Sinergitas Nasional Sukseskan Program MBG untuk Generasi Sehat Indonesia

Oleh: Alexandro Dimitri*)

Pelaksanaan program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) di bawah arahannya Badan Gizi Nasional (BGN) merupakan wujud nyata komitmen pemerintah untuk menata masa depan bangsa melalui intervensi gizi yang memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dalam kerangka pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, sinergi lintas lembaga, daerah dan masyarakat pun menjadi faktor penentu keberhasilan dan efektivitas program ini.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, dalam siaran pers menyampaikan bahwa MBG telah menjangkau 36,7 juta lebih penerima manfaat melalui lebih dari 12.500 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 38 provinsi, hasil yang ia sebut sebagai bukti bahwa program masih “on track”. Dadan menegaskan bahwa capaian tersebut adalah hasil kerja sama antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, dan pemangku kepentingan lainnya sehingga tidak ada satu daerah pun yang tertinggal dalam pemenuhan gizi.

Dalam aspek pemberdayaan ekonomi pun, MBG menunjukkan kapasitasnya sebagai program multifungsi. Wakil Kepala BGN, Sony Sanjaya menekankan bahwa MBG bukan hanya soal pemberian makan bergizi, tetapi juga penciptaan efek multiplier di tiap wilayah dengan melahirkan “MBG-preneur” lokal yang memanfaatkan bahan pangan lokal dan mendukung UMKM dalam rantai pasok. Kolaborasi antara dapur-komunitas SPPG, petani, nelayan, dan pelaku usaha lokal memperkuat ekosistem gizi dan ekonomi di daerah.

Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menggarisbawahi bahwa tata kelola program MBG harus dilandasi regulasi yang jelas, transparan, dan akuntabel, termasuk penguatan pembinaan SPPG dan kanal pengaduan masyarakat. Dengan pendekatan ini, keberlanjutan program tidak hanya diukur dari angka, tetapi juga dari integritas sistem dan partisipasi publik.

Dinamika pelaksanaan di lapangan menunjukkan bahwa sinergitas benar-benar menjadi kunci. Program MBG telah diprioritaskan untuk empat kelompok utama, mulai dari siswa PAUD hingga SMA/sederajat, balita, ibu hamil dan ibu menyusui. Pemerintah daerah juga aktif melakukan monitoring langsung, seperti di Kota Banjar yang meninjau sekolah-sasaran program dan menyerahkan paket makan siang bergizi secara simbolis.

Tak dipungkiri bahwa program dengan cakupan nasional ini juga menghadapi tantangan serius. Temuan kasus keracunan siswa pasca-mbg, termasuk lebih dari 6.400 anak yang tercatat oleh Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), menuntut respons cepat. Namun, pemerintah memilih untuk tidak menghentikan program, melainkan melakukan perbaikan sistem secara korektif.

Lebih jauh, BGN bersama lembaga terkait memperkuat jaminan keamanan pangan dan kehalalan makanan bergizi gratis sebagai bagian dari tata kelola nasional, lewat nota kesepahaman dengan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) untuk memastikan bahwa menu MBG juga memenuhi standar halal dan tayib. Hal ini makin memperkuat kepercayaan publik terhadap program, sekaligus mendukung pencapaian visi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam konteks ekonomi lokal, sinergitas juga tampak dalam penguatan UMKM dan petani lokal yang menjadi pemasok dalam ekosistem MBG. Sejumlah analisis menyebut program ini sebagai salah satu strategi memperkuat ekonomi kerakyatan di sektor pangan, dengan alokasi belanja bahan baku yang mendorong multiplier effect hingga ke desa-desa. Pemerintah bahkan memproyeksikan bahwa program ini dapat menciptakan lapangan kerja baru dan menggerakkan usaha mikro di setiap wilayah.

Sinergitas dalam pelaksanaan program MBG berjalan efektif karena ditopang oleh beberapa faktor penting. Pertama, adanya koordinasi yang solid antara pemerintah pusat dan daerah, di mana pusat berperan menyusun kerangka regulasi serta pembinaan, sementara daerah bertanggung jawab pada pengadaan, distribusi, dan monitoring pelaksanaan.

Kedua, integrasi lintas sektor memastikan bahwa aspek gizi, ekonomi, dan akses masyarakat saling berpadu secara harmonis. Ketiga, partisipasi aktif masyarakat dan pelaku UMKM lokal menjadikan program ini tidak sekadar bersifat top-down, melainkan tumbuh dari kolaborasi komunitas. Keempat, transparansi dan akuntabilitas yang dijaga dengan baik menjadi fondasi agar program tidak hanya berjalan cepat, tetapi juga tepat sasaran dan berkelanjutan.

Keberhasilan program MBG yang telah menjangkau lebih dari 36 juta penerima manfaat dalam satu tahun pemerintahan menunjukkan bahwa sinergi yang dijalankan dengan komitmen mampu menghasilkan capaian nyata dalam waktu singkat. Program ini tidak hanya berfokus pada distribusi pangan, tetapi juga merupakan investasi strategis untuk meningkatkan kualitas manusia, memperkuat ekonomi lokal, dan menyiapkan masa depan bangsa yang lebih baik. Ke depan, pelaksanaan program perlu terus diperkuat melalui peningkatan standar sanitasi di setiap SPPG, pengawasan terhadap kehalalan dan keamanan pangan, serta pelibatan UMKM secara lebih luas di seluruh kabupaten dan kota agar manfaatnya semakin merata di seluruh Indonesia.

Program MBG adalah simbol bagaimana pemerintahan saat ini tidak hanya berpikir jangka pendek, tetapi bergerak sinergis untuk menciptakan dampak jangka panjang. Dan dengan dukungan seluruh pihak, sinergitas yang kuat akan memastikan bahwa MBG menjadi pilar nyata menuju Indonesia yang lebih sehat, lebih produktif, dan lebih berdaya. Dengan demikian, keberhasilan MBG adalah bukti bahwa pemerintahan yang berjalan selaras dengan rakyat mampu mengubah aspirasi menjadi aksi, dan aksi menjadi hasil yang dirasakan banyak orang.

*) Penulis merupakan Pengamat Ekonomi

Pemerintah Pastikan Sinergis dalam Peningkatan Pengawasan Program MBG

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat langkah sinergis lintas kementerian dan lembaga dalam memastikan keberlanjutan serta keamanan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pengawasan yang terpadu menjadi fokus utama agar setiap tahapan, mulai dari proses dapur, distribusi makanan, hingga kualitas pangan, berjalan sesuai standar yang ditetapkan.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana menegaskan bahwa BGN bersama Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Lingkungan Hidup, serta Kementerian Dalam Negeri, akan terus memperkuat pengawasan di seluruh wilayah. Pengawasan ketat diperlukan untuk memastikan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memenuhi prinsip makanan sehat, bergizi, dan aman dikonsumsi.

“BGN bersama kementerian terkait memperketat standar operasional MBG melalui inspeksi rutin dan verifikasi dapur. Setiap SPPG harus bisa menjamin makanan yang sehat, bergizi, seimbang, dan aman dikonsumsi. Itu inti dari program ini,” ujar Dadan.

Dadan menambahkan, saat ini lebih dari 10.000 SPPG telah beroperasi di 38 provinsi, dengan Jawa Tengah menjadi salah satu daerah dengan capaian tertinggi yakni 1.596 SPPG. Program MBG tidak hanya berdampak pada kesehatan anak-anak, tetapi juga memberikan dorongan signifikan terhadap perekonomian daerah.

“Investasi BGN yang mengalir ke Jawa Tengah mencapai sekitar Rp32 triliun per tahun. Dampaknya luar biasa bagi industri pangan lokal, dari pemasok bahan, produsen food tray, hingga penghasil susu,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menekankan pentingnya menjaga keamanan pangan di setiap titik pelaksanaan MBG. Selain itu, seluruh dapur penyedia makanan diminta memperketat proses pengolahan, kebersihan, serta pengawasan makanan agar tidak terjadi kasus keracunan di kemudian hari.

“Harapannya kejadian-kejadian kemarin tidak terulang kembali. Karena ini program struktural, maka harus kita laksanakan dengan penuh tanggung jawab,” ujar Luthfi.

Senada dengan hal itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengingatkan agar seluruh kepala daerah memperketat pengawasan terhadap dapur penyedia MBG. Menurutnya, penerbitan Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (SLHS) tidak boleh dilakukan secara asal, melainkan harus melalui pengecekan langsung di lapangan.

“Pengawasan SLHS harus proper, dicek betulan. Jangan sampai ada dapur yang tidak memenuhi standar tapi tetap diloloskan,” tutur Tito saat membuka Rapat Koordinasi lintas kementerian di IPDN Jatinangor, Sumedang, Senin (27/10) lalu.

Ia juga meminta Dinas Kesehatan di seluruh daerah aktif melakukan pemantauan serta pendampingan terhadap penyedia MBG agar proses pengolahan makanan benar-benar higienis dan aman dikonsumsi siswa.

“Sinergi lintas lembaga dan daerah diharapkan mampu memperkuat kepercayaan publik bahwa Program MBG dijalankan secara profesional, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Pemerintah Terus Perkuat Koordinasi dan Pengawasan dalam Program Makan Bergizi Gratis

Jakarta – Pemerintah menegaskan keseriusannya memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa program ini merupakan investasi strategis bagi masa depan bangsa karena menyentuh langsung kesejahteraan generasi penerus. Ia menilai penyediaan gizi seimbang bagi anak-anak Indonesia bukan semata program sosial, melainkan langkah pembangunan sumber daya manusia jangka panjang yang menentukan daya saing bangsa. “Program Makan Bergizi Gratis adalah investasi untuk masa depan bangsa,” ujarnya.

Presiden menambahkan bahwa program ini tidak boleh berjalan sendiri, tetapi harus disertai dengan pengawasan ketat di setiap lini pelaksanaan. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta masyarakat agar manfaat program benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan. Menurutnya, setiap pihak memiliki tanggung jawab moral dalam memastikan makanan bergizi sampai kepada anak-anak yang membutuhkan. Ia mengingatkan, keberhasilan program bukan hanya diukur dari jumlah penerima, tetapi dari perubahan kualitas hidup dan peningkatan kesehatan masyarakat. “Kita ingin anak-anak tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi. Karena itu, pengawasan dan kerja sama semua pihak menjadi kunci,” tuturnya.

Menindaklanjuti arahan Presiden, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan bahwa pemerintah terus memperkuat sistem pemantauan lapangan agar pelaksanaan program berjalan tepat sasaran. Ia menjelaskan bahwa hingga Oktober 2025, MBG telah menjangkau lebih dari 36 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia dengan lebih dari 12.500 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) aktif. Menurutnya, capaian ini menunjukkan bahwa kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah semakin efektif. “Capaian ini adalah bukti nyata sinergi lintas sektor dalam memastikan hak gizi masyarakat terpenuhi,” katanya.

Lebih lanjut, Dadan menjelaskan bahwa pihaknya tengah menyiapkan penambahan antara 5.000 hingga 6.000 SPPG baru di wilayah terpencil untuk memperluas jangkauan layanan. Ia menegaskan bahwa target nasional sebesar 82,9 juta penerima manfaat hingga akhir 2025 dapat tercapai melalui pengawasan berlapis dan koordinasi lintas sektor yang semakin solid. “Kami berkomitmen menjaga kualitas pangan bergizi di seluruh wilayah, karena pemerataan akses adalah kunci keadilan sosial,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh pelaksanaan program MBG akan terus diawasi secara transparan melalui sistem pelaporan digital, agar distribusi bantuan pangan benar-benar sesuai kebutuhan dan tidak terjadi tumpang tindih. Dadan menutup keterangannya dengan menyebut bahwa MBG bukan hanya program pengentasan gizi, tetapi juga simbol kolaborasi nasional. “Investasi di bidang gizi adalah fondasi bagi kemajuan bangsa,” tutupnya.

Pemerintah Fokus Edukasi Anak Muda dalam Pencegahan Judi Daring

Oleh: Munawir Ahmad )*

Pemerintah menegaskan komitmen kuatnya dalam melindungi generasi muda dari ancaman judi daring yang semakin mengkhawatirkan. Fenomena meningkatnya keterlibatan anak-anak, bahkan pelajar sekolah dasar, dalam praktik judi daring menjadi perhatian serius berbagai kementerian dan lembaga negara.

Melalui langkah edukatif yang terarah dan kolaborasi lintas sektor, pemerintah berupaya memastikan pencegahan dilakukan sejak dini agar dampak sosial dan moral dari praktik ini dapat ditekan secara signifikan.

Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum, Asep Nana Mulyana, menjelaskan bahwa hasil pemantauan Kejaksaan menunjukkan kelompok pelaku judi daring berasal dari berbagai latar belakang sosial, termasuk pelajar dan masyarakat rentan.

Berdasarkan data hingga September 2025, pelaku judi daring bahkan ditemukan di kalangan murid sekolah dasar, petani, hingga tunawisma. Temuan ini memperlihatkan bahwa perjudian online telah menembus berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang usia maupun status ekonomi.

Dalam catatan Kejaksaan, mayoritas pelaku judi daring berjenis kelamin laki-laki dengan persentase mencapai lebih dari delapan puluh persen, sedangkan perempuan sekitar dua belas persen. Dari sisi usia, kelompok produktif antara 26 hingga 50 tahun mendominasi, disusul oleh kelompok usia muda 18 hingga 25 tahun.

Keberadaan pelaku di bawah usia 18 tahun menjadi indikator penting bagi pemerintah untuk memperkuat langkah preventif melalui jalur pendidikan dan literasi digital.

Kejaksaan Agung bersama Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polkam), Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), serta lembaga lain membentuk Desk Pemberantasan Judi Daring yang berfokus pada koordinasi penegakan hukum dan edukasi publik.

Salah satu prioritas utama desk ini adalah peningkatan literasi masyarakat, khususnya di kalangan pelajar dan remaja, agar mereka memiliki pemahaman yang kuat mengenai risiko dan konsekuensi hukum dari judi daring.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menilai bahwa akar persoalan judi daring di kalangan anak muda tidak hanya dapat diatasi melalui penindakan, tetapi juga harus disertai upaya edukasi yang sistematis.

Pemerintah kini menggandeng lembaga pendidikan dan tokoh agama untuk memberikan penyuluhan yang menyentuh aspek moral dan sosial. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan karakter anak muda terhadap godaan ekonomi instan yang ditawarkan situs-situs judi daring.

Selain fokus pada pendidikan karakter, pemerintah juga sedang meninjau ulang sistem regulasi yang berkaitan dengan pengawasan aktivitas daring. Pembenahan regulasi ini mencakup tata aturan dan penguatan koordinasi antar kementerian agar setiap celah hukum yang berpotensi dimanfaatkan pelaku dapat segera ditutup.

Dengan pengawasan yang lebih ketat, pemerintah berupaya memastikan praktik judi daring tidak lagi memiliki ruang untuk berkembang di lingkungan digital Indonesia.

Di sisi lain, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti pentingnya langkah konkret dalam menangani anak-anak yang sudah terlanjur terlibat judi daring. Menurut Komisioner KPAI Dian Sasmita, data anak yang terlibat dalam aktivitas tersebut perlu disalurkan ke kementerian terkait seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Kementerian Sosial. Pendekatan ini penting agar penanganan terhadap anak tidak berhenti pada pendataan, melainkan berlanjut ke tahap rehabilitasi dan pendampingan.

KPAI menilai perubahan perilaku anak membutuhkan dukungan dari lingkungan terdekat, terutama keluarga. Karena itu, pemerintah daerah diharapkan memperkuat program pengasuhan keluarga sebagai bagian dari strategi nasional pencegahan judi daring. Keluarga dianggap sebagai tiang utama dalam pembentukan karakter anak, sehingga perannya harus diperkuat melalui bimbingan dan pendampingan dari pemerintah.

Pemerintah juga memastikan anak-anak yang terjerumus dalam judi daring tidak kehilangan hak pendidikan mereka. Pendekatan yang diambil bukan berbasis hukuman, melainkan pembinaan agar anak tetap dapat melanjutkan sekolah. Melalui pendidikan, anak-anak diharapkan dapat mengembangkan potensi positif dan mengubah perilaku ke arah yang lebih baik.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya menindak pelaku judi daring, tetapi juga membangun sistem perlindungan sosial yang lebih komprehensif. Dengan mengedepankan edukasi, pembenahan regulasi, dan dukungan keluarga, pemerintah menargetkan terbentuknya generasi muda yang tangguh secara moral, kritis dalam bermedia digital, dan sadar akan bahaya perjudian daring.

Upaya tersebut juga mencerminkan visi jangka panjang pemerintah dalam membangun ekosistem digital yang sehat. Pemerintah bertekad menciptakan ruang internet yang aman, produktif, dan bebas dari praktik ilegal yang merusak generasi muda.

Dengan dukungan masyarakat, dunia pendidikan, serta lembaga keagamaan, agenda besar pencegahan judi daring ini diyakini dapat menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan. Kesadaran kolektif seluruh elemen bangsa menjadi kunci untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan digital yang positif, terlindungi, dan berdaya saing tinggi.

Sebagai bagian dari tindak lanjut, pemerintah juga merancang kampanye digital nasional yang melibatkan influencer muda dan komunitas kreatif agar pesan moral pencegahan judi daring tersampaikan secara efektif di platform yang paling banyak diakses anak muda.

Melalui pendekatan komunikasi yang modern dan relevan, diharapkan pesan bahaya judi daring dapat diterima tanpa kesan menggurui. Sinergi antara edukasi formal, kampanye publik, dan literasi digital akan memperkuat daya tahan generasi muda terhadap berbagai bentuk kejahatan siber di masa depan.

)* Pemerhati Kebijakan Publik

Pemerintah Gerak Cepat Tutup Celah dan Bersihkan Data Bansos, Cegah Perputaran Uang di Judi Daring

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat langkah konkret dalam memerangi praktik judi daring yang semakin masif dan berdampak luas terhadap stabilitas sosial maupun ekonomi nasional. Berdasarkan hasil analisis terbaru, terungkap bahwa nilai perputaran uang dalam transaksi judi daring di Indonesia mencapai Rp976 triliun. Temuan ini menjadi alarm serius bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bertindak cepat menutup berbagai celah penyalahgunaan sistem keuangan nasional.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melalui peluncuran Operasi Lebah Madu menegaskan komitmennya dalam menindaklanjuti berbagai indikasi transaksi mencurigakan, baik yang berkaitan dengan korupsi maupun judi daring. Deputi Analisis dan Pemeriksaan PPATK, Danang Tri Hartono, menjelaskan bahwa operasi ini menjadi bagian dari strategi besar dalam memperkuat kolaborasi lintas lembaga berbasis data.

“Melalui operasi ini, PPATK mendorong terbentuknya kolaborasi berbasis data lintas lembaga, sehingga setiap indikasi transaksi mencurigakan dapat segera ditindaklanjuti secara terukur, transparan, dan berkesinambungan,” ujar Danang.

Ia menambahkan, selain mencegah tindak pidana pencucian uang yang bersumber dari aktivitas ilegal, operasi ini juga diharapkan mampu meningkatkan penerimaan negara melalui kerja sama erat dengan Direktorat Jenderal Pajak.

Dalam periode 2022–2025, hasil kolaborasi PPATK dengan DJP telah berhasil merealisasikan penerimaan pajak negara sebesar Rp4,48 triliun, yang sebagian di antaranya berasal dari hasil penelusuran transaksi mencurigakan. Danang menegaskan bahwa langkah ini bukan hanya untuk menindak pelaku, tetapi juga memastikan bahwa produk intelijen keuangan benar-benar dimanfaatkan secara optimal dalam pengambilan kebijakan publik.

“Melalui Operasi Lebah Madu, PPATK ingin memastikan pemanfaatan data intelijen keuangan tidak berhenti pada tahap analisis, tetapi menjadi dasar pengambilan kebijakan, tindakan penegakan hukum, serta penegakan disiplin ASN secara cepat dan terukur,” tegasnya.

Langkah cepat pemerintah juga dilakukan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) yang berkoordinasi langsung dengan PPATK untuk membersihkan data penerima bantuan sosial (bansos). Hasilnya, sekitar 600 ribu penerima bansos yang terindikasi bermain judi daring telah dicoret dari daftar penerima manfaat.

“Salah satunya, kita koordinasi dengan PPATK. Ketemu lah 600 ribu lebih penerima bansos yang dari Kementerian Sosial itu ditengarai ikut bermain judol, 600 ribu itu kita coret semua. Setelah dilakukan pendalaman memang ternyata benar adanya, maka kita coret penerima bansos tersebut,” ujar Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Kebijakan tegas ini menjadi bukti nyata bahwa pemerintah tidak akan mentoleransi penyalahgunaan dana publik, apalagi yang bersumber dari program perlindungan sosial. Pemerintah memastikan bansos hanya akan diberikan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan dan tidak terlibat dalam praktik melanggar hukum.

Melalui sinergi lintas lembaga antara PPATK, Kemensos, dan instansi penegak hukum lainnya, pemerintah menunjukkan keseriusan dalam memberantas judi daring hingga ke akar. Upaya ini bukan sekadar penindakan, tetapi juga bagian dari transformasi sistem keuangan dan sosial nasional menuju tata kelola yang bersih, transparan, dan berkeadilan.

Pemerintah Tegaskan Pemberantasan Judi Daring Akan Terus Dilanjutkan

Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan pemberantasan judi daring secara menyeluruh melalui kerja sama lintas lembaga.

Upaya ini kini diperkuat dengan peluncuran Operasi Lebah Madu oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sebagai strategi terpadu melawan korupsi dan judi online.

Deputi Analisis dan Pemeriksaan PPATK, Danang Tri Hartono, menjelaskan bahwa operasi ini berangkat dari kesadaran akan pentingnya pemanfaatan data intelijen keuangan secara optimal.

“Basis data PPATK ibarat nektar informasi yang diolah menjadi madu informasi, yakni produk intelijen keuangan untuk pencegahan dan pemberantasan korupsi serta judi online,” ujarnya.

Danang menegaskan, Operasi Lebah Madu bertujuan membangun kolaborasi berbasis data antarinstansi agar setiap indikasi transaksi mencurigakan dapat ditindaklanjuti secara cepat dan terukur.

“Melalui operasi ini, PPATK ingin memastikan pemanfaatan data intelijen keuangan tidak berhenti pada tahap analisis, tetapi menjadi dasar kebijakan, tindakan hukum, dan penegakan disiplin ASN,” katanya.

Selain itu, analisis PPATK menunjukkan perputaran dana judi daring dari 2017 hingga semester I 2025 mencapai Rp976,8 triliun, dengan lebih dari 709 juta transaksi.

Ironisnya, lebih dari 51 ribu pemain judi daring berasal dari kalangan aparatur sipil negara (ASN).

“Perjudian online tumbuh pesat dan telah menjadi ancaman sosial-ekonomi nasional,” kata Danang.

Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) juga terus memperkuat langkah pemutusan akses terhadap situs dan transaksi judi daring.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengungkapkan, hingga kini pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memblokir 23.929 rekening yang terlibat dalam aktivitas ilegal tersebut.

“Kami ingin memastikan aliran dana dari aktivitas ilegal seperti judi online ini benar-benar terputus,” tegas Meutya.

Ia juga mengajak masyarakat berpartisipasi aktif melaporkan situs, akun, atau rekening yang terindikasi judi daring melalui kanal aduankonten.id dan cekrekening.id.

Dukungan juga datang dari Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polkam).

Asisten Deputi Koordinasi Pelindungan Data dan Transaksi Elektronik Kemenko Polkam, Syaiful Garyadi, menegaskan judi daring merupakan organisasi kriminal dengan kekuatan finansial besar.

“Mereka punya uang sangat banyak sehingga mampu merekrut SDM pintar dan mengakses teknologi berbayar. Akibatnya, teknologi pencegahan akan selalu tertinggal dibandingkan organisasi kriminal ini,” ujarnya.

Ia menekankan, riset dari kalangan akademisi perlu diarahkan pada isu pemberantasan judi daring agar hasilnya dapat langsung dimanfaatkan untuk mendukung pemerintah.

Ruang Digital Kian Bersih, Pemerintah Blokir 3 Juta Konten Negatif Termasuk Judi Daring

*) Oleh: Dimas Permana

Upaya pemerintah dalam menjaga ruang digital agar tetap sehat dan produktif terus menunjukkan hasil positif. Melalui kerja keras dan pengawasan yang ketat, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mencatat telah menangani sekitar 3 juta konten negatif di ruang digital selama satu tahun terakhir. Dari jumlah tersebut, konten perjudian daring atau judi daring menjadi yang paling banyak ditindak, yakni mencapai lebih dari 2 juta konten. Langkah ini tidak hanya mencerminkan ketegasan pemerintah dalam menegakkan aturan, tetapi juga menunjukkan komitmen kuat dalam menciptakan ruang digital yang aman bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Berdasarkan data Kemkomdigi, sepanjang periode 20 Oktober 2024 hingga 20 Oktober 2025, terdapat sebanyak 3.053.984 konten negatif yang telah ditangani. Dari total tersebut, 2.377.283 konten merupakan konten perjudian daring, 612.618 konten berkaitan dengan pornografi, dan 8.517 konten termasuk kategori pornografi anak. Data ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap ruang digital nasional masih cukup besar, terutama dari praktik judi daring yang kini banyak menyasar kelompok muda. Pemerintah pun terus memperkuat upaya penanganan dan pencegahan dengan mengedepankan pendekatan kolaboratif lintas sektor agar dampak negatifnya bisa diminimalisir.

Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kemkomdigi, Alexander Sabar menegaskan bahwa Kemkomdigi tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga ruang digital agar tetap aman. Menurutnya, pengawasan ruang siber adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, lembaga negara, industri digital, dan masyarakat. Dalam menjalankan tugasnya, Kemkomdigi bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta aparat penegak hukum untuk memperkuat pengawasan dan menutup celah perputaran uang hasil perjudian daring.

Alexander menjelaskan bahwa Kemkomdigi menerapkan dua pendekatan utama dalam pengawasan ruang digital, yaitu pendekatan proaktif dan reaktif. Pendekatan proaktif dilakukan melalui patroli siber selama 24 jam penuh, pengelolaan Sistem Kepatuhan Moderasi Konten (SAMAN), serta koordinasi dengan platform digital global seperti Meta, Google, dan TikTok untuk proses moderasi konten yang terindikasi melanggar hukum. Sementara itu, pendekatan reaktif dilakukan dengan menindaklanjuti laporan masyarakat melalui kanal aduankonten.id maupun laporan dari kementerian dan lembaga lain. Kombinasi dua pendekatan ini membuat penindakan konten negatif menjadi lebih cepat, akurat, dan terukur, sehingga ruang digital Indonesia semakin terlindungi.

Pemerintah juga menekankan pentingnya literasi digital sebagai benteng utama melawan konten negatif. Dalam konteks ini, edukasi masyarakat untuk mengenali bahaya judi daring, penipuan siber, serta penyebaran hoaks menjadi prioritas. Upaya ini tidak hanya dilakukan melalui program kampanye digital, tetapi juga melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan, komunitas digital, dan organisasi masyarakat sipil. Semakin tinggi literasi digital masyarakat, semakin kuat pula daya tahan bangsa terhadap pengaruh buruk dunia maya yang terus berkembang.

Ketua Komisi I DPRD Kota Palangka Raya, Hj. Mukarramah, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah tegas pemerintah dalam memblokir jutaan konten negatif, terutama yang berkaitan dengan judi daring. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan wujud nyata dari komitmen negara dalam melindungi masyarakat dari praktik perjudian digital yang semakin marak dan meresahkan berbagai kalangan. Pihaknya menambahkan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral dan sosial pemerintah untuk memastikan ruang digital tidak menjadi tempat berkembangnya perilaku menyimpang yang merugikan masyarakat.

Mukarramah juga menilai bahwa upaya pemerintah ini sekaligus menjadi momentum penting untuk memperkuat kerja sama antara semua pihak, mulai dari lembaga legislatif, penegak hukum, dunia pendidikan, hingga masyarakat umum. Menurutnya, pengawasan terhadap judi daring tidak hanya berhenti pada ranah teknis pemblokiran situs atau aplikasi, tetapi juga harus disertai pendekatan edukatif dan kultural agar masyarakat memahami bahayanya. Dengan demikian, pemberantasan judi daring tidak hanya bersifat reaktif, melainkan juga preventif dan berkelanjutan.

Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah dalam mewujudkan ekosistem digital nasional yang sehat, aman, dan inklusif. Pemerintah ingin memastikan bahwa transformasi digital yang tengah berjalan tidak tercemar oleh aktivitas ilegal seperti judi daring, penipuan finansial, atau penyebaran konten berbahaya lainnya. Dalam jangka panjang, kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap ruang digital, sekaligus meningkatkan kualitas interaksi daring di berbagai sektor, baik pendidikan, ekonomi, maupun sosial.

Pada akhirnya, keberhasilan pemerintah dalam menindak lebih dari 3 juta konten negatif, terutama yang berkaitan dengan judi daring, bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari gerakan kolektif menuju ruang digital yang lebih bersih dan beretika. Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi juga ikut berperan aktif dalam melaporkan dan menolak setiap bentuk konten negatif yang ditemukan. Kesadaran kolektif dan kepedulian bersama merupakan kunci utama agar ruang digital Indonesia benar-benar menjadi ruang yang sehat, produktif, dan berdaya saing global.

*) Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik.

Bansos Jadi Bukti Nyata Negara Hadir Sejahterakan Masyarakat Papua

Oleh : Loa Murib

Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk di Tanah Papua. Melalui penyaluran bantuan sosial (bansos) yang masif dan merata hingga ke daerah-daerah pedalaman, negara membuktikan bahwa kesejahteraan masyarakat Papua menjadi bagian penting dari agenda pembangunan nasional. Bansos tidak hanya berfungsi sebagai instrumen penanggulangan kemiskinan, tetapi juga menjadi wujud nyata kehadiran negara dalam memperkuat fondasi ekonomi masyarakat di wilayah paling timur Indonesia.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa pemerintah menargetkan seluruh bansos triwulan IV tahun 2025 tuntas disalurkan pada November mendatang. Hingga akhir Oktober, lebih dari 14 juta keluarga penerima manfaat di seluruh Indonesia telah menerima haknya, termasuk masyarakat di Papua. Menurutnya, proses penyaluran dilakukan melalui mekanisme yang transparan dan akuntabel, baik lewat rekening bank maupun kantor pos, dengan memastikan setiap penerima manfaat diverifikasi kelayakannya secara ketat. Pemerintah juga melakukan penambahan penerima baru sebanyak lebih dari 500 ribu keluarga untuk memastikan tidak ada masyarakat rentan yang terlewat dari jangkauan bantuan.

Langkah strategis tersebut juga tercermin dari upaya konkret yang dilakukan pemerintah daerah di Papua. Di Kabupaten Deiyai, Dinas Sosial menggandeng PT Pos Indonesia untuk menyalurkan bantuan sosial sembilan bahan pokok (Bansos Sembako) dan Program Keluarga Harapan (PKH) tahap III senilai Rp13 miliar. Kepala Dinas Sosial Deiyai, Yulita Bidau Mote, menjelaskan bahwa dana bantuan tersebut dialokasikan untuk tiga program utama, yakni pemberdayaan masyarakat, bantuan kesehatan, serta peningkatan kesejahteraan sosial. Dari total anggaran, sebesar Rp3 miliar digunakan untuk pemberdayaan masyarakat melalui bantuan tunai, sementara Rp10 miliar difokuskan pada program PKH dan penanganan keluarga miskin.

Pemerintah daerah Deiyai memberikan apresiasi terhadap langkah cepat dan terukur ini. Asisten I Setda Kabupaten Deiyai, Simon Mote, menilai bahwa upaya Dinas Sosial telah memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat di tingkat kampung. Ia juga menekankan pentingnya pengawasan distribusi agar bansos benar-benar diterima oleh warga yang membutuhkan, sesuai dengan misi pemerintah daerah dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat di wilayah-wilayah seperti Daba, Miyaa, dan Dobiyo. Penyaluran bantuan dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, tokoh adat, hingga aparat keamanan, sebagai bentuk transparansi dan kolaborasi lintas sektor dalam pelaksanaan program kesejahteraan.

Sementara itu, penyaluran bantuan serupa juga berlangsung di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Sebanyak 25.686 warga di 51 distrik dan 517 kampung menerima bantuan sosial dari Kementerian Sosial melalui program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan PKH tahap III dengan total dana mencapai Rp26,6 miliar. Kepala Kantor Pos Cabang Dekai, Gad Munwo, menjelaskan bahwa penyaluran dilakukan secara simbolis kepada perwakilan kepala distrik dan kepala suku, mengingat tantangan geografis yang sangat berat di wilayah pegunungan Yahukimo. Sebagian besar wilayah hanya dapat dijangkau dengan transportasi udara, sementara beberapa distrik lain terletak di daerah rawa dan lembah yang memerlukan akses melalui jalur darat dan sungai.

Asisten I Setda Kabupaten Yahukimo, Bongga Sumule, menyampaikan bahwa program bansos tersebut menjadi bukti kehadiran nyata pemerintah pusat di tengah masyarakat pegunungan Papua yang selama ini menghadapi kesulitan ekonomi dan keterbatasan akses logistik. Ia berharap agar proses penyaluran dapat berjalan tertib dan tepat sasaran sehingga manfaat bantuan benar-benar dirasakan oleh masyarakat di akar rumput. Kepala Dinas Sosial Yahukimo, Lintikon Kenanggalem, juga menekankan pentingnya sinergi antara aparat distrik dan pendamping sosial dalam memastikan penyaluran bantuan berjalan sesuai ketentuan, serta berharap ke depan bantuan dapat langsung menjangkau kampung-kampung di wilayah terpencil.

Program bansos di Papua bukan hanya sekadar bentuk bantuan finansial, melainkan juga bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat ketahanan sosial, menurunkan angka kemiskinan, dan meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan adanya Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), banyak keluarga yang kini lebih mampu memenuhi kebutuhan dasar, terutama pendidikan dan gizi anak. Program ini juga memiliki efek domino terhadap stabilitas sosial, karena mendorong masyarakat untuk lebih produktif dan memperkuat ikatan sosial antarwarga di daerah-daerah terpencil.

Kehadiran negara melalui kebijakan sosial seperti bansos memiliki arti penting dalam konteks pembangunan Papua. Di tengah tantangan geografis, keterbatasan infrastruktur, dan tingkat kemiskinan yang masih relatif tinggi, program ini menjadi jembatan untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dari arus pembangunan nasional. Pemerintah melalui Kementerian Sosial berupaya mengefektifkan proses verifikasi data penerima manfaat agar penyaluran bansos di Papua lebih tepat sasaran dan berkeadilan.
Bansos yang tersalurkan di berbagai wilayah Papua membuktikan bahwa pemerintah tidak hanya hadir secara simbolik, tetapi benar-benar bekerja untuk kesejahteraan rakyat. Langkah kolaboratif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga pelaksana seperti PT Pos Indonesia memperlihatkan sinergi yang kuat dalam memastikan pelayanan publik berjalan efektif. Komitmen ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir, tidak membeda-bedakan wilayah, dan memberikan perhatian yang setara bagi seluruh anak bangsa.

Ke depan, keberlanjutan program bansos di Papua diharapkan semakin berdampak luas, tidak hanya dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga pemberdayaan produktif yang mampu meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat lokal. Dengan semangat pemerataan pembangunan dan keadilan sosial, program bansos menjadi fondasi penting untuk membangun Papua yang lebih sejahtera, berdaya saing, dan mandiri, sejalan dengan cita-cita besar Indonesia yang adil dan makmur bagi seluruh rakyatnya.

*Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur

Bansos Pemerintah Hadirkan Harapan Baru bagi Kesejahteraan Masyarakat Papua

Oleh : Yohanes Wandikbo )*

Pemerintah terus menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan di Tanah Papua melalui penyaluran berbagai program bantuan sosial (bansos). Langkah ini menjadi wujud nyata dari komitmen pemerintah untuk memastikan tidak ada satu pun warga yang tertinggal dari arus pembangunan nasional. Melalui pendekatan yang inklusif dan humanis, bantuan sosial kini menjangkau daerah-daerah paling terpencil sekalipun, membawa harapan baru bagi masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan infrastruktur dan akses ekonomi.

Di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, sebanyak 25.686 warga menerima bantuan sosial melalui program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan 112 keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) tahap III. Penyaluran tersebut dilakukan secara simbolis oleh Kantor Pos Cabang Dekai dengan nilai total mencapai Rp26,6 miliar. Dana tersebut disalurkan ke 51 distrik dan 517 kampung di wilayah Yahukimo, sebuah wilayah yang terkenal dengan medan geografisnya yang berat dan menantang.

Dalam hal ini, Asisten I Setda Yahukimo, Bongga Sumule, menyampaikan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah pusat yang mempercayakan Kantor Pos Dekai sebagai mitra utama dalam menyalurkan bantuan. Pemerintah daerah terus melakukan pengawasan langsung terhadap pelaksanaan program agar berjalan tepat sasaran. Upaya ini menunjukkan sinergi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat di Papua.

Kabupaten Yahukimo menjadi contoh nyata bagaimana tantangan geografis tidak menghalangi semangat pelayanan pemerintah kepada rakyatnya. Dari 51 distrik yang ada, 46 di antaranya berada di daerah pegunungan dan lereng yang hanya bisa dijangkau lewat udara. Meski demikian, semangat aparat pemerintah untuk memastikan setiap bantuan sampai ke tangan warga menjadi simbol kuat dari kehadiran negara di tengah masyarakat.

Perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan masyarakat Papua tidak berhenti di Yahukimo. Di Kota Jayapura, semangat gotong royong dan kepedulian sosial turut diperkuat melalui kegiatan berbagi paket sembako kepada ratusan warga Kampung Skouw Yambe. Bantuan tersebut diberikan secara langsung bertepatan dengan peringatan HUT Kampung Skouw Yambe ke-34.

Kepala Kantor Pos Cabang Dekai, Gad Munwo, menegaskan bahwa proses penyaluran bansos dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan koordinasi dengan para kepala distrik. Mengingat banyaknya wilayah di Yahukimo yang hanya dapat dijangkau melalui transportasi udara, peran kepala distrik menjadi krusial agar bantuan benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan. Pemerintah terus memastikan bahwa setiap mekanisme distribusi dilakukan secara transparan dan efisien demi menghindari kesenjangan penerimaan.

Ketua Badan Musyawarah Kampung Skouw Yambe, Selsius Patipeme, menilai kegiatan tersebut bukan sekadar penyaluran bantuan, tetapi juga simbol nyata dari kepedulian pemerintah terhadap masyarakat adat Papua. Program ini memperkuat rasa kebersamaan, menumbuhkan solidaritas sosial, serta menegaskan pentingnya semangat gotong royong sebagai bagian dari jati diri bangsa. Bagi masyarakat Papua, kehadiran pemerintah melalui program-program bansos menjadi bukti bahwa pembangunan tidak hanya dilihat dari infrastruktur, tetapi juga dari sisi kemanusiaan dan pemberdayaan sosial.

Di Kabupaten Deiyai, pemerintah juga menyalurkan bantuan sosial senilai Rp13 miliar yang mencakup program PKH dan program pemberdayaan masyarakat. Melalui program ini, warga mendapatkan dukungan finansial dan sosial untuk meningkatkan taraf hidup mereka, terutama kelompok rentan seperti ibu hamil, anak sekolah, dan lansia. Pemerintah berkomitmen agar setiap bantuan sosial tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga mampu membangun kemandirian ekonomi masyarakat dalam jangka panjang.

Upaya pemerintah dalam menyalurkan bansos di Papua sejatinya tidak hanya berorientasi pada distribusi dana, melainkan juga pada pembangunan kepercayaan dan rasa keadilan di tengah masyarakat. Dengan menghadirkan layanan langsung ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau, pemerintah menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh kesejahteraan.

Program bansos juga menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas sosial di Papua. Ketika kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, potensi konflik sosial dapat ditekan, dan ruang kolaborasi antarwarga terbuka lebih luas. Pemerintah berharap, dengan bantuan sosial yang terus berlanjut, masyarakat Papua dapat semakin produktif dalam mengelola potensi lokal mereka, baik di bidang pertanian, perdagangan, maupun industri kecil.

Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal, berbagai program kesejahteraan di Papua kini bergerak ke arah yang lebih terintegrasi. Bantuan sosial bukan lagi sekadar respons terhadap kesulitan ekonomi, melainkan bagian dari strategi pembangunan nasional yang menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan.

Kebijakan bansos di Papua juga memiliki makna strategis dalam konteks pembangunan Indonesia Emas 2045. Ketika seluruh daerah, termasuk Papua, dapat merasakan kehadiran negara melalui kebijakan sosial yang adil dan berkelanjutan, maka fondasi bagi keadilan sosial dan kemakmuran nasional semakin kuat.

Dengan semangat gotong royong dan keberpihakan kepada masyarakat kecil, pemerintah membuktikan bahwa komitmen terhadap kesejahteraan rakyat bukan sekadar janji, melainkan tindakan nyata. Program bantuan sosial yang terus digulirkan di Papua adalah wujud kehadiran negara untuk membangun keadilan, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan harapan baru bagi masa depan Indonesia yang sejahtera dan berkeadilan.

)* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua

Pemerintah Perkuat Penyaluran Bansos di Papua: Sentuh Langsung Warga Hingga Kampung Terpencil

Kaimana – Pemerintah terus memperluas jangkauan penyaluran bantuan sosial (bansos) di Papua untuk memastikan bantuan menjangkau masyarakat hingga ke pelosok kampung.

Dalam sepekan terakhir, penyaluran berlangsung serentak di beberapa wilayah seperti Kaimana, Yahukimo, dan Jayapura melalui kerja sama antara pemerintah daerah, Dinas Sosial, aparat keamanan, dan Kantor Pos.

Di Kabupaten Kaimana, Papua Barat, Kantor Pos setempat mulai menyalurkan Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sembako kepada 4.044 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) sejak 28 hingga 31 Oktober 2025.

Kepala Kantor Pos Kaimana, Andit Darmawan, menjelaskan bahwa penyaluran dilakukan di wilayah kota dan sejumlah distrik secara serentak pada 31 Oktober, kecuali di Distrik Yamor yang dinilai kurang kondusif.

“Penyaluran dimulai sejak 28 Oktober dan akan berlangsung hingga 31 Oktober,” ujarnya di Kaimana, Kamis (30/10/2025).

Andit mengungkapkan bahwa jumlah penerima mengalami penurunan sekitar seribu KPM dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti penerima yang telah beralih ke sistem rekening bank, anggota keluarga yang diangkat menjadi ASN atau PPPK, serta terdeteksinya penerima yang terlibat judi online dan pinjaman daring.

“Data penerima berkurang sekitar seribuan. Ada yang dialihkan ke rekening bank, ada juga yang keluarganya sudah menjadi PNS atau PPPK sehingga tidak lagi memenuhi syarat,” jelasnya.

Di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, penyaluran bansos dilakukan melalui Dinas Sosial bekerja sama dengan Kantor Pos Cabang Yahukimo. Kegiatan ini dipusatkan di Kantor Distrik Dekai Kota dan melibatkan seluruh kepala distrik serta pendamping sosial dari 51 distrik dan 517 kampung.

Kepala Dinas Sosial Yahukimo, Lintikon Kenangalem, menegaskan bahwa bantuan harus disalurkan kepada penerima yang sah sesuai keputusan pemerintah daerah.

“Yang berhak terima adalah kepala distrik yang telah ditunjuk melalui SK PLT. Uang ini jangan dibawa lari tapi dibagikan kepada masyarakat di kampung masing-masing,” tegasnya.

Sementara di Jayapura, bansos disalurkan kepada ratusan warga Kampung Skouw Yambe, Distrik Muara Tami, pada 28 Oktober 2025 lalu. Penyaluran tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda dan HUT ke-34 Kampung Skouw Yambe.

Ketua Bamuskam Skouw Yambe, Selsius Patipeme, menyebut kegiatan itu sebagai wujud nyata kepedulian dan semangat persatuan di Papua.

Ia juga menegaskan dukungan terhadap empat program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo, yakni makan bergizi gratis, pemeriksaan kesehatan gratis, Koperasi Merah Putih, dan Sekolah Rakyat. #