MBG Hadirkan Gizi Berkualitas dan Percepatan Perputaran Ekonomi di Papua

Papua- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua mulai menunjukkan dampak konkret. Tak sekadar memberi asupan nutrisi harian kepada siswa, program ini juga menjadi penggerak ekonomi lokal dan memperkuat jaringan sosial di wilayah timur Indonesia.

 

Di Kabupaten Kepulauan Yapen, sebanyak 21 sekolah telah menerima manfaat dari dapur-dapur sehat yang dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat. Sekolah tidak lagi hanya menjadi ruang pendidikan formal, tetapi juga pusat pertumbuhan fisik dan sosial siswa.

 

Bupati Kepulauan Yapen, Benyamin Arisoy, menyampaikan bahwa manfaat program ini terasa signifikan di tengah keterbatasan geografis.

“Kami menyaksikan anak-anak lebih semangat ke sekolah. Kehadiran dapur sehat telah membawa energi positif dalam proses belajar mengajar,” ujar Benyamin Arisoy.

 

Program MBG di Yapen juga terus dikembangkan. Pemerintah daerah telah memperluas jangkauan ke distrik baru dan merencanakan delapan sekolah tambahan agar lebih banyak siswa mendapatkan akses makanan bergizi secara rutin. Kodim dan Badan Gizi Nasional turut memastikan standar kualitas makanan dan efektivitas pelaksanaan tetap terjaga.

 

Di Kabupaten Merauke, program ini bahkan menjadi contoh praktik terbaik secara nasional. Satu dapur di daerah ini mampu melayani tujuh sekolah dan lebih dari 3.000 siswa, beroperasi selama 20 hari setiap bulan secara konsisten.

 

Komandan Kodim 1707/Merauke, Letkol Inf Johny Novriyadi, menyebut kolaborasi sebagai kunci keberhasilan.

“Program ini tidak hanya menjamin anak-anak makan bergizi, tapi juga memberdayakan petani dan pelaku UMKM lokal,” tegas Johny Novriyadi.

 

Sebagian besar bahan pangan yang digunakan memang bersumber dari wilayah Merauke sendiri. Hal ini mendorong perputaran ekonomi di tingkat akar rumput sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan pangan.

 

Di Kabupaten Jayapura, keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan MBG juga semakin kuat. Tim Penggerak PKK hadir sebagai mitra strategis dalam mengedukasi keluarga dan memperluas dampak program ke tingkat rumah tangga.

 

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jayapura, Dewi S. Wonda, melihat potensi besar dari integrasi MBG dengan kegiatan pemberdayaan ekonomi.

“Program ini bukan hanya urusan gizi. Ini menyentuh seluruh mata rantai produksi, dari petani hingga dapur sekolah,” tambah Dewi S. Wonda.

 

Dengan model pelibatan lintas sektor dan berbasis komunitas, MBG telah menjadi simbol nyata kehadiran negara di Papua. Program ini tidak hanya memberi makan, tetapi juga membuka masa depan yang lebih sehat, cerdas, dan berdaya bagi generasi penerus bangsa. [^]

 

MBG di Papua Terbukti Bangkitkan Perekonomian Lokal

Jayapura- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan gizi anak sekaligus berdampak besar dalam membangkitkan perekonomian lokal, khususnya di Papua. Di Kabupaten Jayapura, pelaksanaan program ini telah menyentuh berbagai sektor strategis yang selama ini menjadi penopang utama kehidupan masyarakat, seperti pertanian, peternakan, perikanan, serta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

 

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jayapura, Dewi S Wonda, menilai MBG merupakan program lintas sektor yang mampu mengintegrasikan upaya perbaikan gizi masyarakat dengan peningkatan pendapatan warga. Ia menekankan pentingnya bahan pangan untuk dapur-dapur gizi MBG bersumber dari produksi lokal.

 

“Kalau dapurnya ada maka bahan pangan juga harus tersedia. Nah, bahan-bahan itu harus berasal dari masyarakat lokal agar ekonomi mereka ikut bertumbuh,” ujarnya.

 

Menurut Dewi, Pemkab Jayapura turut mendorong penguatan sektor pertanian dan perikanan sebagai penopang utama kebutuhan dapur MBG. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga bagian dari pelaku utama dalam pelaksanaan program ini. Ini sejalan dengan tujuan besar MBG, yakni membentuk generasi Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.

 

Lebih jauh, program MBG membuka peluang kerja baru di desa-desa, mulai dari petani pemasok bahan pangan, pengelola dapur, hingga pendistribusi makanan. Perputaran ekonomi lokal pun meningkat, karena dana yang berputar dari program ini secara langsung terserap oleh masyarakat setempat. Kemandirian pangan yang selama ini menjadi tantangan di Papua, perlahan mulai terjawab melalui pendekatan yang mengakar pada kebutuhan dan potensi lokal.

 

Ketua Pemuda Katolik Komda Papua, Melianus Asso, juga menyambut positif kebijakan MBG. Ia menilai, keberadaan program ini sangat membantu anak-anak di pedalaman Papua yang selama ini rentan terhadap gizi buruk. Ia juga menyoroti pentingnya pelibatan aktif masyarakat dalam implementasi program agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

 

“Kami melihat program MBG ini mendapat penolakan dari sejumlah kalangan. Maka perlu adanya sosialisasi langsung agar masyarakat memahami manfaat besarnya,” ujarnya.

 

Program MBG adalah contoh nyata bahwa kebijakan pemerintah yang dirancang dengan pendekatan holistik dan melibatkan masyarakat lokal secara aktif mampu memberikan dampak ganda. Tidak hanya menyehatkan generasi penerus, tetapi juga membangkitkan ekonomi masyarakat akar rumput. Dengan kolaborasi lintas sektor dan dukungan penuh seluruh elemen daerah, Papua bergerak menuju masa depan yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera. [^]

 

Menguatkan Masa Depan Papua melalui Program Makan Bergizi Gratis

Oleh: Marcus Wonda *)

 

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan gizi sejak dini. Kebijakan ini tidak hanya merefleksikan kesungguhan negara dalam menjamin hak anak atas makanan sehat dan bergizi, tetapi juga menunjukkan keberpihakan nyata terhadap wilayah yang selama ini menghadapi tantangan geografis dan ketimpangan pembangunan. Papua, dengan segala kekhasan dan potensinya, menjadi lokasi yang strategis untuk memulai langkah besar ini.

 

Di beberapa daerah seperti Kota Jayapura, Kabupaten Sarmi, Yapen, dan Biak, program MBG mulai dijalankan. Pelaksanaan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kesiapan dapur gizi di masing-masing wilayah. Penjabat Gubernur Papua, Ramses Limbong, menegaskan bahwa pelaksanaan ini akan terus diperluas seiring dengan kesiapan teknis di daerah lain, termasuk Jayapura dan Keerom. Fakta bahwa program ini mulai dijalankan di Papua menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan bahwa setiap anak, di mana pun mereka tinggal, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan cerdas.

 

Fokus utama MBG yang dijalankan oleh pemerintah adalah penyediaan makanan bergizi bagi pelajar. Dengan alokasi biaya per porsi antara Rp25 ribu hingga Rp40 ribu, pemerintah menunjukkan komitmen untuk tidak hanya menyediakan makanan secara kuantitatif, tetapi juga berkualitas. Ini penting, mengingat bahwa asupan gizi yang memadai akan mempengaruhi kemampuan belajar dan perkembangan mental anak. Langkah ini sekaligus menjadi investasi jangka panjang yang tidak ternilai bagi masa depan bangsa, terutama dalam rangka mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045.

 

Di sisi lain, program MBG ini mendapatkan penguatan melalui pengembangan model terpadu yang didukung oleh UNICEF. Dukungan tersebut mencakup integrasi antara pemberian makanan tambahan di sekolah, serta program gizi untuk ibu hamil dan balita. Ini bukan perluasan program MBG dalam arti administratif, melainkan bagian dari pendekatan kolaboratif dan holistik dalam menangani masalah gizi di Papua. Pemerintah berkolaborasi bersama UNICEF mendorong keterlibatan lintas sektor, termasuk sekolah, fasilitas kesehatan, dan komunitas lokal, serta memperhatikan rantai pasok pangan dan potensi pangan lokal. Pendekatan ini memperkaya konteks pelaksanaan MBG, menjadikannya lebih adaptif terhadap kebutuhan lokal dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

 

Wakil Bupati Biak Numfor, Jimmy Carter Rumbarar Kapissa, menyampaikan bahwa program MBG adalah wujud nyata usaha pemerintah dalam membangun manusia Indonesia sejak usia dini. Ia menekankan bahwa peningkatan status gizi anak merupakan bagian penting dalam menciptakan generasi unggul yang dapat bersaing secara global. Pemerintah daerah Biak Numfor, misalnya, tidak hanya menjalankan program, tetapi juga aktif dalam menyempurnakan model pelaksanaan dengan melibatkan pemangku kepentingan lokal dalam perencanaan dan eksekusi.

 

Kementerian dan lembaga terkait di tingkat nasional pun menunjukkan konsistensi dalam mendorong program ini. Perwakilan dari Badan Gizi Nasional menyampaikan bahwa percepatan pelaksanaan MBG diprioritaskan di wilayah timur Indonesia, termasuk Papua. Dengan target nasional sebanyak 3.000 dapur MBG yang akan menjangkau lebih dari 82 juta penerima manfaat, Papua menjadi salah satu fokus dengan rencana 90 dapur dan potensi manfaat bagi lebih dari 270 ribu jiwa. Target besar ini menunjukkan bahwa Papua bukan diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkan sebagai pusat dari agenda strategis nasional dalam pembangunan gizi masyarakat.

 

Pelibatan banyak pihak dalam menyukseskan MBG di Papua menjadi cermin dari pendekatan gotong royong dalam kebijakan publik. Pemerintah pusat menetapkan arah dan menyediakan dukungan teknis serta anggaran, sementara pemerintah daerah bertugas memastikan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Lembaga internasional seperti UNICEF melengkapi dukungan tersebut melalui inovasi kebijakan dan pendekatan multisektor. Dengan adanya kerja sama yang erat ini, tantangan-tantangan yang ada di Papua dapat diatasi secara lebih efektif, mulai dari keterbatasan logistik hingga kebutuhan penyesuaian budaya dalam pola konsumsi.

 

Kehadiran program MBG juga membuka ruang bagi pemberdayaan lokal. Pemanfaatan pangan lokal menjadi salah satu prinsip yang didorong dalam pelaksanaannya. Ini memberi nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha kecil di daerah, sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal. Dengan kata lain, MBG tidak hanya menyehatkan generasi muda, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat. Ini adalah contoh bagaimana satu program yang dirancang dengan baik dapat memberikan dampak berlapis yang saling menguatkan.

 

Dalam seluruh proses ini, penting untuk dicatat bahwa MBG bukan sekadar proyek jangka pendek. Ini adalah bagian dari visi besar tentang pembangunan manusia Indonesia. Maka, konsistensi dalam implementasi, monitoring yang ketat, serta evaluasi berkala harus menjadi bagian integral dari pelaksanaannya. Keberhasilan di Papua dapat menjadi model nasional, asalkan dijaga dengan pendekatan yang adaptif dan keberlanjutan yang nyata.

 

Dengan berbagai upaya yang telah dan sedang dilakukan, dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis di Papua harus terus diperkuat. Pemerintah sudah menunjukkan langkah maju yang perlu diapresiasi dan dijaga. Tantangan di lapangan tentu tidak kecil, namun dengan kolaborasi yang erat dan kepemimpinan yang visioner, program ini dapat menjadi salah satu kebijakan paling berdampak dalam menciptakan generasi sehat, cerdas, dan berdaya saing. Papua, dengan segala potensinya, patut menjadi etalase keberhasilan program MBG sebagai bagian dari misi besar membangun Indonesia Maju.

 

*) Penggiat Literasi Kemajuan Papua

 

 

[edRW]

 

 

Membangun Generasi Sehat Papua Lewat Makan Bergizi Gratis

 

Oleh: Frans Nawipa*

 

Pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam menyejahterakan rakyat melalui kebijakan strategis, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di tengah tantangan geografis dan sosial yang dihadapi wilayah timur Indonesia, khususnya Papua, program ini hadir sebagai terobosan nyata untuk menanggulangi masalah gizi buruk, meningkatkan kualitas pendidikan, dan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Implementasi MBG di Kabupaten Kepulauan Yapen dan Kabupaten Merauke menjadi bukti nyata bahwa program ini bukan sekadar janji politik, melainkan sebuah kebijakan solutif yang telah menorehkan capaian positif.

 

Di Kepulauan Yapen, program MBG telah berjalan di 21 sekolah dengan dukungan aktif dari masyarakat dan lembaga keagamaan. Gereja-gereja setempat turut berkontribusi dalam menyediakan dapur yang menjadi pusat produksi makanan bergizi bagi siswa-siswa. Kehadiran dapur-dapur sehat ini menjadikan sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk tumbuh sehat dan kuat. Bupati Kepulauan Yapen, Benyamin Arisoy menyatakan bahwa walaupun program ini masih dalam tahap awal, manfaatnya telah terasa besar bagi anak-anak sekolah. Pemerintah daerah terus berupaya mengatasi tantangan yang muncul agar pelaksanaan program berjalan optimal dan berkelanjutan. Tidak hanya itu, Pemerintah Kabupaten juga telah meluncurkan MBG di salah satu sekolah di distrik baru, serta merencanakan penambahan delapan sekolah lagi agar semakin banyak anak memperoleh akses makanan bergizi secara gratis.

 

Lebih jauh, pelaksanaan MBG di Yapen tidak dilakukan secara serampangan. Keterlibatan aktif Kodim dan Badan Gizi Nasional menjamin bahwa kualitas makanan dan efektivitas program terus dipantau. Hal ini membuktikan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada kuantitas penerima manfaat, tetapi juga menekankan pada kualitas pelaksanaan. Dalam jangka panjang, kebijakan ini diyakini akan menekan angka kekurangan gizi, menurunkan prevalensi stunting, dan menciptakan SDM unggul dari kawasan timur Indonesia.

 

Keberhasilan program MBG di Papua juga tercermin kuat di Kabupaten Merauke. Di tengah tantangan yang membuat banyak dapur sehat di daerah lain berhenti beroperasi, Merauke justru menjadi teladan nasional. Dengan hanya satu dapur yang melayani tujuh sekolah dan lebih dari 3.000 siswa, MBG di Merauke berhasil menjaga keberlangsungan layanan selama 20 hari setiap bulan. Koordinasi yang baik antara TNI, SPPI, Bulog Merauke, dan unsur masyarakat membuat dapur ini tidak hanya bertahan, tetapi berkembang sebagai pusat pemberdayaan ekonomi lokal. Bahan makanan yang digunakan sebagian besar berasal dari Merauke sendiri, sehingga program ini turut mendorong perputaran roda ekonomi masyarakat.

 

Letkol Inf Johny Novriyadi, Komandan Kodim 1707/Merauke yang juga pembina program MBG di wilayahnya, menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil gotong royong semua pihak. Menurutnya, dapur MBG tidak hanya menjamin anak-anak mendapatkan makanan bergizi, tetapi juga berperan sebagai penggerak ekonomi melalui keterlibatan UMKM lokal dan penyedia bahan pangan. Ini menunjukkan bahwa MBG bukan semata program pangan, melainkan kebijakan multidimensi yang menyentuh aspek kesehatan, pendidikan, dan ekonomi sekaligus.

 

Tentu masih banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam hal jangkauan dapur terhadap sekolah-sekolah yang tersebar luas di wilayah Merauke. Namun, hal ini telah diantisipasi melalui koordinasi intensif dengan Badan Gizi Nasional, agar penataan peta dapur bisa lebih efisien dan sesuai dengan standar operasional. Dalam skema ideal, satu dapur sehat dirancang untuk melayani maksimal 3.500 siswa, sehingga efisiensi dan efektivitas program tetap terjaga.

 

Di Kabupaten Jayapura, dukungan terhadap program MBG juga datang dari elemen masyarakat, khususnya Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jayapura, Dewi S. Wonda, menilai program MBG dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus memperkuat ketahanan gizi keluarga. Menurutnya, MBG bukan hanya program satu sektor, melainkan lintas sektor yang menyentuh seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir. Pelibatan petani, nelayan, dan pelaku UMKM dalam penyediaan bahan pangan adalah bentuk konkret dari pendekatan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

 

Kehadiran MBG sebagai program prioritas pemerintah pusat menunjukkan bahwa Papua bukan lagi wilayah yang dipandang dari pinggiran, tetapi telah menjadi bagian integral dari pembangunan nasional. Lewat pendekatan yang inklusif dan berbasis lokal, pemerintah berhasil membangun fondasi awal bagi masa depan anak-anak Papua yang lebih sehat dan berdaya. Dengan akses gizi yang memadai, anak-anak tidak hanya lebih fokus belajar, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas dan tangguh.

 

Pada akhirnya, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis di Papua adalah bentuk nyata dari kehadiran negara dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Di balik setiap piring nasi bergizi yang diterima anak-anak di Yapen dan Merauke, tersimpan harapan besar untuk masa depan Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan merata. Jika program ini terus dikelola dengan komitmen dan kolaborasi, maka Papua akan berdiri sejajar, bukan hanya dalam peta, tetapi juga dalam kualitas hidup generasi mudanya. Inilah Indonesia yang inklusif dan berdaulat dari Sabang sampai Merauke. Pemerintah telah menyalakan lilin harapan di ujung timur negeri ini, dan tugas kita bersama untuk menjaga agar cahayanya terus menyala.

 

*Penulis merupakan pengamat isu strategis Papua

 

 

[edRW]

 

Pemerintah dan KPK Terus Perkuat Sistem Pencegahan Korupsi dari Pusat hingga Daerah

 

Oleh: Dirandra Falguni

 

Pemberantasan korupsi merupakan salah satu prioritas utama pemerintah dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel. Komitmen ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi dijalankan melalui strategi sistemik yang dikawal secara ketat oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam konteks ini, peran KPK sebagai garda terdepan dalam pemberantasan korupsi terus diperkuat melalui berbagai inisiatif nasional dan kerja sama internasional.

 

Salah satu bukti nyata dari komitmen tersebut terlihat dalam keikutsertaan KPK pada konferensi lembaga antikorupsi se-Asia Tenggara yang digelar oleh Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM). Forum ini menjadi ajang penting untuk memperkuat solidaritas regional dalam menghadapi kejahatan korupsi yang kian kompleks dan lintas negara. Dalam forum tersebut, Ketua KPK Setyo Budiyanto menyampaikan sambutan pembuka yang menekankan urgensi kolaborasi regional dan internasional dalam memberantas korupsi.

 

Menurut Setyo Budiyanto, ada tiga elemen kunci dalam menggerakkan pemberantasan korupsi secara efektif, yakni aksi kolektif lintas sektor, penguatan peran media massa sebagai pengawal transparansi publik, dan peningkatan kualitas serta integritas sumber daya manusia. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, dan media harus dikukuhkan dalam satu visi yang sama untuk menolak segala bentuk korupsi.

 

Selain itu, Indonesia juga mendorong pembaruan prinsip-prinsip kerja sama antikorupsi regional melalui inisiatif Putrajaya Declaration, yang diharapkan menjadi penyempurnaan dari Jakarta Statement. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya aktif di dalam negeri, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk kerangka kerja antikorupsi yang lebih adaptif terhadap tantangan global.

 

Di dalam negeri, pemerintah melalui KPK terus melakukan penguatan terhadap sistem pencegahan korupsi di tingkat daerah. Salah satu instrumen yang dikembangkan secara progresif adalah Monitoring Center for Prevention (MCP). Sistem ini menjadi alat evaluasi dan monitoring kinerja tata kelola pemerintahan daerah yang berbasis digital, akurat, dan terukur.

 

MCP mencakup delapan area intervensi strategis, antara lain perencanaan dan penganggaran, pengadaan barang dan jasa, pelayanan publik, serta pengawasan internal. Melalui sistem ini, pemerintah daerah diminta untuk secara berkala menginput data pada platform Jaga.id yang kemudian diverifikasi oleh KPK. Langkah ini dilakukan untuk mendorong keterbukaan, memperkuat pengawasan internal, dan meminimalisir potensi penyimpangan.

 

Salah satu contoh daerah yang sedang memperkuat upaya perbaikannya adalah Kabupaten Fakfak di Provinsi Papua Barat. Pelaksana Tugas Inspektur Inspektorat Kabupaten Fakfak, Ahmad Uswanas, menyatakan bahwa capaian MCP Fakfak pada 2024 masih berada di angka 38 persen. Meski belum ideal, capaian ini menjadi indikator awal yang penting dalam menandai langkah awal transformasi tata kelola di daerah tersebut.

 

Pihaknya juga menegaskan bahwa pendampingan dari KPK sangat berarti bagi daerah yang sedang membangun sistem birokrasi yang lebih bersih dan efisien. Dengan memperbaiki area intervensi strategis yang masih lemah, Fakfak berkomitmen untuk meningkatkan nilai MCP secara bertahap sebagai bagian dari reformasi birokrasi yang menyeluruh.

 

Sementara itu, capaian berbeda terlihat di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara, yang berhasil menorehkan prestasi signifikan dalam hal pencegahan korupsi. Wali Kota Tanjungbalai, Mahyaruddin Salim dalam rapat koordinasi wilayah I KPK menyampaikan komitmennya dalam menolak segala bentuk gratifikasi, menjalankan penganggaran berbasis prioritas publik, serta memperkuat sinergi dengan aparat penegak hukum.

 

Capaian MCP Tanjungbalai yang mencapai 91 persen pada 2024 menempatkan kota tersebut di posisi keempat di Provinsi Sumatera Utara dan peringkat ke-139 secara nasional. Menurut Mahyaruddin, capaian ini merupakan hasil nyata dari kerja kolektif seluruh jajaran pemerintah kota yang mendapat dukungan penuh dari KPK dan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dalam bentuk pelatihan dan pendampingan teknis.

 

Pihaknya juga menyatakan bahwa pemerintah kota berkomitmen penuh dalam membangun tata kelola yang bersih dan akuntabel dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dan birokrasi daerah. Menurutnya, membangun integritas aparatur pemerintah tidak hanya soal regulasi, tetapi soal budaya kerja yang menjunjung tinggi etika dan tanggung jawab publik.

 

Berbagai upaya tersebut menunjukkan bahwa pemberantasan korupsi bukan hanya tugas lembaga penegak hukum semata, tetapi menjadi agenda kolektif seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah pusat dan daerah memiliki peran strategis dalam memperkuat sistem, membangun budaya integritas, dan menanamkan kesadaran antikorupsi sejak dini kepada seluruh aparatur negara dan masyarakat.

 

Ke depan, pemerintah melalui KPK akan terus mengembangkan berbagai strategi inovatif dalam mencegah dan menindak korupsi secara lebih efektif. Transformasi digital, keterlibatan masyarakat, serta penguatan kapasitas kelembagaan akan menjadi kunci dalam menciptakan pemerintahan yang bersih, melayani, dan berpihak pada rakyat.

 

Dengan semangat kolaborasi dan komitmen yang konsisten, Indonesia optimistis mampu membangun tata kelola pemerintahan yang tahan terhadap godaan korupsi. Inilah fondasi utama untuk mewujudkan pembangunan nasional yang adil, berkelanjutan, dan dipercaya oleh rakyat.

 

)* Penulis merupakan pengamat isu strategis

 

 

Presiden Prabowo Luncurkan Program HTC, Fokus Bangun Sekolah dan Sejahterakan Guru

BOGOR – Presiden Prabowo Subianto meresmikan Program Hasil Terbaik Cepat (HTC) dalam rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 yang digelar di SDN 05 Cimahpar, Bogor Utara, Jawa Barat. Dalam pidatonya, Presiden menegaskan bahwa pendidikan adalah jalan utama menuju kejayaan bangsa.

 

“Kita tidak bisa menjadi negara yang hebat dan rakyatnya sejahtera tanpa pendidikan yang baik. Pendidikan adalah kunci untuk mencerdaskan bangsa dan membangun masa depan,” ujar Presiden Prabowo di hadapan para siswa, guru, dan pejabat yang hadir.

 

Program HTC, lanjut Presiden, merupakan bentuk nyata keberpihakan pemerintah terhadap sektor pendidikan. Salah satu prioritasnya adalah membangun kembali sekolah-sekolah rusak dan meningkatkan kesejahteraan guru. Pemerintah menargetkan revitalisasi terhadap lebih dari 10 ribu sekolah pada tahun 2025, dengan anggaran mencapai Rp16,9 triliun.

 

“Kalau anak-anak kita belajar di kelas yang bocor dan rusak, bagaimana bisa tumbuh dengan nyaman? Kita harus pastikan mereka belajar di tempat yang aman dan layak,” kata Prabowo.

 

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menjelaskan bahwa guru juga menjadi perhatian penting dalam program ini. “Presiden akan memberikan bantuan Rp3 juta per semester bagi guru yang belum menyelesaikan pendidikan D4 atau S1. Selain itu, guru honorer akan mendapatkan bantuan Rp300 ribu per bulan,” terang Mu’ti.

 

Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hariqo Satria, menambahkan bahwa hampir 40 persen ruang kelas di Indonesia berada dalam kondisi rusak ringan hingga berat. Ia menegaskan pentingnya dukungan infrastruktur untuk mencetak generasi unggul.

 

“Tidak mungkin kita bicara Indonesia Emas kalau anak-anak belajar di ruang kelas yang rusak dan tidak layak,” ujar Hariqo. “Presiden ingin anak-anak Indonesia punya masa depan cerah, pendapatan tinggi, dan bisa bersaing di dunia internasional.”

 

Program HTC juga mengusung misi digitalisasi pendidikan. Widyaprada Ahli Utama Kemendikdasmen, Jumeri, menyebutkan bahwa sekolah seperti SD Negeri 2 Purwokerto Wetan akan dijadikan percontohan untuk program revitalisasi dan pembelajaran digital.

 

Peluncuran HTC ini menunjukkan komitmen Presiden Prabowo dalam memperkuat fondasi pendidikan nasional, sekaligus menjadi langkah konkret membangun fasilitas pendidikan yang layak demi masa depan generasi muda Indonesia.

Transparansi Kunci Sukses Koperasi Merah Putih: Strategi Pengawasan di Era Sentralistik

Jakarta – Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong transformasi ekonomi desa melalui program nasional Koperasi Desa Merah Putih, sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025. Program ini menjadi tonggak penting dalam pemerataan pembangunan dengan target pembentukan 80.000 koperasi di desa dan kelurahan seluruh Indonesia hingga Juli 2025, disertai dukungan dana negara hingga Rp5 miliar per koperasi.

Dalam menghadapi tantangan sistem birokrasi yang masih terpusat, pemerintah justru memperkuat strategi pengawasan berbasis transparansi dan akuntabilitas. Komitmen ini ditegaskan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang menyatakan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada partisipasi aktif dari masyarakat desa dan pengelolaan koperasi yang bersih.

“Ini adalah gerakan pemberdayaan. Kita ingin desa menjadi pusat pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah memberikan perhatian serius terhadap tata kelola koperasi yang modern dan profesional. Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi menekankan pentingnya keterbukaan sebagai kunci utama.

“Transparansi bukan hanya slogan, tapi fondasi keberhasilan koperasi desa. Pengelolaan yang akuntabel akan membangun kepercayaan warga,” tegas Budi Arie Setiadi.

Dalam mendukung efektivitas program, pemerintah mengintegrasikan inovasi teknologi melalui platform Desa Cerdas yang menyediakan sistem pencatatan keuangan digital, manajemen stok, hingga pemasaran daring. Hal ini tidak hanya mempercepat kinerja koperasi, tetapi juga menjadi alat pengawasan digital yang efisien.

Langkah konkret lainnya ditunjukkan melalui tujuh mandat strategis, termasuk pelatihan nasional, percepatan legalitas koperasi, dan pelaporan berkala langsung ke Presiden. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah memastikan pengawasan yang menyeluruh dan akuntabel, sehingga tidak ada dana rakyat yang disalahgunakan.

Implementasi di lapangan pun sangat menggembirakan. Di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, sebanyak 69 desa berkomitmen membentuk koperasi sebelum akhir April. Bahkan, pemerintah daerah memberikan subsidi biaya legalitas sebesar Rp1,5 juta per koperasi, menunjukkan keseriusan sinergi antarlevel pemerintahan.

Dukungan penuh juga datang dari Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan yang menekankan pentingnya kepemilikan lokal dalam koperasi.

“Koperasi ini milik warga desa. Bukan seperti KUD dulu. Bisa menyimpan, meminjam, dan menyalurkan program pemerintah secara langsung,” ujar Zulkifli Hasan.

Kesuksesan Koperasi Merah Putih adalah hasil dari sinergi hebat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat desa. Dengan semangat gotong royong dan pengawasan yang kuat, program ini akan menjadi tulang punggung ekonomi desa yang mandiri, transparan, dan berdaya saing tinggi.

Pemerintah telah membuktikan bahwa dengan transparansi, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor, transformasi ekonomi desa dapat terwujud secara nyata. Keberhasilan Koperasi Merah Putih menjadi simbol kebangkitan ekonomi kerakyatan di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang penuh terobosan dan keberpihakan pada desa. {^}

Koperasi Merah Putih: Pilar Ekonomi Rakyat Era Presiden Prabowo

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto telah mengambil langkah revolusioner melalui pembangunan 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih di seluruh penjuru Indonesia. Program ini menjadi bukti nyata dari komitmen kuat pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi rakyat yang mandiri dan berkeadilan.
Langkah monumental ini diperkuat dengan terbitnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025 tentang percepatan pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, yang telah resmi ditandatangani oleh Presiden Prabowo sejak 27 Maret 2025. Inpres ini menunjukkan bahwa pembangunan koperasi bukan sekadar program, tetapi merupakan agenda strategis nasional.

Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi menjelaskan bahwa setiap unit koperasi akan menerima pendanaan awal sebesar Rp5 miliar, yang bila dikalikan dengan target 80 ribu koperasi menghasilkan total investasi sebesar Rp400 triliun. Ini merupakan suntikan modal terbesar sepanjang sejarah Indonesia dalam sektor koperasi.

“Kalau misalnya 80.000 dikalikan Rp5 miliar itu artinya sekitar Rp400 triliun (modal keseluruhan),” ungkap Budi, menegaskan skala besar dari visi pemerintah ini.

Untuk menjamin keberlanjutan dan tata kelola yang akuntabel, pemerintah telah menyiapkan skema pendampingan keuangan koperasi melalui perbankan nasional. Pelatihan, supervisi, dan asistensi teknis akan memastikan bahwa setiap koperasi dikelola secara profesional dan aman dari risiko keuangan.

“Nanti misalnya bank membantu pelatihan, mengawal keuangannya sehingga membutuhkan pendampingan,” lanjut Budi Arie Setiadi.

Lebih lanjut, Wakil Menteri Koperasi, Fery Juliantono menyampaikan bahwa program ini bukan hanya menghadirkan koperasi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi berlipat ganda. Ia menekankan bahwa dari total investasi Rp400 triliun, koperasi dapat memberikan dampak ekonomi hingga Rp2.000 triliun dalam dua tahun ke depan.

“Harapannya 2 tahun lah, dari Rp400 triliun yang dikucurkan itu bisa di-leverage menjadi Rp2.000 triliun,” ujar Fery Juliantono .

Tak hanya itu, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai wadah pemberdayaan masyarakat secara menyeluruh. Berbagai segmen masyarakat—dari ibu rumah tangga, pemuda, hingga tenaga kesehatan seperti apoteker—akan terlibat aktif sesuai bidang masing-masing.

“Jadi ibu-ibu… anak-anak muda… apoteker itu akan disediakan oleh Kementerian Kesehatan, menunjukkan inklusivitas dan keadilan sosial dalam program ini” imbuh Fery.

Sebagai koperasi yang lahir dari semangat kebangsaan, Koperasi Merah Putih berperan strategis dalam membiayai UMKM, sektor pertanian, dan industri nasional. Pemerintah menegaskan bahwa koperasi ini akan menjadi motor penggerak ekonomi rakyat yang tangguh dan berdaulat.

Dengan langkah konkret, skema pendanaan yang matang, dan visi ekonomi kerakyatan yang kuat, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan posisinya sebagai pelopor transformasi ekonomi Indonesia berbasis koperasi dan solidaritas nasional. [^]

Meningkatkan Transparansi Koperasi Merah Putih: Langkah Pengawasan Efektif untuk Keberlanjutan

Oleh: Indriani Nova )*

 

Transparansi menjadi salah satu fondasi utama dalam tata kelola kelembagaan yang sehat dan berkelanjutan, termasuk dalam badan usaha berbasis keanggotaan seperti koperasi. Koperasi Desa Merah Putih yang akan diluncurkan pada 12 Juli 2025 oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membawa harapan baru sekaligus tantangan besar dalam upaya membangun ekonomi nasional dari level akar rumput.

 

Menteri Koperasi (Menkop), Budi Arie Setiadi mengatakan Koperasi Desa Merah Putih harus dikelola dengan transparan, akuntabel, dan profesional. Ketika transparansi melemah, risiko ketimpangan informasi, penyalahgunaan kewenangan, dan melemahnya akuntabilitas meningkat, yang pada akhirnya dapat merusak kepercayaan dan membahayakan keberlangsungan koperasi itu sendiri. Oleh karena itu, membangun sistem pengawasan yang efektif menjadi langkah strategis yang tak dapat ditunda.

 

Sementara itu Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian mengatakan bahwa Koperasi Desa Merah Putih ini dapat menjadi titik awal bagi lahirnya industrialisasi pedesaan yang berakar pada prinsip-prinsip ekonomi Pancasila. Ia menilai koperasi bukan hanya alat untuk memperkuat sektor ekonomi tradisional, tetapi juga sarana untuk membangun ekosistem modern yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dengan dinamika dan kebutuhan ekonomi global.

 

Tito menekankan bahwa koperasi desa seharusnya tidak terus-menerus bergerak di bidang konsumsi atau simpan pinjam seperti yang selama ini lazim terjadi. Sebaliknya, koperasi perlu berevolusi menjadi aktor utama dalam rantai produksi, distribusi, hingga mampu menembus pasar ekspor. Dengan demikian, koperasi dapat memainkan peran yang lebih strategis dalam struktur perekonomian nasional.

 

Dalam hal pembiayaan, Tito juga menyoroti pentingnya peran lembaga Danantara yang bertugas mengonsolidasikan serta memaksimalkan pemanfaatan aset negara bagi kepentingan masyarakat luas. Ia mengusulkan agar Danantara tidak beroperasi secara terpisah, melainkan terlibat langsung sebagai mitra strategis di dalam koperasi desa. Sinergi ini, menurutnya, akan memperkuat posisi tawar koperasi, mempercepat akses terhadap permodalan, serta menjadikan koperasi desa sebagai motor penggerak utama pembangunan ekonomi rakyat.

 

Lebih lanjut, Tito mengusulkan agar koperasi-koperasi tersebut dapat terhubung langsung dengan mekanisme pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini dianggap penting untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas, sekaligus mendorong penerapan tata kelola modern seperti yang telah terbukti efektif di sektor keuangan.

 

Transparansi dalam konteks koperasi mencakup keterbukaan informasi terkait keuangan, pengambilan keputusan, perencanaan program, hingga pertanggungjawaban pengurus. Namun, transparansi bukan hanya sebatas keterbukaan administratif, melainkan juga menyangkut aspek budaya organisasi. Koperasi yang transparan menciptakan lingkungan di mana anggota merasa terlibat secara aktif dalam proses pengambilan keputusan dan memiliki akses yang memadai terhadap informasi penting.

 

Tokoh Koperasi Pemuda sekaligus mantan Ketua Kokesma ITB, Turino Yulianto menyoroti aspek ideologis yang melekat dalam inisiatif Koperasi Desa Merah Putih. Ia mengatakan program ini sebagai langkah strategis dari Presiden Prabowo dalam melakukan transformasi menyeluruh terhadap struktur ekonomi nasional. Menurut Turino, koperasi desa menjadi instrumen penting untuk menggeser tatanan ekonomi yang cenderung oligarkis menuju sistem ekonomi rakyat yang lebih berkeadilan dan berorientasi pada pemerataan.

 

Dalam konteks ketimpangan distribusi aset dan akses terhadap peluang ekonomi yang masih menjadi persoalan utama di Indonesia, Turino menilai bahwa koperasi desa dapat memainkan peran signifikan sebagai alat koreksi terhadap ketidakadilan struktural yang selama ini menghambat pembangunan nasional secara merata.

 

Ia menjelaskan bahwa koperasi desa memiliki potensi besar dalam memperbaiki sistem tata niaga di tingkat lokal, terutama di wilayah pedesaan. Melalui pengelolaan potensi unggulan desa, distribusi pupuk, hingga pengembangan berbagai unit usaha berbasis desa, koperasi ini diharapkan mampu menjadi sarana paling efektif dalam mewujudkan pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat.

 

Partisipasi aktif anggota juga menjadi elemen penting dalam membangun transparansi dan pengawasan. Koperasi yang sehat adalah koperasi yang anggotanya memiliki kesadaran tinggi untuk terlibat dalam musyawarah, pengambilan keputusan, dan pemantauan pelaksanaan program. Oleh karena itu, edukasi kepada anggota tentang hak dan tanggung jawab mereka, serta pentingnya keterlibatan aktif dalam kegiatan koperasi, merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas demokrasi ekonomi dalam koperasi.

 

Keberlanjutan koperasi pada akhirnya sangat ditentukan oleh kepercayaan. Ketika anggota merasa yakin bahwa koperasi mereka dikelola secara jujur, terbuka, dan bertanggung jawab, maka komitmen mereka untuk terus aktif dan loyal juga akan meningkat. Sebaliknya, koperasi yang tertutup dan rawan praktik koruptif cenderung mengalami penurunan partisipasi anggota, konflik internal, bahkan pembubaran.

 

Membangun transparansi juga berarti membangun keadilan. Ketika seluruh anggota memiliki akses terhadap informasi dan bisa berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, maka distribusi manfaat koperasi pun menjadi lebih merata. Tidak ada lagi dominasi kelompok tertentu atau pengurus yang mengambil keputusan sepihak. Inklusivitas akan tercipta, dan koperasi benar-benar menjadi milik bersama.

 

Dengan komitmen kolektif untuk memperkuat sistem pengawasan dan membudayakan transparansi, Koperasi Merah Putih akan mampu menjawab tantangan zaman sekaligus tetap menjaga jati dirinya sebagai lembaga ekonomi rakyat yang adil, demokratis, dan berkelanjutan. Ini bukan hanya tentang mengelola organisasi secara efisien, tetapi tentang menjaga amanah jutaan anggota yang menaruh harapan pada koperasi sebagai jalan kemandirian ekonomi bangsa.

 

 

)* Penulis adalah jurnalis ekonomi di PT SCE Investama Tbk

Pemerintah Segera Luncurkan 80 Koperasi Merah Putih Sebagai Percontohan

Oleh : Usman Nadhir )*

 

Pemerintah kembali menegaskan komitmennya terhadap pembangunan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan melalui peluncuran program 80 Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih sebagai percontohan di seluruh provinsi. Program ini merupakan langkah awal dari rencana besar membentuk 80 ribu koperasi desa dan kelurahan di seluruh Indonesia.

Program unggulan ini bukan hanya menjadi simbol semangat gotong royong dan kemandirian, tetapi juga ditargetkan menjadi solusi konkret atas berbagai persoalan struktural yang dihadapi masyarakat pedesaan, mulai dari akses permodalan hingga distribusi barang dan jasa. Peluncuran Kopdes Merah Putih menjadi sinyal kuat bahwa era koperasi yang stagnan dan hanya menjadi wacana sosial tanpa aksi nyata akan segera berakhir.

Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk menghadirkan role model pengoperasian koperasi desa yang tepat dan kontekstual sesuai dengan karakteristik tiap daerah. Dalam praktiknya, desa berbasis pertanian tentu memiliki pendekatan berbeda dengan desa agro-maritim. Maka dari itu, 80 koperasi percontohan akan dijadikan laboratorium lapangan yang menguji sistem, proses manajemen, dan model bisnis terbaik sebelum direplikasi ke ribuan desa lainnya.

Tak hanya soal pendirian koperasi, pemerintah juga telah meluncurkan situs resmi kopdesmerahputih.kop.id sebagai sistem pendaftaran dan pengawasan berbasis data tunggal yang memudahkan koordinasi antarinstansi serta menjamin akuntabilitas pengelolaan koperasi.

Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kualitas sumber daya pengelolanya. Budi menekankan pentingnya kepemimpinan, kemampuan manajerial, disiplin keuangan, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan digitalisasi. Oleh karena itu, anak-anak muda desa didorong untuk ambil bagian dalam mengelola koperasi ini. Dengan kombinasi semangat muda dan dukungan kebijakan yang kuat, koperasi desa berpeluang menjadi wadah inovasi dan penciptaan nilai ekonomi baru. Melalui digitalisasi, koperasi dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas, mengadopsi sistem pencatatan yang transparan, serta mengelola stok dan layanan secara efisien.

Lebih dari sekadar simbolisme, Kopdes Merah Putih digagas sebagai jawaban atas tantangan riil yang dihadapi masyarakat desa, termasuk jeratan rentenir dan maraknya pinjaman online (pinjol) ilegal yang kerap menjebak masyarakat dalam lingkaran utang. Wakil Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menyebut bahwa koperasi desa akan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru yang saling menguntungkan antarwarga.

Koperasi tidak hanya akan menjalankan fungsi simpan pinjam, tetapi juga akan menjadi pusat distribusi kebutuhan harian, pupuk, benih, pestisida, bahkan menyediakan apotek dan klinik desa. Dalam konteks ini, koperasi bukan lagi sekadar unit usaha kolektif, melainkan transformasi menjadi pusat layanan masyarakat yang menyeluruh.

Selain itu, program ini diyakini mampu memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara signifikan. Wali Kota Batu, Nurochman, menilai pendirian koperasi desa sebagai langkah strategis membangun fondasi kemandirian ekonomi di akar rumput.

Pemerintah pusat juga akan memberikan bantuan modal awal bagi tiap koperasi, sehingga dapat langsung menjalankan unit-unit usaha potensial seperti toko sembako murah, layanan logistik, hingga fasilitas cold storage untuk produk pertanian dan perikanan. Dengan peran ini, Kopdes Merah Putih akan menjadi motor penggerak ekonomi lokal sekaligus solusi atas persoalan rantai pasok dan harga bahan pokok yang kerap tidak stabil di pedesaan.

Program Kopdes Merah Putih juga menandai hadirnya pendekatan baru dalam redistribusi aset dan pemerataan ekonomi. Dengan menjadikan masyarakat desa sebagai subjek utama pembangunan ekonomi, negara mendorong pertumbuhan dari pinggiran, sejalan dengan semangat Nawacita yang selama ini menjadi pedoman pembangunan nasional. Jika selama ini desa kerap menjadi objek pembangunan yang pasif, kini melalui koperasi desa, masyarakat diberi peran aktif sebagai pelaku utama perubahan. Ini adalah bentuk konkret demokratisasi ekonomi yang sejati.

Pada akhirnya, kesuksesan Kopdes Merah Putih tidak hanya akan menjadi kebanggaan pemerintah, tetapi juga akan menentukan wajah masa depan ekonomi Indonesia. Ketika desa kuat dan mandiri, maka ketahanan nasional pun semakin kokoh.

Tentu, keberhasilan program ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak: pemerintah pusat dan daerah, akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat desa sendiri. Literasi koperasi harus ditingkatkan, pendampingan harus terus dilakukan, dan sistem pengawasan harus diperkuat agar koperasi tidak sekadar berdiri di atas kertas, tetapi betul-betul hidup dan berkembang. Pemerintah juga perlu mendorong pelibatan generasi muda desa dalam pengelolaan koperasi agar inovasi dan digitalisasi bisa lebih cepat diadopsi. Koperasi tidak boleh terjebak dalam pola lama yang stagnan, tetapi harus menjadi entitas yang adaptif, responsif, dan profesional.

Ini adalah bagian dari visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam membangun Indonesia dari pinggiran, memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari level desa. Dengan begitu, seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat mendukung penuh program pembangunan Koperasi Desa Merah Putih sebagai upaya bersama membangun kesejahteraan masyarakat dari desa, sekaligus menata ulang tatanan perekonomian nasional yang lebih adil, merata, dan berkelanjutan. Koperasi bukan hanya milik masa lalu. Di tangan generasi baru desa, koperasi adalah masa depan Indonesia.

)* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik.