Sekolah Rakyat Ditegaskan sebagai Investasi APBN untuk Putus Rantai Kemiskinan

Jakarta – Pemerintah secara nyata membuktikan komitmennya dalam menekan ketimpangan sosial melalui optimalisasi APBN. Menjadikan alokasi pendidikan sebagai investasi strategis, pemerintah pusat menghadirkan terobosan pro-rakyat melalui Program Sekolah Rakyat yang kini memasuki tahun pertama. Kebijakan ini menegaskan kehadiran negara untuk memastikan bahwa pendidikan berkualitas adalah hak fundamental yang dijamin sepenuhnya bagi rakyat kecil, bukan lagi sebuah kemewahan.

Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, menegaskan bahwa kebijakan ini lahir dari visi besar Presiden untuk membangun fondasi bangsa yang kuat.

“Sekolah Rakyat adalah wujud nyata kehadiran negara dalam memutus rantai kemiskinan struktural yang selama ini membelenggu masyarakat bawah. Ini bukan sekadar program bantuan, melainkan investasi sumber daya manusia yang dananya dialokasikan langsung dari APBN untuk masa depan bangsa,” ujar Dirgayuza.

Senada dengan hal tersebut, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyoroti capaian program ini yang telah memberikan dampak sosial secara langsung dan terukur dalam satu tahun terakhir.

“Satu tahun berjalan, Sekolah Rakyat telah membuktikan diri sebagai jalur baru yang sangat efektif untuk memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan. Kami di Kementerian Sosial melihat langsung bagaimana beban pengeluaran keluarga prasejahtera berkurang drastis karena pendidikan anak-anak mereka sepenuhnya ditanggung oleh negara,” ungkap Mensos.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan program pro-rakyat ini.

“Pendidikan dan kesejahteraan sosial adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Melalui Sekolah Rakyat, intervensi pemerintah menjadi sangat holistik, menjangkau kesejahteraan keluarga sekaligus memastikan pemenuhan nutrisi ilmu pengetahuan bagi generasi penerus,” paparnya.

Di tengah tantangan ekonomi global pada pertengahan 2026, komitmen pemerintah menjaga ketahanan APBN di sektor pendidikan dasar patut diapresiasi tinggi. Program Sekolah Rakyat tidak hanya terbukti ampuh sebagai penyangga sekaligus stimulus ekonomi di akar rumput, melainkan juga menjadi bukti nyata kerja keras dan tepat sasaran kabinet saat ini. Melalui kebijakan yang inklusif ini, masyarakat dapat memupuk optimisme tinggi bahwa pemerintah sedang merajut jalan terang menuju Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera, tanpa meninggalkan satu pun warga negaranya.*

KUR UMKM Jadi Jalan Kemerdekaan Modal bagi Pelaku Usaha Kecil

Oleh : Antonius Utomo

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi masyarakat, akses permodalan masih menjadi salah satu kunci utama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berkembang. Kehadiran Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi angin segar sekaligus jalan kemerdekaan modal bagi jutaan pelaku usaha kecil yang ingin memperluas bisnis, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan peluang baru di berbagai sektor ekonomi.

Bagi banyak pelaku UMKM, modal bukan hanya sekadar angka dalam rekening, melainkan energi penggerak untuk mewujudkan mimpi usaha. Mulai dari pedagang kecil, pengusaha kuliner rumahan, perajin lokal, petani, peternak, hingga pelaku ekonomi kreatif, membutuhkan dukungan pembiayaan yang mudah dijangkau agar mampu naik kelas. Melalui program KUR, pemerintah terus membuka ruang agar usaha produktif masyarakat mendapatkan akses pembiayaan dengan skema yang lebih terjangkau.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa Pemerintah akan terus memperkuat ekosistem pembiayaan UMKM agar semakin inklusif, mudah diakses, dan mampu menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini belum memperoleh akses pembiayaan formal.

Peran strategis KUR semakin terlihat dalam upaya memperkuat ekonomi nasional yang inklusif. Pemerintah terus mendorong agar pembiayaan produktif tidak hanya terkonsentrasi pada sektor besar, tetapi juga menjangkau masyarakat yang berada di lapisan ekonomi paling dekat dengan aktivitas sehari-hari. Data terbaru menunjukkan penyaluran KUR terus berjalan dengan capaian yang positif, mencerminkan tingginya kebutuhan dan kepercayaan pelaku UMKM terhadap program pembiayaan tersebut.

KUR hadir sebagai jembatan yang menghubungkan pelaku usaha kecil dengan peluang pertumbuhan. Dengan dukungan modal, pelaku UMKM dapat meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki kualitas produk, memperluas pemasaran, hingga memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Transformasi usaha kecil menjadi lebih modern dan kompetitif menjadi salah satu tujuan penting dari penguatan program pembiayaan pemerintah.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan bahwa Pemerintah tidak hanya memastikan akses pembiayaan bagi UMKM tetap tersedia, tetapi juga terus menyempurnakan berbagai skema Kredit Program agar semakin tepat sasaran, lebih inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan pelaku usaha di berbagai sektor. Melalui penguatan Kredit Program, kita ingin mendorong semakin banyak masyarakat yang naik kelas dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan usahanya.

Tidak hanya memberikan akses dana, keberadaan KUR juga membawa semangat pemberdayaan. Banyak pelaku usaha yang sebelumnya menjalankan bisnis dengan keterbatasan modal kini memiliki kesempatan untuk mengembangkan usaha secara lebih terencana. Tambahan modal dapat digunakan untuk membeli bahan baku, memperbarui peralatan produksi, menambah tenaga kerja, hingga memperkuat strategi pemasaran.

Pemerintah menempatkan UMKM sebagai fondasi penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dukungan terhadap sektor ini terus diperkuat melalui berbagai kebijakan, termasuk pengembangan ekosistem pembiayaan yang lebih inklusif. Penguatan KUR menjadi bagian dari langkah memperluas akses kredit bagi usaha produktif sekaligus mendorong masyarakat agar mampu menciptakan nilai ekonomi secara mandiri.

Bagi pelaku usaha kecil, kemudahan akses modal memberikan arti besar. Banyak usaha yang memiliki potensi berkembang, namun terkendala keterbatasan dana untuk melakukan ekspansi. Melalui KUR, peluang tersebut semakin terbuka karena pelaku usaha memiliki kesempatan mendapatkan pembiayaan untuk mempercepat pertumbuhan bisnisnya.

Keberhasilan KUR juga tidak hanya diukur dari jumlah dana yang tersalurkan, tetapi dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat. Ketika usaha kecil tumbuh, manfaatnya ikut bergerak ke berbagai sektor. Produksi meningkat, lapangan kerja bertambah, aktivitas ekonomi daerah semakin hidup, dan daya saing produk lokal semakin kuat.

Dalam beberapa tahun terakhir, UMKM Indonesia menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Banyak pelaku usaha mampu bertahan dan bangkit dengan memanfaatkan berbagai peluang baru, termasuk perdagangan digital dan perubahan pola konsumsi masyarakat. Dukungan permodalan seperti KUR menjadi salah satu faktor yang membantu mereka memperkuat fondasi usaha dan mengambil langkah lebih besar.

Ke depan, KUR diharapkan terus menjadi instrumen yang mendorong lahirnya lebih banyak wirausaha tangguh di Indonesia. Dengan kombinasi antara akses pembiayaan, peningkatan kapasitas usaha, pendampingan, serta pemanfaatan teknologi, UMKM memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan ekonomi yang semakin mandiri.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar mengatakan Bapak Presiden akan terus memberikan perhatian serius kepada UMKM dan ekonomi kreatif kita. Semua program-program yang sudah dicanangkan dan dijalankan oleh Kemenko beserta kementerian-kementerian itu akan terus dilanjutkan. Terutama untuk UMKM, akan mendorong dan terus meminta, memerintahkan kepada jajaran kementerian dan lembaga agar terus memfasilitasi UMKM kita untuk tumbuh dan mendapatkan fasilitas.

KUR bukan sekadar fasilitas pinjaman, melainkan simbol keberpihakan terhadap perjuangan pelaku usaha kecil. Program ini menjadi bukti bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dibangun dari bawah, dari tangan para pengusaha kecil yang setiap hari menciptakan produk, membuka lapangan pekerjaan, dan menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Dengan semakin luasnya akses pembiayaan, pelaku UMKM kini memiliki kesempatan lebih besar untuk mewujudkan cita-cita usaha mereka. KUR menjadi jalan kemerdekaan modal, membuka pintu harapan baru, dan memperkuat langkah usaha kecil Indonesia menuju masa depan yang lebih maju dan berdaya saing.

)* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik

Bebas Agunan Tambahan, KUR UMKM Membuka Jalan Usaha Kecil Naik Kelas

Oleh : Naya Santika

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah lama menjadi fondasi utama perekonomian nasional. Ketika berbagai sektor menghadapi tekanan akibat dinamika ekonomi global, UMKM tetap menunjukkan daya tahan yang luar biasa dalam menjaga aktivitas produksi, menyerap tenaga kerja, serta menggerakkan ekonomi hingga ke pelosok daerah. Namun demikian, tantangan klasik berupa keterbatasan akses pembiayaan masih menjadi hambatan bagi banyak pelaku usaha untuk mengembangkan kapasitas bisnisnya. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah yang menegaskan bahwa Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan plafon hingga Rp100 juta tidak memerlukan agunan tambahan merupakan langkah strategis yang memperluas kesempatan bagi pelaku UMKM untuk berkembang dan naik kelas.

Kebijakan tersebut menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap pelaku usaha produktif yang selama ini belum memiliki akses terhadap pembiayaan komersial. Selama bertahun-tahun, banyak pelaku usaha kecil memiliki prospek usaha yang baik, tetapi terkendala persyaratan jaminan berupa sertifikat tanah, kendaraan, maupun aset lainnya. Padahal, sebagian besar pelaku usaha mikro hanya memiliki modal berupa keterampilan, pengalaman, serta usaha yang telah berjalan. Dengan menghapus kewajiban agunan tambahan untuk pinjaman KUR hingga Rp100 juta, pemerintah membuka ruang yang lebih luas agar pembiayaan benar-benar dapat diakses oleh masyarakat yang membutuhkan modal untuk mengembangkan usahanya.

Kebijakan tersebut juga mempertegas bahwa agunan pokok dalam skema KUR adalah usaha yang dibiayai beserta kemampuan debitur dalam mengembalikan pinjaman. Artinya, pemerintah mengedepankan pendekatan yang lebih inklusif dengan menilai kelayakan usaha dibandingkan semata-mata kepemilikan aset. Pendekatan seperti ini memberikan kesempatan yang lebih adil bagi pelaku UMKM pemula maupun usaha yang sedang berkembang untuk memperoleh akses pembiayaan resmi dengan bunga yang terjangkau.

Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM Riza Damanik menegaskan bahwa sesuai Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat, pinjaman KUR hingga Rp100 juta tidak dikenakan agunan tambahan dalam bentuk apa pun tanpa pengecualian. Ia juga menekankan bahwa masyarakat tidak perlu menggunakan jasa perantara ataupun membayar biaya tertentu dalam proses pengajuan KUR. Penegasan tersebut menjadi pesan penting bahwa seluruh proses penyaluran KUR harus berlangsung secara transparan, mudah, dan bebas dari praktik percaloan maupun pungutan yang merugikan masyarakat.

Komitmen pemerintah menjaga integritas program KUR juga terlihat dari dorongan agar masyarakat aktif melaporkan setiap dugaan penyimpangan dalam penyaluran pembiayaan. Langkah ini mencerminkan keseriusan pemerintah memastikan manfaat KUR benar-benar diterima oleh pelaku usaha yang berhak tanpa dibebani praktik yang bertentangan dengan ketentuan. Pengawasan yang kuat menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program pembiayaan yang telah menjadi salah satu instrumen utama penguatan ekonomi kerakyatan.

Dampak positif kebijakan tersebut mulai terlihat dari meningkatnya penyaluran KUR di berbagai daerah. Di kawasan Papua Barat dan Papua Barat Daya misalnya, pemerintah melalui program KUR telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp387,54 miliar hingga semester pertama tahun 2026 kepada 5.932 pelaku UMKM. Angka tersebut menunjukkan bahwa akses pembiayaan semakin menjangkau pelaku usaha di wilayah timur Indonesia yang selama ini menghadapi tantangan geografis maupun keterbatasan akses terhadap lembaga keuangan.

Kepala Bidang Pembinaan dan Pelaksanaan Anggaran II Direktorat Jenderal Perbendaharaan Papua Barat Guntur Supriyanto menyampaikan bahwa KUR merupakan instrumen pemerintah untuk memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM memperoleh modal kerja maupun investasi melalui subsidi bunga. Menurutnya, peningkatan akses pembiayaan diharapkan mampu memperbesar kapasitas usaha, meningkatkan daya saing produk lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan KUR tidak hanya diukur dari besarnya dana yang disalurkan, tetapi juga dari dampaknya terhadap peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.

Dominasi penyaluran KUR pada sektor perdagangan besar dan eceran menunjukkan bahwa pembiayaan pemerintah mampu menjaga aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari. Namun, peluang pengembangan masih sangat terbuka pada sektor pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan, industri pengolahan, maupun ekonomi kreatif yang memiliki potensi besar dalam menciptakan nilai tambah. Optimalisasi penyaluran KUR kepada sektor-sektor produktif akan memperkuat struktur ekonomi nasional yang lebih berdaya saing sekaligus mengurangi ketimpangan pembangunan antarwilayah.

Ke depan, keberhasilan program KUR tidak hanya bergantung pada besarnya alokasi anggaran, tetapi juga pada kualitas pendampingan kepada pelaku UMKM. Akses pembiayaan yang lebih mudah perlu diikuti dengan peningkatan literasi keuangan, digitalisasi usaha, inovasi produk, perluasan pasar, hingga kemampuan manajemen usaha. Dengan demikian, pembiayaan yang diterima tidak sekadar menjadi tambahan modal, melainkan menjadi investasi yang mampu meningkatkan skala usaha secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, kebijakan KUR tanpa agunan tambahan hingga Rp100 juta merupakan bukti nyata keberpihakan pemerintah terhadap ekonomi kerakyatan. Kebijakan ini menghadirkan kesempatan yang lebih luas bagi jutaan pelaku UMKM untuk memperoleh modal usaha tanpa terbebani persyaratan aset yang selama ini menjadi hambatan. Jika implementasinya terus dijaga secara konsisten, transparan, dan tepat sasaran, KUR akan menjadi salah satu instrumen paling efektif dalam mendorong UMKM Indonesia naik kelas, memperkuat daya saing nasional, menciptakan lapangan kerja baru, serta mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
*Penulis adalah Pengamat Ekonomi

HUT Ke-81 RI, Pemerintah Perkuat KUR untuk Dorong UMKM Naik Kelas

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai instrumen utama memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Memasuki momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, penguatan KUR diharapkan mampu mendorong semakin banyak UMKM naik kelas, meningkatkan produktivitas usaha, serta memperkuat perekonomian rakyat di berbagai daerah.

Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Damanik menegaskan bahwa pengajuan KUR dengan plafon hingga Rp100 juta tidak dikenakan agunan tambahan. Ketentuan tersebut telah diatur dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pedoman Pelaksanaan KUR sebagai upaya memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha produktif yang belum memiliki akses ke kredit komersial.

“Sesuai Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat, pinjaman KUR hingga Rp100 juta tidak dikenakan agunan tambahan dalam bentuk apa pun tanpa pengecualian,” ujar Riza.

Riza juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan jasa perantara maupun membayar biaya apa pun dalam proses pengajuan KUR. Menurutnya, calon penerima cukup menggunakan agunan pokok berupa usaha yang dibiayai melalui KUR, sedangkan agunan tambahan hanya dapat diberlakukan untuk pinjaman di atas Rp100 juta sesuai ketentuan yang berlaku.

Ia pun mengajak masyarakat melaporkan apabila menemukan penyimpangan, termasuk praktik percaloan maupun pungutan liar, demi menjaga integritas program pemerintah tersebut.

“KUR merupakan salah satu program strategis pemerintah untuk memperkuat ekonomi rakyat melalui dukungan pembiayaan kepada usaha-usaha produktif yang belum memiliki agunan tambahan,” ungkapnya.

Komitmen pemerintah memperluas akses pembiayaan juga tercermin dari penyaluran KUR di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Kepala Bidang Pembinaan dan Pelaksanaan Anggaran II Ditjen Perbendaharaan Negara (DJPb) Kementerian Keuangan Papua Barat Guntur Supriyanto menyebut hingga semester I 2026, penyaluran KUR di kedua provinsi telah mencapai Rp387,54 miliar kepada 5.932 debitur UMKM.

“Hingga Juni 2026, penyaluran KUR di Regional Papua Barat mencapai Rp387,54 miliar dengan 5.932 debitur,” ujar Guntur.

Menurut Guntur, tingginya penyaluran KUR menunjukkan semakin luasnya akses pembiayaan bagi pelaku usaha produktif. Program subsidi bunga tersebut diharapkan mampu memperbesar kapasitas usaha, meningkatkan daya saing produk lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Pemerintah juga menargetkan penyaluran KUR pada semester II 2026 semakin meningkat, terutama bagi UMKM yang bergerak di sektor-sektor produktif.

“Optimalisasi penyaluran KUR pada semester II diharapkan semakin meningkat, terutama bagi pelaku UMKM yang bergerak di sektor produktif,” pungkas Guntur. (*)

Kemerdekaan Ekonomi UMKM Diperkuat lewat KUR Tanpa Agunan Tambahan

Jakarta – Kemerdekaan ekonomi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus diperkuat melalui kemudahan akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan bahwa pengajuan KUR dengan plafon hingga Rp100 juta tidak dikenakan agunan tambahan. Kebijakan tersebut diharapkan semakin mendorong pelaku UMKM mengembangkan usaha produktif sekaligus memperluas akses pembiayaan yang inklusif.

Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Damanik, mengatakan masyarakat tidak perlu menggunakan jasa perantara maupun membayar biaya apa pun dalam proses pengajuan KUR. Menurutnya, ketentuan tersebut telah diatur dalam Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat.

“Sesuai Pedoman Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat, pinjaman KUR hingga Rp100 juta tidak dikenakan agunan tambahan dalam bentuk apa pun tanpa pengecualian,” kata Riza Damanik.

Ia menjelaskan bahwa Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 1 Tahun 2026 mengatur KUR sebagai program untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha produktif yang belum memperoleh akses kredit komersial. Dalam pelaksanaannya, pinjaman hingga Rp100 juta cukup menggunakan agunan pokok berupa usaha yang dibiayai melalui KUR.

“KUR merupakan salah satu program strategis pemerintah untuk memperkuat ekonomi rakyat melalui dukungan pembiayaan kepada usaha-usaha produktif yang belum memiliki agunan tambahan,” ujarnya.

Dalam menjaga integritas program, Kementerian UMKM juga mengimbau masyarakat melaporkan dugaan penyimpangan dalam penyaluran KUR, termasuk permintaan agunan tambahan, pungutan biaya, maupun praktik percaloan. Setiap laporan akan ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku guna memastikan penyaluran KUR berjalan tepat sasaran.

Sementara itu, Direktur Consumer Banking Bank Mandiri, Saptari, mengatakan penyaluran KUR merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi nasional melalui dukungan kepada pelaku UMKM.

“Kami ingin pelaku UMKM merasakan kemudahan, baik dari sisi akses pembiayaan maupun pendampingan agar usaha mereka naik kelas. Ini juga peran kami sebagai mitra usaha jangka panjang,” ujar Saptari.

Bank Mandiri telah menyalurkan KUR kepada 116 ribu debitur baru atau 52,51 persen dari target tahun ini. Secara kumulatif sejak 2008 hingga 30 Juni 2026, penyaluran KUR Bank Mandiri telah mencapai Rp324,65 triliun kepada sekitar 3,75 juta debitur. Sinergi antara Kementerian UMKM dan sektor perbankan tersebut menjadi fondasi penting dalam memperkuat kemerdekaan ekonomi UMKM melalui akses pembiayaan yang semakin mudah, inklusif, dan berkelanjutan.

Pengelolaan Air Terpadu, Jawaban atas Ancaman Kekeringan Nasional

Oleh: Satria Putra )*

Ancaman kekeringan kembali menjadi perhatian serius seiring meluasnya musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena El Nino yang menguat memperbesar risiko berkurangnya ketersediaan air, mengganggu aktivitas pertanian, hingga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan.

Peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa musim kemarau terus meluas hingga akhir Juli 2026. Hasil pemantauan Dasarian II Juli mencatat sebanyak 509 Zona Musim atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Pada saat yang sama, curah hujan kategori rendah mendominasi lebih dari 92 persen wilayah, sedangkan wilayah dengan curah hujan tinggi hanya tersisa kurang dari satu persen.

Dominasi kondisi kering itu turut tercermin dari sifat hujan yang sebagian besar berada di bawah kondisi normal. Situasi tersebut menjadi indikator bahwa tekanan terhadap sumber daya air semakin besar, terutama pada daerah yang selama ini bergantung pada curah hujan untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun irigasi pertanian.

Dampak musim kemarau mulai terlihat di sejumlah daerah. Laporan kekeringan muncul di beberapa wilayah Jawa Tengah, sementara kebakaran hutan dan lahan mulai terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, serta Sulawesi Selatan. Perkembangan itu memperlihatkan bahwa ancaman kekeringan tidak lagi bersifat prediksi, melainkan telah dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

BMKG juga mengingatkan bahwa berkurangnya ketersediaan air berpotensi memicu berbagai persoalan lanjutan, mulai dari meningkatnya titik panas hingga risiko kebakaran pada lahan yang mudah terbakar. Meski hujan lebat masih berpeluang terjadi secara lokal akibat dinamika atmosfer, kondisi tersebut belum cukup untuk mengubah dominasi musim kemarau yang sedang berlangsung.

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif dengan mengoptimalkan seluruh infrastruktur pengelolaan air yang telah dibangun. Upaya ini dilakukan agar distribusi air tetap berjalan selama musim kemarau dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.

Salah satu kekuatan utama yang disiapkan ialah optimalisasi 10.789 sumur bor dengan kapasitas lebih dari 114.000 meter kubik per detik. Keberadaan sumur bor menjadi solusi penting terutama di wilayah yang sulit memperoleh pasokan air permukaan ketika debit sungai mengalami penurunan akibat musim kemarau berkepanjangan.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa pembangunan dan pengelolaan infrastruktur air merupakan fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Menurut Dody, pembangunan bendungan, bendung, embung, hingga waduk terus dipercepat karena keberadaannya sangat penting dalam menjamin ketersediaan air irigasi, menjaga produktivitas lahan, serta memastikan pasokan pangan tetap terpelihara meskipun menghadapi tantangan musim kemarau maupun perubahan iklim.

Selain memperkuat infrastruktur fisik, Kementerian PU juga mengoptimalkan pola operasi bendungan dan jaringan irigasi. Pengaturan distribusi air dilakukan secara lebih efisien agar setiap wilayah memperoleh pasokan sesuai kebutuhan tanpa menguras cadangan air secara berlebihan.

Pengelolaan irigasi yang terencana memiliki arti penting bagi sektor pertanian. Pasokan air yang stabil memungkinkan petani tetap melakukan budidaya tanaman pada musim kemarau sehingga risiko penurunan produksi dapat ditekan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga kesinambungan produksi pangan nasional.

Pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan juga dilakukan sebagai dasar penyusunan langkah penanganan yang lebih cepat. Dengan mengetahui daerah-daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, pemerintah dapat mengerahkan sumber daya secara lebih tepat sasaran sebelum kondisi berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

Dukungan peralatan lapangan turut dipersiapkan untuk mempercepat respons ketika terjadi kekurangan air. Kementerian PU telah menyiapkan 125 unit mobile pump, 921 pompa alkon, serta 49 mesin bor yang dapat segera didistribusikan ke wilayah terdampak.

Dody Hanggodo menjelaskan secara tidak langsung bahwa seluruh peralatan tersebut dipersiapkan untuk membantu daerah yang mengalami krisis air bersih maupun kekeringan berkepanjangan. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai langkah-langkah adaptasi selama musim kemarau agar dampak yang muncul dapat diminimalkan.

Koordinasi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian PU juga terus dilakukan untuk memastikan sistem pengairan menuju sawah tetap berjalan. Sinergi antarlembaga menjadi penting karena pengelolaan sumber daya air membutuhkan keterpaduan mulai dari penyediaan infrastruktur hingga distribusi air di tingkat lahan.

Direktur Jenderal Lahan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto, menyampaikan secara tidak langsung bahwa pihaknya telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan, terutama di Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan. Pemetaan itu menjadi dasar penyusunan langkah penanganan yang lebih cepat melalui koordinasi lintas instansi.

Hermanto juga menjelaskan bahwa konsolidasi terus dilakukan agar respons di lapangan dapat berlangsung lebih sigap apabila kekeringan semakin meluas. Pendekatan tersebut menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan sebelum kondisi darurat benar-benar terjadi.

Penguatan sumur bor, bendungan, dan jaringan irigasi menjadi investasi strategis dalam menghadapi musim kemarau yang semakin dipengaruhi perubahan iklim. Infrastruktur yang dikelola secara optimal tidak hanya menjaga ketersediaan air bersih, tetapi juga melindungi produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, dan mengurangi dampak sosial maupun ekonomi akibat kekeringan.

Dengan langkah antisipatif yang dilakukan sejak dini, risiko kekeringan dapat ditekan sehingga masyarakat memiliki daya tahan yang lebih baik menghadapi musim kemarau yang terus meluas.

*) Peneliti Kebijakan Pembangunan

Infrastruktur Air Jadi Pilar Ketahanan Nasional Hadapi Kemarau dan Perubahan Iklim

Oleh: Nabila Pratiwi )*

Ketersediaan air menjadi salah satu faktor yang menentukan ketahanan suatu negara ketika menghadapi musim kemarau dan perubahan iklim. Fenomena El Nino yang memengaruhi penurunan curah hujan memperbesar risiko kekeringan di berbagai daerah sehingga keberadaan infrastruktur sumber daya air semakin vital.

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum menempatkan pengelolaan infrastruktur air sebagai langkah strategis untuk mengantisipasi dampak musim kemarau. Berbagai upaya dilakukan agar distribusi air tetap berjalan meskipun curah hujan menurun akibat pengaruh El Nino. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada penanganan jangka pendek, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan ketahanan air nasional menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata.

Optimalisasi 10.789 sumur bor dengan kapasitas lebih dari 114 ribu meter kubik per detik menjadi salah satu langkah yang diprioritaskan. Sumur bor berperan sebagai sumber pasokan alternatif ketika debit sungai maupun tampungan air permukaan mengalami penurunan. Kehadiran fasilitas tersebut sangat membantu daerah yang rentan mengalami kekurangan air, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun aktivitas pertanian.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur pengelolaan air terus menjadi komitmen pemerintah. Menurutnya, keberadaan bendungan, bendung, embung, dan waduk memiliki fungsi penting dalam mendukung ketersediaan air irigasi, menjaga produktivitas lahan pertanian, serta memastikan pasokan pangan tetap terpelihara meskipun menghadapi tantangan musim kemarau maupun perubahan iklim.

Pengelolaan infrastruktur tidak berhenti pada pembangunan fisik. Kementerian PU juga mengatur pola operasi bendungan dan jaringan irigasi agar distribusi air berlangsung lebih efisien. Pengaturan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan setiap wilayah sehingga pemanfaatan air dapat berlangsung secara seimbang tanpa mengurangi cadangan yang tersedia.

Persiapan menghadapi kondisi darurat turut diperkuat melalui penyediaan berbagai peralatan pendukung. Kementerian PU telah menyiagakan 125 unit mobile pump, 921 pompa alkon, dan 49 mesin bor yang dapat segera dikerahkan ke wilayah yang mengalami krisis air. Kesiapan peralatan itu mempercepat respons pemerintah ketika kekeringan mulai mengganggu aktivitas masyarakat.

Strategi jangka panjang pemerintah juga tercermin dari kapasitas infrastruktur yang telah tersedia saat ini. Kementerian PU mengelola 240 bendungan dengan kapasitas tampung mencapai 7,89 miliar meter kubik. Selain itu terdapat 601 situ dan danau yang memiliki volume tampungan sekitar 135,59 miliar meter kubik serta lebih dari seribu tampungan air baku yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Penguatan ketahanan air juga memperoleh dukungan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Lembaga tersebut melaksanakan operasi modifikasi cuaca sebagai langkah menjaga pasokan air di sejumlah wilayah yang diperkirakan mengalami penurunan curah hujan akibat El Nino.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa berkurangnya curah hujan dapat mengurangi pasokan air yang masuk ke waduk. Padahal, waduk memiliki fungsi penting sebagai penyedia air baku, penunjang irigasi pertanian, serta sumber energi bagi pembangkit listrik tenaga air.

Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca telah dilakukan di sejumlah wilayah strategis. Tri Handoko Seto menerangkan bahwa kegiatan tersebut diarahkan pada kawasan tangkapan air yang menopang kebutuhan energi dan pertanian, termasuk Danau Toba di Sumatera Utara, Danau Poso di Sulawesi Tengah, serta Daerah Aliran Sungai Citarum di Jawa Barat.

Pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca juga berperan dalam mitigasi kebakaran hutan dan lahan. Berkurangnya hujan menyebabkan lahan gambut kehilangan cadangan air sehingga menjadi lebih mudah terbakar. Melalui proses pembasahan kawasan gambut, kelembapan lahan dapat dipertahankan sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.

Sinergi antarkementerian turut diperkuat melalui program pompanisasi yang dijalankan Kementerian Pertanian. Program ini difokuskan pada lahan sawah yang masih memiliki akses terhadap sumber air seperti sungai, embung, waduk, maupun saluran irigasi sehingga air dapat dialirkan menuju area pertanian ketika curah hujan menurun.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa pompanisasi merupakan solusi cepat untuk menjaga pasokan air menuju sawah selama menghadapi ancaman El Nino. Pemerintah karena itu mempercepat distribusi pompa ke berbagai sentra produksi padi agar kegiatan budidaya tetap berlangsung.

Pada Tahun Anggaran 2026, Kementerian Pertanian menyiapkan 56 ribu unit pompa air. Sebagian telah disalurkan kepada daerah, sementara sisanya diproses sesuai kebutuhan yang diusulkan pemerintah daerah. Distribusi itu menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas produksi pangan nasional selama musim kemarau.

Amran juga menilai pengalaman menghadapi El Nino sebelumnya menunjukkan bahwa keberhasilan mempertahankan produksi pangan sangat ditentukan oleh ketersediaan air. Oleh sebab itu, program pompanisasi dipadukan dengan modernisasi pertanian melalui penyaluran traktor, rice transplanter, combine harvester, dan berbagai alat mesin pertanian lainnya untuk meningkatkan efisiensi usaha tani.

Kombinasi antara pembangunan bendungan, optimalisasi sumur bor, penguatan jaringan irigasi, operasi modifikasi cuaca, serta program pompanisasi menunjukkan bahwa pemerintah membangun sistem pengelolaan air secara terpadu. Pendekatan tersebut tidak hanya menjawab tantangan musim kemarau saat ini, tetapi juga memperkuat daya tahan Indonesia menghadapi perubahan iklim pada masa mendatang.

Infrastruktur air pada akhirnya menjadi benteng penting negara dalam menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat, melindungi sektor pertanian, dan memastikan ketahanan pangan tetap terpelihara di tengah dinamika iklim yang semakin kompleks.

*) Peneliti Bidang Infrastruktur dan Pembangunan

Pemerintah Optimalkan Bendungan, Embung, dan Waduk Hadapi Musim Kemarau

Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau dengan mengoptimalkan pemanfaatan bendungan, embung, waduk, bendung, hingga sumur bor guna menjaga ketersediaan air bagi masyarakat serta mendukung keberlangsungan sektor pertanian. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi nasional dalam memperkuat ketahanan air dan ketahanan pangan di tengah meningkatnya ancaman kekeringan akibat perubahan iklim maupun fenomena El Nino.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan bahwa pemerintah terus memperkuat pembangunan sekaligus pengelolaan infrastruktur sumber daya air agar distribusi air tetap terjaga selama musim kemarau.

“Kementerian PU terus berkomitmen membangun dan menyelesaikan infrastruktur pengelolaan air seperti bendungan, bendung, embung, hingga waduk di berbagai daerah. Kehadiran infrastruktur ini sangat penting untuk mendukung ketersediaan air irigasi pertanian, menjaga produktivitas lahan, serta memastikan pasokan pangan tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan musim kemarau atau perubahan iklim,” kata Dody.

Selain mengoptimalkan bendungan, embung, dan waduk, Kementerian PU juga memanfaatkan 10.789 sumur bor dengan kapasitas lebih dari 114 ribu meter kubik per detik untuk menjangkau wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Pemerintah turut mengatur pola operasi bendungan dan jaringan irigasi agar distribusi air berlangsung lebih efisien sesuai kebutuhan masyarakat maupun lahan pertanian.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan, Kementerian PU menyiapkan berbagai peralatan pendukung yang dapat segera dikerahkan ke daerah terdampak, meliputi 125 unit mobile pump, 921 pompa alkon, dan 49 mesin bor.

“Peralatan tersebut siap dikerahkan ke wilayah yang mengalami krisis air bersih maupun kekeringan berkepanjangan. Pemerintah juga terus mengedukasi masyarakat mengenai langkah-langkah adaptasi menghadapi musim kemarau,” ujar Dody.

Di sektor pertanian, pemerintah juga mendorong penerapan teknologi Irigasi Padi Hemat Air (IPHA) untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air tanpa mengurangi produktivitas tanaman. Bersamaan dengan itu, pembangunan jaringan irigasi, jaringan irigasi air tanah (JIAT), bendungan, dan sumur bor terus dipercepat sebagai upaya memperkuat ketahanan air nasional dalam jangka panjang.

Saat ini Kementerian PU mengelola 240 bendungan dengan kapasitas tampung sekitar 7,89 miliar meter kubik, 601 situ dan danau dengan volume tampungan sekitar 135,59 miliar meter kubik, serta lebih dari 1.000 tampungan air baku yang mendukung kebutuhan air masyarakat di berbagai daerah. Optimalisasi infrastruktur tersebut diharapkan mampu mengurangi dampak kekeringan, menjaga produktivitas pertanian, serta memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat sepanjang musim kemarau.

Pemerintah Perkuat Ketahanan Air Nasional untuk Jaga Pertanian Saat Kemarau

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat langkah-langkah strategis untuk menjaga ketahanan air nasional guna memastikan sektor pertanian tetap produktif di tengah musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino. Melalui sinergi antara Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah tidak hanya melakukan penanganan di wilayah terdampak kekeringan, tetapi juga memperkuat fondasi jangka panjang melalui riset dan inovasi teknologi air.

Sebagai bentuk respons terhadap kondisi tersebut, hingga akhir Juli 2026 Kementerian Pekerjaan Umum telah menangani 294 titik kekeringan di berbagai wilayah Indonesia. Penanganan itu mencakup 180 titik kekeringan di daerah irigasi yang menopang lahan pertanian serta 114 titik di kawasan permukiman yang mengalami keterbatasan pasokan air bersih.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan bahwa pemerintah kini memfokuskan penanganan pada pencarian sumber-sumber air baru, terutama air tanah, guna mendukung kebutuhan pertanian di wilayah yang mulai terdampak kekeringan.

“Yang kita kejar sekarang adalah sebanyak-banyaknya mendapatkan sumber air bawah tanah dan mengalirkannya ke sawah-sawah terdekat. Kita harus menjaga agar produktivitas petani tidak turun meskipun dalam kondisi kekeringan,” kata Dody.

Menurut Dody, optimalisasi sumber air bawah tanah menjadi langkah cepat untuk memastikan aktivitas pertanian tetap berjalan sehingga produksi pangan nasional dapat dipertahankan. Strategi tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.

Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan langkah jangka panjang melalui penguatan riset dan pengembangan teknologi air. Untuk itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan penelitian mengenai potensi sungai bawah tanah di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, sebagai tindak lanjut atas perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap penguatan ketahanan air nasional.

Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa lembaganya memprioritaskan penelitian untuk memahami karakteristik sungai bawah tanah sebagai landasan pengembangan teknologi pengelolaan sumber daya air yang lebih efektif dan berkelanjutan.

“Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk merumuskan agenda riset kita ke depan di bidang geologi, arah riset di bidang teknologi air, yang menunjang ketahanan air kita ke depan,” tutur Arif.

Sinergi antara penanganan di lapangan dan penguatan riset menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun sistem ketahanan air yang lebih tangguh. Melalui optimalisasi sumber daya air, penguatan infrastruktur pendukung, serta pengembangan inovasi berbasis riset, pemerintah berupaya menjaga produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tantangan musim kemarau dan perubahan iklim.

Pemerintah Perkuat Kopdes Merah Putih, Ribuan Manajer Siap Gerakkan Ekonomi Desa

JAKARTA – Pemerintah memperkuat langkah membangun ekonomi desa dengan menyiapkan ribuan manajer profesional untuk mengawal operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/KDKMP).

Sebanyak 28.629 manajer KDKMP yang telah lulus dari program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) akan ditempatkan di 1.021 koperasi yang telah beroperasi. Penempatan dilakukan seiring percepatan pembangunan koperasi yang menjadi salah satu program strategis pemerintah untuk memperkuat perekonomian desa.

Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota mengatakan para lulusan SPPI akan segera diterjunkan ke lokasi yang telah siap beroperasi.

“Jadi teman-teman yang sudah selesai dilatih ini akan segera kita deploy ke tempat-tempat yang sudah bisa operasi,” ujar Joao Angelo De Sousa Mota.

Joao menjelaskan, hingga Jumat (31/7) lalu, sebanyak 18.672 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih telah selesai dibangun, sedangkan 3.558 koperasi lainnya masih dalam tahap pembangunan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.021 koperasi telah mulai beroperasi dan menjadi lokasi awal penempatan para manajer lulusan SPPI.

Mekanisme penugasan juga telah disiapkan pemerintah. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Letnan Jenderal TNI Tri Budi Utomo mengatakan manajer Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih lulusan SPPI akan kembali ke daerah masing-masing untuk menjalankan penugasan selama dua tahun.

“Nanti akan ada pemanggilan yang langsung dilaksanakan oleh panitia pusat dan akan ada penempatan oleh panitia pusat ataupun nanti yang akan ditentukan oleh, dalam hal ini adalah dari BP BUMN,” ucap Tri Budi.

Sebagai informasi, Pemerintah menargetkan pembangunan 35.872 gedung Kopdes Merah Putih rampung pada Agustus 2026 dan mulai beroperasi pada September. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pembangunan dilakukan secara bertahap karena cakupan program yang sangat luas.

“Tahun ini targetnya 35.872 koperasi selesai. Kemudian, tahun depan akan dilanjutkan lagi, tidak mungkin sekaligus membangun 80.000 koperasi,” ujar Zulkifli.

Menurut Zulkifli, keberadaan Kopdes Merah Putih diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi desa melalui penciptaan lapangan kerja, penyerapan hasil pertanian dan perikanan, sekaligus menjadi sarana penyaluran berbagai bantuan pemerintah sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat desa.*