Komitmen Kuat Pemerintah Tingkatkan Kesejahteraan Buruh dan Tekan Angka Kemiskinan

Oleh : Rivka Mayangsari*)

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen yang luar biasa dalam meningkatkan kesejahteraan buruh dan menekan angka kemiskinan di seluruh penjuru Tanah Air. Dengan langkah nyata dan kebijakan pro-rakyat, pemerintahan ini terus membuktikan bahwa kesejahteraan buruh adalah fondasi utama bagi kemajuan bangsa.

Presiden Prabowo menegaskan bahwa para buruh merupakan tulang punggung negara dan tanpa kehadiran mereka, roda perekonomian tidak akan berputar. Oleh karena itu, Presiden menyatakan bahwa negara memiliki kewajiban untuk memastikan perlindungan dan kesejahteraan yang layak bagi para pekerja. Dalam pidatonya di Jakarta, Presiden menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan upah minimum, memperbaiki sistem jaminan sosial, serta memberikan perlindungan yang lebih besar kepada buruh.

Sebagai bukti nyata dari komitmen tersebut, Presiden Prabowo mengumumkan bahwa rata-rata upah minimum nasional akan meningkat sebesar 6,5 persen untuk tahun 2025. Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui diskusi mendalam dengan pimpinan serikat buruh, menunjukkan pendekatan pemerintah yang dialogis dan inklusif. Presiden juga menekankan bahwa kebijakan peningkatan upah minimum ini merupakan bagian dari jaringan pengaman sosial yang sangat penting untuk melindungi kesejahteraan para buruh Indonesia.

Tak hanya di tingkat nasional, di daerah-daerah pun semangat ini bergelora. Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menyampaikan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan buruh di wilayahnya. Komitmen tersebut dibuktikan melalui penandatanganan Surat Keputusan pembentukan Satgas Pengawasan Ketenagakerjaan, yang bertujuan untuk memastikan hak-hak pekerja diawasi dan dilindungi secara maksimal. Satgas ini melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, serikat pekerja, akademisi, Polri, dan unsur terkait lainnya, membentuk kekuatan kolektif dalam membela hak-hak buruh.

Dalam audiensi bersama serikat buruh, Gubernur Rudy menekankan pentingnya kolaborasi antar serikat pekerja untuk memperkuat daya tawar mereka. Ia juga meminta agar serikat pekerja dan buruh melakukan pendataan anggota secara baik, agar pemerintah provinsi dapat memberikan layanan seperti program Gratispol, yakni BPJS Kesehatan gratis untuk pekerja berupah di bawah Usecara lebih efektif. Dengan upaya tersebut, Provinsi Kaltim diharapkan tidak hanya berfokus pada kesejahteraan buruh, tetapi juga membangun iklim investasi yang kondusif guna mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.

Langkah konkret dalam memperbaiki taraf hidup masyarakat juga tampak di Kabupaten Kendal. Pemerintah Kabupaten Kendal menyelenggarakan Kendal Job Fair 2025 sebagai bentuk nyata untuk membuka peluang kerja seluas-luasnya. Dalam sambutannya, Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menyatakan bahwa pihaknya menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini sebagai upaya untuk memberikan informasi dan peluang kerja, menekan angka pengangguran terbuka, serta mempercepat penanggulangan kemiskinan.

Dyah juga menandaskan bahwa Job Fair ini merupakan bentuk sinergitas dan kerja sama mutualisme antara dunia industri, pekerja, dan pemerintah daerah. Melalui berbagai inisiatif seperti ini, diharapkan angka pengangguran dapat ditekan dan kesejahteraan masyarakat meningkat secara signifikan.

Tak hanya berhenti di situ, Kabupaten Tangerang menunjukkan inovasi luar biasa dalam menangani kemiskinan ekstrem. Pemerintah Kabupaten Tangerang meluncurkan Program Unggulan bertajuk Prospek (Program Sosial Peningkatan Ekonomi Kerakyatan dan Daerah) melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.

Dalam penjelasannya, perwakilan Pemkab Tangerang, Soma, mengungkapkan bahwa rendahnya tingkat pendidikan, minimnya lapangan pekerjaan, serta belum meratanya jaminan sosial menjadi penyebab utama kemiskinan ekstrem di sejumlah wilayah. Untuk itu, pemerintah daerah menyiapkan berbagai langkah konkret, mulai dari penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penciptaan lapangan kerja berkualitas, hingga pengembangan industri agromaritim berbasis koperasi.

Selain itu, Pemkab juga fokus pada penguatan sistem perdagangan dan jasa serta pelatihan kolaboratif guna mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Pemkab Tangerang tengah mendorong sinergi antarlembaga guna menekan angka kemiskinan ekstrem dan pengangguran. Salah satu inisiatif unggulan adalah pemanfaatan buah kemiri menjadi minyak dan pengolahan tempe semangit, hasil riset tim Swiss German University yang didukung oleh PT TSN sebagai mitra produksi.

Melalui berbagai upaya tersebut, terlihat bahwa pemerintah pusat dan daerah saling bersinergi dalam membangun Indonesia yang lebih sejahtera dan adil. Presiden Prabowo Subianto dan seluruh jajaran pemerintah daerah membuktikan bahwa memperjuangkan hak-hak buruh serta menurunkan angka kemiskinan bukan sekadar janji, melainkan prioritas utama.

Dengan komitmen kuat, kerja sama lintas sektor, dan program-program inovatif, masa depan Indonesia tampak semakin cerah. Buruh sebagai tulang punggung bangsa kini mendapatkan perhatian penuh, dan masyarakat yang selama ini termarjinalkan mulai merasakan harapan baru. Semua langkah ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia sedang bergerak menuju kesejahteraan yang merata dan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.

Lebih jauh lagi, langkah progresif pemerintah ini mencerminkan visi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju yang berlandaskan keadilan sosial dan ekonomi inklusif. Dengan terus memperkuat perlindungan buruh, memperluas lapangan kerja, dan menekan angka kemiskinan, bangsa ini diyakini mampu menciptakan generasi yang lebih sejahtera, berdaya saing global, serta memiliki masa depan yang penuh dengan optimisme dan kesejahteraan berkelanjutan.

*) Pemerhati Ekonomi

Pelaksanaan PSU di Berbagai Wilayah Berjalan Kondusif

JAKARTA – Beberapa pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di sejumlah daerah di Indonesia berlangsung aman, lancar, dan kondusif. Fakta ini mencerminkan kematangan demokrasi serta sinergi kuat antar-lembaga penyelenggara pemilu dan aparat keamanan.

Di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, anggota Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Taufik Hidayat, SH., MH., mengapresiasi jalannya PSU yang berlangsung tanpa hambatan. Kabupaten Tasikmalaya tercatat dalam perkara nomor 132/PHPU.BUP-XXIII/2025 di Mahkamah Konstitusi, dengan 2.847 TPS dan 1.418.928 DPT.

“Pelaksanaan PSU di Kabupaten Tasikmalaya berjalan aman, lancar, dan kondusif. Saat ini proses penghitungan suara di TPS sedang berjalan,” ujarnya.

Sementara itu, di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Kapolres Palopo, AKBP Dedi Surya Dharma mengintensifkan koordinasi dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) untuk memastikan pelaksanaan PSU yang tertib dan damai.

“Kami mendukung penuh Bawaslu agar PSU berjalan aman dan demokratis,” katanya dalam kunjungan ke kantor Bawaslu Palopo. Ketua Bawaslu Palopo, Khaerana, menyambut baik sinergi tersebut dan menegaskan pentingnya komunikasi lintas sektor guna mencegah potensi konflik.

Di Kalimantan Timur, PSU di wilayah Muara Badak dan Marangkayu, Kutai Kartanegara, juga berlangsung sukses. Kapolres Bontang, AKBP Alex Frestian Lumban Tobing, mengapresiasi kerja keras seluruh pihak, termasuk TNI, Polri, KPU, Bawaslu, pemerintah daerah, dan masyarakat.

“Seluruh rangkaian kegiatan mulai pemungutan suara hingga distribusi logistik berjalan aman dan lancar,” ungkapnya. Keberhasilan ini diperkuat dengan pengawalan ketat logistik pemilu dan apel pengembalian BKO Brimob sebagai simbol rampungnya tahapan pengamanan.

Di sisi lain, pasca-PSU, suasana rekonsiliasi mulai mengemuka. Salah satu tokoh, Awang Yacoub Luthman, menyerukan semua pihak untuk mengakhiri persaingan dan mengedepankan sinergi demi keadilan dan kesejahteraan rakyat Kukar.

“Akhiri kompetisi, bangun sinergi, buat rekonsiliasi,” serunya.

Di Jawa Tengah, Ketua Bawaslu Provinsi, Muhammad Amin mengonfirmasi bahwa pelaksanaan Pilgub 2024, termasuk PSU di Kabupaten Pemalang dan Karanganyar, berjalan dengan baik meskipun tetap ditemukan beberapa pelanggaran.

“Sebanyak 118 dugaan pelanggaran berhasil ditangani berkat pengawasan partisipatif dari masyarakat,” ucapnya. Langkah pengembangan desa pengawasan dan desa anti-politik uang pun terus didorong untuk memperkuat integritas pemilu ke depan.

Sementara itu, Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin mengungkapkan, partisipasi aktif masyarakat menunjukkan semangat demokrasi yang semakin kuat. Proses rekapitulasi suara di Gorontalo Utara bahkan telah selesai hingga tingkat kabupaten/kota melalui aplikasi Sirekap.

“Capaian positif di Gorontalo Utara, yang menjadi daerah dengan tingkat partisipasi tertinggi dalam PSU kali ini, yakni 80,11 persen,” katanya.

Secara keseluruhan, pelaksanaan PSU di berbagai wilayah membuktikan bahwa demokrasi Indonesia semakin matang. Keberhasilan ini menjadi modal berharga untuk menyongsong gelaran pemilu mendatang dengan semangat partisipasi, integritas, dan persatuan yang lebih kuat.

Tokoh Masyarakat dan Pemuda Ajak Masyarakat Terima Hasil PSU

Jakarta – Dalam semangat menjaga demokrasi yang sehat dan damai, sejumlah tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia mengajak masyarakat untuk menerima hasil Pemungutan Suara Ulang (PSU) dengan bijak dan penuh kedewasaan. Ajakan ini disampaikan menyusul pelaksanaan PSU di beberapa wilayah yang ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) akibat pelanggaran dalam proses pemilihan sebelumnya.

Ketua Milenial SASUAI, Ulul Azmi menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas terselenggaranya PSU di Kabupaten Pasaman yang berjalan aman, tertib dan lancar. Pihaknya menekankan pentingnya kehadiran warga di Tempat Pemungutan Suara (TPS) sebagai bentuk tanggung jawab dalam menentukan pemimpin yang akan melanjutkan pembangunan daerah.

“Saya mengapresiasi masyarakat yang telah hadir ke TPS. Karena ini adalah pemilihan kepala daerah, pemilihan pemimpin yang akan melanjutkan pembangunan di Kabupaten Pasaman,” kata Ulul.

Sementara itu, Ketua GP Ansor Empat Lawang, Defi Albusyairi mengimbau masyarakat diharapkan dapat memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya terhadap proses PSU yang lancar. Masyarakat juga diminta untuk menghargai dan menerima hasil PSU sebagai bagian dari komitmen bersama dalam membangun demokrasi yang bermartabat.

“Masyarakat diharapkan dapat memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap proses PSU, karena kelancaran pelaksanaannya. Masyarakat hendaknya menghargai dan menerima hasil PSU sebagai bagian dari komitmen bersama dalam membangun demokrasi yang bermartabat,” ucapnya.

Di Jawa Timur, pelaksanaan PSU berjalan tertib dan aman. Ketua KPU Magetan, Aang Kunaifi mengatakan dalam rangka memastikan proses demokrasi yang adil dan transparan, pelaksanaan PSU telah berjalan dengan lancar serta patut diapresiasi, mengingat tantangan yang dihadapi serta kompleksitas logistik yang terlibat dalam penyelenggaraannya.

“Kami melakukan pantauan dan pendampingan total terhadap penyelenggara pemilu dalam melaksanakan pemungutan suara ulang. Jaga kewenangan sebagai bagian dari penyelenggara serta laksanakan dengan penuh tanggung jawab,” ujar Yuliyanto.

Ajakan dari para tokoh masyarakat ini mencerminkan komitmen bersama untuk menjaga stabilitas dan kedamaian dalam proses demokrasi. Mereka berharap masyarakat dapat menerima hasil PSU dengan lapang dada, menjauhi konflik, dan bersama-sama membangun daerah masing-masing demi kesejahteraan bersama.

Terselenggaranya PSU secara aman dan damai merupakan sebuah pencapaian penting yang patut diapresiasi oleh seluruh elemen masyarakat. Di tengah dinamika politik dan berbagai tantangan teknis, seluruh pihak, mulai dari penyelenggara pemilu, aparat keamanan, hingga masyarakat pemilih, telah menunjukkan kedewasaan berdemokrasi.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa demokrasi Indonesia semakin matang, dengan seluruh peserta pemilu mampu menahan diri dan menghormati setiap tahapan yang ditetapkan secara konstitusional.

Apresiasi Pelaksanaan dan Hasil Penghitungan Suara PSU

Oleh : Nover Saputra Herman )*

Pemungutan Suara Ulang (PSU) yang sudah dilaksanakan di berbagai daerah pada April 2025 menunjukkan kematangan demokrasi bangsa. Di tengah tantangan teknis dan dinamika politik yang mengiringi proses ini, pelaksanaan PSU mampu berlangsung secara aman, damai, dan tertib, sehingga layak diapresiasi. Kualitas pelaksanaan dan hasil penghitungan suara PSU menjadi refleksi dari komitmen semua pihak dalam menjaga integritas demokrasi di tingkat lokal.

Di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, pelaksanaan PSU pada 19 April 2025 lalu berjalan dengan kondusif. Berdasarkan hasil quick count yang dilakukan oleh lembaga survei independen SCL Taktika, pasangan calon nomor urut 01, Aulia–Rendi, unggul sementara dengan perolehan 56,56 persen suara. Pasangan nomor urut 03, Dendi–Alif, berada di posisi kedua dengan 29,13 persen suara, diikuti oleh pasangan nomor urut 02, Ayl AZA, dengan 14,31 persen suara. Data yang dihimpun dari 400 enumerator yang tersebar di 20 kecamatan ini menunjukkan dominasi suara Aulia–Rendi dalam PSU tersebut.

Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Salehuddin, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan PSU di Kukar yang berjalan baik, damai, dan demokratis. Ia menilai bahwa pelaksanaan tersebut patut menjadi contoh, mengingat tantangan yang ada seperti kondisi banjir yang sempat menyebabkan relokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS). Meski demikian, proses pemungutan suara tetap berjalan lancar tanpa adanya insiden besar yang berpotensi mencederai demokrasi.

Partisipasi pemilih menjadi salah satu aspek penting yang disorot. Salehuddin mengungkapkan harapannya agar warga tetap menunjukkan antusiasme tinggi dalam menggunakan hak pilih, meskipun harus menghadapi kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Tingginya partisipasi pemilih menjadi indikator keberhasilan pelaksanaan PSU, terlebih Kutai Kartanegara memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.

Menanggapi hasil quick count, Salehuddin mengajak seluruh kandidat dan pendukungnya untuk bersikap dewasa dalam menerima hasil resmi yang akan diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ia menekankan bahwa menjaga persatuan dan stabilitas daerah lebih penting daripada sekadar memenangkan kontestasi politik. Menurutnya, demokrasi sejati bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi tentang komitmen bersama membangun daerah dan memperkuat kohesi sosial.

Tidak hanya di Kalimantan Timur, pelaksanaan PSU yang sukses juga terlihat di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Pada 21 April 2025, masyarakat Pasaman menunjukkan semangat demokrasi yang tinggi dengan memadati TPS sejak pagi hari. Tingginya partisipasi warga menjadi pemandangan yang membanggakan, mencerminkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran mereka dalam menentukan masa depan daerah.

Kapolda Sumatera Barat, Irjen Pol Gatot Tri Suryanta, turut memantau langsung pelaksanaan PSU di beberapa lokasi di Pasaman. Ia mengapresiasi terhadap partisipasi aktif masyarakat serta sinergi yang solid antara penyelenggara pemilu, aparat keamanan, dan seluruh pihak terkait. Kapolda Sumbar menilai keberhasilan ini sebagai bukti bahwa demokrasi dapat berjalan seiring dengan terciptanya keamanan dan ketertiban.

Hingga proses penghitungan suara di tingkat TPS, situasi di seluruh wilayah Pasaman tetap aman dan terkendali. Pengamanan ketat oleh personel gabungan TNI-Polri, serta kedewasaan masyarakat dalam berpolitik, menjadi kunci utama kelancaran PSU. Atas keberhasilan tersebut, Polda Sumbar menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, termasuk KPU, Bawaslu, peserta pemilu, tokoh masyarakat, serta seluruh warga Kabupaten Pasaman.

Sementara itu, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pelaksanaan PSU Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota juga berlangsung lancar pada 19 April 2025. Kapolda Kalimantan Selatan, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak atas suksesnya penyelenggaraan PSU. Ia menggarisbawahi bahwa keberhasilan ini berkat sinergi kuat antara TNI, Polri, KPU, Bawaslu, pemerintah daerah, serta partisipasi aktif masyarakat.

Kapolda Kalsel memuji kesadaran masyarakat Banjarbaru dalam menjaga kedamaian selama tahapan PSU berlangsung. Partisipasi aktif dan komitmen untuk mematuhi aturan menjadi kunci utama keberhasilan pelaksanaan PSU. Dengan pengamanan ketat dari aparat, seluruh tahapan berjalan tertib tanpa gangguan yang berarti, mencerminkan kematangan demokrasi masyarakat Banjarbaru.

Tidak dapat disangkal bahwa suksesnya PSU di berbagai daerah merupakan buah dari kerja keras yang sistematis. KPU dan Bawaslu di masing-masing daerah telah menunjukkan profesionalisme yang tinggi dalam mengelola setiap tahapan, mulai dari persiapan logistik, sosialisasi kepada masyarakat, hingga pengawasan proses penghitungan suara. Aparat keamanan juga memainkan peran krusial dengan memastikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan aman, nyaman, dan tertib.

Momentum PSU ini sekaligus menjadi pengingat bahwa demokrasi bukan sekadar seremoni lima tahunan. Demokrasi adalah proses yang menuntut kedewasaan sikap, kesabaran dalam menghadapi perbedaan, dan komitmen dalam mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok. PSU yang berjalan damai mencerminkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga stabilitas sosial demi keberlanjutan pembangunan.

Dengan menjaga kedewasaan politik, menghormati setiap hasil pemilu, dan menolak segala bentuk provokasi, bangsa Indonesia akan mampu memperkokoh perjalanan demokrasinya. PSU yang sukses ini merupakan cermin dari harapan besar menuju demokrasi yang lebih matang, adil, dan berintegritas, demi kemajuan bangsa dan daerah.

)* Penulis adalah Pengamat Politik

Masyarakat Harus Terima Hasil PSU, Bentuk Kedewasaan Berpolitik

Oleh: Ratna Dwi Putranti )*

Dalam perjalanan demokrasi Indonesia, Pemungutan Suara Ulang (PSU) menjadi salah satu mekanisme penting untuk memastikan bahwa setiap proses pemilu berlangsung jujur, adil, dan transparan. PSU bukanlah tanda kegagalan demokrasi, melainkan bukti komitmen bangsa ini untuk menjaga integritas pemilihan umum. Dalam konteks ini, sikap masyarakat dalam menerima hasil PSU menjadi cermin kedewasaan berpolitik yang patut diapresiasi dan terus diperkuat.

Seperti disampaikan oleh Anggota Komisi II DPRD Kota Banjarbaru, Emi Lasari, pelaksanaan PSU yang telah berjalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan harus dihormati oleh semua pihak. Emi menegaskan bahwa seluruh tahapan PSU telah dilakukan dengan prinsip kejujuran dan keadilan. Karena itu, diharapkan tidak ada lagi gugatan yang dapat memperkeruh suasana pasca-PSU. Pihaknya menekankan pentingnya masyarakat untuk bergandengan tangan, mengesampingkan perbedaan, dan kembali bersatu membangun negeri.

Menurutnya, PSU ini merupakan proses yang panjang dan cukup melelahkan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah (PR) kita bersama untuk bisa bersatu kembali, demi Indonesia yang lebih maju. Pihaknya juga mengingatkan bahwa perbedaan yang terus dipelihara hanya akan menghambat pembangunan nasional. Oleh karenanya, sikap legawa dan penghormatan terhadap hasil PSU menjadi kunci utama dalam menciptakan suasana damai dan produktif.

Sikap serupa juga disampaikan oleh Sekretaris Kabupaten Kutai Kartanegara, Sunggono. Pihaknya mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk menerima hasil PSU dengan lapang dada dan tetap menjaga ketertiban. Menurutnya, sikap positif dalam menyikapi hasil pemilihan akan menjadi landasan kuat terciptanya suasana yang kondusif. Sunggono juga menegaskan bahwa rekapitulasi suara PSU harus berjalan secara transparan dan adil, sehingga masyarakat semakin percaya pada proses demokrasi yang tengah dibangun.

Apapun hasilnya, seluruh pihak harus menghormati keputusan yang dihasilkan demi kebaikan bersama. Pernyataan ini memperlihatkan pentingnya mengedepankan kepentingan nasional di atas ego dan ambisi pribadi atau kelompok. Kedewasaan dalam menerima hasil PSU adalah cerminan kualitas demokrasi yang matang, di mana semua pihak mampu mengedepankan persatuan dan keutuhan bangsa.

Dukungan terhadap sikap dewasa masyarakat dalam berdemokrasi juga datang dari Ketua KPU Sumatera Selatan, Andika Pranata Jaya. Pihaknya mengapresiasi kondisi kondusif saat pelaksanaan PSU di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan. Tidak adanya isu gangguan keamanan seperti yang pernah terjadi di pilkada sebelumnya menjadi indikasi bahwa masyarakat semakin memahami makna sejati demokrasi.

Andika menilai bahwa sikap damai dan sejuk dalam menghadapi dinamika politik adalah sinyal positif yang perlu terus dijaga. Menurutnya, fenomena ini adalah contoh baik bagi kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Andika juga mengimbau masyarakat untuk meninggalkan perbedaan dan kembali membangun persatuan pasca-PSU. Pesan ini selaras dengan semangat demokrasi Pancasila yang mengutamakan musyawarah, persatuan, dan gotong royong.

Momen pasca-PSU ini menjadi kesempatan emas bagi bangsa Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kedewasaan demokrasi kita semakin menguat. Pemerintah dan seluruh lembaga penyelenggara pemilu telah bekerja keras memastikan setiap tahap PSU berlangsung dengan adil dan transparan. Kini, tanggung jawab ada di pundak kita sebagai warga negara untuk menghormati hasil tersebut dan melangkah bersama ke depan.

Sebagai bangsa besar, kita harus memahami bahwa perbedaan pilihan politik adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, setelah semua proses dilalui dan keputusan ditetapkan, tidak ada lagi alasan untuk terus memperuncing perbedaan tersebut. Justru, di sinilah ujian sejati kedewasaan berpolitik, yaitu mampu bersatu kembali dalam semangat persaudaraan, mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya.

Kehidupan demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari seberapa banyak pemilu yang diselenggarakan, tetapi juga dari bagaimana masyarakatnya merespons hasil tersebut. Menjaga ketertiban, menghormati keputusan bersama, dan aktif membangun kembali persatuan pasca-pemilu adalah tanda bahwa demokrasi kita semakin matang.

Menghormati hasil PSU bukan hanya bentuk penghormatan kepada hukum dan penyelenggara pemilu, tetapi juga bukti kedewasaan kita dalam memandang demokrasi sebagai sarana pengelolaan perbedaan secara damai. Demokrasi bukan sekadar soal menang dan kalah, melainkan soal komitmen bersama membangun masa depan bangsa yang lebih baik.

Momentum pasca-PSU ini harus menjadi titik balik bagi kita semua untuk menunjukkan kedewasaan berdemokrasi. Adalah tanggung jawab kita semua, dari elite politik hingga masyarakat biasa untuk menunjukkan bahwa bangsa ini telah matang dalam berdemokrasi. Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang mampu menerima perbedaan, mengelola kekecewaan, serta kembali bersatu untuk mengejar tujuan bersama.

Pemerintah telah memberikan teladan dengan mendorong pelaksanaan PSU yang jujur, adil, dan sesuai hukum. Kini saatnya masyarakat menunjukkan sikap serupa. Jangan biarkan perbedaan pandangan politik memecah persatuan yang telah dibangun dengan susah payah. Pembangunan nasional menuntut stabilitas sosial dan politik yang hanya bisa tercapai jika semua pihak bersatu dan saling menghormati.

)* Penulis merupakan peneliti ekonomi dari Urban Catalyst Management

Mengecam Keras Tindakan Biadab OPM Terhadap Ketua Komnas HAM Papua

Papua Barat — Aksi penyerangan yang dilakukan Organisasi Papua Merdeka (OPM) terhadap Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, menuai kecaman luas dari berbagai kalangan. Insiden tersebut dinilai sebagai bentuk kekerasan yang menciderai nilai-nilai hak asasi manusia dan prinsip kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi di Papua.

Penembakan terjadi pada Minggu (27/4/2025) pagi di kawasan Teluk Bintuni, saat Frits Ramandey bersama tim sedang melakukan pemantauan dalam operasi pencarian Iptu Tomi Samuel Marbun yang hilang. Saat berada di pinggir Sungai Rawara untuk keperluan MCK, rombongan tiba-tiba ditembaki dari arah seberang sungai. Berkat respons cepat dari anggota Brimob, seluruh rombongan berhasil diselamatkan dan dievakuasi ke Distrik Moskona.

“Saya datang ke sini atas undangan Polda Papua Barat untuk memantau dan memastikan upaya pencarian berjalan sesuai prinsip akuntabilitas dan penghormatan hak asasi manusia. Namun, kami justru diserang oleh kelompok sipil bersenjata,” ungkap Frits Ramandey.

Kondisi kesehatan seluruh anggota tim, termasuk Frits Ramandey, dipastikan dalam keadaan baik. Kapolda Papua Barat, Irjen Pol Jonny Edison Isir, menegaskan bahwa aparat keamanan akan terus menjamin keselamatan seluruh pihak yang menjalankan tugas kemanusiaan di lapangan.

“Puji Tuhan, Ketua Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, dalam keadaan sehat dan selamat. Aparat akan terus berupaya maksimal melindungi semua pihak yang bekerja untuk kemanusiaan,” tegas Irjen Pol Jonny Edison Isir.

Serangan terhadap petugas Komnas HAM ini menegaskan bahwa kelompok OPM telah melanggar batas dengan menyerang upaya-upaya damai. Kekerasan tersebut tidak hanya membahayakan keselamatan jiwa, tetapi juga mengancam stabilitas dan perdamaian di Papua.

Serangan ini memperlihatkan bahwa kelompok separatis lebih mengutamakan teror dibandingkan jalan dialog dan rekonsiliasi. Masyarakat luas diharapkan untuk terus mengutuk keras segala bentuk kekerasan yang dilakukan, khususnya terhadap misi-misi kemanusiaan.

Penegakan hukum terhadap kelompok OPM menjadi kebutuhan mendesak guna memastikan keamanan, perdamaian, dan kedaulatan di seluruh wilayah Papua tetap terjaga dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mengutuk Serangan OPM terhadap Ketua Komnas HAM Papua

Papua Barat – Insiden penembakan terhadap Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, saat menjalankan tugas kemanusiaan di Teluk Bintuni, Papua Barat, mendapat kecaman luas.

Serangan yang dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) tersebut dinilai sebagai bentuk kekerasan yang tidak dapat ditoleransi, apalagi menyasar lembaga independen yang hadir untuk memastikan perlindungan hak asasi manusia di Papua.

Peristiwa ini terjadi pada Minggu (27/4/2025) pagi, saat Frits Ramandey bersama rombongan sedang melaksanakan pemantauan dalam operasi pencarian terhadap Iptu Tomi Samuel Marbun yang hilang di Sungai Rawara. Ketika sedang berada di pinggiran sungai untuk keperluan MCK, mereka tiba-tiba ditembaki dari arah seberang sungai. Beruntung, dengan perlindungan cepat dari anggota Brimob yang berada di sekitar lokasi, Frits dan rombongan berhasil selamat dan segera dievakuasi ke wilayah aman di Distrik Moskona.

“Saya datang ke sini atas undangan Polda Papua Barat untuk memantau dan memastikan upaya pencarian terhadap Iptu Tomi Marbun dilakukan secara akuntabel, tanpa melanggar hak-hak warga sipil. Namun sangat disayangkan, kami justru ditembak oleh kelompok sipil bersenjata,” ungkap Frits Ramandey dalam keterangannya.

Kapolda Papua Barat, Irjen Pol Jonny Edison Isir, membenarkan insiden tersebut dan memastikan bahwa Frits Ramandey beserta seluruh rombongan dalam keadaan sehat dan selamat. Kapolda juga menegaskan bahwa aparat keamanan akan tetap berkomitmen menjaga keselamatan seluruh tim, termasuk para pekerja kemanusiaan yang bertugas di lapangan.

“Puji Tuhan, Ketua Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, dalam keadaan sehat dan selamat,” ujar Kapolda.

Penyerangan terhadap utusan Komnas HAM menunjukkan bahwa OPM di Papua tidak lagi menghormati prinsip-prinsip dasar hak asasi manusia yang selama ini mereka klaim perjuangkan.

Tindakan brutal ini bukan hanya membahayakan upaya pencarian korban hilang, tetapi juga memperlihatkan sikap permusuhan terhadap setiap inisiatif damai yang bertujuan menegakkan hak kemanusiaan di Papua.

Penyerangan ini bukti nyata bahwa kelompok OPM tersebut tidak mengindahkan norma hukum, moral, maupun kemanusiaan. Mereka bahkan menyerang pihak-pihak yang berupaya menjaga hak dan keselamatan masyarakat Papua sendiri.

Pemerintah dan aparat keamanan diharapkan meningkatkan perlindungan terhadap semua elemen yang bekerja untuk kemanusiaan. Serangan terhadap Ketua Komnas HAM harus dikutuk keras oleh seluruh elemen bangsa sebagai bentuk kejahatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

Insiden ini juga memperkuat urgensi untuk mempercepat penegakan hukum terhadap kelompok OPM yang terus menyebar teror di Papua. Semua pihak harus bersatu dalam memastikan bahwa Papua tetap menjadi bagian damai dan berdaulat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masyarakat Papua Resah, Desak Tindakan Tegas Aparat terhadap Aksi Teror OPM

Oleh : Noera Pigai

Papua saat ini masih menghadapi tantangan besar terkait dengan masalah keamanan yang tak kunjung selesai. Salah satu isu yang paling mencolok adalah kehadiran Organisasi Papua Merdeka (OPM), kelompok separatis yang sejak lama berusaha melepaskan Papua dari Indonesia melalui aksi kekerasan dan teror.

Kelompok ini tidak hanya menyerang aparat keamanan, tetapi juga menargetkan masyarakat sipil yang dianggap mendukung pemerintahan Indonesia. Akibatnya, aksi teror yang semakin intens ini menimbulkan ketakutan yang mendalam di kalangan masyarakat Papua. Warga yang tinggal di wilayah rawan konflik hidup dalam ketidakpastian, tidak tahu kapan dan di mana serangan berikutnya akan terjadi. Hal ini menyebabkan keresahan yang meluas di kalangan masyarakat yang merasa terjebak di tengah konflik yang tak mereka pilih.

Simon Telenggen, Tokoh Adat Meepago, mengatakan bahwa masyarakat Papua sudah terlalu lama menjadi korban dalam konflik yang diciptakan oleh kelompok OPM. Langkah tegas aparat keamanan sangat penting untuk melindungi masyarakat sipil dari ancaman kekerasan yang terus berlangsung. Masyarakat Papua tidak mau lagi hidup dalam ketakutan, masyarakat ingin anak-anak sekolah dengan tenang, petani bisa berkebun tanpa dihantui rasa takut.

Keamanan yang terganggu akibat aksi teror ini berimbas langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Banyak warga yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka untuk menghindari serangan, sementara mereka yang bertahan harus hidup dalam rasa takut yang terus-menerus. Aktivitas ekonomi yang sebelumnya berjalan lancar kini terhambat, karena masyarakat tidak bisa menjalankan usaha mereka dengan tenang.

Para petani yang mengandalkan tanah mereka untuk bertahan hidup merasa cemas untuk pergi ke ladang mereka, khawatir jika mereka menjadi korban serangan. Begitu juga dengan sektor pariwisata yang sebelumnya menjanjikan pendapatan bagi warga setempat. Keamanan yang terganggu membuat wisatawan enggan datang, yang pada gilirannya merugikan perekonomian lokal. Selain itu, infrastruktur yang rusak akibat perusakan dan pembakaran fasilitas umum juga semakin memperburuk keadaan.

Tugas utama pemerintah dan aparat keamanan adalah melindungi dan memastikan keamanan serta kesejahteraan seluruh warga negara, termasuk mereka yang tinggal di Papua. Keamanan yang terjaga, ditambah dengan pemerataan pembangunan yang melibatkan masyarakat secara langsung, bisa menjadi fondasi bagi terciptanya perdamaian yang lebih abadi di Papua. Pemerintah juga harus dapat menanggapi tuntutan masyarakat dengan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap penyelesaian masalah Papua secara menyeluruh, bukan hanya dalam lingkup konflik semata.

Di tengah ketidakpastian ini, masyarakat Papua mulai menyuarakan tuntutan agar aparat keamanan bertindak lebih tegas. Mereka merasa bahwa serangan-seangan yang dilakukan oleh kelompok separatis semakin merusak kehidupan mereka dan mengancam masa depan mereka. Namun, selain meminta tindakan tegas, masyarakat juga menginginkan solusi yang lebih komprehensif.

Tokoh Masyarakat Papua, Martinus Kasuay mengatakan bahwa tindakan tegas dan keras menjadi penting agar OPM tidak semena-mena terhadap masyarakat Papua. Dia berharap, TNI-Polri dapat memberikan efek jera kepada OPM sehingga dapat terwujud kesejahteraan dan kedamaian masyarakat Papua.

Masyarakat berharap agar pemerintah tidak hanya mengandalkan operasi militer, tetapi juga melakukan pendekatan yang lebih humanis. Banyak warga Papua yang merasa bahwa mereka tidak diperlakukan secara adil, baik dalam hal pembangunan maupun dalam akses terhadap layanan dasar. Ketidakpuasan ini menjadi salah satu faktor utama yang memicu ketegangan dan memperburuk situasi yang ada.

Oleh karena itu, masyarakat Papua mendesak agar pemerintah tidak hanya fokus pada penindakan terhadap kelompok separatis, tetapi juga memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi di daerah tersebut. Mereka menginginkan pembangunan yang lebih merata, dengan perhatian khusus terhadap kebutuhan masyarakat Papua yang selama ini sering terabaikan.

Pendeta Lukas Wonda dari Gereja Kristen Injili di Papua (GKI Papua), mengatakan segala bentuk kekerasan bertentangan dengan nilai-nilai iman dan kemanusiaan yang diajarkan oleh agama.  Pihaknya mendukung pemerintah dan aparat keamanan untuk menegakkan hukum, OPM harus dihentikan agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban.

Agar ketegangan ini dapat mereda, pendekatan yang lebih inklusif dan berbasis dialog menjadi sangat penting. Dialog yang melibatkan semua pihak, baik pemerintah, aparat keamanan, maupun masyarakat Papua itu sendiri, perlu dilakukan untuk mencari solusi jangka panjang yang dapat mengakhiri konflik ini. Pemerintah juga perlu lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat Papua, dengan memastikan bahwa pembangunan yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat bagi mereka.

Selain itu, peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan infrastruktur dasar juga sangat dibutuhkan untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat setempat. Semua ini harus dilakukan dengan tujuan menciptakan perdamaian yang langgeng, di mana masyarakat Papua dapat merasakan kehidupan yang aman, sejahtera, dan penuh harapan.

Masyarakat Papua kini menginginkan kepastian. Mereka ingin merasakan kedamaian, kesejahteraan, dan kehidupan yang bebas dari ancaman terorisme dan kekerasan. Namun, untuk itu diperlukan langkah nyata dari pemerintah dan aparat keamanan untuk tidak hanya menanggulangi aksi teror dengan tegas, tetapi juga memastikan bahwa pembangunan yang inklusif dan merata menjadi prioritas utama. Dengan demikian, kedamaian di Papua bisa tercapai, dan masyarakat bisa menjalani hidup mereka tanpa rasa takut dan tanpa ketidakpastian yang menghantui.

)* Pengamat Kebijakan Publik

Serangan Terbaru OPM: Pemerintah Berkomitmen Lindungi Papua dari Pelanggaran HAM

Oleh : Ricky Rinaldi

Papua kembali dilanda kekerasan yang mengkhawatirkan setelah serangan brutal oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang menargetkan warga sipil dan fasilitas umum. Serangan ini memperjelas bahwa OPM telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) serius, merusak ketertiban, dan menghambat upaya perdamaian di Papua. Pemerintah Indonesia tetap teguh menghadapi kekerasan ini demi melindungi rakyat dan menjaga keutuhan wilayah.

Insiden terbaru di pedalaman Papua menunjukkan peningkatan agresivitas kelompok separatis. Mereka tidak hanya menyerang aparat keamanan, tetapi juga membidik masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam konflik. Pembakaran rumah penduduk, pembunuhan warga tak berdosa, hingga pengusiran paksa memperlihatkan bahwa perjuangan kelompok ini telah mengabaikan prinsip-prinsip dasar perlindungan sipil dalam konflik bersenjata.

Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, menyatakan bahwa hampir 70 persen penduduk Papua tinggal di wilayah rawan kekerasan. Ia menyoroti bahwa serangan kelompok separatis memaksa banyak warga meninggalkan tempat tinggal dan sumber penghidupan mereka, memperburuk kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa banyak kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan, dan hal ini membutuhkan perhatian serius dari negara.

Pemerintah Indonesia, melalui aparat keamanan, telah mengambil langkah tegas untuk menanggapi serangan-serangan tersebut. Tujuannya adalah menghentikan aksi kekerasan dan memastikan perlindungan terhadap warga sipil. Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, menegaskan bahwa TNI mengubah strategi tempurnya agar lebih efektif dalam menghadapi ancaman dari kelompok separatis. Ia menyatakan bahwa pasukan keamanan siap menghadapi dan menumpas setiap tindakan yang mengancam keamanan nasional.

Namun, perkembangan terakhir di lapangan menunjukkan bahwa tantangan semakin berat. Penembakan terhadap Ketua Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, menjadi bukti nyata bahwa situasi semakin membahayakan siapa pun yang terlibat dalam upaya perdamaian. Frits ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) saat hendak menyeberang Sungai Rawara. Saat itu, ia tengah menjalankan tugas pemantauan terhadap kondisi warga di daerah yang dilanda konflik.

Penembakan ini memperlihatkan bahwa kelompok separatis kini tidak segan menyerang pegiat HAM, yang sebenarnya berusaha melindungi hak-hak masyarakat Papua. Serangan terhadap tokoh kunci seperti Frits Ramandey menjadi indikasi bahwa ruang untuk dialog dan pemulihan HAM di Papua kian menyempit, akibat kekerasan yang membabi buta.

Pihak keamanan langsung melakukan evakuasi dan penanganan medis terhadap Frits Ramandey. Insiden tersebut menimbulkan keprihatinan luas, karena menegaskan bahwa siapa pun — bahkan yang datang membawa misi kemanusiaan — berisiko menjadi sasaran kekerasan. Situasi ini menunjukkan bahwa kelompok-kelompok bersenjata semakin tidak terkendali dalam melaksanakan aksinya.

Pemerintah mengecam keras penyerangan terhadap Ketua Komnas HAM Papua tersebut. Negara menilai bahwa tindakan KKB merupakan pelanggaran berat terhadap nilai-nilai HAM dan prinsip kemanusiaan. Komitmen untuk melindungi seluruh pegiat kemanusiaan pun ditegaskan, termasuk dengan meningkatkan pengamanan di wilayah rawan.

Kekerasan terhadap pegiat HAM juga memperkuat argumen bahwa pendekatan keamanan tetap diperlukan di Papua. Keberadaan kelompok-kelompok bersenjata yang brutal membahayakan stabilitas nasional dan keamanan masyarakat. Oleh karena itu, operasi keamanan tetap dijalankan dengan ketat, dengan tetap memperhatikan prinsip penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Dalam situasi ini, masyarakat sipil menjadi pihak yang paling dirugikan. Mereka terjebak dalam ketakutan, kehilangan tempat tinggal, dan terputus dari akses dasar seperti pendidikan dan kesehatan. Banyak warga yang terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, meninggalkan lahan pertanian dan mata pencaharian yang selama ini menjadi tumpuan hidup mereka.

Pemerintah daerah dan pusat terus berupaya menyediakan bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi. Namun di tengah situasi keamanan yang tidak stabil, distribusi bantuan pun menghadapi banyak tantangan. Kontrol yang dilakukan oleh kelompok separatis di beberapa daerah menyebabkan keterbatasan akses untuk lembaga-lembaga kemanusiaan.

Serangan terhadap Ketua Komnas HAM Papua juga mengirimkan pesan penting tentang urgensi untuk memperkuat perlindungan bagi semua pihak yang bekerja di wilayah konflik. Negara berkomitmen untuk mengambil langkah hukum terhadap pelaku penembakan, sekaligus memperketat pengawasan di daerah-daerah rawan, guna mencegah insiden serupa terulang.

Dalam menghadapi kekerasan ini, kolaborasi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat sipil sangat penting. Hanya melalui kerja sama lintas sektor, stabilitas di Papua dapat dipulihkan. Mengandalkan aparat keamanan saja tidak cukup; perlu juga pendekatan yang membangun kepercayaan masyarakat terhadap negara.

Masyarakat Papua pada dasarnya mendambakan kedamaian dan kehidupan yang lebih baik. Mereka menolak kekerasan, baik yang datang dari kelompok separatis maupun dari ketidakadilan struktural. Oleh karena itu, upaya untuk menciptakan Papua yang aman dan damai harus terus berlanjut dengan langkah nyata di bidang keamanan, keadilan, dan pelayanan publik yang lebih adil.

Serangan terhadap Frits Ramandey menjadi pengingat bahwa tantangan di Papua jauh dari selesai. Negara tidak boleh membiarkan kekerasan menjadi norma. Melindungi warga, memastikan supremasi hukum, dan menjaga stabilitas nasional harus tetap menjadi prioritas utama. Keamanan di Papua bukan hanya soal operasi militer, melainkan juga tentang menjamin hak dasar semua orang untuk hidup bebas dari ketakutan.

Dengan tekad kuat dan kerja bersama, Papua diharapkan dapat kembali menjadi tanah damai, tempat di mana rakyatnya dapat hidup tanpa bayang-bayang kekerasan, serta membangun masa depan mereka dengan penuh harapan.

*)Pengamat Isu Strategis

Jelang Mayday, Waspada Provokasi dari Kelompok Kepentingan

Jakarta – Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional atau Mayday pada 1 Mei, dinamika sosial di berbagai daerah mulai menunjukkan peningkatan aktivitas.

Momentum ini, sejatinya merupakan hari solidaritas bagi para pekerja, kerap menjadi sasaran kelompok-kelompok berkepentingan yang berusaha mengalihkan esensi perayaan menuju agenda-agenda lain yang tidak berhubungan dengan perjuangan buruh.

Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Mayday sering dimanfaatkan sebagai ajang untuk menyuarakan tuntutan-tuntutan di luar kepentingan buruh. Tidak jarang pula, terjadi penyusupan oleh kelompok tertentu yang memprovokasi massa untuk bertindak di luar batas hukum.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Paser, Rizky Noviar mengatakan tujuan utama peringatan Mayday kali ini adalah mempererat hubungan antar-pekerja dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

”Pemerintah mendorong agar peringatan Mayday kali ini lebih difokuskan pada kegiatan sosial dan kemasyarakatan krtimbang aksi demonstrasi.” Ujar Rizky.

Selain itu, banyaknya narasi yang dikemas sedemikian rupa untuk menggerakkan emosi kolektif, memanfaatkan kekecewaan atau ketidakpuasan yang ada di kalangan pekerja. Di sinilah pentingnya kecerdasan masyarakat dalam mencerna setiap informasi dan ajakan yang beredar.

Kelompok berkepentingan yang berusaha mengambil keuntungan dari situasi Mayday biasanya memiliki pola kerja yang terstruktur. Mereka menyebarkan propaganda di ruang-ruang diskusi publik, menyusup dalam organisasi buruh, dan berusaha mengarahkan massa untuk melakukan tindakan yang menguntungkan agenda tersembunyi mereka.

Pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan Mayday, baik serikat pekerja, organisasi masyarakat, maupun komunitas buruh independen, perlu berkomitmen untuk menjaga ketertiban dan kedamaian.

Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kabupaten Aceh Selatan, Muhammad Dini menekankan pentingnya kolaborasi antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah untuk menghadapi tantangan ekonomi global jelang Hari Buruh Internasional.

”Kepada para pekerja, masyarakat dan mahasiswa, mari kita memperingati mayday dengan kegiatan positif, professional dan terlibat aktif untuk menjaga situasi kamtibmas di Aceh Selatan yang selama ini sangat kondusif.

Lebih lanjut, ketua SPSI Aceh Selatan ini juga mengajak agar seluruh pekerja dan masyarakat di Aceh Selatan untuk meningkatkan kolaborasi dengan TNI-Polri guna menjaga situasi yang aman dan kondusif dan menghindari upaya-upaya provokasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin merusak suasana kondusif di Aceh Selatan.

“Tetap semangat, saling berkolaborasi dan bersama-sama kita jaga Aceh Selatan yang kondusif aman dan nyaman,” tutupnya