Kolaborasi Nasional Perkuat Sukses Program Apotek Desa

Jakarta – Dalam upaya meningkatkan akses pelayanan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah pedesaan, program Apotek Desa menjadi salah satu langkah strategis yang diusung pemerintah.

Program ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan obat-obatan esensial dan memberikan edukasi kesehatan langsung kepada masyarakat desa. Untuk menjamin keberlanjutan dan efektivitas program, pemerintah mendorong kolaborasi lintas sektor—melibatkan pusat, daerah, swasta, hingga komunitas lokal.
.
Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) mendukung program Apotek Desa yang digagas Presiden Prabowo. Apotek Desa dinilai dapat memberikan pelayanan kesehatan yang terjangkau hingga ke tingkat desa. Program Apotek Desa dituangkan dalam Inpres No. 9 tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

‘’Di dalam Inpres No. 9 tahun 2025 disebutkan, Koperasi Desa Merah Putih ini akan melaksanakan kegiatan antara lain berupa Apotek Desa/Kelurahan, yang akan tersebar di 80.000 desa/kelurahan di seluruh Indonesia,’’ kata Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) apt Noffendri Roestam, S.Si.

Menurut apt Noffendri Roetam, program Apotek Desa merupakan sebuah ide brilian, dalam upaya memberikan pelayanan kesehatan yang terjangkau hingga ke tingkat desa.

‘’Bagi IAI yang menjadi fokus perhatian kami adalah bagaimana Apotek Desa/Kelurahan ini nanti benar-benar dapat berjalan dengan baik, sehingga tujuan awalnya dapat tercapai. IAI menaruh perhatian penuh agar program ini dapat berjalan optimal dan berkelanjutan, sesuai arahan Presiden.,’’ ujar apt Noffendri Roestam.

Apt Noffendri Roestam menggarisbawahi solusi yang ditawarkan Menkes Budi Gunadi Sadikin sebagai sebuah ide yang cerdas.

‘’Menkes menegaskan, tidak perlu dibuat regulasi baru, cukup mengoptimalkan sarana yang sudah ada. Menurut Menkes ada 54.000 sarana kesehatan baik berupa Puskesmas, Puskesmas pembantu, dan Posyandu yang dapat diintegrasikan mendukung program Apotek Desa/Kelurahan ini. Tugas IAI adalah bagaimana menyiapkan tenaga apoteker untuk mendukung program ini,’’ ungkap apt Noffendri.

Melalui sinergi yang baik antar sektor, diharapkan Apotek Desa dapat menjadi garda terdepan dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang merata dan berkualitas di seluruh pelosok negeri. Kolaborasi bukan hanya menjadi pilihan, tetapi sebuah keharusan demi tercapainya tujuan besar: Indonesia sehat dari desa.

[edRW]

Pemerintah Pastikan Layanan Kesehatan Terjangkau bagi Rakyat Melalui Apotek Desa

Oleh: Nur Utunissa )*

Di tengah upaya pembangunan berkelanjutan yang menempatkan kesehatan masyarakat sebagai pilar utama, pemerintah Indonesia terus memperkuat komitmen untuk memastikan akses terhadap layanan kesehatan yang terjangkau dan merata. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah melalui pengembangan dan penguatan Apotek Desa. Program ini menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan pelayanan kesehatan hingga ke pelosok negeri, di mana akses terhadap fasilitas kesehatan sering kali menjadi kendala utama bagi masyarakat.

Apotek Desa bukan hanya sekadar tempat penyediaan obat-obatan. Lebih dari itu, kehadirannya mencerminkan transformasi sistem kesehatan yang inklusif dan berbasis komunitas. Di wilayah pedesaan, masyarakat selama ini menghadapi tantangan besar dalam mengakses obat-obatan bermutu dengan harga yang terjangkau. Jarak ke fasilitas kesehatan yang jauh, ketersediaan obat yang terbatas, serta harga yang kerap tidak bersahabat dengan kantong masyarakat kecil menjadi problematika nyata. Dalam konteks ini, Apotek Desa hadir sebagai solusi konkret untuk mendekatkan layanan farmasi kepada masyarakat secara langsung.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengatakan pembentukan klinik dan apotek desa/kelurahan ini sebagai salah satu upaya untuk memperkuat perekonomian desa dan meningkatkan akses pelayanan kesehatan masyarakat. Apotek desa akan menjalankan pelayanan standar meliputi pengelolaan serta pelayanan klinis, dengan memberikan konsultasi ataupun pemberian obat terkait obat-obat program seperti HIV, TB, Malaria dan program lainnya.

Selain itu, apotek desa dapat melakukan pengembangan layanan dengan memberikan pelayanan obat dan alat kesehatan komersial, seperti pemberian obat dengan resep dokter, obat bebas dan bebas terbatas, obat herbal, vitamin dan suplemen kesehatan, serta alat kesehatan sederhana (termometer, kasa, plester, dll).
Pemerintah secara bertahap telah memperluas cakupan Apotek Desa di berbagai wilayah, terutama di daerah-daerah dengan tingkat akses kesehatan yang rendah.

Tujuannya jelas: mendekatkan layanan, menurunkan biaya transportasi masyarakat ke fasilitas kesehatan kota, dan memastikan ketersediaan obat-obatan esensial. Apotek Desa umumnya dikelola oleh tenaga teknis kefarmasian yang memiliki kapasitas memadai dan berada di bawah pengawasan dinas kesehatan setempat. Hal ini memastikan bahwa pelayanan yang diberikan tetap berada dalam standar yang ditetapkan oleh otoritas kesehatan nasional.

Lebih dari sekadar penyediaan obat, Apotek Desa juga berfungsi sebagai pusat edukasi kesehatan bagi masyarakat. Masyarakat tidak hanya dapat membeli obat, tetapi juga memperoleh informasi yang benar mengenai penggunaan obat yang rasional, pencegahan penyakit, serta pentingnya menjaga pola hidup sehat. Dengan demikian, Apotek Desa ikut berperan dalam menciptakan masyarakat yang sehat secara fisik maupun pengetahuan.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes RI, L. Rizka Andalucia mengatakan terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan kementerian/lembaga terkait dalam melakukan pembinaan, pendampingan, dan fasilitasi termasuk penetapan kebijakan ini.

Apotek Desa juga menjadi instrumen penting dalam mewujudkan target pembangunan kesehatan nasional. Dalam konteks ini, Apotek Desa bukan hanya berfungsi sebagai perpanjangan tangan layanan kesehatan, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial dan budaya kesehatan di tingkat akar rumput.

Di banyak wilayah, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), Apotek Desa menjadi satu-satunya sumber utama layanan farmasi. Dalam kondisi geografis yang sulit dan minimnya infrastruktur kesehatan, Apotek Desa berperan vital dalam menjaga keberlangsungan hidup masyarakat. Obat-obatan seperti antibiotik, antihipertensi, dan penurun panas menjadi kebutuhan harian yang harus tersedia secara kontinyu. Oleh karena itu, pemerintah tidak hanya membangun Apotek Desa, tetapi juga menjamin rantai pasokan obat-obatan agar tidak terjadi kelangkaan yang merugikan masyarakat.

Selain itu, Apotek Desa juga menciptakan efek ekonomi positif di tingkat lokal. Keberadaan apotek ini membuka peluang kerja bagi tenaga kesehatan di desa-desa, dan pada saat yang sama mendorong perputaran ekonomi mikro. Dalam jangka panjang, Apotek Desa dapat menjadi bagian dari ekosistem kesehatan desa yang berkelanjutan, di mana desa tidak lagi menjadi objek pembangunan semata, tetapi juga pelaku aktif dalam menjaga dan meningkatkan kualitas hidup warganya.

Komitmen pemerintah untuk menjadikan pelayanan kesehatan sebagai hak dasar yang harus dipenuhi juga tercermin dari alokasi anggaran yang semakin meningkat untuk sektor kesehatan. Pemerintah daerah juga memiliki peran penting dalam mendukung keberlangsungan program ini, mulai dari penyediaan lahan, fasilitas, hingga tenaga kerja. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam memastikan bahwa Apotek Desa dapat berjalan optimal sesuai harapan.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengambil inspirasi dari sistem layanan kesehatan di India, khususnya dalam penyediaan apotek murah yang menjual obat generik secara luas dan terjangkau. Presiden mengatakan ingin masyarakat Indonesia memiliki akses Kkesehatan yang murah dan dekat.

Dengan kebijakan yang berpihak pada rakyat, pemerintah menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Melalui Apotek Desa, prinsip keadilan sosial dalam sektor kesehatan menjadi nyata. Setiap warga negara, tanpa memandang lokasi geografis atau status ekonomi, berhak atas layanan kesehatan yang layak dan terjangkau.

)* Penulis adalah Pegiat Literasi pada Narasi Nusa Institute

Komitmen Pemerintah Menjaga Keseimbangan Ekologis dan Investasi di Raja Ampat

Oleh : Rizky Pratama Nugraha )*

Isu pertambangan di Raja Ampat kembali menjadi p publerhatianik dalam beberapa pekan terakhir. Merespons perhatian masyarakat terhadap isu lingkungan, pemerintah menunjukkan kesigapan melalui serangkaian langkah preventif dan evaluatif. Keputusan menghentikan sementara aktivitas tambang, menyegel operasi ilegal, serta mengevaluasi izin usaha pertambangan mencerminkan kehati-hatian dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

Raja Ampat dikenal sebagai kawasan dengan nilai ekologis yang sangat tinggi. Selain menjadi destinasi wisata kelas dunia, wilayah ini juga merupakan rumah bagi berbagai spesies laut dan ekosistem yang belum banyak tersentuh. Keberadaannya bukan sekadar kebanggaan lokal, melainkan simbol kekayaan hayati Indonesia yang menjadi perhatian internasional. Dalam konteks ini, setiap aktivitas pembangunan di wilayah tersebut tentu memerlukan kehati-hatian ekstra.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional tambang nikel yang dilakukan PT Gag Nikel di Pulau Gag. Meskipun tambang berada cukup jauh dari kawasan wisata utama, pemerintah tetap memprioritaskan perlindungan ekologis melalui evaluasi lapangan. Oleh karena itu, keputusan untuk melakukan verifikasi lapangan sebelum melanjutkan aktivitas menunjukkan upaya serius menjaga integritas lingkungan.

Tindakan ini bukan bentuk penolakan terhadap investasi, melainkan bentuk pengelolaan risiko yang bijak. Aktivitas pertambangan merupakan bagian dari strategi pemanfaatan sumber daya alam nasional. Namun, keberlanjutan dan tata kelola lingkungan harus menjadi landasan utama dalam setiap keputusan. Maka, evaluasi menyeluruh terhadap izin usaha pertambangan (IUP) yang sedang dilakukan menjadi bagian penting dari penguatan sistem pengawasan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup juga telah melakukan pengawasan sejak akhir Mei. Fokusnya adalah menilai kembali persetujuan lingkungan dari perusahaan tambang terkait dan memastikan seluruh aktivitas sesuai dengan ketentuan hukum. Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, menyatakan bahwa pencabutan izin akan dilakukan bila ditemukan pelanggaran yang membahayakan ekosistem. Ini adalah sinyal bahwa prinsip kehati-hatian berjalan seiring dengan penegakan hukum.

Penting untuk dicatat bahwa pendekatan yang diambil pemerintah tidak bersifat represif, melainkan korektif. Kebijakan penghentian sementara tambang ditujukan untuk mencegah dampak lanjutan sembari membuka ruang klarifikasi dan verifikasi. Dalam jangka panjang, langkah ini membantu memastikan bahwa investasi yang berjalan memiliki dasar legal, etis, dan ekologis yang kuat.

Sejumlah tokoh nasional juga turut menyuarakan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi aktivitas pertambangan di kawasan strategis. Menteri Kebudayaan Fadli Zon, misalnya, menekankan pentingnya melindungi keindahan alam dan situs-situs bersejarah dari potensi gangguan akibat aktivitas industri. Pandangan seperti ini memperkuat posisi bahwa perlindungan lingkungan adalah kepentingan bersama, bukan semata ranah pemerintah.

Respons cepat pemerintah ini juga mencerminkan kemampuan adaptif dalam menghadapi dinamika kebijakan publik. Koordinasi antarkementerian, termasuk dengan Sekretariat Kabinet, menunjukkan bahwa isu ini ditangani secara menyeluruh di level pengambilan keputusan strategis. Komunikasi yang intensif antara berbagai institusi mengindikasikan bahwa langkah-langkah yang diambil bukan keputusan sepihak, melainkan hasil dialog dan pertimbangan mendalam.

Pulau-pulau kecil seperti Gag memang memerlukan perhatian khusus dalam perencanaan pembangunan. Dengan daya dukung lingkungan yang terbatas, setiap bentuk eksploitasi harus ditimbang dengan cermat. Maka, evaluasi izin di kawasan tersebut menjadi langkah penting untuk menyesuaikan kembali rencana investasi dengan karakteristik lingkungan lokal. Ini bukan upaya menghentikan kemajuan, melainkan membentuk pola pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Dalam skema besar pembangunan nasional, peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa sumber daya alam harus dikelola secara bertanggung jawab. Pemerintah telah memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi tidak harus bertentangan dengan perlindungan lingkungan. Justru dengan menjaga alam, potensi ekonomi jangka panjang seperti pariwisata dan jasa lingkungan akan semakin kuat.

Kebijakan yang diambil dalam kasus ini menjadi refleksi dari arah pembangunan Indonesia ke depan. Negara tidak anti terhadap pertambangan, tetapi memegang teguh prinsip bahwa semua aktivitas harus berpihak pada masa depan yang berkelanjutan. Ketegasan terhadap perizinan bukan sekadar upaya penertiban administratif, tetapi bagian dari reformasi tata kelola sumber daya alam.

Langkah cepat pemerintah dalam merespons polemik pertambangan di Raja Ampat patut diapresiasi. Pendekatan yang berimbang antara kepentingan lingkungan dan investasi memperlihatkan kematangan dalam pengambilan kebijakan. Dengan terus memperkuat koordinasi lintas sektor, membuka ruang evaluasi objektif, dan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian, potensi benturan antara pembangunan dan lingkungan dapat diminimalkan. Langkah-langkah ini menjadi cerminan bahwa arah pembangunan Indonesia menuju masa depan yang lebih bijak, adil, dan lestari.

Komitmen pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kelestarian alam dan pertumbuhan ekonomi di Raja Ampat merupakan wujud nyata dari visi pembangunan yang berkelanjutan. Di tengah tekanan global terhadap isu perubahan iklim dan degradasi lingkungan, langkah tegas dan terukur yang diambil pemerintah menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya responsif, tetapi juga proaktif dalam melindungi aset ekologi nasional. Dengan sinergi lintas kementerian dan partisipasi masyarakat, diharapkan kebijakan serupa dapat menjadi standar dalam pengelolaan sumber daya alam di wilayah strategis lainnya.

)* Penulis merupakan pengamat lingkungan

Pemerintah Tegaskan Komitmen Jaga Ekologi dan Investasi Berkelanjutan di Raja Ampat

PAPUA BARAT – Pemerintah terus memantau perkembangan isu pertambangan di Raja Ampat sebagai bentuk komitmen menjaga lingkungan di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap aspek ekologi. Merespons hal tersebut, pemerintah bergerak cepat mengambil langkah korektif demi memastikan bahwa keseimbangan antara pelestarian ekologi dan investasi tetap terjaga secara adil dan proporsional.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyatakan penghentian sementara operasional tambang nikel PT Gag Nikel di Pulau Gag dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian pemerintah.

“Evaluasi izin dan verifikasi lapangan menjadi prioritas agar aktivitas pertambangan tidak merusak ekosistem yang ada,” tegas Bahlil Lahadalia.

Langkah ini memperlihatkan sikap pemerintah yang tidak anti terhadap investasi, tetapi mengedepankan prinsip keberlanjutan. Pulau Gag sebagai bagian dari Raja Ampat memiliki nilai ekologis tinggi dan merupakan kawasan strategis yang telah menjadi perhatian utama pemerintah dalam setiap kebijakan pembangunan. Oleh karena itu, keputusan ini menjadi bentuk manajemen risiko yang tepat dan bertanggung jawab.

Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan bahwa pengawasan intensif telah dilakukan sejak akhir Mei, khususnya terhadap persetujuan lingkungan perusahaan tambang.

“Jika ditemukan pelanggaran yang membahayakan ekosistem, maka izin usaha bisa dicabut,” pungkas Hanif Faisol Nurofiq.

Langkah ini bukan sekadar penegakan hukum administratif, tetapi mencerminkan pendekatan reformatif terhadap tata kelola sumber daya alam. Pemerintah ingin memastikan bahwa seluruh aktivitas ekonomi berjalan sesuai aturan dan tidak mengorbankan lingkungan yang menjadi aset jangka panjang bangsa.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga menegaskan pentingnya menjaga keutuhan alam dan warisan budaya di wilayah tersebut.

“Raja Ampat bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga cagar budaya dan sejarah yang harus dilindungi dari dampak industri,” ujar Fadli Zon.

Koordinasi antarkementerian dan keterlibatan masyarakat menunjukkan bahwa penanganan isu ini dilakukan secara menyeluruh dan inklusif. Pemerintah tidak hanya responsif terhadap tekanan publik, tetapi juga proaktif dalam membentuk standar tata kelola sumber daya yang lebih etis dan lestari.

Komitmen ini menjadi penegasan bahwa arah pembangunan Indonesia ke depan mengedepankan prinsip keberlanjutan, integritas lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi yang saling menguatkan. (^)

Pemerintah Prioritaskan Keberlanjutan di Raja Ampat: Investasi Tetap, Lingkungan Terjaga

PAPUA BARAT – Pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan, khususnya di kawasan strategis seperti Raja Ampat. Langkah penghentian sementara kegiatan tambang oleh PT Gag Nikel menjadi sinyal bahwa setiap investasi harus tunduk pada prinsip keberlanjutan dan perlindungan ekologis.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah tidak mengambil risiko dalam pengelolaan sumber daya alam di wilayah sensitif. “Meski tambang berada jauh dari kawasan wisata utama, kami tetap melakukan verifikasi di lapangan agar tidak ada celah bagi kerusakan lingkungan,” ujar Bahlil Lahadalia.

Verifikasi dan evaluasi izin usaha pertambangan dilakukan secara menyeluruh. Langkah ini bukan bentuk penolakan investasi, tetapi upaya menciptakan iklim investasi yang sehat dan bertanggung jawab. Pemerintah menyelaraskan kontribusi sektor tambang terhadap ekonomi nasional dengan upaya perlindungan keanekaragaman hayati secara berimbang.

Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq menekankan bahwa pendekatan pemerintah bersifat preventif dan solutif. “Kami siap mencabut izin usaha jika ditemukan pelanggaran terhadap ketentuan lingkungan,” tegas Hanif Faisol Nurofiq.

Langkah tersebut mencerminkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola perizinan, serta mencegah dampak jangka panjang terhadap wilayah yang memiliki daya dukung terbatas seperti Pulau Gag. Dengan mempertimbangkan karakteristik lokal, evaluasi izin menjadi wujud adaptasi kebijakan terhadap kebutuhan kawasan.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon turut menyoroti pentingnya mempertahankan kekayaan budaya dan keindahan alam Raja Ampat dari potensi kerusakan akibat aktivitas industri.

“Pemerintah berkomitmen memastikan bahwa situs sejarah dan lanskap alam tetap terlindungi dalam setiap aktivitas investasi,” tambah Fadli Zon.

Koordinasi lintas kementerian dan pendekatan partisipatif memperkuat legitimasi kebijakan yang diambil. Pemerintah memastikan bahwa keputusan ini bukan hanya respons terhadap tekanan publik, melainkan bagian dari arah pembangunan nasional yang berbasis etika lingkungan.

Dengan langkah ini, pemerintah tidak hanya menjaga warisan ekologi, tetapi juga menciptakan fondasi yang kokoh bagi investasi jangka panjang yang lebih beretika dan berkelanjutan. Raja Ampat pun tetap menjadi simbol harmoni antara alam dan pembangunan.
[^]

Jurusan Akuntansi Memang Bisa Lulus Cepat Tanpa Sempro dan Magang, tapi Usai Lulus Nggak Menjamin Bisa Langsung Dapat Kerja

Salah satu alasan Sahrian (24) memilih Jurusan Akuntansi di Universitas Airlangga (Unair) karena menyukai Matematika. Lah, kenapa nggak pilih Jurusan Matematika? Padahal, dia juga anak IPA di SMA dulu. Tanya saya kepada dia saat itu.

Pemuda asal Surabaya itu pun menjawab, dia memang suka berhitung tapi nggak suka yang rumit-rumit. Kalau di Akuntansi, kata Sahrian, nggak perlu mikirin limit, turunan, integral, statistika inferensial, fungsi trigonometri, hingga matriks.

Seperti Matematika peminatan yang diajarkan semasa ia SMA dulu. Di sisi lain, Sahrian memang suka ilmu logika terutama yang berhubungan dengan angka. Apalagi, Akuntansi juga berhubungan dengan “menghitung duit”.

Menurut Sahrian jika dibandingkan dengan Jurusan Matematika, prospek kerja anak Akuntansi lebih jelas dan banyak pilihan. Oleh karena itu, ia memilih Jurusan Akuntansi di Unair, Surabaya.

Lintas jurusan dari IPA ke Soshum

Sebagai siswa Jurusan IPA yang dianggap mencuri kesempatan anak IPS, Sahrian tak mau menyerah atas mimpinya masuk kuliah di Jurusan Akuntansi. Ia santai saja menghadapi nyinyiran teman-temannya saat itu.

Toh, bukan berarti ia bisa langsung masuk di jurusan tersebut lewat jalur hoki. Saat SNMPTN, Sahrian dinyatakan tidak lolos dan akhirnya mencoba lagi di jalur SBMPTN atau lewat tes. Barulah, dua bulan sebelum pelaksanaan UTBK, ia membeli buku soal sosial dan humaniora (Soshum).

“Jadi bisa dibilang ya persiapanku agak kurang matang. Makanya, strategiku gini. Kan, ada yang tes logika sama tes pengetahuan. Nah, sedangkan untuk pengetahuan aku harus lebih struggle karena aku dulu SMA-nya IPA,” jelas Sahrian saat dihubungi Mojok, Kamis (22/5/2025).

“Kalau belajar ekonomi, geografi, sejarah, sama sosiologi lagi dari awal juga nggak mungkin, mangkanya aku kuatin di logika,” lanjutnya.

Beruntung, usahanya itu membuahkan hasil. Ia mendapat nilai tinggi di dua tes. Dengan kepercayaan diri tersebut, Sahrian berani mengambil Jurusan Akuntansi di Unair. Salah satu kampus yang menempati peringkat 308 dalam QS World University Rankings (WUR).

Sementara jika dilansir dari laman resmi Unair, Akuntansi termasuk jurusan yang paling diminati oleh peserta SBMPTN. Tahun 2025/2026 sendiri presentase keketatannya adalah 4,46 persen, menempati posisi kedua setelah Jurusan Psikologi. Sahrian pun menjadi salah satu mahasiswa yang diterima di Jurusan Akuntansi lewat tes.

Jurusan Akuntansi nggak cukup untuk kerja

Menurut Sahrian, keketatan itu wajar, karena baik dari kakak tingkat, alumni, dan teman mahasiswanya di Unair bilang Jurusan Akuntansi memang memiliki prospek kerja yang luas dan mentereng. Itu juga yang memotivasinya.

“Jurusan Akuntansi itu materinya cukup fleksibel, bisa belajar pajak, manajemen, keuangan, perbendaharaan, akuntansi publik, audit, dan sebagainya,” kata Sahrian.

Namun, ujar Sahrian, dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, beberapa karyawan dari Jurusan Akuntansi juga dituntut memiliki kemampuan lain. Jadi bisa dibilang, Akuntansi kini hanyalah ilmu dasar.

“Banyak teman-temanku yang mau melamar ke perusahaan besar ternama dengan gaji tinggi itu harus ‘menjual’ skill lain yang berhubungan dengan akuntansi. Misalnya, data sains, artificial intelligence, atau mungkin yang berhubungan dengan sistem informasi,” ujar Sahrian.

Alasan itu juga yang membuat Sahrian memilih S2 untuk menunjang kariernya setelah lulus dari Unair. Sebab ilmu-ilmu di atas bisa menjadi nilai plus untuk perusahaan. Bayangkan saja, di era sekarang, pembukuan tak perlu dilakukan oleh anak Jurusan Akuntansi saja.

Namun, setidaknya anak Jurusan Akuntansi harus memiliki kemampuan lebih dengan melakukan pembukuan secara efisien dan efektif. Mereka juga perlu mempelajari teknologi untuk mempercepat proses audit.

“Jadi kami harus mengoptimalkan platform atau software terkait untuk bisa mempercepat proses audit, kayak gitu,” jelas Sahrian.

Jurusan Akuntansi lulusnya cepat

Selain kemampuan yang perlu ditingkatkan, mahasiswa Jurusan Akuntansi juga butuh mengasah skill sosialnya. Sahrian tak menampik jika mahasiswa Jurusan Akuntansi terutama di Unair memiliki ‘kesenjangan ekonomi’.

Meski sehari-hari ngomongin soal keuangan, tak semua mahasiswa di jurusan ini terbilang kaya. Ada saja mahasiswa seperti dirinya yang menggantungkan beasiswa Bidikmisi untuk kuliah. Oleh karena itu, sebagai “kaum mendang-mending”, Sahrian harus pintar bergaul dengan teman-teman yang ia anggap senasib seperjuangan.

“Aku juga pernah sempat ikut ngopi sama teman yang mungkin bisa dibilang kastanya kelas menengah ke atas. Nah, ngopinya mungkin sampai jam 02.00 pagi. Terus keluar bukan mau nyari makanan, tapi malah nyari tempat biliard,” kata Sahrian.

Kalau setiap hari menuruti gengsi seperti, Sahrian gelagapan juga. Apalagi, beasiswa Bidikmisinya juga sering telat cair. Oleh karena itu, alih-alih berteman dengan orang yang hedon, Sahrian memilih lingkungan yang sehat.

Setidaknya, bisa memaklumi jika memang keuangannya terbatas. Syukur-syukur lingkungan yang mendukungnya secara akademik. Sebab, kata dia, mahasiswa di Jurusan Akuntansi terkenal dengan lulus cepat.

“Di angkatanku itu banyak yang lulus cepat alias 3,5 tahun. Karena kami bisa lulus tanpa sempro. Jadi nggak ribet, langsung skripsi tanpa harus magang dulu. Bahkan ada semester pendek untuk memudahkan mahasiswa mengambil SKS,” kata Sahrian.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

3 Tips Bertahan Hidup di Ciputat Tangsel Rp2 Juta Sebulan, Kawasan Jujugan Mahasiswa dan Pekerja yang Biaya Hidupnya Supermahal

Ciputat, Tangerang Selatan, adalah kawasan serba ada dan amat strategis, tapi biaya hidupnya supermahal. Konon, dibutuhkan rata-rata biaya Rp10 juta per bulan untuk hidup nyaman di kota ini. Namun, ada tips bertahan hidup di Ciputat hanya dengan uang Rp2 juta sebulan.

***

Bagi Argi (28), Ciputat adalah kawasan yang tak pernah tidur. 24 jam sibuk dengan lika-liku kehidupan manusia. Sepuluh tahun tinggal di sini, ia nyaris tak pernah melihat kapan kota ini lenggang.

“Ciputat mboten sare!,” ujar lelaki asal Jawa Tengah ini kepada Mojok, Kamis (5/6/2025) malam.

Argi merantau ke Ciputat sejak 2014 lalu untuk kuliah di salah satu kampus negeri. Lulus saat masa pandemi Covid-19, ia memutuskan bertahan di sana karena mendapat tawaran kerja–sampai hari ini.

“Ibaratnya telanjur jatuh cinta sama Ciputat,” ungkapnya.

Ciputat, kota pendidikan “underrated” dan jujugan perantau

Ada alasan konkret mengapa Argi memilih Ciputat, Tangerang Selatan, sebagai tujuannya berkuliah 10 tahun lalu. Selain karena memang diterimanya di sini, bagi dia Ciputat memang menjadi kota pendidikan yang underrated.

“Orang tahunya kota pendidikan itu Jogja, Surabaya, Malang. Tapi bagiku, ya, Ciputat juga kota pendidikan,” kata dia.

Kalau mengacu data resmi dari Kemendikbudristek, terdapat tak kurang dari 17 kampus di kota seluas 21,11 kilometer persegi ini. Ada yang negeri, dan sebagian besar lainnya adalah swasta.

Misalnya, kalau diurutkan dari yang paling terkenal, terdapat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas Pembangunan Jaya (UPJ), Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta, serta sejumlah kampus lain di Ciputat.

Tak sampai di situ, Ciputat juga terkenal sebagai jujugan perantau buat mencari kerja. Alasannya, UMR di kota ini memang cukup tinggi, mengikuti upah minimum Tangerang Selatan yang sebesar Rp4,9 juta. Selisih sedikit dari Jakarta.

Maka tak heran, kalau banyak perantau, seperti Argi memilih bekerja di kota ini. Menurut catatan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Tangerang Selatan, dari tujuh kecamatan di Tangsel, Ciputat menempati peringkat kedua kunjungan perantau terbanyak sejak 2022. Jumlahnya hanya kalah dari Pamulang.

“Makanya aku bilang Ciputat nggak pernah tidur karena setiap jamnya ada saja lika-liku manusia, entah mahasiswa atau para pekerja yang sibuk urusan perut,” ujar Argi.

Tapi, biaya hidupnya amat mahal
Akan tetapi, biaya hidup di Ciputat, Tangerang Selatan, amat mahal. Bahkan ada yang bilang, cuma beda tipis dengan biaya hidup di Jakarta.

Argi sendiri mengakui, saat pertama datang ke sini buat kuliah, dirinya masih mudah menjumpai “rumah makan merakyat”. Tapi kini, susahnya minta ampun.

“Dulu waktu kuliah, dekat-dekat kampus banyak tempat makan yang 7 ribu saja sudah kenyang, dapat ayam. Sekarang, 25 ribu baru dapat, itupun masih yang tergolong harga standard,” kata dia.

Bahkan, di Facebook banyak mahasiswa yang kuliah di Ciputat menuliskan keresahan mereka soal mahalnya harga makan di sekitar kampus. Ada yang mengaku, untuk mendapatkan nasi sayur seharga Rp15 ribu saja, ia kudu masuk-masuk gang sempit, menjauh dari kampus.

Data BPS Tangerang Selatan pada 2020 lalu menyebutkan bahwa rata-rata pengeluaran per kapita penduduk Ciputat adalah sebesar Rp2,6 juta sebulan. Besaran ini merupakan biaya yang dikeluarkan untuk makan, hunian, transportasi, hingga fesyen dan hiburan.

Namun, seiring dengan inflasi, angka tersebut naik berkali-kali lipat. Kini, diperkirakan buat hidup nyaman di Ciputat, setidaknya dibutuhkan gaji Rp10 juta per bulan–menukil data BPS 2023.

“Tapi, aku ngerasain betul sih. Sekarang buat ngekos aja, kalau mau yang standard ya dapatnya paling 1,5 sampai 2 jutaan. Di bawah itu jangan harap dapat kos enak,” ujar Argi.

Tips bertahan hidup modal Rp2 juta sebulan di Ciputat, Tangerang Selatan

Sebelumnya, Mojok pernah mewawancarai Dori (27), pekerja di Ciputat yang resah dengan kotanya. Kala itu, Dori menyebut Ciputat memang menjadi kawasan penyangga ibu kota Jakarta yang amat strategis. Namun, tak semua orang cocok tinggal di sini karena panas dan macet.

Kendati demikian, Dori juga memiliki tips untuk bisa bertahan hidup di kota ini. Khususnya bagi mahasiswa pas-pasan atau para pekerja berdompet tipis.

“Karena kalau mau nurutin apa kata BPS, kudu gaji 10 juta sebulan buat hidup enak di sini, ya orang-orang di sini nggak ada yang hidup enak karena gajinya di bawah segitu. Hahaha,” ungkap lelaki yang sudah delapan tahun di Ciputat, kala kembali dihubungi Mojok, Kamis (5/6/2025).

Lantas, apa tips untuk bisa menghemat biaya hidup di Ciputat, Tangerang Selatan?

#1 Warsun adalah sebaik-baiknya tempat makan

Untuk urusan makan, kata Dori, serahkan pada Warsun alias Warung Sunda. Warsun sendiri memang amat menjamur di Ciputat. Jumlahnya tak kalah banyak dengan Warung Nasi Padang ataupun Warung Tegal (Warteg).

Berdasarkan “analisis-empirik” yang sudah Dori lakukan bertahun-tahun, Warsun adalah tempat makan dengan harga paling murah dan konsisten. Memang tiap tahun ada kenaikan. Namun, kata dia, naiknya nggak signifikan alias konsisten murahnya.

“Beda sama Warung Naspad atau Warteg, Warsun ini kayak nggak niat cari untung. Apalagi kalau yang jualan asli orang Sunda, kebangetan murahnya.”

Di dekat kantornya, ia tak kesulitan mencari Warsun dengan harga miring. Biasanya, dengan harga Rp15 ribu, ia sudah bisa makan kenyang dengan menu nasi sayur, telur, dan es teh.

“Malah kalau beruntung, masih ada warung yang kasih paketan 10 ribuan. Tapi kan ini adu murah ya, bukan adu enak. Masalah enak nggak enak balik ke lidah masing-masing,” katanya.

#2 Kos induk semang sekitar kampus

Konon, biaya hunian di Ciputat, Tangerang Selatan amat mahal. Rata-rata harga kos saja menyentuh angka Rp1 juta per bulan. Namun, Dori memiliki tips untuk menekan pengeluaran biaya hunian.

“Cari kos induk semang. Banyak di sekitaran kampus,” kata dia.

Menurut Dori, mahalnya biaya kos di Ciputat karena fasilitas dan privilese yang lebih advance. Misalnya full AC, kamar mandi dalam, dan terpisah dari pemilik alias induk semang.

Namun, kalau menyingkirkan ego tersebut, masih banyak kos di sekitaran kampus yang harganya bahkan di bawah Rp500 ribu. Minusnya, ya, tidak ada AC, kamar mandi bareng-bareng, dan satu atap dengan induk semang.

“Nggak enaknya, ya nggak bebas. Tapi enaknya, selain murah, kadang kalau soal makan sering dikasih ibu kos. Hahaha.”

Saat masih kuliah, Dori mengaku tinggal di kos tipe ini selama empat tahun. Setelah kerja, ia memilih hunian yang lebih private dan bebas.

#3 Pakai transportasi umum, disclaimer: kalau sanggup macet!

Dori menjelaskan, transportasi umum di Ciputat, Tangerang Selatan sudah cukup baik. Segala moda, mulai dari angkot yang menghubungkan antarkelurahan, TransJakarta, hingga KRL Commuter, semua tersedia.

“Buat yang masih kuliah, ini membantu banget karena di UIN ada halte trans. Di kampus-kampus lain juga bisa terhubung via angkot,” jelasnya.

Namun, seperti yang pernah dia ungkapkan sebelumnya, “Ciputat tak cocok buat orang yang kesabarannya setipis tisu”. Sebab, kota ini memang sangat macet dan panas mataharinya nggak ketulungan.

“Memang ngirit pakai transportasi umum. Tapi ya lebih lama di jalan aja sih,” pungkasnya. “Kalau cara-cara tadi dilakuin, bisa lah kamu menekan biaya hidup di sini, paling nggak cuma keluar 2 juta sebulan.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

Pengalaman Katrok Naik Bus Murah Antar Kota, Merasa Gusar Selama 9 Jam Perjalanan karena Takut Salah Turun Terminal

Jangan takut bertanya adalah modal Eka Puji (24) untuk naik bus Sugeng Rahayu dari Surabaya ke Jogja. Jujur, itu adalah pengalaman pertamanya solo traveling, sekaligus menggunakan bus ke luar kota. Biasanya, ia lebih memilih kereta api untuk perjalanan antar kota.

Tapi apa mau dikata, aplikasi kereta apinya selalu ngadat sehingga ia tidak bisa memesan tiket hingga hari H. Padahal, Eka sudah mempersiapkan rencana liburan dari Surabaya ke Jogja sejak sebulan yang lalu.

“Mumpung Mei ini banyak long weekend,” katanya kepada Mojok, Senin (2/6/2025).

Beberapa tahun ini Eka memang disibukkan dengan agenda kuliah semester akhir sembari bekerja. Belum lagi urusan-urusan komunitas yang diikutinya. Oleh karena itu, ia ingin berhenti sejenak dan jauh dari hiruk pikuk Kota Surabaya. Walaupun sebenarnya, Jogja terbilang ramai apalagi di musim liburan.

Tapi karena sudah niat, Eka tak mau membatalkannya dengan percuma hanya gara-gara tidak dapat tiket kereta api. Alhasil, ia memilih berangkat dari Surabaya ke Jogja menggunakan bus Sugeng Rahayu.

Bus Sugeng Rahayu lebih ekonomis

“Kenapa nggak pesawat? Ya pasti mahal lah!” seloroh Eka saat saya tanya alasannya menggunakan bus.

Namun, karena tidak tahu bagaimana cara membeli tiket dan bus apa yang harus ia naiki, ia jadi kelimpungan sendiri dan bertanya sana-sini. Masalahnya, teman-temannya jarang menggunakan bus dari Surabaya ke Jogja, apalagi untuk liburan sendiri. Kalau pun berangkat dengan bus, biasanya mereka pergi rombongan.

“Akhirnya aku cek di mesin pencari Google, ternyata ada informasi soal jenis bus dan kisaran harganya,” ujar Eka.

Jika dilihat dari kisaran harga, Sugeng Rahayu memang terbilang paling murah dibandingkan bus lainnya, yakni sekitar Rp130 ribu. Sedangkan bus Eka seharga Rp200 ribu, tapi fasilitasnya sudah eksekutif.

Eka akhirnya memilih bus Sugeng Rahayu karena murah. Walaupun sebenarnya, ia juga tak yakin dari segi fasilitas, kenyamanan, dan keamanan. Namun, sebagai kaum yang terbiasa “mendang-mending”, Eka mantap mempertimbangkan bus dari segi ekonomis.

Bingung cara memesan tiket di Terminal Bungurasih

Kelar masalah tiket, Eka masih bingung dengan estimasi waktu perjalanan dari Surabaya ke Jogja dengan menggunakan bus Sugeng Rahayu. Ia masih belum tahu cara memesan tiket secara online, sehingga tidak tahu jam keberangkatan yang tertera.

Di mesin pencari pun ia tidak menemukan waktu yang pasti. Daripada ribet, Eka pun langsung datang ke loket terminal. Setelah itu, barulah dia tahu kalau tiket bus Sugeng Rahayu bisa dibeli langsung dalam waktu 24 jam.

“Awalnya aku berangkat Jumat sore sepulang kerja, tapi aku takut sampainya terlalu malam. Kata temanku juga jalanan dari Terminal Giwangan di Jogja sampai kosannya rawan, apalagi di atas jam 12 malam. Sudah pasti sepi dan gelap. Akhirnya, demi keamanan bersama aku memutuskan berangkat pagi,” tutur Eka.

Setelah melewati lorong-lorong Terminal Bungurasih yang dipenuhi “bapak-bapak” menawarkan tiket, Eka akhirnya tiba di lobi. Di sanalah, Eka dan temannya baru lega karena bisa langsung bertanya ke petugas resmi terminal.

Begitu tahu informasi jadwal keberangkatan bus, cara memesan tiket dan membayar, Eka jadi sadar ternyata tak sulit memesan tiket bus Sugeng Rahayu.

“Petugas informasi bilang kalau aku bisa bayar di loket dan nggak perlu bayar lagi saat dimintai uang di atas bus. Yoweslah aku ngikut arahanya,” kata Eka.

Gusar selama di dalam bus Sugeng Rahayu

Usai naik di bangku bus Sugeng Rahayu dari Terminal Bungurasih, Eka masih merasa gusar karena tak tahu rute perjalanan dari Surabaya ke Jogja secara rinci. Berkali-kali ia mengirim pesan ke temannya yang ada di Jogja untuk mengetahui estimasi tiba, tapi temannya pun tak tahu dan hanya bisa mengira-ngira.

“Mungkin sekitar 7 jam baru sampai, kata temanku. Tapi, sejak aku berangkat dari pukul 07.00 WIB hingga 12.30 WIB, busku masih ada di Sragen, Jawa Tengah,” ujar Eka.

Rupanya, perjalanan dari Surabaya ke Jogja menggunakan bus Sugeng Rahayu lebih lama dari apa yang diperkirakan Eka. Ia mengaku tak bisa tidur di sepanjang perjalanan. Takut kalau ternyata bus bablas melewati Jogja.

Akhirnya, ia memilih bermain handphone. Sesekali mengecek kerjaannya di grup WhatsApp dan membalas pesan temannya satu persatu-satu. Hingga ia tak sadar baterainya tinggal 2 persen. Sialnya lagi, tak ada colokan di dalam bus Sugeng Rahayu.

Ia pun hanya bisa pasrah menatap jendela kaca, sembari mengamati papan nama terminal agar tidak salah turun. Waktu terus berlalu hingga pukul 13.30 WIB dan ia baru tiba di Surakarta. 2 jam setengahnya, barulah Eka tiba di Terminal Giwangan, Jogja. Tepatnya, pukul 16.00 WIB.

“Lama banget, aku jadi nggak bisa tidur dengan tenang,” kata Eka.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

Orang Desa Pertama Kali Makan di Mie Gacoan: Demi Viral Malah Berujung Malu Perkara QRIS dan Sumpit

Bagi masyarakat daerah pinggiran seperti Rembang, Jawa Tengah, bisa mencicipi Mie Gacoan tetap merupakan kemewahan. Alhasil, momen pertama kali makan di gerai aneka mie pedas itu malah berujung bingung dan malu.

Mie Gacoan simbol daerah maju atau tertinggal
Di Rembang akhirnya ada Mie Gacoan. Beberapa akun menfess Rembang kebanyakan memakai kutipan itu untuk menyambut dibukanya Mie Gacoan di Jl. Dr. Soetomo, Leteh, Rembang kota belum lama ini.

Bukanya Mie Gacoan memberi perasaan riang bagi sebagian banyak orang Rembang, terutama anak-anak muda. Sebab, dengan bukanya gerai mie tersebut, Rembang tidak terus-menerus dianggap sebagai daerah tertinggal.

Pasalnya, di daerah-daerah kabupaten pinggiran seperti Rembang, memang ada indikator unik untuk mengukur maju atau tertinggalnya sebuah daerah. Jika suatu daerah tidak terjamah gerai modern dan ternama—misalnya Gacoan—maka dianggap tertinggal.

Di media sosial, banyak warga Rembang merasa “terharu”: akhirnya bisa merasa maju karena punya Mie Gacoan sendiri, meski agak telat dari daerah tetangga seperti Tuban, Blora, dan Pati.

Banyak warganet Rembang yang juga berharap agar kedepan makin banyak gerai-gerai modern dari beragam brand terkenal berdiri di kota pesisir pantura tersebut.

Tak mau ketinggalan dari yang viral-viral
Awal Mei 2025 lalu saat sedang pulang ke Rembang, saya pun langsung tancap gas ke Jl. Dr. Soetomo, Leteh, bersama istri, adik, dan teman adik saya.

Kami sengaja berangkat awal (di jam sebelas siang), biar tidak antre-antre amat. Karena jika melihat di media sosial, suasana berjubel dan penuh sesak akan terjadi di jam-jam sore hingga malam.

Meski begitu, siang itu banyak kursi yang terisi. Kebanyakan justru ibu-ibu bersama anaknya yang masih SD atau SMP. Hanya ada beberapa anak muda yang tampak.

“Nuruti anak ini loh, Mas. Katanya mie viral. Biasa sekarang kan nggak mau ketinggalan yang viral-viral,” ujar seorang ibu-ibu yang duduk menanti anaknya yang tengah mengambil pesanan.

Kami berbincang lantaran si ibu sebelumnya berujar, “Mau makan mie saja kok repot sekali. Harus pakai alat (maksudnya calling system). Terus harus ambil sendiri.”

Si ibu mengaku tidak tahu apa itu Mie Gacoan. Itu adalah momen pertama kalinya dia dan sang anak mencicipinya.

Bingung cara pesan di Mie Gacoan
Jujur saja, sejak di Surabaya dulu saya jarang makan di gerai-gerai terkenal. Saya pasti akan bingung bagaimana cara memesannya. Untungnya ada istri yang jauh lebih terbiasa. Jadi saya agak terbantu.

Tapi di Mie Gacoan Rembang siang itu, saya menyaksikan ada beberapa orang—mungkin orang desa dan baru pertama kali ke gerai modern seperti Mie Gacoan—benar-benar kebingungan perihal bagaimana caranya memesan.

“Saya pikir pesannya di depan. Pas mau pesan disuruh duduk dulu. Pesan lewat meja. Saya bingung,” ungkap seorang ibu-ibu yang datang bersama anaknya yang masih SD kepada salah seorang karyawan Mie Gacoan.

Sistem pesannya secara online melalui barcode yang terpajang di setiap meja. Metode seperti itu sungguh masih awam bagi masyarakat Rembang. Wajar saja jika masih banyak yang kebingungan.

Untungnya, si ibu punya inisiatif untuk tanya ke keryawan Mie Gacoan yang melintas untuk dijelaskan bagaimana seharusnya cara memesan makanan.

Malu tidak bisa pakai sumpit

Sering kali orang desa akan bermasalah jika berhadapan dengan sumpit. Dan itulah yang pernah saya rasakan sendiri saat pertama kali merantau ke Surabaya. Diajak makan pakai sumpit, jelas merucut-merucut.

Begitu juga yang terjadi siang itu. Di meja-meja terdekat saya, beberapa tampak coba-coba makan mie pakai sumpit. Tapi karena tak kunjung bisa, akhirnya memutuskan meminta ganti sendok saja.

Adik saya dan temannya pun demikian. Istri saya mengajari mereka bagaimana caranya menyumpit. Adik saya langsung bisa meski agak kaku, sementara temannya bersusah payah betul mencekeram mie di mejanya dengan sumpit.

“Angel tenan arep mangan mi wae (Susah betul mau makan mie aja),” keluh teman adik saya yang sontak kami sambut dengan tawa.

“Mentolo tak puluk wae (Keburu kumakan pakai tangan saja),” sambungnya.

Kata adik saya, sepulang dari Mie Gacoan, temannya itu mengaku malu betul karena tidak bisa makan pakai sumpit. Sementara orang-orang di sekelilingnya tampak seperti sudah menguasai metode makan dengan alat itu.

Bayar pakai QRIS itu apa?

Kebingungan pertama kali makan di Mie Gacoan masih berlanjut di meja kasir. Saat kasir menyebut nominal yang harus dibayar dan memberi pilihan: Mau (bayar) cash atau QRIS? Ada yang bisik-bisik: “QRIS itu apa?”

Masih banyak orang Rembang yang belum akrab dengan metode pembayaran QRIS. Dan memang masih banyak toko atau warung yang belum menggunakan metode tersebut.

Saya saja baru akrab dengan QRIS belakangan, karena sebelumnya sudah terlalu nyaman dengan cara konvensional.

Terlepas dari kebingungan-kebingungan itu, keberadaan Mie Gacoan setidaknya memberi rasa percaya diri bagi orang Rembang—terutama kalangan anak muda. Sehingga ketika ada yang bertanya, “Di Rembang emang ada Mie Gacoan?” Maka tinggal jawab saja dengan mantap, “Ada dong!”.

Tidak seperti sebelum-sebelumnya yang pasti berujung jadi bahan ceng-cengan sebagai daerah tertinggal.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

Ironi Kurban di Desa: Saling Jegal demi Raup Keuntungan, Orang Miskin Tak Kebagian Daging sementara Orang Mampu Berpesta

Ternyata tidak setiap desa memiliki tradisi guyub di setiap momen Idul Adha (kurban). Kendati di hari raya umat Islam ini, sedianya menjadi momen untuk berbagi—dalam bentuk daging kurban—kepada orang-orang membutuhkan.

Perbincangan dengan beberapa narasumber justru membuka tabir kusam sebuah komunitas masyarakat desa dalam menyikapi hari raya ini.

Gangguan saat jualan kambing kurban

Idul Adha tahun ini, Hasan (50) memang tidak berniat menjual banyak kambing. Tidak seperti di tahun-tahun sebelumnya. Setelah berdiskusi dengan “ahli spiritual”, persaingan di dunia jual-beli kambing ternyata masih mengerikan.

Hasan masih ingat jelas pada momen Idul Adha 2024 lalu. Menjelang hari raya penyembilan kurban, dia mengaku sangat semangat untuk menjual kambing-kambingnya di sebuah pasar hewan di Rembang, Jawa Tengah.

Dia optimis kambingnya bakal laku karena gemuk-gemuk dan sehat. Apalagi lapak dagangnya berada tidak jauh dari gapura pasar.

Namun anehnya, setiap orang yang datang ke pasar hewan seolah tidak melirik keberadaannya sama sekali. Bahkan sekalipun Hasan menyaringkan suara untuk menawarkan kambing-kambingnya. Hingga sehari sebelum hari raya kurban, hanya satu kambing Hasan yang laku di pasar.

“Setelah tanya ke orang pintar (ahli spiritual), ternyata ada yang ganggu. Jalur gaib. Dibuat seolah daganganku nggak kelihatan,” ungkapnya kepada Mojok.

Saling jegal untuk meraup keuntungan

Sementara di tahun ini, sejak bulan lalu Hasan merasa diikuti hal-hal sial. Kambing yang dia proyeksikan untuk dijual sakit-sakitan, alhasil tidak doyan makan sehingga menjadi kurus. Tentu tidak akan ada yang tertarik membeli.

“Saya sendiri juga ikut sakit. Nggak kuat cari rumput,” sambungnya.

Kata Hasan, hal semacam ini sudah dia hadapi sejak puluhan tahun bergelut di dunia jual-beli kambing. Kata Hasan, tidak heran jika beberapa temannya selalu memberi doa-doa khusus agar kambingnya tidak hanya laku, tapi juga aman dari serangan. Sementara Hasan memilih pasrah kepada Allah Swt. Senantiasa memohon pertolongannya.

“Kadang bejo (beruntung). Laku. Nggak ada gangguan. Kadang ya seperti ini. Sekali laku, ya laku keras. Sekali kena gangguan, ya ambruk seambruk-ambruknya,” katanya.

Tidak cuma di hari raya Idul Adha, gangguan serupa juga kerap Hasan rasakan di hari-hari biasa. Di balik ramah tamah para pedagang kambing di pasar, ternyata ada siasat untuk saling jegal.

Nelangsa karena orang-orang pamer

Sementara bagi Wanah (30), juga asal Rembang, Idul Adha kerap menjadi ajang pamer yang membuat orang miskin nelangsa.

Wanah sendiri sebenarnya berkecukupan. Namun, ada dua tetangga dekat rumahnya persis yang bisa dibilang kekurangan.

Kata Wanah, sering kali tetangganya itu nelangsa karena merasa belum ber-Islam secara sempurna karena dua hal: ibadah haji atau setidak-tidaknya berkurban.

“Nah, kalau ada orang pamer seperti ini, tetangga yang, mohon maaf, nggak punya, jadi merasa sedih karena merasa belum bisa beribadah dengan sempurna karena nggak bisa kurban,” sambungnya.

Hukum kurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang dianjurkan) bagi yang mampu. Tidak wajib. Namun, di desa, tekanan lingkungan akhirnya membentuk pola pikir bahwa kurban adalah perkara yang wajib dipenuhi.

Nama-nama orang kurban yang disiarkan

Kata Wanah, rasa nelangsa itu juga muncul lantaran mendengar nama-nama orang berkurban yang disiarkan.

Ulama-ulama Mazhab Syafii berpendapat, tidak ada larangan dalam urusan menyiarkan nama orang yang berkurban. Tidak juga diwajibkan. Artinya boleh-boleh saja.

Sebab, menyiarkan nama-nama orang yang berkurban bisa jadi menjadi jalan dakwah untuk mengajak umat Islam berlomba-lomba dalam berbuat baik.

Dengan catatan, siaran nama tersebut tidak dilebih-lebihkan apalagi sampai pada tahap berdutsa. Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar al-Nawawiyah bahkan menghukumi haram jika penyiaran nama cenderung hiperbolis dan dilandasi kebohongan. Di sisi lain menghukumi sunnah jika diniatkan sebagai dakwah.

Penyiaran nama itupun janganlah sampai membuat seseorang menjadi sombong dan riya (pamer). Tapi seharusnya melatih ikhlas, rendah hati, dan mendorong seseorang untuk senantiasa berbuat baik demi mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Sebab, kurban, merujuk pendapat sejumlah ahli tafsir berakar dari kata qaraba yang berarti dekat: mendekatkan diri kepada Allah Swt.

“Sayangnya, di desaku, ada saja yang berkurban dengan motif pengin sombong,” ungkap Wanah.

Orang miskin justru tak kebagian daging kurban, sementara orang mampu “berpesta”

Masih dari Wanah, sering dalam momen Idul Adha dia mendapati tetangganya yang kurang mampu hanya duduk tercenung di teras rumahnya demi menanti pembagian daging kurban. Tapi berujung tidak kebagian sama sekali.

Itulah kenapa, Wanah—belajar dari ibunya—sengaja akan beli daging sendiri menjelang Idul Adha. Daging itu untuk dia olah sendiri, biar tetap bisa merasakan suasana Idul Adha.

Sedangkan jika dapat daging kurban dari panitia, biasanya akan dia bagikan ke tetangganya yang tidak dapat.

“Setahuku dari ngaji, kalau yang utama (diberi daging kurban) itu fakir miskin,” ucap Wanah. “Ini kok fakir miskinnya sering kelewatan.”

Ada alasan kenapa situasi tersebut bisa terjadi di desa Wanah. Pembagian kurban di desanya kerap didasarkan karena faktor kedekatan. Jika dekat dengan salah seorang panitia, alhasil akan kebagian banyak.

“Masalahnya, panitia kurban di sini terbagi banyak. Masjid punya sendiri, musala sendiri, kelompok khotmil Qur’an punya sendiri. Data mereka kan mirip-mirip. Akhirnya orang yang kebagian itu-itu saja. Nggak merata,” beber Wanah.

Wanah termasuk dalam kategori orang yang dekat dengan banyak panitia kurban. Karena suaminya termasuk tokoh agama muda di desanya. Alhasil, Wanah ketiban banyak sekali daging kurban.

Karena merasa sistem itu tidak adil bagi orang tak mampu yang tidak kebagian, maka Wanah dan suaminya memilih membeli daging sendiri. Lalu daging pemberian panitia dibagikan ke tetangg.

Wanah dan suaminya menyadari mereka tidak bisa mengubah sistem yang sudah lama berlaku. Oleh karena itu, mereka mencoba mengubah dari keluarga mereka sendiri.

Gus Baha: jangan tamak saat Idul Adha

Dalam beberapa kali momen ngaji, KH. Bahaduddin Nursalim (Gus Baha) menyebut, hakikat hari raya—termasuk Idul Adha—adalah hari senang-senang: yaumu aklin (hari makan-makan).

Maka ketika seseorang merasa tidak mampu berkurban kambing atau sapi, tidak ada masalah jika menyembelih hewan lain dengan bobot di bawahnya. Tentu dengan catatan hewan tersebut halal, seperti ayam, ikan, dan lain-lain. Niatnya adalah untuk ikut merayakan hari raya. Hukum ini merujuk pada riwayat Ibnu Abbas.

Kaidah fikihnya adalah: Ma la yudroku kulluhu la yutroku kulluhu (Sesuatu yang tidak bisa dilaksanakan semuanya (secara ideal), ya jangan lantas ditinggalkan sama sekali).

Selain agar tetap bisa bungah karena bisa menyembelih, menyembelih hewan dengan bobot yang lebih kecil itu juga mengurangi potensi tamak: berharap dapat bagian daging kurban, jika tidak kebagian merasa kesal.

Bahkan kalau memungkinkan, Gus Baha lebih menganjurkan lebih baik membeli daging sendiri untuk diolah di Idul Adha, agar jangan terlalu tamak terhadap pembagian daging kurban.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi