Prioritas MBG untuk 3B, Investasi Gizi Masa Depan

Oleh: Citra Kurnia Khudori)*

Upaya menurunkan angka stunting di Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih terarah pada fase paling krusial dalam siklus kehidupan manusia. Karena itu, intervensi gizi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) menjadi langkah strategis untuk memastikan generasi mendatang tumbuh sehat dan berkualitas.

Dalam konteks tersebut, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memprioritaskan kelompok 3B menunjukkan arah kebijakan yang tepat. Fokus pada bumil, busui, dan balita berarti pemerintah menempatkan perhatian pada periode emas 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yang menjadi penentu utama tumbuh kembang anak.

Jika intervensi gizi dilakukan secara konsisten sejak masa kehamilan hingga awal kehidupan anak, risiko stunting dapat ditekan secara signifikan. Dengan demikian, kebijakan gizi yang tepat sasaran bukan hanya program bantuan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengandalkan program MBG kategori 3B sebagai strategi kunci untuk mengatasi stunting sejak dini.

MBG 3B menjadi bagian integral dari komitmen Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam membangun sumber daya manusia berkualitas, khususnya melalui pemenuhan gizi pada periode emas 1.000 HPK.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, mengatakan program MBG 3B sejalan dengan target penurunan prevalensi stunting nasional sebesar 18,8 persen pada 2026. Ia menyoroti empat prioritas utama untuk mendukung keberhasilan program ini: penguatan kapasitas kader dan penyuluh KB sebagai garda terdepan, peningkatan akurasi data berbasis by name by address, penguatan kepemimpinan lapangan, serta optimalisasi komunikasi publik melalui media sosial.

Ia juga menekankan bahwa Keberhasilan MBG 3B bergantung pada sinergi lintas sektor, termasuk kolaborasi erat dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan pemerintah daerah. Pendekatan multisektor ini melibatkan Puskesmas, Posyandu, pemerintah desa, hingga sektor pendidikan untuk memastikan edukasi dan intervensi gizi berlangsung berkelanjutan.

Di samping itu, menu MBG untuk kelompok 3B yang disusun sesuai kebutuhan gizi menjadi elemen penting dalam keberhasilan program ini. Penyediaan makanan dengan komposisi nutrisi seimbang memastikan ibu dan anak memperoleh asupan yang dibutuhkan untuk mendukung kesehatan, perkembangan otak, serta pertumbuhan fisik secara optimal.

Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN) Ermia Sofiyessi menjelaskan bahwa menu MBG kategori 3B terdiri atas makanan siap santap dan paket sehat. Frekuensi dan waktu pengiriman paket MBG juga sudah disiapkan dalam petunjuk teknis yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG.

MBG siap santap untuk ibu hamil dan menyusui merupakan makanan lengkap yang mengandung karbohidrat, protein, serat, dan lemak yang sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG) yang telah ditentukan oleh ahli gizi, sedangkan paket MBG sehat terdiri atas minuman khusus ibu hamil atau menyusui yang dilengkapi dengan telur dan buah.

Sementara untuk anak balita non-PAUD usia 0-2 tahun, paket MBG siap santap juga berupa makanan lengkap sesuai dengan AKG, sedangkan paket MBG sehat terdiri atas makanan pendamping ASI (MPASI) dan buah dengan tekstur yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi di bawah usia dua tahun (baduta).

Ermia mendorong seluruh kepala SPPG aktif mendata ibu hamil, menyusui, dan balita berkoordinasi dengan puskesmas, posyandu, dan kelurahan. etelah pendataan, SPPG bisa mulai menyiapkan MBG sesuai standar gizi seimbang dan pemorsian berdasarkan kelompok usia.

Ia menerangkan, setiap hari kelompok 3B menerima MBG dengan penjadwalan yang sudah disepakati dengan posyandu, atau bisa membuat kesepakatan lain bersama para kader, apakah kader perlu mengantar ke rumah atau diambil sendiri oleh ibu hamil atau ibu menyusui, bisa juga menyesuaikan dengan jadwal posyandu.

Sedangkan untuk wilayah terpencil, BGN telah mendesain skema distribusi, yang sudah dilakukan di beberapa SPPG. Selain mendistribusikan MBG, peran kader dalam hal ini juga sangat penting untuk memberikan edukasi pada penerima manfaat 3B.

Dari penjelasan tersebut, perlu dipahami bahwa keberhasilan penurunan stunting ditentukan oleh konsistensi kebijakan yang berpihak pada pemenuhan gizi masyarakat sejak dini. Prioritas MBG bagi kelompok 3B menunjukkan bahwa negara mulai menempatkan intervensi pada titik paling menentukan dalam siklus kehidupan manusia.

Lebih dari sekadar bantuan pangan, MBG untuk 3B memastikan generasi yang tumbuh dengan gizi cukup sejak awal kehidupan akan memiliki kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas yang lebih baik di masa depan.

Karena itu, keberlanjutan program, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci agar manfaatnya benar-benar dirasakan secara luas. Jika dijalankan secara konsisten, MBG 3B dapat menjadi fondasi kuat bagi lahirnya generasi Indonesia yang sehat, tangguh, dan berdaya saing.

)* Pemerhati Isu Sosial-Ekonomi

Strategi 3B dalam Program MBG Bangun SDM Unggul

Oleh: Citra Kurnia Khudori )*

Pembangunan sumber daya manusia yang unggul tidak dapat dilepaskan dari kualitas gizi sejak awal kehidupan. Karena itu, intervensi gizi pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) menjadi langkah penting untuk memastikan generasi masa depan tumbuh sehat dan optimal.

Dalam konteks tersebut, strategi 3B dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pendekatan yang relevan dan tepat sasaran. Fokus pada kelompok rentan ini menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM harus dimulai dari fase paling awal dalam siklus kehidupan manusia.

Perhatian terhadap periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) menjadi kunci dalam upaya mencegah stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak. Jika kebutuhan gizi terpenuhi sejak masa kehamilan hingga balita, fondasi bagi lahirnya generasi yang produktif dan berdaya saing akan semakin kuat.

Hal tersebut senada dengan penyampaian Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, yang mengatakan bahwa 1.000 HPK merupakan fondasi utama dalam membentuk kualitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul.

Ia menuturkan, fase sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun Adalah masa emas yang tidak bisa terulang. Investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalah memastikan setiap anak memperoleh gizi, kesehatan, dan pengasuhan yang optimal pada periode krusial tersebut.

Upaya pencegahan stunting dan optimalisasi 1.000 HPK tidak bisa hanya dibebankan kepada ibu, tetapi membutuhkan dukungan ayah, keluarga besar, serta kebijakan pemerintah yang inklusif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, program MBG bagi kategori 3B menjadi strategi prioritas pemerintahan Prabowo Subianto yang menempatkan gizi sebagai investasi untuk membangun SDM unggul di masa depan.

Isyana juga menekankan pentingnya kualitas menu. Makanan yang diberikan harus memenuhi standar gizi, bebas dari ultra-processed food, serta disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sasaran.

Terkait hal tersebut, Sekretaris Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN Ermia Sofiyessi menjelaskan, menu MBG bagi kategori 3B terdiri atas makanan siap santap dan paket sehat. Frekuensi dan waktu pengiriman paket MBG pun sudah disiapkan dalam petunjuk teknis yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 115 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG.

Ermia memaparkan, distribusi MBG sian santap dilakukan setiap hari Senin dan Kamis. Sementara MBG paket sehat untuk Selasa dan Rabu.

MBG siap santap untuk ibu hamil dan menyusui merupakan makanan lengkap yang mengandung karbohidrat, protein, serat, dan lemak yang sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG) yang telah ditentukan oleh ahli gizi, sedangkan paket MBG sehat terdiri atas minuman khusus ibu hamil atau menyusui yang dilengkapi dengan telur dan buah.

Sementara untuk anak balita non-PAUD usia 0-2 tahun, paket MBG siap santap juga berupa makanan lengkap sesuai dengan AKG, sedangkan paket MBG sehat terdiri atas makanan pendamping ASI (MPASI) dan buah dengan tekstur yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi di bawah usia dua tahun (baduta).

Ermia juga menegaskan, seluruh kepala SPPG harus aktif mendata ibu hamil, menyusui, dan balita dengan berkoordinasi melalui puskesmas, posyandu, dan kelurahan. Setelah pendataan, SPPG bisa mulai menyiapkan MBG sesuai standar gizi seimbang dan pemorsian berdasarkan kelompok usia. Kemudian setiap harinya kelompok 3B menerima MBG dengan penjadwalan yang sudah disepakati dengan posyandu.

Sementara itu untuk wilayah terpencil, BGN juga telah mendesain skema distribusi, yang di beberapa SPPG sudah dilakukan. Seperti di Provinsi Maluku Utara, program MBG 3B telah menjangkau 10 kabupaten/kota.

Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Maluku Utara (Malut) Victor mengapresiasi visi AstaCita Presiden Prabowo yang memberikan perhatian besar terhadap kelompok 3B melalui pemberian Program MBG. Untuk lebih optimal lagi, Victor menyarankan agar Data Pendataan Keluarga (PK) BKKBN dijadikan sebagai acuan tunggal dalam pelaksanaan intervensi MBG.

Pada akhirnya, strategi 3B dalam program MBG menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari fondasi yang paling dasar, yakni pemenuhan gizi sejak awal kehidupan. Kebijakan yang menempatkan ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai prioritas mencerminkan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Keberhasilan program ini tentu memerlukan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar intervensi gizi dapat menjangkau kelompok sasaran secara tepat dan berkelanjutan.

Selain itu, kualitas pelaksanaan di lapangan juga harus terus dijaga melalui penguatan data, pengawasan distribusi, dan standar gizi yang konsisten. Dengan pengelolaan yang baik, MBG tidak hanya menjadi program bantuan, tetapi juga instrumen strategis untuk mempercepat peningkatan kualitas SDM Indonesia.

Jika strategi ini dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan, manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang. Generasi yang tumbuh sehat, cerdas, dan produktif akan menjadi modal utama Indonesia dalam menghadapi tantangan pembangunan di masa depan.

)* Pemerhati Isu Sosial-Ekonomi

Evaluasi Program MBG Perkuat Kualitas Layanan dan Pengawasan Publik

Oleh: Zaenul Arifin )*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Program ini dirancang untuk menjangkau kelompok rentan seperti siswa sekolah, balita, ibu hamil, ibu menyusui, hingga lansia. Evaluasi berkala terhadap standar layanan, mekanisme pengawasan, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa tujuan program dapat tercapai secara optimal. Proses evaluasi ini sekaligus menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga kualitas layanan sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap pelaksanaan program MBG.

Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II Badan Gizi Nasional, Albertus Dony Dewantoro mengatakan bahwa pemerintah telah mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Pulau Jawa sebagai bagian dari proses evaluasi menyeluruh terhadap kualitas layanan program MBG. Keputusan tersebut diambil setelah dilakukan pemantauan terhadap berbagai aspek operasional yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi standar yang telah ditetapkan. Langkah penghentian sementara ini dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh unit pelayanan mampu memenuhi kriteria ketat yang berkaitan dengan sanitasi, kesehatan, serta tata kelola operasional dapur penyedia makanan bergizi.

Albertus menjelaskan bahwa berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan Badan Gizi Nasional, terdapat lebih dari seribu unit SPPG yang untuk sementara dihentikan operasionalnya guna menjalani proses penataan ulang standar layanan. Unit-unit tersebut tersebar di berbagai provinsi di Pulau Jawa, mulai dari DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem pengawasan dan memastikan bahwa setiap unit layanan benar-benar mampu memenuhi standar operasional prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Penghentian operasional tersebut bersifat sementara dan tidak dimaksudkan untuk menghentikan program MBG secara permanen di wilayah terkait. Badan Gizi Nasional justru akan melakukan pendampingan serta verifikasi ulang terhadap unit-unit layanan yang dinilai belum memenuhi standar. Melalui proses pembinaan tersebut, pemerintah berharap setiap SPPG dapat memperbaiki sistem operasionalnya sehingga dapat kembali beroperasi setelah seluruh persyaratan terpenuhi. Langkah evaluasi ini merupakan bagian penting dari proses penguatan kualitas program yang sedang berjalan.

Selain pengawasan dari pemerintah pusat, keterlibatan masyarakat dalam memantau pelaksanaan program juga menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas layanan MBG. Tenaga Layanan Operasional Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional, Rahma Dewi Auliyasari mengatakan bahwa masyarakat dapat memanfaatkan saluran pengaduan resmi yang telah disediakan pemerintah apabila menemukan permasalahan dalam pelaksanaan program MBG. Badan Gizi Nasional telah membuka layanan pengaduan melalui call center 127 serta kanal pengaduan yang tersedia di situs resmi lembaga tersebut.

Rahma menyampaikan bahwa kehadiran kanal pengaduan tersebut bertujuan memberikan ruang partisipasi bagi masyarakat dalam mengawasi jalannya program. Melalui mekanisme tersebut, masyarakat dapat menyampaikan berbagai laporan yang berkaitan dengan kualitas menu makanan, proses distribusi, maupun operasional dapur penyedia makanan bergizi. Ia menilai bahwa keterlibatan masyarakat dalam memberikan masukan akan membantu pemerintah dalam mengidentifikasi berbagai persoalan di lapangan secara lebih cepat.

Rahma menegaskan setiap pengaduan yang disampaikan melalui saluran resmi akan ditindaklanjuti oleh pejabat yang berwenang di Badan Gizi Nasional. Dengan demikian, permasalahan yang muncul dapat segera dicarikan solusi secara bersama-sama melalui mekanisme yang transparan dan terstruktur. Partisipasi masyarakat dalam mengawasi pelaksanaan program menjadi salah satu elemen penting dalam memastikan keberhasilan MBG sebagai program prioritas nasional.

Di tingkat daerah, pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG juga dilakukan secara aktif oleh pemerintah daerah melalui mekanisme koordinasi dengan pemerintah pusat. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan bahwa standar mutu operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi tidak dapat ditawar karena berkaitan langsung dengan kualitas layanan yang diterima masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pemerintah provinsi secara rutin menyampaikan laporan terkait berbagai temuan di lapangan kepada Badan Gizi Nasional melalui jalur komunikasi resmi.

Emil juga mengapresiasi langkah pemerintah pusat yang telah menghentikan sementara sejumlah unit SPPG yang dinilai belum memenuhi standar mutu layanan. Langkah tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga kualitas program sekaligus memberikan pembelajaran bagi seluruh pengelola layanan MBG. Tindakan tegas tidak hanya perlu diterapkan terhadap unit yang dilaporkan bermasalah, tetapi juga terhadap unit lain yang memiliki potensi risiko serupa.

Langkah evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap pelaksanaan program MBG menunjukkan bahwa kualitas layanan menjadi prioritas utama dalam implementasi kebijakan ini. Dengan adanya sistem pengawasan yang ketat serta keterlibatan masyarakat dalam proses pengaduan, pemerintah memiliki instrumen yang lebih kuat untuk memastikan bahwa program berjalan sesuai dengan tujuan awalnya. Program MBG diharapkan dapat terus berkembang menjadi kebijakan publik yang berkualitas dan berkelanjutan.

Evaluasi program MBG perkuat kualitas layanan dan pengawasan publik menjadi pesan penting bahwa keberhasilan program nasional tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau cakupan sasaran, tetapi juga oleh komitmen untuk menjaga standar kualitas dan akuntabilitas dalam setiap tahap pelaksanaannya. Dengan pengawasan yang kuat dan partisipasi masyarakat yang aktif, program MBG diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesehatan, kesejahteraan, dan masa depan generasi Indonesia.

*) Penulis merupakan Pengamat Sosial dan Kemasyarakatan

Riset Akademik Soroti Peran MBG dalam Mendorong Ekonomi Masyarakat

Oleh: Bara Winatha )*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah tidak hanya dipandang sebagai kebijakan sosial untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga mulai dilihat sebagai instrumen pembangunan ekonomi yang berdampak luas. Sejumlah riset akademik menunjukkan bahwa implementasi program ini memiliki efek berlapis, mulai dari peningkatan akses gizi bagi kelompok rentan hingga mendorong aktivitas ekonomi di tingkat lokal. Karena itu, berbagai kajian ilmiah mulai menyoroti bagaimana program ini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Guru Besar Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Prof. Fentiny Nugroho mengatakan bahwa hasil riset yang dilakukan tim peneliti FISIP UI menunjukkan program MBG memiliki dampak ekonomi yang cukup signifikan bagi masyarakat. Penelitian tersebut dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, observasi, serta studi dokumen di tiga wilayah yaitu Jakarta Timur, Depok, dan Tangerang Selatan. Kajian tersebut berupaya melihat bagaimana program MBG memengaruhi dinamika ekonomi rumah tangga, termasuk perubahan struktur pendapatan serta pola pengeluaran keluarga penerima manfaat.

Fentiny menjelaskan bahwa keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG mampu menggerakkan perputaran dana dalam jumlah besar di tingkat lokal. Menurutnya, setiap unit SPPG dapat mengelola anggaran hingga sekitar Rp10 hingga Rp12 miliar per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 85 persen digunakan untuk pembelian bahan baku yang sebagian besar berasal dari petani dan pemasok lokal. Kondisi ini dinilai memberikan dampak ekonomi langsung bagi sektor pertanian serta pelaku usaha kecil yang terlibat dalam rantai pasok penyediaan bahan pangan.

Ia menambahkan bahwa operasional SPPG juga membuka peluang kerja baru bagi masyarakat sekitar. Setiap unit layanan gizi tersebut mempekerjakan sekitar 50 orang tenaga kerja dan melibatkan puluhan petani serta pemasok bahan pangan. Selain tenaga kerja tetap, program ini juga melibatkan relawan yang membantu operasional harian. Para relawan tersebut memperoleh penghasilan harian yang berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp125 ribu per orang. Penghasilan tersebut menjadi tambahan pendapatan yang cukup berarti bagi sebagian masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki sumber penghasilan tetap.

Selain meningkatkan pendapatan bagi sebagian kelompok masyarakat, riset tersebut juga menemukan adanya perubahan pola pengeluaran pada keluarga penerima manfaat. Sebagian keluarga merasakan penurunan pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan pangan karena anak-anak mereka telah memperoleh makanan bergizi melalui program MBG di sekolah. Dampak ini paling dirasakan oleh keluarga yang berada dalam kategori miskin dan rentan miskin karena pengeluaran untuk makanan menjadi salah satu komponen terbesar dalam anggaran rumah tangga mereka.

Dalam perspektif jangka panjang, Program MBG memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Asupan nutrisi yang baik dapat mendukung pertumbuhan fisik anak, meningkatkan perkembangan kognitif, serta memperbaiki kondisi kesehatan secara keseluruhan. Dengan kualitas gizi yang lebih baik, anak-anak diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk berprestasi di bidang pendidikan dan pada akhirnya mampu berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi di masa depan.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Prof. Dr. Imamudin Yuliadi mengatakan bahwa program MBG memiliki potensi menjadi instrumen strategis yang tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi daerah. Menurutnya, dalam situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, kebijakan yang mengintegrasikan program sosial dengan penguatan ekonomi lokal seperti MBG menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk menjaga keberlanjutan pembangunan nasional.

Dampak ekonomi program MBG dapat berbeda di setiap daerah, tergantung pada kesiapan infrastruktur ekonomi lokal serta tingkat keterlibatan masyarakat dalam rantai pasok program tersebut. Ia menilai bahwa daerah yang mampu melibatkan petani, peternak, dan pelaku usaha lokal dalam penyediaan bahan pangan akan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar. Dengan meningkatnya permintaan terhadap bahan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan program MBG, aktivitas produksi dan distribusi di tingkat daerah dapat meningkat secara signifikan.

Dampak ekonomi dari program MBG juga mulai terlihat di sektor industri dan logistik. Deputy to 4W Sales & Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales, Donny Saputra mengatakan bahwa meningkatnya kebutuhan kendaraan logistik untuk mendukung operasional program MBG turut mendorong kenaikan permintaan kendaraan niaga di pasar domestik. Ia menjelaskan bahwa kontribusi permintaan kendaraan untuk mendukung program MBG cukup signifikan terhadap penjualan segmen fleet perusahaan.

Donny menyebut bahwa sekitar separuh dari permintaan kendaraan fleet berasal dari kebutuhan operasional program MBG, sementara sisanya berasal dari perusahaan swasta yang melakukan peremajaan armada kendaraan. Peningkatan aktivitas logistik yang terkait dengan distribusi makanan dalam program MBG telah menciptakan kebutuhan tambahan terhadap kendaraan niaga yang digunakan untuk mengangkut bahan pangan maupun mendistribusikan makanan ke berbagai lokasi.

Dengan pengelolaan yang transparan, pengawasan yang kuat, serta keterlibatan masyarakat dalam rantai pasok, MBG berpotensi menjadi salah satu program sosial yang memiliki dampak ekonomi paling luas di Indonesia. Riset akademik yang menyoroti peran program ini menunjukkan bahwa kebijakan sosial yang dirancang dengan baik dapat memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional.

*) Penulis merupakan Pengamat Sosial dan Kemasyarakatan

Tegas Jaga Standar MBG, Ribuan Dapur Wajib Penuhi Syarat

Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menjaga kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penerapan standar ketat bagi seluruh dapur penyedia makanan.

Langkah ini dilakukan guna memastikan setiap makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat benar-benar memenuhi prinsip gizi seimbang dan aman untuk dikonsumsi.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberikan toleransi terhadap dapur yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan.

“Program Makan Bergizi Gratis merupakan investasi besar bagi masa depan generasi Indonesia. Oleh karena itu, setiap dapur yang terlibat wajib memenuhi standar kebersihan, keamanan, serta kandungan gizi yang telah ditentukan,” ujar Dadan.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan pihaknya mengingatkan standar operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program MBG tidak bisa ditawar.

“Kami selalu menyampaikan komunikasi satu pintu. Keluhan-keluhan di lapangan kami sampaikan melalui grup koordinasi ketua Satgas MBG se-Jawa Timur yang beranggotakan 43 orang,” ujar Emil.

Menurut Emil, berbagai temuan di lapangan, mulai dari persoalan kualitas menu makanan hingga standar operasional dapur, dilaporkan melalui forum koordinasi yang melibatkan para ketua Satgas MBG di seluruh Jawa Timur.

“Kami memang rutin meneruskan laporan tersebut ke BGN. Harapannya tentu ada tindakan tegas agar menjadi pembelajaran dan memberi efek jera,” katanya.

Emil mengapresiasi langkah BGN yang mulai mengambil tindakan tegas terhadap sejumlah SPPG yang dinilai belum memenuhi standar operasional, termasuk penghentian sementara terhadap unit yang memiliki potensi risiko serupa.

Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang belum memadai serta dokumen Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang belum diajukan.

“Ketegasan ini penting. Bukan hanya terhadap yang dilaporkan, tetapi juga terhadap SPPG yang memiliki faktor risiko yang sama,” ujarnya.

Pemerintah optimistis bahwa penerapan standar yang ketat terhadap ribuan dapur MBG akan menjadi fondasi kuat bagi keberhasilan program tersebut. Dengan sistem pengawasan yang berlapis dan kolaborasi lintas sektor, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus memperkuat pembangunan sumber daya manusia menuju Generasi Emas Indonesia 2045.

Pemerintah Buktikan Standar MBG Bukan Formalitas

Bandung – Pemerintah menegaskan bahwa standar operasional dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar formalitas administratif. Berbagai ketentuan teknis yang diterapkan, termasuk kewajiban Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi dapur penyedia makanan, menjadi bukti komitmen pemerintah untuk memastikan kualitas, keamanan, dan kesehatan makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat program tersebut.

Badan Gizi Nasional (BGN) menekankan bahwa setiap dapur yang terlibat dalam penyediaan makanan untuk program MBG wajib memenuhi standar kesehatan dan kebersihan yang ketat. Hal ini dilakukan agar makanan yang disajikan tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dikonsumsi oleh anak-anak sekolah sebagai kelompok penerima utama program tersebut.

‎Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan seluruh Koordinator Satuan Pelayanan Bergizi (KSPBG) untuk mengingatkan mitra dapur agar segera mengurus SLHS kepada dinas kesehatan setempat.

‎“Ini salah satu hal yang sangat penting. Kami sudah mengarahkan seluruh KSPBG untuk mengingatkan mitra-mitranya bahwa sejak dinyatakan operasional, maksimal dalam waktu 30 hari harus segera mendaftar untuk proses SLHS,” ujar Sony.

‎Menurut Sony, saat ini terdapat lebih dari 240 dapur SPPG yang terancam disuspend karena belum juga mengajukan pendaftaran SLHS ke dinas kesehatan setempat.

‎“Kalau sampai 30 hari belum juga mendaftar, berarti tidak ada niat untuk mendapatkan sertifikat laik higiene sanitasi. Bagaimana program MBG bisa berjalan optimal kalau tidak ada keseriusan untuk memenuhi standar kesehatan dan kebersihan,” kata Sony.

Sony menjelaskan bahwa sertifikat SLHS bukan sekadar formalitas administrasi. Sertifikasi tersebut menjadi indikator komitmen mitra dapur untuk menghadirkan fasilitas produksi makanan yang sehat, aman, dan memenuhi standar sanitasi.

‎“Ini bukan hanya sekadar sertifikat. Yang lebih penting adalah niat untuk mewujudkan dapur SPPG yang benar-benar memenuhi persyaratan kesehatan dan kebersihan,” ucapnya.

Penerapan standar yang ketat, termasuk kewajiban SLHS, menjadi bukti bahwa pemerintah tidak menganggap program MBG sebagai kegiatan seremonial semata. Sebaliknya, pemerintah ingin memastikan setiap tahapan program dijalankan secara profesional, terukur, dan berorientasi pada keselamatan serta kesehatan masyarakat.

Melalui komitmen tersebut, pemerintah berharap kepercayaan masyarakat terhadap program MBG semakin meningkat. Dengan dukungan berbagai pihak serta pengawasan yang berkelanjutan, program ini diharapkan mampu menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya saing di masa depan.

Mengawal Pemerintah Perkuat Standar MBG dan Transformasi Sistemik

Oleh : Andika Pratama

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah merupakan salah satu langkah strategis dalam memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Program ini tidak sekadar dimaknai sebagai penyediaan makanan bagi siswa, melainkan bagian dari intervensi gizi yang dirancang untuk meningkatkan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan daya saing generasi muda. Dalam konteks tersebut, komitmen pemerintah untuk membuka ruang evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG menjadi langkah penting yang mencerminkan tata kelola kebijakan publik yang adaptif, transparan, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan.

Evaluasi terbuka yang dilakukan terhadap implementasi MBG menunjukkan bahwa pemerintah tidak menempatkan program ini sebagai kebijakan yang statis. Sebaliknya, evaluasi dijadikan sebagai instrumen untuk mengidentifikasi berbagai tantangan di lapangan sekaligus memperkuat standar pelaksanaan program secara nasional. Pendekatan ini penting karena program berskala besar yang menyasar jutaan anak sekolah membutuhkan sistem pengawasan dan penyempurnaan yang terus berkembang seiring dinamika implementasi di berbagai daerah.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa lembaganya melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, terutama setelah muncul sorotan publik pada awal Ramadan. Evaluasi tersebut mencakup berbagai aspek krusial, mulai dari standar kemasan makanan, komposisi menu, hingga transparansi perhitungan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Pernyataan tersebut menunjukkan adanya keseriusan pemerintah dalam memastikan bahwa setiap porsi makanan yang didistribusikan kepada siswa benar-benar memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan secara ilmiah.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, aspek keamanan pangan merupakan komponen fundamental yang tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, kebijakan untuk meningkatkan standar kemasan makanan menjadi langkah penting dalam menjaga kualitas makanan selama proses distribusi. Permintaan agar mitra penyedia tidak lagi menggunakan kantong plastik sederhana dan mulai beralih ke teknologi pengemasan yang lebih higienis mencerminkan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan standar pelayanan gizi.

Arahan agar setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai mengadakan peralatan vacuum sealer juga menjadi indikator bahwa pemerintah mendorong penerapan teknologi dalam pengelolaan makanan sekolah. Pengemasan vakum memiliki kemampuan menjaga kualitas makanan lebih lama, mencegah kontaminasi mikroba, serta mempertahankan kandungan nutrisi hingga makanan diterima oleh siswa. Standar pengemasan ini tidak hanya meningkatkan keamanan pangan, tetapi juga memperkuat sistem distribusi makanan dalam skala nasional.

Selain aspek kemasan, perhatian terhadap komposisi menu makanan juga menjadi fokus utama dalam evaluasi MBG. Konsistensi antara rencana menu dengan realisasi di lapangan sangat menentukan keberhasilan program dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Oleh karena itu, kewajiban bagi setiap SPPG untuk menyusun penjelasan rinci mengenai komposisi bahan pangan, nilai AKG, serta harga setiap bahan dalam menu merupakan langkah penting dalam memperkuat transparansi.

Melalui transparansi tersebut, publik dapat mengetahui bahwa setiap menu yang disajikan telah dirancang berdasarkan standar gizi yang terukur. Hal ini sekaligus menjadi mekanisme pengawasan terbuka yang memungkinkan masyarakat, orang tua, dan pemangku kepentingan lain untuk ikut memastikan bahwa kualitas makanan tetap terjaga sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah.

Dukungan terhadap penguatan tata kelola MBG juga disampaikan oleh Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, yang menilai bahwa program ini merupakan agenda strategis bagi masa depan generasi bangsa. Ia menekankan bahwa SPPG sebagai ujung tombak pelayanan gizi harus dikelola secara profesional serta mengikuti seluruh standar kesehatan yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional. Penegasan tersebut mencerminkan pentingnya kualitas pelaksanaan di tingkat operasional dalam menentukan keberhasilan program secara keseluruhan.

Dalam kebijakan publik berskala nasional, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh desain kebijakan, tetapi juga oleh efektivitas sistem pengawasan dan penegakan aturan. Oleh karena itu, dorongan agar pelanggaran terhadap standar kesehatan dan kelayakan menu diberikan sanksi secara tegas, proporsional, dan transparan merupakan bagian penting dari upaya menjaga disiplin mutu program.

Penguatan kelembagaan Badan Gizi Nasional melalui sistem monitoring terintegrasi secara nasional juga menjadi langkah strategis dalam memastikan konsistensi pelaksanaan MBG di seluruh wilayah Indonesia. Sistem pengawasan berbasis standar kesehatan dan pemenuhan nilai gizi memungkinkan pemerintah melakukan supervisi secara lebih efektif serta mencegah terjadinya penurunan kualitas layanan di lapangan.

Anggota Komisi IX DPR RI, Obon Tabroni, turut memberikan pandangan konstruktif terkait pelaksanaan program MBG. Ia menekankan pentingnya sosialisasi gizi seimbang kepada masyarakat serta perlunya partisipasi publik dalam mengawasi jalannya program. Dalam pendekatan kesehatan masyarakat modern, keterlibatan masyarakat merupakan elemen penting untuk memastikan bahwa program pemerintah berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Beberapa tantangan pada fase awal pelaksanaan program juga menjadi bagian dari proses pembelajaran kebijakan publik. Indikasi kesalahan penyajian makanan akibat proses memasak yang terlalu cepat sebelum distribusi menunjukkan adanya dinamika implementasi yang perlu terus diperbaiki. Namun, respons cepat pemerintah dalam melakukan evaluasi dan perbaikan menunjukkan bahwa program MBG bersifat adaptif dan terus mengalami penyempurnaan.

Pada akhirnya, program Makan Bergizi Gratis bukan hanya kebijakan sosial, tetapi juga investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Komitmen pemerintah untuk membuka evaluasi, meningkatkan standar pelayanan, serta memperkuat sistem pengawasan menunjukkan adanya upaya serius dalam memastikan keberhasilan program ini.
*) Penulis adalah Pengamat Sosial

Mengapresiasi Rekalibrasi Standar Program MBG

Oleh: Bara Winatha*)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini. Seiring dengan pelaksanaan di berbagai daerah, pemerintah kini melakukan langkah penting berupa rekalibrasi standar program melalui penguatan regulasi, peningkatan pengawasan operasional, serta masukan dari kalangan akademisi dan pemerintah daerah. Upaya ini menunjukkan keseriusan negara dalam memastikan bahwa MBG tidak sekadar menjadi program populis, tetapi benar-benar menjadi instrumen peningkatan kualitas gizi nasional yang berkelanjutan.

Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Badan Gizi Nasional, Khairul Hidayati mengatakan bahwa pemerintah saat ini tengah mematangkan regulasi pendukung pelaksanaan Program MBG melalui penyusunan Rancangan Peraturan Badan tentang Standar Gizi dalam pelaksanaan program tersebut. Ia menjelaskan bahwa proses penyusunan regulasi tersebut dilakukan melalui rapat harmonisasi bersama Kementerian Hukum, khususnya Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan, sebagai bagian dari proses pengharmonisasian dan pemantapan konsepsi rancangan regulasi. Regulasi ini akan menjadi landasan penting dalam memastikan bahwa pelaksanaan MBG di seluruh wilayah Indonesia memiliki standar gizi yang jelas, seragam, serta berbasis pada kebutuhan kelompok sasaran.

Lebih lanjut, ia memandang bahwa penguatan regulasi juga akan menjadi dasar bagi proses pembinaan, pemantauan, serta pengawasan terhadap pelaksanaan program. Melalui standar yang terukur, pemerintah memiliki instrumen yang lebih kuat untuk mengevaluasi kinerja pelaksana di lapangan sekaligus memastikan bahwa kualitas layanan tetap terjaga. Dalam perspektif kebijakan publik, langkah ini mencerminkan upaya rekalibrasi program agar implementasinya semakin efektif dan akuntabel.

Selain aspek regulasi, penguatan standar operasional di tingkat daerah juga menjadi bagian penting dari proses rekalibrasi Program MBG. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan bahwa standar operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG tidak dapat ditawar karena berkaitan langsung dengan kualitas layanan dan keamanan makanan yang diterima masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pemerintah daerah secara rutin melakukan koordinasi dengan Badan Gizi Nasional untuk menyampaikan berbagai laporan dan temuan yang muncul selama pelaksanaan program di lapangan.

Menurutnya, langkah Badan Gizi Nasional yang mulai mengambil tindakan tegas terhadap sejumlah SPPG yang belum memenuhi standar operasional merupakan bagian penting dari upaya menjaga kualitas program. Ia memandang bahwa penghentian sementara terhadap unit yang memiliki potensi risiko justru menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak mentoleransi pelanggaran terhadap standar kualitas yang telah ditetapkan.

Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah mendukung penuh langkah pemerintah dalam memperketat standar operasional, termasuk melalui kewajiban sertifikasi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi setiap unit SPPG. Menurutnya, sertifikasi tersebut menjadi indikator penting untuk memastikan bahwa dapur penyedia makanan benar-benar memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan yang diperlukan.

Di sisi lain, kontribusi kalangan akademisi juga memberikan perspektif penting dalam memperkuat kualitas Program MBG. Ketua Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Bandung, Khairiah mengatakan bahwa program MBG seharusnya tidak dipahami hanya sebagai upaya mengatasi rasa lapar siswa, tetapi juga sebagai program strategis untuk memastikan kualitas asupan gizi yang optimal bagi anak-anak. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada penerapan standar keamanan pangan, kehalalan, serta kecukupan gizi yang tinggi.

Khairiah menilai bahwa salah satu tantangan terbesar dalam implementasi MBG adalah menjaga kualitas bahan pangan dari hulu hingga hilir. Ia menjelaskan bahwa kualitas gizi makanan sangat dipengaruhi oleh kondisi bahan baku yang digunakan. Oleh karena itu, pemilihan bahan pangan yang segar, minim pestisida, dan memiliki kualitas nutrisi yang baik harus menjadi prioritas dalam penyusunan menu MBG.

Lebih jauh, Khairiah memandang bahwa Program MBG merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Ia menjelaskan bahwa kualitas makanan yang dikonsumsi anak-anak saat ini akan sangat menentukan kondisi kesehatan serta kemampuan intelektual mereka di masa depan. Oleh karena itu, peningkatan standar kualitas program merupakan langkah yang sangat tepat untuk memastikan manfaat jangka panjang dari kebijakan ini.

Berbagai langkah penguatan regulasi, pengawasan operasional, serta masukan dari kalangan akademisi menunjukkan bahwa pemerintah tengah melakukan rekalibrasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program MBG. Proses ini tidak hanya bertujuan memperbaiki kelemahan yang muncul selama implementasi awal, tetapi juga memastikan bahwa program dapat berkembang menjadi sistem pelayanan gizi nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Rekalibrasi standar program juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga akuntabilitas kebijakan publik. Dengan adanya standar yang jelas dan pengawasan yang ketat, kepercayaan masyarakat terhadap program MBG dapat semakin meningkat. Hal ini penting karena keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh dukungan dan partisipasi masyarakat.

Dengan dukungan regulasi yang kuat, standar operasional yang ketat, serta kontribusi pemikiran dari berbagai pihak, Program MBG memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kebijakan paling strategis dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia. Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak hanya akan tercermin dari terpenuhinya kebutuhan makan anak-anak sekolah, tetapi juga dari meningkatnya kualitas kesehatan, kecerdasan, dan daya saing generasi masa depan bangsa.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

Negara Hadir, Pengusutan Kasus Air Keras Didukung Penuh Pemerintah

Jakarta – Presiden RI, Prabowo Subianto, memerintahkan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Arahan tersebut disampaikan langsung kepada Kapolri agar proses penyelidikan berjalan secara profesional dan transparan.

Kapolri, Listyo Sigit Prabowo, menyatakan telah menerima instruksi langsung dari Presiden untuk menangani kasus tersebut dengan serius. Ia menegaskan bahwa Polri akan melakukan pengusutan secara menyeluruh.

“Perkembangan dari penyerangan terhadap aktivis, saya telah mendapatkan perintah langsung dari Bapak Presiden untuk melaksanakan pengusutan tuntas secara profesional dan transparan,” ujar Listyo Sigit.

Menurutnya, proses penyelidikan akan mengedepankan pendekatan ilmiah guna memastikan setiap langkah penanganan perkara dilakukan secara objektif dan akurat.

Sementara itu, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Angga Raka Prabowo, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang menimpa Andrie Yunus. Ia menegaskan pemerintah mengecam keras segala bentuk kekerasan terhadap warga negara.

“Pemerintah menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas peristiwa yang menimpa Saudara Andrie Yunus. Kami mengecam keras setiap tindakan kekerasan terhadap siapa pun,” kata Angga.

Ia menambahkan bahwa pemerintah berharap korban dapat segera mendapatkan penanganan medis yang optimal dan pulih dari dampak kejadian tersebut. Angga juga menekankan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat secara damai dalam kehidupan demokrasi.

Pemerintah, lanjutnya, menaruh perhatian serius terhadap pengusutan kasus ini. Aparat penegak hukum diharapkan dapat bekerja secara profesional, transparan, dan menyelesaikan perkara hingga tuntas.

“Setiap tindakan kekerasan harus diproses secara tegas sesuai hukum yang berlaku. Pemerintah berharap proses penegakan hukum dapat berjalan dengan baik sehingga pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, juga menyoroti peristiwa tersebut. Ia menilai serangan terhadap aktivis HAM merupakan pukulan bagi praktik demokrasi di Indonesia.

“Tindakan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus dari KontraS adalah serangan terhadap demokrasi itu sendiri. Aktivis HAM bekerja untuk kepentingan rakyat dan kepentingan negara, karena penegakan HAM dan demokrasi merupakan amanat konstitusi,” ujar Yusril.

Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan dalam demokrasi seharusnya disikapi dengan sikap saling menghormati, bukan dengan kekerasan. Menurutnya, menyerang aktivis yang memperjuangkan demokrasi dan HAM tidak dapat dibenarkan dalam negara yang menjunjung tinggi hukum.

Pemerintah Tegaskan Dukungan untuk Usut Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras

Jakarta – Pemerintah mengecam keras tindakan penyiraman cairan yang diduga air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Insiden tersebut terjadi pada Kamis (12/3) malam di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Angga Raka Prabowo, menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan tidak dapat dibenarkan dalam negara hukum. Pemerintah juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang menimpa Andrie Yunus.

“Pemerintah menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas peristiwa yang menimpa Saudara Andrie Yunus. Kami mengecam keras setiap tindakan kekerasan terhadap siapa pun,” ujar Angga.

Angga menegaskan bahwa dalam kehidupan demokrasi, setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat secara damai.

“Pemerintah menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat secara damai dalam kehidupan demokrasi, dan perbedaan pandangan tidak boleh dijawab dengan kekerasan,” katanya.

Pemerintah juga mendorong aparat penegak hukum untuk mengusut peristiwa ini secara menyeluruh. Menurut Angga, proses penyelidikan harus dilakukan secara profesional dan transparan agar memberikan kepastian hukum serta rasa keadilan bagi korban.

“Setiap tindakan kekerasan harus diproses secara tegas sesuai hukum yang berlaku. Pemerintah berharap proses penegakan hukum dapat berjalan dengan baik sehingga pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.

Senada dengan itu, Staf Khusus Wakil Presiden, Achmad Adhitya, juga mengutuk keras serangan tersebut. Ia menilai tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan, terlebih terhadap pihak yang menjalankan aktivitas demokrasi.

“Saya mengutuk peristiwa penyiraman air keras kepada Andrie Yunus. Hal ini tidak boleh terjadi karena negara, sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo, menjamin kebebasan penyampaian pendapat dan berkegiatan sebagai bagian dari demokrasi yang dijamin oleh undang-undang,” kata Adhitya.

Adhitya memastikan pemerintah akan mengawal proses hukum hingga tuntas. Ia menegaskan bahwa pelaku harus dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum.

“Pemerintah akan mengusut tuntas tindakan kekerasan ini dan memastikan hal serupa tidak terjadi kembali,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo disebut telah memberikan atensi khusus terhadap kasus tersebut. Kadiv Humas Polri Irjen Pol Jhonny Edison Isir mengatakan penyelidikan tengah dilakukan oleh Satreskrim Polres Metro Jakarta Pusat dengan dukungan Polda Metro Jaya dan Bareskrim Polri.

“Kami menyampaikan bahwa Bapak Kapolri selaku pimpinan Polri telah memberikan atensi khusus terhadap penanganan dan pengungkapan kasus ini,” kata Jhonny.