Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Papua Dukung Program MBG Perkuat Masa Depan Generasi Muda

Papua – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai menjadi langkah strategis pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Generasi Emas 2045.

Implementasi program tersebut, termasuk di wilayah Papua, tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga mendorong pembangunan ekonomi berbasis masyarakat secara berkelanjutan.

Ketua OKP Forum Komunikasi Mahasiswa Papua, Meki Raiwaki, menyampaikan apresiasi atas komitmen pemerintah dalam menghadirkan program yang dinilai memiliki dampak luas bagi masa depan anak-anak Indonesia, khususnya di Papua.

Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah progresif yang menunjukkan keseriusan negara dalam meningkatkan kualitas generasi muda sejak usia sekolah.

“Saya menyampaikan apresiasi dan dukungan kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, atas program Makan Bergizi Gratis yang diluncurkan sejak beliau dilantik bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kami dari Forum Komunikasi Mahasiswa Papua memandang program ini sangat baik karena membantu para peserta didik sekaligus meringankan beban ekonomi orang tua,” ujar Meki Raiwaki.

Ia menilai program MBG menjadi kebijakan yang penting karena untuk pertama kalinya pemerintah menghadirkan program pemenuhan gizi nasional yang menyasar langsung kebutuhan anak-anak sekolah di seluruh Indonesia.

Karena itu, menurutnya, implementasi program tersebut perlu terus diperkuat agar mampu berjalan konsisten dan memberikan dampak jangka panjang bagi peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan generasi muda.

“Program ini menurut saya wajib dilaksanakan dan terus digalakkan sebagai bagian dari upaya mengawal visi dan misi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang unggul,” katanya.

Di Papua, pelaksanaan MBG juga membawa efek domino terhadap berbagai sektor ekonomi lokal. Program ini mendorong keterlibatan masyarakat dalam rantai pasok pangan, mulai dari petani, nelayan, hingga pelaku usaha kecil yang berperan menyediakan bahan makanan bergizi bagi peserta didik.

Dengan demikian, program tersebut tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas gizi anak-anak, tetapi juga memperkuat ekonomi komunitas setempat.

Meki menambahkan bahwa partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan program ini. Ia mengajak berbagai elemen bangsa, terutama kalangan pemuda dan mahasiswa, untuk turut memberikan gagasan konstruktif demi memperkuat implementasi MBG di berbagai daerah.

“Saya mengajak kita semua untuk memberikan konsep atau gagasan yang positif dan konstruktif untuk mendukung program MBG di seluruh tanah air. Program ini adalah salah satu solusi untuk membangun pemahaman bersama dalam mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul, terampil, kreatif, dan inovatif,” ujarnya.

Dengan pendekatan pembangunan yang inklusif, MBG diharapkan tidak hanya menjadi program pemenuhan gizi semata, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam menyiapkan generasi masa depan Indonesia yang sehat, produktif, dan mampu bersaing di tingkat global menuju visi Indonesia Emas 2045.

MBG Jadi Solusi Tingkatkan Kualitas Gizi dan Pendidikan Anak di Papua

Jayapura – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas gizi sekaligus mendukung proses pendidikan bagi peserta didik di berbagai daerah, termasuk di Papua.

Kebijakan yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto mendapatkan apresiasi dari berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan organisasi kepemudaan dan mahasiswa di Papua.

Ketua Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) Forum Komunikasi Mahasiswa Papua, Meki Raiwaki, mengartakan bahwa program MBG merupakan kebijakan yang sangat positif karena tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi para peserta didik, tetapi juga berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi keluarga.

Menurutnya, pemenuhan gizi yang baik bagi anak-anak sekolah menjadi faktor penting dalam menunjang kesehatan, konsentrasi belajar, serta perkembangan intelektual generasi muda.

“Program Makan Bergizi Gratis merupakan langkah yang sangat baik dan patut diapresiasi. Selain membantu memastikan para peserta didik memperoleh asupan gizi yang memadai, program ini juga dapat meringankan beban ekonomi para orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak mereka,” ujar Meki Raiwaki.

Ia menilai bahwa pelaksanaan program MBG menjadi salah satu kebijakan yang penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya bagi generasi muda di daerah yang masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan.

“Teristimewa dari sisi itu karena baru pertama kali program ini terjadi di Indonesia, dan program ini saya menilai wajib dilaksanakan dan terus digalakkan untuk Bagaimana mengawal visi dan misi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Meki Raiwaki juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut memberikan dukungan serta gagasan yang konstruktif demi keberhasilan implementasi program tersebut.

“Melalui program ini, kita memiliki peluang besar untuk membangun generasi muda Indonesia yang sehat, unggul, terampil, serta kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, dukungan dari seluruh elemen bangsa sangat diperlukan agar program MBG dapat menjadi salah satu fondasi dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan,” tambahnya.

Dengan adanya program MBG, diharapkan upaya peningkatan kualitas gizi dan pendidikan peserta didik di Papua dapat semakin kuat, sehingga generasi muda di daerah tersebut memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Pemerintahan Prabowo Prioritaskan Program MBG untuk Kelompok 3B

Jakarta- Pemerintahan Prabowo Subianto menetapkan prioritas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, sebagai langkah awal memperkuat intervensi gizi nasional. Kebijakan ini diarahkan untuk memastikan pemenuhan gizi pada masa krusial 1.000 hari pertama kehidupan, yang dinilai paling menentukan kualitas kesehatan dan perkembangan generasi mendatang.

Bahkan Badan Gizi Nasional (BGN) telah memberikan arahan agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memprioritaskan sasaran kelompok 3B sebelum menyasar sekolah atau peserta didik. Sebab kelompok 3B dinilai sebagai kelompok yang lebih rentan sehingga perlu diutamakan.

“Harus saya tekankan di sini karena ada perbedaan pemahaman. Pada saat SPPG baru dibangun, bahkan ada mitra yang aktif langsung membuat kerja sama dengan sekolah. Seharusnya, ketika dapur baru dibangun oleh mitra, yang pertama dicari adalah kelompok rentan ini (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui). Ini yang diutamakan,” ujar Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya.

Sony mengatakan, Indonesia menjadi pionir dalam memberikan makanan bagi kelompok 3B. Hal tersebut menjadi keunggulan program MBG dibandingkan praktik serupa di negara lain karena lebih dari 77 negara hanya melaksanakan school meal atau makan gratis di sekolah.

“Indonesia bukan sekadar school meal, tetapi school meal plus karena memikirkan yang 3B,” ungkapnya.

Di samping itu, Indonesia menjadi salah satu negara yang menghadirkan inovasi mengantarkan makanan bergizi ke rumah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita melalui dukungan kader posyandu. Ia pun berharap melalui program ini terjadi perubahan pola pikir masyarakat bahwa makanan bergizi harus mengandung unsur lengkap, yakni karbohidrat, protein, serat, dan vitamin.

“Pola pikir masyarakat Indonesia berubah, yang tadinya tidak memperhatikan apa saja unsurnya, sekarang anak-anak sudah mulai melihat, dari Aceh sampai Papua, dari desa sampai metropolitan, bahwa makan itu isinya empat unsur: karbohidrat, protein, serat, dan vitamin,” jelas Sony.

Per bulan Maret 2026, distribusi MBG untuk kelompok 3B telah mencapai jumlah yang membanggakan. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengatakan sebanyak 6,2 juta Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sasaran 3B telah didistribusikan oleh 52 ribu Tim Pendamping Keluarga (TPK).

“Alhamdulillah, ini (MBG 3B) juga kita pastikan nanti berjalan di seluruh Indonesia, walaupun belum sampai pelosok,” tuturnya.

Program MBG 3B Percepat Upaya Penurunan Stunting Nasional

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan fokus pada kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, dinilai dapat mempercepat upaya penurunan stunting di Indonesia. Pemerintah menjadikan intervensi gizi pada fase awal kehidupan sebagai langkah strategis untuk memperbaiki kualitas kesehatan generasi mendatang.

MBG yang menyasar kelompok 3B ini menjadi bagian bagian integral dari komitmen Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam membangun sumber daya manusia berkualitas, khususnya melalui pemenuhan gizi pada periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengandalkan program MBG sebagai strategi kunci untuk mengatasi stunting sejak dini.

“Program MBG 3B ini sejalan dengan target penurunan prevalensi stunting nasional sebesar 18,8 persen pada 2026,” tegas Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji.

Wihaji menyoroti empat prioritas utama untuk mendukung keberhasilan program ini: penguatan kapasitas kader dan penyuluh KB sebagai garda terdepan, peningkatan akurasi data berbasis by name by address, penguatan kepemimpinan lapangan, serta optimalisasi komunikasi publik melalui media sosial.

Ia menilai keberhasilan MBG 3B bergantung pada sinergi lintas sektor, termasuk kolaborasi erat dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan pemerintah daerah. Pendekatan multisektor ini melibatkan Puskesmas, Posyandu, pemerintah desa, hingga sektor pendidikan untuk memastikan edukasi dan intervensi gizi berlangsung berkelanjutan.

Senada, Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah IV Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri, Paudah, menekankan pentingnya kolaborasi tersebut.

“Dalam penanganan stunting, implementasi di lapangan melibatkan Puskesmas, Posyandu, pemerintah desa, hingga sektor pendidikan agar edukasi dan intervensi gizi berjalan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Oleh karena itu, Paudah mendorong pemerintah daerah hingga desa terus memperbaiki pendataan sasaran secara akurat dan terintegrasi. Di samping itu, penguatan media digital menjadi kunci untuk memperluas sosialisasi stunting sehingga daerah bisa menciptakan inovasi berbasis komunitas yang sesuai dengan kondisi lokal.

Program ini tidak hanya akan berdampak pada penurunan stunting, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk SDM unggul, dengan distribusi yang semakin masif menuju cakupan nasional penuh pada akhir 2026 sesuai dengan arahan Presiden Prabowo.

Menu MBG Khusus 3B Disiapkan Sesuai Kebutuhan Gizi

Jakarta – Pemerintah menyiapkan menu khusus dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Penyusunan menu dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan gizi spesifik untuk mendukung kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak.

Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan menu MBG untuk sasaran kelompok 3B terdiri atas makanan siap santap dan paket sehat. Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN Ermia Sofiyessi mengemukakan, frekuensi dan waktu pengiriman paket MBG sudah disiapkan dalam petunjuk teknis yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG.

“Distribusi MBG siap santap setiap hari Senin dan Kamis. Pengiriman MBG siap santap dilakukan pada hari Senin, sambil kader pendamping membawa MBG paket sehat untuk Selasa dan Rabu, demikian juga pada hari Kamis,” kata Ermia.

Ia menjelaskan, MBG siap santap untuk ibu hamil dan menyusui terdiri dari makanan lengkap yang mengandung karbohidrat, protein, serat, dan lemak yang sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG) yang telah ditentukan oleh ahli gizi, sedangkan paket MBG sehat terdiri atas minuman khusus ibu hamil atau menyusui yang dilengkapi dengan telur dan buah.

Sementara untuk anak balita usia 0-2 tahun, paket MBG siap santap juga berupa makanan lengkap sesuai dengan AKG, sedangkan paket MBG sehat terdiri atas makanan pendamping ASI (MPASI) dan buah dengan tekstur yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi di bawah usia dua tahun (baduta).

Ermia mendorong seluruh kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus aktif mendata ibu hamil, menyusui, dan balita berkoordinasi dengan puskesmas, posyandu, dan kelurahan.

“Setiap hari, kelompok 3B menerima MBG dengan penjadwalan yang sudah disepakati dengan posyandu, atau bisa membuat kesepakatan lain bersama para kader, apakah kader perlu mengantar ke rumah atau diambil sendiri oleh ibu hamil atau ibu menyusui, bisa juga menyesuaikan dengan jadwal posyandu,” paparnya.

Sementara itu di wilayah Palmerah, Jakarta Barat, kader posyandu mendapatkan data penerima dari masing-masing RT. Koordinator Posyandu Balita Kemala XVI-11 Palmerah, Muslika, mengungkapkan data penerima manfaat sudah tercatat rapi di setiap RT, sehingga distribusi berjalan sesuai sasaran.

“Sehari-hari kami mengambil menu dari posko di RW. Setelah itu, makanan dibagi ke masing-masing RT melalui kader balita posyandu dan Dasawisma. Pengurus RT kemudian mendistribusikannya kepada balita penerima manfaat,” jelas Muslika.

Bagi orang tua yang bekerja, pengurus juga menyiapkan mekanisme penitipan wadah agar makanan tetap bisa diterima. Sistem ini dibuat agar tidak ada penerima yang terlewat.

“Biasanya ada orang tua yang bekerja, sehingga mereka menitipkan wadah. Nanti kami sebagai pengurus memindahkan makanan ke wadah tersebut, lalu ibunya bisa mengambil ketika sempat,” katanya.

Melalui skema distribusi yang terstruktur dan menu yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi, program MBG diharapkan mampu menjangkau kelompok 3B secara tepat sasaran. Upaya ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat pemenuhan gizi ibu dan anak sejak tahap awal kehidupan.

MBG Fokus pada 3B Jamin Tumbuh Kembang Generasi Masa Depan

Jakarta – Pemerintah mengarahkan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memprioritaskan kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kebijakan yang digagas pemerintahan Prabowo Subianto ini ditujukan untuk memperkuat intervensi gizi nasional sejak fase awal kehidupan.

Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya meminta para mitra MBG untuk mengutamakan program MBG bagi kelompok rentan 3B karena hal itu menyangkut kepada 1.000 hari kehidupan pertama.

“Jadi kita bisa lihat bahkan dari dalam perut, dalam bentuk janin ini sudah diperhatikan oleh pemerintah. Jadi pola pikirnya harus disamakan dahulu bahwa yang harus diberi makanan bergizi gratis ini adalah 3B. Ini yang harus diutamakan bukan datang dulu ke sekolah mendata penerima manfaat lalu melakukan kerjasama,” jelasnya.

Menurut Sony, selama ini ada kekeliruan dalam memahami program MBG yang dimaknai sebagai makan siang di sekolah saja. Padahal kelompok 3B juga menjadi perhatian pemerintah agar kualitas gizinya terjamin di seribu hari pertama kehidupan.

Dengan demikian, kelompok 3B menjadi fokus utama pemerintah dalam menerima manfaat program MBG, selanjutnya peserta didik di sekolah. Pemahaman itu, lanjut Sony, menjadi bagian dari skema besar pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia di tahun 2045 mendatang.

“Mengapa demikian ini bukan sekedar memberikan makan tapi bagaimana merencanakan Indonesia ke depan, 2045 kita siapkan dari sekarang,” pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menyoroti pentingnya peran Satua Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam mengawal distribusi MBG bagi kelompok 3B. Ia menegaskan bahwa program MBG untuk 3B memiliki tujuan untuk mendukung tumbuh kembang generasi masa depan Indonesia secara berkelanjutan.

“Yang sudah berjalan harus terus kita kawal agar MBG 3B benar-benar sampai kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD sebagai penerima manfaat,” ujar Wihaji.

Keberhasilan program ini, menurut Wihaji, sangat bergantung pada pengawasan yang ketat di lapangan. Hal tersebut penting guna memastikan setiap porsi makanan bergizi sampai ke tangan yang membutuhkan.

Wihaji juga kembali mengajak masyarakat Indonesia untuk mengapresiasi program peningkatan kualitas gizi nasional tersebut, karena MBG untuk 3B merupakan satu-satunya yang ada di dunia.

Ia menambahkan, keberhasilan pelaksanaan program MBG untuk 3B memerlukan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kolaborasi ini esensial agar program dapat berjalan efektif hingga menyentuh tingkat keluarga di berbagai wilayah.

“Program ini membutuhkan kerja sama antara kementerian di pusat dan pemerintah daerah,” pungkas Wihaji.

Distribusi MBG untuk 3B Diperkuat Lewat Posyandu

Jakarta- Pemerintah memperkuat distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok 3B (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita) melalui jaringan posyandu di berbagai daerah. Skema ini diharapkan membuat penyaluran bantuan gizi lebih tepat sasaran sekaligus menjangkau keluarga yang paling membutuhkan.

Seperti di wilayah Palmerah, Jakarta Barat, para kader Posyandu Kemala XVI-11 rutin membagikan makanan setiap hari kepada penerima manfaat kelompok 3B di wilayahnya. Program ini membantu memastikan kebutuhan gizi Masyarakat, terutama kelompok rentan, dapat terpenuhi dengan baik.

Koordinator Posyandu Balita Kemala XVI-11 Palmerah, Muslika, menyampaikan bahwa para kader merasakan langsung dampak positif dari program tersebut. Bagi para kader posyandu di Palmerah, kegiatan ini pun bukan sekadar rutinitas harian. Di balik pembagian menu dan pendataan penerima, tersimpan semangat gotong royong dan kepedulian sosial demi memastikan anak-anak, ibu menyusui, dan lansia mendapatkan asupan gizi yang layak.

“Kami dari kader Posyandu Kemala XVI-11 Palmerah merasakan manfaat dari program MBG. Kami juga menyalurkan makanan setiap hari untuk balita, lansia, dan ibu menyusui,” ujar Muslika.

Dalam pelaksanaannya, distribusi dilakukan secara terstruktur, mulai dari posko di tingkat RW hingga ke RT. Menu makanan diambil dari posko RW, kemudian dibagikan kepada kader balita dan Dasawisma untuk selanjutnya disalurkan kepada penerima manfaat di masing-masing RT.

“Sehari-hari kami mengambil menu dari posko di RW. Setelah itu, makanan dibagi ke masing-masing RT melalui kader balita posyandu dan Dasawisma. Pengurus RT kemudian mendistribusikannya kepada balita penerima manfaat,” jelas Muslika.

Bagi orang tua yang bekerja, pengurus juga menyiapkan mekanisme penitipan wadah agar makanan tetap bisa diterima. Sistem ini dibuat agar tidak ada penerima yang terlewat.

“Biasanya ada orang tua yang bekerja, sehingga mereka menitipkan wadah. Nanti kami sebagai pengurus memindahkan makanan ke wadah tersebut, lalu ibunya bisa mengambil ketika sempat,” ungkapnya.

Data penerima manfaat pun sudah tercatat rapi di setiap RT, sehingga distribusi berjalan sesuai sasaran. “Data penerima sudah ada di masing-masing RT,” tambahnya.

Sementara itu di Pontianak, Kalimantan Barat, Pemkot Pontianak mendukung berbagai program yang langsung bersentuhan dengan Masyarakat melalui kader posyandu dan PKK. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan pihaknya memberikan dukungan terhadap program Pembangunan keluarga dan kesehatan ibu anak seperti program MBG bagi kelompok 3B.

“Pemerintah Kota Pontianak sudah sejak lama men-support kegiatan-kegiatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, melalui PKK, melalui posyandu, dan OPD atau dinas terkait,” katanya.

Ia menilai, secara geografis Kota Pontianak tidak memiliki masalah berarti dalam distribusi MBG. Meski demikian, Edi mengakui masih diperlukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman di lapangan. Dalam hal ini, kader posyandu dan PKK di daerahnya memegang peran penting.

“Ya, ini kan memang perlu sosialisasi. Ada beberapa yang memang perlu kita jelaskan kepada masyarakat,” pungkasnya.

Bumil, Busui, dan Balita Jadi Prioritas Utama Penerima Manfaat MBG

Jakarta – Ibu hamil, ibu menyusui, dan balita atau kelompok 3B menjadi kelompok prioritas penerima manfaat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah. Prioritas kelompok 3B ini diarahkan untuk memperkuat pemenuhan gizi pada masa awal kehidupan sekaligus mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa penerima manfaat Program MBG yang paling utama yakni kelompok 3B. Ia menekankan para mitra MBG lebih memprioritaskan kelompok tersebut.

“Ini juga ada kekeliruan pemahaman seharusnya ketika dapur MBG baru dibangun oleh mitra yang utama dicari atau penerima manfaat itu balita, ibu hamil dan ibu menyusui,” kata Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya.

Ia mengatakan bahwa sebanyak 77 negara telah melakukan program makan di sekolah. Namun di Indonesia bukan hanya makan di sekolah tapi ada plusnya karena memikirkan balita, ibu hamil dan ibu menyusui.

“Ini yang merupakan keunggulan dari program MBG ini. Hanya di Indonesia ada program makan yang makanannya diantar ke rumah oleh kader-kader di puskesmas siapa yang mendapatkanya ibu hamil dan ibu menyusui itulah keunggulannya, di negara lain tidak ada,” paparnya.

Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menilai pentingnya peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam mengawal distribusi MBG bagi kelompok 3B. Menurutnya, program MBG 3B merupakan langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi kelompok rentan sekaligus mendukung tumbuh kembang generasi masa depan.

“Yang sudah berjalan harus terus kita kawal agar MBG 3B benar-benar sampai kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD sebagai penerima manfaat,” ujar Wihaji.

Ia pun menekankan bahwa keberhasilan pelaksanaan program MBG memerlukan sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah agar program berjalan efektif hingga tingkat keluarga.

“Program ini membutuhkan kerja sama antara kementerian di pusat dan pemerintah daerah. Kita harus saling mendukung dan memperkuat satu sama lain. Pemerintah daerah merupakan perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014,” pungkas dia.

Program MBG Ciptakan Dampak Ekonomi dan Perkuat Gizi Kelompok 3B

Jakarta – Guru Besar Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI, Fentiny Nugroho menyampaikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berperan dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi keluarga penerima manfaat serta masyarakat di sekitar pelaksanaan program.

Riset tersebut dipaparkan dalam Seminar Riset bertajuk “Kajian MBG: Dampak terhadap Pendapatan dan Pengeluaran Keluarga” yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-58 FISIP UI di Auditorium Juwono Sudarsono, Depok.

Penelitian ini mengkaji bagaimana program MBG mempengaruhi dinamika ekonomi rumah tangga, baik dari sisi pendapatan maupun pola pengeluaran keluarga penerima manfaat.

Penelitian yang dipimpin oleh Prof. Fentiny melibatkan tim peneliti yang terdiri dari Dr. Annisah, Dr. Anna Sakreti Nawangsari, Dr. Arif Wibowo, serta Shinta Tris Irawati.

Menurut Prof. Fentiny, hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai unit pelaksana program MBG memiliki dampak ekonomi yang cukup signifikan bagi masyarakat di sekitarnya.

“Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mampu menggerakkan dana hingga Rp10–12 miliar per tahun. Sebanyak 85 persen anggaran digunakan untuk membeli bahan baku dari petani lokal. Setiap SPPG mempekerjakan sekitar 50 orang serta melibatkan puluhan petani dan pemasok,” ujar Prof. Fentiny.

Selain menciptakan peluang kerja, penelitian tersebut juga menemukan bahwa program MBG memberikan tambahan sumber pendapatan bagi para relawan yang terlibat dalam operasional SPPG. Mereka memperoleh penghasilan harian yang dinilai cukup berarti bagi kondisi ekonomi rumah tangga.

“Mereka menyampaikan rasa senang karena kini memiliki penghasilan harian yang relatif stabil, berkisar Rp100 ribu hingga Rp125 ribu,” jelasnya.

Temuan lain dari penelitian tersebut menunjukkan adanya penurunan pengeluaran rumah tangga bagi sebagian keluarga penerima manfaat, terutama terkait kebutuhan pangan.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Imamudin Yuliadi yang menilai bahwa program MBG berpotensi menjadi instrumen strategis dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi daerah.

“Program MBG dapat menjadi instrumen strategis tidak hanya dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga dalam membangun ketahanan pangan dan memperkuat kemandirian ekonomi daerah,” kata Imamudin.

Ia menjelaskan bahwa dampak ekonomi program MBG akan semakin besar apabila pelaksanaannya melibatkan pelaku ekonomi lokal, seperti petani, peternak, serta pelaku usaha pangan di daerah.

Disisi lain, program MBG juga dirancang sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia jangka panjang dengan memastikan kualitas gizi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui atau kelompok 3B terjamin sejak masa awal kehidupan, sejalan dengan visi Indonesia 2045.

Dengan adanya hal tersebut, program MBG tidak hanya memberikan manfaat sosial, tetapi juga menciptakan efek pengganda bagi perekonomian daerah dan strategi penguatan gizi sejak 1.000 hari pertama kehidupan.

MBG Jadi Motor Ekonomi Sekaligus Penguat Gizi Kelompok 3B

Jakarta – Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menyampaikan bahwa realisasi belanja negara pada awal tahun 2026 menunjukkan peningkatan signifikan seiring dengan percepatan pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pemerintah menilai percepatan belanja negara di awal tahun merupakan strategi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya pada kuartal pertama.

“Hingga akhir Februari, belanja negara mencapai Rp493,8 triliun dan tumbuh 41,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” kata Suahasil dalam paparan kinerja APBN di Jakarta.

Salah satu program yang memberikan kontribusi terhadap percepatan belanja tersebut adalah Program MBG.

Program ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Hingga awal Maret 2026, pelaksanaan program MBG telah menjangkau sekitar 61,62 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Program tersebut dilaksanakan melalui lebih dari 25 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai wilayah.

“Percepatan belanja negara, termasuk melalui program prioritas seperti MBG, diharapkan dapat memperkuat daya beli masyarakat sekaligus mendorong aktivitas ekonomi pada awal tahun,” ujarnya.

Selain memberikan manfaat dari sisi pemenuhan gizi masyarakat, program MBG juga strategi untuk menguatkan gizi sejak 1.000 hari pertama kehidupan.

BGN menegaskan penerima manfaat utama Program MBG adalah balita, ibu hamil, dan ibu menyusui atau kelompok 3B. Penegasan ini disampaikan untuk meluruskan pemahaman bahwa MBG tidak semata-mata program makan di sekolah, melainkan strategi penguatan gizi sejak 1.000 hari pertama kehidupan.

Ia menjelaskan, sebanyak 77 negara telah menjalankan program makan di sekolah. Namun, menurutnya, Indonesia memiliki pendekatan berbeda karena tidak hanya menyasar peserta didik, tetapi juga kelompok rentan 3B.

“Ini yang merupakan keunggulan dari program MBG ini. Hanya di Indonesia ada program makan yang makanannya diantar ke rumah oleh kader-kader di puskesmas siapa yang mendapatkanya ibu hamil dan ibu menyusui itulah keunggulannya, di negara lain tidak ada,” jelasnya.

Sony menekankan, mitra pelaksana MBG harus lebih dahulu memprioritaskan kelompok 3B sebelum melakukan pendataan di sekolah. Hal ini, kata dia, berkaitan langsung dengan fase krusial 1.000 hari pertama kehidupan yang menentukan kualitas generasi mendatang.

Program MBG ini, lanjutnya, dirancang sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia jangka panjang dengan memastikan kualitas gizi kelompok rentan 3B terjamin sejak masa awal kehidupan, sejalan dengan visi Indonesia 2045.