Ulama dan Akademisi : Optimisme dan Persatuan, Fondasi Pemerintahan Prabowo Menuju Indonesia Cemerlang

Jakarta – Di tengah berbagai tantangan global dan harapan besar masyarakat terhadap perubahan, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memilih untuk menyalakan lentera optimisme daripada terjebak dalam narasi pesimisme. Lewat pendekatan yang terbuka, realistis, dan berpihak pada rakyat, Presiden Prabowo menggugah semangat kebangsaan untuk bersatu, bergerak, dan membangun Indonesia secara kolektif.

Dr. KH. Marsudi Syuhud, MM, Wakil Ketua Umum MUI, menyampaikan bahwa keseimbangan antara keinginan dan kenyataan adalah kunci keberhasilan dalam mengelola keterbatasan sumber daya.

“Presiden Prabowo hadir dengan pendekatan optimis yang realistis. Beliau menjaga komunikasi terbuka kepada masyarakat, agar semua memahami bahwa tak semua keinginan dapat segera dipenuhi,” jelas Marsudi.

Ia menekankan pentingnya narasi positif dan kebersamaan agar pembangunan tidak terhambat oleh pesimisme.

Sementara itu, Dr. Aditya Perdana, pakar komunikasi politik Universitas Indonesia, menilai bahwa kekuatan politik dan kelembagaan yang dimiliki Presiden menjadi modal penting dalam menunaikan janji-janji kampanye.

“Kunci dari pemerintahan yang stabil dan efektif adalah komunikasi yang jujur dan partisipatif. Presiden Prabowo sudah menunjukkan kematangan politik dengan terbuka terhadap kritik dan terus mengevaluasi arah komunikasi publik,” jelas Aditya.

Aditya juga menambahkan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap program-program seperti Cek Kesehatan Gratis harus dikelola dengan baik.

“Masyarakat perlu diedukasi bahwa program besar butuh waktu dan prioritas yang jelas,” lanjutnya
Kedua tokoh sepakat bahwa menjaga solidaritas nasional dan merawat optimisme publik adalah tugas bersama.

“Perbedaan pendapat adalah hal biasa, tapi harus disampaikan secara bertanggung jawab, demi Indonesia yang lebih bersatu dan maju,” tutup Marsudi.

Dengan semangat kolaboratif dan kepemimpinan yang terbuka, pemerintahan Prabowo diyakini mampu membawa Indonesia menuju arah yang lebih cemerlang.

Narasi Indonesia Gelap Hambat Kemajuan: Tokoh Bangsa Serukan Persatuan dan Optimisme

Jakarta – Narasi pesimisme seperti “Indonesia Gelap” muncul ketika keinginan masyarakat tidak sejalan dengan kondisi riil, terutama saat menghadapi tekanan ekonomi atau penurunan pendapatan.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr. KH. Marsudi Syuhud, MM, dalam diskusi di salah satu stasiun televisi nasional, Kamis, 24/04/2025.

Waketum MUI mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo telah menetapkan prioritas pembangunan nasional secara strategis, sebagai bentuk respons terhadap dinamika global yang juga berdampak pada berbagai negara di dunia, bukan hanya Indonesia.

“Komunikasi politik yang dijalankan saat ini telah mampu meredam narasi pesimisme dan ketakutan, karena narasi tersebut justru dapat memperlambat semangat pembangunan jika terus digulirkan,” terangnya.

Menurutnya, pendekatan Presiden Prabowo sejalan dengan ajaran agama yang menekankan pentingnya membangun dengan semangat optimisme dan kebersamaan, bukan dengan rasa takut atau saling menyalahkan.

“Presiden Prabowo Subianto telah mengedepankan pendekatan optimis dalam mengelola sumber daya nasional, dengan menyeimbangkan kebutuhan dan kenyataan serta memunculkan narasi positif di tengah tantangan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Marsudi menilai penting bagi masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi negatif, dan harus mampu melihat peluang serta upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk menjaga laju pembangunan nasional.

Perbedaan pendapat, imbuh Marsudi, harus disampaikan secara terbuka dan bertanggung jawab, sementara kritik yang dilontarkan seharusnya bersifat membangun dan tidak menimbulkan perpecahan, agar tercipta semangat bersama dalam membangun bangsa.

Marsudi juga berpendapat bahwa solidaritas nasional harus dilestarikan, dimana tokoh masyarakat dan tokoh agama berperan aktif dalam menyuarakan persatuan dan membangkitkan optimisme sebagai modal utama menuju keberhasilan pembangunan Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Aditya Perdana, Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia, menilai sikap terbuka Presiden Prabowo terhadap kritik dan masukan dari berbagai pihak menunjukkan komitmen kuat pada prinsip demokrasi deliberatif yang patut diapresiasi.

Aditya mengatakan keberhasilan Presiden Prabowo merangkul berbagai kekuatan politik menjadi modal strategis dalam mempercepat pembangunan dan menciptakan stabilitas pemerintahan ke depan.

“Situasi ini seharusnya mendorong munculnya optimisme nasional, dengan keyakinan bahwa arah pemerintahan ke depan akan semakin konstruktif dan inklusif,” ungkap Aditya Perdana.

Tingginya ekspektasi masyarakat terhadap program-program pemerintah, tambahnya, harus dikelola dengan komunikasi yang jujur mengenai tantangan yang dihadapi, agar tidak menimbulkan bias dan kekecewaan.

Dia menyebut bahwa pengakuan Presiden atas kelemahan komunikasi publik pemerintah merupakan bentuk kedewasaan politik, dengan komitmen untuk terus mengevaluasi dan menyempurnakan strategi komunikasi bersama jajaran kabinet.

“Para tokoh bangsa diharapkan terus mengimbau masyarakat untuk menjaga harmoni, mencegah polarisasi, dan memperkuat semangat kebangsaan,” harapnya.

Persatuan dan keguyuban seluruh elemen bangsa akan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan dan dinamika kebangsaan.

Pakar Komunikasi Politik UI Ajak Masyarakat Lawan Narasi ‘Indonesia Gelap’ dengan Optimisme

Jakarta, – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai memiliki potensi besar untuk membawa Indonesia menuju pembangunan yang lebih konstruktif dan inklusif. Berbagai kalangan, termasuk pakar dan tokoh agama, mengajak masyarakat untuk mendukung langkah pemerintah sembari tetap optimistis menghadapi tantangan nasional. Langkah ini dianggap efektif untuk menghapus narasi pesimistis seperti “Indonesia Gelap” yang kerap muncul di tengah tekanan ekonomi dan ekspektasi tinggi masyarakat.

Dr. Aditya Perdana, pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia, menegaskan bahwa demokrasi saat ini menghadapi tantangan kompleks, baik dari dinamika nasional maupun global. Namun, ia menilai bahwa kekuatan politik dan kelembagaan yang dimiliki Presiden Prabowo menjadi modal strategis untuk mewujudkan janji-janji kampanye. “Keberhasilan Presiden Prabowo merangkul berbagai kekuatan politik menciptakan stabilitas pemerintahan, yang seharusnya mendorong optimisme nasional,” ujarnya dalam wawancara di salah satu stasiun televisi nasional, Kamis (24/4)

Senada pada acara yang sama, Dr. KH. Marsudi Syuhud, MM, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), juga menyoroti pentingnya transparansi dalam komunikasi pemerintah. Menurutnya, keseimbangan antara keinginan masyarakat dan keterbatasan sumber daya harus disampaikan dengan jujur. “Transparansi menjadi landasan agar masyarakat memahami bahwa tidak semua keinginan dapat dipenuhi sekaligus. Pemerintahan saat ini telah menjalankan hal ini dengan baik,” katanya. Marsudi juga mengingatkan masyarakat agar tidak terprovokasi oleh narasi negatif, melainkan fokus pada peluang dan upaya pemerintah dalam menjaga pembangunan nasional.

Tingginya ekspektasi masyarakat terhadap program pemerintah, seperti disampaikan Aditya, perlu dikelola dengan komunikasi yang terbuka untuk mencegah kekecewaan. Ia menekankan bahwa kejujuran dalam menyampaikan tantangan yang dihadapi akan memperkuat kepercayaan publik. Sementara itu, Marsudi menambahkan bahwa kritik harus bersifat membangun dan bertanggung jawab, bukan memicu perpecahan. “Perbedaan pendapat harus disampaikan secara terbuka, tapi dengan semangat bersama membangun bangsa,” tegasnya.

Ajakan untuk mendukung pemerintahan Prabowo sembari mempertahankan optimisme ini diharapkan dapat memperkuat semangat nasional. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, narasi pesimistis dapat diredam, membuka jalan bagi Indonesia yang lebih maju dan harmonis.

Indonesia Tidak Gelap,: Saatnya Jaga Persatuan dan Optimisme Menuju Masa Depan Cemerlang!

Jakarta – Semangat menjaga persatuan dan Optimisme bangsa menjadi landasan penting dalam mewujudkan masa depan Indonesia yang cemerlang. Di tengah dinamika sosial dan tantangan global yang kompleks, tokoh-tokoh bangsa menyerukan pentingnya membangun optimisme kolektif dan semangat kebersamaan sebagai kunci menjawab berbagai persoalan nasional.

Merebaknya narasi pesimistis seperti “Indonesia gelap”, berbagai tokoh bangsa menegaskan bahwa bangsa ini justru tengah berada di jalur kebangkitan. Kondisi global yang penuh tantangan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menyerah pada ketakutan. Sebaliknya, persatuan dan optimisme adalah kunci untuk membawa Indonesia menuju masa depan yang cemerlang.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr. KH. Marsudi Syuhud, MM, menyoroti pentingnya narasi yang membangun. “Narasi ‘Indonesia gelap’ muncul saat harapan masyarakat tidak sejalan dengan realitas, apalagi dalam tekanan ekonomi. Tapi dalam ajaran agama, kita diajarkan untuk membangun dengan semangat optimisme dan kebersamaan, bukan dengan rasa takut atau saling menyalahkan,” tegasnya.

Ia menilai pendekatan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan keseimbangan antara harapan dan kenyataan sebagai langkah yang patut didukung.

“Presiden Prabowo hadir membawa harapan. Ia menetapkan prioritas pembangunan nasional secara strategis, menyesuaikan dengan dinamika global yang juga menimpa banyak negara, bukan hanya Indonesia,” ungkap Marsudi.

Presiden Prabowo sendiri telah menetapkan prioritas pembangunan nasional secara terstruktur, sebagai respons terhadap tantangan global yang tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga negara-negara lain. Sikap terbuka terhadap kritik dan masukan dari berbagai pihak turut memperlihatkan komitmen kuat pada prinsip demokrasi deliberatif.

Sementara itu, Dr. Aditya Perdana, pakar komunikasi politik Universitas Indonesia, menilai keberhasilan Presiden Prabowo dalam merangkul berbagai kekuatan politik sebagai fondasi kuat bagi stabilitas nasional. “Ini bukan hanya langkah politik, tapi modal besar untuk mempercepat pembangunan,” ungkapnya.

Aditya juga menilai sikap terbuka Presiden terhadap kritik sebagai bentuk kedewasaan politik. “Pengakuan beliau atas kelemahan dalam komunikasi publik adalah wujud evaluasi diri yang dewasa, dan itu menunjukkan komitmen terhadap prinsip demokrasi yang sehat,” katanya.

Dalam semangat itu, para tokoh bangsa diimbau terus menyerukan pentingnya menjaga harmoni sosial, mencegah polarisasi, serta memperkuat semangat kebangsaan. Perbedaan pendapat seharusnya menjadi ruang dialog yang konstruktif, bukan pemicu perpecahan. Hanya dengan kebersamaan, Indonesia bisa melangkah menuju masa depan yang lebih cerah, adil, dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya.

Ulama dan Akademisi Serukan Semangat Persatuan Wujudkan Indonesia Cemerlang

Jakarta – Semangat persatuan kembali digaungkan oleh para tokoh bangsa dalam talkshow “Sapa Indonesia Malam” bertajuk Jaga Persatuan untuk Indonesia Cemerlang. Sejumlah ulama dan akademisi menyuarakan pentingnya membangun optimisme dan menolak narasi pesimisme demi menciptakan masa depan Indonesia yang lebih baik di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr. KH. Marsudi Syuhudmenyampaikan bahwa pemerintah di bawah Presiden Prabowo telah mengedepankan pendekatan optimis dalam mengelola sumber daya nasional. Menurutnya, keseimbangan antara kebutuhan dan kenyataan menjadi kunci untuk menumbuhkan harapan serta semangat membangun bangsa.

“Narasi positif yang dibangun pemerintah sangat penting, karena jika masyarakat terus dijejali dengan narasi ketakutan dan pesimisme, semangat pembangunan bisa terganggu. Masyarakat jangan mudah terprovokasi oleh narasi gelap, tapi harus melihat peluang dan berpikir ke depan dengan positif. Jika pikirannya positif, maka hasilnya juga akan positif. Indonesia akan menjadi bangsa yang semakin kuat,” tegas KH. Marsudi.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak larut dalam narasi “Indonesia Gelap” yang justru berpotensi melahirkan sikap apatis dan merusak tatanan sosial. Sebaliknya, masyarakat perlu mendukung berbagai upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan pembangunan nasional.

Sementara itu, pakar komunikasi politik Universitas Indonesia, Dr. Aditya Perdana, menilai kemampuan Presiden Prabowo merangkul berbagai kekuatan politik sebagai langkah strategis yang patut diapresiasi. Langkah ini dinilai akan mempercepat pembangunan dan memperkuat stabilitas pemerintahan dalam jangka panjang.

“Presiden Prabowo menunjukkan sikap terbuka terhadap kritik dan masukan dari berbagai kalangan. Ini mencerminkan komitmen beliau terhadap demokrasi deliberatif yang sehat. Di tengah tantangan global dan domestik, persatuan dan keguyuban semua elemen bangsa menjadi kekuatan utama untuk menjaga keutuhan NKRI,” jelas Dr. Aditya.

Ia juga menambahkan, para tokoh bangsa diharapkan terus aktif menyuarakan pentingnya menjaga harmoni sosial, mencegah polarisasi, serta memperkuat semangat kebangsaan sebagai fondasi Indonesia maju.

Pernyataan dari kedua tokoh tersebut menggarisbawahi pentingnya menjaga persatuan dan semangat positif di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia. Dengan adanya seruan dari para ulama dan akademisi ini, semangat menjaga persatuan diharapkan semakin mengakar dalam kehidupan masyarakat. Melalui sinergi antara pemerintah dan seluruh elemen bangsa, cita-cita Indonesia cemerlang diyakini dapat terwujud secara nyata.

Wakil Ketua MUI: Ajak Seluruh Elemen Bangsa Bangun Optimisme dan Persatuan untuk Wujudkan Indonesia Cemerlang

Jakarta – Dalam sebuah talkshow di TV Nasional bertema “Jaga Persatuan untuk Indonesia Cemerlang”, Dr. KH. Marsudi Syuhud, MM, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), bersama Dr. Aditya Perdana, Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia, mengungkapkan pesan penting mengenai pentingnya persatuan dan optimisme dalam menghadapi masa depan Indonesia.

Dr. KH. Marsudi Syuhud mengatakan, “Menjaga keseimbangan antara harapan dan realitas adalah kunci dalam menghadapi keterbatasan yang ada. Keinginan manusia memang tak terbatas, tetapi sering kali sumber daya yang tersedia terbatas. Oleh karena itu, kita harus tetap optimis dan tidak terjebak dalam narasi pesimisme yang hanya memperburuk keadaan.” Menurutnya, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah berupaya menyeimbangkan berbagai kepentingan dengan pendekatan yang lebih realistis dan strategis.

Lebih lanjut, Dr. Marsudi mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi negatif, seperti yang sering disuarakan dengan istilah “Indonesia gelap”. “Jangan biarkan narasi gelap meredupkan semangat kita. Kita harus terus melihat ke depan dan berfikir tentang apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan,” ujarnya. Ia juga menegaskan pentingnya solidaritas nasional, yang terbukti kuat saat Indonesia menghadapi pandemi COVID-19, sebagai modal untuk menjaga semangat kebersamaan dalam membangun bangsa.

Sementara itu, Dr. Aditya Perdana dari Universitas Indonesia menambahkan bahwa demokrasi Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang cukup berat, baik dari dalam maupun luar negeri. “Namun, Presiden Prabowo memiliki sumber daya politik dan kelembagaan yang solid. Ini memberi peluang besar untuk mewujudkan berbagai janji dan program kerja. Keberhasilan beliau dalam merangkul berbagai kekuatan politik adalah modal utama untuk menciptakan stabilitas pemerintahan,” ujarnya.

Dr. Aditya juga mengingatkan pentingnya menjaga harmoni dan menghindari polarisasi dalam masyarakat. “Dalam menghadapi tantangan global, kita harus memastikan agar seluruh elemen bangsa tetap bersatu. Persatuan adalah kunci untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik dan lebih cemerlang,” tambahnya.

Kedua narasumber sepakat bahwa Indonesia hanya akan maju dan mencapai cita-cita besar jika masyarakatnya tetap bersatu, optimis, dan berkomitmen untuk menjaga harmoni di tengah dinamika yang ada. Masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh narasi pesimisme dan terus menjaga semangat kebersamaan untuk menghadapi berbagai tantangan.

KH. Marsudi Syuhud: Jangan Terjebak Narasi Pesimisme, Mari Bangun Optimisme Bangsa

tidak mencerminkan semangat kebangsaan yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan global. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Marsudi Syuhud, menegaskan bahwa narasi pesimisme tersebut lahir ketika harapan masyarakat tidak sejalan dengan kondisi riil, khususnya dalam situasi tekanan ekonomi atau penurunan pendapatan.

“Presiden Prabowo Subianto mengedepankan pendekatan optimistis dalam mengelola sumber daya nasional. Beliau menyeimbangkan antara keinginan dan kenyataan, serta membangun narasi positif di tengah tantangan,” ujarnya.

Menurut KH. Marsudi, pendekatan tersebut sejalan dengan nilai-nilai keagamaan yang mendorong umat untuk membangun masa depan dengan semangat optimisme dan kebersamaan, bukan rasa takut atau saling menyalahkan.

Ia juga menambahkan bahwa transparansi komunikasi pemerintah menjadi kunci dalam menyampaikan kondisi negara secara jujur namun konstruktif, agar masyarakat memahami bahwa tidak semua keinginan dapat segera terpenuhi.

“Presiden Prabowo telah menunjukkan keberpihakan pada kepentingan strategis nasional dengan menetapkan prioritas pembangunan secara terukur dan realistis. Ini adalah bentuk tanggung jawab dalam merespons dinamika global yang turut mempengaruhi stabilitas ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia,” tegas KH. Marsudi.

Senada dengan itu, Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Indonesia, Dr. Aditya Perdana, menilai bahwa Presiden Prabowo telah sukses merangkul berbagai kekuatan politik untuk memperkuat stabilitas nasional. Menurutnya, langkah ini bukan hanya simbol rekonsiliasi, tetapi juga menjadi modal penting dalam menciptakan pemerintahan yang inklusif dan responsif.

“Situasi politik saat ini seharusnya menjadi pemicu munculnya optimisme nasional, bukan justru narasi provokatif yang memecah belah bangsa. Komitmen Presiden terhadap prinsip demokrasi deliberatif patut diapresiasi, terlebih dengan sikap terbuka terhadap kritik dan masukan,” kata Dr. Aditya.

Ia juga menyoroti pengakuan Presiden atas kelemahan komunikasi publik pemerintahan sebelumnya, yang menunjukkan kedewasaan politik dan kemauan untuk memperbaiki diri. Strategi komunikasi yang lebih efektif, lanjutnya, akan menjadi instrumen penting dalam menjaga kepercayaan publik dan memperkuat partisipasi masyarakat.

Membangun Indonesia yang cemerlang tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi seluruh elemen bangsa. Dalam menghadapi perbedaan, masyarakat diimbau untuk tetap menjunjung tinggi etika berdialog, menyampaikan kritik secara konstruktif, serta menolak segala bentuk provokasi yang dapat memecah belah persatuan.

Belajar Dari Covid, Ulama dan Akademisi Ajak Masyarakat untuk Optimis dan Bersatu Hadapi Kondisi Saat ini

Jakarta – Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsyudi Syuhud mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk dapat Optimis dan Bersatu dalam menghadapi kondisi Indonesia saat ini.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua MUI KH Marsyudi Syuhud saat berdialog dengan tema “Jaga Persatuan Untuk Indonesia Cemerlang” di salah satu Televisi Nasional, Kamis 24/4/2025.

Menurut Kyai Marsudi Syuhud, masyarakat bersyukur dengan kondisi Indonesia saat ini yang aman, damai dan memiliki sumber daya yang kaya.

Selain itu juga, Wakil Ketua MUI juga mengharapkan masyarakat untuk dapat mengelola sumber daya yang ada sehingga dapat melewati Kondisi saat ini.

KH Marsudi Syuhud minta masyarakat untuk tidak berpikir terus tentang Indonesia Gelap karena dapat mengakibatkan hal negatif. Jangan sampai terprovokasi hal yang gelap. Seharusnya masyarakat untuk bisa melihat apa yang harus dilakukan kedepan dengan berpikiran positif sehingga hasilnya akan positif dan bangsa Indonesia dapat semakin kuat.

Ulama NU itu juga mengingatkan untuk Kritik membangun boleh saja tapi asal bukan kebencian.

Untuk menhadapi kondisi saat ini dapat belajar dari covid, Para kyai Dari pusat sampe kampung dikomunikasikan dengan baik sehingga hasilnya sesuai apa yang diharapkan, pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama hal senada diungkapkan Pakar Komunikasi Politik UI Aditya Perdana. Menurutnya dalam kondisi saat ini dapat belajar waktu menghadapi Pandemi Covid.

Seluruh masyarakat Indonesia dari tingkat atas sampai bawah bersatu dan hasilnya Indonesia dan melewati Pandemi Covid dengan baik dibandingkan negara – negara lain didunia, ujar saat berdialog di salah satu Televisi Nasional di Jakarta.

Menghadapi tantangan global, Presiden bisa merangkul masyarakat agar dapat bersama – sama mencapai target untuk wujudkan Indonesia yang yang lebih baik, tuturnya.

Selain itu, Akademisi UI itu juga mengajak masyarakat untuk tetap optimis ditengah dinamika saat ini.

Presiden Prabowo sudah membuka diri dan diapresiasi oleh berbagai kalangan, gerak langkah harus sama, tutupnya.

Rangkul Optimisme Berbangsa, Wakil Ketua MUI Ajak Masyarakat Tolak Narasi Indonesia Gelap

Jakarta – Masa depan Indonesia yang cemerlang mengharuskan kita memelihara kebersamaan dan keutuhan. Seruan untuk mempertahankan keharmonisan dan optimisme, menjadi kunci dalam membangun negara Indonesia yang lebih tangguh dan maju.

Masyarakat Indonesia diharapkan agar menolak beragam narasi pesimis, seperti Indoensia Gelap, dan tetap bersatu demi menjaga keutuhan negara di tengah berbagai tantangan global yang sedang dihadapi dunia.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum MUI, Dr. KH. Marsudi Syuhud dalam sebuah acara diskusi di salah satu stasiun TV Nasional, Kamis (24/4) bertema “Jaga Persatuan untuk Indonesia Cemerlang”

“Kita optimis membangun kedepan karena sesungguhnya perintah agama kita,” tutur KH. Marsudi Syuhud.

Dirinya mengajak masyarakat untuk menciptakan optimisme, bukan menyebarkan narasi Indonesia Gelap yang bisa merusak keharmonisan. Hal penting adalah penyampaian ke publik agar tidak terpengaruh ataupun mempengaruhi orang lain dengan narasi Indonesia Gelap.

“Ciptakan optimisme, bukan dengan mengatakan Indoensia gelap, tetapi mari kita membuat kalimat-kalimat optimis. Keharmonisan dapat tercapai dan bisa terjaga, jika saling memahami keadaanya,” kata KH. Marsudi.

Disisi lain, menurut KH. Marsudi Syuhud, ketika masih ada perbedaan pendapat, bisa disampaikan ke publik. Mengkritik itu boleh, lanjutnya, namun kritik yang membangun.

“Kritik itu sesungguhnya untuk membangun, bukan untuk kebencian, selama kita bersatu menuju satu tujuan maka saya yakin bisa mencapai targetnya,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Pakar Komunikasi Politik, Dr. Aditya Perdana, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo selalu membuka diri dan tidak anti kritik.

“Sikap terbuka Presiden Prabowo terhadap kritik dan masukan dari berbagai pihak menunjukkan komitmen kuat pada prinsip demokrasi deliberatif yang patut diapresiasi,” katanya.

Dr. Aditya menekankan, Presiden punya tanggung jawab dan ruang untuk melakukan banyak hal, namun butuh dukungan dari Masyarakat

“Presiden Prabowo memiliki sumber daya yang kuat, baik politik maupun kelembagaan, yang memberikan peluang besar untuk merealisasikan berbagai janji dan program kerja,” kata Dr. Aditya.

Menurutnya, keberhasilan Presiden Prabowo merangkul berbagai kekuatan politik menjadi modal strategis dalam mempercepat pembangunan dan menciptakan stabilitas pemerintahan ke depan.

“Situasi ini seharusnya mendorong munculnya optimisme nasional, dengan keyakinan bahwa arah pemerintahan ke depan akan semakin konstruktif dan inklusif,” tambahnya.

Para tokoh bangsa diharapkan terus mengimbau masyarakat untuk turut berperan dalam menjaga harmoni, mencegah polarisasi, dan memperkuat semangat kebangsaan. Persatuan dan keguyuban seluruh elemen bangsa akan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan dan dinamika kebangsaan.

Pemerintah Serius Berantas Judi Daring, Masyarakat Diminta Ikut Ambil Peran

JAKARTA — Upaya pemberantasan judi daring atau judi online (Judol) terus digencarkan pemerintah. Terbaru, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya berhasil mengungkap markas judi online berkedok warung kopi di wilayah Jakarta Barat.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi menyampaikan, pengungkapan kasus ini bermula dari patroli siber yang dilakukan Unit 2 Subdit Tahbang/Resmob pada awal April 2025. Petugas menemukan aktivitas mencurigakan melalui situs judi online dengan nomor rekening atas nama SBU dan JPM.

“Dengan modus operandi mengadakan situs website untuk perjudian online disertai dengan nomor tujuan deposit rekening atas nama SBU dan atas nama JPM,” ujar Ade Ary.

Polisi sempat mendatangi lokasi awal di kawasan Tangerang Selatan, namun tidak menemukan pelaku. Penyelidikan berlanjut hingga akhirnya tim berhasil menangkap dua tersangka, SBU dan JPM, di kawasan Kalideres, Jakarta Barat.

“Tim Opsnal Unit 2 Subdit 3 Tahbang/Resmob menangkap pelaku yang bernama SBU dan JPM di Jalan Prima I RT 9/RW 11, Tegal Alur, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat,” jelas Ade Ary.

Kedua pelaku diketahui memiliki peran masing-masing. SBU bertindak sebagai admin pengelola situs slot scamming, sementara JPM bertanggung jawab sebagai penyedia dan pengurus situs tersebut. Dari penangkapan ini, polisi menyita dua rekening atas nama pelaku, satu unit laptop, dan tiga unit ponsel.

Keduanya dijerat Pasal 303 KUHP dan/atau Pasal 45 ayat (2) jo Pasal 27 ayat (2) UU Nomor 1/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Sementara itu, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap tren baru transaksi judi daring yang kini mulai memanfaatkan mata uang kripto dan QRIS.

“Pengawasan transaksi judi online lewat perbankan dan e-wallet cukup ketat,” ujar Koordinator Kelompok Humas PPATK, Natsir Kongah.

Ia menegaskan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam upaya pemberantasan ini.

“Perlu kolaborasi, kerja keras, kerja efektif para penegak hukum dan stakeholder lainnya. Peran masyarakat untuk tidak bermain judi sangat signifikan membantu menurunkan angka perjudian,” tegas Natsir.

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memberantas judi daring secara maksimal. Namun, dukungan dan kesadaran masyarakat tetap menjadi kunci utama keberhasilan upaya ini.

*