastikan siap melayani lonjakan mobilitas masyarakat. Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Heru Widodo, menegaskan komitmen ASDP dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan pengguna jasa.

“ASDP berkomitmen menghadirkan layanan penyeberangan yang andal dengan menempatkan keselamatan, empati, dan tanggung jawab sebagai fondasi utama pelayanan,” ujar Heru.

ASDP menyiapkan 222 kapal untuk melayani ratusan lintasan penyeberangan secara nasional serta mengoptimalkan sistem tiket digital Ferizy.

Dari sisi jalan tol di wilayah Jabodetabek dan Bandung, PT Jasa Marga melalui Jasamarga Metropolitan Tollroad menyiapkan langkah antisipatif menghadapi lonjakan kendaraan.

Senior General Manager Jasamarga Metropolitan Tollroad, Widiyatmiko Nursejati, menyampaikan bahwa rekayasa lalu lintas, peningkatan layanan transaksi, serta optimalisasi teknologi pemantauan telah disiapkan.

“Kami memastikan seluruh pekerjaan konstruksi diselesaikan sebelum periode libur serta melakukan observasi rutin untuk mengantisipasi potensi kerusakan jalan,” kata Widiyatmiko.

Dengan kesiapan infrastruktur lintas sektor tersebut, pemerintah optimistis arus Natal dan Tahun Baru dapat berjalan aman, lancar, dan terkendali di seluruh wilayah.

Kesiapan Nataru, Pemerintah Jamin BBM dan Pangan Aman

Jakata – Pemerintah memastikan kesiapan pasokan bahan bakar minyak (BBM), elpiji, listrik, dan pangan nasional dalam kondisi aman menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Jaminan ini diberikan di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat sekaligus upaya pemenuhan kebutuhan di sejumlah wilayah terdampak bencana.

PT Pertamina (Persero) menyatakan pasokan energi, termasuk BBM dan elpiji, berada pada level aman untuk menghadapi periode libur akhir tahun.

Corporate Secretary PT Pertamina, Arya Dwi Paramita, menegaskan bahwa stok energi telah disiapkan melalui kajian dan perhitungan matang.

“Untuk Nataru, kondisinya dalam stok yang aman,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa strategi penyediaan energi telah memperhitungkan potensi bencana alam, sehingga masyarakat diimbau tidak melakukan pembelian berlebihan.

“Kami sudah memperhitungkan pasokan energi sehingga masyarakat tidak perlu panic buying dan kami imbau membeli sesuai kebutuhan saja,” kata Arya.

Pertamina memastikan jaminan pasokan tersebut mencakup seluruh wilayah Indonesia, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Meski distribusi di daerah terdampak bencana masih menghadapi kendala akses, Pertamina bersama instansi terkait terus melakukan penyesuaian agar suplai tetap terjaga.

Dari sisi pemerintah, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, memastikan pasokan BBM, elpiji, dan listrik di berbagai wilayah, termasuk Jawa Barat dan sekitarnya, berada dalam kondisi aman.

“Pemerintah bersama BUMN energi telah melakukan berbagai langkah antisipatif guna menjaga kelancaran distribusi energi di tengah potensi lonjakan kebutuhan masyarakat selama momentum Natal 2025 dan Tahun Baru,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pasokan energi primer seperti BBM, batu bara, dan gas berada pada level aman dengan ketahanan rata-rata 17 hingga 20 hari.

Pemerintah juga memastikan kesiapan infrastruktur pendukung perjalanan Nataru, termasuk peningkatan layanan di jalan tol dan rest area, penambahan fasilitas Wifi, serta penambahan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan listrik.

Sementara itu, dari sektor pangan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan tidak akan memberi ruang bagi pelaku usaha yang menaikkan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Yang menaikkan harga, saya pastikan saya ‘vertigokan’. Percaya sama saya,” tegasnya.
Pemerintah memastikan stok pangan nasional berada pada level aman, dengan cadangan beras mencapai sekitar 3,7 juta ton dan diproyeksikan terus meningkat.

Sinergi Pengamanan Diperkuat, Papua Siap Rayakan Nataru dalam Suasana Damai

Jayapura — Menjelang puncak perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), Polda Papua dan Papua Barat Daya meningkatkan kesiapsiagaan serta memperkuat pengamanan guna menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tetap aman dan kondusif.

Di Papua, penguatan pengamanan dilakukan melalui Apel Serah Terima Unit Kecil Lengkap (UKL) 1 ke UKL 2 dalam rangka Operasi Lilin Cartenz-2025 yang digelar di Lapangan Apel Mapolda Papua, Kota Jayapura.

Kasatgas Preventif Operasi Lilin Cartenz-2025, Kompol R. Ahmad Hari Junianto, menyampaikan bahwa situasi kamtibmas di wilayah Papua dalam 24 jam terakhir terpantau aman dan terkendali. Meski demikian, ia menekankan seluruh personel tetap meningkatkan kewaspadaan dan monitoring di wilayah tugas masing-masing.

“Monitoring secara berkelanjutan harus tetap dilakukan di wilayah tugas masing-masing. Stabilitas yang ada saat ini adalah prioritas utama untuk menjamin kenyamanan masyarakat,” kata Kompol R. Ahmad Hari Junianto.

Ia menjelaskan, pengamanan rumah ibadah menjadi fokus utama Operasi Lilin Cartenz-2025 untuk memastikan umat Nasrani dapat melaksanakan ibadah Natal dengan aman dan khidmat. Berdasarkan atensi Direktorat Pengamanan Objek Vital, terdapat sekitar 26 lokasi tempat ibadah yang menjadi prioritas pengamanan.

“Pengamanan rumah ibadah harus menjadi prioritas utama. Hal ini diharapkan menjadi perhatian setiap personel yang menjalankan tugas,” tegasnya.

Kasubsatgas PAM Objek Vital dan Transportasi sekaligus Perwira Pengendali UKL 2, AKP Joko Prayogo, menambahkan bahwa strategi pengamanan dilaksanakan secara dinamis dan adaptif sesuai kondisi di lapangan.

“Kami menginstruksikan seluruh personel untuk bergerak secara dinamis dan menyesuaikan kondisi di lapangan,” ujarnya.

Pengamanan juga difokuskan pada objek vital transportasi seperti pelabuhan, terminal, dan bandara dengan dukungan sinergi lintas fungsi kepolisian.

“Sinergi antar-fungsi, baik dari Lalu Lintas, Intelijen, hingga Preventif, harus berjalan beriringan guna menutup ruang bagi potensi gangguan keamanan,” kata Joko.

Sementara itu, Polda Papua Barat Daya mengerahkan 793 personel gabungan dalam Operasi Lilin Dofior 2025 yang berlangsung selama 14 hari, mulai 20 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026.

Kapolda Papua Barat Daya (PBD) Brigjen Pol Gatot Haribowo menyebut pengamanan difokuskan pada titik-titik strategis, tempat ibadah, serta pusat aktivitas masyarakat.

“Oleh karena itu, kami akan melakukan pengawasan dan memberikan imbauan kepada masyarakat serta wisatawan untuk menghindari lokasi-lokasi tertentu yang dinilai berisiko. Ini bukan larangan, tetapi demi keselamatan bersama,” ujar Kapolda PBD.

Kapolda PBD juga berharap berbagai pihak bersinergi bersama kepolisian demi mewujudkan perayaan Natal dan Tahun Baru di Papua berjalan aman, lancar, dan kondusif. #

Sinergi Aparat, Pemerintah, dan Masyarakat Jadi Kunci Jaga Kondusivitas Papua Jelang Natal dan Tahun Baru

PAPUA – Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga kondusivitas keamanan di Tanah Papua. Komitmen bersama tersebut tercermin dalam kesiapan pengamanan terpadu yang digelar melalui Operasi Kepolisian Terpusat Lilin Cartenz-2025 sebagai upaya menghadirkan suasana aman, damai, dan nyaman bagi seluruh masyarakat.

Kesiapan pengamanan ditandai dengan Apel Gelar Pasukan yang dipimpin Wakil Kepala Kepolisian Daerah Papua, Brigjen Pol Faizal Ramadhani, di Lapangan Apel Mako Sat Brimob, Kotaraja, Kota Jayapura. Apel ini dihadiri unsur TNI, pemerintah daerah, instansi terkait, serta pemangku kepentingan lainnya, sebagai simbol kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga stabilitas keamanan menjelang momentum libur akhir tahun.

Dalam amanatnya, Brigjen Pol Faizal menegaskan bahwa Operasi Lilin Cartenz-2025 akan berlangsung selama 12 hari, mulai 20 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Operasi ini bertujuan memastikan seluruh rangkaian ibadah Natal dan perayaan Tahun Baru dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan kondusif, sekaligus mengantisipasi berbagai potensi kerawanan, termasuk peningkatan mobilitas masyarakat, gangguan kamtibmas, serta dampak cuaca ekstrem akibat musim hujan.

Ia menekankan bahwa keberhasilan pengamanan tidak hanya bergantung pada aparat, tetapi juga memerlukan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat. Menurutnya, kesadaran kolektif untuk menjaga keamanan lingkungan merupakan fondasi penting dalam menciptakan Papua yang damai dan harmonis.

“Operasi ini merupakan wujud kehadiran negara dalam memberikan rasa aman dan nyaman. Oleh karena itu, seluruh personel harus mengedepankan profesionalisme, pelayanan humanis, serta respons cepat, dengan tetap menjalin komunikasi yang baik bersama masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Cahyo Sukarnito, S.I.K., M.K.P. menyampaikan bahwa Operasi Lilin Cartenz-2025 melibatkan 2.150 personel gabungan dari Polri, TNI, dan instansi terkait. Personel tersebut disiagakan di 45 pos pengamanan dan pelayanan yang tersebar di seluruh wilayah Papua, meliputi bandara, pelabuhan, rumah ibadah, pusat perbelanjaan, serta lokasi wisata.

Selain pengamanan di pos-pos strategis, aparat keamanan juga mengintensifkan patroli proaktif dialogis. Patroli ini dilakukan sebagai langkah preventif dengan melibatkan pengelola objek vital, pengurus tempat ibadah, dan masyarakat sekitar, guna mendeteksi dini potensi gangguan serta memperkuat kesiapsiagaan bersama.

“Polri melaksanakan patroli proaktif dialogis untuk memastikan kesiapan pengamanan di seluruh objek yang menjadi pusat aktivitas masyarakat, khususnya tempat ibadah menjelang perayaan Natal,” ujar Kombes Pol Cahyo.

Melalui sinergi yang solid antara aparat keamanan, pemerintah, dan masyarakat, diharapkan seluruh rangkaian perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Papua dapat berlangsung aman, sejuk, dan penuh kedamaian. Kondusivitas keamanan bukan hanya tugas negara, tetapi tanggung jawab bersama demi Papua yang aman dan harmonis.

Menjaga Papua Tetap Kondusif Menyambut Natal dan Tahun Baru

Oleh : Yohanes Wandikbo )*

Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Papua kembali menunjukkan wajah damai yang menjadi fondasi utama keberlanjutan pembangunan nasional di Tanah Papua. Momentum Nataru bukan sekadar perayaan keagamaan dan pergantian tahun, tetapi juga menjadi etalase keberhasilan negara dalam menjaga stabilitas keamanan, merawat harmoni sosial, serta memastikan kehadiran pemerintah dirasakan hingga ke pelosok wilayah. Kondusivitas Papua pada periode ini mencerminkan sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat adat.

Situasi keamanan yang terjaga tidak hadir secara instan, melainkan lahir dari pendekatan yang konsisten dan berkelanjutan. Pendekatan humanis, dialogis, dan berbasis kearifan lokal terus dikedepankan sebagai strategi utama pemerintah. Hal ini tercermin dari keterlibatan aparat negara dalam aktivitas sosial dan budaya masyarakat, yang secara nyata memperkuat rasa saling percaya. Kehadiran Panglima Komando Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letjen TNI Bambang Trisnohadi dalam tradisi bakar batu di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, menjadi simbol kuat dari pendekatan tersebut. Melalui kegiatan budaya itu, terbangun pesan bahwa negara hadir bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Papua.

Tradisi bakar batu yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan mencerminkan kehidupan sosial masyarakat yang berjalan harmonis. Nilai kebersamaan, persaudaraan, dan rasa syukur yang terkandung dalam tradisi tersebut menjadi penopang utama stabilitas sosial. Filosofi bakar batu merepresentasikan karakter masyarakat Papua yang menjunjung tinggi kesetaraan dan solidaritas, sejalan dengan semangat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam konteks Nataru, tradisi ini tidak hanya bermakna kultural, tetapi juga berfungsi sebagai perekat sosial yang efektif dalam menjaga kedamaian.

Upaya menjaga kondusivitas Papua juga diperkuat melalui langkah-langkah preventif aparat keamanan. Kepolisian Daerah Papua meningkatkan kesiapsiagaan personel melalui Operasi Lilin Cartenz-2025 yang berfokus pada pengamanan rumah ibadah, objek vital, dan jalur transportasi. Kasatgas Preventif Operasi Lilin Cartenz-2025 Kompol R. Ahmad Hari Junianto menegaskan bahwa stabilitas kamtibmas menjadi prioritas utama agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dan aktivitas akhir tahun dengan aman dan nyaman. Pengamanan yang dilakukan secara berlapis dan berkelanjutan ini menunjukkan keseriusan negara dalam menjamin rasa aman bagi seluruh warga tanpa terkecuali.

Selain itu, pengamanan tidak bersifat statis, melainkan adaptif terhadap dinamika lapangan. Pendekatan ini ditekankan oleh Kasubsatgas PAM Objek Vital dan Transportasi sekaligus Perwira Pengendali UKL 2 AKP Joko Prayogo, yang menilai pentingnya sinergi lintas fungsi kepolisian dalam menutup setiap potensi gangguan keamanan. Dengan fokus pada pelabuhan, terminal, dan bandara, aparat memastikan mobilitas masyarakat selama Nataru berjalan lancar dan tertib. Kehadiran negara melalui Polri pada momentum ini menjadi jaminan bahwa perayaan keagamaan dan pergantian tahun dapat berlangsung secara damai.

Di tingkat daerah, komitmen menjaga kondusivitas juga ditunjukkan secara konkret. Pemerintah Kabupaten Manokwari menetapkan masa siaga pengamanan hingga awal Januari 2026 sebagai bentuk antisipasi meningkatnya aktivitas masyarakat. Bupati Manokwari Hermus Indoumenekankan bahwa pengamanan Nataru tidak hanya menyangkut aspek keamanan, tetapi juga kesiapan layanan publik, khususnya fasilitas kesehatan. Langkah ini mencerminkan pendekatan komprehensif pemerintah daerah dalam memastikan keselamatan dan kenyamanan masyarakat selama libur akhir tahun.

Koordinasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan pengamanan tersebut. Wakil Bupati Manokwari Mugiyono menilai komunikasi yang intensif antara pemerintah daerah, TNI, Polri, dan pemangku kepentingan lainnya mampu memastikan setiap kegiatan ibadah berjalan aman dan tertib. Kesiapsiagaan juga diperluas dengan mengantisipasi potensi bencana alam, mengingat faktor cuaca yang kerap menjadi tantangan di wilayah Papua Barat. Pendekatan antisipatif ini memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam melindungi masyarakat dari berbagai risiko.

Dukungan pengamanan turut diperkuat oleh jajaran TNI dan institusi lainnya. Peningkatan patroli di titik-titik rawan, kesiapan layanan kesehatan militer, hingga kesiapsiagaan lintas sektor menjadi bagian dari orkestrasi besar menjaga stabilitas wilayah. Semua langkah tersebut menunjukkan bahwa negara hadir secara utuh, tidak parsial, dalam mengawal ketenangan Papua selama Nataru.

Menjaga kondusivitas Papua menjelang Natal dan Tahun Baru pada akhirnya bukan hanya soal keamanan, tetapi juga tentang merawat kepercayaan dan harapan. Ketika masyarakat merasa aman, dihargai, dan dilibatkan, maka stabilitas akan tumbuh secara alami. Papua yang damai pada momentum Nataru menjadi bukti bahwa kebijakan pemerintah yang mengedepankan pendekatan humanis, sinergi lintas sektor, dan penghormatan terhadap budaya lokal berada di jalur yang tepat. Inilah fondasi kuat untuk menyongsong masa depan Papua yang semakin aman, sejahtera, dan bermartabat.

Keberhasilan menjaga Papua tetap aman dan kondusif menjelang Natal dan Tahun Baru menunjukkan bahwa stabilitas bukan hanya hasil pengamanan semata, melainkan buah dari kehadiran negara yang konsisten, adil, dan membumi. Ketika aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat berjalan seirama, ruang bagi provokasi dan gangguan keamanan semakin menyempit. Kondusivitas Papua pada momentum Nataru menjadi pesan kuat bahwa pendekatan persuasif, pelayanan publik yang siaga, serta penghormatan terhadap nilai-nilai lokal mampu membangun rasa aman yang berkelanjutan. Dengan fondasi ini, Papua tidak hanya siap merayakan Nataru secara damai, tetapi juga melangkah mantap menyongsong tahun baru dengan optimisme, persatuan, dan kepercayaan penuh kepada negara.

)* Penulis merupakan pengamat pembangunan Papua

Langkah Strategis Pemerintah Pastikan Perayaan Nataru di Papua Berjalan Aman

Oleh: Loa Murib

Langkah strategis pemerintah dalam memastikan perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Papua berjalan aman dan kondusif menunjukkan komitmen negara dalam menghadirkan rasa aman sekaligus menjaga harmoni sosial di wilayah timur Indonesia. Momentum Natarubukan sekadar perayaan keagamaan dan pergantian tahun, melainkan juga ujian kesiapannegara dalam mengelola stabilitas keamanan, pelayanan publik, serta toleransi antarumatberagama di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat. Papua, dengan karakter geografisdan sosial yang khas, membutuhkan pendekatan keamanan yang terukur, humanis, dan berbasis kearifan lokal, sebagaimana yang kini dijalankan pemerintah pusat dan daerahsecara terpadu.

Kondusivitas keamanan di Tanah Papua menjelang Nataru tercermin dari situasi sosialmasyarakat yang relatif stabil dan harmonis. Panglima Komando Gabungan WilayahPertahanan III, Letjen TNI Bambang Trisnohadi, menegaskan bahwa kondisi keamananPapua berada dalam keadaan aman dan terkendali. Hal tersebut tidak hanya diukur dari aspekpengamanan teritorial, tetapi juga dari kehidupan sosial masyarakat yang berjalan rukun. Kehadiran aparat TNI dalam kegiatan adat dan keagamaan, seperti tradisi bakar batu di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, menjadi simbol pendekatan persuasif dan kulturaldalam menjaga stabilitas. Tradisi tersebut dipandang sebagai refleksi nilai kebersamaan, persaudaraan, dan semangat persatuan yang mengakar kuat di tengah masyarakat Papua.

Pendekatan keamanan berbasis budaya ini memperlihatkan bahwa negara tidak hadir sematadengan kekuatan senjata, tetapi juga dengan empati dan penghormatan terhadap identitaslokal. Menurut Bambang Trisnohadi, tradisi bakar batu mengandung pesan kemanusiaanyang kuat tentang kesetaraan, kebersamaan, dan rasa syukur. Keterlibatan tokoh adat, tokohagama, serta masyarakat dalam kegiatan tersebut menjadi indikator bahwa situasi Papua menjelang Nataru berada dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan. Pendekatanseperti ini dinilai efektif dalam membangun kepercayaan publik dan mencegah potensigangguan keamanan berbasis kesalahpahaman sosial.

Di tingkat daerah, Pemerintah Kabupaten Manokwari mengambil langkah antisipatif denganmenetapkan masa siaga pengamanan Nataru hingga 4 Januari 2026. Bupati Manokwari, Hermus Indou, menekankan bahwa pengamanan Nataru tidak hanya berfokus pada aspekkeamanan semata, tetapi juga mencakup kesiapan pelayanan publik, khususnya layanankesehatan. Langkah ini mencerminkan pemahaman bahwa rasa aman masyarakat tidakterlepas dari jaminan akses layanan dasar yang optimal, terutama di tengah meningkatnyaaktivitas dan risiko kedaruratan selama libur panjang.

Koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam pengamanan Nataru di Papua Barat. WakilBupati Manokwari, Mugiyono, menegaskan pentingnya komunikasi intensif antarapemerintah daerah, aparat keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan agar setiap kegiatanibadah dan perayaan masyarakat dapat berlangsung aman dan lancar. Selain faktor keamanan, pemerintah daerah juga mewaspadai potensi gangguan alam seperti hujan deras dan banjir, sehingga langkah mitigasi bencana turut menjadi bagian dari strategi pengamanan Nataru.

Sinergi kuat juga ditunjukkan oleh jajaran TNI dan Polri. Komandan Kodim1801/Manokwari, Letkol Inf David Sutrisno Sirait, menyatakan kesiapan TNI AD dalammeningkatkan patroli di titik-titik rawan guna menjaga stabilitas wilayah. Dukungan serupadatang dari unsur TNI AL dan kejaksaan yang memastikan kesiapsiagaan personel, fasilitaskesehatan, serta layanan darurat. Pendekatan komprehensif ini menunjukkan bahwapengamanan Nataru dipahami sebagai tanggung jawab bersama lintas institusi, bukan sematatugas aparat keamanan.

Dari sisi kepolisian, Polda Papua Barat menggelar Operasi Lilin Mansinam 2025 denganmengerahkan 575 personel gabungan serta dukungan peralatan pengamanan yang memadai, termasuk untuk antisipasi ancaman di darat dan laut. Kapolda Papua Barat Irjen Pol Johnny E. Isir, bersama Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, memastikan kesiapan personeldan sarana prasarana melalui apel gelar pasukan. Operasi ini tidak hanya berorientasi padapenegakan hukum, tetapi juga pelayanan masyarakat, sebagaimana ditunjukkan denganpendirian pos pelayanan, pos pengamanan, dan pos terpadu di berbagai titik strategis.

Kabid Humas Polda Papua Barat, Kombes Pol Ignatius B. A. Prabowo, menjelaskan bahwapengamanan Nataru juga mencakup sterilisasi tempat ibadah sebelum pelaksanaan misa Natal, pengamanan arus transportasi, serta optimalisasi layanan aduan darurat melalui call center 110. Langkah ini memperlihatkan keseriusan aparat dalam menjamin keamanan ibadahdan memberikan respons cepat terhadap potensi gangguan.

Secara keseluruhan, langkah strategis pemerintah dalam memastikan perayaan Nataru di Papua berjalan aman merupakan cerminan hadirnya negara secara utuh di tengah masyarakat. Pendekatan kolaboratif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta elemenmasyarakat menjadi fondasi kuat dalam menjaga stabilitas keamanan dan keharmonisansosial. Dengan mengedepankan keamanan yang humanis, pelayanan publik yang siaga, sertapenghormatan terhadap nilai-nilai lokal, Papua menunjukkan bahwa perayaan Nataru dapatberlangsung damai, aman, dan penuh sukacita dalam bingkai persatuan dan kesatuannasional.

*Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur

Masyarakat Aceh Tangguh Hadapi Bencana, Tidak Bergantung pada Asing

Oleh: Cut Zahra )*

Masyarakat Aceh kembali memperlihatkan bagaimana ketangguhan sosial yang sangat nyata mereka miliki ketika banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di sana sejak akhir November hingga Desember 2025.

Warga langsung bergerak dengan sangat cepat dalam mengevakuasi keluarga mereka, kemudian juga membuka jalur penyelamatan darurat, serta membangun pusat-pusat bantuan berbasis komunitas di tengah serba keterbatasan akses dan cuaca ekstrem yang terus melanda.

Respons tersebut sekali lagi, semakin menegaskan bahwa ketangguhan Aceh bukan hanya sekadar reaksi sesaat belaka akibat tekanan keadaan, melainkan justru merupakan sebuah karakter kolektif yang telah terbentuk melalui adanya pengalaman yang panjang dalam menghadapi berbagai macam krisis yang pernah terjadi di wilayah tersebut.

Sejarah telah mencatat secara konkret bahwa Aceh sebagai wilayah yang sudah berkali-kali diuji oleh bencana, dan bukan hanya itu, namun juga pernah diuji oleh adanya konflik. Tragedi tsunami pada tahun 2004 silam menjadi titik balik penting yang membentuk kesadaran kolektif masyarakat tentang betapa pentingnya memiliki kesiapsiagaan dan kemandirian.

Dari pengalaman tersebut, masyarakat lantas belajar bahwa keselamatan dan pemulihan tidak selalu dapat menunggu bantuan dari pihak luar manapun, melainkan justru harus dimulai dari kekuatan lokal mereka sendiri terlebih dahulu. Pola tersebut kembali terlihat dalam bencana hidrometeorologi 2025, ketika warga memilih bertindak cepat demi menyelamatkan diri dan lingkungan sekitar.

Kearifan lokal menjadi fondasi penting dalam membangun ketangguhan tersebut. Tradisi Smong yang hidup di Simeulue terus diwariskan lintas generasi sebagai sistem peringatan dini berbasis budaya.

Pengetahuan tersebut mengajarkan masyarakat membaca tanda alam dan mengambil keputusan cepat sebelum bencana membesar. Di berbagai gampong, prinsip serupa berkembang melalui sistem peringatan berbasis komunitas, simulasi kebencanaan rutin, serta edukasi mitigasi di sekolah-sekolah, sehingga warga tidak lagi berada pada posisi pasif saat bencana datang.

Solidaritas sosial Aceh turut memperkuat kemampuan bertahan tersebut. Budaya gotong royong dan nilai-nilai keagamaan mendorong masyarakat saling membantu tanpa pamrih. Di banyak wilayah terdampak, warga mendirikan dapur umum secara swadaya, mengumpulkan bahan pangan dari lingkungan sekitar, serta memastikan kelompok rentan tetap mendapat perhatian. Modal sosial tersebut mempercepat pemulihan awal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bantuan asing.

Ketangguhan masyarakat Aceh juga tercermin dalam aspek ekonomi. Aktivitas perdagangan lokal dan UMKM perlahan kembali bergerak begitu kondisi memungkinkan. Pengalaman menghadapi krisis masa lalu membentuk kesadaran bahwa bantuan darurat bersifat sementara, sementara kemandirian ekonomi menjadi penopang utama keberlanjutan hidup.

Masyarakat memanfaatkan jejaring lokal, sektor pertanian, dan usaha kecil untuk menghidupkan kembali roda ekonomi, menunjukkan bahwa pemulihan dapat dilakukan dari bawah dengan kekuatan sendiri.

Sinergi antara masyarakat dan negara memperkuat daya lenting tersebut. Pemerintah Aceh menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat mobilisasi sumber daya, sementara koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Aceh memastikan proses evakuasi dan distribusi logistik berjalan efektif.

Fokus pembangunan pascabencana diarahkan pada perbaikan tanggul, normalisasi sungai, serta penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas dengan mengoptimalkan anggaran dan tenaga kerja dalam negeri.

Anggota Komisi II DPR RI Ujang Bey menilai pemerintah Indonesia telah melakukan perhitungan matang terkait kapasitas nasional dalam menangani bencana di Aceh tanpa campur tangan negara asing.

Penilaian tersebut didasarkan pada kesiapan sumber daya, koordinasi antarlembaga, serta kemampuan pemerintah bergerak cepat dan simultan menjawab kebutuhan masyarakat terdampak. Bey juga menekankan pentingnya komunikasi yang solid antara pemerintah pusat dan daerah agar tidak menimbulkan perbedaan persepsi di tengah masyarakat.

Pandangan tersebut sejalan dengan sikap Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk menangani bencana banjir dan longsor di Sumatera dengan kekuatan sendiri.

Pemerintah menghargai empati dan perhatian dari negara sahabat, namun tetap memprioritaskan kapasitas nasional dalam fase tanggap darurat dan pemulihan. Pendekatan tersebut mencerminkan kepercayaan diri negara sekaligus komitmen terhadap kemandirian.

Pemulihan sistem kelistrikan menjadi simbol penting kebangkitan Aceh pascabencana. PT PLN berhasil mengembalikan aliran listrik yang sempat lumpuh total selama lebih dari sepuluh hari.

Kembalinya listrik segera menghidupkan kembali aktivitas warga, fasilitas publik, serta pusat-pusat ekonomi lokal. Ketua DPRK Aceh Besar Abdul Muchti menilai pemulihan tersebut menjadi penggerak utama agar UMKM kembali beroperasi dan kehidupan sosial perlahan pulih. Perhatian Presiden Prabowo terhadap percepatan pemulihan Aceh juga dinilai sebagai bentuk nyata kehadiran negara.

Plt Sekda Aceh Selatan Diva Samudra Putra turut menegaskan bahwa menyala kembali listrik membawa dampak langsung terhadap pemulihan ekonomi dan stabilitas sosial masyarakat. PLN tetap menyiagakan personel selama 24 jam untuk menjaga pasokan serta memperkuat sistem kelistrikan agar lebih tangguh menghadapi potensi gangguan di masa mendatang.

Rangkaian peristiwa tersebut menegaskan bahwa masyarakat Aceh tidak hanya mampu bangkit, tetapi juga berdiri dengan martabat dan kemandirian. Ketangguhan sosial, kearifan lokal, kolaborasi komunitas, serta dukungan negara berpadu membentuk model penanganan bencana yang berdaulat. Aceh kembali membuktikan bahwa kekuatan utama menghadapi bencana bersumber dari dalam negeri, tanpa bergantung pada bantuan asing. (*)

*) Pengamat Sosial dan Kemanusiaan – Forum Keadilan Sosial Aceh Mandiri

Stok dan Harga Sembako Nasional Tetap Terkendali Jelang Nataru

Oleh: Citra Kurnia Khudori)*

Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), isu ketersediaan dan stabilitasharga sembako selalu menjadi perhatian publik. Momentum ini kerap diiringipeningkatan konsumsi masyarakat yang berpotensi memicu gejolak pasokan dan harga di pasar. Pemerintah menegaskan bahwa stok dan harga sembako nasionalberada dalam kondisi terkendali. Berbagai langkah antisipatif telah dilakukan untukmemastikan distribusi berjalan lancar dan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan jelang Nataru.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan, pasokan kebutuhan pokok dalamkondisi stabil menjelang masa hari besar Natal dan libur tahun baru. Selain itu, harga kebutuhan pokok juga relative terkendali dengan distribusi yang masihberjalan baik.

Pernyataan Budi tersebut bukan hanya sekadar klaim pemerintah, tetapi juga berdasarkan laporan dari pemerintah daerah, asosiasi, maupun produsen. Untukharga kebutuhan pokok, ia menyebut secara umum masih berada dalam rentangharga eceran tertinggi (HET) dan harga acuan pemerintah (HAP).

Meski demikian, menurutnya, beberapa komoditas hortikultura seperti bawang dan cabai perlu diwaspadai. Budi mengingatkan tetap perlu adanya antisipasi terhadapfaktor cuaca yang berpotensi ekstrem pada akhir tahun karena dapat mengganggukelancaran distribusi antardaerah. Bila hujan terjadi berkepanjangan, petani akanmengalami kesulitan panen.

Budi menambahkan, asosiasi telah menyampaikan bahwa produksi telur dan ayamdalam kondisi surplus, sehingga kebutuhan protein hewani menjelang Natarudinilainya cukup terkendali. Dari sisi energi, berdasarkan data laporan Kementerian ESDM dan BPH Migas, kebutuhan BBM untuk mendukung pergerakan logistik dan mobilitas masyarakat selama Nataru juga relatif lancar.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perum Bulog sudah menyatakan bahwaCadangan beras pemerintah (CBP) saat ini mencapai sekitar 3,8 juta ton. Sementara itu, Presidium Pinsar Petelur Nasional juga menyebutkan bahwaproduksi telur nasional berada pada kisaran 6,4 juta hingga 6,5 juta ton dan masihdalam kondisi surplus.

Dengan stok dan kemampuan produksi tersebut, Budi menilai ketahanan pangannasional cukup kuat untuk menghadapi lonjakan permintaan di Nataru. Asalkan, kata dia, distribusi wilayah berjalan efektif dan efisien.

Ia pun meminta agar pemerintah provinsi berkoordinasi dengan pemasok, distributor, dan Satgas Pangan apabila ditemukan indikasi lonjakan harga atau kekuranganpasokan di pasar. Budi juga mengingatkan tentang dekatnya waktu Nataru denganperayaan Imlek dan bulan puasa sehingga stabilitas pasokan dan distribusi panganperlu dijaga sejak dini.

Menanggapi arahan dari Mendag, kepala daerah mulai bergerak untuk memantaulangsung ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok, meninjau perkembanganharga, serta mengecek keamanan pangan yang beredar di pasar-pasar. Sebagaicontoh, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang sudah melakukan inspeksi mendadak(sidak) ke sejumlah pasar.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangsel, Bachtiar Priyambodo mengatakan, sidak pasar memberi gambaranlangsung kondisi lapangan sehingga kebijakan yang diambil sesuai kebutuhanmasyarakat.

Dari hasil pemantauan, ia menyebutkan, Sebagian besar harga bahan pokok masihrelatif stabil meskipun ada kenaikan di beberapa komoditas, seperti ayam. Namun iamenilai kenaikan tersebut masih wajar.

Dari hasil sidak ia menegaskan, stok beras dan kebutuhan pokok lainnya di Tangselcenderyng aman. Pemerintah daerah akan terus berkoordinasi dengan Badan Pangan dan pihak terkait guna mengendalikan harga agar tetap terjangkaumasyarakat.

Selain dari sisi Pemda, Satgas Pangan di daerah pun ikut turun langsung. SatgasPangan Polres Pasuruan bersama Disperindag Kabupaten Pasuruan melakukanpeningkatan pengawasan terhadap ketersediaan dan harga kebutuhan pokok jelangNataru.

Koordinator Satgas Pangan Kabupaten Pasuruan AKP Adimas Firmansyah menuturkan bahwa pengawalan stabilitas harga pangan menjadi perhatian seriusmenjelang meningkatnya kebutuhan masyarakat pada akhir tahun. Dari hasilpemantauan dan koordinasi, kondisi harga dan stok pangan relatif stabil dan amanuntuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Secara keseluruhan, pernyataan pemerintah pusat bukan hanya sekadar klaimkarena disertai dengan fakta di lapangan. Berbagai indikator menunjukkan bahwastok dan harga sembako nasional berada dalam kondisi yang relatif aman dan terkendali menjelang Nataru.

Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, serta aparat pengawasanmenjadi kunci menjaga stabilitas di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.Meski demikian, kewaspadaan tetap perlu dijaga, terutama terhadap komoditas yang rentan dipengaruhi faktor cuaca dan distribusi. Langkah antisipatif yang konsistendan respons cepat di lapangan akan menentukan keberlanjutan stabilitas panganhingga melewati periode hari besar.

Penguatan koordinasi dan pengawasan yang berkelanjutan akan berpengaruh pada terpeliharanya kepercayaan publik terhadap kemampuan negara menjagakebutuhan pokok. Stabilitas sembako bukan hanya soal angka ketersediaan, tetapijuga tentang hadirnya negara dalam menjamin rasa aman dan keterjangkauan bagimasyarakat.

)* Pemerhati Isu Sosial-Ekonomi