Jember Tempo Dulu: Kala Toko Roti Wina Berjaya hingga Gebang Theater Jadi Andalan Muda-Mudi Jember Mencari Hiburan

Rintik hujan deras terdengar nyaring dari balik jendela kamarku,  semburat sisa-sisa senja mulai meninggalkan langit yang semakin gelap. Sambil mengistirahatkan punggung di atas kasur setelah seharian beraktivitas, ibu jariku menggeser-geser halaman Instagram melalui layar ponsel di genggaman tangan. Satu postingan dari Mojok muncul di layar. Membaca judulnya mendadak menimbulkan sensasi “mak deg” di dada. Rindu Jember.

Tulisan berwarna merah yang kontras dengan latar belakang warna kuning itu sontak mengirimkan stimulus yang memicu syaraf-syaraf memoriku. Rentetan peristiwa dari masa lalu terpanggil ke permukaan, muncul seperti cuplikan film di kepala.

Berbicara tentang perasaan rindu pada Jember, tentu yang terlintas pertama kali adalah orang-orangnya. Keluarga, teman, tetangga, hingga kerabat dekat yang masih tinggal di sana. Tapi ada satu hal yang membuatku paling rindu akan Jember, yaitu hal-hal yang bahkan tak lagi bisa terobati sekalipun aku rutin pulang ke sana 2-3 kali dalam setahun. Ya, suasananya.

Toko Roti Wina dan Johar Plaza Jember 

Suasana Jember yang kurindukan pertama adalah ketika Toko Roti Wina masih berjaya. Dulu, lokasinya berada di sebelah utara Jogar Plaza, persis di pojokan pertigaan arah pasar loak yang dijuluki Blok M sama warga Jember.

Kalau kamu orang Jember, masa kecilmu kurang bahagia kalau belum pernah beli Roti Wina. Favoritku adalah roti manis berbentuk kepala kucing yang isiannya cokelat. Entah kapan terakhir kali aku membeli roti itu. Aku jadi penasaran, sekarang roti itu masih ada nggak, ya? Kalau masih ada, apakah rasanya masih sama seperti yang kuingat?

Bicara Roti Wina Jember, di sebelah selatan toko ada jalan menanjak menuju parkiran Matahari Johar Plaza. Aku masih ingat, kalau mau ke Matahari lewat parkiran atas, kita akan melewati lorong menuju bioskop 21. Biasanya di lorong itu ada pengamen jalanan yang dibiarkan mangkal di sana.

Aku sudah lupa seperti apa orangnya, tapi yang kuingat suara dan petikan gitarnya yang menggema merdu. Ditemani aroma popcorn 21, berjalan di lorong sempit dan remang-remang itu menjadi kenangan paling berkesan dari seluruh bagian di Johar Plaza.

Gebang Theater, tempat nongkrong andalan anak muda Jember era 90-an

Aku teringat pula pada salah satu tempat bersejarah di Jember. Ingatanku mundur ke era 90-an awal, ada satu kenangan yang sangat berkesan buatku. Dulu kebetulan aku tinggal di daerah Gebang. Ya, daerah yang biasanya identik dengan preman dan pasar itu. Di sana, ada sebuah gedung bioskop yang terkenal, Gebang Theater. Tapi orang-orang lebih mengenal tempat itu dengan sebutan GT.

GT sangat populer pada masanya. Dulu, aku sering diajak mbak dan masku nonton film di sana. Sebelum konsep bioskop outdoor menjadi populer belakangan waktu ini, warga Jember sudah sejak dulu familier dengan nonton bioskop di tempat terbuka tanpa atap. Sebutan lain yang diberikan oleh warga untuk tempat ini adalah misbar, yang merupakan akronim dari kata gerimis bubar. Tempat ini nggak pernah sepi pengunjung, apalagi kalau yang ditayangkan film-filmnya Benyamin Sueb, Warkop DKI, atau si ratu horor, Suzzanna.

Aku masih ingat pengalaman nonton di sana. Jangan bayangkan tempat duduk empuk ala bioskop kekinian. Dulu, bangku bioskop GT terbuat dari semen cor keras. Alasnya hamparan rumput hijau yang tentu saja jadi sarang nyamuk dan serangga lainnya.

Pedagang asongan lalu-lalang menjajakan kacang rebus, tahu petis, dan aneka camilan serta minuman pada penonton. Percayalah, pengalaman itu sangat berkesan dan memunculkan perasaan rindu. Sayangnya, tempat itu sudah tak lagi terawat. Setahuku, kini sudah beralihfungsi menjadi pasar burung.

Kuburan Cukil turut memantik kenangan akan kota ini

Tak jauh dari GT, ada sebuah pemakaman umum yang dikenal warga Jember dengan sebutan kuburan Cukil. Waktu aku kecil, tempat ini terasa sangat menakutkan. Banyak cerita mistis beredar dengan latar belakang tempat ini.

Akan tetapi kini sebaliknya, tempat ini merupakan salah satu lokasi wajib dikunjungi tiap kali aku pulang ke Jember. Pemakaman ini menjadi saksi atas kerinduanku pada Jember, tempat disemayamkannya orang-orang yang aku sayangi. Orang-orang yang membuatku memiliki banyak kenangan indah di Jember. Kenangan yang membuat sejauh apa pun aku pergi, hatiku akan selalu terikat dengan kota ini.

Rasanya tak mungkin bisa menuliskan semua hal yang berkaitan dengan perasaan rinduku akan suasana Jember tempo dulu. Cuplikan ingatan muncul bergantian secara random tanpa peduli timeline. Mulai dari masa-masa kirim salam dan request lagu lewat Mbak Maris Kiss FM, sewa komik di Taman Baca Oce dan TOP, makan di Gama Fried Chicken, atau nongkrong di Capo pojokan DPRD, berenang di Taman Bedadung Indah, sampai dengan ingatan ikut senam “tariiik… lepas..” di Alun-Alun Jember. Kerinduan akan suasana-suasana itu, mungkin tidak akan pernah bisa terobati.

Penulis: Mirna Fitri NCD
Editor: Intan Ekapratiwi

Merayakan Status iPhone 16 Sebagai Barang Ilegal di Indonesia Biar Jadi Pukulan Keras buat Apple yang Selalu Setengah Hati

Untuk sementara itu, iPhone 16 adalah barang ilegal di Indonesia. Sebuah apresiasi untuk pemerintah yang berani tegas sama Apple yang keras kepala.

Untuk membuka tulisan ini, pertama-pertama perlu disclaimer dulu. Saya bukan pembenci Apple dan turunan produknya. Esai ini saya tulis menggunakan laptop yang notabene MacBook. Saya nonton bola juga di iPad. Jadi, saya nggak punya sentimen sama produsen asal Amerika Serikat ini.

Tapi satu yang pasti, saya rispekkkkkk puollll. Sebab pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian, resmi menyatakan iPhone 16 sebagai barang ilegal untuk diperjualbelikan di Indonesia. Ini satu langkah berani, mengingat iPhone adalah salah satu gawai dengan popularitas yang cukup signifikan di kalangan masyarakat kita.

Kita jabarkan satu per satu sebab barang ghoib satu ini untuk sementara jadi barang ilegal di Indonesia

Pertama, kita bahas soal pengertian teknisnya. Di media sosial, sudah banyak yang menjelaskan soal pelarangan iPhone 16. Pernyataan ini nggak sepenuhnya salah, tapi kurang tepat.

Menperin Agus Gumiwang sendiri sudah menjelaskan. Pemerintah itu bukan melarang iPhone 16 secara total, tapi “hanya” dilarang untuk diperjualbelikan. Sehingga, status barangnya masih ilegal untuk diperdagangkan. Dan ini sifatnya sementara.

Apa sebabnya pelarangan iPhone 16?

Nah, kita masuk ke poin kedua. Menurut Menperin, pelarangan perdagangan iPhone 16 ini salah satunya adalah karena produk ini belum memenuhi 40% TKDN atau Tingkat Komponen Dalam Negeri. Simpelnya, TKDN adalah skema investasi di mana Apple wajib menambah jumlah investasinya di Indonesia untuk memperbarui sertifikat TKDN buat si iPhone 16.

Jujur, ini poin yang saya suka sekali. Karena sebagai negara, kita memang harus berani songong ke produsen luar negeri yang menggempur pasar domestik kita dengan barang-barang import. FYI aja ges, produsen sebesar Apple ini, sampai detik ini, masih belum punya pabrik di Indonesia. Boro-boro pabrik, toko resmi aja nggak punya.

Kalian pikir iBox itu toko resmi Apple? Weyyyy, salah besar, mereka itu cuma distributor. Yang punya kewenangan memasukkan barang ke Indonesia. Dan salah satu poin investasi yang diincar pemerintah Indonesia adalah kemauan Apple untuk membuat pabrik di sini.

Komitmen Apple yang masih setengah hati

Sejauh ini, komitmen Apple ke Indonesia memang masih setengah hati. Kalau di bahasa simpel saya, Apple masih menganggap Indonesia sebagai pasar yang menarik. Tapi, kalau buat jor-joran investasi, Apple masih bersikap kayak “Eits, nanti dulu.”

Saat Samsung bahkan sudah punya pabrik di Cikarang, Apple komitmennya cuma selevel bikin “Apple Developer Academy”. Meski ada di 4 kota, investasi berbentuk akademi ini mah sifatnya masih selevel “Yaelah brooo segitu doang.”

Dan kita perlu mengapresiasi ngototnya pemerintah. Membangun manufaktur di Indonesia untuk Apple harus jadi keniscayaan.

Ketinggalan dari Android

Soal per-investasi-an ini, Apple memang ketinggalan satu sampai dua langkah dari produsen gawai dari Android. Selain Samsung, brand seperti Oppo, Vivo, Realme, dan Xiaomi, sudah punya pabrik yang tersebar di berbagai kota seperti Tangerang hingga Batam.

Pembangunan pabrik ponsel ini dampaknya nggak main-main untuk mencapai kedaulatan teknologi informasi dan manufaktur di Tanah Air. Pasalnya, per data tahun 2023, angka impor gawai sudah menyentuh Rp30 triliun.

Sementara itu, estimasi pakar menyebutkan untuk membangun pabrik ponsel di Indonesia normalnya hanya butuh sekitar setengah triliun rupiah saja. Jadi ya ini perihal mau atau nggak mau aja, sih.

Di konteks ini, sebagai pasar tujuan, Indonesia punya bargaining power untuk bilang ke Apple kayak “Ya udah situ bangun pabrik atau nggak usah jualan di sini.” Sesimpel itu, di atas kertas tapi ya.

Apakah kita bisa membeli iPhone 16?

Lalu kemudian, apakah tandanya kita tidak bisa membeli iPhone 16? Nah, ini kita bahas di poin ketiga.

Seperti saya bilang di awal, banned ini sifatnya sementara. Dan menurut aturan, kalian masih bisa beli iPhone 16 dari luar negeri dan membawanya masuk ke sini.

Tapi, kalian wajib membayar pajak dan hanya menggunakan iPhone 16 tersebut untuk pemakaian pribadi. Jika 2 poin itu terpenuhi, IMEI sih pasti aman. Dan catat, barang itu tidak untuk diperjualbelikan. Kalau mau nekat, sih, ya siap-siap aja boncos atau pait-paitnya kena pidana hahaha.

Pelarangan ini nggak akan lama

Dan poin keempat alias yang terakhir, saya sih yakin Indonesia tidak akan lama melarang penjualan iPhone 16. Selisih angka investasi Apple di Indonesia hanya sekitar Rp240 miliar. Ini angka yang kecil sekali buat perusahaan sekelas Apple.

Meski publik nggak tahu selisih angka investasi ini akan terwujud dalam bentuk apa, namun target paling masuk akal ya memaksa Apple buka pabrik di sini. Udah mau masuk 2025, udah saatnya pemerintah unjuk gigi dan mengarahkan produsen-produsen luar negeri untuk berinvestasi manufaktur di sini.

Kita udah ketinggalan jauh sekali soal industri manufaktur. Ini juga salah satu yang bikin negara kita ketinggalan cukup banyak langkah dalam ekonomi dunia.

Lagipula, kan ya lumayan keren aja gitu megang iPhone 16 dan tulisannya Designed by Apple in California. Assembled in Indonesia.

Penulis: Isidorus Rio

Editor: Yamadipati Seno

Bakpia Day 2024 Memotret Kekayaan Budaya Nusantara

Para pengusaha bakpia di Ngampilan Jogja menggelar Bakpia Day 2024 di lahan bekas Pabrik Tegel Kunci, Ngampilan, Kota Jogja. Acara ini merupakan agenda tahunan dan sudah menjadi penyelenggaraan yang ke-12 kalinya.

Pada tahun ini, Bakpia Day mengangkat tema “Tantra Dita Raya”. Menurut Lurah Ngampilan, Istikhomah, secara harafiah tema tersebut merujuk pada kalimat “kehangatan tradisi citarasa budaya”. Hal tersebut selaras dengan semangat penyelenggaraan tahun ini, di mana keberagaman nusantara ditonjolkan.

“Pada tahun ini kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya. Keberagaman ini yang ingin kami tampilkan dalam rangkaian acara Bakpia Day,” kata Istikhomah saat ditemui Mojok di sela-sela acara, Sabtu (7/12/2024).

Berdasarkan pantauan Mojok, sejak siang masing-masing kontingen yang mewakili RW di Ngampilang menampilkan display. Keragaman budaya terlihat pada masing-masing penampilan.

Misalnya, beberapa RW ada yang menampilkan tarian-tarian tradisional Jawa yang dipadukan dengan musik kontemporer. Ada juga display tarian tradisional daerah lain di Indonesia. Lebih unik lagi, ada yang menampilkan pertunjukkan cowboy khas budaya country club asal Amerika Serikat.

Pertunjukan ditutup dengan aksi RW 13 Desa Ngampilan yang menampilkan tarian Barongsai khas negeri Tiongkok.

Anak muda yang semakin peduli 

Melalui rangkaian acara di Bakpia Day 2024 ini, Istikhomah juga berharap bahwa anak-anak muda di Jogja, khususnya Desa Ngampilan semakin peduli dengan bakpia. Bagi dia, bakpia bukan hanya sekadar produk, tapi juga peninggalan sejarah yang wajib dilestarikan.

“Secara industri, banyak orang di Desa Ngampilan ini terbantu dengan adanya bakpia,” kata dia.

“Tapi jangan lupa, bakpia ini juga punya sejarah panjang. Budaya Tiongkok dan Jawa bersatu dalam makanan ini. Jadi bakpia bukan cuma sekadar makanan,” imbuhnya.

Maka dari itu, Istikhomah pun senang karena dalam penyelenggaraan Bakpia Day 2024 ini, banyak anak muda berpartisipasi. Dari segi kepanitiaan, 80 persen diisi oleh pemuda Desa Ngampilan. Begitu pula dengan para pengunjungnya, yang jika tahun-tahun sebelumnya didominasi orang tua, kini banyak wajah-wajah anak muda yang hadir.

“Harapannya, bakpia bisa terus dilestarikan, baik secara industri maupun tradisi budaya. Kalau bukan yang muda-muda yang meneruskan, siapa lagi,” tukasnya.

Pembagian 10 ribu bakpia

Selain penampilan display dari masing-masing RW di Desa Ngamilan, Jogja, digelar pula pawai keliling desa. Kirab ini diikuti oleh para peserta display. Banyak anak-anak, orang tua, dan anak muda berpartisipasi. Dalam kirab ini juga, para peserta membagikan bakpia kepada masyarakat sekitar.

Ketua Panitia Bakpia Day 2024, Edi Haryono, menjelaskan Bakpia Day 2024 menggandeng para perajin bakpia dari empat paguyuban dengan total 115 anggota. Bahkan, menurutnya ada total ada 10.000 bakpia yang dibagikan kepada masyarakat.

Sebagian dibagikan dalam kegiatan pawai yang melewati Jalan Letjen Suprapto, Jalan Ahmad Dahlan, Jalan Bhayangkara dan kembali berakhir di Jalan KS Tubun. Sementara sebagian bakpia lainnya dibentuk dalam bentuk gunungan dan direbutkan oleh masyarakat.

Menurut Edi, kegiatan ini menjadi bagian dari rasa syukur para perajin bakpia kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Harapannya agar usaha bakpia bisa lebih maju lagi, bagus lagi ke depannya, laris, jangan sampai bakpa yang ada di Pathuk ini nanti tergerus oleh bakpia lain yang bukan asli dari Pathuk Ngampilan,” tegasnya, kemarin.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

Rela Antre Berjubel di Richeese Factory Jombang meski Dianggap FOMO, Karena Pertama dan Satu-satunya

Lokasinya ada di daerah kota. Persisnya di Jl. KH. Wahid Hasyim, Kecamatan Jombang, Jombang, Jawa Timur. Sabtu malam (23/11/2024) saat saya coba ke sana, parkiran Richeese Factory tersebut sudah penuh sesak dengan  motor dan mobil yang parkir.

“Masih bisa kok, Mas,” begitu kata salah seorang tukang parkir mengarahkan saya untuk memarkir motor ke salah satu sudut kosong. Saya mengikuti.

Sementara di luar, tukang parkir pun kian sibuk mengatur agar para pengunjung baru masih bisa parkir. Walaupun sebenarnya ruangnya makin sempit karena harus berbagi antara pengendara motor dan pengendara mobil.

 

Pengunjung Richeese Factory Jombang terus berdatangan

Richeese Factory Jombang baru buka Oktober 2024 lalu. Saat pengumuman diunggah di media sosial, respons warganet Jombang pun terbilang sangat antusias.

Maklum, Richeese Factory itu jadi yang pertama sekaligus satu-satunya di Jombang saat ini. Jauh sebelumnya, hanya “orang-orang Jombang beruntung” yang pernah mencicipinya. Misalnya, mereka yang bekerja atau merantau di Surabaya.

Alhasil, ketika restoran cepat saji asal Bandung itu buka di Jombang, tak pelak banyak yang menyambutnya dengan antusias.

“Sejak buka pertama Oktober lalu, sampai November cenderung ramai terus, Mas. Apalagi kalau malam Minggu seperti sekarang,” ujar salah seorang tukang parkir yang saya temui malam itu.

Ada beberapa tukang parkir yang berjaga di halaman parkir Richeese Factory Jombang. Dengan begitu, mereka tak begitu merasa kesulitan mengatur kendaraan-kendaraan pengunjung yang terus berdatangan. Hasilnya pun tentu saja lumayan. Apalagi, paling tidak di dua bulan pertama ini, restoran itu buka 24 jam.

“Kalau makin malam ya makin dikit (pengunjungnya). Membludak itu di jam-jam sore sampai sepuluhan malam,” terang si tukang parkir.

Rela antre panjang demi nikmati Richeese Factory Jombang

Saya lantas mencoba membaur dalam antrean yang berjubel. Di dalam restoran, kursi-kursi yang disediakan sebagian besar sudah terisi. Ada pasangan muda-mudi, sekelompok remaja perempuan, hingga rombongan keluarga.

Di sela-sela mengantre itu saya berbincang dengan Zuhri (23). Dia datang dengan pacarnya.

Richeese Factory Jombang ramai pengunjung MOJOK.CO
Suasana di Richeese Factory Jombang. (Aly Reza/Mojok.co)

Pacar Zuhri mengaku tidak berekspektasi bakal seramai itu. Karena di Surabaya tak pernah seberjubel itu. Dia lupa kalau itu adalah Richeese Factory pertama dan satu-satunya (untuk saat ini) yang buka di Jombang.

Namun, mereka memilih tetap mengantre. Karena memang suka saja dengan olahan ayam dari Richeese Factory dengan variasi bumbu yang khas dan menggugah. Begitu kalau kata pacar Zuhri.

Silakan anggap kami FOMO

Sembari mengantre, saya coba scroll-scroll perihal Richeese Factory Jombang di Instagram. Salah satunya di akun @kontenlapar dan @infolokerjombang.

Dari 200-an komentar, mulai deretan teratas sudah bernada sinis. Ada yang memprediksi Richeese Factory Jombang tidak akan bertahan lama. Karena—argumen warganet itu—Jombang bukan pasar untuk brand-brand besar.

Ada pula sejumlah warganet yang menyebut, orang-orang yang ramai mengantre adalah kelompok FOMO.

 

“Ya nggak masalah dianggap FOMO. Kami kan belum pernah makan Richeese. Sekarang mumpung ada di Jombang, ya apa salahnya buat menikmati,” ujar Itsna (18), remaja asli Jombang yang malam itu tengah menghabiskan malam Minggu bersama teman-teman perempuannya di Richeese Factory Jombang.

Teman-teman Itsna pun lalu saling sahut. Kata mereka, Jombang itu kabupaten biasa. Baru belakangan ini mulai tersentuh “vibes kekinian”. Mie Gacoan masuk. Tomoro Coffee masuk. Dan kini ketambahan Richeese Factory.

“Hiburan di Jombang kan nggak banyak. Jadi dengan nongkrong-nongkrong di tempat yang sudah jadi “brand kota” dan kekinian semacam Richeese ini ya jadi hiburan buat kami,” sambung Itsna.

Hiburan lain selain kulineran di alun-alun

Keluarga Wawan (38) masih sibuk bercengkerama di dalam restoran: istri dan dua anaknya. Sementara Wawan, usai menyantap daging ayam khas Richeese (yang dia sulit menyebut nama menunya), memilih menunggu di luar.

“Habis makan nggak rokok kan nggak enak, Mas. Di dalam nggak bisa rokok kan,” ujar Wawan saat saya jejeri.

Iwan mengaku tak tahu bahwa peminat Richeese Factory memang sebesar itu. Yang dia tahu, ada informasi restoran cepat saji enak yang baru bukan di Jombang. Restoran cepat saji yang sudah terkenal di mana-mana, terutama di kota-kota besar.

“Kalau biasanya malam Minggu ngajak anak-istri di alun-alun, jajan kaki lima di sana, ya ini ngajak mereka nyoba restoran baru saja. Biar mereka seneng,” ungkap Wawan.

“Jombang makin “kota” sekarang ini, Mas. Cuma nggak ada mal,” kelakar Wawan.

Jombang sebenarnya punya mal. Namanya Linggarjati Plaza, tidak jauh dari Richeese Factory berdiri. Hanya saja memang tak sebesar dan segemerlap bayangan orang-orang tentang mal di kota-kota besar.

Tak lama berselang, istri dan dua anak Wawan keluar. Mereka lantas menuju mobil: pulang. Jam di ponsel saya menunjukkan pukul 20.00 WIB. Beberapa pengunjung Richeese Factory Jombang memang sudah keluar. Namun, beberapa pengunjung baru juga tampak masih berdatangan, meski gerimis mulai jatuh.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

Nyatanya, Malioboro Kini Tak Lagi Sama dan Kata “Istimewa” bagi Jogja Hanya Pencitraan Semata

Malioboro kini bukan Malioboro yang dulu. Kini, ia tak punya nyawa dan gairah. Persis seperti kata “istimewa” dari Jogja yang ternyata pencitraan semata.

Dengan dalih mencari referensi untuk skripsi, pada 2019, saya seorang diri menempuh perjalanan dari Purwokerto ke Jogja. Kala itu ada kali kedua saya datang ke Jogja dan menjadi satu titik dalam pusaran kerumunan yang tersedot citra “Istimewa”.

Usai memburu buku, salah satu kawan saya yang di ada Jogja menghampiri. Olehnya, aku di ajak ke Masjid Kauman. Kami mengobrol selayaknya kawan yang lama tidak bertemu, sembari menikmati cilok seharga lima ribu. Sayang, kawan saya tak bisa berlama-lama. Dia mahasiswa yang aktif berorganisasi, harus rapat dan ini itu. Jadi, saya kembali seorang diri.

Merasakan Malioboro yang bukan main ramainya

Lantaran hanya sendirian, saya memutuskan untuk jalan-jalan di Malioboro. Bukan main ramainya.

Para penjual begitu bergairah di sisi kanan kiri pinggir jalan. Pelancong dari berbagai daerah dan luar negeri lalu-lalang. Pengamen tunanetra mengamen dengan speaker di dekatnya. Para nenek penjual sate ayam dan sate telur mengisi tempat kosong di sela-sela bangku-bangku Malioboro.

Seniman-seniman jalanan tak kurang kreatif. Penari diiringi musik tradisional berjoget dengan lincahnya. Baju-baju, pernak-pernik, makanan semuanya ada!

Malioboro memang penuh dengan seni kehidupan. Semakin larut, pengunjung semakin padat. Hingga pukul 6 pagi saja, Malioboro masih ramai. Orang-orang menyeringai dengan berbagai gaya menghadap kamera.

Beberapa bangku terisi orang-orang yang terlelap dengan damainya. Saat sarapan gudeg di emperan, si ibu penjual bilang, “Malioboro baru mulai akan lengang sekitar jam 10 pagi.”

Covid menghantam Jogja

Pada 2020, pemerintah memberlakukan lockdown karena Covid-19 di banyak tempat. Termasuk Jogja dan Malioboro.

Saya melihat dari layar televisi, Malioboro begitu lengang, begitu kosong, dan terlihat petugas sedang menyemprotkan disinfektan. Melihat itu batin saya seketika terguncang.

“Ke mana ribuan orang yang menggantungkan hidup di Malioboro? Bagaimana cara mereka melanjutkan hidup? Apa kabar para nenek penjual sate, para pengamen, seniman, dan pedagang kaki lima di sana?”

Agak sulit membayangkan keadaan mereka. Ketidaksiapan menghadapi situasi ini terlihat di mana-mana, tidak hanya di Jogja dan penghuni Malioboro.

Bergeser 2 tahun kemudian, pada 2022, Covid mereda. Apakah kesejahteraan kembali memeluk PKL Malioboro seperti sediakala?

Pada 2022 itu, saya kembali ke Jogja dan menetap selama 2 tahun. Dan sampai saat ini, saya belum memutuskan untuk tinggal lebih lama atau benar-benar meninggalkannya.

Setelah 2 tahun tinggal di Jogja, saya masih sempat menilik Malioboro, meski tidak sering. Malioboro masih ramai, dan selalu ramai. Terlebih malam Minggu, ketika naik  motor saja sulit untuk menembus kemacetan di depan Stasiun Tugu.

Ternyata, orang-orang masih penasaran dengan Istimewanya Jogja di Malioboro. Antusiasme para penikmat romantisme tak berkurang sejak dulu, mungkin malah bertambah. Terlebih kalau mendengar lagu Adhitia Sofyan “…terbawa lagi langkahku kesana, mantra apa entah yang Istimewa, kupercaya selalu ada sesuatu di Jogja.”

Tidak lagi sama

Sebentar. Saya memandangi Malioboro lebih lekat. Rasanya ada yang berbeda. Lebih tertata, tapi kurang bernyawa. Aura ingar-bingarnya terasa hampa. Entah ke mana perginya gairah Malioboro yang dulu pernah kulihat, kesemrawutan yang “nyeni”.

Saking “nyeni”-nya, konon seniman-seniman legendaris juga lahir di sini. Ah ya! Belakangan saya baru paham bahwa nyawa Malioboro adalah para pedagang kaki lima dan seniman-seniman jalanan. Sekarang, napas mereka tersengal-sengal, bahkan meregang nyawa, tersekap dalam petak-petak kecil lapak Teras 1 dan Teras 2.

Para PKL tergusur dari ruang hidupnya semula, tepian Jalan Malioboro yang memanjang. Hilangnya Covid tidak lantas mengusir raut muram bisnis-bisnis mereka. Setiap hari, masih ada pengunjung yang memadati Malioboro. Namun, rasa sepi sunyi masih menyeruak di antara para PKL yang tidak lagi seberuntung dulu untuk beramah-tamah langsung dengan turis di sepanjang jalan itu.

Penggusuran yang mengentak Jogja

Semalam hujan gerimis, aura Jogja kian romantis. Di cuaca dingin itu, kehangatan menyeruak di ruang tengah Kantor AJI Yogyakarta.

Di sana duduk-duduk sejumlah orang, termasuk Pak Arif Usman, yang akan menjadi tokoh penting dalam catatan ini. Udar rasa yang disampaikan oleh Pak Arif mengesankan bahwa pemindahan para PKL dari selasar ke teras-teras sungguh bukan perkara yang bisa dijelaskan dengan sederhana.

Proses pemindahan terkesan tiba-tiba dan mengejutkan. “Warga tidak pernah disosialisasi, langsung eksekusi, bahkan pakai kekerasan,” ungkapnya.

Penggusuran PKL dilakukan secara paksa dan sepihak, yang mengakibatkan ketercerabutan masyarakat dari tempat tinggal dan pekerjaan. Padahal, “Malioboro ada dan diperhitungkan karena keberadaan PKL,” kenang Pak Arif.

Mulanya para PKL juga merasa tenang-tenang saja. Ya maklum, pada 2006, Gubernur DIY menyampaikan bahwa PKL tidak akan pernah digusur. Tapi, nyatanya….

Di balik teras, para pedagang hanya bisa mengenang kehidupan mereka yang sejahtera, dulu. Sekarang, mereka jauh dari kata sejahtera. Penggusuran atau bahasa halusnya “relokasi, sterilisasi, dan penataan” PKL ini telah merenggut hak atas ekonomi masyarakat yang bertopang hidup di Malioboro.

Relokasi mestinya mensejahterakan, tapi ini hanyalah eksekusi kehendak penguasa yang memaksa. Rakyat harus manut sama pemerintah meskipun pemerintah tidak mempedulikan hak-hak PKL. Bahkan Paguyuban Tri Dharma PKL Malioboro dianggap seolah tidak ada.

Pemerintah Jogja seakan-akan tidak menganggap keberadaan Paguyuban Tri Dharma PKL. Apalagi untuk menjadi jalan jalan sosialisasi terkait relokasi. Komnas HAM pun mengamini bahwa “pelibatan” dalam proses relokasi para pedagang ini sama sekali tidak ada.

Adanya intimidasi

Orang-orang bahkan dibuat semakin resah karena diintimidasi untuk menandatangani kontrak relokasi. Jika tidak bersedia, mereka diancam lapaknya akan hilang. Proses relokasi ini harapannya berkeadilan. Tapi pada kenyataannya, satu per satu pedagang di panggil untuk menandatangani pernyataan yang tidak menguntungkan pedagang.

Keinginan para pedagang itu sederhana. “Jadikan kami mitra dalam membuat kebijakan, jangan jadikan kami korban dari kebijakan. Kebijakan yang ada bukannya membantu rakyat miskin kota, tetapi malah menambah jumlah rakyat miskin kota. Kita tertipu dengan Jogja Istimewa yang ayem, tentrem, tapi di baliknya ada penindasan,” ungkap Pak Arif Usman. Demi citra wisata, suara orang-orang yang tertindas juga tidak dimunculkan.

Demi “Sumbu Filosofi”

Penataan Sumbu Filosofi yang sudah resmi menjadi warisan budaya oleh UNESCO menjadi dalih penggusuran para PKL. “Apakah kalau ada PKL di sana, sumbu filosofi tidak sah?” Bambang Muryanto mencoba mengulik.

Filosofi manunggaling kawula lan Gusti, menurutnya, harus membuat pemimpin andhap asor (rendah hati), tapi malah dipakai untuk menggusur. Sekarang, suasana Malioboro yang seperti dulu justru bisa ditemukan di Koridor Gatot Subroto, Solo.

Kota-kota lain seperti Purwokerto dan Purworejo jika diamati baik-baik, berusaha menghadirkan nuansa Malioboro di alun-alunnya. Malioboro dihadirkan di mana-mana, Malioboro yang asli justru kehilangan jati diri dan ruhnya oleh beauty-fikasi yang tidak humanis.

Kiranya dengan cerita-cerita itu, kita tidak lagi kalap degan branding istimewanya Jogja yang berseliweran di media sosial. Pasalnya itu hanyalah pencitraan demi memuluskan pariwisata. Kemajuan pariwisata memang bagus, tapi tidak cukup jika kita hanya terperangkap pesona-pesona permukaan tanpa mempedulikan penindasan-penindasan yang ada di baliknya.

Penulis: Wiji Nurasih

Editor: Yamadipati Seno

Pemerintahan Prabowo Subianto Ajak Partisipasi Masyarakat dalam Penanganan Judi Online dan Pemberantasan Narkoba

Jakarta, — Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya sinergi nasional dalam menghadapi ancaman peredaran narkoba dan judi online yang terus meningkat. Dengan komitmen kuat, pemerintahan Prabowo berfokus pada integrasi penegakan hukum, pelibatan masyarakat, serta kerjasama internasional untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan prospek masa depan yang lebih baik.

Presiden Prabowo menekankan bahwa dukungan dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam upaya berkelanjutan memerangi narkoba dan judi online. Beliau juga menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara pencegahan dan pemberantasan. “Gerakan pencegahan harus diimbangi dengan pemberantasan, dan sebaliknya. Kita tidak hanya berfokus pada penindakan besar, tetapi juga memperkuat langkah-langkah pencegahan agar dampaknya lebih luas,” ujar Prabowo.

Pakar Hukum dan Mantan Humas Badan Narkotika Nasional (BNN), Kombes Pol (Purn.) Dr. Slamet Pribadi, turut mendukung langkah ini dengan memaparkan data dan fakta mengenai kerugian sosial dan ekonomi akibat narkoba dan judi online. Menurutnya, kerugian negara akibat narkoba mencapai angka triliunan rupiah, sementara judi online semakin menjadi ancaman serius yang baru terdeteksi dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam upaya pemberantasan, jalur masuk peredaran narkoba yang memanfaatkan pelabuhan kecil, perbatasan, dan lintasan tradisional menjadi perhatian serius. Dr. Slamet juga menyoroti pentingnya peran intelijen dalam mencegah jaringan narkoba internasional memanfaatkan celah tersebut. “Semua jalur harus diawasi dengan ketat, termasuk lintasan darat dan laut yang sering digunakan para bandar,” tegasnya.

Pemerintah juga menegaskan bahwa program pencegahan harus terus digalakkan, khususnya bagi kelompok rentan. Upaya ini bertujuan untuk mencegah pengguna narkoba pemula menjadi pecandu. “Indikator keberhasilan pencegahan adalah mengurangi angka prevalensi pengguna narkoba dan meminimalkan dampak kerugian bagi masyarakat,” tambah Slamet, yang juga sebagai Dosen Universitas Bhayangkara.

Dalam agenda nasional yang diusung Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, penanganan narkoba dan judi online tercakup dalam Asta Cita ke-7, yaitu pencegahan dan pemberantasan narkoba serta korupsi. Pemerintah berkomitmen untuk menjalankan program ini dengan pendekatan strategis yang melibatkan seluruh elemen bangsa.

Langkah konkret ini membangkitkan optimisme publik bahwa Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan masa depan yang lebih cerah. Dukungan masyarakat diharapkan terus mengalir demi mewujudkan cita-cita bersama, Indonesia Bebas Narkoba dan Judi Online.

Peran Aktif Masyarakat Sebagai Jawaban Dalam Menyukseskan Program Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran

Jakarta – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terus menunjukkan komitmennya untuk membawa perubahan signifikan dalam upaya pemberantasan narkoba melalui peluncuran Program Asta Cita. Program ini menjadi salah satu pilar utama dari visi pemerintahan yang fokus pada membangun bangsa yang bersih, aman, dan bermartabat yang terhindar dari bahaya narkoba.

Pakar Hukum sekaligus Mantan Humas Badan Narkotika Nasional (BNN), Kombes Pol (Purn) Slamet Pribadi mengatakan pihaknya sangat setuju adanya program Asta Cita yang diinisiasi oleh Pemerintahan Prabowo-Gibran. “Saya sangat mendukung dan setuju terhadap Program Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran dimana program tersebut salah satunya berfokus kepada pencegahan dan pemberantasan narkoba yang tertuang pada program ke-7 Asta Cita,” Ungkapnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemberantasan narkoba adalah prioritas nasional yang tidak bisa ditawar-tawar. “Narkoba adalah ancaman nyata bagi masa depan generasi muda kita. Program Asta Cita adalah jawaban nyata untuk memberantas masalah ini secara menyeluruh,” ujar Presiden Prabowo.

Dalam pembicaraan di stasiun Radio Elshinta, Pakar Hukum Narkotika, Slamet Pribadi mengatakan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran memiliki komitmen dan ketegasan dalam memberantas narkoba yang selama ini telah merusak generasi penerus bangsa. Lebih lanjut, namun dalam proses memberantas narkoba pihaknya mengatakan bahwa sebagai negara yang besar Indonesia memiliki banyak celah di daerah 3T yang dijadikan proses masuknya narkoba dari luar negeri. “Indonesia sebagai negara besar tentunya memiliki banyak celah di sejumlah daerah 3T ataupun daerah-daerah perbatasan yang dimanfaatkan untuk menyelundupkan narkoba dari luar negeri,” Ungkapnya.

Untuk itu, Ia mengatakan bahwa peran aktif masyarakat dalam memberantas narkoba sangat dibutuhkan oleh pemerintah demi menunjang kesuksesan program Asta Cita. “Peran aktif masyarakat sangat penting untuk membantu pemerintah melalui stakeholder terkait dalam upaya pencegahan dan pemberantasan Narkoba,” Ujarnya.

Maka dari itu untuk menunjang Program Asta Cita, peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan demi terwujudnya komitmen dan tekad pemerintahan Prabowo-Gibran untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang bebas dari ancaman narkoba sehingga dapat menciptakan generasi muda yang berkualitas.

Pakar Hukum: Pemerintah Pastikan Komitmen Pencegahan dan Pemberantasan Narkoba Berjalan Seimbang

Jakarta — Pakar Hukum, Kombes Pol (Purn.) Dr. Slamet Pribadi, menyoroti pentingnya langkah pencegahan yang seimbang dengan upaya pemberantasan dalam menghadapi peredaran narkoba dan judi online. Menurutnya, keberhasilan pemberantasan sangat bergantung pada efektivitas pencegahan.

“Pemberantasan itu bagian dari upaya pencegahan. Jika pencegahan berhasil, maka penindakan tidak perlu sering dilakukan,” ungkap Dr. Slamet. Ia menekankan bahwa upaya pencegahan harus menyasar semua tahap penggunaan narkoba, mulai dari pengguna pemula hingga pecandu berat. “Orang yang coba-coba pakai jangan sampai menjadi pengguna teratur, dan yang sudah teratur jangan sampai menjadi pecandu. Ini adalah indikator utama keberhasilan pencegahan,” tambahnya.

Dr. Slamet juga mengungkapkan bahwa darurat narkoba telah lama menjadi perhatian, sementara ancaman judi online baru terdeteksi secara serius dalam beberapa bulan terakhir. “Kalau darurat narkoba sudah ditegaskan sekitar 10 tahun lalu, darurat judi online baru terdeteksi sekitar enam bulan terakhir. Keduanya menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat dan negara,” jelasnya.

Ia turut menjelaskan kerugian akibat narkoba yang mencapai angka triliunan rupiah serta dampak sosial yang signifikan. “Kerugian negara akibat narkoba luar biasa besar, bahkan korban jiwa akibat narkoba mencapai sekitar 50 orang per hari. Ini menunjukkan bahwa masalah ini masih sangat serius,” tegasnya.

Dr. Slamet juga berbagi pengalamannya dalam operasi penindakan terhadap jaringan narkoba internasional. “Semua jalur berpotensi dimanfaatkan oleh bandar narkotika. Dari jalur laut, pelabuhan kecil, hingga lintasan tikus di perbatasan, semuanya menjadi pintu masuk. Pengawasan harus diperketat di setiap jalur ini,” ungkapnya.

Dalam pandangannya, langkah pemerintah yang menyeimbangkan gerakan pencegahan dan pemberantasan menjadi langkah yang sangat tepat. “Dulu, gerakan pencegahan sering kurang mendapat perhatian. Sekarang, keseimbangan antara pencegahan dan pemberantasan menjadi fokus utama, dan ini langkah yang sangat baik,” tutup Dr. Slamet.

Presiden Prabowo Jamin Stabilitas Stok Pangan Aman Selama Nataru

Jakarta – Pemerintah Presiden Prabowo memastikan ketersediaan dan stabilitas harga pangan pokok selama perayaan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru) aman terkendali. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Koordinasi Pengamanan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang digelar Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada pekan ini. Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga kesejahteraan masyarakat di tengah momentum perayaan besar tersebut.
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menyampaikan bahwa harga dan stok pangan pokok strategis saat ini berada dalam kondisi memadai dan wajar. Hal ini dibuktikan dengan hasil inspeksi langsung ke pasar-pasar tradisional.
“Hari ini bersama-sama kita cek langsung ke pasar. Secara keseluruhan kondisi pangan sangat baik,” ujar Arief. Berdasarkan pantauan, beberapa komoditas utama seperti daging sapi paha belakang dijual dengan harga Rp130.000 per kilogram, paha depan Rp120.000 per kilogram, bawang putih Rp42.000 per kilogram, cabai merah keriting Rp35.000 per kilogram, dan cabai hijau Rp42.000 per kilogram. Sementara itu, harga beras Bulog SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) dijual Rp12.000 per kilogram atau Rp60.000 per sak.
Arief juga menyoroti kestabilan harga telur, yang saat ini berada di kisaran Rp24.000 hingga Rp26.000 per kilogram. “Ini harga yang baik, karena pakan ayam petelur sudah terjaga. Bulog memiliki stok jagung sekitar 90 ribu ton, sehingga harga di tingkat peternak layer sangat baik. Harga yang terbentuk sekarang adalah harga yang wajar dan harus dijaga untuk mendukung petani dan peternak, sekaligus memastikan keterjangkauan bagi masyarakat,” jelasnya.
Sebagai langkah konkret, pemerintah telah melaksanakan program SPHP jagung pakan sejak November 2023. Hingga saat ini, sebanyak 303 ribu ton jagung pakan dengan harga Rp5.000 per kilogram telah disalurkan kepada peternak mandiri. Program ini bertujuan untuk membantu peternak menghadapi kesulitan akibat menurunnya produksi jagung.
Selain itu, program bantuan pangan untuk penanganan stunting yang melibatkan ID Food telah berhasil menjangkau 8.778 peternak, terdiri dari 6.895 peternak ayam petelur dan 1.883 peternak ayam broiler. Program ini menunjukkan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi lintas sektor dalam ekosistem pangan.
“Sebagaimana arahan Bapak Presiden Prabowo, kita harus bersama petani dan peternak. Namun, kewajaran harga bagi masyarakat juga harus terjamin. Stok beras di Bulog saat ini adalah yang terbaik, mencapai 2 juta ton. Kami siap mengantisipasi potensi peningkatan permintaan menjelang Nataru dan awal tahun 2025,” ujar Arief.
Pemerintah optimistis langkah-langkah strategis ini akan memastikan stabilitas stok dan harga pangan, menciptakan rasa aman bagi masyarakat dalam menyambut hari besar keagamaan serta tahun baru.(*)

Pemerintahan Prabowo-Gibran Jaga Stok Pangan Jelang Nataru 2024

Oleh: Jagad Kusuma Raya )*
Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menunjukkan komitmen luar biasa dalam menjaga stabilitas pangan. Langkah-langkah strategis yang diambil bertujuan memastikan ketersediaan bahan pokok serta menenangkan masyarakat dari kekhawatiran lonjakan harga.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, mengungkapkan bahwa stok pangan saat ini berada dalam kondisi aman dan stabil, dengan cadangan beras pemerintah yang mencapai 2 juta ton. Arief menegaskan kesiapan Bulog dan ID FOOD dalam menyerap produksi dari para petani maupun produsen. Cadangan beras pemerintah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun. Pihaknya juga memastikan distribusi minyak goreng seperti MinyaKita tersedia dengan harga terjangkau.
Selain itu, Arief mengimbau pemerintah daerah untuk memiliki cadangan pangan masing-masing. Langkah ini menjadi kunci penting dalam mencegah kekurangan stok di berbagai wilayah. Pemerintah daerah juga perlu proaktif menyiapkan cadangan pangan untuk menjaga stabilitas di tingkat lokal. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat ketersediaan stok, tetapi juga mendukung distribusi yang lebih merata di seluruh Indonesia.
Penjabat Gubernur Jakarta, Teguh Setyabudi mengonfirmasi bahwa stok pangan untuk Nataru 2024 berada dalam kondisi aman. Dengan ketersediaan stok beras mencapai 385.781 ton, sementara kebutuhan diproyeksikan hanya sekitar 217 ribu ton, ibu kota berada dalam situasi yang lebih dari mencukupi. Teguh meyakinkan masyarakat untuk tidak perlu khawatir karena pihaknya telah memastikan bahwa pasokan beras dan kebutuhan pokok lainnya aman hingga awal tahun depan.
Teguh menyoroti pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat. Dengan sokongan langsung dari pemerintah pusat, Jakarta dapat menjadi contoh dalam pengelolaan pangan yang efektif. Tidak hanya beras, kebutuhan pokok lain seperti gula, minyak goreng, dan daging juga telah dipastikan tersedia. Upaya kolaboratif ini menunjukkan bagaimana kepemimpinan Prabowo-Gibran mampu memberikan rasa aman kepada masyarakat, terutama pada momen-momen penting seperti Nataru.
Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi), Sutarto Alimoeso, menegaskan bahwa harga beras diperkirakan tidak akan mengalami gejolak hingga akhir tahun 2024. Berdasarkan hasil forecast yang dilakukan Perpadi, situasi harga beras diproyeksikan stabil hingga Desember.
Namun, Sutarto mengingatkan bahwa kenaikan harga biasanya terjadi pada awal tahun. Oleh karena itu, langkah antisipasi seperti penyerapan hasil panen oleh Bulog dan ID FOOD sangat penting untuk menjaga stabilitas harga pada awal 2025. Pendekatan preventif ini tidak hanya memastikan harga tetap stabil, tetapi juga memberikan kepastian kepada petani dan produsen agar tetap produktif.
Keberhasilan menjaga stabilitas pangan ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan strategis yang diterapkan pemerintah. Sejak awal masa pemerintahan, Prabowo-Gibran telah menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas utama. Dari sisi suplai, upaya penguatan cadangan beras dan bahan pokok lainnya dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta. Sementara dari sisi distribusi, perhatian khusus diberikan pada wilayah-wilayah rawan pangan agar tidak terjadi kesenjangan.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat sinergi dengan daerah melalui program-program pendukung seperti subsidi logistik untuk distribusi pangan. Hal ini bertujuan mempercepat penyaluran bahan pokok ke daerah terpencil atau terisolasi. Dengan demikian, masyarakat di seluruh penjuru negeri dapat merasakan dampak positif dari kebijakan pemerintah.
Dalam menghadapi perayaan Natal dan Tahun Baru 2024, masyarakat Indonesia diajak untuk tetap optimis dan mendukung upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan. Komitmen Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran dalam memastikan ketersediaan bahan pokok merupakan bukti nyata dari perhatian mereka terhadap kebutuhan rakyat.
Dengan langkah-langkah yang telah diambil, masyarakat dapat merayakan Nataru dengan penuh sukacita. Percayakan pada pemerintah untuk menjaga keamanan pangan, karena bersama-sama, kita mampu melewati tantangan dan meraih kesejahteraan yang lebih baik.
Sebagaimana disampaikan oleh berbagai pihak, situasi pangan nasional menjelang akhir tahun berada dalam kondisi terkendali. Maka, mari kita wujudkan semangat kebersamaan dengan mendukung kebijakan pemerintah yang berpihak pada kesejahteraan rakyat.

)* Pemerhati pangan dari Komunitas Padi Nusantara Banyuwangi