Pendidikan Papua Maju Pesat Berkat Komitmen Pemerintah dalam Membangun Generasi Emas

PAPUA – Kemajuan pendidikan di Tanah Papua semakin terlihat seiring penguatan program Otonomi Khusus (Otsus) serta hadirnya berbagai inisiatif inklusif yang memastikan setiap anak mendapatkan layanan pendidikan yang layak. Dinas Pendidikan Provinsi Papua menegaskan komitmen berkelanjutan pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan bagi Orang Asli Papua (OAP).

Kepala Bidang Mutu dan Layanan Pendidikan Dinas Pendidikan Papua, Elia Waromi, menuturkan bahwa selama 24 tahun implementasi Otsus, berbagai program afirmasi telah memberikan dampak besar bagi generasi muda Papua.

“Sebagai orang asli Papua, kami merasakan langsung kemajuan pembangunan pendidikan sejak Otsus diberlakukan. Banyak anak Papua kini bisa mengenyam pendidikan tinggi hingga luar negeri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dukungan tersebut merupakan bagian dari amanah UUD 1945, UU Nomor 2 Tahun 2021 tentang Otsus Papua, serta Asta Cita Presiden Prabowo yang menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas utama.

Berbagai program seperti Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem) dan Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADiK) membuka peluang besar bagi putra-putri OAP untuk mengenyam pendidikan di kampus-kampus terkemuka. Dalam dua dekade terakhir, ribuan pelajar Papua telah berhasil menyelesaikan studi hingga jenjang sarjana, magister, doktor, bahkan mencapai profesi dan kepakaran akademik.

“Keberhasilan ini menjadi bukti kuat bahwa Otsus menghadirkan perubahan positif dan membuka ruang luas bagi kemajuan pendidikan OAP,” kata Elia.

Selain memperluas akses pendidikan tinggi, Pemerintah Provinsi Papua juga memperkuat layanan pendidikan inklusif melalui program kelas terintegrasi bagi anak putus sekolah, korban kasus sosial, dan siswa yang membutuhkan pendekatan alternatif. Program yang diinisiasi bersama Wahana Visi Indonesia (WVI) ini menjadi langkah strategis untuk memastikan tidak ada anak di Papua yang tertinggal dalam mendapatkan hak pendidikan.

“Kami sangat mendukung program ini karena menyangkut masa depan generasi Papua. Setiap anak, apa pun latar belakangnya, harus diberi kesempatan untuk kembali ke sekolah,” ujar Elia.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini memerlukan kolaborasi berbagai pihak mulai dari Dinas Sosial, DP3AKB, pemerintah daerah, hingga para guru di sekolah-sekolah sasaran. Program ini akan dijalankan hingga 2027 dengan evaluasi berkala bersama pemerintah daerah dan WVI.

Kepala SMKS YPK 2 Teknologi dan Rekayasa Biak Numfor, Soleman Salomo Sroyer, menyatakan kesiapan sekolahnya untuk menjadi pilot project kelas terintegrasi. “Pendekatan pada siswa di kelas ini berbeda. Kami menyiapkan metode dan fasilitas belajar yang disesuaikan kebutuhan mereka agar mereka kembali percaya diri dan mampu menyelesaikan pendidikan,” ungkapnya.

Ia berharap hadirnya kelas terintegrasi menjadi ruang baru untuk membangkitkan semangat belajar anak-anak Papua.

Berbagai upaya pemerintah melalui Otsus, afirmasi pendidikan, dan program kelas terintegrasi kini semakin mempercepat kemajuan pendidikan Papua. Dampak positif terlihat dari meningkatnya angka partisipasi sekolah, lahirnya generasi muda berprestasi, serta semakin terbukanya akses pendidikan berkualitas hingga pelosok daerah. Pembangunan pendidikan yang konsisten dan terarah ini menjadi fondasi kuat bagi lahirnya generasi emas Papua yang siap berkontribusi bagi pembangunan daerah dan kemajuan Indonesia.

Afirmasi Pendidikan Dorong Lulusan OAP Raih Gelar Tinggi

Biak – Pemprov Papua menegaskan bahwa Otonomi Khusus (Otsus) yang telah berjalan 24 tahun memberi dampak signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan Orang Asli Papua (OAP).

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Mutu dan Layanan Pendidikan Dinas Pendidikan Papua, Elia Waromi, dalam peringatan hari lahir Otsus Papua di Biak.

Ia menyebut masyarakat Papua dapat merasakan langsung perubahan di sektor pendidikan sejak kebijakan tersebut diberlakukan.

“Secara nyata sebagai orang asli Papua pasti merasakan kemajuan pembangunan bidang pendidikan sejak pemberlakuan Otsus tahun 2001 hingga 2025,” ujarnya.

Elia menjelaskan bahwa peningkatan akses pendidikan bagi OAP tidak lepas dari program afirmasi yang selama ini dijalankan pemerintah, seperti Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem) dan Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik).

Program tersebut membuka kesempatan bagi lulusan SMA/SMK Papua untuk melanjutkan pendidikan tinggi dengan dukungan penuh pemerintah.

Menurutnya, semakin banyak anak Papua yang berhasil menuntaskan pendidikan sarjana, magister, hingga doktor baik di dalam maupun luar negeri.

“Tak dipungkiri lagi pemberlakuan era Otsus Papua sejak 2021 hingga 2025 banyak warga OAP bisa kuliah selesai raih sarjana, magister, dan doktor,” katanya.

Ia turut menyinggung sejumlah putra-putri Papua yang telah meraih gelar tertinggi seperti profesor di bidang tertentu.

Capaian tersebut dinilai menjadi bukti nyata bahwa Otsus memberikan hasil positif bagi pembangunan sumber daya manusia Papua, khususnya melalui sektor pendidikan.

“Banyak keberhasilan Program Otsus Papua sektor pendidikan OAP merupakan bukti nyata dari keberhasilan Program Otsus,” tambahnya.

Sejalan dengan peningkatan akses pendidikan, Pemprov Papua juga memperkuat pembinaan karakter generasi muda.

Lima sekolah menengah di Kabupaten Biak Numfor ditetapkan sebagai model Program Kepemimpinan Anak Papua.

Program ini diinisiasi Dinas Pendidikan Papua dan didukung Wahana Visi Indonesia, dengan tujuan membekali siswa-siswi OAP keterampilan kepemimpinan dan kemampuan berpikir kritis sebagai bekal menuju masa depan.

Elia menyatakan bahwa program tersebut merupakan upaya menyiapkan generasi muda Papua agar mampu berperan lebih besar dalam pembangunan daerah dan nasional.

“Melalui program kepemimpinan anak di sekolah terpilih dapat menyiapkan generasi emas siswa-siswi orang asli Papua sebagai calon pemimpin Indonesia ke depan,” ujarnya.

Lima sekolah yang ditunjuk sebagai model meliputi SMA Negeri 1, SMA YPK, SMK YPKS YPK, SMK Yapis, dan SMK YPK1. Pemerintah berharap langkah ini dapat memperkuat kualitas pendidikan sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang mendorong tumbuhnya calon pemimpin muda Papua.

Dengan berbagai program afirmasi dan pengembangan karakter tersebut, Pemprov Papua menilai pembangunan pendidikan di Bumi Cenderawasih terus menunjukkan kemajuan yang semakin nyata. #

Langkah Strategis Pemerintah Memajukan Pendidikan Papua untuk Masa Depan Berdaya Saing

Oleh : Yohanes Wandikbo )*

Pembangunan Papua sebagai bagian integral dari visi besar Indonesia Emas 2045 menempatkan sektor pendidikan sebagai fondasi utama. Pemerintah pusat bersama pemerintah provinsi terus mendorong berbagai terobosan strategis agar setiap anak Papua mendapatkan kesempatan yang setara untuk tumbuh, belajar, dan berdaya saing di tengah transformasi nasional. Berbagai program, mulai dari sekolah berstandar internasional hingga pendidikan afirmasi, merupakan langkah nyata memajukan kualitas sumber daya manusia Papua secara berkelanjutan.

Peresmian Sekolah Papua Harapan (SPH) Nabire menjadi momentum penting dalam upaya tersebut. Langkah ini menandai keseriusan pemerintah dalam menyediakan akses pendidikan berkualitas yang mampu menjembatani kebutuhan lokal dengan standar global. Kehadiran SPH Nabire tidak hanya menghadirkan fasilitas modern, tetapi juga menawarkan model pendidikan yang mengintegrasikan teknologi, pedagogi mutakhir, serta nilai-nilai budaya Papua sebagai identitas utama. Pendekatan ini memastikan generasi muda Papua mampu meraih pengetahuan dan keterampilan global tanpa kehilangan akar budayanya.

Gubernur provinsi Papua Tengah, Meki Nawipa, SH menegaskan bahwa pembangunan sektor pendidikan merupakan jembatan emas bagi masa depan anak-anak dari delapan kabupaten di wilayah Papua Tengah. Penekanan pada kualitas dan pemerataan akses menjadi prioritas utama agar transformasi pendidikan benar-benar dirasakan secara merata. Ia melihat SPH Nabire sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia Papua, terutama karena pendidikan merupakan hal mendasar yang menentukan arah masa depan. Penanaman karakter, integritas moral, dan kemandirian menjadi unsur penting yang turut diperkuat melalui kurikulum SPH.

SPH Nabire di tahap awal membuka jenjang TK dan kelas 1 SD. Model pendidikan yang diterapkan mengombinasikan standar internasional dengan pendekatan budaya Papua sehingga generasi muda dapat tumbuh dengan identitas yang kuat namun tetap mampu bersaing secara global. Dengan hadirnya sekolah ini, kebutuhan masyarakat Papua akan pendidikan unggulan dapat terpenuhi di daerah sendiri tanpa harus menempuh pendidikan jauh ke luar Papua. Ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan pusat pendidikan baru di Nabire, Timika, dan berbagai kabupaten lainnya.

Selain memperkuat sektor pendidikan formal, pemerintah juga memberikan perhatian besar terhadap peran keluarga sebagai pilar utama pembentukan karakter anak. Berbagai persoalan sosial sering kali berakar dari lemahnya pendampingan keluarga, sehingga sekolah dan keluarga harus bersinergi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan berkualitas. SPH Nabire hadir sebagai mitra strategis bagi orang tua agar proses pendidikan dapat berjalan secara terpadu.

Komitmen pemerintah terhadap pembangunan pendidikan Papua juga tercermin melalui kebijakan Otonomi Khusus (Otsus). Selama 24 tahun implementasinya, Otsus telah membuka peluang bagi putra-putri Orang Asli Papua (OAP) untuk mengakses pendidikan terbaik, termasuk pendidikan luar negeri. Kebijakan afirmasi seperti Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) dan Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADiK) memungkinkan banyak anak Papua melanjutkan studi hingga jenjang sarjana, magister, doktor, bahkan meraih gelar profesor dalam berbagai bidang keilmuan. Kesempatan ini menunjukkan keberpihakan negara terhadap pembangunan SDM Papua secara menyeluruh.

Menurut Kepala Bidang Mutu dan Layanan Pendidikan Dinas Pendidikan Papua, Elia Waromi, berbagai capaian pendidikan selama era Otsus menjadi bukti nyata meningkatnya akses dan kualitas pendidikan OAP. Perhatian pemerintah kepada sektor pendidikan merupakan amanah konstitusi sekaligus bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo yang menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas nasional. Dengan dukungan pembiayaan dari kementerian terkait, anak-anak Papua semakin memiliki peluang besar untuk menuntut ilmu tanpa hambatan biaya maupun akses.

Selain memperkuat pendidikan formal, pemerintah juga mendukung pendidikan alternatif bagi anak-anak yang putus sekolah atau terdampak persoalan sosial. Program kelas terintegrasi yang dijalankan bersama Wahana Visi Indonesia (WVI) menjadi langkah penting memastikan setiap anak tetap mendapatkan hak dasar pendidikan. Program ini dirancang hingga tahun 2027 dengan melibatkan Dinas Sosial, DP3AKB, pemerintah kabupaten, serta guru-guru di sekolah sasaran agar pendekatan pembelajaran benar-benar sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.

Inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari berbagai sekolah, salah satunya dari Kepala SMKS YPK 2 Teknologi dan Rekayasa Biak Numfor, Soleman Salomo Sroyer, yang menilai bahwa pendekatan khusus sangat dibutuhkan bagi anak-anak yang pernah putus sekolah atau mengalami hambatan belajar. Dengan pelatihan yang memadai, sekolah-sekolah kini memahami metode dan fasilitas yang diperlukan agar pembelajaran dapat berlangsung secara inklusif dan adaptif. Harapannya, siswa di kelas terintegrasi dapat kembali memiliki motivasi untuk menyelesaikan pendidikan dan membangun masa depan yang lebih baik.

Kolaborasi yang terbangun antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, WVI, dan sekolah-sekolah di Biak Numfor menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan Papua merupakan kerja bersama. Sinergi ini menjadi kunci keberhasilan menghadirkan pendidikan yang inklusif, berakar budaya, dan responsif terhadap dinamika sosial masyarakat.

Dengan berbagai upaya strategis tersebut, Papua bergerak menuju masa depan pendidikan yang lebih maju, berkualitas, dan berkeadilan. Pendidikan menjadi energi perubahan sosial yang akan melahirkan generasi Papua yang percaya diri, kompeten, dan berperan besar dalam kemajuan bangsa.

)* Penulis Merupakan Pengamat Pembangunan Papua

Akselerasi Pendidikan Papua Tunjukkan Keseriusan Pemerintah Bangun SDM Unggul

Oleh : Loa Murib

Akselerasi pembangunan pendidikan di Papua kembali menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun sumber daya manusia unggul yang berdaya saing, berkarakter, dan berakar kuat pada budaya lokal. Upaya ini bukan sekadar program jangka pendek, melainkan investasi strategis yang digarap secara sistematis melalui kebijakan otonomi khusus, pengembangan lembaga pendidikan modern, hingga perluasan akses afirmatif bagi putra-putri Orang Asli Papua. Serangkaian langkah tersebut mempertegas arah pembangunan Papua yang kian terarah pada pembentukan generasi muda berwawasan global tetapi tidak tercerabut dari identitasnya.

Peresmian Sekolah Papua Harapan (SPH) Nabire oleh Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, merupakan salah satu simbol penting dari akselerasi ini. Kehadiran sekolah berstandar internasional yang dikombinasikan dengan nilai-nilai budaya Papua menunjukkan bahwa pemerintah daerah memahami betul kebutuhan generasi masa depan: pendidikan yang modern, relevan, dan kontekstual. Melalui pengembangan SPH, pemerintah Papua Tengah berupaya membangun ekosistem pendidikan yang mampu menjembatani anak-anak Papua menuju masa depan yang kompetitif tanpa harus meninggalkan akar budaya yang menjadi identitas mereka. Gubernur Nawipa menegaskan bahwa pemerintah daerah telah menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama karena sektor inilah yang menjadi penentu kualitas masa depan delapan kabupaten di Papua Tengah. Baginya, SPH adalah fondasi panjang yang akan menentukan arah kemajuan SDM Papua dalam beberapa dekade ke depan.

Menurut pandangan gubernur, tantangan utama pendidikan di Papua bukan hanya soal ketersediaan sarana fisik, tetapi juga soal kemampuan lembaga pendidikan dalam membentuk karakter, integritas, dan kemandirian peserta didik. Ia menilai bahwa berbagai persoalan sosial seringkali berakar pada lemahnya peran keluarga dalam mendampingi pendidikan anak. Karena itu, SPH tidak hanya hadir sebagai institusi pendidikan modern, tetapi juga sebagai mitra keluarga dalam memastikan tumbuh kembang anak berjalan seimbang antara pembangunan intelektual dan pembentukan karakter. Dengan pendekatan berbasis budaya Papua, SPH diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memahami jati diri, menghormati tradisi, dan bangga dengan identitasnya.

Pendekatan berbasis budaya seperti ini penting mengingat Papua memiliki kekayaan identitas lokal yang sangat kuat. Ketika nilai-nilai lokal menjadi bagian dari proses pembelajaran, anak-anak Papua tidak harus bergulat dengan pertentangan identitas, tetapi justru diajak mengintegrasikan akar budaya dengan ilmu pengetahuan modern. Inilah yang menjadi pembeda SPH dari banyak institusi pendidikan lain: model yang memadukan logat, gaya belajar, dan kekhasan Papua dengan standar pendidikan global. Gubernur Nawipa mendorong kabupaten lain untuk mengembangkan sekolah model serupa, karena menurutnya setiap anak Papua berhak mendapatkan pendidikan berkualitas tanpa harus pergi jauh ke luar daerah.

Di tingkat yang lebih luas, upaya pembangunan pendidikan Papua tidak lepas dari kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) yang telah berjalan selama 24 tahun. Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Pendidikan menegaskan bahwa Otsus telah memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan akses pendidikan bagi Orang Asli Papua. Kepala Bidang Mutu dan Layanan Pendidikan, Elia Waromi, melihat Otsus sebagai tonggak besar yang memungkinkan generasi muda Papua memperoleh pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, bahkan sampai ke luar negeri. Melalui berbagai skema afirmasi seperti Adem dan ADik, banyak putra-putri Papua dapat menempuh pendidikan tinggi secara gratis dan meraih gelar sarjana, magister, doktor, hingga profesor di berbagai disiplin ilmu.

Menurut Elia, keberhasilan ini merupakan bukti komitmen pemerintah pusat terhadap pembangunan SDM Papua sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945, UU Otsus Papua, dan arah kebijakan nasional era pemerintahan Presiden Prabowo. Ia menilai bahwa semakin banyak lulusan OAP yang meraih gelar akademik tinggi merupakan capaian nyata dari kebijakan afirmatif yang dijalankan secara konsisten. Pendidikan tidak hanya membuka peluang karier bagi anak-anak Papua, tetapi juga memperkuat posisi mereka dalam pembangunan daerah. Dengan semakin banyaknya tenaga profesional dan ahli dari kalangan OAP, Papua memiliki fondasi lebih kuat untuk mengejar ketertinggalan di berbagai sektor strategis.

Keterpaduan antara kebijakan pusat dan inovasi daerah seperti yang dilakukan Papua Tengah menjadi kunci akselerasi pembangunan pendidikan Papua. Peluncuran SPH Nabire yang turut disaksikan oleh pemimpin daerah dari berbagai kabupaten, tokoh pendidikan, serta unsur legislatif Papua Tengah memperlihatkan bahwa pengembangan pendidikan berkualitas telah menjadi agenda bersama. Kolaborasi antar kabupaten akan menjadi modal penting untuk memperluas dampak SPH ke wilayah lain, sehingga lebih banyak anak Papua dapat merasakan manfaat pendidikan berstandar internasional di daerah sendiri.

Akselerasi ini juga memperlihatkan bahwa Papua bergerak menuju model pembangunan pendidikan yang lebih mandiri dan relevan. Dengan fasilitas modern, tenaga pendidik berkualitas, hingga orientasi pendidikan global, sekolah-sekolah seperti SPH dapat berfungsi sebagai pusat inovasi dan transformasi pendidikan. Sementara itu, keberlanjutan Otsus memastikan bahwa dukungan pendanaan untuk pendidikan OAP tetap berjalan, sehingga generasi muda Papua memiliki kesempatan yang sama dengan generasi muda di wilayah lain di Indonesia.

Akselerasi pendidikan Papua bukan hanya sebuah program, tetapi gerakan kolektif untuk membangun harapan baru. Generasi muda Papua kini memiliki peluang lebih besar untuk meraih mimpi, sekaligus menjaga dan merawat identitas budayanya. Pemerintah menunjukkan bahwa pembangunan SDM unggul di Papua bukan wacana, melainkan kenyataan yang terus diperkuat melalui kebijakan yang terukur, komitmen yang konsisten, dan inovasi yang berkelanjutan.

*Penulis adalah Mahasiswa Papua Di Jawa Timur

Pemerintah Berikan Kesempatan Bagi Lulusan Baru Melalui Program Magang Nasional

Jakarta – Pemerintah terus mendorong peningkatan kompetensi angkatan kerja Indonesia melalui Program Pemagangan Nasional. Menaker Yassierli menekankan pentingnya pemagangan sebagai jembatan antara teori yang dipelajari di kampus dengan praktik langsung di dunia industri.

“Di kampus mereka belajar banyak terkait teori, kemudian di sini mereka belajar praktik yang lebih kompleks dan multidisipliner,” ujar Yassierli. Menurutnya, program ini bukan sekadar pelatihan kerja, tetapi sarana strategis untuk menyiapkan lulusan baru agar lebih siap menghadapi persaingan dunia kerja.

Saat ini pelaksanaan Program Magang Nasional telah memasuki pekan ketiga. Program yang resmi dimulai pada 20 Oktober 2025 ini, menjadi salah satu fokus pemerintah untuk meningkatkan keterhubungan antara lulusan dari perguruan tinggi dengan sektor industri. Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan keterampilan para lulusan baru sehingga mereka memiliki keahlian yang dibutuhkan oleh dunia usaha.

Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, mengatakan bahwa Presiden Prabowo telah memerintahkan Menteri Ketenagakerjaan untuk membuka gelombang 2 Program Magang Nasional dengan jumlah peserta mencapai 80.000 lulusan baru atau fresh graduate.

Gelombang I Program Magang Nasional diikuti sebanyak 20.000 peserta, yang sebagian besar merupakan lulusan baru dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Gelombang II Program Magang Nasional itu akan dimulai pada November 2025.

“Dengan demikian, total peserta Program Magang Nasional tahun 2025 mencapai 100.000 orang,” ujar Teddy. Ia menambahkan bahwa pengalaman kerja yang diperoleh peserta akan sangat bermanfaat untuk memperkuat CV dan meningkatkan peluang di dunia kerja.

Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi, menyampaikan bahwa Batch II merupakan kelanjutan dari Batch I yang mendapat animo tinggi dari masyarakat. “Kami mengajak perusahaan dan generasi muda untuk mempersiapkan diri mendaftar. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi dan pengalaman peserta secara nyata,” ujar Sanusi.

Pendaftaran peserta Batch II telah dimulai sejak 6 November 2025 melalui portal resmi maganghub.kemnaker.go.id. Program ini membuka peluang magang bagi lulusan diploma hingga sarjana di berbagai sektor, mulai dari industri kreatif, makanan dan minuman, komunikasi, logistik, hingga pariwisata dan layanan publik. Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi, menegaskan bahwa program ini merupakan salah satu strategi pemerintah dalam memperkuat daya saing tenaga kerja nasional.

Dengan target nasional 100.000 peserta pemagangan di tahun 2025, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menyediakan kesempatan luas bagi lulusan baru agar siap bersaing di dunia kerja dan memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Program Pemagangan Nasional menjadi bukti nyata kepedulian pemerintah dalam membangun masa depan generasi muda Indonesia. ***
.

Program Magang Nasional Buka Pelatihan Sesuai Bidang dan Kompetensi

Jakarta – Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul dan berdaya saing melalui Program Magang Nasional yang resmi dimulai pada 20 Oktober 2025. Program ini dirancang untuk memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan dan dunia industri, sekaligus menjawab tantangan tingginya angka pengangguran terdidik di Indonesia.

Melalui pendekatan berbasis kompetensi, para peserta magang tidak hanya memperoleh pengalaman kerja nyata, tetapi juga mendapatkan pelatihan sesuai bidang perkuliahan dan disiplin ilmu yang mereka tekuni selama studi.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa para peserta Program Magang Nasional yang kini telah memasuki minggu ketiga, mendapatkan pelatihan yang relevan dan terarah.

“Di sini, para peserta magang benar-benar telah bekerja, diberikan pelatihan, keterampilan, bahkan mendapatkan mentor sesuai bidang perkuliahan masing-masing,” ujar Teddy.

Ia menambahkan bahwa program ini menjadi langkah nyata pemerintah dalam memastikan para lulusan baru memiliki keahlian yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

“Peserta juga mendapat uang saku setara Upah Minimum Kabupaten/Kota tempat mereka magang. Misalnya, untuk di Kabupaten Bekasi, sekitar Rp5,5 juta setiap bulannya,” imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan apresiasinya terhadap semangat para peserta magang yang dinilai sangat antusias dalam mengikuti program tersebut.

“Senang melihat para peserta magang begitu antusias belajar dan beradaptasi di lingkungan kerja nyata,” ujar Yassierli.

Menurutnya, antusiasme tersebut menunjukkan bahwa para peserta benar-benar merasakan manfaat dari program ini, terutama dalam hal peningkatan kompetensi dan pengalaman kerja langsung.

Dukungan terhadap pelaksanaan Program Magang Nasional juga datang dari berbagai lembaga pelatihan di daerah. Direktur Utama Lembaga Pelatihan E Labora Sumenep, Muhsinuddin, menilai bahwa program ini merupakan terobosan strategis dalam menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

“Kami berkomitmen mendukung program strategis nasional ini dengan mencetak lulusan yang kompeten, memiliki keterampilan praktis, dan siap terjun ke dunia kerja,” ujar Muhsinuddin.

Ia menjelaskan, seluruh peserta mengikuti pelatihan intensif di bawah bimbingan mentor berpengalaman dan narasumber profesional dari berbagai bidang industri.

Selain itu, pelaksanaan magang diatur dengan sistem evaluasi berkelanjutan yang memastikan kesesuaian antara kurikulum berbasis kompetensi dan kebutuhan sektor industri. Menurut Muhsinuddin, hal ini penting untuk menjaga kualitas pelatihan sekaligus memperkuat posisi SDM lokal di pasar kerja.

“Kami memastikan pelaksanaan magang berjalan sesuai ketentuan, mulai dari kurikulum, metode pelatihan praktis, hingga evaluasi berkelanjutan,” tegasnya.

Dengan pendekatan pelatihan yang menyeluruh, Program Magang Nasional diharapkan mampu mencetak generasi muda Indonesia yang adaptif, produktif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja modern. Program ini menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah dalam memperkuat kualitas tenaga kerja nasional serta menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif dan berkelanjutan.

Magang Nasional Bukti Pemerintah Serius Siapkan Anak Muda Siap Kerja

Oleh : Ricky Rinaldi

Program Magang Nasional yang digagas pemerintah mendapat apresiasi luas karena dinilai berhasil menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan industri. Melalui kebijakan ini, pemerintah berupaya membangun ekosistem pelatihan kerja yang tidak hanya menyiapkan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk etos kerja profesional bagi generasi muda. Program tersebut kini menjadi bagian penting dari strategi pembangunan SDM unggul, sejalan dengan visi besar pemerintah untuk memperkuat daya saing tenaga kerja nasional.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menilai, peningkatan kualitas SDM melalui program magang menjadi langkah strategis dalam mengatasi tantangan ketenagakerjaan, terutama di kalangan lulusan baru. Pemerintah menyiapkan mekanisme pelatihan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan industri, dengan skema kerja sama antara pemerintah, perusahaan, dan lembaga pendidikan. Melalui pendekatan itu, peserta magang memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja sekaligus jaminan pendampingan dari mentor profesional. Pemerintah juga memastikan peserta mendapatkan insentif setara upah minimum provinsi serta perlindungan sosial selama program berlangsung.

Afriansyah menjelaskan bahwa hingga akhir 2025, program ini telah diikuti oleh puluhan ribu peserta dari berbagai daerah. Ribuan perusahaan telah bergabung dalam skema magang nasional, mulai dari sektor manufaktur, jasa, hingga ekonomi digital. Pemerintah menargetkan perluasan kuota hingga 100 ribu peserta pada tahun berikutnya, dengan anggaran mencapai Rp1,4 triliun. Skema ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam menyiapkan tenaga kerja kompetitif sekaligus menekan angka pengangguran terbuka yang masih didominasi usia muda.

Selain memberi manfaat langsung bagi peserta, program ini juga memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri. Pemerintah menilai pentingnya harmonisasi kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja agar lulusan lebih siap menghadapi tantangan global. Upaya ini didukung oleh berbagai kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Pendidikan, Kementerian Perindustrian, serta mitra swasta yang berperan aktif menyediakan slot magang. Afriansyah menekankan bahwa transformasi ketenagakerjaan tidak cukup hanya dengan pelatihan singkat, tetapi harus dibangun melalui pengalaman kerja riil yang memperkaya kompetensi dan kedisiplinan.

Di sisi legislatif, Netty Prasetiyani Aher, anggota Komisi IX DPR RI, menyampaikan apresiasi terhadap dampak nyata program magang nasional. Menurutnya, langkah pemerintah memperluas kesempatan magang merupakan bentuk keberpihakan terhadap generasi muda yang selama ini kesulitan mendapatkan akses kerja pertama. Ia menilai bahwa model pelatihan berbasis kerja seperti ini mampu mengurangi kesenjangan antara lulusan pendidikan dan kebutuhan industri, sekaligus mendukung pemerataan kesempatan kerja di berbagai daerah.

Netty juga menyoroti pentingnya keberlanjutan program agar manfaatnya tidak berhenti pada satu periode anggaran. Ia mendorong pemerintah memperkuat kolaborasi lintas sektor agar dunia usaha semakin terlibat aktif membuka kesempatan magang. DPR, lanjutnya, siap memberikan dukungan pengawasan dan regulasi agar kualitas pelaksanaan tetap terjaga. Pemerintah dinilai telah menunjukkan kemauan politik yang kuat untuk menjadikan pelatihan kerja sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia Indonesia.

Dampak positif dari program ini mulai terlihat pada meningkatnya partisipasi angkatan kerja muda serta tumbuhnya kepercayaan diri para peserta setelah menyelesaikan magang. Banyak peserta yang akhirnya direkrut menjadi karyawan tetap oleh perusahaan tempat mereka berlatih. Fenomena ini memperlihatkan efektivitas program sebagai pintu masuk menuju pekerjaan formal. Pemerintah memandang keberhasilan ini bukan sekadar hasil kebijakan teknis, melainkan hasil sinergi nasional antara pemerintah, industri, dan masyarakat.

Ke depan, pemerintah menargetkan agar program magang nasional tidak hanya berfokus pada sektor padat karya, tetapi juga menyasar bidang teknologi, energi terbarukan, dan ekonomi kreatif. Langkah ini sejalan dengan transformasi struktur ekonomi nasional yang menuntut tenaga kerja fleksibel dan berorientasi inovasi. Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap dapat menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang dinamis, di mana setiap individu memiliki kesempatan belajar dan berkembang tanpa batas.

Program magang nasional juga menjadi bagian dari strategi pemerataan pembangunan sumber daya manusia. Dengan memberikan kesempatan bagi pemuda dari daerah terpencil untuk magang di perusahaan besar, pemerintah ingin mengurangi ketimpangan akses pelatihan antarwilayah. Pendekatan ini sekaligus memperkuat semangat gotong royong antara pelaku usaha besar dan sektor pendidikan di daerah. Dalam jangka panjang, sistem ini akan membentuk jaringan tenaga kerja terampil yang siap menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi ekonomi.

Secara keseluruhan, program magang nasional mencerminkan arah kebijakan pemerintah yang berpihak pada peningkatan kualitas manusia Indonesia. Melalui kebijakan yang terukur dan kolaboratif, pemerintah berupaya memastikan setiap generasi muda memiliki peluang yang sama untuk tumbuh dan berkontribusi. Dengan dukungan berbagai pihak, baik dari kalangan industri maupun legislatif, program ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi terciptanya tenaga kerja unggul yang menopang perekonomian nasional.

*)Pengamat Isu Strategis

Program Magang Nasional Perluas Kesempatan Kerja Kelompok Usia Produktif

Oleh : Doni Wicaksono )*

Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam membangun sumber daya manusia (SDM) unggul melalui berbagai program strategis. Salah satu inisiatif yang kini mendapat perhatian luas adalah Program Magang Nasional, sebuah langkah konkret dalam membuka peluang dan memperluas kesempatan kerja bagi kelompok usia produktif. Program ini tidak sekadar menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun karakter, keterampilan, serta kesiapan generasi muda menghadapi tantangan ekonomi yang kian kompetitif.

Dalam era globalisasi dan digitalisasi seperti sekarang, kebutuhan terhadap tenaga kerja terampil dan adaptif menjadi prioritas utama. Pemerintah menyadari bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan nasional adalah kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri. Oleh karena itu, melalui Program Magang Nasional, pemerintah berupaya menghadirkan solusi nyata dengan mempertemukan peserta magang dengan dunia usaha dan dunia industri.

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli mengatakan program ini dinilai menjadi sarana strategis untuk mewujudkan link and match antara lulusan perguruan tinggi dan dunia kerja. Mahasiswa telah banyak mempelajari teori di kampus, namun melalui magang mereka bisa memahami praktik kerja yang lebih kompleks dan multidisiplin. Selain itu, pihaknya akan terus mengawal program magang ini agar peserta memperoleh pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan industri, serta disiplin ilmu yang diambil saat kuliah.

Magang kini bukan lagi sekadar pengalaman tambahan, melainkan bagian integral dari proses pembelajaran menuju dunia profesional. Melalui magang, peserta dapat memperoleh pemahaman langsung tentang dinamika pekerjaan, budaya organisasi, serta standar kinerja di industri sebenarnya. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mewujudkan SDM unggul, produktif, dan kompetitif menuju Indonesia Emas 2045. Dengan memberikan akses yang luas kepada anak muda untuk magang di berbagai sektor strategis seperti manufaktur, digital, energi, pertanian, dan ekonomi kreatif, pemerintah memastikan bahwa mereka tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap berinovasi dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Selain memperkuat kompetensi teknis, Program Magang Nasional juga menanamkan nilai-nilai penting seperti etos kerja, disiplin, tanggung jawab, serta kemampuan beradaptasi. Peserta magang dilatih untuk memahami pentingnya kerja sama tim, komunikasi efektif, dan problem solving, kemampuan-kemampuan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja modern. Dengan demikian, program ini bukan hanya mencetak tenaga kerja yang terampil, tetapi juga membentuk karakter yang tangguh dan profesional.

Dari sisi ekonomi, implementasi Program Magang Nasional memberikan dampak positif yang signifikan. Banyak perusahaan mengakui bahwa peserta magang sering kali menjadi sumber ide-ide baru yang segar dan inovatif. Di sisi lain, bagi peserta, pengalaman magang menjadi pintu masuk yang memperbesar peluang untuk diterima sebagai pekerja tetap setelah program berakhir. Hal ini berkontribusi langsung dalam menurunkan angka pengangguran terbuka di kalangan usia muda yang selama ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah.

Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa pembangunan manusia menjadi fondasi utama dalam pembangunan nasional. Menurutnya, investasi terbaik adalah investasi pada manusia, terutama mereka yang berada pada usia produktif. Program magang adalah bentuk nyata keberpihakan pemerintah pada generasi muda. setiap anak bangsa memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan bekerja sesuai potensinya.

Sementara itu, Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya mengatakan melalui program magang ini, para peserta diharapkan dapat memperoleh pengalaman kerja yang berharga sebagai bekal untuk memasuki dunia profesional di masa depan. Pengalaman langsung di lingkungan kerja nyata akan membantu mereka memahami dinamika industri, membangun etos kerja, serta mengasah keterampilan teknis dan nonteknis yang relevan dengan kebutuhan pasar.

Selain itu, Program Magang Nasional juga diarahkan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dunia usaha, pendidikan vokasi, dan lembaga pelatihan kerja. Melalui integrasi ini, program diharapkan mampu melahirkan ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif dan berkelanjutan. Tidak kalah penting, program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menyiapkan masyarakat menghadapi era transformasi digital dan industri 4.0. Banyak bidang pekerjaan baru yang muncul seiring perkembangan teknologi, sementara sebagian jenis pekerjaan lama mulai berkurang. Dengan demikian, magang menjadi sarana untuk memperbarui keterampilan dan memastikan tenaga kerja Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Ke depan, keberhasilan Program Magang Nasional akan sangat ditentukan oleh sinergi antara seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah berperan sebagai regulator dan fasilitator, dunia usaha sebagai penyedia pengalaman kerja nyata, sementara lembaga pendidikan berperan menyiapkan kurikulum yang relevan. Dengan dukungan semua pihak, Indonesia dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Program Magang Nasional pada akhirnya bukan hanya tentang membuka pintu kesempatan, tetapi juga tentang menyiapkan masa depan. Melalui program ini, pemerintah menunjukkan komitmen nyata dalam mencetak generasi unggul yang siap bersaing di pasar kerja global. Dengan langkah strategis dan konsistensi kebijakan, Indonesia sedang menapaki jalan menuju kemandirian ekonomi berbasis SDM yang berkualitas, sebuah langkah besar menuju visi Indonesia Emas 2045.

)* Pengamat kebijakan publik

KUHAP Disahkan, Pemerintah Ajak Publik Sampaikan Kritik Lewat Mekanisme Hukum yang Sah

Jakarta – Pemerintah resmi mengesahkan KUHAP baru dan menegaskan bahwa perubahan ini merupakan langkah penting dalam memperkuat sistem peradilan pidana nasional. Di saat bersamaan, masih ada kelompok masyarakat sipil yang belum bisa menerima sepenuhnya atas pembaruan KUHAP tersebut.

Koalisi Masyarakat Sipil melaporkan sejumlah anggota dewan ke Mahkamah Kehormatan DPR (MKD) terkait pembahasan revisi KUHAP yang dinilai kurang melibatkan banyak pihak. Menanggapi itu, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas menekankan, penolakan yang muncul harus disampaikan secara objektif dan berbasis fakta.

Ia menyebutkan, penyusunan KUHAP baru telah melibatkan banyak pihak, mulai dari praktisi hukum, advokat, hingga mahasiswa. Menurutnya, Tingkat partisipasi publik pada pembahasan KUHAP kali ini merupakan yang paling tinggi dibandingkan undang-undang lain.

“Penolakannya harus objektif. Belum pernah ada undang-undang yang melibatkan meaningful participation seperti KUHAP,” ujarnya.

Supratman menjelaskan, KUHAP baru mengedepankan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) dan penyelesaian perkara melalui mekanisme restorative justice. Pendekatan tersebut diyakini dapat menghilangkan praktik-praktir kesewenang-wenangan yang pernah terjadi pada masa lalu, termasuk memberikan perlindungan lebih baik bagi penyandang disabilitas.

Ia pun menuturkan, agar Masyarakat tidak bergitu saja percaya dengan isu yang beredar. “Hoaks-hoaks yang berkembang sudah dijelaskan dengan sangat baik oleh pimpinan Komisi III,” tegasnya.

Di samping itu, Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal mengajak publik untuk menyampaikan kritik atau masukan melalui mekanisme hukum yang sah. Pihak-pihak yang menolak bisa mengajukan uji konstitusionalitas ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Nanti mekanismenya kan ada, kalua memang enggak setuju dengan isinya bisa melalui judicial review,” ungkapnya. ***

Pengesahan KUHAP Telah Sesuai Mekanisme, Tidak Akan Timbulkan Kekosongan Hukum

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Pengesahan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru kembali menjadi perhatian publik setelah pemerintah dan DPR menyepakati sejumlah pembaruan penting dalam sistem peradilan pidana nasional. Di tengah dinamika pembahasan dan perbedaan pendapat di ruang publik, penting untuk ditegaskan bahwa proses legislasi yang ditempuh dalam pengesahan KUHAP telah mengikuti seluruh tahapan sesuai mekanisme konstitusional. Selain itu, transisi penerapan aturan baru tidak akan menimbulkan kekosongan hukum sebagaimana dikhawatirkan sebagian pihak.

KUHAP merupakan regulasi yang sangat strategis karena mengatur seluruh tahapan proses hukum pidana, mulai dari penyelidikan, penyidikan, penuntutan, hingga pelaksanaan putusan. Karena itu, penyusunannya memerlukan kehati-hatian dan kesesuaian dengan prinsip-prinsip negara hukum. Tidak ada tahapan legislasi yang dilompati. Setiap klausul yang disepakati telah melalui pembahasan panjang, pengujian substansi, serta sinkronisasi dengan berbagai undang-undang lain untuk memastikan konsistensinya dalam sistem hukum nasional.

Isu lain yang kerap disorot adalah mengenai partisipasi publik. Namun, pemerintah dan DPR telah membuka ruang cukup luas bagi masyarakat, akademisi, organisasi bantuan hukum, serta lembaga swadaya masyarakat untuk menyampaikan pandangan mereka. Forum uji publik, FGD, hingga diskusi akademik dilakukan selama proses pembahasan. Masukan dari berbagai elemen masyarakat telah dimasukkan secara proporsional ke dalam substansi RKUHAP.

Dengan demikian, proses partisipatif sebenarnya telah berjalan sebagaimana prinsip pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik. Penting untuk dipahami bahwa partisipasi publik tidak berarti semua pandangan harus diakomodasi secara penuh, melainkan bahwa ada ruang yang diberikan bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat sebagai bahan pertimbangan dalam proses legislasi.

Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman mengatakan bahwa proses penyusunan RKUHAP telah berlangsung lebih dari satu tahun lamanya dengan telah menjaring meaning participation atau partisipasi bermakna dari para pemangku kepentingan. Selain itu, KUHAP memerlukan pembaruan untuk memperkuat posisi warga negara dalam hukum. KUHAP baru telah mengakomodir kebutuhan kelompok rentan, memperjelas syarat penahanan, perlindungan dari penyiksaan, penguatan dan perlindungan hak korban, kompensasi, restitusi, dan rehabilitasi, hingga keadilan restoratif. KUHAP baru ini juga dibutuhkan seiring dengan akan dibelakukannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang akan mulai berlaku 2 Januari 2026.

Habiburokhman juga memastikan pengesahan KUHAP baru tidak akan menimbulkan kekosongan hukum dan akan berlaku pada 2 Januari 2026 mendatang. Aturan teknis mulai dari penyelidikan, penyidikan, penahanan, bantuan teknis forensik, penggunaan rekaman kamera pengawas, hingga ganti rugi dan rehabilitasi-sudah diatur dalam PP 27/1983 beserta perubahan dan peraturan sektoral di Polri, Kejaksaan, Kemenkes, maupun Mahkamah Agung. Aturan ini tetap berlaku sampai KUHAP baru berlaku.

Sementara itu, Pakar Hukum, Prof. Dr. Henry Indraguna, SH., M.lH., meyakini KUHAP baru ini akan memberikan manfaat langsung bagi setiap warga negara. KUHAP baru ini merupakan fondasi hukum yang kuat, lebih modern dengan merespon perkembangan serba digital namun tetap humanis, dan tetap menyisakan nilai-nilai berkeadilan. Salah satu manfaat paling signifikan adalah perlindungan hak warga negara sejak tahap awal proses hukum.

Menurut Henry, esensi dari perlindungan hukum kepada para pencari keadilan tersebut diwujudkan melalui mekanisme krusial. Pertama adalah berkaitan kepada wewenang Hakim Pemeriksa Pendahuluan (HPP). Untuk mencegah salah tangkap dan membatasi kesewenang-wenangan aparat, setiap tindakan paksa seperti penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan wajib mendapatkan persetujuan dari hakim terlebih dahulu.

Kedua, Penguatan Hak Tersangka dan Korban. Hak-hak tersangka wajib didampingi pengacara lebih dipertegas sejak dini sejak penyidikan. Pemeriksaan wajib direkam audio-visual, serta adanya larangan segala bentuk tekanan. Henry mengingatkan bahwa korban kini memiliki hak lebih kuat untuk mengakses restitusi dan pendampingan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Ketiga, Pengaturan Bukti Digital. KUHAP baru mengakui dan mengatur secara modern bukti elektronik seperti rekaman CCTV, chat, email, hingga transaksi digital yang dianggap menjamin keakuratan dan mencegah rekayasa. Salah satu terobosan penting yang paling berdampak langsung pada masyarakat adalah diresmikannya mekanisme Restorative Justice (Keadilan Restoratif) dalam KUHAP. Dengan adanya Restorative Justice, masyarakat kini dapat menyelesaikan perkara tertentu, terutama tindak pidana ringan, melalui jalur pemulihan dan kesepakatan dengan korban. Langkah ini sebagai langkah humanisasi hukum pidana yang akan mengurangi beban sistem peradilan dan fokus pada pemulihan kerugian korban.

Henry menegaskan bahwa dengan KUHAP baru, negara menegaskan komitmen terhadap keadilan, perlindungan hak asasi, dan profesionalisme aparat. Oleh karena itu, pihaknya mengajak seluruh masyarakat memahami ketentuan baru ini agar proses hukum berjalan lebih jujur, manusiawi, dan modern. Dengan mempertimbangkan seluruh tahapan, mekanisme, dan aspek substansi yang terlibat, pengesahan KUHAP dapat dikatakan telah memenuhi prinsip pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik. Kecemasan mengenai potensi kekosongan hukum juga tidak memiliki landasan yang kuat, karena pemerintah telah menyiapkan transisi yang matang dan aman.

KUHAP baru ini menjadi tonggak penting pembaruan hukum nasional, terutama dalam memperkuat keadilan, kepastian hukum, dan perlindungan hak-hak warga negara. Reformasi hukum pidana adalah proses panjang, namun langkah ini merupakan bagian penting dari upaya memperkuat sistem peradilan pidana yang modern, transparan, dan sesuai prinsip negara hukum.

)* Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia