Menjaga Papua Tetap Aman, Melindungi Rakyat, Mengawal Masa Depan

Oleh: Markus Wenda*

Keamanan Papua merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di tengah berbagai tantangan keamanan yang masih terjadi di sejumlah wilayah, upaya menjaga Papua tetap aman dan kondusif menjadi tanggung jawab bersama. Negara melalui pemerintah dan aparat keamanan terus menunjukkan komitmen untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat, termasuk Orang Asli Papua (OAP), sekaligus memastikan berbagai program pembangunan dapat berjalan tanpa terganggu oleh aksi kekerasan kelompok bersenjata.

Penyanderaan sembilan perempuan asli Suku Amungme di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, menjadi pengingat bahwa masyarakat sipil harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam setiap upaya penyelesaian persoalan keamanan Papua. Hampir satu bulan tanpa kepastian mengenai kondisi para korban tentu menjadi beban berat bagi keluarga dan masyarakat. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa aksi kekerasan tidak pernah memberikan manfaat bagi rakyat, terlebih ketika perempuan dan masyarakat sipil menjadi korban.

Ketua Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASA) menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar masalah keamanan, tetapi telah menyentuh aspek kemanusiaan dan martabat masyarakat Papua. Pandangan tersebut memperlihatkan semakin kuatnya suara masyarakat adat yang menghendaki agar kekerasan dihentikan dan masyarakat sipil mendapatkan perlindungan. Apabila kelompok bersenjata benar-benar mengklaim memperjuangkan kepentingan rakyat Papua, maka keselamatan masyarakat semestinya menjadi kepentingan yang paling utama.

Dalam konteks tersebut, negara memiliki peran strategis untuk memastikan hukum tetap hadir dan masyarakat tidak dibiarkan menghadapi ancaman seorang diri. Upaya aparat dalam merespons berbagai gangguan keamanan menunjukkan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Kehadiran aparat di wilayah rawan, pengamanan masyarakat, penyelidikan terhadap kasus kekerasan, serta pengejaran terhadap pelaku merupakan bagian dari komitmen untuk menciptakan ruang kehidupan yang lebih aman bagi masyarakat Papua.

Perspektif serupa disampaikan tokoh agama Nasrani sekaligus tokoh adat senior Puncak Jaya, Papua Tengah, Kirenius Telenggen. Ia mengungkapkan kekhawatiran terhadap meningkatnya aksi kekerasan yang tidak hanya mengancam warga pendatang dan warga negara asing, tetapi juga Orang Asli Papua. Menurutnya, masyarakat lokal yang tidak bersedia bergabung dengan kelompok bersenjata juga dapat menjadi sasaran ancaman. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekerasan justru berpotensi merusak kehidupan masyarakat Papua sendiri.

Kirenius juga menyoroti dampak kekerasan terhadap pelayanan keagamaan di wilayah pedalaman. Peristiwa terbunuhnya Captain Nicholas F. Goselin, pilot PT AMA berkewarganegaraan Amerika Serikat yang disebut melayani kebutuhan ibadah masyarakat di pelosok Papua, menjadi salah satu contoh bahwa gangguan keamanan dapat memberikan dampak luas. Tidak hanya menghilangkan nyawa, kekerasan juga dapat menghambat pelayanan sosial, keagamaan, kesehatan, pendidikan, dan berbagai aktivitas kemanusiaan yang sangat dibutuhkan masyarakat di daerah terpencil.

Karena itu, dukungan terhadap stabilitas keamanan harus dipandang sebagai bagian dari agenda pembangunan Papua. Infrastruktur yang dibangun pemerintah, fasilitas kesehatan yang diperluas, akses pendidikan yang ditingkatkan, serta aktivitas ekonomi masyarakat membutuhkan situasi keamanan yang terjaga. Tanpa keamanan, berbagai capaian pembangunan akan menghadapi hambatan dan masyarakat kembali menjadi pihak yang paling dirugikan.

Langkah kepolisian di Puncak Jaya melalui patroli dialogis juga memperlihatkan pentingnya pendekatan keamanan yang dekat dengan masyarakat. Kapolsek Mulia Ipda Hasan Andarek menegaskan bahwa patroli dilakukan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat sekaligus mengajak warga bersama-sama menjaga kondusivitas wilayah. Pendekatan ini penting karena keamanan yang berkelanjutan membutuhkan kehadiran negara sekaligus partisipasi masyarakat.

Masyarakat juga perlu melihat bahwa upaya aparat tidak semata-mata berbentuk tindakan penegakan hukum. Patroli, komunikasi dengan warga, pemetaan wilayah rawan, respons cepat terhadap laporan, hingga koordinasi dengan pemerintah daerah merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas. Keamanan yang dibangun melalui komunikasi dan kehadiran di tengah masyarakat dapat memperkuat kepercayaan publik sekaligus mencegah berkembangnya gangguan menjadi konflik yang lebih besar.

Di Yahukimo, respons Satgas Operasi Damai Cartenz bersama Polres Yahukimo terhadap kasus penganiayaan berat terhadap seorang warga juga menunjukkan bahwa setiap gangguan keamanan mendapatkan perhatian. Aparat melakukan penyelidikan, mengumpulkan keterangan saksi dan barang bukti, serta mengejar pihak yang diduga bertanggung jawab. Penanganan secara terukur dan berdasarkan prosedur hukum menjadi penting agar masyarakat memperoleh kepastian serta tidak terdorong melakukan tindakan main hakim sendiri.

Pada titik inilah sinergi antara pemerintah, TNI-Polri, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat menjadi semakin penting. Suara para pemimpin lokal seperti Ketua LEMASA dan Kirenius Telenggen menunjukkan bahwa masyarakat Papua memiliki kepedulian besar terhadap terciptanya perdamaian. Dukungan masyarakat terhadap keamanan juga menjadi modal sosial bagi pemerintah dan aparat untuk mempercepat pemulihan stabilitas di wilayah yang masih menghadapi gangguan.

Papua pada akhirnya membutuhkan kedamaian yang nyata, bukan konflik berkepanjangan. Masyarakat berhak bekerja, bersekolah, beribadah, memperoleh layanan kesehatan, menjalankan kegiatan ekonomi, dan membangun masa depan tanpa rasa takut. Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan hak tersebut terlindungi, sementara masyarakat memiliki peran menjaga lingkungan masing-masing tetap kondusif.

Dengan konsistensi pemerintah dalam menjaga keamanan, profesionalisme TNI-Polri dalam melindungi masyarakat, serta dukungan tokoh adat dan agama, Papua memiliki peluang semakin besar untuk keluar dari bayang-bayang konflik. Keamanan bukan sekadar persoalan penindakan, melainkan prasyarat untuk menghadirkan pembangunan yang berkelanjutan. Papua yang aman adalah Papua yang memberi ruang bagi rakyatnya untuk maju, sejahtera, dan menatap masa depan dengan optimisme.

*Penulis merupakan Aktivis masyarakat adat Papua

Pemerintah Siapkan Hilirisasi Puluhan Komoditas, Bidik Investasi hingga 2045

Jakarta – Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, mengatakan pemerintah menyiapkan peta jalan hilirisasi yang mencakup 28 komoditas strategis hingga 2040-2045.

Program tersebut diproyeksikan memiliki potensi investasi mencapai sekitar USD618 miliar dan diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat struktur industri nasional.

“Ada 28 komoditas dalam rencana payung besar program kita sampai 2040-2045. Konsolidasi terhadap ini ada kurang lebih USD618 miliar kalau sektor hilirisasi investasinya kita dorong. Untuk lebih focusing lagi, dalam RPJM kita squeeze menjadi 15 komoditas,” ujar Todotua.

Peta jalan tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari minyak dan gas bumi, mineral, kelautan, agrikultur hingga perkebunan. Pemerintah menyusun strategi berdasarkan potensi cadangan sumber daya alam serta posisi komoditas Indonesia di pasar global.

Dari 28 komoditas dalam rencana besar tersebut, sebanyak 15 komoditas akan menjadi fokus dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Todotua menjelaskan pemerintah menyiapkan tiga strategi utama dalam mendorong investasi hilirisasi, yakni perencanaan, eksekusi, serta strategi perizinan dan pemberian insentif. Pemetaan juga mempertimbangkan sebaran sumber daya alam dan industri pendukung di berbagai wilayah Indonesia.

“Kita mengerti sebarannya dimana potensinya dimana sehingga nanti inilah yang akan menjadi design planning dalam kita mendorong apa namanya konsep hilirisasi. Perencanaannya ini memang kita butuhkan supaya kita mengerti strateginya,” sambung Todotua.

Hilirisasi juga ditujukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor. Pemerintah ingin membangun rantai pasok terintegrasi dari hulu hingga hilir sehingga sumber daya alam yang tersedia di dalam negeri dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

“Sumber daya alam yang kita punya selama ini banyak diolah di luar dan nilai tambahnya di luar. Kita harapkan dengan mendorong hilirisasi, keseluruhan ekosistem supply chain-nya bisa terjadi di negara kita, sehingga ekspor naik dan kita punya kekuatan,” tegas Todotua.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi, Ahmad Erani Yustika, menilai kebijakan tersebut memiliki dua tujuan utama, yakni meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui pengolahan di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap barang impor.

“Yang pertama kita harus menaikkan nilai tambah sumber daya alam kita sehingga harus diolah di sini, itu yang paling utama. Yang kedua kita justru harus mendorong supaya ketergantungan impornya itu berkurang,” kata Erani.

[w.R]

Pemerintah Gencarkan Hilirisasi, Indonesia Bakal Naik Kelas dalam Rantai Nilai Global

Jakarta – Pemerintah terus menggencarkan hilirisasi sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat industri nasional, dan mendorong posisi Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu mengatakan pemerintah menyiapkan tiga strategi investasi hilirisasi, yaitu perencanaan, eksekusi, serta kebijakan perizinan dan pemberian insentif.

“Pertama itu berbicara perencanaan. Kemudian kita melihat juga planning perencanaan ini, sisi eksekusinya. Yang ketiga itu kita melihat juga karena dalam hal ini kapasitas kita sebagai pemerintah regulator, tentunya kita juga akan melihat bagaimana mengenai strategi perizinan dan juga strategi insentif,” ujar Todotua.

Menurut Todotua, pemerintah tengah menyusun peta jalan (roadmap) hilirisasi terhadap 28 komoditas strategis hingga 2045 dengan potensi nilai investasi mencapai US$618 miliar.

“Ada 28 komoditas dalam rencana payung besar program kita sampai 2040–2045. Konsolidasi terhadap ini ada kurang lebih US$618 miliar kalau sektor hilirisasi investasinya kita dorong. Untuk lebih focusing lagi, dalam RPJM kita squeeze menjadi 15 komoditas,” katanya.

Roadmap ini mencakup pemetaan cadangan sumber daya, posisi Indonesia di pasar global, serta industri pendukung di lima pulau besar. Program ini diarahkan untuk mengoptimalkan potensi sektor migas, mineral, kelautan, dan perkebunan guna meningkatkan nilai tambah sekaligus mendorong pemerataan ekonomi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Ahmad Erani Yustika menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan dua tujuan utama dalam program hilirisasi nasional, yakni meningkatkan nilai tambah kekayaan alam dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap barang impor.

“Yang pertama kita harus menaikkan nilai tambah sumber daya alam kita sehingga harus diolah di sini, itu yang paling utama. Yang kedua kita justru harus mendorong supaya ketergantungan impornya itu berkurang,” kata Erani.

Melalui hilirisasi yang terencana dan terintegrasi, Indonesia diharapkan tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Langkah tersebut sekaligus menjadi fondasi untuk memperkuat kemandirian industri, menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai nilai global.

Hilirisasi Terintegrasi Jadi Fondasi Indonesia Menuju Ekonomi Maju 2045

Oleh : Radjiman Arif*)

Hilirisasi bukan lagi sekadar agenda pembangunan industri, melainkan strategi besar untuk menentukan arah ekonomi Indonesia menuju 2045. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, bangsa yang hanya menjual bahan mentah akan sulit memperoleh manfaat maksimal dari kekayaan alamnya. Karena itu, pengolahan sumber daya di dalam negeri menjadi jalan penting untuk menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat industri.

Indonesia memiliki modal besar berupa mineral, energi, perkebunan, kelautan, dan sumber daya lainnya. Tantangannya adalah memastikan setiap tahap produksi terhubung dari hulu hingga hilir. Hilirisasi yang terintegrasi menjadi penting karena pembangunan industri tidak cukup hanya menghasilkan produk olahan, tetapi juga harus memperkuat rantai pasok, teknologi, investasi, dan kemampuan tenaga kerja Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto menempatkan hilirisasi sebagai salah satu kunci kebangkitan dan kemakmuran bangsa. Menurut Presiden, Indonesia harus memiliki keberanian untuk menguasai serta mengolah sumber daya alamnya sendiri. Kekayaan yang melimpah tidak akan otomatis membawa kemakmuran apabila nilai tambah terbesar justru dihasilkan negara lain setelah bahan mentah Indonesia diekspor.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi memiliki makna lebih luas daripada pembangunan pabrik. Hilirisasi berkaitan dengan kemampuan bangsa membangun kedaulatan ekonomi dan memperkuat fondasi pembangunan jangka panjang.

Komitmen tersebut menunjukkan pemerintah tidak ingin agenda hilirisasi berhenti pada perencanaan. Berbagai proyek strategis terus didorong memasuki tahap implementasi. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa hilirisasi bergerak dari gagasan menuju pelaksanaan yang diharapkan memberikan dampak langsung bagi pembangunan nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia kemudian menegaskan bahwa tidak ada negara maju tanpa industrialisasi dan hilirisasi. Negara yang kaya sumber daya tetap dapat tertinggal apabila hanya bergantung pada ekspor bahan mentah. Oleh sebab itu, Indonesia harus mengubah kekuatan sumber daya menjadi produk industri bernilai ekonomi tinggi.
Bahlil juga menekankan pentingnya hilirisasi yang memberikan manfaat lebih luas. Kebijakan tersebut harus membuka kesempatan bagi pengusaha nasional, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Hilirisasi tidak boleh hanya menjadi proyek investasi besar, melainkan instrumen untuk memperluas manfaat kekayaan alam kepada masyarakat Indonesia.

Keberhasilan hilirisasi mineral memberikan pelajaran penting bagi arah kebijakan tersebut. Pengolahan komoditas di dalam negeri telah mendorong tumbuhnya industri turunan dan menarik investasi. Namun, Indonesia tidak boleh berhenti pada pengolahan awal.

Di sinilah pentingnya pendekatan hilirisasi yang terintegrasi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan perlunya memperkuat kapabilitas industri dalam negeri untuk mempercepat hilirisasi dan mendukung swasembada energi. Penguatan industri domestik diperlukan agar Indonesia memiliki kemampuan lebih besar dalam memproduksi teknologi dan komponen sektor strategis.

Airlangga melihat hilirisasi tidak dapat dipisahkan dari pembangunan ekosistem industri nasional. Investasi harus terhubung dengan kapasitas manufaktur, pengembangan teknologi, ketersediaan tenaga kerja terampil, serta penguatan rantai pasok dalam negeri. Dengan pola tersebut, nilai ekonomi yang tercipta tidak hanya dinikmati satu sektor, tetapi dapat menyebar ke berbagai kegiatan produksi.

Penguatan hilirisasi juga relevan dengan agenda swasembada energi. Indonesia membutuhkan industri yang mampu mendukung pemanfaatan sumber daya domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk dan teknologi luar negeri. Hilirisasi energi dan mineral yang didukung industri nasional dapat memperkuat ketahanan ekonomi.

Arah pembangunan tersebut menuntut koordinasi kuat antara pemerintah, dunia usaha, lembaga riset, dan perguruan tinggi. Hilirisasi terintegrasi membutuhkan kebijakan yang konsisten karena membangun industri tidak dapat diselesaikan secara instan. Kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur, ketersediaan energi, serta pengembangan sumber daya manusia menjadi faktor penting agar investasi dapat berkembang secara berkelanjutan.

Pada saat yang sama, pemerintah perlu memastikan pembangunan industri tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kepentingan masyarakat sekitar. Kemajuan ekonomi melalui hilirisasi harus berjalan seiring dengan tata kelola sumber daya yang bertanggung jawab. Indonesia tidak hanya perlu mengejar pertumbuhan, tetapi juga membangun kualitas pembangunan yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

Menuju Indonesia Emas 2045, hilirisasi terintegrasi menjadi fondasi untuk keluar dari ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah. Kebijakan ini membuka kesempatan untuk menghubungkan kekayaan alam dengan industri, teknologi, investasi, dan tenaga kerja nasional dalam satu ekosistem pembangunan.

Dengan kepemimpinan yang menempatkan hilirisasi sebagai agenda strategis, Indonesia memiliki peluang besar memperkuat posisi ekonominya. Kekayaan alam tidak cukup hanya dimiliki. Kekayaan tersebut harus dikelola, diolah, dan dikembangkan agar menciptakan kemakmuran yang lebih luas bagi rakyat.

Pada akhirnya, hilirisasi terintegrasi merupakan jalan untuk mengubah potensi menjadi kekuatan nyata. Ketika sumber daya, industri, teknologi, investasi, dan tenaga kerja bergerak dalam satu arah, Indonesia dapat membangun ekonomi yang lebih mandiri, produktif, dan berdaya saing. Konsistensi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat hilirisasi menjadi modal penting agar cita-cita Indonesia sebagai negara maju pada 2045 memiliki fondasi yang kuat dan manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat.

*) Penulis merupakan Pengamat Sosial

Hilirisasi Jadi Jalan Indonesia Mengubah Kekayaan Alam Menjadi Kekuatan Ekonomi

Oleh : Catur Ronggo*)

Hilirisasi bukan lagi sekadar istilah ekonomi dalam dokumen pembangunan. Di tengah persaingan global, kebijakan ini menjadi jalan bagi Indonesia untuk mengubah kekayaan alam yang selama ini diekspor sebagai bahan mentah menjadi kekuatan ekonomi bernilai tambah. Arah tersebut semakin relevan ketika pemerintah berupaya memperkuat industri dan memastikan kekayaan alam memberikan manfaat lebih besar kepada rakyat.

Indonesia memiliki modal besar berupa mineral, energi, perkebunan, kelautan, dan komoditas strategis. Namun, kekayaan alam tidak otomatis menjadikan negara makmur. Nilai ekonomi dapat berpindah ke negara lain apabila bahan mentah hanya dijual tanpa pengolahan. Karena itu, hilirisasi menjadi pilihan strategis untuk mengubah struktur ekonomi menuju industri yang menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing.

Presiden Prabowo Subianto menempatkan hilirisasi sebagai salah satu kunci kebangkitan dan kemakmuran bangsa. Dalam pandangannya, Indonesia harus memiliki keberanian untuk menguasai dan mengolah sumber daya yang dimilikinya sendiri. Kekayaan alam akan sulit membawa kemakmuran apabila bangsa hanya menjadi pemasok bahan mentah, sementara nilai tambah terbesar dinikmati negara lain.

Penegasan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pabrik. Lebih dari itu, kebijakan ini menyangkut kedaulatan ekonomi. Presiden menekankan pentingnya memperkuat fondasi yang telah dibangun dengan orientasi terhadap penguasaan sumber daya dan manfaat bagi rakyat. Pemerintah juga menempatkan hilirisasi sebagai bagian dari transformasi industri nasional yang mengikuti perkembangan teknologi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memperkuat pandangan tersebut dengan menilai industrialisasi dan hilirisasi sebagai syarat penting bagi negara berkembang untuk naik menjadi negara maju. Menurutnya, negara yang memiliki sumber daya alam besar tetap berisiko terjebak dalam ketergantungan apabila tidak mampu mengolah kekayaan tersebut menjadi produk bernilai tambah.

Bahlil juga mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya harus dikelola secara adil. Hilirisasi tidak hanya boleh menguntungkan investor atau pemerintah, tetapi harus membuka ruang bagi pengusaha lokal dan memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan perlu diarahkan menjadi pertumbuhan berkualitas, merata, dan menciptakan kesempatan kerja di berbagai daerah.

Pengalaman hilirisasi nikel menjadi gambaran perubahan nilai tambah yang ingin diperluas pemerintah. Setelah kebijakan penghentian ekspor bijih nikel, Indonesia semakin mendorong pengembangan produk turunan di dalam negeri. Pelajaran utamanya jelas: ketika sumber daya diproses lebih lanjut di Indonesia, peluang memperoleh nilai ekonomi, memperkuat industri, dan membangun ekosistem produksi menjadi semakin besar.

Tantangan berikutnya adalah memastikan hilirisasi tidak berhenti pada pengolahan tahap awal. Indonesia harus terus bergerak menuju produk dengan kandungan teknologi dan nilai tambah lebih tinggi. Di sinilah investasi, riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari strategi pemerintah bagi industri nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menekankan bahwa investasi dan hilirisasi harus membangun ekosistem industri yang produktif, berdaya saing, dan memberikan manfaat nyata bagi tenaga kerja. Besarnya investasi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang lebih penting adalah kemampuan investasi menciptakan pekerjaan berkualitas, meningkatkan produktivitas, memperkuat penguasaan teknologi, serta menghasilkan nilai tambah.

Perkembangan investasi menunjukkan arah tersebut mulai membentuk fondasi ekonomi. Hilirisasi menjadi salah satu sektor yang terus didorong untuk menarik penanaman modal dan memperluas produksi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kebijakan pengolahan sumber daya di dalam negeri semakin memiliki peran penting dalam memperkuat struktur ekonomi dan menciptakan peluang kerja di Indonesia.

Rosan juga melihat masa depan hilirisasi tidak hanya bertumpu pada mineral. Tahap berikutnya perlu merambah sektor yang menentukan pertumbuhan ekonomi masa depan, termasuk teknologi, inovasi, energi bersih, infrastruktur digital, dan manufaktur maju. Perspektif ini penting agar Indonesia tidak hanya mengolah sumber daya alam, tetapi juga membangun kemampuan industri yang berdaya saing global.

Keberhasilan hilirisasi membutuhkan konsistensi kebijakan dan kepastian investasi. Pemerintah perlu memastikan pembangunan industri berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, penguatan masyarakat lokal, serta peningkatan kualitas tenaga kerja. Hilirisasi yang berkelanjutan harus mampu menjawab siapa yang memperoleh manfaat dan bagaimana kekayaan alam dapat dikelola bagi generasi berikutnya.

Dalam konteks itulah kebijakan hilirisasi pemerintahan saat ini memiliki arti strategis. Indonesia sedang berusaha mengubah paradigma lama dari menjual kekayaan menjadi mengelola kekayaan. Perubahan tersebut membutuhkan waktu, investasi, teknologi, dan disiplin kebijakan. Namun, pilihan membangun nilai tambah di dalam negeri jauh lebih menjanjikan dibandingkan membiarkan potensi nasional terus keluar sebagai bahan mentah
.
Hilirisasi pada akhirnya adalah jalan untuk mempertemukan kekayaan alam dengan kekuatan industri, investasi, teknologi, dan tenaga kerja Indonesia. Ketika seluruh mata rantai dibangun secara konsisten, sumber daya alam tidak lagi hanya menjadi komoditas, tetapi menjadi fondasi kemakmuran yang dapat dirasakan secara luas dan berkesinambungan bagi masyarakat. Dengan kepemimpinan yang tegas dan kebijakan berkelanjutan, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membuka jalan agar kekayaan alam Indonesia benar-benar berubah menjadi kekuatan ekonomi nasional dan sebesar-besarnya dinikmati oleh rakyat.

*) Penulis merupakan Pengamat Sosial

LENSA SR Diperkuat, Informasi Sekolah Rakyat Dibuat Cepat dan Terintegrasi

JAKARTA — Kementerian Sosial memperkuat tata kelola informasi Program Sekolah Rakyat melalui LENSA SR (Layanan Informasi Sekolah Rakyat). Penguatan ini ditujukan agar informasi dapat dihimpun, diverifikasi, dan disebarluaskan secara cepat, terintegrasi, akurat, serta tetap memperhatikan prinsip data-safe dan child-safe.

Selama ini, respons terhadap isu masih cenderung dilakukan berdasarkan kasus per kasus dan bergantung pada koordinasi informal. Kondisi tersebut berisiko menimbulkan respons lambat, narasi antarkanal yang tidak seragam, klarifikasi berulang, hoaks, salah tafsir, hingga publikasi yang belum sepenuhnya aman bagi anak dan keluarga rentan.

“Dengan adanya LENSA SR, segala informasi yang berkaitan dengan Sekolah Rakyat dapat terintegrasi dengan baik dari pusat hingga daerah. Sehingga masyarakat mudah mendapatkan informasi yang valid, cepat dan terhindar dari narasi hoax di media sosial,” ujar Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa Fatkhurohman Taufik

Melalui LENSA SR, informasi dihimpun dari berbagai sumber, mulai dari media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra/Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, hingga informasi lapangan. Informasi kemudian dikonfirmasi kepada PIC atau unit pemilik substansi sebelum diolah menjadi narasi dan rekomendasi respons.

Mekanisme tersebut mencakup enam tahapan, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, olah isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi.

Penguatan tata kelola ini telah memasuki tahap implementasi melalui Nota Dinas Sekretaris Jenderal Nomor 3240/1/HM.01.03/8/2026 tentang Rekomendasi Isu dan Respons Komunikasi Sekolah Rakyat pada 27 Agustus 2026.

LENSA SR juga dilengkapi Living FAQ, bank narasi, talking points, template klarifikasi dan bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Isu ditangani berdasarkan tingkat risiko, sementara isu berat terkait keselamatan anak, kekerasan, kebocoran data, integritas anggaran, atau dugaan pelanggaran hukum segera dieskalasikan sesuai kewenangan.

Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico berharap LENSA SR dapat menjadi rujukan layanan informasi terintegrasi, tidak hanya untuk Sekolah Rakyat, tetapi juga program Kemensos lainnya.

“Semoga ke depan LENSA SR menjadi rujukan sebagai program layanan informasi terintegrasi, tidak hanya dalam lingkup Sekolah Rakyat tapi juga program lain seperti PKH, Sembako atau layanan lain di Kemensos,” pungaknyas.

LENSA SR Diperkuat, Informasi Sekolah Rakyat Dibuat Cepat dan Terintegrasi

JAKARTA — Kementerian Sosial memperkuat tata kelola informasi Program Sekolah Rakyat melalui LENSA SR (Layanan Informasi Sekolah Rakyat). Penguatan ini ditujukan agar informasi dapat dihimpun, diverifikasi, dan disebarluaskan secara cepat, terintegrasi, akurat, serta tetap memperhatikan prinsip data-safe dan child-safe.

Selama ini, respons terhadap isu masih cenderung dilakukan berdasarkan kasus per kasus dan bergantung pada koordinasi informal. Kondisi tersebut berisiko menimbulkan respons lambat, narasi antarkanal yang tidak seragam, klarifikasi berulang, hoaks, salah tafsir, hingga publikasi yang belum sepenuhnya aman bagi anak dan keluarga rentan.

“Dengan adanya LENSA SR, segala informasi yang berkaitan dengan Sekolah Rakyat dapat terintegrasi dengan baik dari pusat hingga daerah. Sehingga masyarakat mudah mendapatkan informasi yang valid, cepat dan terhindar dari narasi hoax di media sosial,” ujar Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa Fatkhurohman Taufik

Melalui LENSA SR, informasi dihimpun dari berbagai sumber, mulai dari media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra/Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, hingga informasi lapangan. Informasi kemudian dikonfirmasi kepada PIC atau unit pemilik substansi sebelum diolah menjadi narasi dan rekomendasi respons.

Mekanisme tersebut mencakup enam tahapan, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, olah isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi.

Penguatan tata kelola ini telah memasuki tahap implementasi melalui Nota Dinas Sekretaris Jenderal Nomor 3240/1/HM.01.03/8/2026 tentang Rekomendasi Isu dan Respons Komunikasi Sekolah Rakyat pada 27 Agustus 2026.

LENSA SR juga dilengkapi Living FAQ, bank narasi, talking points, template klarifikasi dan bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Isu ditangani berdasarkan tingkat risiko, sementara isu berat terkait keselamatan anak, kekerasan, kebocoran data, integritas anggaran, atau dugaan pelanggaran hukum segera dieskalasikan sesuai kewenangan.

Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico berharap LENSA SR dapat menjadi rujukan layanan informasi terintegrasi, tidak hanya untuk Sekolah Rakyat, tetapi juga program Kemensos lainnya.

“Semoga ke depan LENSA SR menjadi rujukan sebagai program layanan informasi terintegrasi, tidak hanya dalam lingkup Sekolah Rakyat tapi juga program lain seperti PKH, Sembako atau layanan lain di Kemensos,” pungaknyas.

Pemerintah Bangun LENSA SR agar Publik Terhindar dari Hoaks Sekolah Rakyat

Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat tata kelola informasi publik mengenai Sekolah Rakyat untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang valid, cepat, dan terhindar dari hoaks.

Langkah tersebut dilakukan melalui pengembangan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif). Sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan informasi Sekolah Rakyat dari tingkat pusat hingga daerah sehingga informasi yang diterima masyarakat tetap konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pengembangan LENSA SR dilatarbelakangi tingginya kebutuhan masyarakat terhadap informasi mengenai Sekolah Rakyat. Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan melalui media sosial, terutama terkait lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat.

Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman Taufik mengatakan LENSA SR dibangun agar seluruh informasi mengenai Sekolah Rakyat dapat dikelola secara terintegrasi dari pusat hingga daerah.

“Dengan adanya LENSA SR, segala informasi yang berkaitan dengan Sekolah Rakyat dapat terintegrasi dengan baik dari pusat hingga daerah. Sehingga masyarakat mudah mendapatkan informasi yang valid, cepat dan terhindar dari narasi hoax di media sosial,” ujar Fatkhurohman.

Melalui LENSA SR, informasi yang masuk tidak langsung dijadikan bahan publikasi. Informasi terlebih dahulu dihimpun dari berbagai sumber, seperti media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, hingga informasi lapangan.

Informasi tersebut kemudian dikonfirmasi kepada unit yang bertanggung jawab terhadap substansi terkait. Proses verifikasi dilakukan untuk memastikan informasi akurat, terbaru, terkonfirmasi, dan dapat dipertanggungjawabkan sebelum disampaikan kepada masyarakat.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono mengatakan penguatan informasi publik menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat memahami tujuan dan pelaksanaan Sekolah Rakyat secara tepat. Menurutnya, program tersebut telah menunjukkan perkembangan positif setelah berjalan selama satu tahun dan diarahkan untuk membantu memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

“Sekolah Rakyat ini bukan sekadar memberikan pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memutus rantai kemiskinan,” ujar Agus.

LENSA SR bekerja melalui enam tahapan, mulai dari menangkap dan mengklasifikasikan isu, memvalidasi substansi, mengolah isu dan narasi, menyusun rekomendasi respons, melakukan diseminasi, hingga monitoring dan pembelajaran organisasi.

Pemerintah juga menekankan prinsip data-safe dan child-safe dalam penyampaian informasi. Dengan mekanisme tersebut, LENSA SR diharapkan mampu memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap informasi resmi Sekolah Rakyat sekaligus mempersempit ruang penyebaran hoaks dan salah tafsir di media sosial.

LENSA SR: Sekolah Rakyat Dikelola Lebih Terbuka

Oleh: Rania Zafirah)*

Kehadiran Sekolah Rakyat memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan. Seiring pelaksanaan program tersebut, kebutuhan terhadap informasi yang akurat, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan semakin penting. Penguatan tata kelola informasi diperlukan agar masyarakat memperoleh pemahaman yang jelas mengenai perkembangan Sekolah Rakyat.

Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Sosial (Kemensos) mengembangkan LENSA SR (Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif) sebagai upaya memperkuat tata kelola informasi terkait Sekolah Rakyat. Sistem tersebut dirancang untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat valid, terintegrasi, dan konsisten.

Hingga Mei 2026, Kemensos mencatat sebanyak 5.299 pertanyaan dan aduan yang masuk melalui media sosial. Sebagian besar pertanyaan masyarakat berkaitan dengan lokasi, jadwal, serta ketersediaan Sekolah Rakyat. Tingginya jumlah pertanyaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang jelas mengenai pelaksanaan program.

Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa, Fatkhurohman LENSA SR dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting karena pelaksanaan Sekolah Rakyat melibatkan berbagai unsur dan berlangsung di sejumlah wilayah. Melalui LENSA SR, informasi yang diterima tidak serta-merta digunakan sebagai bahan publikasi. Informasi tersebut terlebih dahulu dikumpulkan dari berbagai sumber dan dikonfirmasi kepada unit yang memiliki kewenangan atau substansi terkait.

Sumber informasi yang digunakan mencakup media massa, media sosial, PPID, SP4N-LAPOR!, Command Center 171, laporan Sentra dan Balai, pengelola Sekolah Rakyat, pemerintah daerah, serta informasi yang diperoleh dari lapangan. Keragaman sumber tersebut memungkinkan pemerintah memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan dan persoalan yang muncul di lapangan.

Selanjutnya, informasi tersebut melalui proses pemeriksaan guna memastikan keakuratan, keterbaruan, konfirmasi, dan pertanggungjawabannya. Setelah dinyatakan sesuai, informasi kemudian diolah menjadi narasi serta rekomendasi respons berdasarkan tingkat kebutuhan. Proses ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga mengutamakan validitas.

LENSA SR menerapkan enam tahapan mekanisme, yakni tangkap dan klasifikasi isu, validasi substansi, pengolahan isu dan narasi, rekomendasi respons dan tindak lanjut, diseminasi, serta monitoring dan pembelajaran organisasi. Rangkaian tersebut membentuk siklus pengelolaan informasi yang memungkinkan setiap isu ditangani secara sistematis, mulai dari informasi diterima hingga evaluasi terhadap respons yang diberikan.

Kehadiran sistem tersebut juga membuka ruang bagi pertanyaan dan aduan masyarakat untuk menjadi bahan evaluasi. Informasi yang diterima dapat dipetakan berdasarkan isu sehingga pemerintah memiliki dasar untuk memperkuat komunikasi publik sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, komunikasi tidak hanya menjadi sarana penyampaian informasi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dalam pelaksanaan program.

Untuk memastikan keseragaman informasi, LENSA SR dilengkapi dengan Living FAQ, bank narasi, narasi kunci, talking points, template klarifikasi, template bantahan hoaks, bahan pimpinan, serta checklist data-safe dan child-safe. Perangkat tersebut menjadi rujukan agar informasi yang disampaikan melalui berbagai kanal tetap mengacu pada substansi yang sama.

Ketersediaan template klarifikasi dan bantahan hoaks juga relevan di tengah arus informasi digital yang berkembang cepat. Masyarakat membutuhkan rujukan yang jelas untuk membedakan informasi yang telah dikonfirmasi dengan informasi yang belum memiliki dasar. Pengelolaan informasi secara terstruktur dapat membantu mencegah kesimpangsiuran sekaligus memperkuat akses masyarakat terhadap informasi resmi.

Keterbukaan informasi juga berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap penerima manfaat. Sekolah Rakyat berkaitan langsung dengan anak-anak dan keluarga rentan sehingga penyampaian informasi perlu memperhatikan keamanan dan martabat mereka. Karena itu, prinsip data-safe dan child-safe menjadi bagian dari sistem LENSA SR.

Kementerian Sosial berharap LENSA SR dapat menjadi model tata kelola informasi yang nantinya diterapkan pada berbagai program Kemensos lainnya. Sistem tersebut dapat semakin mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi sekaligus mencegah beredarnya informasi yang tidak benar.

Harapan tersebut menunjukkan bahwa penguatan tata kelola informasi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan komunikasi Sekolah Rakyat. Pengalaman yang dibangun melalui LENSA SR juga dapat menjadi dasar pengembangan pola komunikasi publik yang lebih terintegrasi pada berbagai program Kemensos lainnya.

Tingginya perhatian masyarakat terhadap Sekolah Rakyat menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang semakin terbuka. Ketika masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai lokasi, jadwal, maupun ketersediaan sekolah melalui sumber yang jelas, pemahaman terhadap program dapat terbentuk secara lebih baik.

Melalui LENSA SR, Kemensos menargetkan informasi mengenai Sekolah Rakyat tidak sekadar disampaikan secara cepat, tetapi juga telah terkonfirmasi, konsisten, dapat ditelusuri, serta tetap memperhatikan keamanan dan martabat anak maupun keluarga rentan.

Pada akhirnya, LENSA SR menjadi bagian dari penguatan tata kelola informasi Sekolah Rakyat. Sistem tersebut memungkinkan pemerintah menghimpun informasi dari berbagai sumber, melakukan validasi, mengolahnya menjadi narasi, menyampaikannya kepada masyarakat, serta memantau perkembangan isu secara berkelanjutan. Perpaduan antara transparansi, akurasi, integrasi, dan perlindungan diharapkan dapat mendukung pengelolaan Sekolah Rakyat yang semakin terbuka sekaligus tetap mengutamakan kepentingan masyarakat dan keluarga penerima manfaat.

*) Penulis adalah Content Writer di GREEN Indonesia

LENSA SR Menjadi Benteng Informasi Sekolah Rakyat dari Hoaks Digital

Oleh Firly Ismail )*

Transformasi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh, mengolah, dan menyebarkan informasi. Di tengah arus informasi yang bergerak begitu cepat, persoalan utama bukan lagi sekadar ketersediaan informasi, melainkan bagaimana memastikan informasi tersebut benar, terverifikasi, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kondisi ini menjadi semakin penting ketika informasi menyangkut program pemerintah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, termasuk Sekolah Rakyat. Kehadiran Layanan Ekosistem Narasi Sekolah Rakyat yang Adaptif atau LENSA SR yang diluncurkan Kementerian Sosial menjadi langkah strategis untuk membangun benteng informasi sekaligus memperkuat tata kelola komunikasi publik di tengah ancaman hoaks digital.

Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Komunikasi dan Media Massa Fatkhurohman Taufik menilai LENSA SR dapat menjadi instrumen untuk mengintegrasikan seluruh informasi mengenai Sekolah Rakyat dari tingkat pusat hingga daerah. Integrasi tersebut penting agar masyarakat memperoleh informasi yang valid dan cepat sekaligus memiliki perlindungan dari narasi hoaks yang beredar di media sosial. Dengan adanya sistem komunikasi yang terkoordinasi, potensi munculnya perbedaan informasi antarlembaga atau antarwilayah dapat ditekan. Publik pun memiliki rujukan yang lebih jelas ketika menemukan informasi yang meragukan.

Kekuatan LENSA SR terletak pada pendekatan yang tidak berhenti pada aktivitas publikasi. Kanal tersebut dirancang untuk mengelola informasi sekaligus menghimpun berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat. Laporan dari Command Center 171, portal SP4N-LAPOR!, pemberitaan media massa, maupun percakapan di ruang digital dapat menjadi sumber untuk membaca isu secara lebih komprehensif. Aduan dan informasi tersebut kemudian melalui enam tahapan kurasi internal di tingkat pusat. Proses tersebut mencakup validasi data kepada unit teknis, penyusunan rekomendasi respons, hingga penyampaian jawaban resmi kepada publik.

Di tengah kemunculan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence, tantangan informasi menjadi semakin kompleks. Masyarakat kini dapat menemukan teks, gambar, suara, hingga video yang tampak meyakinkan, tetapi belum tentu memiliki dasar informasi yang benar. Sekretaris Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Sulawesi Selatan Sultan Rakib mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh menerima begitu saja informasi yang dihasilkan teknologi AI. Verifikasi mandiri tetap diperlukan karena AI bekerja dengan mengolah data yang tersedia di internet, termasuk data yang mungkin mengandung bias ataupun hoaks yang telah beredar sebelumnya.

Peringatan tersebut relevan dengan pengelolaan informasi Sekolah Rakyat. Teknologi dapat membantu mempercepat produksi dan distribusi informasi, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab manusia dalam memastikan kebenaran sebuah informasi. Kecepatan tanpa verifikasi justru dapat memperbesar dampak kesalahan. Karena itu, penggunaan teknologi dalam komunikasi publik harus selalu ditempatkan dalam kerangka kehati-hatian, transparansi, dan tanggung jawab.

Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial Robben Rico juga memandang LENSA SR perlu dikembangkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari tata kelola komunikasi publik Sekolah Rakyat. Pengembangannya dapat mencakup pelembagaan Forum Isu Mingguan, konsolidasi berbagai isu, aduan, pemberitaan, media sosial, serta informasi lapangan dalam bentuk matriks atau dashboard. Pembaruan FAQ dan bank narasi berdasarkan hasil pengolahan isu juga menjadi bagian penting agar pemerintah memiliki kesiapan dalam menjawab persoalan yang berulang maupun isu baru yang berkembang cepat.

LENSA SR memiliki peluang untuk menjadi model tata kelola informasi bagi berbagai program Kementerian Sosial. Dengan sistem yang terintegrasi, masyarakat tidak harus mencari informasi dari banyak sumber yang belum tentu memiliki tingkat akurasi yang sama. Pemerintah dapat menghadirkan satu ekosistem informasi yang mudah diakses, responsif, dan memiliki mekanisme verifikasi yang jelas.

Namun, keberhasilan LENSA SR tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan sistem internal pemerintah. Literasi digital masyarakat tetap menjadi faktor penting. Publik perlu membangun kebiasaan memeriksa sumber, membandingkan informasi, membaca konteks secara utuh, serta tidak terburu-buru membagikan konten yang belum terverifikasi. Pemerintah dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan ruang digital yang sehat.

Untuk Sekolah Rakyat, kebutuhan terhadap informasi yang akurat memiliki konsekuensi yang lebih besar karena program ini berkaitan dengan anak dan keluarga rentan. Kesalahan informasi bukan hanya dapat menimbulkan kebingungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap penerima manfaat. Oleh karena itu, komunikasi publik harus mengedepankan prinsip kehati-hatian, menjaga keamanan data, serta menghormati martabat anak dan keluarga yang dilayani.

LENSA SR dengan demikian bukan sekadar kanal komunikasi baru. Jika dikelola secara konsisten, sistem ini dapat menjadi benteng informasi yang mempertemukan kecepatan, verifikasi, koordinasi, dan kebutuhan masyarakat dalam satu ekosistem. Di tengah derasnya arus hoaks dan perkembangan AI, kekuatan utama pemerintah bukan sekadar kemampuan berbicara lebih cepat, melainkan kemampuan memastikan bahwa setiap informasi yang disampaikan benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Sekolah Rakyat membutuhkan ekosistem informasi seperti itu agar kepercayaan publik tumbuh seiring dengan pelaksanaan program. Sebab perang melawan hoaks bukan hanya perang teknologi, tetapi juga perang melawan ketidakpedulian terhadap kebenaran. LENSA SR dapat menjadi salah satu fondasi penting untuk memenangkan pertarungan tersebut.

)* Penulis Merupakan Pengamat Kebijakan Teknologi Informasi