Vice Executive Director IFSR Alfatehan Septianta: MBG Perkuat Gizi Anak dan Gerakkan Ekonomi Lokal

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat. Mengingat cakupannya yang sangat besar, implementasi program ini membutuhkan tata kelola yang bersih, transparan, akuntabel, dan profesional agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat.

Hal tersebut disampaikan dalam Dialog Radio Elshinta bertajuk “Tata Kelola yang Bersih, Transparan, dan Profesional Dalam Operasional SPPG Sebagai Bagian Dari Implementasi Program MBG”.

Vice Executive Director Indonesia Food Security Review (IFSR) Alfatehan Septianta mengatakan bahwa skala program MBG menuntut pengelolaan yang profesional serta pengawasan yang kuat.

“Program MBG memiliki cakupan yang sangat besar sehingga tata kelola yang transparan, akuntabel, dan profesional menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa saat ini Indonesia menjadi negara dengan jumlah penerima manfaat program makan sekolah terbesar kedua di dunia. Program MBG telah menjangkau sekitar 64 juta penerima manfaat setiap hari. “Angka tersebut masih berada di bawah program midday meal India yang menjangkau sekitar 82 juta penerima manfaat per hari,” kata Alfatehan.

Menurutnya, apabila program MBG telah berjalan secara penuh, jumlah penerima manfaat di Indonesia diperkirakan dapat mencapai sekitar 80 juta orang setiap hari.

“Ini menunjukkan bahwa program MBG memiliki potensi besar dalam memperkuat upaya pemenuhan gizi anak di Indonesia,” jelasnya.

Dalam mendukung pelaksanaan program tersebut, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) terus memperkuat operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hingga saat ini telah beroperasi sekitar 24 ribu dapur atau sekitar 70 persen dari target 30 ribu dapur yang direncanakan pemerintah.

Alfatehan menyebutkan bahwa BGN juga telah menerapkan berbagai standar operasional untuk menjaga kualitas pelayanan dan keamanan pangan.

“Setiap dapur diwajibkan memenuhi standar keamanan pangan seperti sertifikasi halal dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi, serta direncanakan menerapkan standar HACCP,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa program MBG tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas gizi anak, tetapi juga memberikan efek ekonomi bagi masyarakat.

“Selain meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, program ini juga menggerakkan ekonomi lokal karena kebutuhan bahan pangan dipasok dari petani dan pelaku usaha lokal serta membuka lapangan kerja di operasional dapur,” tutupnya.

BGN Perkuat Standar Operasional SPPG untuk Jamin Keberhasilan Program MBG

Jakarta – Upaya memperkuat tata kelola yang bersih, transparan, dan profesional dalam operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terus dilakukan sebagai bagian dari implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program strategis nasional ini dinilai membutuhkan sistem pengelolaan yang akuntabel mengingat skala penerima manfaatnya yang sangat besar di seluruh Indonesia.

Vice Executive Director Indonesia Food Security Review (IFSR) Alfatehan Septianta mengatakan bahwa program MBG memiliki skala yang sangat luas sehingga membutuhkan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan profesional guna menjaga kepercayaan publik.

“Program Makan Bergizi Gratis memiliki skala yang sangat besar sehingga membutuhkan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan profesional untuk menjaga kepercayaan publik,” ujar Alfatehan.

Menurutnya, penerapan prinsip _good governance_ menjadi faktor kunci agar program tersebut dapat berjalan secara efektif serta memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Ia menjelaskan bahwa saat ini Indonesia telah menjadi negara dengan jumlah penerima manfaat terbesar kedua di dunia dalam program makan sekolah.

Alfatehan menyebutkan jumlah penerima manfaat MBG saat ini telah mencapai sekitar 64 juta orang setiap hari. Angka tersebut berada di bawah program midday meal di India yang menjangkau sekitar 82 juta penerima manfaat per hari.

“Jika program MBG telah berjalan secara penuh atau _full scale_, jumlah penerima manfaat di Indonesia diperkirakan dapat mencapai sekitar 80 juta orang setiap hari,” katanya.

Dalam mendukung implementasi program tersebut, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) terus memperkuat operasional dapur SPPG yang menjadi ujung tombak pelaksanaan program di lapangan. Hingga saat ini telah beroperasi sekitar 24 ribu dapur SPPG atau sekitar 70 persen dari target 30 ribu dapur yang direncanakan pemerintah.

BGN, lanjut Alfatehan, telah menerapkan berbagai standar operasional melalui petunjuk teknis pelaksanaan program MBG. Dapur SPPG juga diwajibkan memenuhi berbagai sertifikasi dan standar keamanan pangan, seperti sertifikasi halal dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), serta direncanakan menerapkan standar Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).

Menurut Alfatehan, program MBG yang baru berjalan sekitar satu tahun masih terus mengalami proses evaluasi dan penyempurnaan tata kelola. BGN juga menggandeng perguruan tinggi negeri maupun swasta untuk membantu merumuskan sistem pengelolaan yang lebih baik.

Selain itu, implementasi program dilakukan dengan pendekatan reward and punishment, yakni memberikan apresiasi kepada dapur yang beroperasi dengan baik serta memberikan sanksi bagi pihak yang melanggar standar.

Di sisi lain, program MBG tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas gizi anak sekolah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.

“Sebagian besar anggaran program digunakan untuk membeli bahan pangan dari pemasok lokal serta membuka lapangan kerja di operasional dapur, sehingga turut menggerakkan ekonomi masyarakat,” tutup Alfatehan. (*)

Tata Kelola Transparan dan Profesional Jadi Kunci Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan perkembangan signifikan sebagai salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah. Dengan cakupan yang sangat luas, pelaksanaan program ini menuntut tata kelola yang bersih, transparan, dan profesional agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal serta menjaga kepercayaan publik.

Vice Executive Director Indonesia Food Security Review (IFSR), Alfatehan Septianta menyampaikan bahwa penerapan prinsip good governance menjadi fondasi utama agar program MBG berjalan efektif dan berkelanjutan.

“Program Makan Bergizi Gratis memiliki skala yang sangat besar sehingga membutuhkan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan profesional untuk menjaga kepercayaan publik,” ujar Alfatehan.

Ia menjelaskan bahwa saat ini Indonesia menjadi negara dengan jumlah penerima manfaat program makan sekolah terbesar kedua di dunia. Program MBG telah menjangkau sekitar 64 juta penerima manfaat setiap hari.

“Jumlah tersebut berada di bawah program midday meal di India yang menjangkau sekitar 82 juta penerima manfaat per hari. Namun jika program MBG berjalan penuh, Indonesia diperkirakan bisa menjangkau sekitar 80 juta penerima manfaat setiap hari,” jelasnya.

Untuk mendukung operasional program tersebut, pemerintah terus memperluas jaringan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hingga saat ini sekitar 24 ribu dapur telah beroperasi, atau sekitar 70 persen dari target 30 ribu dapur yang direncanakan pemerintah.

Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pelaksana program juga telah menetapkan berbagai standar operasional melalui petunjuk teknis pelaksanaan MBG. Setiap dapur diwajibkan memenuhi standar keamanan pangan, seperti sertifikasi halal dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), serta ke depan diarahkan untuk menerapkan standar Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).

“Sebagian besar dapur SPPG sudah memenuhi standar tersebut, sementara dapur yang masih dalam proses terus dibina dan diawasi agar operasionalnya sesuai dengan ketentuan,” kata Alfatehan.

BGN juga menunjukkan ketegasan dalam pengawasan dengan menghentikan sementara sekitar 1.542 dapur yang belum memenuhi persyaratan infrastruktur maupun operasional. Ia juga menjelaskan bahwa sistem pengawasan program terus diperkuat melalui pendekatan reward and punishment.

“BGN bahkan menerapkan sistem rating A, B, dan C dengan skor hingga 100 untuk mendorong dapur berlomba meningkatkan kualitas layanan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa program MBG juga memiliki tingkat transparansi yang tinggi karena masyarakat dapat ikut mengawasi pelaksanaannya.

“Orang tua, siswa, maupun masyarakat bisa melaporkan temuan melalui media sosial, dan laporan tersebut langsung ditindaklanjuti oleh BGN,” ujarnya.

Selain meningkatkan kualitas gizi anak, program MBG juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Operasional ribuan dapur tidak hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal melalui pembelian bahan pangan dari petani dan pelaku usaha setempat.

Tata Kelola Bersih dan Profesional Kunci Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis

Jakarta, – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program sosial terbesar yang dijalankan pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah. Dengan jumlah penerima manfaat yang sangat besar, pelaksanaan program ini membutuhkan tata kelola yang bersih, transparan, dan profesional agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal sekaligus menjaga kepercayaan publik.

Vice Executive Director Indonesia Food Security Review, Alfatehan Septianta, menilai bahwa pengelolaan program berskala besar seperti MBG harus didukung sistem pengawasan dan standar operasional yang kuat.

“Program Makan Bergizi Gratis memiliki skala yang sangat besar sehingga membutuhkan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan profesional untuk menjaga kepercayaan publik,” ujar Alfatehan.

Menurutnya, skala program ini bahkan menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan penerima manfaat terbesar di dunia dalam program makan sekolah. Saat ini Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penerima manfaat terbesar kedua secara global.

Ia menjelaskan bahwa jumlah penerima manfaat MBG saat ini telah mencapai sekitar 64 juta orang setiap hari. Angka tersebut diproyeksikan akan terus meningkat seiring dengan perluasan program di berbagai daerah.

“Jika program MBG telah berjalan secara penuh atau full scale, jumlah penerima manfaat di Indonesia diperkirakan dapat mencapai sekitar 80 juta orang per hari,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, Badan Gizi Nasional telah menetapkan berbagai standar operasional melalui petunjuk teknis pelaksanaan program MBG. Standar tersebut mencakup pengelolaan dapur, kualitas bahan pangan, hingga sistem distribusi makanan kepada para penerima manfaat.

Alfatehan menjelaskan bahwa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga diwajibkan memenuhi berbagai sertifikasi dan standar keamanan pangan agar kualitas makanan tetap terjaga.

“Dapur SPPG diwajibkan memenuhi berbagai standar keamanan pangan seperti sertifikasi halal dan Sistem Laik Higiene Sanitasi atau SLHS, serta direncanakan menerapkan standar keamanan pangan internasional seperti HACCP,” katanya.

Selain penerapan standar operasional yang ketat, pengawasan terhadap pelaksanaan program juga dilakukan secara serius. BGN menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga kualitas layanan melalui evaluasi berkala terhadap operasional dapur MBG di berbagai daerah.

“BGN menunjukkan ketegasan dalam pengawasan dengan menghentikan sementara sekitar 1.542 dapur yang belum memenuhi persyaratan infrastruktur dan operasional,” ujarnya.

Menurut Alfatehan, langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak berkompromi terhadap kualitas program yang menyangkut kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.

Di sisi lain, ia juga menilai program MBG memberikan dampak positif yang luas terhadap perekonomian masyarakat.

“Selain meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, program MBG juga menggerakkan ekonomi masyarakat karena sebagian besar anggaran digunakan untuk membeli bahan pangan dari pemasok lokal serta membuka lapangan kerja di operasional dapur,” pungkasnya.

Dengan tata kelola yang semakin kuat dan pengawasan yang ketat, program MBG diharapkan tidak hanya menjadi solusi peningkatan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga menjadi instrumen pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

Tata Kelola Profesional Perkuat Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis

JAKARTA – Komitmen pemerintah dalam memastikan keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diperkuat melalui penerapan tata kelola yang bersih, transparan, dan profesional, khususnya dalam operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pengelolaan yang baik dinilai menjadi faktor penting agar program berskala besar ini berjalan efektif sekaligus memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.

Vice Executive Director Indonesia Food Security Review (IFSR) Alfatehan Septianta mengatakan bahwa program MBG merupakan salah satu inisiatif strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi generasi muda. Dengan cakupan penerima manfaat yang sangat besar, penerapan prinsip good governance menjadi kunci dalam menjaga kualitas pelaksanaan program.

“Program Makan Bergizi Gratis memiliki skala yang sangat besar sehingga membutuhkan tata kelola yang transparan, akuntabel, dan profesional. Dengan penerapan prinsip good governance, program ini dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat,” ujar Alfatehan.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia saat ini telah menjadi salah satu negara dengan jumlah penerima manfaat program makan sekolah terbesar di dunia. Hingga saat ini, program MBG telah menjangkau sekitar 64 juta penerima manfaat setiap hari.

“Capaian ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah. Jika program ini berjalan secara penuh, jumlah penerima manfaat diperkirakan dapat mencapai sekitar 80 juta orang setiap hari,” jelasnya.

Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, pemerintah terus memperluas jaringan dapur SPPG di berbagai daerah. Saat ini telah beroperasi sekitar 24 ribu dapur SPPG atau sekitar 70 persen dari target 30 ribu dapur yang direncanakan pemerintah secara nasional.

Badan Gizi Nasional (BGN) juga telah menetapkan berbagai standar operasional melalui petunjuk teknis pelaksanaan program MBG. Setiap dapur SPPG diwajibkan memenuhi standar keamanan pangan, termasuk sertifikasi halal dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Ke depan, standar Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) juga akan diterapkan guna memperkuat sistem pengawasan mutu makanan.

Alfatehan menilai langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memastikan kualitas makanan yang disajikan kepada para penerima manfaat. “Penguatan standar operasional ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam menghadirkan layanan gizi yang berkualitas sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program MBG,” katanya.

Selain meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, program MBG juga memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Dengan pengelolaan yang semakin profesional, program MBG diharapkan mampu memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Presiden Prabowo Minta Aparat Tegas Mengusut Kasus Penyiraman Air Keras

Jakarta – Presiden RI, Prabowo Subianto, memerintahkan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Arahan tersebut disampaikan langsung kepada Kapolri agar proses penyelidikan berjalan secara profesional dan transparan.

 

Kapolri, Listyo Sigit Prabowo, menyatakan telah menerima instruksi langsung dari Presiden untuk menangani kasus tersebut dengan serius. Ia menegaskan bahwa Polri akan melakukan pengusutan secara menyeluruh.

 

“Perkembangan dari penyerangan terhadap aktivis, saya telah mendapatkan perintah langsung dari Bapak Presiden untuk melaksanakan pengusutan tuntas secara profesional dan transparan,” ujar Listyo Sigit.

 

Menurutnya, proses penyelidikan akan mengedepankan pendekatan ilmiah guna memastikan setiap langkah penanganan perkara dilakukan secara objektif dan akurat.

 

Sementara itu, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Angga Raka Prabowo, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang menimpa Andrie Yunus. Ia menegaskan pemerintah mengecam keras segala bentuk kekerasan terhadap warga negara.

 

“Pemerintah menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas peristiwa yang menimpa Saudara Andrie Yunus. Kami mengecam keras setiap tindakan kekerasan terhadap siapa pun,” kata Angga.

 

Ia menambahkan bahwa pemerintah berharap korban dapat segera mendapatkan penanganan medis yang optimal dan pulih dari dampak kejadian tersebut. Angga juga menekankan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat secara damai dalam kehidupan demokrasi.

 

Pemerintah, lanjutnya, menaruh perhatian serius terhadap pengusutan kasus ini. Aparat penegak hukum diharapkan dapat bekerja secara profesional, transparan, dan menyelesaikan perkara hingga tuntas.

 

“Setiap tindakan kekerasan harus diproses secara tegas sesuai hukum yang berlaku. Pemerintah berharap proses penegakan hukum dapat berjalan dengan baik sehingga pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.

 

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, juga menyoroti peristiwa tersebut. Ia menilai serangan terhadap aktivis HAM merupakan pukulan bagi praktik demokrasi di Indonesia.

 

“Tindakan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus dari KontraS adalah serangan terhadap demokrasi itu sendiri. Aktivis HAM bekerja untuk kepentingan rakyat dan kepentingan negara, karena penegakan HAM dan demokrasi merupakan amanat konstitusi,” ujar Yusril.

 

Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan dalam demokrasi seharusnya disikapi dengan sikap saling menghormati, bukan dengan kekerasan. Menurutnya, menyerang aktivis yang memperjuangkan demokrasi dan HAM tidak dapat dibenarkan dalam negara yang menjunjung tinggi hukum.

Tindakan Tegas Apkam Jamin Keamanan Kelancaran Aktivitas Masyarakat Papua

Oleh : Yohanes Wandikbo )*

Penegakan hukum terhadap kelompok bersenjata di Papua kembali menegaskan komitmen negara dalam menjaga stabilitas keamanan dan melindungi masyarakat sipil. Penangkapan Philip Kobak yang diketahui sebagai komandan Organisasi Papua Merdeka wilayah Kodap XVI Yahukimo oleh Satgas Operasi Damai Cartenz menunjukkan bahwa negara bertindak tegas terhadap setiap bentuk kekerasan yang mengancam keselamatan warga. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak memberi ruang bagi tindakan yang dapat mengganggu ketenteraman masyarakat maupun aktivitas sosial dan ekonomi di Papua.

Keberhasilan aparat dalam mengamankan pelaku terjadi setelah tim melakukan deteksi terhadap keberadaan tersangka di wilayah Dekai, Kabupaten Yahukimo. Ketika aparat mendekati lokasi, pelaku sempat berupaya melarikan diri dengan meninggalkan kendaraan dan masuk ke area hutan. Namun berkat kerja cepat dan koordinasi yang solid, aparat akhirnya berhasil melakukan penangkapan setelah proses penyisiran yang terukur. Operasi tersebut memperlihatkan profesionalitas aparat dalam menjalankan tugas serta komitmen kuat negara untuk menjaga keamanan masyarakat Papua.

Kepala Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol Yusuf Sutejo menjelaskan bahwa penangkapan dilakukan setelah aparat memperoleh informasi mengenai keberadaan tersangka di kawasan pertigaan Jalan Jhon Banua, Dekai. Ia menyampaikan bahwa aparat segera melakukan pengejaran ketika pelaku mencoba melarikan diri menuju kawasan Gereja Kali Brasa sebelum akhirnya berhasil diamankan pada sore hari setelah dilakukan penyisiran di sekitar lokasi. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya aparat dalam menegakkan hukum sekaligus memastikan masyarakat dapat hidup dengan aman tanpa ancaman kekerasan.

Setelah pelaku berhasil diamankan, aparat keamanan melakukan penggeledahan di rumah tersangka serta sejumlah lokasi yang diduga berkaitan dengan aktivitas kelompok bersenjata tersebut. Dari proses tersebut, aparat menemukan berbagai barang bukti yang diduga digunakan dalam berbagai aktivitas kekerasan. Barang bukti yang diamankan antara lain amunisi berbagai kaliber, senjata tajam, serta perlengkapan lain yang diduga berkaitan dengan kegiatan kelompok tersebut.

Dalam keterangannya, Kombes Pol Yusuf Sutejo juga menyampaikan bahwa tersangka diduga terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan yang menimbulkan keresahan di masyarakat, termasuk kasus pembacokan terhadap seorang warga pada Januari 2026 serta pembakaran fasilitas pendidikan SMK Negeri 2 Dekai pada Februari 2026. Ia menegaskan bahwa aparat akan terus mengembangkan penyelidikan guna memastikan seluruh jaringan yang terlibat dapat diungkap sehingga keamanan masyarakat dapat semakin terjamin.

Langkah tegas aparat keamanan tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan masyarakat karena dinilai sebagai bentuk nyata perlindungan negara terhadap warga sipil. Stabilitas keamanan menjadi faktor penting bagi masyarakat Papua agar dapat menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi secara normal. Ketika keamanan terjaga, masyarakat dapat bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan rasa aman dan penuh optimisme.

Direktur Merah Pusaka Stratejik Indonesia, Noor Azhari menilai bahwa tindakan tegas aparat merupakan langkah penting dalam memastikan perlindungan terhadap masyarakat sipil. Ia menyampaikan bahwa warga sipil yang menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari merupakan bagian dari masyarakat yang harus mendapatkan jaminan keamanan dari negara. Menurutnya, tindakan kekerasan yang menyasar warga sipil tidak dapat dibenarkan dan harus ditindak secara tegas agar tidak menimbulkan keresahan yang lebih luas.

Lebih lanjut, Noor Azhari menegaskan bahwa keberhasilan aparat keamanan dalam menindak pelaku kekerasan menunjukkan bahwa negara benar-benar hadir untuk melindungi masyarakat Papua. Ia menilai langkah tersebut juga memberikan rasa percaya diri bagi masyarakat bahwa pemerintah memiliki komitmen kuat dalam menjaga stabilitas keamanan dan memastikan masyarakat dapat hidup dengan aman.

Ketegasan pemerintah dalam menindak kelompok bersenjata juga menjadi bagian penting dari upaya menciptakan kondisi yang kondusif bagi pembangunan di Papua. Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah terus mendorong berbagai program pembangunan di wilayah tersebut, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan akses pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat. Seluruh program tersebut memerlukan situasi keamanan yang stabil agar dapat berjalan secara optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam konteks tersebut, langkah tegas aparat keamanan terhadap kelompok yang melakukan kekerasan menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam menciptakan Papua yang aman dan sejahtera. Keamanan yang terjaga akan membuka ruang bagi masyarakat untuk berkembang, memperkuat aktivitas ekonomi, serta meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.

Penegakan hukum yang konsisten juga memperlihatkan bahwa negara memiliki komitmen kuat dalam menjaga kedaulatan serta melindungi seluruh warga negara tanpa terkecuali. Pemerintah melalui aparat keamanan terus bekerja secara profesional dan terukur untuk memastikan bahwa ancaman terhadap masyarakat dapat diatasi secara cepat dan tepat.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat diharapkan semakin memperkuat stabilitas di Papua. Dukungan masyarakat terhadap upaya penegakan hukum menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan wilayah serta memastikan pembangunan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Dengan komitmen pemerintah yang kuat serta profesionalitas aparat keamanan, Papua diharapkan terus bergerak menuju masa depan yang aman, damai, dan sejahtera. Ketegasan negara dalam menindak kelompok yang melakukan kekerasan merupakan wujud nyata perlindungan terhadap masyarakat sekaligus bukti bahwa pemerintah hadir untuk menjaga keamanan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

)* Penulis merupakan pengamat pembangunan Papua

Stabilitas Keamanan Papua Jadi Kunci Kelancaran Pembangunan dan Aktivitas Masyarakat

Oleh: Markus Wenda*

Stabilitas keamanan menjadi prasyarat utama bagi keberlangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Papua. Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai langkah strategis terus dilakukan negara untuk memastikan wilayah Papua tetap aman dan kondusif sehingga aktivitas sosial, ekonomi, dan pelayanan publik dapat berjalan dengan baik. Penguatan pengamanan wilayah yang dilakukan secara profesional berjalan seiring dengan upaya percepatan pembangunan di berbagai sektor, sehingga masyarakat Papua memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang, bekerja, dan membangun masa depan yang lebih baik.

Kepala Penerangan Koops TNI Papua Letkol Inf Wirya Arthadiguna menegaskan bahwa aparat keamanan terus memperkuat pengamanan wilayah guna menjamin keselamatan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa seluruh personel yang bertugas di Papua menjalankan tugas secara profesional, terukur, dan berorientasi pada perlindungan masyarakat. Menurutnya, kehadiran aparat keamanan di berbagai wilayah merupakan bentuk nyata komitmen negara untuk memastikan masyarakat Papua dapat menjalankan kehidupan sehari-hari dengan rasa aman dan penuh kepercayaan terhadap masa depan daerahnya.

Selain menjaga keamanan masyarakat di kawasan permukiman, negara juga menunjukkan perhatian serius terhadap perlindungan berbagai objek vital yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pengamanan bandara perintis di berbagai wilayah pedalaman Papua. Bandara-bandara tersebut menjadi jalur vital yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai layanan penting, mulai dari distribusi bahan pokok, pelayanan kesehatan, akses pendidikan, hingga kegiatan ekonomi yang mendukung kesejahteraan masyarakat di daerah terpencil.

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Letjen TNI Bambang Trisnohadi menyampaikan bahwa pengamanan bandara perintis merupakan langkah penting untuk memastikan konektivitas masyarakat Papua tetap terjaga. Ia menilai bahwa bandara di wilayah pedalaman tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi udara, tetapi juga menjadi infrastruktur strategis yang memungkinkan masyarakat memperoleh akses terhadap berbagai kebutuhan dasar.

Upaya pengamanan tersebut memperlihatkan bahwa negara hadir secara nyata dalam menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat Papua. Kehadiran aparat keamanan di berbagai titik strategis bukan hanya bertujuan menciptakan rasa aman, tetapi juga memastikan bahwa berbagai layanan publik dapat berjalan secara maksimal. Kondisi wilayah yang aman dan stabil memberikan ruang bagi masyarakat untuk menjalankan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial secara lebih produktif. Stabilitas tersebut juga memperkuat optimisme masyarakat bahwa Papua memiliki masa depan yang semakin cerah.

Dalam konteks penegakan hukum, ketegasan aparat keamanan dalam menindak kelompok bersenjata yang melakukan tindakan kekerasan juga menunjukkan komitmen kuat negara dalam melindungi masyarakat. Penangkapan Philip Kobak yang diketahui merupakan komandan kelompok bersenjata wilayah Kodap XVI Yahukimo oleh Satgas Operasi Damai Cartenz menjadi bukti nyata bahwa pemerintah tidak tinggal diam terhadap ancaman yang mengganggu ketenteraman masyarakat. Operasi yang dilakukan secara profesional tersebut menunjukkan keseriusan negara dalam menjaga keamanan serta memastikan masyarakat dapat menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi tanpa rasa takut.

Kepala Operasi Damai Cartenz Kombes Pol Yusuf Sutejo menjelaskan bahwa penangkapan dilakukan setelah aparat memperoleh informasi mengenai keberadaan tersangka di kawasan pertigaan Jalan Jhon Banua, Dekai. Ketika aparat mendekati lokasi, pelaku sempat berupaya melarikan diri menuju kawasan Gereja Kali Brasa sebelum akhirnya berhasil diamankan setelah dilakukan penyisiran di sekitar lokasi. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya penegakan hukum yang bertujuan menjaga keamanan masyarakat sekaligus memastikan situasi tetap kondusif.

Langkah tegas aparat keamanan tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan masyarakat karena dinilai sebagai bentuk nyata perlindungan negara terhadap warga sipil. Direktur Merah Pusaka Stratejik Indonesia Noor Azhari menilai bahwa tindakan tegas aparat merupakan langkah penting dalam memastikan masyarakat dapat menjalankan aktivitas kehidupan tanpa ancaman kekerasan. Ia menegaskan bahwa warga sipil yang menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari harus mendapatkan jaminan keamanan dari negara agar dapat bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan secara normal.

Keberhasilan aparat dalam menegakkan hukum sekaligus menunjukkan bahwa negara memiliki komitmen kuat dalam menjaga stabilitas Papua. Penegakan hukum yang konsisten tidak hanya bertujuan mengatasi ancaman keamanan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang kondusif bagi percepatan pembangunan di berbagai sektor. Pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur, peningkatan akses pendidikan, penguatan layanan kesehatan, serta pengembangan ekonomi masyarakat agar kesejahteraan masyarakat Papua dapat terus meningkat.

Papua memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi wilayah yang maju dan sejahtera. Kekayaan sumber daya alam, keragaman budaya, serta semangat masyarakat yang kuat menjadi modal penting bagi pembangunan daerah. Dengan dukungan keamanan yang semakin kuat dan stabilitas yang terus terjaga, potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta memperkuat kontribusi Papua dalam pembangunan nasional.

Ke depan, sinergi antara negara dan masyarakat akan menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas Papua. Kerja sama yang erat antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen warga akan memperkuat fondasi keamanan sekaligus mempercepat pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan komitmen negara yang terus hadir serta dukungan masyarakat yang semakin solid, Papua memiliki peluang besar untuk melangkah menuju masa depan yang aman, damai, maju, dan sejahtera bagi seluruh generasi.

*Penulis merupakan Peneliti Kebijakan Publik dan Pembangunan Papua

Penegakan Hukum terhadap OPM Perkuat Rasa Aman Masyarakat

YAHUKIMO – Aparat keamanan kembali menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua melalui penegakan hukum terhadap kelompok bersenjata. Satuan Tugas (Satgas) Operasi Damai Cartenz berhasil menangkap Philip Kobak, yang diketahui sebagai pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM) wilayah Kodap XVI Yahukimo, setelah diduga terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan yang meresahkan masyarakat di wilayah tersebut.

Penangkapan ini dinilai sebagai langkah penting dalam menjaga keamanan masyarakat sekaligus menegaskan komitmen negara untuk melindungi warga sipil dari ancaman kelompok bersenjata.

“Saat mengetahui keberadaan aparat, tersangka sempat meninggalkan kendaraan dan melarikan diri ke arah hutan. Setelah dilakukan penyisiran, tersangka akhirnya berhasil diamankan pada pukul 16.44 WIT,” ujar Kombes Pol Yusuf Sutejo.

Penangkapan tersebut bermula dari deteksi tim Gakkum terhadap keberadaan pelaku di pertigaan Jalan Jhon Banua, Dekai. Aparat kemudian melakukan pengejaran ketika tersangka mencoba melarikan diri menuju kawasan Gereja Kali Brasa.

Setelah berhasil diamankan, penyidik melakukan penggeledahan di rumah tersangka serta beberapa lokasi lain yang diduga menjadi tempat persinggahan kelompok bersenjata di wilayah Yahukimo. Dari hasil penggeledahan tersebut, aparat menemukan sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan aktivitas kelompok tersebut.

Barang bukti yang disita antara lain empat butir amunisi kaliber 5,56 mm, dua butir amunisi kaliber 9 mm, besi runcing, busur dan 31 anak panah, empat parang, tiga kapak, satu sangkur, dua pisau dapur, satu proyektil kaliber 5,56 mm, serta 45 selongsong amunisi kaliber 7,62 mm dan 5,56 mm.

“Tersangka juga diduga terlibat dalam beberapa aksi kekerasan, di antaranya pembacokan terhadap Muhammad Syarif pada 11 Januari 2026 serta pembakaran SMK Negeri 2 Dekai pada 14 Februari 2026,” tegas Kombes Pol Yusuf Sutejo.

Sementara itu, meningkatnya aksi kekerasan yang menyasar warga sipil di Papua turut mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Serangan terhadap masyarakat sipil dinilai sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun.

Direktur Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) Noor Azhari menegaskan bahwa warga sipil tidak boleh menjadi sasaran kekerasan, terlebih mereka yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Warga sipil, termasuk para pekerja tambang yang mencari nafkah, tidak boleh menjadi target kekerasan. Mereka bukan bagian dari konflik. Oleh karena itu, mereka harus mendapatkan perlindungan,” ujar Noor Azhari.

Kekerasan terhadap warga sipil, menurutnya, bukan hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memunculkan ketakutan dan trauma berkepanjangan bagi masyarakat di wilayah sekitar. Situasi tersebut berpotensi mengganggu stabilitas sosial sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat.

“Para pekerja tambang adalah masyarakat sipil yang menjalankan aktivitas ekonomi. Kekerasan terhadap mereka hanya akan memperburuk situasi kemanusiaan dan menambah daftar korban dalam konflik yang berkepanjangan,” tambah Noor Azhari.

Lebih lanjut, Noor menilai perlindungan terhadap masyarakat sipil harus menjadi prioritas utama dalam setiap upaya menjaga stabilitas keamanan di Papua. Koordinasi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, serta tokoh masyarakat dinilai penting untuk memastikan masyarakat dapat menjalankan kehidupan secara aman dan bermartabat.

Sinergi Negara dan Dukungan Masyarakat Perkuat Stabilitas Keamanan di Papua

PAPUA – Stabilitas keamanan di Papua terus dijaga melalui kolaborasi yang erat antara aparat keamanan, pemerintah, dan partisipasi masyarakat. Sinergi ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan situasi yang kondusif sehingga aktivitas sosial, ekonomi, serta pembangunan di berbagai wilayah Papua dapat berlangsung dengan aman dan lancar.

Salah satu contoh nyata komitmen tersebut terlihat dari respons cepat aparat keamanan dalam menangani insiden yang melibatkan warga sipil di kawasan Tembagapura, Kabupaten Mimika. Tim patroli Koops TNI Papua bergerak cepat memberikan pertolongan kepada seorang warga yang membutuhkan bantuan dan segera mengevakuasinya ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan medis.

Kepala Penerangan Koops TNI Papua Letkol Inf Wirya Arthadiguna menegaskan bahwa perlindungan masyarakat menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan tugas aparat di wilayah Papua. Menurutnya, seluruh personel yang bertugas terus meningkatkan kesiapsiagaan guna memastikan situasi keamanan tetap kondusif bagi masyarakat.

“Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Aparat keamanan terus memperkuat pengamanan wilayah agar masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman dan nyaman,” ujarnya.

Selain menjaga keamanan di kawasan permukiman, aparat juga memperkuat pengamanan berbagai objek vital yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat. Salah satu fokus pengamanan dilakukan di sejumlah bandara perintis di wilayah pedalaman Papua yang menjadi jalur penting bagi distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Letjen TNI Bambang Trisnohadi menjelaskan bahwa keberadaan bandara perintis memiliki peran strategis dalam menjaga konektivitas masyarakat Papua, khususnya di daerah terpencil.

“Bandara perintis bukan hanya sarana transportasi, tetapi juga penghubung utama bagi masyarakat untuk memperoleh berbagai layanan penting. Karena itu, pengamanan dilakukan secara optimal agar aktivitas masyarakat dapat berjalan lancar,” jelasnya.

Di sisi lain, aparat keamanan juga terus melakukan langkah penegakan hukum untuk memastikan stabilitas wilayah tetap terjaga. Satgas Operasi Damai Cartenz berhasil mengamankan salah satu individu yang diduga terlibat dalam aktivitas yang mengganggu ketertiban masyarakat di wilayah Dekai, Kabupaten Yahukimo.

Kepala Operasi Damai Cartenz Kombes Pol Yusuf Sutejo mengatakan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari kerja sama tim yang solid serta dukungan informasi dari masyarakat.

“Langkah ini merupakan bagian dari upaya kami untuk menjaga keamanan masyarakat. Aparat akan terus bekerja secara profesional dan terukur demi memastikan situasi tetap aman dan kondusif,” ungkapnya.

Dengan stabilitas keamanan yang terus diperkuat serta dukungan masyarakat yang semakin solid, Papua diharapkan terus bergerak menuju masa depan yang aman, damai, dan sejahtera. Kondisi yang kondusif akan membuka ruang yang lebih luas bagi pembangunan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di berbagai wilayah Tanah Papua.