Elemen Masyarakat Wajib Jaga Kondusivitas Saat Hari Buruh

Jakarta – Dalam menghadapi berbagai dinamika sosial yang terjadi saat ini, elemen masyarakat diharapkan untuk terus menjaga stabilitas keamanan serta kondusivitas dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi provokasi dalam aksi Hari Buruh atau Mayday.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Provinsi Gorontalo, Meiske Abdullah mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak berperilaku berlebihan dalam memperingati hari Buruh Internasional yang diperingati setiap tanggal 1 Mei.

Pihaknya mengajak masyarakat agar menyambut hari buruh dengan penuh kebahagiaan, serta menjaga keamanan dan ketertiban daerah.

“Mari tetap jaga stabilitas keamanan dan ketertiban di daerah. Karena Apapun yang menjadi keinginan kita bersama di hari Buruh pastinya akan berjalan dengan baik”, ujar Meiske.

Sementara itu, Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Ribut Hari Wibowo menyampaikan pihaknya mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kondusifitas dalam memperingati hari buruh 1 Mei 2025.

“Kita tahu bahwa di Indonesia banyak persoalan bisa diselesaikan dengan dialog yang damai. Oleh karena itu, saya mengajak kita semua bergandengan tangan dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan buruh tanpa menimbulkan ekses negatif”, ujar Ribut.

Kapolda juga berharap kegiatan penyampaian aspirasi dapat berlangsung secara kondusif, dan berpesan seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan tertib serta waspada jangan sampai penyampaian aspirasi ditumpangi pihak lain.

“Terkait kegiatan tanggal 1 Mei besok, saya berharap dapat berjalan aman, tanpa meninggalkan ekses yang negatif, oleh karena itu mari kita bersama wujudkan penyampaian aspirasi secara tertib dan kondusif”, ujar Kapolda.

Pemerintah, bersama dengan berbagai pihak terkait, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kondusivitas situasi dan tidak mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang mungkin akan memanfaatkan aksi buruh untuk tujuan-tujuan yang tidak jelas.

Keberhasilan dalam menjaga stabilitas sosial adalah hasil kolaborasi dari semua pihak, baik dari kelompok buruh, masyarakat umum, maupun aparat keamanan yang memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang aman dan tertib.

Waspada Provokator Manfaatkan Gerakan Aksi Buruh

Oleh Satrio Yudhi Putra )*

Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day pada 1 Mei, berbagai elemen masyarakat mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi provokasi dalam gerakan buruh. May Day yang seharusnya menjadi momentum untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan buruh, tidak boleh disalahgunakan oleh oknum-oknum yang ingin menciptakan instabilitas sosial. Kesadaran ini mendorong berbagai serikat pekerja untuk mengambil langkah-langkah preventif demi menjaga ketertiban dan keamanan, terutama di wilayah-wilayah strategis.

Ketua DPD Forum Serikat Pekerja Kimia Energi dan Pertambangan (FSP KEP) Kalimantan Timur, H. Hamka Thalib, menyatakan dengan tegas bahwa peringatan May Day tahun ini di Kaltim akan dilaksanakan tanpa aksi massa. Keputusan ini merupakan hasil kesepakatan antara serikat pekerja dengan pemerintah provinsi setelah melakukan komunikasi intensif dengan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur. Menurut H. Hamka, aksi massa rentan ditunggangi pihak-pihak yang memiliki agenda lain, yang pada akhirnya justru merugikan buruh itu sendiri dan menciptakan keresahan di tengah masyarakat.

Sebagai bentuk alternatif, berbagai kegiatan positif akan diadakan untuk memperingati May Day, seperti bakti sosial, donor darah, serta hiburan untuk para pekerja. Pendekatan ini bertujuan untuk mengubah wajah peringatan Hari Buruh menjadi lebih produktif dan membahagiakan, tanpa menghilangkan esensi perjuangan buruh. H. Hamka menekankan bahwa diskusi dan musyawarah jauh lebih efektif dalam menyampaikan aspirasi dibandingkan dengan demonstrasi yang kerap kehilangan arah dan substansi. Dalam pengalamannya, dialog terbuka antara buruh, pemerintah, dan pengusaha menghasilkan solusi konkret yang lebih bermanfaat bagi semua pihak.

Senada dengan hal tersebut, Hendri Budaya Saputra, Ketua Serikat Pekerja Semen Andalas (SPSA), juga mengimbau agar May Day dijadikan momentum untuk mempererat solidaritas antarpekerja melalui pendekatan damai dan bermartabat. Ia berharap peringatan May Day 2025 menjadi tonggak untuk memperkuat persatuan pekerja di semua sektor dan menegaskan pentingnya perlindungan hak-hak buruh secara berkelanjutan. Dalam pandangannya, keberhasilan perjuangan buruh tidak diukur dari seberapa besar massa yang turun ke jalan, tetapi dari seberapa efektif aspirasi mereka didengar dan diwujudkan.

Di sisi lain, Pengamat Politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Nurmadi Harsa Sumarta, mengingatkan bahwa demonstrasi yang berujung pada penutupan pabrik justru berpotensi menimbulkan kerugian besar, bukan hanya bagi pemilik usaha, tetapi juga terhadap para pekerja itu sendiri. Menurut Dr. Nurmadi, aksi demonstrasi yang tidak terkelola dengan bijak dapat memicu efek domino negatif, mulai dari kerugian ekonomi, terganggunya iklim investasi, hingga hengkangnya para investor yang mencari daerah atau negara yang lebih stabil.

Dalam situasi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih, Dr. Nurmadi menilai penting bagi buruh untuk menahan diri dan mengutamakan jalur dialog ketimbang konfrontasi. Ia mengingatkan bahwa banyak industri nasional masih berjuang untuk meningkatkan daya saing, baik dari sisi teknologi maupun kualitas sumber daya manusia. Jika aksi massa dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi riil perusahaan, maka risiko penutupan usaha menjadi sangat besar, yang pada akhirnya justru mengorbankan nasib para pekerja itu sendiri.

Sebagai solusi, Dr. Nurmadi mendorong pendekatan tripartit yang melibatkan pekerja, pengusaha, dan pemerintah. Ketiga pihak ini harus duduk bersama, saling memahami tantangan masing-masing, dan mencari solusi terbaik. Ia juga menekankan pentingnya tanggung jawab sosial dari dunia usaha, dengan memperbaiki kondisi kerja dan memberikan jaminan kesejahteraan yang layak bagi pekerja. Upaya ini bukan hanya penting untuk menekan potensi gejolak sosial, tetapi juga untuk memperkuat fondasi industri nasional yang kompetitif dan berkelanjutan.

Selain itu, organisasi buruh dan asosiasi industri diharapkan dapat mengambil peran aktif dalam menjaga stabilitas sosial. May Day, menurut Dr. Nurmadi, seharusnya dijadikan sebagai refleksi bersama untuk memperkuat ketahanan industri dan memperjuangkan kesejahteraan pekerja secara berkelanjutan. Semangat kolaboratif harus dihidupkan, bukan semangat konfrontatif yang pada akhirnya justru menghancurkan apa yang telah dibangun dengan susah payah.

Masyarakat juga harus diberi pemahaman bahwa tidak semua ajakan turun ke jalan dalam momentum May Day bertujuan murni untuk memperjuangkan hak buruh. Ada pihak-pihak tertentu yang justru sengaja memanfaatkan keramaian untuk memancing kerusuhan atau sekadar menciptakan instabilitas politik. Oleh karena itu, penting bagi para pekerja untuk tetap kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh ajakan-ajakan yang tidak bertanggung jawab.

Momentum May Day harus menjadi kesempatan untuk menunjukkan kedewasaan dalam menyuarakan aspirasi, memperkuat solidaritas, dan membangun optimisme bersama. Buruh, pengusaha, dan pemerintah memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang adil dan berkelanjutan. May Day seharusnya menjadi simbol persatuan dan kemajuan, bukan perpecahan dan kemunduran.

Dengan menjaga ketertiban, memperkuat dialog, serta menumbuhkan semangat kerja sama, maka May Day dapat benar-benar menjadi hari kemenangan bagi pekerja. Sebaliknya, bila momentum ini dibiarkan menjadi ajang provokasi dan kekacauan, maka yang dirugikan bukan hanya buruh, melainkan seluruh sendi kehidupan ekonomi dan sosial bangsa. Karena itu, kewaspadaan terhadap provokator harus menjadi komitmen bersama, demi menjaga makna luhur perjuangan buruh dan masa depan dunia usaha di Indonesia.

)* penulis merupakan analis kebijakan publik

Jaga Stabilitas Sosial, Seluruh Elemen Masyarakat Waspada Narasi Hoaks dan Provokatif dalam Aksi Buruh

Oleh: Anggi Kusumawardhani*

Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2025 harus dimaknai sebagai momentum memperkuat solidaritas, memperjuangkan hak secara bermartabat, dan merawat stabilitas sosial nasional. Seluruh elemen masyarakat, khususnya kaum buruh, perlu mewaspadai narasi provokatif dan hoaks yang kerap menyusup dalam dinamika aksi massa. Dalam konteks ini, ajakan kepada buruh untuk tetap menjaga suasana damai dan produktif dalam perayaan May Day menjadi sangat relevan, sekaligus krusial untuk menghindari jebakan pihak-pihak yang berkepentingan memperkeruh situasi.

May Day 2025 harus dimaknai sebagai ajang konsolidasi kekuatan buruh yang berorientasi pada perubahan struktural, bukan sekadar demonstrasi jalanan yang emosional. Momentum ini harus diisi dengan dialog yang produktif, membangun aliansi strategis, serta memperkuat jaringan solidaritas lintas sektor. Buruh Indonesia harus tampil sebagai pelopor perubahan sosial yang progresif dan beradab, bukan terjebak dalam pola-pola usang yang hanya menghasilkan siklus konflik tanpa ujung.

Ketua Umum Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi, menegaskan bahwa May Day seharusnya dirayakan dengan suka cita dan semangat positif. Ia menekankan pentingnya penyampaian aspirasi yang damai, santun, dan produktif tanpa terprovokasi oleh kelompok-kelompok yang ingin mengganggu ketertiban umum. Menurutnya, buruh harus waspada terhadap potensi infiltrasi oknum-oknum yang berniat mencemarkan esensi perjuangan buruh dengan tindakan anarkis atau kekerasan. Habib Syakur mengajak para buruh untuk berfokus pada orasi kreatif, dialog membangun dengan pemerintah, serta berbagai kegiatan positif lainnya yang mencerminkan perjuangan yang cerdas dan bermartabat. Dengan demikian, May Day akan menjadi wujud nyata perjuangan buruh Indonesia yang beradab, bukan ajang kekerasan yang justru merusak solidaritas dan perjuangan itu sendiri.

Sejalan dengan itu, Ketua Umum Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI), Rudi HB Damman, juga memberikan klarifikasi tegas bahwa buruh bukanlah pembuat kekacauan dalam aksi demonstrasi. Menurutnya, stigma bahwa buruh kerap membuat rusuh adalah keliru dan tidak berdasar. Ia menjelaskan bahwa jika terjadi gesekan dalam aksi buruh, biasanya justru akibat provokasi pihak luar yang tidak menginginkan perjuangan buruh berjalan mulus. Rudi menyoroti bahwa aksi buruh bertujuan memperjuangkan hak dan keadilan sosial, bukan menciptakan kerusuhan. Ia menegaskan bahwa May Day adalah momentum penting yang harus digunakan untuk menyuarakan aspirasi secara tegas, damai, dan bermartabat. Sebab, buruh sejatinya adalah pilar penting dalam pembangunan bangsa yang kontribusinya sering kali tidak sebanding dengan perlindungan yang mereka terima.

Pernyataan serupa juga disampaikan Hendri Budaya Saputra, Ketua Serikat Pekerja Semen Andalas (SPSA). Hendri mengimbau agar May Day dijadikan ajang mempererat solidaritas antarpekerja, bukan memperkeruh suasana. Ia menekankan bahwa keberhasilan perjuangan buruh tidak diukur dari seberapa besar massa yang turun ke jalan, melainkan dari seberapa efektif aspirasi tersebut didengar dan ditindaklanjuti oleh pihak terkait. Dengan pendekatan damai dan bermartabat, buruh tidak hanya memperjuangkan hak-haknya, tetapi juga menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi serta kepedulian terhadap stabilitas nasional yang lebih luas.

Sementara itu, Pengamat Politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Nurmadi Harsa Sumarta, mengingatkan akan bahaya aksi demonstrasi yang tidak terkelola dengan baik. Menurutnya, demonstrasi yang berujung pada penutupan pabrik justru akan merugikan buruh sendiri, karena berdampak pada terganggunya iklim investasi, kerugian ekonomi, dan bahkan hengkangnya investor dari Indonesia. Dalam situasi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih, ia menilai penting bagi buruh untuk mengutamakan jalur dialog ketimbang konfrontasi. Penutupan usaha akibat demonstrasi yang anarkis tidak hanya memperlemah daya saing nasional, tetapi juga menambah beban pengangguran, yang ujungnya kembali menghantam buruh itu sendiri.

Sebagai jalan keluar, Dr. Nurmadi mendorong pendekatan yang melibatkan pekerja, pengusaha, dan pemerintah. Ketiga pihak ini harus duduk bersama untuk mencari solusi yang adil dan berkelanjutan. Dunia usaha pun harus menunjukkan tanggung jawab sosialnya dengan memperbaiki kondisi kerja dan menjamin kesejahteraan buruh. Dalam pandangan Dr. Nurmadi, semangat kolaboratif jauh lebih penting dibanding semangat konfrontatif yang hanya akan menghancurkan apa yang telah dibangun bersama dengan susah payah.

Dengan demikian, menjaga stabilitas sosial dalam peringatan May Day 2025 menjadi tanggung jawab bersama. Seluruh pihak, baik buruh, pengusaha, pemerintah, maupun masyarakat umum, harus menyadari pentingnya membangun suasana aman dan kondusif. Buruh perlu tetap berjuang dengan cerdas, damai, dan bermartabat, tanpa terprovokasi narasi hoaks dan agitasi yang bertujuan destruktif. Pemerintah dan aparat keamanan juga wajib memberikan pengawalan yang profesional, menjamin ruang demokrasi terbuka sambil memastikan ketertiban tetap terjaga.

Momentum May Day seharusnya menjadi ajang refleksi bersama untuk memperkuat komitmen terhadap kesejahteraan pekerja, meningkatkan daya saing nasional, dan mempererat persatuan bangsa. Sudah saatnya semua elemen masyarakat bersama-sama meneguhkan bahwa perjuangan buruh adalah perjuangan mulia yang hanya bisa berhasil jika dijalankan dengan semangat damai, solidaritas, dan tanggung jawab sosial yang tinggi.

*Penulis merupakan Pemerhati Isu Perburuhan

Peran Sentral Sekolah Rakyat dalam Mewujudkan Pendidikan Inklusif

Jakarta – Pendidikan inklusif merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang adil dan setara. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat berperan sentral sebagai pelopor pendidikan inklusif yang tidak hanya memberi ruang belajar bagi semua, tetapi juga mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan keberagaman.

Sekolah Rakyat merupakan inisiatif berbasis komunitas yang tumbuh dari bawah, menjawab langsung kebutuhan pendidikan masyarakat yang selama ini tidak tersentuh oleh sistem formal. Kehadiran Sekolah Rakyat memberi angin segar bagi anak-anak dari keluarga miskin, pekerja informal, anak jalanan, penyandang disabilitas, hingga anak-anak dari komunitas adat dan daerah konflik yang seringkali terabaikan dalam sistem pendidikan nasional.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengatakan tengah memastikan kesiapan dua lokasi Sekolah Rakyat (SR) di lingkungan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Kampus Lidah Wetan untuk mulai beroperasi pada Juli 2025.

Kedua lokasi tersebut mencakup Gedung Laboratorium Anti Doping, sebagai gedung utama pembelajaran dan Gedung Asrama Mahasiswa sebagai hunian siswa SR.

“Ini akan menjadi Sekolah Rakyat Luar Biasa, karena seluruh fasilitas telah didesain ramah bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Ini bentuk nyata inklusivitas dalam pendidikan,” kata Khofifah

Khofifah menyebut keunggulan fasilitas yang dimiliki Unesa seperti klinik kesehatan, sarana olahraga lengkap, serta aksesibilitas difabel menjadikan kampus ini sebagai lokasi strategis untuk SR di Surabaya.

“Unesa adalah kampus berbasis Sport Science Nasional, sangat cocok untuk mendukung pengembangan talenta siswa SR,” jelasnya.

Sementara Rektor Unesa, Nurhasan, menyatakan kesiapan penuh Unesa mendukung program Sekolah Rakyat. Program SR ini diharapkan menjadi solusi pemutusan rantai kemiskinan, melalui pendidikan berkualitas dan inklusif, sekaligus menjadi model bagi daerah lain.

“Fasilitas kami mendukung, terutama untuk pendidikan inklusif. Asrama siap menampung 150 siswa. Jika ditugasi, kami siap mulai Juli nanti,” ujar Nurhasan.

Sekolah Rakyat telah membuktikan bahwa pendidikan inklusif bukan sesuatu yang mustahil. Di tengah keterbatasan, mereka hadir sebagai cahaya harapan bagi anak-anak yang termarjinalkan. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian, Sekolah Rakyat menegaskan bahwa pendidikan yang setara dan berkeadilan adalah hak setiap insan.

Maka, sudah sepatutnya peran sentral Sekolah Rakyat dalam membangun sistem pendidikan inklusif terus dihargai, diperkuat, dan dijadikan bagian integral dari agenda besar pembangunan manusia Indonesia.

*

[edRW]

Sekolah Rakyat: Bukti Nyata Pemerintah Hadir untuk Pemerataan Pendidikan

Jakarta — Pemerintah Indonesia kembali menunjukkan komitmen kuatnya dalam memastikan setiap anak bangsa mendapat akses pendidikan yang layak. Melalui program Sekolah Rakyat, negara hadir di tengah masyarakat, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), menjawab langsung tantangan kesenjangan pendidikan yang masih ada.

Sekolah Rakyat bukan sekadar ruang belajar alternatif, melainkan langkah strategis dan inklusif yang digagas pemerintah untuk mempercepat pemerataan layanan pendidikan. Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Sosial, dan Kemendikbudristek.

“Peluncuran Sekolah Rakyat akan dimulai pada tahun ajaran baru 2025. Ini adalah bukti bahwa negara tidak tinggal diam, tapi aktif hadir dan bertindak untuk anak-anak Indonesia di wilayah yang sulit dijangkau,” tegas Muhaimin Iskandar, Menko PMK.

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, juga mengapresiasi inisiatif ini.

“Disparitas pendidikan antara kota dan desa harus segera diatasi. Sekolah Rakyat adalah solusi inovatif yang menempatkan hak pendidikan sebagai hak dasar seluruh anak Indonesia, tanpa kecuali,” ungkapnya.

Mengusung pembelajaran kontekstual yang menyenangkan, program ini tak hanya mengajarkan calistung, tetapi juga membekali siswa dengan nilai karakter, wawasan kebangsaan, dan keterampilan hidup. Sekolah Rakyat juga terhubung dengan jalur pendidikan kesetaraan (Paket A, B, dan C) untuk menjamin legalitas lulusan.

Program ini telah diuji coba di beberapa wilayah seperti NTT, Maluku, dan Papua, dengan hasil positif: meningkatnya angka partisipasi sekolah dan peran aktif masyarakat lokal. Pemerintah menargetkan program ini menjangkau 1.000 desa dalam lima tahun ke depan.

Untuk mendukung keberlanjutan, pemerintah mendorong keterlibatan generasi muda melalui program Muda Mengajar dan Kampus Merdeka Mengajar. Mahasiswa dan lulusan baru diharapkan bisa turun langsung menjadi relawan pengajar, membawa semangat perubahan dan memperkuat ekosistem pendidikan berbasis gotong royong. Sekolah Rakyat adalah wajah nyata gotong royong bangsa. Pendidikan merata bukan lagi mimpi—bersama pemerintah, ini sedang kita wujudkan.

[edRW]

Sekolah Rakyat sebagai Solusi Atasi Kesenjangan Sosial

Oleh : Gavin Asadit )*

Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan pendidikan yang merata dan inklusif bagi seluruh anak bangsa melalui peluncuran program Sekolah Rakyat. Program ini hadir sebagai terobosan untuk menjawab tantangan ketimpangan pendidikan, khususnya bagi anak-anak dari keluarga miskin dan daerah tertinggal. Sekolah Rakyat didesain sebagai solusi konkret dalam membuka akses pendidikan berkualitas yang sebelumnya sulit dijangkau oleh kelompok masyarakat miskin ekstrem. Dengan menyediakan pendidikan gratis dan berasrama dari tingkat SD hingga SMA, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi tonggak penting dalam menciptakan keadilan sosial dan meningkatkan mobilitas ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah.

Hingga Maret 2025, pemerintah telah menyiapkan 45 lokasi Sekolah Rakyat yang akan mulai beroperasi pada tahun ajaran baru 2025/2026, dengan target total sebanyak 100 sekolah pada akhir tahun. Sekolah-sekolah ini tersebar di berbagai daerah, antara lain Jakarta, Bekasi, Temanggung, Pati, Malang, dan Surabaya. Pemerintah memilih lokasi-lokasi ini berdasarkan kebutuhan, potensi sasaran, serta ketersediaan lahan dan bangunan yang dapat digunakan atau direvitalisasi. Konsep Sekolah Rakyat adalah sekolah berasrama (boarding school), sehingga siswa dapat tinggal dan belajar dalam satu lingkungan yang mendukung pengembangan akademik dan karakter.

Sekolah Rakyat akan menyediakan pendidikan mulai dari tingkat SD hingga SMA dengan kurikulum nasional sebagai dasar, ditambah materi khusus seperti pelatihan soft skill, karakter, dan keterampilan digital masa kini seperti coding, keamanan siber, dan data sains. Model pendidikan yang ditawarkan tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga pengembangan kepribadian, empati sosial, serta keterampilan praktis untuk menghadapi dunia kerja. Harapannya, lulusan Sekolah Rakyat tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kemampuan sosial dan ekonomi untuk memperbaiki taraf hidup mereka di masa depan.

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan bahwa, siswa Sekolah Rakyat diambil dari kategori desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sekolah Rakyat juga akan menggunakan mata pelajaran formal, kurikulum juga akan menekankan penguatan karakter, kepemimpinan, nasionalisme, dan keterampilan.

Seleksi peserta didik Sekolah Rakyat dilakukan secara ketat dan menyeluruh. Proses seleksi meliputi pemeriksaan administratif, tes potensi akademik, psikotes, kunjungan rumah, wawancara dengan orang tua atau wali, serta pemeriksaan kesehatan. Program ini secara khusus menyasar anak-anak dari keluarga yang masuk dalam Desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), yang berarti mereka berasal dari kelompok dengan kondisi ekonomi paling bawah. Seleksi ini diharapkan dapat memastikan bahwa anak-anak yang benar-benar membutuhkan mendapatkan kesempatan terbaik untuk bersekolah.

Tidak hanya peserta didik, rekrutmen guru untuk Sekolah Rakyat juga menjadi perhatian penting. Pemerintah akan merekrut tenaga pendidik dari lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta memberikan kesempatan bagi guru ASN untuk mengajar di sekolah-sekolah ini. Kriteria pemilihan guru tidak hanya didasarkan pada kompetensi akademik, tetapi juga pada kemampuan membangun empati, adaptabilitas, dan komitmen terhadap pengabdian sosial. Diharapkan, guru-guru yang terlibat dalam Sekolah Rakyat mampu menjadi teladan dan motivator yang baik bagi anak-anak dari latar belakang kurang beruntung.

Pemerintah juga memastikan dukungan infrastruktur yang memadai bagi setiap Sekolah Rakyat. Fasilitas seperti ruang kelas, asrama, tempat ibadah, kantin, laboratorium, dan lapangan olahraga akan disiapkan agar siswa dapat belajar dengan nyaman. Untuk mendukung pelaksanaan program ini, pemerintah menggandeng berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan sektor swasta. Beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan Universitas Brawijaya telah menyatakan dukungannya dengan menyediakan fasilitas atau lahan untuk operasional Sekolah Rakyat. Sementara itu, Gubernur Jatim, Khofifah menyampaikan apresiasi atas keseriusan Unesa dalam mendukung penuh Sekolah Rakyat di Jatim.

Sementara itu, Mahasiswa Magister Manajemen UPN Veteran Jakarta, Afrisetiyani mengatakan Sekolah Rakyat memiliki sejumlah keunggulan yang menjadikannya alternatif pendidikan yang layak. Keunggulan utamanya terletak pada aksesibilitas. Model pendidikan ini mampu menjangkau anak-anak yang tinggal di daerah terpencil atau tidak mampu mengakses institusi formal karena berbagai keterbatasan

Dari segi dampak jangka panjang, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi motor penggerak transformasi sosial. Anak-anak dari keluarga miskin yang mendapatkan akses pendidikan berkualitas dapat memiliki peluang lebih besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi melalui beasiswa seperti Bidik Misi atau KIP Kuliah. Lulusan Sekolah Rakyat nantinya juga diharapkan mampu kembali ke komunitasnya dan menjadi agen perubahan yang berkontribusi terhadap pembangunan sosial dan ekonomi di daerah asalnya. Ini akan menciptakan efek domino positif dalam mengurangi kemiskinan antargenerasi.

Melalui pendekatan yang holistik dan terintegrasi, program Sekolah Rakyat berpotensi besar menjadi solusi nyata dalam mengatasi kesenjangan sosial di Indonesia. Dengan dukungan penuh dari pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan, Indonesia bergerak menuju masa depan di mana setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi dan geografis, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berhasil. Sekolah Rakyat bukan hanya proyek pendidikan, tetapi simbol harapan dan keadilan sosial yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

)* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

Dukungan Pemerintah Daerah untuk Sekolah Rakyat dalam Pemerataan Pendidikan

Oleh : Doni Laksana )*

Pendidikan adalah fondasi utama dalam pembangunan bangsa. Dalam menghadapi tantangan saat ini, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi solusi yang mampu menjangkau masyarakat yang kurang mampu dalam hal pendidikan. Sekolah Rakyat adalah bentuk pendidikan yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui proses belajar yang kontekstual, partisipatif, dan merakyat. Dalam beberapa tahun terakhir, dukungan dari pemerintah daerah terhadap keberadaan dan pengembangan Sekolah Rakyat semakin menguat, menunjukkan komitmen nyata dalam pemerataan pendidikan di Indonesia.

Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam menentukan arah kebijakan pendidikan di wilayahnya. Dengan memahami kondisi sosial dan geografis setempat, pemerintah daerah dapat menyusun program yang lebih tepat sasaran. Dukungan terhadap Sekolah Rakyat merupakan salah satu bentuk nyata dari pendekatan berbasis kebutuhan lokal. Di berbagai daerah, pemerintah mulai menggandeng komunitas, lembaga swadaya masyarakat, dan tokoh pendidikan untuk mengembangkan sekolah rakyat sebagai pelengkap sistem pendidikan nasional. Hal ini tidak hanya memperluas akses belajar, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini sering terabaikan dalam kurikulum formal.

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan sebanyak 280 Pemda mendatangi Desk Sekolah Rakyat. Sudah ada 200 titik yang diusulkan menjadi lokasi sekolah rakyat. Sejumlah titik itu merupakan usulan dari kepala daerah. Selain itu, apabila disetujui Presiden Prabowo Subianto, 38 sekolah rakyat akan dibangun di atas titik yang diusulkan itu. Sejauh ini, sudah ada 45 bangunan yang siap menyelesaikan sekolah rakyat. Ia menargetkan 70 sekolah rakyat dibangun pada tahun ini.

Bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap Sekolah Rakyat sangat beragam, mulai dari penyediaan fasilitas belajar, bantuan operasional, pelatihan guru relawan, hingga integrasi program Sekolah Rakyat dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). Di beberapa wilayah, pemerintah menyediakan ruang publik seperti balai desa atau rumah baca sebagai tempat belajar alternatif. Ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai melihat pendidikan sebagai tanggung jawab kolektif, bukan semata-mata urusan kementerian atau institusi formal.

Selain dukungan infrastruktur, aspek penting lain yang tidak luput dari perhatian adalah pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Pemerintah daerah mulai mengadakan pelatihan dan pendampingan bagi para pengelola dan pengajar Sekolah Rakyat. Mereka tidak hanya diajarkan metode pembelajaran yang kreatif dan kontekstual, tetapi juga dibekali pemahaman tentang hak-hak anak, prinsip inklusivitas, dan teknik mengajar yang adaptif. Dengan demikian, kualitas pembelajaran di Sekolah Rakyat dapat terus meningkat dan memberi dampak positif bagi para peserta didik.

Dukungan pemerintah daerah juga terlihat dari upaya legalisasi dan pengakuan terhadap keberadaan Sekolah Rakyat. Banyak daerah yang mengeluarkan surat keputusan atau regulasi lokal yang memberikan payung hukum bagi operasional Sekolah Rakyat. Ini memberikan rasa aman bagi para pengelola dan mendorong keterlibatan lebih banyak pihak dalam mendukung program tersebut. Selain itu, dengan adanya pengakuan resmi, anak-anak lulusan Sekolah Rakyat bisa lebih mudah melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya atau mendapatkan sertifikasi yang setara.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian mengatakan Pemda diminta untuk memberikan perhatian terhadap pembentukan Sekolah Rakyat guna mendukung pendidikan yang inklusif, terutama bagi masyarakat kurang mampu. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, Kemendagri bersama kementerian/lembaga (K/L) terkait diminta untuk mendukung langkah pembentukan Sekolah Rakyat. Berbeda dengan Sekolah Unggulan Garuda yang menjaring siswa-siswa berprestasi untuk melanjutkan ke universitas-universitas terbaik dunia, Sekolah Rakyat ditujukan untuk membuka akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Mendagri meminta kepala daerah menggelar rapat khusus terkait Sekolah Rakyat. Sekretaris Daerah (Sekda) dan Kepala Dinas Pendidikan juga diminta segera merespons peluang dari program ini. Selain itu, Pemda perlu memahami pola pikir pemerintah pusat dalam menyetujui pengajuan pembentukan Sekolah Rakyat di daerah, terutama terkait kejelasan legalitas lahan.

Tak kalah penting, dukungan pemerintah daerah terhadap Sekolah Rakyat juga membawa pesan moral yang kuat, bahwa pendidikan adalah hak semua warga negara, tanpa terkecuali. Di tengah berbagai keterbatasan, pemerintah daerah justru memperkuat nilai solidaritas sosial dan gotong royong melalui pengembangan Sekolah Rakyat. Ini menjadi inspirasi bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan individu bisa melahirkan perubahan besar bagi masa depan bangsa.

Dukungan pemerintah daerah terhadap Sekolah Rakyat adalah bentuk nyata dari keberpihakan terhadap pemerataan pendidikan. Ia bukan hanya soal membangun sekolah atau memberikan bantuan, tetapi soal merawat harapan dan membuka jalan bagi setiap anak untuk bermimpi. Di balik kesederhanaan ruang kelas tanpa dinding dan papan tulis seadanya, ada semangat besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara adil dan merata. Sekolah Rakyat, dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, telah dan akan terus menjadi titik terang di tengah tantangan pendidikan yang masih harus kita hadapi bersama.
)* Penulis adalah pengamat kebijakan publik

Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Jadi Kunci Sukses Pembentukan Koperasi Merah Putih

Jakarta – Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah terus memperkuat langkah sinergis dalam pembentukan Koperasi Desa Merah Putih sebagai salah satu agenda strategis nasional untuk mewujudkan kemandirian ekonomi berbasis masyarakat. Program ini dirancang tidak hanya sebagai wadah usaha bersama, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara menyeluruh.

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono menegaskan penguatan koperasi melalui sinergi antara koperasi tani dan Kopdes Merah Putih akan menciptakan sistem ekonomi desa yang tangguh dan berkelanjutan.

“Kolaborasi antara koperasi tani dengan Kopdes Merah Putih akan menjadi kekuatan besar dalam membangun sistem usaha tani desa yang tangguh dan mandiri. Kepala desa dapat memfasilitasi pembentukan koperasi melalui forum musyawarah desa khusus,” ujarnya,

Menurut Sudaryono, dari lebih dari 755 ribu kelompok tani yang tersebar di Indonesia, baru sekitar 5.000 yang berbadan hukum koperasi. Pemerintah bahkan telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram sebagai bentuk jaminan perlindungan bagi petani.

“Melalui koperasi, petani memperoleh kemudahan akses terhadap input produksi seperti benih, pupuk subsidi, serta saluran distribusi hasil pertanian yang lebih menguntungkan,” imbuh Sudaryono.

Sejalan dengan itu, Wakil Menteri Koperasi dan UKM, Ferry J. Juliantono mengungkapkan bahwa pembentukan Kopdes Merah Putih juga diarahkan untuk memperkuat peran desa dalam rantai ekonomi nasional, terutama di daerah perbatasan.

“Kami siap memberikan pendampingan dan dukungan penuh untuk pendirian Kopdes Merah Putih di Sambas. Lokasi strategis Sambas menjadikannya ujung tombak dalam mewujudkan visi Presiden Prabowo Subianto untuk membangun Indonesia dari pinggiran,” ujarnya.

Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Provinsi Riau, Romi, mengatakan Pemerintah Provinsi Riau secara aktif mempercepat pembentukan koperasi desa melalui rapat strategis yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

“Koperasi bukan hanya sekadar wadah ekonomi, tetapi juga merupakan instrumen pemberdayaan yang sangat vital. Pentingnya kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan program,” jelasnya.

Program Kopdes Merah Putih sesuai Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 dan Surat Edaran Menteri Desa Nomor 6 Tahun 2025. Pemerintah menargetkan pendirian 80.000 Kopdes Merah Putih hingga akhir tahun, dengan peluncuran resmi yang direncanakan pada Hari Koperasi Nasional, 12 Juli 2025.

Dengan sinergi kuat antara pemerintah pusat, daerah, perangkat desa, dan masyarakat, Koperasi Merah Putih diyakini mampu menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang modern, inklusif, dan berkelanjutan. {}

[edRW]

Koperasi Merah Putih: Pilar Kemandirian Ekonomi Desa dalam Pembangunan Nasional

Jakarta-Kehadiran Koperasi Merah Putih menjadi tonggak penting dalam upaya memperkuat ekonomi desa, sekaligus mengubah narasi tentang ketertinggalan menjadi cerita keberdayaan. Program ini bukan hanya sekadar inisiatif pemerintah, tetapi juga representasi dari semangat kolektif masyarakat desa untuk menjadi subjek pembangunan. Dalam menghadapi tantangan modernisasi yang sering kali mengikis kemandirian desa, koperasi ini hadir sebagai solusi yang membangun ekonomi desa secara inklusif dan berkelanjutan.

Wakil Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa program Koperasi Desa Merah Putih, yang merupakan inisiatif utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dirancang untuk memperkuat ekonomi pedesaan tanpa membebani APBN.

“Program ini bertujuan menciptakan ekosistem ekonomi yang saling menguntungkan dan menghapus ketergantungan pada rentenir atau pinjaman online. Hal ini menunjukkan komitmen untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat dan lebih mandiri bagi masyarakat desa,” ujar Ferry.

Salah satu kekuatan utama dari Koperasi Merah Putih terletak pada kemampuannya membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Masyarakat desa tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan pelaku aktif dalam rantai nilai ekonomi, mulai dari pengolahan hasil pertanian hingga pengembangan produk berbasis budaya lokal. Melalui koperasi, desa dapat memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki dan mengolahnya menjadi produk dengan nilai tambah tinggi, yang pada akhirnya mendorong kesejahteraan masyarakat.

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan pembentukan 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia, yang akan diluncurkan pada 12 Juli 2025.

“Pemerintah berharap koperasi ini dapat menggerakkan ekonomi desa secara lebih maksimal, dengan target keuntungan mencapai Rp 1 miliar per koperasi per tahun. Program ini juga menjadi bagian dari upaya untuk mengurangi kesenjangan antara wilayah kota dan desa, memberikan akses yang lebih besar pada pasar dan sumber daya bagi pelaku UMKM desa,” tambah Sudaryono.

Koperasi Merah Putih bukan hanya berfungsi sebagai pendorong ekonomi lokal, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam memperkuat ketahanan nasional. Dengan desa-desa yang lebih mandiri, distribusi pembangunan menjadi lebih merata, mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi yang ada. Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi, menekankan pentingnya peran teknologi dalam mempercepat pembangunan koperasi.

“Platform digital resmi kopdesmerahputih.kop.id merupakan langkah strategis untuk mempermudah pendaftaran dan pengelolaan koperasi secara mandiri,” ungkap Budi Arie.

Dengan terus berkembangnya koperasi ini, masa depan desa di Indonesia semakin cerah. Tidak hanya sebagai penerima kebijakan, desa kini menjadi kekuatan ekonomi yang menentukan arah pembangunan nasional. Koperasi Merah Putih adalah simbol kebangkitan ekonomi desa, yang membawa harapan baru bagi masyarakat Indonesia. [^]

Koperasi Merah Putih Jadi Instrumen Strategis Pemerintah Meningkatkan Kesejahteraan Desa

Oleh: Eleine Pramesti )*

Kehadiran Koperasi Merah Putih menjadi bukti konkret upaya pemerintah untuk menjadikan desa sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek penerima kebijakan. Koperasi Merah Putih lahir dari semangat kolektif untuk memperkuat basis ekonomi rakyat yang berakar di desa. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang sering kali menggerus identitas lokal dan kemandirian ekonomi desa, koperasi ini menjadi benteng yang menjaga nilai-nilai kebersamaan sekaligus menjadi mesin pertumbuhan ekonomi masyarakat desa.

Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop), Ferry Juliantono menegaskan program Koperasi Desa Merah Putih, inisiatif unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, merupakan solusi ekonomi pedesaan yang tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ferry mengatakan program tersebut dirancang untuk menciptakan ekosistem ekonomi baru di pedesaan yang saling menguntungkan, sekaligus memutus jeratan rentenir dan pinjaman online (pinjol) yang merugikan masyarakat desa.

Salah satu kekuatan utama Koperasi Merah Putih terletak pada kemampuannya membangun ekosistem ekonomi yang sehat di tingkat desa. Melalui koperasi, masyarakat diajak untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan pelaku aktif dalam rantai nilai ekonomi. Mulai dari produksi pangan lokal, pengelolaan hasil pertanian dan perkebunan, hingga pengembangan produk kreatif berbasis budaya lokal, semua diarahkan agar memiliki nilai tambah yang tinggi. Pendekatan ini memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, di mana keuntungan ekonomi tidak hanya terpusat pada satu pihak, tetapi tersebar secara adil ke seluruh anggota masyarakat.

Koperasi Merah Putih juga memainkan peran strategis dalam membuka akses pasar dan permodalan bagi pelaku usaha desa. Banyak pelaku UMKM di desa yang selama ini kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas karena keterbatasan jaringan dan informasi. Melalui koperasi, mereka difasilitasi untuk masuk ke dalam sistem distribusi yang lebih efisien, termasuk menjangkau pasar digital yang kini menjadi kebutuhan.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono mengatakan Pemerintah menargetkan pembentukan 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia, yang akan diluncurkan pada 12 Juli 2025. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Budi Arie Setiadi memperkirakan bahwa anggaran yang dibutuhkan untuk pembentukan 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) akan mencapai sekitar Rp 400 triliun.

Angka tersebut mencakup semua aspek yang diperlukan untuk membangun dan mengelola koperasi di berbagai desa di seluruh Indonesia. Dengan target ambisius ini, setiap Koperasi Desa Merah Putih diharapkan bisa memperoleh keuntungan yang signifikan, yakni mencapai hingga Rp 1 miliar per tahun.

Dalam jangka panjang, koperasi juga berpotensi menjadi pilar utama dalam pencapaian ketahanan nasional. Ketika desa-desa mampu mandiri secara ekonomi dan tidak tergantung sepenuhnya pada kota, maka distribusi pembangunan akan menjadi lebih seimbang. Hal ini penting untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah yang selama ini menjadi salah satu persoalan klasik pembangunan Indonesia. Koperasi sebagai lembaga ekonomi rakyat menjadi kekuatan kolektif yang mampu menciptakan stabilitas sosial dan ekonomi secara merata, sekaligus memperkuat ketahanan pangan, energi, dan budaya bangsa.

Koperasi Merah Putih juga memperkuat sinergi antara desa dengan pemerintah pusat dan daerah. Melalui koperasi, program-program pembangunan dari pemerintah dapat disalurkan secara lebih tepat sasaran dan terukur. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan koperasi menjadikannya sebagai mitra yang dapat dipercaya dalam mengelola dana publik maupun program strategis lainnya. Dengan demikian, koperasi tidak hanya menjadi alat produksi, tetapi juga menjadi agen pelaksana kebijakan yang efektif dan efisien. Di era perubahan iklim dan tantangan lingkungan global, koperasi juga berperan dalam mendorong praktik ekonomi yang ramah lingkungan.

Transformasi digital yang terus berlangsung di tingkat nasional juga menjadi peluang besar bagi koperasi untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan efisiensi layanan. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, koperasi kini mampu mengelola data anggota secara lebih rapi, mengatur keuangan dengan sistem digital, hingga memasarkan produk melalui platform online. Hal ini membuka potensi koperasi untuk bersaing di pasar yang lebih luas, bahkan menembus pasar internasional dengan produk-produk unggulan desa yang berkualitas tinggi.

Selain itu, Pemerintah meluncurkan platform digital resmi kopdesmerahputih.kop.id sebagai pusat pendaftaran Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDMP) secara mandiri. Menteri Koperasi atau Menkop, Budi Arie Setiadi mengatakan bahwa peluncuran platform ini merupakan hasil rapat bersama Satuan Tugas (Satgas) KDMP yang diselenggarakan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Budi Arie menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam keseluruhan proses pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (KopDes Merah Putih) atau Koperasi Merah Putih.

Melalui pendekatan yang komprehensif dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan, Koperasi Merah Putih telah membuktikan diri sebagai instrumen strategis yang mampu mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan budaya dalam satu kesatuan yang harmonis. Desa-desa yang dulunya termarginalkan kini memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berlandaskan pada prinsip keadilan sosial dan kemandirian. Dengan semakin banyaknya koperasi yang tumbuh dan berkembang, masa depan desa di Indonesia bukan lagi narasi tentang keterbelakangan, melainkan cerita tentang kebangkitan dan kedaulatan ekonomi rakyat.

)* Penulis merupakan pengamat isu strategis