Percepatan Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih Dorong Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Papua

Oleh : Yohanes Wandikbo )*

Kebijakan pemerintah untuk mempercepat pembentukan Koperasi Desa Merah Putih di Papua semakin menunjukkan arah pembangunan nasional yang konsisten berpihak pada kesejahteraan rakyat. Dalam berbagai program prioritas, pemerintah menempatkan Papua sebagai salah satu pusat transformasi ekonomi berbasis kerakyatan. Pendekatan melalui koperasi menjadi bukti nyata bahwa negara memberikan perhatian serius bagi penguatan ekonomi desa sebagai pilar ketahanan nasional.

Dalam Seminar Nasional Membangun Kedaulatan Pangan dari Papua di Merauke, Anggota DPD RI Irman Gusman menyampaikan optimisme tinggi terhadap kebijakan pemerintah yang menguatkan peran Koperasi Desa Merah Putih. Menurutnya, pemerintah telah mengambil keputusan tepat dengan menjadikan koperasi sebagai instrumen utama pemerataan pembangunan. Ia menegaskan bahwa gagasan membangun Indonesia dari desa sangat sejalan dengan visi pemerintah yang terus memperkuat kemandirian ekonomi lokal.

Irman Gusman juga menggarisbawahi bahwa koperasi bukan model ekonomi kuno, melainkan pilar modern yang sukses diterapkan banyak negara maju. Contoh Fonterra di Selandia Baru, Land O’Lakes di Amerika Serikat, dan jaringan Raiffeisen di Jerman menegaskan bahwa negara-negara berdaya saing tinggi pun mengandalkan koperasi sebagai penggerak utama ekonomi rakyat. Pemerintah Indonesia, melalui percepatan kebijakan koperasi, dianggap telah mengikuti praktik terbaik internasional yang terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendekatan ini menempatkan Indonesia dalam barisan negara yang menggunakan model pembangunan inklusif dan berorientasi jangka panjang.

Arah kebijakan ini semakin tegas dengan hadirnya Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025, yang mempercepat pembentukan Koperasi Desa Merah Putih. Irman Gusman memuji langkah pemerintah tersebut sebagai bentuk keberpihakan nyata kepada ekonomi kerakyatan yang telah digariskan konstitusi. Dengan menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan, pemerintah menunjukkan visi yang tidak hanya progresif, tetapi juga konsisten dalam menguatkan gotong royong, kemandirian, dan pemerataan kesejahteraan. Kebijakan ini menegaskan bahwa negara hadir secara aktif memastikan masyarakat Papua memiliki akses yang sama terhadap pembangunan.

Gubernur Papua Pegunungan John Tabo secara resmi membuka Pelatihan Koperasi Desa Merah Putih yang diikuti perwakilan dari delapan kabupaten. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penyaluran bantuan modal usaha senilai Rp 36,9 miliar untuk 4.350 pelaku UMKM. Tindakan ini mencerminkan keseriusan pemerintah daerah mendukung penuh agenda pemerintah pusat dalam memperkuat struktur ekonomi Papua melalui koperasi dan pemberdayaan pelaku usaha kecil.

Gubernur John Tabo menegaskan bahwa koperasi merupakan penggerak ekonomi rakyat yang akan membawa perubahan signifikan bagi kesejahteraan masyarakat. Dorongan dan pengingatnya kepada kabupaten yang masih minim membentuk koperasi menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjalankan instruksi nasional secara optimal. Pemerintah daerah tidak ingin ada daerah yang tertinggal dalam proses transformasi ekonomi. Tegasan tersebut mencerminkan kepemimpinan yang selaras dengan pemerintah pusat, yaitu menghadirkan pelayanan publik yang efektif, responsif, dan pro-rakyat.

Gubernur juga menekankan pentingnya pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan koperasi agar tidak lagi terjebak dalam keterbatasan ekonomi. Pemerintah daerah menunjukkan perhatian besar dalam membangun kapasitas sumber daya manusia Papua agar mampu mengelola koperasi secara modern dan akuntabel. Langkah ini sejalan dengan tujuan pemerintah memperkuat literasi ekonomi masyarakat di wilayah-wilayah strategis. Dengan peningkatan kapasitas masyarakat, pemerintah memastikan bahwa koperasi akan menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan dan tidak berhenti pada program jangka pendek.

Pelatihan dan penyaluran modal tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memastikan penggunaan Dana Otonomi Khusus berjalan transparan dan tepat sasaran. Pemerintah pusat dan daerah secara simultan mendorong agar setiap alokasi anggaran memberikan manfaat maksimal bagi warga Papua. Dengan memperkuat koperasi, pemerintah menciptakan mekanisme distribusi manfaat ekonomi yang lebih merata dan berbasis komunitas. Langkah ini melahirkan tata kelola pembangunan Papua yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkeadilan.

Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi model pembangunan ekonomi baru di Papua. Pemerintah ingin memastikan bahwa petani, nelayan, pelaku UMKM, dan masyarakat adat memperoleh akses modal, teknologi, serta pendampingan yang memadai. Melalui koperasi, masyarakat Papua memiliki peluang lebih besar menjadi pemilik usaha yang berdaulat di tanahnya sendiri. Kebijakan ini memberi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh nilai tambah yang selama ini hanya dinikmati oleh pelaku besar. Pemerintah mengembalikan kendali ekonomi kepada masyarakat sebagai bentuk pemerataan dan pemberdayaan.

Dengan kebijakan yang jelas, dukungan anggaran yang besar, dan komitmen politik yang kuat, pemerintah sedang mengukuhkan fondasi ekonomi baru di Papua. Koperasi Desa Merah Putih menjadi simbol bahwa negara menjalankan tugas konstitusionalnya dengan keberpihakan nyata kepada rakyat. Kekuatan ekonomi desa, jika dipadukan dengan pendampingan pemerintah pusat dan daerah, akan menghasilkan Papua yang lebih mandiri, lebih sejahtera, dan lebih berdaulat.

Kebijakan ini menjadi bukti bahwa pemerintah tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi masyarakat hingga tingkat desa. Dengan semangat gotong royong dan keberpihakan pada rakyat, Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi pilar penting yang membawa Papua menuju masa depan yang lebih cerah dan inklusif. Pemerintah telah meletakkan fondasi yang kokoh, dan masyarakat Papua kini berada di jalur percepatan pembangunan yang semakin menjanjikan.

)* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua

Koperasi Desa Merah Putih Terbukti Dorong Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Papua

Oleh : Loa Murib

Koperasi Desa Merah Putih muncul sebagai salah satu instrumen penting dalam mewujudkan pemberdayaan ekonomi masyarakat Papua, terutama di wilayah pegunungan dan pedalaman yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan infrastruktur dan akses pasar. Melalui penguatan kelembagaan, pendampingan usaha produktif, serta dukungan pemerintah dan TNI, koperasi ini menunjukkan bahwa model ekonomi berbasis komunitas merupakan jawaban relevan untuk menjembatani tantangan ketimpangan pembangunan sekaligus memperkuat kedaulatan pangan di wilayah timur Indonesia.

Di Jayawijaya, perhatian serius terhadap Koperasi Desa Merah Putih terlihat dari kunjungan Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Amrin Ibrahim beserta jajaran dalam rangkaian tugasnya di Papua Pegunungan. Dalam peninjauan tersebut, Pangdam memberikan dorongan strategis agar koperasi ini berperan sebagai motor penggerak ekonomi warga, khususnya melalui pengembangan komoditas pertanian lokal yang memiliki nilai jual tinggi. Dari perspektif Pangdam, koperasi tidak hanya hadir sebagai wadah transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai lembaga yang memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjadi simpul hubungan yang kokoh antara TNI dan masyarakat.

Melalui dialog bersama pengurus dan warga, Pangdam mendapat paparan terkait kebutuhan mendesak berupa penambahan lahan dan ketersediaan bibit pertanian, khususnya kedelai, yang selama ini menjadi salah satu komoditas potensial di Distrik Walesi. Ia menegaskan komitmen untuk mendukung kemandirian ekonomi masyarakat dengan memastikan akses terhadap sumber daya yang diperlukan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi di Papua memerlukan pendekatan yang menyentuh akar persoalan, yakni keterbatasan sarana produksi dan pengelolaan lahan yang masih banyak berada dalam struktur kepemilikan adat.

Ketua Pengurus Koperasi Desa Merah Putih, Amatus Yalipele, memandang perhatian Pangdam sebagai dorongan moral dan institusional bagi masyarakat. Amatus menilai keterbatasan lahan yang masih berstatus tanah adat sering menjadi hambatan utama dalam memperluas kemampuan produksi koperasi. Ia juga menyampaikan bahwa minimnya akses terhadap bibit unggul menjadi salah satu faktor yang membatasi hasil pertanian masyarakat. Namun, dengan adanya perhatian unsur pemerintah dan TNI, ia meyakini masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk bergerak menuju kemandirian ekonomi. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan koperasi tidak hanya bergantung pada semangat warga, tetapi juga membutuhkan dukungan terstruktur agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Selain dukungan dari TNI, Koperasi Desa Merah Putih juga mendapatkan sorotan positif dari berbagai tokoh nasional, salah satunya Senator Irman Gusman. Dalam pandangannya, penguatan koperasi desa seperti Koperasi Desa Merah Putih merupakan langkah nyata pemerintah dalam menghidupkan kembali semangat ekonomi kerakyatan sesuai dengan arah pembangunan nasional. Irman menilai bahwa Papua memiliki potensi besar, terutama wilayah Merauke yang dikenal dengan hamparan lahan pertanian subur yang dapat menjadi pusat produksi pangan berskala nasional maupun global. Namun ia juga menyoroti adanya ketimpangan antara potensi tersebut dengan tingkat kesejahteraan masyarakatnya.

Irman memandang perlu adanya upaya sinergis untuk memastikan potensi agraris Papua dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Ia menilai kebijakan pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 yang mempercepat pembentukan Koperasi Desa Merah Putih sebagai langkah visioner dalam memperkuat fondasi ekonomi berbasis komunitas. Menurutnya, pendekatan koperasi terbukti berhasil di berbagai negara seperti Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Jerman, di mana petani menjadi pemilik utama nilai tambah ekonomi melalui struktur kelembagaan yang kuat. Melalui pandangan tersebut, terlihat bahwa Koperasi Desa Merah Putih diposisikan sebagai lokomotif yang mampu membawa masyarakat Papua menuju kemandirian ekonomi dengan mencontoh model keberhasilan internasional.

Pengembangan koperasi ini juga dipandang sebagai bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan Papua. Model koperasi memungkinkan masyarakat mengelola sumber daya secara kolektif, meningkatkan daya tawar produksi lokal, serta memastikan distribusi keuntungan yang lebih merata. Dengan demikian, koperasi menjadi wadah yang relevan bagi masyarakat adat yang memiliki nilai gotong royong dan solidaritas komunal yang kuat. Pola ini selaras dengan karakter sosial Papua yang memprioritaskan keterikatan kolektif dalam pengelolaan lahan dan kegiatan ekonomi.

Selain itu, kehadiran Koperasi Desa Merah Putih berperan dalam mendukung stabilitas kawasan melalui penguatan kesejahteraan. Ketika masyarakat memiliki sumber pendapatan yang stabil melalui sektor pertanian dan usaha lokal, potensi kerentanan sosial dapat ditekan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan keamanan dan peningkatan ekonomi harus berjalan beriringan. Kodam XVII/Cenderawasih melalui berbagai program pemberdayaan terus memperkuat kemitraan dengan masyarakat sebagai upaya memperkuat keamanan berbasis kesejahteraan.

Koperasi Desa Merah Putih juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk berinovasi. Pengembangan kedelai dan komoditas pertanian lokal lain memungkinkan masyarakat mengakses pasar lebih luas. Produksi yang terkelola dengan sistem koperasi memberi peluang bagi peningkatan nilai tambah dan memperkuat daya saing produk lokal. Jika dikelola dengan profesional dan mendapat pendampingan berkelanjutan, koperasi dapat menjadi entitas yang menarik investasi daerah sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Dengan orientasi jangka panjang dan keberpihakan pada masyarakat, Koperasi Desa Merah Putih terbukti menjadi pilar penting pembangunan ekonomi Papua. Koperasi ini memperlihatkan bahwa ketika masyarakat diberi ruang untuk berdaya, dukungan untuk berkembang, serta kepercayaan untuk mandiri, maka Papua dapat menjadi lilin yang bercahaya terang bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi Indonesia secara keseluruhan.
*Penulis adalah Mahasiswa Papua di Surabaya

Pemerintah Pastikan Dapur MBG Wajib Punya Ahli Gizi

Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum program Makan Bergizi Gratis (MBG) wajib didampingi tenaga ahli gizi.

Ia menyebut keberadaan ahli gizi merupakan bagian dari tiga pilar utama yang harus dimiliki setiap dapur MBG.

“Tiga pilar utama program makan bergizi harus ada satu ka-SPPG (kepala SPPG), dua ahli gizi, tiga akuntan. Ini tidak bisa ditawar, SPPG tidak bisa jalan tanpa tiga pilar ini,” ujar Dadan.

Dadan menjelaskan bahwa posisi ahli gizi tidak harus diisi oleh sarjana gizi saja. Pemerintah kini membuka ruang bagi lulusan sarjana Kesehatan Masyarakat, Teknologi Pangan, Pengolahan Makanan, dan Keamanan Pangan.

“Hanya untuk ahli gizi selama ini, selalu sarjana gizi. Nah, sekarang boleh sarjana kesehatan masyarakat, boleh sarjana teknologi pangan, boleh sarjana pengolahan makanan, boleh sarjana keamanan pangan,” jelasnya.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, memastikan bahwa profesi ahli gizi merupakan komponen wajib dalam penyelenggaraan MBG.

“MBG tetap dan harus, wajib, perlu profesi ahli gizi dalam penyelenggaraannya. Perlu ahli gizi, karena diukur nanti,” kata Zulhas.

Ia menegaskan bahwa kualitas SDM Indonesia sangat ditentukan oleh kecukupan gizi.

“Saya ulangi lagi, MBG perlu profesi ahli gizi dalam penyelenggaraan prosesnya itu,” ujarnya.

Pemerintah juga mewajibkan keberadaan tenaga ahli kesehatan lingkungan di setiap SPPG. Wakil Menteri Kesehatan , Benjamin Paulus Octavianus, menyatakan keberadaan tenaga ini penting untuk menjaga sanitasi dan keamanan makanan.

“Kami sudah menambahkan 1 tenaga ahli baru di setiap SPPG, yaitu ahli kesehatan lingkungan. Tujuannya agar air bersih, sanitasi, dan bahan makanan yang dimasak selalu terjaga kualitasnya,” katanya.

Langkah ini dilakukan untuk mencegah insiden keracunan pangan.

Benny menuturkan bahwa ia mendapatkan mandat langsung dari Presiden untuk memastikan MBG berjalan aman dan berkualitas, terutama karena program ini terkait percepatan penurunan stunting.

“Dengan pemberian makan bergizi dari ibu hamil sampai anak sekolah, kualitas gizi dan kecerdasan anak Indonesia akan meningkat signifikan,” ujarnya.

Ke depan, MBG akan terus diperkuat sambil menunggu payung hukum BGN sebagai pengelola program. Kementerian Kesehatan akan mengambil peran pengawasan.

“Kami memastikan semua laporan lapangan dimonitor ketat dan transparan,” kata Benny.
Pemerintah juga menempuh pendekatan lintas sektor untuk menyempurnakan pelaksanaan MBG.

Makan Bergizi Gratis Menjadi Fondasi Penguatan SDM Nasional

Jakarta – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai digulirkan pemerintah sejak 6 Januari 2025 kembali menuai dukungan kuat.

MBG dinilai bukan sekadar menutup ketimpangan akses pangan bagi anak-anak, tetapi juga menjadi landasan penting dalam penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia di masa depan.

Guru Besar Departemen Gizi sekaligus Wakil Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan FKM UI, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H., menegaskan bahwa lemahnya daya saing Indonesia tidak lepas dari minimnya perhatian pada asupan gizi anak.

“Dulu pertumbuhan (anak-anak -red) tidak dipikirkan, makanya kita kurang kompetitif (sumber daya manusianya -red), karena saat perkembangan fisik dan otak kita tidak pernah diberikan makanan bergizi. MBG ini peluang besar, dengan program ini daya saing kita bisa lebih baik, karena SDM kita sejak kecil sudah dipupuk,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa MBG memberi dampak signifikan pada daya belajar, perkembangan kognitif, serta kehadiran siswa, terutama di wilayah 3T. Prof. Sandra menekankan pentingnya keberlanjutan program.

“MBG ini kalau bisa jadi program yang berkelanjutan. Karena kalau program ini berhenti kita juga yang rugi. Oleh karena itu, ini harus kita kawal,” katanya.

PKGK FKM UI sebelumnya melakukan simulasi pemberian makanan bergizi di 15 sekolah dan satu posyandu di enam daerah. Hasilnya menunjukkan penurunan gizi buruk dari 2% menjadi 0,5% dan gizi kurang dari 7,7% menjadi 6,4%. Setelah 15 minggu, berat badan anak meningkat rata-rata 2 kg dan tinggi badan 2,9 cm, sementara angka kecukupan gizi harian naik dari 69,9% menjadi 93,4%.

Pemerintah ke depan akan memperkuat MBG dengan edukasi gizi. Prof. Sandra menyebut BGN sedang menyusun modul edukasi bersama beberapa perguruan tinggi.

Di sisilain, Anggota Komisi IX DPR RI, Puteri Anetta Komarudin, menyebut MBG sebagai bukti komitmen pemerintah membangun generasi sehat dan produktif.

“Program MBG bukan hanya soal makanan, tetapi investasi masa depan bangsa,” tegasnya.

Ia juga mengapresiasi sinergi daerah dan BGN dalam memastikan kualitas makanan.

Sementara itu, FX Ndaru Kusumajati dari BGN menegaskan bahwa MBG juga mendorong ekonomi daerah.

“Melalui MBG, kita membangun generasi sehat sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberadaan SPPG menjadi kunci edukasi dan penyediaan pangan sehat.

“MBG bukan hanya tentang makan bergizi, tetapi tentang masa depan anak-anak Indonesia,” tutupnya.

Target Pemerintah Agar Semua Anak Mendapat Makan Bergizi Gratis pada 2025

Oleh: Indah Prastiwi )*

Target ambisius pemerintah untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan makan bergizi gratis pada 2025 mencerminkan tekad kuat negara dalam membangun generasi yang lebih sehat dan produktif. Presiden Prabowo Subianto berulang kali menegaskan bahwa program ini bukanlah pekerjaan ringan, baik dari sisi kebutuhan logistik maupun koordinasi lintas lembaga.

Namun Presiden menekankan bahwa tantangan tersebut tidak boleh mengurangi komitmen pemerintah dalam memenuhi hak dasar anak atas gizi yang memadai. Presiden bahkan menyampaikan bahwa dana untuk program ini telah disiapkan sehingga masyarakat tidak perlu meragukan kesiapan negara dalam merealisasikannya. Keyakinan itu menjadi fondasi penting untuk memastikan bahwa target akhir 2025 benar-benar terwujud, terutama bagi jutaan anak yang selama ini belum memperoleh asupan nutrisi optimal.

Dalam penjelasannya, Presiden menyampaikan bahwa hambatan pelaksanaan tidak hanya terkait distribusi makanan ke seluruh wilayah, tetapi juga mekanisme administratif untuk memastikan penyaluran dana berlangsung aman. Pemerintah ingin memastikan setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar sampai pada tujuan, tanpa celah penyalahgunaan.

Proses verifikasi dan pengamanan dana memang memerlukan waktu, tetapi pada saat yang sama pemerintah terus mencari cara tercepat dan paling efektif agar seluruh anak bisa segera merasakan manfaat makanan bergizi. Penekanan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjalankan program besar yang dampaknya akan terasa hingga puluhan tahun ke depan.

Program makan bergizi gratis memegang peranan strategis dalam memperkuat kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia. Negara yang bercita-cita menjadi bangsa maju tidak dapat mengabaikan pentingnya kualitas kesehatan dan gizi sebagai pijakan awal pembangunan.

Pelaksana tugas Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK, Nunung Nuryartono, menilai bahwa program ini mampu mendorong penurunan stunting secara signifikan. Ia menjelaskan bahwa intervensi gizi yang diberikan secara rutin kepada anak sekolah dapat memperbaiki kualitas kesehatan sejak usia dini, sekaligus mencegah munculnya kasus stunting baru. Pandangan tersebut menggarisbawahi bahwa program ini bukan sekadar pemberian makanan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk pembangunan manusia Indonesia.

Nunung menerangkan bahwa program yang mulai bergulir resmi pada Januari 2025 itu juga dirancang untuk melibatkan produksi pangan lokal. Dengan memanfaatkan hasil pertanian dan produk UMKM, koperasi, maupun BUMDes, program ini tidak hanya memperbaiki gizi anak-anak tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah.

Konsep ini memperlihatkan bahwa program makan bergizi tidak berdiri sendiri, melainkan memberikan manfaat berlapis bagi masyarakat. Ketika petani dan pelaku usaha lokal terlibat, rantai pasok pangan menjadi lebih kuat dan keberlanjutan program semakin terjamin. Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk mengoptimalkan potensi sumber daya lokal dalam pembangunan nasional.

Program ini juga beririsan dengan berbagai regulasi pemerintah sebelumnya, termasuk Perpres tentang percepatan penurunan stunting. Intervensi gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga remaja putri tetap berlanjut dan diperkuat. Dengan demikian, program makan bergizi gratis memperluas cakupan intervensi kesehatan yang sudah berjalan, sekaligus memperkuat upaya pencegahan stunting sejak hulu.

Ketika remaja putri mendapatkan penanganan anemia dan dibekali gizi yang baik, mereka akan memasuki fase dewasa dengan kondisi kesehatan yang lebih prima. Ini merupakan langkah penting untuk memutus siklus kurang gizi antargenerasi.

Nunung juga menekankan bahwa pelaksanaan program makan bergizi merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat, kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Ia mendorong agar posyandu ikut menjadi ujung tombak dalam pengawasan dan distribusi program, mengingat posyandu memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat.

Komitmen pemerintah dalam memperkuat struktur program ini juga terlihat dari upaya memperkuat Badan Gizi Nasional (BGN) beserta unit pelaksana teknisnya di daerah. Menteri PANRB Rini Widyantini menjelaskan bahwa pemerintah akan menata dan menambah Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) sebagai garda terdepan layanan dan distribusi makan bergizi gratis.

Penguatan fungsi KPPG termasuk peningkatan koordinasi dan pengawasan terhadap satuan pelayanan gizi di tingkat daerah sesuai amanat regulasi terbaru. Langkah ini menjadi penting agar tata kelola program berjalan lebih efektif dan terukur, sehingga manfaatnya dapat diterima masyarakat secara merata.

Pemerintah juga memahami bahwa keberhasilan program sebesar ini memerlukan landasan regulasi yang kuat. Karena itu, penyusunan aturan lanjutan menjadi bagian integral dari strategi memperkuat tata kelola. Dengan adanya kerangka regulasi yang jelas, setiap pihak akan memiliki pedoman yang sama dalam menjalankan tugas, mulai dari distribusi bahan pangan hingga pemantauan hasil di lapangan. Ini menegaskan bahwa pemerintah tidak sekadar ingin menjalankan program, tetapi memastikan bahwa program tersebut berjalan dengan standar tinggi dan akuntabilitas yang kuat.

Target pemerintah untuk memberikan makan bergizi gratis kepada seluruh anak Indonesia pada akhir 2025 bukan sekadar janji politik. Program ini merupakan langkah nyata untuk memastikan masa depan bangsa berada di tangan generasi yang sehat dan kuat. Dengan perencanaan yang matang, pendanaan yang terjamin, serta koordinasi yang terus diperkuat, pemerintah menunjukkan komitmen penuh dalam menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat.

Program MBG Menjadi Langkah Strategis Dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia

Oleh: Arik Hidayat )*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak tahap paling awal. Program ini dirancang untuk memastikan setiap anak memperoleh asupan nutrisi yang layak agar dapat tumbuh sehat, kuat, dan siap menghadapi proses pendidikan dengan optimal. Pemerintah memahami bahwa pembangunan manusia tidak dapat ditunda, dan karena itu MBG diposisikan sebagai fondasi penting bagi masa depan bangsa.

Presiden Prabowo Subianto menjelaskan bahwa gagasan program ini berasal dari pengalaman langsung ketika melihat kondisi anak-anak di berbagai daerah. Ia kerap menemukan anak-anak yang jauh lebih kecil dibandingkan usia mereka akibat stunting dan kekurangan gizi. Pengalaman tersebut memperlihatkan kenyataan bahwa masalah gizi merupakan tantangan serius yang harus dihadapi secara nasional. Pemerintah kemudian menyusun program MBG sebagai jawaban nyata untuk memperbaiki kualitas gizi secara menyeluruh.

Presiden juga menilai bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk melaksanakan program sebesar ini, sebagaimana beberapa negara lain yang telah membuktikan dampaknya. Ia melihat bahwa selain memperbaiki kesehatan anak, program ini juga berpotensi menggerakkan ekonomi lokal. Ketika pemerintah membeli bahan pangan dari petani, nelayan, dan pelaku UMKM, rantai ekonomi desa hidup kembali dan dampaknya menyebar hingga lapisan masyarakat paling bawah.

Melalui pendekatan tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa manfaat program tidak hanya dirasakan anak-anak sebagai penerima utama, tetapi juga keluarga dan komunitas di sekitar mereka. Ketika roda ekonomi lokal berputar, keberlanjutan program semakin kuat karena banyak pihak akan terlibat dan merasakan dampaknya secara langsung. Inilah alasan mengapa MBG dianggap bukan sekadar kebijakan gizi, melainkan strategi pembangunan yang komprehensif.

Direktur Sentra Keadilan dan Ketahanan Institut, Andri Frediansyah, menyampaikan bahwa MBG merupakan wujud nyata perhatian negara terhadap generasi penerus. Ia menilai program ini sebagai bentuk investasi jangka panjang yang mengutamakan kualitas sumber daya manusia. Dalam pandangannya, program ini memiliki potensi besar untuk menurunkan angka stunting secara signifikan, terutama di daerah yang selama ini mengalami rawan gizi kronis.

Andri memandang ketahanan gizi sebagai bagian dari ketahanan nasional. Menurutnya, anak yang sehat akan memiliki kemampuan belajar yang lebih baik, sehingga lebih siap untuk berkontribusi bagi masyarakat di masa depan. Dengan demikian, MBG tidak hanya memberikan makanan, tetapi juga menanamkan harapan dan membuka kesempatan bagi anak-anak untuk tumbuh tanpa hambatan kesehatan.

Ia juga menilai bahwa program ini mencerminkan semangat pemerintahan yang berpihak pada pemerataan kesejahteraan. MBG sejalan dengan cita-cita konstitusional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Melalui program ini, negara ingin memastikan bahwa setiap anak, terlepas dari kondisi sosial ekonomi keluarganya, memiliki akses yang sama untuk memulai hidup secara sehat dan produktif.

Andri mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengambil bagian dalam menyebarkan edukasi mengenai gizi seimbang. Menurutnya, partisipasi publik akan memperkuat efektivitas program dan memastikan keberlanjutannya. Ia berharap masyarakat dapat menjadi mitra pemerintah, baik sebagai pengawas maupun pendukung, sehingga pelaksanaan MBG berjalan tepat sasaran dan mencapai hasil optimal.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari sektor swasta. PT Reasuransi Nasional Indonesia (Nasional RE) menjadi salah satu perusahaan yang berinisiatif memperkuat implementasi MBG melalui program penyaluran makanan bergizi di sekolah dasar. Pada tahun 2025, mereka mengantarkan ratusan porsi makanan bergizi kepada siswa di dua wilayah berbeda sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas gizi anak Indonesia.

Kegiatan tersebut dimulai di Garut, Jawa Barat, dengan pembagian makanan bergizi kepada lebih dari seratus siswa. Selanjutnya program serupa dilaksanakan di Sulawesi Utara untuk mendukung pemenuhan nutrisi anak-anak di kawasan Indonesia Timur. Langkah ini menunjukkan bahwa sektor swasta melihat MBG sebagai program penting yang harus didukung bersama.

Sekretaris Perusahaan Nasional RE, Donny Trihardono, menjelaskan bahwa pemenuhan gizi sejak usia dini merupakan fondasi terbentuknya generasi yang unggul dan mampu bersaing. Melalui keterlibatan dalam program ini, perusahaan ingin turun langsung mendukung agenda pembangunan pemerintah. Menurut Donny, kontribusi seperti ini penting untuk memastikan bahwa pembangunan nasional tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi melibatkan berbagai pihak.

Melalui kegiatan sosial tersebut, Nasional RE menegaskan komitmennya untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat, tidak hanya melalui kinerja bisnis, tetapi juga melalui kontribusi bagi peningkatan kualitas hidup anak-anak. Perusahaan berharap inisiatif ini dapat memperkuat upaya pemerintah dalam memastikan pemerataan gizi di seluruh Indonesia.

Keterlibatan sektor swasta seperti ini menunjukkan bahwa MBG telah menjadi gerakan nasional. Program ini tidak hanya berbicara tentang pemenuhan nutrisi, tetapi membangun masa depan bangsa melalui kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha bergerak dalam visi yang sama untuk melahirkan generasi Indonesia yang lebih sehat dan lebih siap menghadapi tantangan global.

Dengan desain yang semakin matang dan dukungan yang semakin luas, program MBG menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia membutuhkan pendekatan terpadu. Program ini bukan sekadar memberi makan, tetapi membangun pondasi bangsa melalui peningkatan kualitas anak-anak hari ini. Pemerintah telah membuka jalan, dan dukungan luas dari berbagai pihak menjadi penguat bahwa Indonesia sedang bergerak menuju masa depan yang lebih cerah dan berdaya saing.

Pemerintah Fokus Program Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Pasca Bencana Sumatera

Oleh : Nimas Ayu )*

Pemerintah pusat memastikan langkah cepat dan terkoordinasi dalam menangani bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana yang dipicu oleh cuaca ekstrem dan dampak Siklon Tropis Senyar menjadi ujian bagi kesiapsiagaan nasional dalam melindungi masyarakat. Melalui instruksi Presiden Prabowo Subianto, seluruh sumber daya nasional digerakkan untuk mempercepat tahapan tanggap darurat sekaligus menyiapkan fase rehabilitasi dan rekonstruksi secara menyeluruh.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menegaskan bahwa perintah Presiden digunakan sebagai dasar mobilisasi lintas kementerian, lembaga, TNI, Polri, dan pemerintah daerah. Pernyataan Pratikno mengenai pengerahan kekuatan nasional untuk meringankan beban masyarakat disampaikan dalam bentuk bahwa seluruh kekuatan nasional diminta untuk dikerahkan dalam tahapan tanggap darurat guna meringankan beban warga.

Pratikno juga menyatakan bahwa kementerian serta lembaga terkait sudah berada di lokasi untuk mempercepat pemulihan layanan publik dan akses vital. Pernyataan bahwa seluruh kementerian dan lembaga berusaha keras semaksimal mungkin untuk membantu masyarakat disampaikan dalam bentuk bahwa upaya keras tersebut sedang dijalankan bersama pemda, TNI, dan Polri. Selain itu, kunjungan bersama Kepala BNPB ke sejumlah wilayah menjadi momentum penting memperkuat koordinasi terpadu.

Dalam rapat lanjutan di Bandar Udara Silangit, Tapanuli Utara, Pratikno kembali menekankan percepatan penanganan darurat. Ungkapan bahwa seluruh kekuatan nasional harus ditambahkan untuk mempercepat evakuasi, logistik, perlindungan pengungsi, tenaga kesehatan, serta pemulihan infrastruktur, disampaikan dalam bentuk bahwa langkah-langkah tersebut diperintahkan untuk segera diterapkan. Pemerintah memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi dan distribusi bantuan terus mengalir, sebagaimana dilaporkan pihak terkait.

Pratikno menegaskan bahwa skenario rehabilitasi dan rekonstruksi telah disiapkan paralel dengan upaya tanggap darurat. Kalimat bahwa skenario tahap rehabilitasi dan rekonstruksi disiagakan meskipun fokus utama tetap pada darurat bencana, menjadi pijakan bahwa pemerintah bergerak dalam dua jalur sekaligus: penanganan cepat dan pemulihan jangka panjang. Penyediaan hunian sementara menjadi prioritas, sebagaimana disampaikan Menko PMK dalam bentuk bahwa percepatan hunian sementara perlu dilakukan sambil menunggu pembangunan hunian tetap.

Apresiasi kepada aparat dan relawan disampaikan Pratikno dalam bentuk bahwa kerja keras personel TNI, Polri, dan pemerintah daerah diapresiasi tinggi atas upaya mereka membangun hunian sementara serta menangani situasi di lapangan. Dalam konteks sinergi, pernyataan bahwa sumber daya harus dikerahkan dan koordinasi harus terjaga di lapangan disampaikan dalam bentuk bahwa dukungan penuh terhadap sinergi lintas sektor diberikan pemerintah.

Di tengah penanganan berbagai tantangan, terutama sulitnya pengerahan alat berat akibat kondisi medan, ditegaskan bahwa kendala tersebut tidak menghalangi komitmen negara untuk terus membantu masyarakat terdampak. Pada kesempatan yang sama, Pratikno menggarisbawahi pentingnya pembelajaran dari bencana ini untuk memperkuat kesiapsiagaan nasional di masa mendatang.

Kementerian Pekerjaan Umum turut menjalankan tugas strategis melalui percepatan pembukaan akses jalan di sejumlah wilayah terdampak. Penegasan Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, mengenai prioritas utama pembukaan akses jalan disampaikan dalam bentuk bahwa pembukaan akses tersebut dianggap paling utama agar bantuan tidak terlambat masuk. Instruksi untuk menarik alat berat dari proyek reguler dan mengalihkan ke titik-titik bencana juga disampaikan dalam bentuk bahwa perintah pengalihan alat berat dari proyek reguler telah diberikan, bahkan dengan penekanan bahwa kepatuhan menjadi keharusan.

Pengerahan alat berat dinilai vital agar daerah terisolasi dapat segera terhubung kembali dan potensi gangguan sosial dapat dicegah. Dody juga menyampaikan bahwa tanpa akses terbuka, bantuan sandang, pangan, dan air bersih akan terlambat, sehingga penanganan akses menjadi fokus tim di lapangan. Pernyataan mengenai kunjungan yang belum dijadwalkan agar tidak mengganggu konsentrasi petugas di lapangan disampaikan dalam bentuk bahwa keputusan untuk menunda kunjungan dilakukan demi menjaga fokus tim.

Kepala BNPB, Suharyanto, memprioritaskan tiga fokus utama penanganan: pencarian korban hilang, pemulihan komunikasi, dan percepatan distribusi logistik. Pernyataan mengenai fokus pencarian di wilayah Sibolga, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan disampaikan dalam bentuk bahwa wilayah-wilayah tersebut dijadikan fokus operasi SAR. Selain itu, instruksi agar operasi SAR dilaksanakan 24 jam penuh ditunjukkan dalam bentuk bahwa operasi tanpa henti diminta untuk dijalankan dengan Basarnas sebagai pemimpin.

BNPB juga memaksimalkan jalur udara dan laut untuk distribusi bantuan, terutama di daerah yang masih terisolasi. Tiga helikopter, kapal laut, 28 unit starlink, dan 33 genset telah disiapkan untuk menunjang pemulihan komunikasi dan logistik. Di Aceh, laporan bahwa lima kabupaten sudah dapat diakses kembali digunakan sebagai dasar percepatan distribusi bantuan berupa sembako dan kain sarung.

Pendekatan terpadu antara pusat, daerah, TNI, Polri, relawan, serta lembaga teknis lain memperlihatkan bahwa negara hadir penuh dalam kondisi darurat ini. Pemerintah bahkan telah menyiapkan pembangunan hunian sementara dan hunian tetap, perbaikan infrastruktur, serta pemulihan sosial ekonomi masyarakat sebagai tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi yang berkelanjutan.

Komitmen negara dalam menghadapi bencana ini menegaskan bahwa keselamatan dan pemulihan masyarakat menjadi prioritas utama. Dengan koordinasi lintas sektor, pengerahan alat besar-besaran, serta penyiapan pemulihan jangka panjang, pemerintah memastikan bahwa masyarakat Sumatera dapat bangkit kembali dan hidup lebih tangguh menghadapi potensi bencana di masa depan.

)* Pengamat Sosial

Solidaritas Daerah Mengalir ke Sumatera, Pemerintah Tegaskan Komitmen Pemulihan Cepat Pasca Bencana

Oleh: Bara Winatha*)

Bencana banjir dan longsor yang menimpa sejumlah wilayah di Pulau Sumatera—terutama Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat—telah memicu gelombang solidaritas dari berbagai pemerintah daerah di Indonesia. Dalam situasi darurat yang menuntut respons cepat, kolaborasi lintas instansi, lintas wilayah, dan lintas komunitas menjadi bukti nyata bahwa nilai kemanusiaan tetap menjadi pondasi utama dalam kehidupan berbangsa. Berbagai daerah bergerak serentak mengirimkan bantuan, tenaga, hingga dukungan logistik, memperlihatkan bahwa kepedulian tidak pernah mengenal batas administratif. Kesadaran kolektif inilah yang mendorong percepatan penanganan dan pemulihan masyarakat terdampak bencana di Sumatera.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa masyarakat Jawa Timur menitipkan kepedulian dan semangat kemanusiaan kepada saudara sebangsa di Sumatera. Ia memperlihatkan bahwa solidaritas antardaerah merupakan komitmen moral untuk saling menguatkan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengirimkan bantuan kemanusiaan senilai Rp5 miliar yang dikemas dalam program Jawa Timur Peduli, berisi permakanan, obat-obatan, sandang, serta perlengkapan kebersihan pascabencana. Sebagian bantuan telah tiba melalui jalur darat menggunakan truk logistik BPBD Jatim, sementara kloter kedua tengah disiapkan melalui Gudang BPBD Sidoarjo dengan total muatan sekitar 15 ton.

Pemerintah Jawa Timur juga memperkuat koordinasi dengan TNI dan Polri untuk memastikan seluruh distribusi berjalan cepat dan tepat sasaran. Beberapa bantuan mendesak dikirim melalui pesawat Hercules TNI AU, sementara logistik besar dan tahan lama diberangkatkan menggunakan KRI dari Koarmada II Surabaya menuju sejumlah pelabuhan di Sumatera. Khofifah menegaskan kesiapan Jatim mengirimkan relawan kesehatan serta tim evakuasi yang dapat diberangkatkan kapan pun, mengingat kondisi akses jalan di beberapa titik masih terhambat oleh longsor dan banjir. Dari perspektif kebencanaan, kesiapan relawan dan koordinasi antarlembaga menjadi faktor strategis dalam menentukan kecepatan penyelamatan serta pemulihan awal di daerah terdampak.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga menegaskan komitmen solidaritasnya. Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengatakan bahwa bantuan keuangan tanggap darurat senilai Rp1,5 miliar diberikan sebagai bentuk empati bagi warga di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bantuan tersebut disalurkan masing-masing Rp500 juta melalui skema Bantuan Keuangan Khusus Tanggap Darurat, sehingga pemerintah daerah penerima dapat langsung memanfaatkannya untuk kebutuhan taktis seperti penyediaan logistik, penanganan medis, hingga rehabilitasi infrastruktur dasar yang terdampak. Penyaluran bantuan keuangan ini menjadi elemen penting dalam respons kebencanaan, sebab kebutuhan di lapangan sering kali bergerak dinamis dan membutuhkan fleksibilitas anggaran.

Andi Sudirman menekankan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan selalu menunjukkan simpati terhadap sesama, terutama ketika bencana hidrometeorologi mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa. Dengan bantuan yang dikirim secara langsung ke pemerintah daerah di Sumatera, percepatan penanganan darurat dapat dilakukan tanpa hambatan prosedural yang sering kali menyita waktu. Kehadiran bantuan lintas daerah seperti dari Sulsel memperlihatkan bahwa tanggung jawab kemanusiaan bukan hanya beban daerah terdampak, tetapi menjadi urusan bersama seluruh elemen bangsa. Di tengah meningkatnya intensitas bencana akibat perubahan iklim, pola kolaborasi semacam ini menjadi sangat relevan dalam memastikan resiliensi nasional.

Langkah serupa juga dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno mengatakan bahwa bantuan kemanusiaan yang dikirimkan merupakan wujud gotong royong dan kepedulian warga Jakarta terhadap masyarakat di Sumatera. Bantuan dilepas dari Markas Komando Lintas Laut Militer, Jakarta Utara, dan dikirim menggunakan tiga Kapal Perang Republik Indonesia: KRI Dr. Soeharso, KRI Semarang, dan KRI Teluk Gilimanuk. Bantuan mencakup kebutuhan dasar seperti sembako, sandang, selimut, kasur lipat, perlengkapan keluarga, hingga tandon air bersih—seluruhnya disesuaikan dengan kebutuhan mendesak para penyintas. Pengiriman bantuan melalui moda laut berskala besar menunjukkan bahwa Pemprov DKI memahami tingkat kerusakan akses darat di wilayah terdampak yang memerlukan alternatif distribusi berkapasitas tinggi.

Tampak jelas bahwa solidaritas lintas daerah merupakan modal sosial yang sangat kuat. Apresiasi yang diberikan kepada seluruh instansi yang terlibat tidak sekadar lahir sebagai bentuk penghormatan, tetapi juga sebagai dorongan moral agar semangat gotong royong terus dipelihara. Bencana besar di Sumatera telah menguji kesiapsiagaan nasional, namun sekaligus memperlihatkan bahwa daerah-daerah lain mampu tampil sebagai garda pendukung yang responsif. Selain itu, literasi kebencanaan di tingkat pemerintahan daerah menunjukkan perkembangan positif.

Apresiasi juga layak diberikan kepada seluruh relawan, tenaga medis, petugas TNI-Polri, BPBD, dan masyarakat sipil yang terlibat dalam proses penyaluran bantuan. Tanpa dukungan mereka, berbagai bantuan dari pemerintah daerah tidak akan sampai ke tangan warga secara efisien. Kerja-kerja teknis seperti penyortiran logistik, pemetaan daerah terdampak, hingga layanan kesehatan lapangan merupakan bagian penting dari rantai penanganan bencana yang jarang terlihat tetapi sangat menentukan hasil akhir.

Solidaritas nasional yang tercermin dalam bencana di Sumatera ini diharapkan menjadi contoh bagi penanganan bencana di masa mendatang. Melalui pengalaman ini, masyarakat Indonesia telah membuktikan semangat gotong royong tetap hidup dan menjadi modal untuk menjaga ketahanan bangsa di tengah situasi krisis. Dengan demikian, apresiasi terhadap solidaritas lintas instansi yang membantu penanganan korban bencana di Sumatera merupakan bentuk penghormatan, penguatan nilai kemanusiaan, dan persatuan nasional. Ketika daerah-daerah saling menopang dalam masa sulit, Indonesia menunjukkan identitas terbaiknya sebagai bangsa yang peduli, tangguh, dan siap bangkit bersama menghadapi berbagai tantangan.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

Pemerintah Pastikan Siapkan Alokasi Anggaran Penanggulangan Bencana Sumatera

Jakarta – Pemerintah memastikan kesiapan penuh dalam menyediakan anggaran penanggulangan bencana di Sumatera setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah titik di wilayah tersebut. Presiden Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah akan mengirim bantuan dengan jumlah maksimal dan dalam waktu sesegera mungkin.

“Kami pastikan bantuan dikirim sebanyak dan secepat yang dibutuhkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan alokasi anggaran khusus untuk memperbaiki berbagai fasilitas umum yang rusak akibat bencana. Anggaran tersebut mencakup pemulihan sarana desa hingga infrastruktur yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Ia menekankan bahwa pemerintah melakukan efisiensi belanja pusat agar bantuan bisa disalurkan secara optimal.

“Anggarannya sudah tersedia, dan kami lakukan penghematan untuk memastikan bantuan dapat terus mengalir,” katanya.

Presiden juga memastikan bahwa seluruh bantuan pemerintah akan disalurkan langsung kepada masyarakat tanpa melalui perantara. Menurutnya, mekanisme penyaluran yang cepat dan tepat sasaran menjadi prioritas dalam penanganan bencana kali ini.

Selain bantuan darurat, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah dalam mempercepat perbaikan fasilitas pendidikan agar anak-anak dapat kembali belajar tanpa hambatan.

“Perbaikan sekolah akan dipercepat, seluruh fasilitas pendidikan harus segera kembali berfungsi,” ucapnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada BNPB, TNI, dan Polri atas langkah cepat mereka dalam menangani dampak bencana serta membantu proses pemulihan. Tak lupa, Presiden menyampaikan belasungkawa dan doa bagi seluruh warga yang terdampak.

“Insyaallah ke depan kita akan terus berbuat yang terbaik demi kesejahteraan rakyat,” tuturnya.

Sementara itu, dukungan pemerintah pusat juga ditegaskan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang menyatakan kesiapan kementeriannya untuk mengucurkan dana darurat guna mendukung penanganan bencana di Sumatera. Ia memastikan bahwa pemerintah pusat siap memenuhi kebutuhan anggaran sesuai arahan.

“Kalau saya diminta menyediakan dananya, saya siapkan. Itu komitmen kami,” ujarnya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa pemerintah telah memiliki mekanisme pendanaan yang kuat dalam menghadapi berbagai bencana. Ia menjelaskan bahwa keberadaan PFB yang diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2021 menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan fiskal negara.

Sistem ini memungkinkan pendanaan risiko bencana dilakukan lebih terencana melalui skema APBN/APBD maupun pengalihan risiko, seperti asuransi aset. Dengan adanya mekanisme tersebut, pemerintah optimistis penanganan bencana berskala besar dapat dilakukan lebih cepat dan efektif tanpa bergantung sepenuhnya pada alokasi tahunan APBN/APBD.

Pendekatan ini juga diharapkan memberi perlindungan maksimal bagi masyarakat terdampak, khususnya kelompok miskin dan rentan. Pemerintah menegaskan seluruh instrumen pendanaan akan dioptimalkan demi percepatan pemulihan dan pemenuhan kebutuhan mendesak masyarakat di Sumatera.

Peninjauan Presiden Prabowo di Lokasi Bencana Sumatera Bukti Kehadiran Pemerintah Berikan Respon Cepat

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk memberikan penanganan cepat bagi warga terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Hal ini disampaikan saat meninjau langsung posko pengungsian dan sejumlah titik bencana di Kutacane, Aceh Tenggara, serta Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Saat berdialog dengan para pengungsi, Presiden memastikan bahwa dukungan anggaran telah tersedia melalui kebijakan efisiensi yang sebelumnya dilakukan pemerintah pusat.

“Alhamdulillah kita punya anggarannya, kita lakukan penghematan banyak di pusat supaya sebanyak mungkin bantuan, sebanyak mungkin kita bisa membantu kepentingan rakyat di paling bawah, desa, kecamatan. Itu sasaran kita,” ujar Prabowo.

Ia menegaskan bahwa bantuan tidak hanya diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan darurat, tetapi juga pemulihan infrastruktur dasar yang rusak akibat bencana.

Presiden menyampaikan bahwa pemerintah segera memperbaiki jalur yang terputus serta jembatan-jembatan yang rusak di beberapa wilayah terdampak.

“Kita segera akan membuka jalur yang terputus, jembatan-jembatan yang rusak kita segera perbaiki,” katanya.

Prabowo menambahkan bahwa membaiknya cuaca memberikan ruang bagi percepatan evakuasi dan distribusi bantuan.

“Ramalannya juga yang terburuk sudah lewat, ya ini kondisi sekarang perubahan iklim harus kita hadapi dengan baik,” kata Prabowo.

Apresiasi diberikan kepada seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan bencana, mulai dari BNPB, TNI, Polri, Basarnas, kementerian/lembaga, hingga pemerintah daerah.

“Kita kerahkan juga sudah cukup banyak Heli, hercules, pesawat-pesawat kita serahkan semua. Insyaallah dengan kerjasama erat, teamwork yang baik, kita bisa segera menghadapi musibah ini, segera memberi solusi-solusi kepada kesulitan rakyat sekarang ini,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Presiden turut meninjau keberadaan dapur Badan Gizi Nasional (BGN) serta memastikan jalannya program-program prioritas pemerintah di wilayah terdampak, seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih.

“Nanti semua desa akan punya koperasi, ya. Jadi nanti barang-barang yang disubsidi oleh negara itu langsung ke rakyat, enggak lewat perantara, langsung ke rakyat,” tandasnya yang disambut tepuk tangan warga.

Kehadiran Presiden Prabowo secara langsung di lokasi bencana menjadi penegasan bahwa negara hadir untuk rakyat, khususnya dalam situasi darurat.

Pemerintah berkomitmen memastikan setiap langkah penanganan berjalan cepat, terkoordinasi, dan menyentuh kebutuhan paling mendesak masyarakat. #