Sekolah Rakyat Jawab Penantian Jutaan Keluarga Miskin Tanah Air

Oleh: Fitra Rizal)*

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan dalam pidato kenegaraan pertamanya sejak dilantik sebagai Kepala Negara pada sidang MPR/DPR Jumat 15 Agustus 2025. Dari balik mimbar, ia menyampaikan kabar yang sejak lama ditunggu jutaan keluarga miskin: seratus Sekolah Rakyat telah berdiri dalam 299 hari pemerintahannya.

Langkah tersebut bukan sekadar pencapaian administratif. Kehadiran Sekolah Rakyat menjadi simbol bahwa negara hadir di tengah keluarga paling rentan dengan solusi nyata. Prabowo menekankan bahwa Sekolah Rakyat dirancang bukan hanya untuk memberikan akses belajar, tetapi juga menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang layak.

Setiap siswa berhak atas kasur, selimut, meja belajar, hingga komputer pribadi. Pesan yang ditegaskan sangat jelas: anak dari keluarga miskin pantas memperoleh kesempatan pendidikan dengan standar bermartabat.

Target yang dipatok pemerintah menggambarkan ambisi besar. Pada tahun depan, jumlah Sekolah Rakyat akan digandakan menjadi dua ratus, lalu ditingkatkan lagi menjadi tiga ratus dalam dua tahun mendatang.

Skala ekspansi tersebut menunjukkan tekad menjadikan pendidikan sebagai tangga sosial, agar anak-anak dari rumah tangga miskin tidak lagi terperangkap dalam lingkar kemiskinan yang diwariskan lintas generasi.

Sistem penerimaan siswa pun tidak sembarangan. Mereka dipilih melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang memuat kelompok masyarakat dengan desil 1 dan desil 2, yakni rumah tangga miskin ekstrem dan miskin.

Artinya, Sekolah Rakyat benar-benar ditujukan bagi 20 persen warga Indonesia dengan kondisi ekonomi paling tertekan. Melalui seleksi berbasis data, program tersebut memastikan ketepatan sasaran sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh mereka yang membutuhkan.

Presiden menekankan bahwa Sekolah Rakyat bukan hanya pembangunan gedung, melainkan proyek transformasi sosial. Siswa memperoleh pendidikan formal berasrama, sementara keluarganya didukung melalui renovasi rumah tidak layak huni dan bantuan sosial.

Setelah menamatkan sekolah, diharapkan mereka graduate dari jerat kemiskinan. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan bukan semata proses akademik, melainkan instrumen pembebasan sosial-ekonomi.

Landasan program ini kuat secara konstitusional. Implementasi Sekolah Rakyat merupakan bagian dari Asta Cita keempat, menjadikan pendidikan sebagai kunci pembebasan sosial. Dasarnya berpijak pada Pasal 28C dan Pasal 31 UUD 1945 serta UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam kerangka hukum tersebut, Sekolah Rakyat bukan sebagai eksperimen, melainkan kebijakan negara yang sahih dan strategis.

Peneliti vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, melihat peluang besar program ini dalam menekan angka putus sekolah yang masih jutaan jumlahnya. Berdasarkan data UNICEF, anak dari rumah tangga miskin memiliki risiko dua hingga tiga kali lebih tinggi untuk tidak bersekolah dibandingkan kelompok menengah.

Senada dengan itu, BPS mencatat ada lebih dari 4,16 juta anak di Indonesia yang tidak mengenyam pendidikan. Devie menilai, fokus Sekolah Rakyat pada anak dari desil 1 dan desil 2 tepat sasaran karena mengisi celah akses pendidikan yang selama ini menjadi batu sandungan keluarga miskin.

Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf memastikan bahwa 100 Sekolah Rakyat tahap pertama untuk jenjang SD hingga SMA telah beroperasi dengan total sebanyak 9.700 siswa. Pada September mendatang, pemerintah menargetkan tambahan 60 sekolah baru sehingga jumlah penerima manfaat mencapai 16 ribu anak.

Kementerian Sosial bersama kementerian dan lembaga lain terus mengonsolidasikan sarana serta prasarana agar operasional sekolah dapat berjalan dengan lebih optimal. Fasilitas yang disiapkan oleh pemerintah, yakni meliputi ruang belajar, asrama, perlengkapan pendidikan, hingga dukungan teknologi berupa laptop.

Pemerintah pun mengalokasikan anggaran pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. APBN 2026 mengamanatkan anggaran hingga senilai Rp757,8 triliun atau 20 persen dari total belanja negara untuk sektor pendidikan, termasuk bagi pendanaan program Sekolah Rakyat.

Sebagai informasi, bahwa angka tersebut menjadi alokasi terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Besarnya komitmen fiskal ini menunjukkan bagaimana keseriusan negara dalam menempatkan sektor pendidikan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.

Sekolah Rakyat jelas bukan hanya sekadar proyek pencitraan semata. Program tersebut sejatinya hadir sebagai jawaban yang konkret atas penantian sebanyak jutaan keluarga miskin yang selama puluhan tahun lamanya, terus terjebak dalam dilema biaya dan akses pendidikan.

Melalui desain berasrama, siswa tidak lagi terbebani ongkos transportasi atau keterbatasan fasilitas belajar di rumah. Mereka dididik dalam lingkungan yang terkontrol dan disiapkan menjadi generasi dengan kompetensi yang relevan bagi masa depan.

Dalam jangka panjang, Sekolah Rakyat berpotensi menjadi penentu arah baru pembangunan manusia Indonesia. Pendidikan berkualitas yang diberikan pada anak-anak keluarga miskin akan memutus rantai ketidaksetaraan sosial sekaligus memperbesar peluang tercapainya Indonesia Emas 2045.

Program tersebut ibarat mercusuar harapan di tengah gelombang ketidakpastian. Ketika akses pendidikan bermutu dijamin negara, maka jalan keluar dari kemiskinan terbuka lebar. Jutaan keluarga miskin tidak lagi sekadar bermimpi, melainkan memiliki keyakinan bahwa anak-anak mereka dapat menapaki tangga sosial menuju masa depan yang lebih layak.

Sekolah Rakyat telah menjawab penantian panjang. Kini, tantangannya adalah menjaga konsistensi, memastikan kualitas, dan memperluas jangkauan agar setiap anak Indonesia, tanpa terkecuali, benar-benar memiliki kesempatan yang setara untuk meraih masa depan. (*)

)* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik

Presiden Prabowo Pastikan Sekolah Rakyat Putus Rantai Kemiskinan Absolut

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menegaskan bagaimana komitmen kuat pemerintah di bawah kepemimpinannya dalam upaya untuk memutus mata rantai kemiskinan absolut masyarakat Indonesia melalui Program Sekolah Rakyat.

Program tersebut digagas untuk memberikan akses pendidikan yang lebih berkualitas bagi anak-anak dari keluarga berpenghasilan sangat rendah, terutama pada kelompok desil 1 dan desil 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

“Salah satu upaya kita untuk memutus rantai kemiskinan absolut adalah membentuk Sekolah Rakyat,” katanya.

“Kita sudah berhasil membangun dan membuka 100 Sekolah Rakyat,” lanjut Kepala Negara.

“Kita harapkan tahun depan menjadi 200. Tahun selanjutnya menjadi 300, dan seterusnya,” ujar Presiden Prabowo dalam pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR/DPR 2025 di Ruang Rapat Paripurna, Kompleks Parlemen, Jakarta.

Pemerintah ke depannya menargetkan terwujudnya pembangunan hingga sebanyak 300 Sekolah Rakyat yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia secara merata.

Seluruh siswa akan diasramakan dan mendapatkan pendidikan yang terjamin mutunya sehingga memiliki peluang untuk meraih masa depan yang lebih baik.

“Anak-anak yang orang tuanya miskin tidak perlu terus miskin. Ini yang kita upayakan dan kita kerjakan sekarang,” tegas Presiden Prabowo.

Mengenai salah satu program strategis pemerintah tersebut, Ketua MPR RI Ahmad Muzani memandang kehadiran Sekolah Rakyat sebagai langkah strategis untuk memastikan pemerataan pendidikan.

Menurutnya, inisiatif tersebut menjadi jalan keluar nyata agar anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak kehilangan kesempatan berkembang.

“Sekolah Rakyat adalah jawaban strategis bagi anak-anak kurang mampu yang selama ini sulit mengakses pendidikan berkualitas,” ucapnya.

“Sekolah Rakyat menjadi jalan keluar untuk membuka setiap anak bangsa untuk meraih masa depan yang lebih baik,” kata Ahmad Muzani.

Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf turut menegaskan bahwa program tersebut terus berkembang pesat.

Ia menyebutkan bahwa hingga Agustus 2025, Sekolah Rakyat telah hadir di 100 titik dan akan bertambah dalam waktu dekat.

“Per hari ini sudah 100 titik, nanti September juga ada tambahan 60 titik. Secara keseluruhan, ada 16 ribu siswa Sekolah Rakyat yang mulai pembelajaran di tahun 2025 sampai 2026,” kata Saifullah Yusuf.

Ia menambahkan, konsolidasi terus dilakukan untuk melengkapi sarana dan prasarana pendukung.

Upaya tersebut memastikan Sekolah Rakyat benar-benar menjadi instrumen efektif dalam memutus rantai kemiskinan absolut di Indonesia. (*)

Pemerintah Dorong Sekolah Rakyat sebagai Solusi Pendidikan Terjangkau

JAKARTA – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperluas pembangunan Sekolah Rakyat sebagai langkah pemerataan akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan hal tersebut usai meninjau Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) Margaguna, Jakarta Selatan.

Presiden Prabowo menjelaskan, pemerintah menargetkan pembangunan 100 sekolah rakyat baru setiap tahun. Dengan target tersebut, diharapkan dalam lima tahun akan berdiri 500 sekolah rakyat di wilayah dengan kondisi ekonomi terlemah hingga lapisan menengah bawah.

“Ini sedang kita rencanakan supaya semua anak-anak kita harus mengalami pendidikan dengan fasilitas yang bagus. Kita tidak boleh ketinggalan dengan bangsa lain. Itu cita-cita kita. Insyaallah kita akan sampai ke situ,” ujar Presiden.

Menurut Presiden Prabowo, pembangunan sekolah rakyat merupakan intervensi nyata agar anak-anak dari keluarga tidak mampu tidak putus sekolah. Ia menekankan sekolah rakyat bukan hanya tempat belajar, tetapi juga sarana membangkitkan kepercayaan diri dan memberikan pendidikan berkualitas.

“Anak-anak yang tadinya mungkin merasa rendah diri karena orang tuanya sangat susah hidupnya kita tarik keluar, kita beri lingkungan yang sebaik-baiknya supaya dia percaya diri dan dia dapat pendidikan yang terbaik yang bisa kita berikan,” ungkapnya.

Dalam kunjungannya, Presiden juga menilai fasilitas SRMA Margaguna telah memadai untuk mendukung kenyamanan siswa. Ia menyebut keberadaan asrama dan fasilitas pendidikan lain menjadi bukti peningkatan kualitas sekolah rakyat.

“Ya selalu ada harapan kita. Tapi ini sebetulnya kampus yang sangat baik ini. Saya kira untuk sekolah di Indonesia ini sudah sangat, sangat baik,” tambahnya.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, yang meninjau Sekolah Rakyat Tabanan. Hanif menekankan pentingnya pendidikan gratis yang ramah lingkungan dan inklusif sebagai bagian dari visi Presiden.

“Sekolah Rakyat adalah wujud perhatian Bapak Presiden kepada keluarga kurang mampu. Ini juga ruang strategis menanamkan kesadaran ekologis sejak dini,” katanya.

Hanif menambahkan, krisis iklim adalah tantangan besar abad ini sehingga pendidikan lingkungan harus menjadi bagian penting dari transformasi nasional.

“Pendidikan lingkungan harus jadi pilar transformasi nasional. Kita siapkan generasi tangguh dan sadar keberlanjutan,” imbuhnya.

Pesan Damai Tokoh Papua: Bersatu Jaga Keamanan, Bersama Bangun Masa Depan

Oleh: Maria Nawipa*

Seruan tokoh adat dan agama bergema sebagai energi positif yang menggerakkan masyarakat untuk bersatu menjaga keamanan, menolak provokasi, serta mendukung penuh program pembangunan pemerintah. Papua bukan lagi sekadar wilayah dengan dinamika sosial yang kompleks, melainkan bagian penting dari masa depan Indonesia yang damai dan sejahtera. Keteguhan para pemimpin lokal menegaskan bahwa kedamaian adalah fondasi utama, sementara pembangunan yang digulirkan pemerintah adalah jembatan menuju kesejahteraan. Pesan-pesan mereka menjadi pengingat positif yang menghidupkan semangat persatuan, menumbuhkan kepercayaan, dan mendorong masyarakat Papua untuk berdiri tegak bersama bangsa.

Salah satu tokoh lokal, Melkia Skeya, Kepala Suku Besar Provinsi Papua Tengah, menyampaikan imbauan yang lugas: agar masyarakat selalu waspada terhadap provokasi pihak ketiga, berhati-hati dalam mobilitas terutama di daerah rawan, dan secara kolektif menjaga Papua tetap aman, damai, dan sejahtera demi masa depan bersama. Seruan dirinya menggugah kesadaran bahwa keamanan bukan hanya urusan aparat, melainkan tanggung jawab semua elemen masyarakat.

Melengkapi panggilan itu, Pendeta Telius Wonda tampil sebagai suara penyejuk yang mengajak agar amarah tidak menjadi penggerak utama dalam merespons situasi sulit. Ia menekankan pentingnya menyelesaikan persoalan melalui jalur hukum, bukan aksi balas emosi atau main hakim sendiri, karena keadilan sejati hanya akan diperoleh dengan penghormatan terhadap aturan. Lebih jauh, ia menyerukan agar persaudaraan di Papua dirawat, sekat-sekat suku, agama, warna kulit, atau latar belakang apapun tidak dijadikan pemisah, melainkan sebagai kekayaan bersama. Doa dan solidaritas, menurutnya, menjadi benteng utama dalam menghadapi upaya adu domba, sementara cinta kasih harus lebih dikedepankan daripada kebencian.

Di samping suara-suara lokal tersebut, ada juga dukungan nyata dari pihak pemerintah dan tokoh masyarakat yang menguat. Penjabat Gubernur Papua, Agus Fatoni, dalam sebuah pertemuan dengan Forkopimda serta tokoh masyarakat dan agama, menyerukan agar perdamaian dan harmoni dijaga. Berbagai elemen masyarakat diajak berkoordinasi, mahasiswa, pemuda, hingga tokoh lintas profesi, untuk menahan diri dari tindakan provokatif yang bisa memperkeruh suasana. Seruan ini bukan hanya simbolik: enam poin konkret disepakati, termasuk permintaan agar pimpinan lembaga keagamaan menyampaikan pesan kesejukan, agar aparat pemerintah merespons dengan cara persuasif, humanis, dan dialogis.

Tak hanya pada tingkat keamanan, tokoh Papua juga menyatakan dukungan terhadap program pembangunan oleh pemerintah pusat. Dalam pemberitaan awal September 2025, sejumlah tokoh di Papua Pegunungan menyambut baik program pembangunan perumahan sebanyak 2.200 unit yang diluncurkan pemerintah pusat. Kehadiran Menteri Dalam Negeri beserta Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman menunjukkan komitmen yang serius dari pusat untuk mengatasi kebutuhan dasar masyarakat Papua. Dukungan ini bukan sekadar formalitas, melainkan satu bentuk kepercayaan bahwa pembangunan infrastruktur dan pemenuhan fasilitas dasar mampu membawa perubahan nyata bagi kesejahteraan masyarakat Papua.

Keterpaduan antara imbauan menjaga keamanan, seruan persatuan, dan dorongan bagi pembangunan adalah rangkaian pesan yang penting di Papua saat ini. Mereka mengingatkan bahwa pembangunan tidak akan berjalan lancar bila suasana sosial terganggu oleh konflik, provokasi, atau ketidakamanan. Investasi pemerintah dalam program-program seperti perumahan, pemenuhan gizi, atau infrastruktur dasar di kawasan pegunungan maupun terluar memang menjadi bukti nyata bahwa perhatian sedang diarahkan ke titik-titik yang paling membutuhkan. Dukungan masyarakat dan tokoh lokal terhadap program semacam itu sangat menentukan agar manfaatnya dapat dirasakan merata dan tidak hanya di pusat kota.

Namun, aspirasi keamanan dan program pembangunan ini juga menghadapi tantangan. Tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga agar suara-suara radikal, provokasi politik, atau kelompok-kelompok yang berpotensi memecah belah tidak mengambil alih narasi. Penting pula agar pemerintah tidak hanya membuat janji, tetapi menunjukkan kejelasan pelaksanaan, transparansi, dan keterlibatan masyarakat adat serta tokoh lokal dalam seluruh proses. Pendekatan hukum, dialog, dan kepekaan budaya harus dijadikan landasan dalam setiap kebijakan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat Papua.

Tokoh agama seperti Pdt. Telius Wonda mengingatkan bahwa sikap dewasa sangat dibutuhkan, bukan hanya oleh pemerintah dan lembaga negara, tapi juga oleh masyarakat. Ketika persaudaraan dan kasih menjadi prinsip yang diutamakan, masyarakat Papua akan lebih tahan terhadap provokasi luar yang berniat memecah belah. Dan ketika doa, solidaritas, dan rasa tanggung jawab bersama dihidupkan, Papua dapat menjadi ruang hidup yang damai, aman, dan produktif — bukan ruang konflik yang merugikan anak-cucu kita.

Kesimpulannya, pernyataan para tokoh—adat, agama, dan masyarakat—untuk menjaga keamanan sambil mendukung program pemerintah bukanlah sekadar retorika. Ia memainkan peran vital dalam menjaga stabilitas sosial, merawat persatuan, dan membuka ruang bagi pembangunan yang inklusif. Untuk itu, semua pihak, dari pemerintah pusat hingga warga kampung terpencil, memiliki peran: aparat keamanan untuk menjalankan tugasnya dengan hati nurani dan menghormati hukum; pemerintah untuk menyampaikan kebijakan secara transparan dan adil; masyarakat adat dan pemuka agama untuk menjadi penghubung dan penjernih di wilayahnya; dan seluruh masyarakat Papua untuk menolak kekerasan, mengutamakan dialog dan menghargai perbedaan. Hanya dengan kebersamaan itulah Papua bisa tumbuh dalam damai dan sejahtera.

Tokoh Adat Serukan Penolakan Aksi Anarkis, Jaga Papua Tetap Damai

PAPUA- Papua kembali mendapat perhatian serius dari tokoh adat yang menyerukan pentingnya menjaga kedamaian dan menolak aksi anarkis. Suara kearifan lokal ini menjadi pengingat agar masyarakat tidak terjebak pada provokasi maupun hoaks yang berpotensi merusak ketenteraman dan menghambat pembangunan di daerah.

Benyamin Hanau, Kepala Suku Moni Kabupaten Mimika sekaligus Kepala Badan Musyawarah Kampung Mimika Gunung, menekankan bahwa masyarakat harus bijak dalam menyikapi berbagai isu yang berkembang, terutama yang berasal dari media sosial. Ia menegaskan, peristiwa kericuhan seperti yang terjadi di Kabupaten Yalimo tidak boleh terulang kembali di daerah lain.

“Masyarakat jangan terpengaruh hoaks dan provokasi yang berakibat kericuhan seperti yang terjadi di Kabupaten Yalimo,” tegas Benyamin Hanau.

Tokoh adat ini juga menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat, khususnya Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai telah memberikan banyak kontribusi pembangunan di Mimika. Menurutnya, pembangunan yang sudah dirasakan masyarakat harus dijaga dengan tekad bersama untuk mendukung jalannya pemerintahan.

“Terima kasih Pemerintah Pusat, Khususnya Presiden Prabowo, karena telah menyelesaikan berbagai pembangunan di sini dan kami bertekad mendukung serta mengawal pemerintahan,” pungkas Benyamin Hanau.

Dari wilayah lain, suara yang sama juga datang dari Dinanus Wakerwa, Kepala Suku dari Distrik Gome Kabupaten Puncak. Ia mengingatkan masyarakat di wilayahnya agar tetap tenang dan tidak terjebak oleh isu menyesatkan. Baginya, stabilitas adalah syarat utama agar kehidupan masyarakat bisa berjalan normal dan pembangunan terus berlanjut.

“Distrik Gome aman, tentram, dan damai serta jangan terpengaruh berita negatif dari sosial media terkait kerusuhan Yalimo agar kegiatan pembangunan dan aktivitas masyarakat berjalan lancar,” ujar Dinanus Wakerwa.

Imbauan yang datang dari tokoh adat ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif di tingkat lokal untuk menjaga Papua tetap damai. Suara dari para pemimpin adat tidak hanya berperan dalam meredam potensi konflik, tetapi juga menjadi perekat persatuan yang memperkuat sendi-sendi sosial di tengah masyarakat.

Dengan tegasnya tokoh adat berdiri di garis depan menyerukan perdamaian, pesan ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat positif bagi seluruh lapisan masyarakat. Dukungan terhadap pemerintah pusat serta penolakan terhadap provokasi anarkis menjadi penanda bahwa Papua sedang menapaki jalan menuju masa depan yang lebih stabil dan sejahtera.

Pemerintah Pastikan MBG Layak Konsumsi dengan Prosedur Higienis Modern

JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan pemerintah pusat terus diperkuat kualitasnya. Tidak hanya menyasar perluasan distribusi ke berbagai daerah, pemerintah juga memastikan makanan yang diterima pelajar terjamin gizi dan higienitasnya melalui prosedur modern.

Di Kalimantan Timur, Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Kaltim bersama Balai Besar POM Balikpapan menggelar Rapat Kerja Teknis (Rakernis) guna membahas kesiapsiagaan food safety dalam mengawal program MBG.

Kapolda Kaltim, Irjen Pol Endar Priantoro mengungkapkan Biddokkes bersama BPOM membantu dari perspektif kesehatan dan gizi. menegaskan pentingnya pengawasan berlapis agar makanan yang disajikan memenuhi standar kesehatan.

“Kabiddokkes sudah meneliti bagaimana kualitas makanan dari sisi higienis dan kandungan gizinya, dan hasilnya sudah baik untuk diterapkan,” ujar Endar.

Hal senada disampaikan Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Pertama BPOM Balikpapan, Nitra Wahyuningsih. Ia menjelaskan pengawasan dilakukan menyeluruh, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, pengemasan hingga distribusi makanan ke sekolah.

“Layanan SPPG di Balikpapan masih terbatas karena terkendala izin layak operasi. Beberapa SPPG masih dalam proses perizinan untuk memenuhi kebutuhan program MBG secara lebih luas,” ucap Nitra.

Manfaat MBG juga dirasakan nyata di Kabupaten Lebak, Banten. Berdasarkan data Dinas Pendidikan setempat, sebanyak 225.055 siswa mulai dari PAUD, SD hingga SMP telah menerima manfaat program tersebut. Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Maman Suryaman, menyebut program ini mampu meningkatkan motivasi belajar siswa sekaligus membantu mengendalikan kemiskinan.

“Luar biasa manfaatnya, selain meningkatkan kecerdasan juga semangat belajar. Kami minta pengawasan lebih ketat dengan melibatkan ahli gizi nasional agar kualitas makanan tetap higienis,” kata Maman.

Di Pringsewu, Lampung, dapur umum SPPG Sedulur Sewu memastikan setiap makanan diolah sesuai SOP. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Mad Khotib, menjelaskan seluruh pekerja rutin mengikuti briefing sebelum bertugas agar standar higienitas tetap terjaga.

“Menu berganti setiap hari dengan bahan segar. Kebersihan selalu diprioritaskan,” jelasnya.

Program MBG terbukti tidak hanya mengisi perut siswa, tetapi juga membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini. Dengan pengawasan ketat serta prosedur higienis modern, pemerintah optimistis MBG akan melahirkan generasi cerdas, sehat, dan kuat untuk masa depan bangsa.

(*/rls)

Presiden Prabowo Dorong Pembangunan 500 Sekolah Rakyat di Seluruh Indonesia

Oleh : Febri Ramadhan )*

Pembangunan 500 Sekolah Rakyat yang dicanangkan Presiden Prabowo merupakan langkah besar yang harus dipandang bukan sekadar program pendidikan, tetapi juga sebuah gerakan sosial untuk memutus rantai kemiskinan. Rencana ini layak mendapat dukungan penuh dari seluruh pihak, karena pendidikan adalah pintu utama bagi anak-anak bangsa untuk keluar dari belenggu keterbatasan.

Presiden Prabowo menegaskan pemerintah akan menambah pembangunan sekolah rakyat secara bertahap dengan target 100 sekolah baru setiap tahun, sehingga dalam lima tahun diharapkan berdiri 500 sekolah rakyat di seluruh Indonesia. Program ini diarahkan untuk menjangkau kantong-kantong masyarakat miskin agar anak-anak mereka mendapatkan akses pendidikan yang layak.

Presiden juga menekankan rencana agar program ini tidak hanya terbatas pada kelompok desil 1 dan 2, tetapi juga mencakup desil 3, 4, dan 5, sehingga seluruh anak Indonesia bisa merasakan pendidikan berkualitas. Menurutnya, bangsa ini tidak boleh ketinggalan dari negara lain, dan salah satu cara mencapainya adalah memastikan setiap anak memperoleh pendidikan terbaik yang mampu membangun rasa percaya diri.

Presiden menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat diharapkan menjadi tempat yang menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak dari keluarga kurang mampu, sekaligus memberi mereka pendidikan dengan fasilitas terbaik. Hal ini penting agar generasi muda tidak tertinggal dalam persaingan global. Presiden mengingatkan bahwa anak-anak yang semula minder karena kondisi ekonomi keluarganya harus diberi lingkungan belajar yang mendorong mereka untuk berani bermimpi dan meraih cita-cita.

Dalam kunjungannya ke Sekolah Rakyat Menengah Atas Margaguna, Jakarta Selatan, Presiden menilai fasilitas yang tersedia sudah sangat baik, mulai dari asrama hingga sarana penunjang pembelajaran. Menurutnya, sekolah tersebut bisa menjadi contoh nyata peningkatan kualitas pendidikan nasional.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menambahkan bahwa Presiden Prabowo memiliki target jelas untuk siswa Sekolah Rakyat. Para siswa diharapkan menjadi cerdas, memiliki karakter kebangsaan dan keagamaan, serta dibekali keterampilan praktis. Agus Jabo menjelaskan bahwa lulusan SMA Sekolah Rakyat yang melanjutkan kuliah akan tetap mendapatkan pembekalan keterampilan agar mereka siap bekerja dan membantu orang tua.

Ia menegaskan bahwa hilirisasi pendidikan harus menjamin setiap lulusan memiliki ilmu sesuai kebutuhan zaman, termasuk keterampilan teknologi informasi, penguasaan bahasa, serta kemampuan praktis yang relevan. Dengan demikian, lulusan sekolah rakyat bisa mandiri secara ekonomi sejak dini.

Dalam Dialog Perspektif Sekolah Rakyat Harapan Baru di Jakarta, Agus Jabo menekankan bahwa setelah lulus para siswa memiliki dua pilihan, yaitu melanjutkan pendidikan tinggi atau langsung bekerja. Pemerintah bahkan telah menjajaki kerja sama dengan perguruan tinggi untuk memberikan jalur kuliah bagi lulusan sekolah rakyat.

Bupati dan wali kota juga menyediakan program beasiswa agar anak-anak yang ingin melanjutkan studi bisa melakukannya tanpa beban biaya. Selain itu, Presiden Prabowo menginstruksikan agar orang tua siswa juga diberdayakan, termasuk memperbaiki rumah yang tidak layak huni agar mereka bisa mendukung pendidikan anak-anaknya dengan lebih baik.

Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama 6 Jakarta, Regut Sutrasto menuturkan bahwa pola kegiatan siswa diatur dengan ketat, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur, sehingga pendidikan karakter dapat berjalan optimal. Bahwa sekolah berasrama memberi kesempatan lebih luas bagi guru untuk membimbing anak-anak. Selain kegiatan belajar, siswa juga bisa mengikuti ekstrakurikuler seperti pencak silat, menari, desain grafis, hingga olahraga futsal. Semua ini dirancang untuk membentuk fisik dan mental yang kuat.

Regut menegaskan bahwa kurikulum mereka bertujuan mengubah rasa rendah diri menjadi kepercayaan diri, sekaligus menggali potensi setiap anak melalui program pemetaan bakat seperti DNA talent mapping.

Program ini mendapatkan dukungan dari berbagai daerah, termasuk Pemerintah Kota Tanjungpinang. Wali Kota Lis Darmansyah mengungkapkan bahwa penerimaan siswa Sekolah Rakyat di wilayahnya telah mencapai kuota penuh. Kuota SD dengan dua rombongan belajar berjumlah 50 siswa, sedangkan SMP dan SMA masing-masing menerima 25 siswa, sehingga total seluruh jenjang 100 siswa.

Lis menegaskan bahwa Sekolah Rakyat di Tanjungpinang adalah sekolah negeri berasrama pertama yang benar-benar diperuntukkan bagi masyarakat miskin. Sistem boarding school memungkinkan anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan pendidikan, tempat tinggal, konsumsi, perlengkapan belajar, hingga perawatan kesehatan secara gratis. Menurut Lis, hal ini akan memutus rantai kemiskinan sekaligus memberi kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk meraih masa depan.

Sekretaris Dinas Sosial Provinsi Kepulauan Riau Yeni menambahkan bahwa Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah pusat yang ditargetkan hadir di setiap kabupaten dan kota. Metode pendidikannya memadukan standar nasional dengan penguatan karakter, keterampilan, kewirausahaan, digitalisasi, serta penggunaan Learning Management System (LMS). Setiap siswa juga akan mendapatkan laptop gratis untuk mendukung proses pembelajaran. Dengan model pendidikan ini, anak-anak diharapkan mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai moral.

Upaya pemerintah melalui pembangunan 500 Sekolah Rakyat harus kita sambut dengan optimisme. Program ini bukan hanya tentang menyediakan sekolah, tetapi juga menciptakan ekosistem pendidikan yang memerdekakan dan memberdayakan. Jika seluruh elemen masyarakat mendukung, bukan mustahil generasi mendatang akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman. Mari kita dukung bersama agar semua anak Indonesia, tanpa terkecuali, mendapatkan hak pendidikan yang layak dan berkualitas.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Pemerintah Pastikan MBG Higienis dan Bebas Kontaminasi

Oleh : Rivka Mayangsari*)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program unggulan pemerintah untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan makanan yang sehat, aman, dan bernutrisi. Kehadiran program ini menjadi bagian dari upaya besar membangun generasi emas yang kuat secara fisik maupun mental. Meski sempat beredar isu simpang siur terkait keracunan makanan, pemerintah dengan tegas memastikan bahwa pelaksanaan MBG selalu memenuhi standar higienitas dan keamanan. Menanggapi hal itu, pemerintah menegaskan bahwa seluruh proses dalam program MBG dilakukan dengan mengedepankan aspek higienitas, keamanan pangan, serta prosedur ketat yang terstandar.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menekankan bahwa pemerintah telah menyiapkan antisipasi matang untuk mencegah terjadinya kasus keracunan. Ia menjelaskan bahwa salah satu bentuk antisipasi tersebut adalah pembukaan dapur MBG yang benar-benar bersih dan memenuhi standar higienis. Menurut Dante, dirinya bahkan turun langsung mengunjungi sejumlah dapur MBG untuk memastikan kualitasnya.

Ia menegaskan bahwa kunci utama pencegahan keracunan adalah menjaga kebersihan, memastikan makanan higienis, dan menerapkan standardisasi pengolahan yang tepat. Lebih jauh, ia menekankan bahwa MBG tidak sekadar memberikan makanan kepada anak-anak, melainkan juga membawa misi pendidikan gizi agar mereka terbiasa menerapkan pola makan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Dante, kualitas makanan yang disajikan selalu diupayakan agar segar, higienis, dan aman untuk dikonsumsi, sehingga potensi keracunan bisa ditekan semaksimal mungkin. Ia juga menambahkan bahwa dalam sejumlah kasus, dugaan keracunan sebenarnya berasal dari alergi individu, yang oleh sebagian pihak sempat keliru dipersepsikan sebagai keracunan makanan, dan hal ini sudah diluruskan melalui klarifikasi resmi.

Komitmen terhadap standar keamanan pangan juga ditegaskan oleh Kepala SPPG Sedulur Sewu, Mad Khotib. Ia menyampaikan bahwa pihaknya selalu bekerja sesuai dengan prosedur operasional standar (SOP) yang berlaku. Dari proses persiapan dapur hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat, semua tahapannya dipantau dengan cermat dan terukur.

Setiap hari, sebelum memulai pekerjaan, seluruh pekerja dapur mengikuti briefing terlebih dahulu untuk memastikan setiap langkah berjalan sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing. Hal ini dilakukan demi menjaga konsistensi dan kualitas layanan. Khotib menambahkan bahwa menu makanan dalam program MBG selalu berganti setiap harinya, dengan bahan-bahan yang higienis dan terjaga kebersihannya. Dengan begitu, penerima manfaat dapat menikmati makanan yang bervariasi sekaligus sehat, sementara kualitas dan keamanan tetap menjadi prioritas utama.

Hal senada juga disampaikan Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Palembang, Nurya Hartika. Ia menegaskan bahwa program MBG merupakan bentuk ikhtiar pemerintah untuk memastikan masyarakat, terutama anak-anak sekolah, memperoleh makanan bergizi dan aman. Menurutnya, standar keamanan pangan dalam program ini merupakan hal yang mutlak dan tidak bisa ditawar. Karena itu, setiap pengelola dapur wajib melakukan pembenahan menyeluruh agar makanan yang disajikan benar-benar layak konsumsi.

Nurya menjelaskan bahwa langkah pembenahan tidak hanya sebatas formalitas, melainkan bentuk keseriusan pemerintah untuk memastikan bahwa makanan yang didistribusikan kepada masyarakat bebas dari risiko kesehatan. Satgas MG OKI bahkan ikut menekankan pentingnya upaya nyata dalam hal ini, mulai dari tata kelola dapur, standardisasi proses produksi pangan, hingga sistem pengelolaan limbah. Semua aspek tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan program MBG dalam jangka panjang.

Sebagai bagian dari pengawasan berkelanjutan, dapur MBG Desa Menang Raya dijadikan contoh penerapan prosedur ketat. Dapur tersebut hanya diperbolehkan beroperasi kembali setelah memperoleh sertifikat laik hygiene sanitasi dari pihak berwenang. Sertifikat ini menjadi bentuk jaminan bahwa dapur telah memenuhi seluruh persyaratan kebersihan, kesehatan, dan kelayakan dalam mengolah makanan.

Selain itu, pendampingan teknis juga diberikan kepada pengelola dapur agar mereka mampu memahami dengan baik prosedur produksi pangan sesuai standar, serta dapat menjaga kebersihan dan higienitas di setiap lini operasional. Dengan pendampingan tersebut, pemerintah berharap dapur MBG tidak hanya beroperasi sementara, tetapi mampu menjaga kualitasnya secara konsisten dan berkelanjutan.

Langkah-langkah evaluasi, pembenahan, dan pendampingan yang dilakukan pemerintah membuktikan bahwa program MBG tidak hanya berorientasi pada jumlah makanan yang diberikan, tetapi juga pada kualitas dan keamanan pangan yang diterima masyarakat. Dengan demikian, tujuan utama program, yaitu meningkatkan gizi dan kesehatan masyarakat, terutama generasi muda, dapat tercapai secara optimal.

Melalui komitmen yang kuat dari pemerintah, pengawasan ketat dari lembaga terkait, serta dukungan masyarakat, program MBG diharapkan mampu menjadi instrumen penting dalam membentuk generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi. Di sisi lain, klarifikasi yang tegas mengenai isu keracunan juga menjadi bukti transparansi pemerintah dalam menjaga kepercayaan publik.

Pada akhirnya, program MBG bukan sekadar program distribusi makanan, melainkan sebuah gerakan besar untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan memastikan bahwa setiap makanan yang disajikan higienis, bergizi, dan bebas kontaminasi, pemerintah menunjukkan keseriusannya dalam melindungi kesehatan rakyat dan membangun masa depan bangsa yang lebih kuat.

*) Pemerhati Kesehatan Masyarakat

Pemerintah Pastikan MBG Tersaji Bersih Higienis dan Aman Dikonsumsi

Oleh : Gavin Asadit )*

Pemerintah menyatakan komitmennya penuh untuk memastikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersaji dalam kondisi yang bersih, higienis, dan aman dikonsumsi oleh seluruh penerima manfaat. Sejak peluncuran nasional MBG pada 6 Januari 2025 sebagai bagian dari strategi nasional memperbaiki status gizi dan mencegah stunting, pemerintah menempatkan aspek keamanan pangan dan mutu gizi sebagai prioritas utama agar program ini tidak hanya menyediakan kuantitas makanan, tetapi juga kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk menjamin higienitas dan keselamatan pangan, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menerapkan kebijakan sertifikasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengacu pada standar sanitasi, higienis, dan sistem Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa sertifikasi ini adalah upaya memastikan makanan yang diberikan “bukan hanya gratis, tetapi juga aman dan bermutu tinggi.” Pemerintah menegaskan bahwa setiap SPPG akan dievaluasi, diklasifikasikan, dan dibina sesuai kategori mutu sehingga proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, dan waktu penyajian memenuhi standar keselamatan pangan nasional.

Dari sisi pengawasan dan pelaksanaan, pemerintah pusat mendorong keterlibatan pemerintah daerah, aparat terkait, serta mekanisme verifikasi berlapis. Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, menekankan bahwa aspek higienis mesti dipatuhi secara ketat termasuk ketepatan waktu penyajian, prosedur pengolahan, serta keterlibatan supplier lokal sehingga MBG juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui sumber pangan dan tenaga kerja lokal. Pernyataan ini sejalan dengan upaya menempatkan transparansi dan profesionalisme sebagai prinsip pengelolaan program di tingkat daerah dan satuan pelaksana.

Pemerintah juga memperkuat pengawasan dengan menyusun pedoman teknis dan standar operasional prosedur yang wajib dipedomani SPPG, termasuk pelatihan sanitasi untuk tenaga penyaji, pengecekan kualitas bahan baku, dan catatan rantai distribusi. Selain itu, BGN bekerja sama dengan Komite Akreditasi Nasional (KAN) dan instansi terkait untuk menyelaraskan mekanisme audit guna memastikan praktik HACCP benar-benar diterapkan di lapangan. Langkah-langkah ini dimaksudkan untuk meminimalkan risiko kontaminasi biologis, kimiawi, maupun fisik yang dapat membahayakan kesehatan penerima manfaat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.

Dukungan tokoh nasional turut memperkuat kepercayaan publik terhadap program MBG. Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), Wakil Ketua MPR RI, menilai MBG merupakan langkah strategis dalam memperbaiki literasi kesehatan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Menurutnya, jaminan kebersihan dan higienis makanan adalah fondasi utama agar program benar-benar memberi dampak nyata bagi masa depan anak bangsa. Pemerintah pun memanfaatkan dukungan tokoh-tokoh seperti Ibas untuk menyosialisasikan standar higienis dan praktik aman, sehingga pesan keselamatan pangan mendapat ruang publik yang luas.

Dalam praktik operasional, pemerintah mencatat peningkatan cakupan layanan dan pembentukan SPPG di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya mempercepat akses. Hingga pertengahan tahun 2025 pemerintah melaporkan penambahan ratusan hingga ribuan SPPG yang tersebar di banyak provinsi, dengan target jangka menengah mencapai puluhan ribu SPPG untuk menjangkau puluhan juta penerima manfaat. Pencapaian jangkauan ini diiringi dengan program pendampingan teknis termasuk audit mutu, pelatihan kebersihan pangan, dan pembinaan pemasok lokal sebagai mitigasi risiko yang mungkin muncul pada tahap skala besar.

Pemerintah juga menempatkan transparansi pengadaan dan distribusi sebagai prinsip anti-korupsi agar alokasi anggaran dan pemilihan mitra pelaksana dapat dipertanggungjawabkan. Mekanisme verifikasi calon mitra SPPG dan penerapan sistem audit bertujuan mencegah pelanggaran prosedur pengadaan, serta memastikan nasi, lauk, sayur, dan buah yang disajikan memenuhi syarat gizi dan keamanan. Selain itu, pemerintah membuka kanal pengaduan dan pelaporan jika ditemukan indikasi pelanggaran kualitas atau praktik tidak higienis, sehingga respons cepat dapat dilakukan dan potensi keracunan massal dapat diminimalkan.

Sebagai penguat narasi pemerintah, kementerian terkait dan lembaga mitra terus mengedukasi masyarakat tentang peran keluarga, sekolah, dan komunitas dalam menjaga rantai keamanan makanan: dari pemilihan bahan baku lokal yang layak, praktik penyimpanan dingin bila diperlukan, hingga kebersihan saat penyajian di sekolah. Langkah kolaboratif ini bertujuan menjadikan MBG bukan sekadar program konsumsi sekali jadi, melainkan bagian dari pembentukan budaya makan bergizi dan aman yang berkelanjutan.

Pemerintah mengakui tantangan dalam pelaksanaan skala besar termasuk risiko kontaminasi jika SOP tidak dipatuhi namun menegaskan bahwa kombinasi sertifikasi SPPG, audit HACCP, pengawasan daerah, keterlibatan tokoh nasional, serta mekanisme transparansi akan menjadi garis pertahanan utama untuk memastikan MBG tetap bersih, higienis, dan aman dikonsumsi. Pemerintah mengajak seluruh pemangku kepentingan dari kepala daerah, operator SPPG, tenaga kesehatan sekolah, hingga orang tua murid untuk aktif mengawasi dan ikut menjaga kualitas program sehingga tujuan utama meningkatkan kesehatan dan potensi anak Indonesia dapat tercapai.

Dengan langkah-langkah sistemik tersebut, pemerintah menegaskan bahwa MBG bukan hanya soal memberikan makanan gratis, tetapi memberikan hak anak dan kelompok rentan atas makanan yang aman, bergizi, dan bermutu sebuah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia dan ketahanan pangan bangsa.

)* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

Pemerintah Pastikan Perlindungan HAM dan Demokrasi Sesuai Aspirasi 17+8

Oleh: Bara Winatha )*

Perlindungan HAM bukan sekadar wacana normatif, melainkan amanat konstitusi yang harus dipenuhi oleh sebuah negara. Sejalan dengan Aspirasi 17+8, pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan sipil dan penegakan hukum. Aspirasi ini menekankan pentingnya melindungi hak-hak dasar warga negara, terutama dalam situasi sosial politik yang dinamis, tanpa mengorbankan stabilitas nasional dan keamanan publik.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Indonesia, Yusril Ihza Mahendra, mengatakan bahwa pemerintah memastikan semua langkah penanganan situasi nasional dilakukan dalam koridor hukum serta menjunjung tinggi prinsip HAM. Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan agar aparat keamanan bersikap tegas hanya terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan ruang demokrasi untuk melakukan tindak kejahatan, seperti penghasutan, perusakan fasilitas umum, hingga pembakaran. Demonstrasi damai tetap dilindungi sepenuhnya, tetapi aksi kriminal tidak boleh dibiarkan karena dapat merusak sendi-sendi kehidupan demokrasi. Penegasan ini sekaligus menutup ruang bagi pihak yang berusaha mendistorsi penegakan hukum dengan dalih kebebasan berpendapat.

Sikap pemerintah yang disampaikan melalui Menko Kumham Impas menegaskan dua hal penting. Pertama, negara tetap mengakui kebebasan berkumpul dan berpendapat sebagai hak konstitusional. Kedua, negara memiliki kewajiban melindungi masyarakat luas dari dampak negatif aksi anarkis yang melampaui batas. Dengan cara ini, pemerintah berusaha menerapkan prinsip proporsionalitas dalam penegakan hukum, yakni menjaga agar aparat tidak bersikap represif namun tetap tegas terhadap pelanggaran hukum yang nyata.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Otto Hasibuan, mengatakan bahwa komitmen pemerintah terhadap HAM merupakan landasan penting bagi terciptanya demokrasi yang sehat. Menurutnya, kebebasan berpendapat adalah elemen vital dalam kehidupan bernegara, tetapi kebebasan itu tidak boleh dipahami tanpa batas. Otto menekankan bahwa kebebasan setiap individu selalu dibatasi oleh hak orang lain serta oleh kepentingan publik yang lebih luas. Ia melihat Aspirasi 17+8 sebagai formulasi yang seimbang antara perlindungan kebebasan sipil dengan kebutuhan menjaga ketertiban umum.

Konsistensi pemerintah dalam menjunjung HAM akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi. Masyarakat diberi ruang luas untuk menyampaikan aspirasi dan masukan terhadap kebijakan pemerintah dengan cara yang sah dan bermartabat. Namun, kritik itu harus disampaikan melalui cara yang sah dan bermartabat. Dengan begitu, dinamika politik tidak berubah menjadi instabilitas sosial. Dengan ini, Indonesia dapat menjadi contoh bagaimana demokrasi tumbuh seiring dengan penghormatan HAM, bukan sebaliknya.

Direktur Eksekutif Human Rights Working Group (HRWG), Atnike Nova Sigiro, mengatakan bahwa penghormatan terhadap HAM bukan hanya kewajiban hukum, melainkan syarat mutlak bagi legitimasi pemerintahan demokratis. Ia menegaskan bahwa penguatan HAM menjadi syarat mutlak agar kepercayaan publik terus meningkat dan legitimasi politik pemerintah semakin kokoh. Karena itu, Atnike mendorong agar pemerintah tidak hanya menyampaikan komitmen secara verbal, tetapi juga menghadirkan kebijakan yang nyata dirasakan masyarakat.

Atnike juga menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat sipil dalam mengawal penegakan HAM. Menurutnya, Aspirasi 17+8 hanya dapat diwujudkan apabila masyarakat diberi ruang untuk terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan. Pemerintah terus memperkuat mekanisme akuntabilitas, termasuk melalui transparansi kebijakan dan keterbukaan informasi. Dengan begitu, Pemerintah terus mendorong agar publik berperan aktif sebagai mitra strategis dalam menentukan arah pembangunan nasional. Pandangan ini memperkuat gambaran bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan HAM tetap menjadi prinsip dasar dalam setiap kebijakan.

Aspirasi 17+8 sendiri berfungsi sebagai pedoman moral dan politik untuk menguatkan demokrasi Indonesia. Aspirasi ini menuntut agar negara melindungi hak-hak sipil dan politik, seperti kebebasan berpendapat, berserikat, dan berkumpul, sekaligus menjamin hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan demikian, pemerintah tidak hanya fokus pada aspek keamanan, tetapi juga akan terus memastikan hak dasar warga negara terpenuhi dalam kehidupan sehari-hari.

Pada saat yang sama, masyarakat juga memikul tanggung jawab besar untuk menjaga kualitas demokrasi. Kebebasan berpendapat harus digunakan secara bijak, bukan disalahgunakan untuk menyebarkan kebencian, disinformasi, atau mengganggu ketertiban umum. Demokrasi yang sehat membutuhkan partisipasi kritis namun konstruktif dari masyarakat. Dengan cara ini, HAM tidak hanya dilihat sebagai hak yang dituntut dari negara, tetapi juga sebagai kewajiban yang harus dijaga bersama.

Penegakan HAM sesuai Aspirasi 17+8 pada akhirnya menjadi jalan tengah yang rasional. Negara tidak akan membiarkan kebebasan berubah menjadi anarki, juga tidak akan menggunakan alasan keamanan untuk mengekang hak-hak sipil. Jalan tengah ini menuntut profesionalisme aparat, konsistensi kebijakan, serta partisipasi aktif masyarakat. Selama semua pihak menjaga keseimbangan ini, maka demokrasi Indonesia akan semakin matang dan legitimasi pemerintah semakin kuat. Dengan demikian, Aspirasi 17+8 bukan hanya menjadi pedoman, tetapi juga kompas moral untuk memastikan arah bangsa tetap sejalan dengan nilai-nilai HAM universal.

Dalam kerangka itu, komitmen pemerintah untuk menjamin HAM sesuai Aspirasi 17+8 patut diapresiasi. Dukungan dari berbagai tokoh, mulai dari pejabat pemerintah, politisi, hingga aktivis HAM, menunjukkan adanya konsensus nasional bahwa HAM adalah pilar yang tidak bisa ditawar. Konsensus ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk melangkah maju sebagai negara demokratis yang kuat, stabil, dan berkeadilan.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.