Pemerintah Sukses Kelola Arus Mudik 2026 Aman dan Lancar

Jakarta – Pemerintah dinilai berhasil mengelola arus mudik Lebaran 2026 melalui berbagai langkah strategis yang terus disempurnakan. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan perjalanan masyarakat berlangsung aman, lancar, dan nyaman, baik saat arus mudik maupun arus balik.

 

Sejumlah kebijakan telah disiapkan, mulai dari penyediaan sarana transportasi hingga pengamanan terpadu melalui Operasi Ketupat 2026. Operasi ini melibatkan ratusan ribu personel gabungan guna menjaga kelancaran mobilitas masyarakat di berbagai titik krusial.

 

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, mengungkapkan bahwa potensi pergerakan masyarakat pada Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,91 juta orang atau sekitar 50,60 persen dari total penduduk Indonesia.

 

“Angka ini memang menurun 1,75 persen dibandingkan survei pada tahun 2025 sekitar 146 juta. Namun demikian pada realisasi tahun 2025 justru mencapai 154 juta. Artinya mobilitas masyarakat pada masa lebaran cenderung melampaui angka survei,” ujar Dudy.

 

Dudy juga menjelaskan bahwa mobil pribadi masih menjadi moda transportasi utama dengan perkiraan 76,24 juta pengguna, diikuti sepeda motor dan bus.

 

Sementara itu, sejumlah simpul transportasi diprediksi menjadi titik terpadat, seperti Bandara Soekarno-Hatta, lintasan penyeberangan Merak-Bakauheni, Stasiun Pasar Senen, serta Terminal Pulogebang.

 

Untuk mendukung kelancaran perjalanan, pemerintah telah menyiapkan ribuan armada transportasi, termasuk puluhan ribu bus, ratusan kapal laut dan penyeberangan, ratusan pesawat, serta ribuan rangkaian kereta api. Program mudik gratis juga kembali digelar melalui berbagai moda dengan target melayani lebih dari 100 ribu penumpang.

 

“Program mudik gratis kami juga berikan untuk daerah pascabencana di Sumatera meliputi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat,” kata Dudy.

 

Di sisi pengamanan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa Operasi Ketupat 2026 mengusung tema “Mudik Aman, Keluarga Bahagia” dengan melibatkan lebih dari 160 ribu personel gabungan.

 

Sementara itu, di tingkat daerah, Polda Jawa Barat menerapkan strategi rekayasa lalu lintas berupa sistem “one way sepenggal” untuk mengurai kepadatan di titik rawan seperti Limbangan dan Nagreg.

 

 

Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Rudi Setiawan, menyebut skema ini diterapkan secara situasional dan terbukti efektif.

 

“Cukup efektif hasilnya dalam waktu tidak terlalu lama, ini bisa mencairkan arus lalu lintas. Itu tadi terbukti ya, tadi cuman 10 menit, katanya gitu, sudah bisa lancar kembali di Limbangan,” ujar Rudi.

 

Kelancaran Transportasi Saat Mudik Tuai Apresiasi Publik

Jakarta – Kelancaran transportasi selama arus mudik dan balik Lebaran 2026 mendapat apresiasi luas dari masyarakat. Berbagai program dan kolaborasi lintas sektor dinilai mampu menjaga perjalanan tetap aman, tertib, dan nyaman di tengah tingginya mobilitas nasional.

 

Salah satu upaya yang menuai respons positif adalah Program Mudik Gratis Polri Presisi 2026 yang menjadi bagian dari Operasi Ketupat 2026. Program ini mencatat sebanyak 32.721 peserta yang telah terdaftar untuk diberangkatkan ke berbagai daerah tujuan.

 

Kakorlantas Polri, Irjen Agus Suryonugroho, menjelaskan bahwa program ini disiapkan bersama jajaran kepolisian daerah dengan tujuan menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban, serta kelancaran lalu lintas selama periode Lebaran.

 

“Melalui program ini diharapkan perjalanan arus balik dapat berlangsung aman, tertib, dan lancar sehingga masyarakat dapat kembali ke tempat aktivitas dengan selamat,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, program tersebut juga dirancang untuk menekan angka kecelakaan serta mengurangi penggunaan sepeda motor dan kendaraan pribadi yang berpotensi meningkatkan kepadatan lalu lintas.

 

Sasaran program mencakup pekerja sektor informal, buruh, perantau berpenghasilan rendah, pengemudi ojek online, hingga mahasiswa.

 

Tingginya minat masyarakat terhadap program ini turut mendapat perhatian. Agus menilai partisipasi lebih dari 32 ribu peserta menunjukkan kebutuhan nyata terhadap layanan tersebut.

 

“Antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa program ini memberikan manfaat nyata. Ini bukan hanya soal transportasi, tetapi juga bentuk pelayanan dan kepedulian Polri kepada masyarakat,” katanya.

 

Selain itu, pemerintah memproyeksikan pergerakan masyarakat selama Lebaran 2026 mencapai sekitar 143,9 juta orang. Tingginya angka tersebut mendorong penguatan layanan di berbagai moda transportasi, termasuk sektor penyeberangan.

 

Untuk mendukung hal tersebut, kolaborasi antara sektor swasta dan BUMN turut dihadirkan. OT Group bekerja sama dengan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) guna meningkatkan layanan di pelabuhan utama seperti Merak, Bakauheni, Gilimanuk, dan Ketapang.

 

CEO OT Group, Donny, menegaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan memastikan ketersediaan produk kebutuhan perjalanan dengan harga terjangkau.

 

“Mudik adalah momentum sosial terbesar di Indonesia. Kami memastikan akses produk yang terjangkau dan mudah dijangkau, sekaligus menjaga stabilitas harga di tengah lonjakan permintaan,” ujarnya.

 

Sementara itu, Direktur Teknik PT ASDP Indonesia Ferry, Nana Sutisna, menyatakan kerja sama ini memperkuat layanan penyeberangan yang lebih terintegrasi.

 

“Kami terus menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman, aman, dan berkesan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak,” kata Nana.

 

 

Arus Mudik Stabil, Sistem Pengaturan Lalu Lintas Dinilai Efektif

Oleh: Rendra Saputra Mahesa )*

 

Arus mudik Lebaran 2026 menunjukkan kondisi yang relatif stabil di tengah tingginya mobilitas masyarakat. Stabilitas tersebut dinilai sebagai hasil dari sistem pengaturan lalu lintas yang semakin efektif serta dukungan kebijakan pemerintah yang terukur dan terkoordinasi dengan baik.

 

Pemantauan langsung dilakukan oleh Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Irjen Pol Agus Suryonugroho, dari Command Center KM 29 Tol Jakarta–Cikampek. Pengawasan ini bertujuan memastikan pergerakan kendaraan tetap terkendali, sekaligus memungkinkan pengambilan keputusan secara cepat berdasarkan kondisi di lapangan.

 

Dalam arahannya, Agus menegaskan bahwa Operasi Ketupat 2026 tidak hanya berfokus pada pengaturan lalu lintas semata, tetapi juga mencakup aspek keamanan masyarakat secara menyeluruh. Kehadiran aparat di lapangan menjadi bagian penting dalam menjaga rasa aman selama perjalanan mudik berlangsung.

 

Seiring meningkatnya volume kendaraan, kepadatan mulai terlihat di sejumlah titik strategis, seperti KM 29, KM 57, hingga KM 70. Kondisi ini direspons melalui langkah cepat berupa rekayasa lalu lintas yang dirancang secara adaptif bersama berbagai pemangku kepentingan.

 

Salah satu kebijakan utama yang diterapkan adalah sistem one way sepenggal yang mulai diberlakukan pada 17 Maret 2026. Skema ini diterapkan dari KM 70 Cikampek Utama hingga KM 263 Brebes Barat sebagai bagian dari strategi memperlancar distribusi kendaraan menuju wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

 

Penerapan sistem tersebut merupakan hasil koordinasi antara Polri, Kementerian Perhubungan, dan operator jalan tol. Kebijakan ini dinilai mampu mengurangi titik penyempitan arus kendaraan serta mempercepat laju perjalanan pemudik di jalur utama.

 

Selain rekayasa lalu lintas, pemerintah juga menerapkan kebijakan pendukung seperti Work From Anywhere dan pengaturan melalui Surat Keputusan Bersama. Kebijakan ini memberikan fleksibilitas waktu perjalanan bagi masyarakat sehingga potensi penumpukan kendaraan dapat diminimalkan.

 

Kombinasi antara rekayasa teknis dan kebijakan administratif tersebut terbukti mampu menjaga stabilitas arus kendaraan. Disiplin pengguna jalan juga menjadi faktor penting dalam mendukung efektivitas pengaturan lalu lintas di lapangan.

 

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo memprediksi puncak arus mudik terjadi pada H-3 Lebaran. Ia menilai kesiapan berbagai skema rekayasa lalu lintas, seperti ganjil genap, one way lokal, dan one way nasional, telah disiapkan dengan baik untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan.

 

Menurut Kapolri, titik krusial seperti Gerbang Tol Kalikangkung menjadi perhatian utama karena berfungsi sebagai pintu masuk ke Jawa Tengah. Oleh karena itu, kesiapan di titik tersebut menjadi indikator penting keberhasilan pengelolaan arus mudik secara keseluruhan.

 

Di sisi lain, inovasi juga dilakukan oleh jajaran kepolisian daerah, termasuk Polda Jawa Tengah melalui program Sipolan dan Valet Ride. Program ini dinilai mampu menekan risiko kecelakaan sekaligus mempermudah masyarakat dalam memperoleh layanan informasi selama perjalanan.

 

Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan arus mudik tidak hanya mengandalkan rekayasa lalu lintas, tetapi juga didukung oleh pendekatan pelayanan yang lebih responsif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

 

Dari sisi teknologi, pengelolaan lalu lintas turut diperkuat melalui sistem digital yang terintegrasi. PT Jasa Marga mengembangkan sistem Intelligent Digital yang memungkinkan pemantauan kondisi lalu lintas secara real time di seluruh jaringan jalan tol.

 

Direktur Utama Jasa Marga, Rivan Achmad Purwantono, menjelaskan bahwa sistem ini didukung oleh sekitar 3.500 kamera yang dilengkapi teknologi Intelligent Traffic Analysis. Teknologi tersebut mampu membaca tingkat kepadatan kendaraan secara akurat sehingga potensi kemacetan dapat diantisipasi lebih dini.

 

Selain kamera, berbagai perangkat seperti radar, sensor, dan sistem pemantauan lainnya turut digunakan untuk mendukung pengawasan. Data yang dihasilkan memungkinkan pengelola mengambil langkah cepat dalam mengurai kepadatan.

 

Pemanfaatan teknologi ini menjadi bagian dari transformasi digital dalam pengelolaan jalan tol. Dengan sistem yang terintegrasi, respons terhadap dinamika lalu lintas dapat dilakukan secara lebih efektif dan terukur.

 

Informasi tersebut juga dapat diakses oleh masyarakat melalui aplikasi Travoy. Aplikasi ini menyediakan data kondisi lalu lintas secara langsung, termasuk titik rawan kepadatan dan potensi risiko di jalan.

 

Melalui akses informasi yang terbuka, pengguna jalan dapat merencanakan perjalanan dengan lebih baik. Kemampuan untuk memilih rute alternatif menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga kelancaran arus mudik secara keseluruhan.

 

Selain itu, pengoperasian sejumlah ruas tol fungsional baru turut berkontribusi dalam mengurangi beban lalu lintas. Jalur tambahan seperti Jakarta-Cikampek 2 hingga ruas di Jawa Tengah dan Jawa Timur memberikan alternatif perjalanan yang lebih efisien.

 

Pengembangan infrastruktur ini memperlihatkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kapasitas jaringan jalan tol. Dengan distribusi kendaraan yang lebih merata, potensi kemacetan di titik utama dapat ditekan secara signifikan.

 

Secara keseluruhan, stabilitas arus mudik Lebaran 2026 menjadi bukti bahwa sistem pengaturan lalu lintas yang diterapkan berjalan efektif. Sinergi antara kebijakan pemerintah, kesiapan aparat, pemanfaatan teknologi, serta dukungan infrastruktur menjadi faktor kunci keberhasilan tersebut.

 

Keberhasilan ini sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola mobilitas skala besar. Dengan pendekatan yang semakin terintegrasi, arus mudik diharapkan terus berlangsung aman, lancar, dan nyaman bagi seluruh masyarakat.

 

*) Analis Kebijakan Publik dan Transportasi

Arus Mudik dan Balik Stabil, Mobilitas Nasional Tetap Terjaga

Oleh: Nayla Putri Azzahra )*

 

Arus mudik dan balik Lebaran 2026 menunjukkan kondisi yang stabil di tengah tingginya mobilitas masyarakat. Stabilitas ini menjadi indikator bahwa pengelolaan transportasi nasional berjalan efektif, seiring dengan berbagai kebijakan dan persiapan yang dilakukan pemerintah secara terintegrasi.

 

Pemerintah terus menyempurnakan penyelenggaraan angkutan Lebaran guna memastikan perjalanan masyarakat berlangsung aman, lancar, dan nyaman. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan sarana transportasi, peningkatan koordinasi lintas sektor, serta pengamanan terpadu dalam Operasi Ketupat 2026 yang melibatkan ratusan ribu personel gabungan.

 

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa potensi pergerakan masyarakat pada Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,91 juta orang atau sekitar 50,60 persen dari total penduduk Indonesia. Ia menjelaskan bahwa angka tersebut sedikit menurun dibandingkan hasil survei tahun sebelumnya, namun realisasi di lapangan biasanya justru melampaui proyeksi awal.

 

Menurut Dudy, pengalaman pada tahun 2025 menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat saat Lebaran cenderung lebih tinggi dari hasil survei. Hal ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk tetap menyiapkan skenario pengelolaan transportasi secara maksimal guna mengantisipasi lonjakan pergerakan.

 

Dari sisi moda transportasi, pemerintah memprediksi penggunaan kendaraan pribadi masih mendominasi dengan jumlah puluhan juta pemudik. Moda lain seperti sepeda motor dan bus juga menjadi pilihan utama masyarakat, sehingga membutuhkan pengaturan yang komprehensif di berbagai jalur utama.

 

Selain itu, sejumlah simpul transportasi diproyeksikan menjadi titik terpadat selama periode Lebaran. Bandara internasional, pelabuhan penyeberangan utama, stasiun kereta api, hingga terminal bus dipersiapkan dengan kapasitas dan layanan yang ditingkatkan agar mampu menampung lonjakan penumpang.

 

Untuk mendukung kelancaran tersebut, pemerintah telah menyiapkan berbagai moda transportasi dalam jumlah besar, mulai dari puluhan ribu bus hingga ratusan kapal laut, pesawat udara, dan ribuan sarana kereta api. Ketersediaan armada ini menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran distribusi penumpang di seluruh wilayah.

 

Program mudik gratis juga kembali dihadirkan sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam mengendalikan mobilitas masyarakat. Program ini tidak hanya membantu mengurangi beban biaya perjalanan, tetapi juga berperan dalam menekan penggunaan kendaraan pribadi yang berpotensi menimbulkan kepadatan.

 

Dudy menjelaskan bahwa program tersebut juga difokuskan untuk membantu masyarakat di daerah pascabencana di wilayah Sumatera. Langkah ini menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan lebih dalam melakukan perjalanan mudik.

 

Di sisi pengamanan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa Operasi Ketupat 2026 dilaksanakan dengan melibatkan lebih dari 160 ribu personel gabungan dari berbagai instansi. Pengamanan ini bertujuan menjaga stabilitas arus mudik dan balik sekaligus memastikan keselamatan masyarakat selama perjalanan.

 

Listyo juga menekankan pentingnya mempertahankan tingkat kepuasan masyarakat yang pada tahun sebelumnya telah mencapai lebih dari 90 persen. Menurutnya, target pemerintah tidak hanya menjaga capaian tersebut, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan secara keseluruhan.

 

Dengan dukungan pengamanan yang kuat, kondisi lalu lintas dapat terjaga dalam keadaan terkendali. Hal ini menjadi salah satu faktor utama yang mendukung stabilitas arus kendaraan selama periode mudik dan balik.

 

Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan juga menghadirkan program Angkutan Motor Gratis atau Motis. Program ini dirancang sebagai solusi untuk mengurangi risiko kecelakaan bagi pemudik yang menggunakan sepeda motor.

 

Direktur Jenderal Perkeretaapian, Allan Tandiono, menjelaskan bahwa potensi pemudik sepeda motor mencapai puluhan juta orang, sehingga diperlukan alternatif transportasi yang lebih aman. Melalui program Motis, pemerintah menyediakan layanan pengangkutan sepeda motor menggunakan kereta api dengan fasilitas tambahan bagi penumpang.

 

Allan menilai program ini tidak hanya meningkatkan keselamatan, tetapi juga membantu mengurangi beban lalu lintas di jalan raya. Dengan berkurangnya jumlah sepeda motor di jalur utama, potensi kepadatan dapat ditekan secara signifikan.

 

Pelaksanaan program Motis mencakup periode arus mudik dan balik dengan jangkauan lintas utara, tengah, dan selatan. Selain itu, kemudahan pendaftaran baik secara daring maupun langsung di berbagai stasiun turut mendukung aksesibilitas layanan bagi masyarakat.

 

Upaya pengendalian mobilitas ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan perjalanan dan kapasitas infrastruktur. Dengan pendekatan tersebut, arus kendaraan dapat terdistribusi lebih merata sehingga tidak terjadi penumpukan di titik tertentu.

 

Secara keseluruhan, stabilitas arus mudik dan balik Lebaran 2026 mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam mengelola mobilitas nasional. Sinergi antara penyediaan transportasi, penguatan kebijakan, serta pengamanan terpadu menjadi faktor utama yang menjaga kelancaran perjalanan masyarakat.

 

Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan bahwa sistem transportasi nasional semakin adaptif dalam menghadapi lonjakan pergerakan skala besar. Dengan perencanaan yang matang dan koordinasi yang solid, mobilitas masyarakat dapat tetap terjaga tanpa mengganggu kenyamanan dan keselamatan.

 

Pemerintah pun optimistis bahwa pendekatan yang diterapkan pada tahun ini dapat menjadi fondasi untuk peningkatan layanan di masa mendatang. Stabilitas arus mudik dan balik bukan hanya mencerminkan keberhasilan teknis, tetapi juga menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam melayani kebutuhan masyarakat secara optimal.

 

*) Pengamat Transportasi dan Kebijakan Publik

Soliditas Masyarakat Papua Menguat, Provokasi Separatis Ditolak Demi Persatuan dan Kemajuan

PAPUA – Komitmen masyarakat Papua dalam menjaga stabilitas keamanan terus menguat di tengah berbagai dinamika yang berkembang. Sejumlah tokoh adat dan elemen masyarakat menegaskan penolakan terhadap provokasi yang dilakukan Komite Nasional Papua Barat (KNPB), karena dinilai berpotensi mengganggu persatuan serta menghambat pembangunan di wilayah tersebut.

Kepala Suku Besar Tariko, Soleman Wambu, menyampaikan bahwa masyarakat adat pada dasarnya menginginkan kehidupan yang aman, damai, dan kondusif. Menurutnya, stabilitas merupakan prasyarat utama agar pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, dan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan optimal.

“Kami menolak narasi provokatif yang memicu polarisasi warga karena dapat merusak tatanan sosial dan mengganggu stabilitas yang selama ini dijaga bersama,” ujarnya.

Ia menilai, berbagai aktivitas yang mengarah pada agitasi dan provokasi hanya akan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Dampaknya tidak hanya pada aspek keamanan, tetapi juga berpotensi menghambat akses pendidikan, layanan kesehatan, serta peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.

Soleman menegaskan bahwa masyarakat Papua saat ini lebih fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan melalui pembangunan yang berkelanjutan. Karena itu, situasi yang aman dan tertib menjadi kebutuhan mendasar yang harus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat.

“Kami ingin ketertiban karena menjadi fondasi utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh propaganda yang berpotensi memecah belah persaudaraan. Ia mendorong kaum muda untuk berperan aktif dalam pembangunan melalui jalur pendidikan dan peningkatan kapasitas diri.

Senada dengan itu, aktivis Papua Charles Kossay menilai bahwa aksi kekerasan yang kerap terjadi justru merugikan masyarakat sipil. Ia menegaskan bahwa korban dari konflik umumnya adalah warga yang tidak memiliki keterlibatan langsung.

“Jika masyarakat sipil terus menjadi korban, maka dampaknya akan sangat luas, mulai dari terganggunya aktivitas ekonomi hingga menurunnya rasa aman,” jelasnya.

Sementara itu, pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi dengan aparat keamanan guna memastikan situasi tetap kondusif. Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memperkeruh keadaan.

Dengan sinergi antara tokoh adat, masyarakat, dan pemerintah, Papua diharapkan tetap menjadi wilayah yang aman dan harmonis, sehingga pembangunan dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat.

Persatuan Diperkuat, Masyarakat Papua Hadang Provokasi Demi Kelancaran Pembangunan

PAPUA – Stabilitas keamanan di Papua terus menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan pembangunan yang merata dan inklusif. Dalam beberapa tahun terakhir, percepatan pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan di berbagai wilayah, khususnya kawasan pegunungan, menunjukkan progres yang signifikan. Kondisi ini semakin diperkuat oleh sikap masyarakat yang kian dewasa dalam menyikapi berbagai dinamika sosial, termasuk upaya provokasi dari kelompok separatis seperti KNPB.

Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat adat Papua menunjukkan keteguhan dalam menjaga harmoni sosial. Kesadaran kolektif tumbuh sebagai benteng utama dalam menyaring informasi yang berpotensi memecah belah persatuan. Penolakan terhadap provokasi KNPB menjadi cerminan komitmen masyarakat dalam menjaga keamanan serta mendukung percepatan pembangunan yang berkelanjutan.

Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Karmin Yikwa, menilai bahwa aktivitas KNPB kerap menimbulkan keresahan di tengah masyarakat dan tidak mencerminkan aspirasi mayoritas warga. “Narasi yang dibangun KNPB tidak sesuai dengan keinginan masyarakat yang mendambakan kedamaian dan kemajuan. Masyarakat di Tolikara secara tegas menolak provokasi tersebut karena hanya akan menghambat pembangunan,” tegas Karmin Yikwa.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga stabilitas sebagai fondasi pembangunan. Ketegangan yang dipicu oleh provokasi dinilai hanya akan merugikan masyarakat sendiri, terutama dalam menghambat akses terhadap layanan dasar.

Lebih lanjut, Karmin Yikwa menekankan pentingnya tanggung jawab moral setiap individu dalam menjaga tanah Papua dari pengaruh negatif. “Setiap elemen masyarakat memiliki peran menjaga persaudaraan dan tidak terpengaruh propaganda yang memecah belah. Masa depan Papua harus dibangun dengan kerja nyata, bukan konflik,” pungkas Karmin Yikwa.

Seruan tersebut juga menyasar generasi muda agar lebih fokus pada peningkatan kapasitas diri melalui pendidikan dan kontribusi positif di lingkungan masing-masing.
Senada dengan itu, Kepala Suku Besar Tariko Kabupaten Mamberamo Tengah, Soleman Wambu, menegaskan bahwa stabilitas keamanan merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat adat. “Situasi aman dan damai menjadi syarat utama agar pembangunan berjalan optimal. Karena itu, masyarakat menolak segala bentuk provokasi yang berpotensi memicu konflik,” ujar Soleman Wambu.

Pernyataan tersebut menggambarkan adanya kesamaan pandangan di berbagai wilayah Papua terkait pentingnya menjaga kondusivitas sosial.

Dalam pandangannya, masyarakat Mamberamo Tengah kini lebih mengedepankan persatuan demi kesejahteraan bersama. Soleman Wambu juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap narasi yang menyesatkan. “Provokasi hanya akan menghambat kemajuan daerah, termasuk akses pendidikan dan ekonomi. Persatuan harus dijaga agar pembangunan terus berjalan,” tutup Soleman Wambu.

Sikap tegas masyarakat ini menjadi sinyal kuat bahwa ruang bagi propaganda negatif semakin sempit.

Di sisi lain, pemerintah terus mengedepankan pendekatan pembangunan berbasis kesejahteraan dan penghormatan terhadap kearifan lokal. Program strategis yang berjalan di berbagai wilayah Papua menunjukkan komitmen menghadirkan pemerataan pembangunan. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan masyarakat yang menjaga stabilitas dan menolak provokasi.

Sinergi antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat menjadi kunci dalam memastikan Papua terus bergerak menuju kemajuan. Dengan menjaga persatuan dan menutup ruang konflik, peluang untuk menciptakan kesejahteraan yang merata semakin terbuka lebar.

Masyarakat Papua Tegas Tolak Provokasi Separatis demi Pembangunan dan Persatuan

Oleh: Markus Wembu*

Masyarakat Papua, terutama di wilayah Pegunungan Tengah, menunjukkan sikap tegas menolak segala bentuk provokasi separatis yang berpotensi memecah persatuan dan menghambat pembangunan. Kesadaran ini lahir dari pengalaman ketika konflik dan narasi provokatif mengganggu kehidupan sehari-hari, menghambat roda pemerintahan, serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas keamanan. Kepala Suku Besar Tariko di Kabupaten Mamberamo Tengah, Soleman Wambu, menekankan bahwa keamanan dan ketertiban adalah fondasi utama bagi pembangunan berkelanjutan, agar infrastruktur, pendidikan, dan ekonomi dapat berkembang demi kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat adat di Mamberamo Tengah secara tegas menolak kegiatan kelompok separatis, termasuk aktivitas yang kerap dilakukan oleh KNPB. Penolakan ini bukan sekadar simbolik, tetapi merupakan langkah nyata untuk melindungi kehidupan sosial, hak masyarakat, dan masa depan generasi Papua. Aktivitas provokatif yang memecah belah sering menimbulkan kekhawatiran di tingkat akar rumput, mengganggu ketertiban, dan menghambat akses warga terhadap kemajuan pendidikan dan ekonomi. Keputusan masyarakat untuk menolak kelompok separatis menunjukkan prioritas mereka pada keamanan dan persatuan.

Tokoh aktivis Papua, Charles Kossay, menekankan bahwa kekerasan yang menyasar warga sipil hanya merugikan masyarakat, termasuk orang asli Papua sendiri. Insiden yang menewaskan warga sipil di beberapa wilayah menunjukkan bahwa masyarakat Papua bukan pihak dalam konflik bersenjata dan justru menjadi korban utama. Keselamatan warga menjadi prioritas utama, karena kekerasan dan provokasi hanya menimbulkan ketakutan, mengganggu kegiatan ekonomi, dan memperlambat pembangunan. Masyarakat membutuhkan rasa aman, kesempatan bekerja, dan kondisi yang stabil agar kehidupan sehari-hari dan layanan publik berjalan dengan baik.

Soleman Wambu menekankan pentingnya kerja sama lintas elemen masyarakat dengan pemerintah daerah. Sinergi ini diperlukan untuk membangun lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan layanan publik. Generasi muda Papua diimbau tetap waspada terhadap narasi yang berpotensi memecah persaudaraan dan digerakkan untuk menempuh pendidikan formal serta mengembangkan kompetensi agar menjadi pemimpin masa depan. Semangat gotong royong dan persatuan menjadi landasan penting dalam proses pembangunan, sekaligus menjadi benteng menghadapi pengaruh negatif dari pihak luar.

Pemerintah daerah juga menegaskan komitmen dalam menjaga keamanan dan pelayanan masyarakat. Wakil Gubernur Papua Barat Daya menyampaikan berbagai langkah konkret telah dilakukan, termasuk koordinasi lintas sektor dengan TNI, Polri, dan pemerintah daerah untuk mencegah gangguan keamanan. Kehadiran pemerintah di lapangan bukan hanya untuk pengamanan, tetapi juga memastikan pembangunan tetap menjadi prioritas meskipun kondisi keamanan menghadapi tantangan. Upaya ini juga memberi keyakinan kepada masyarakat bahwa pelayanan publik, pendidikan, dan kesehatan tetap berjalan tanpa hambatan.

Stabilitas keamanan diyakini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan ekonomi dan kehidupan sosial. Nilai-nilai adat dan budaya, termasuk persaudaraan lintas suku, menjadi dasar bagi masyarakat untuk menolak narasi yang memecah belah. Kesadaran bahwa perdamaian dan ketertiban adalah warisan yang harus dijaga demi generasi mendatang menjadi motivasi utama bagi masyarakat untuk menolak provokasi separatis dan memastikan Papua tetap menjadi wilayah aman dan harmonis.

Soleman Wambu menegaskan bahwa penolakan terhadap aktivitas KNPB dan kelompok separatis lainnya bukan berarti menutup diri dari aspirasi masyarakat, tetapi sebagai upaya melindungi hak dan masa depan orang Papua. Kepatuhan terhadap hukum adat dan aturan negara menjadi jalan terbaik untuk memastikan pembangunan merata dan kemandirian daerah tercapai. Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, masyarakat adat optimis dapat menjaga Papua sebagai wilayah aman, damai, dan penuh harapan bagi seluruh pihak.

Keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga persatuan dan stabilitas daerah merupakan bentuk kecintaan terhadap tanah kelahiran. Setiap elemen masyarakat diharapkan menjadi benteng pertahanan untuk menangkal upaya yang mengganggu keharmonisan. Generasi muda Papua diberikan peran strategis untuk terus mengembangkan diri melalui pendidikan, partisipasi dalam pembangunan, dan menjaga nilai-nilai budaya. Dengan demikian, pembangunan di Papua bukan sekadar proyek fisik, tetapi juga proses memperkuat fondasi sosial, budaya, dan keamanan yang kokoh.

Kondisi yang aman dan damai memungkinkan pembangunan ekonomi dan sosial berjalan seiring, menciptakan kesejahteraan berkelanjutan. Stabilitas daerah membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berperan aktif, meningkatkan keterampilan, dan mengejar peluang kerja. Narasi yang disampaikan oleh tokoh adat dan pemerintah menggantikan narasi memecah belah dengan semangat persatuan, kerja sama, dan kolaborasi nyata. Masa depan Papua hanya dapat dicapai melalui kerja sama, bukan konflik, dan masyarakat siap menjadi pelopor kedamaian, kemajuan, dan kesejahteraan.

Kesimpulannya, penolakan masyarakat Papua terhadap provokasi separatis, termasuk aktivitas KNPB, merupakan bentuk kecintaan terhadap tanah kelahiran, komitmen menjaga persatuan, dan dukungan terhadap pembangunan. Melalui sinergi antara tokoh adat, generasi muda, dan pemerintah, Papua dapat berkembang sebagai wilayah aman, damai, dan sejahtera, dengan masyarakat yang produktif dan generasi penerus yang kompeten. Kedamaian, keamanan, dan pembangunan menjadi tiga pilar utama yang saling mendukung untuk membawa Papua menuju masa depan yang lebih baik.

*Penulis merupakan Aktivis dan Tokoh Muda Asli Papua

Masyarakat Menolak Keras Provokasi Separatis Demi Akselerasi Pembangunan Papua

Oleh : Yohanes Wandikbo )*

Stabilitas keamanan di wilayah Papua, khususnya di kawasan pegunungan, merupakan fondasi utama dalam memastikan keberlanjutan pembangunan yang inklusif dan merata. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah menunjukkan komitmen kuat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan di berbagai wilayah terpencil. Namun, upaya tersebut tentu membutuhkan dukungan penuh dari masyarakat, terutama dalam menjaga kondusivitas sosial serta menolak berbagai bentuk provokasi, termasuk yang dilakukan oleh KNPB, yang berpotensi mengganggu persatuan dan menghambat kemajuan daerah.

Kesadaran kolektif masyarakat adat Papua kini semakin menguat. Di tengah derasnya arus informasi yang tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan, masyarakat mulai menunjukkan kedewasaan dalam menyaring narasi yang beredar. Sikap kritis ini menjadi benteng utama dalam menjaga harmoni sosial serta mencegah munculnya konflik horizontal yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, penolakan terhadap provokasi KNPB menjadi bentuk nyata komitmen masyarakat dalam menjaga stabilitas dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Karmin Yikwa, menyampaikan bahwa berbagai aktivitas yang dilakukan oleh KNPB kerap menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Ia menilai bahwa narasi yang dibangun oleh kelompok tersebut tidak mencerminkan aspirasi mayoritas masyarakat adat Papua, khususnya di wilayah Tolikara yang lebih menginginkan situasi aman dan kondusif. Dalam pandangannya, masyarakat secara tegas menolak provokasi KNPB karena hanya akan menghambat jalannya pembangunan dan merusak tatanan sosial yang telah terjaga.

Lebih lanjut, Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Karmin Yikwa menekankan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga tanah Papua dari pengaruh negatif, termasuk propaganda KNPB yang berpotensi memecah belah persaudaraan. Ia menilai bahwa ketegangan yang diciptakan oleh kelompok tersebut hanya akan merugikan masyarakat sendiri, terutama dalam menghambat akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan pembangunan ekonomi.

Dalam pandangan tersebut, generasi muda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Karmin Yikwa mengajak kaum muda untuk tidak mudah terpengaruh oleh ajakan atau provokasi KNPB, melainkan fokus pada peningkatan kapasitas diri melalui pendidikan dan kerja nyata. Ia berpandangan bahwa masa depan Papua harus dibangun melalui dialog yang konstruktif dan kolaborasi yang sehat, bukan melalui tindakan yang memicu konflik.

Senada dengan itu, Kepala Suku Besar Tariko Kabupaten Mamberamo Tengah, Kepala Suku Besar Tariko Kabupaten Mamberamo Tengah, Soleman Wambu, menegaskan bahwa stabilitas keamanan merupakan kebutuhan utama masyarakat adat dalam mendorong percepatan pembangunan. Ia menyampaikan bahwa masyarakat secara terbuka menolak provokasi KNPB karena dinilai berpotensi memicu polarisasi dan konflik horizontal yang dapat mengganggu ketertiban sosial.

Menurut Kepala Suku Besar Tariko Kabupaten Mamberamo Tengah, Soleman Wambu, masyarakat adat Mamberamo Tengah saat ini lebih mengedepankan terciptanya situasi yang aman dan damai agar roda pemerintahan serta pembangunan dapat berjalan optimal. Ia menilai bahwa penolakan terhadap provokasi KNPB merupakan langkah penting dalam melindungi masyarakat dari dampak negatif yang dapat menghambat kesejahteraan.

Lebih jauh, Kepala Suku Besar Tariko Kabupaten Mamberamo Tengah, Soleman Wambu mengingatkan bahwa masyarakat adat memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga persatuan serta tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang menyesatkan. Ia menilai bahwa berbagai aktivitas KNPB justru berpotensi menghambat kemajuan daerah, termasuk dalam membuka akses ekonomi dan pendidikan bagi masyarakat lokal.

Pemerintah sendiri terus mendorong pendekatan pembangunan yang berbasis kesejahteraan, dialog, dan penghormatan terhadap kearifan lokal. Berbagai program strategis yang dijalankan di Papua menunjukkan kehadiran negara dalam memastikan pemerataan pembangunan. Namun, keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari dukungan masyarakat yang secara aktif menolak provokasi KNPB dan menjaga stabilitas keamanan di wilayahnya.

Dalam konteks ini, penolakan masyarakat terhadap provokasi KNPB bukan sekadar respons spontan, melainkan bentuk kesadaran kolektif dalam menjaga masa depan Papua. Dengan menutup ruang bagi propaganda negatif, masyarakat turut menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investasi, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Harapan besar kini bertumpu pada sinergi antara pemerintah, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat. Dengan memperkuat kolaborasi dan menjaga nilai persaudaraan, Papua memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi wilayah yang maju dan sejahtera. Stabilitas keamanan menjadi modal utama dalam memastikan setiap program pembangunan dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pada akhirnya, komitmen masyarakat Papua dalam menolak provokasi KNPB dan menjaga keharmonisan menjadi bukti nyata bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada peran aktif masyarakat dalam menjaga persatuan. Dengan semangat gotong royong dan kesadaran bersama, Papua dapat melangkah menuju masa depan yang lebih damai, mandiri, dan bermartabat.

)* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua

Stabilitas Pangan dan Energi Diperkuat lewat Bijak Konsumsi

Oleh Rianti Asmara )*

Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, penguatan stabilitas pangan dan energi menjadi agenda strategis yang tidak bisa ditawar. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta ketidakpastian ekonomi dunia telah memberikan sinyal kuat bahwa setiap negara, termasuk Indonesia, harus memperkuat ketahanan domestiknya. Oleh sebab itu, seruan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong bijak konsumsi energi sekaligus memperkuat ketahanan pangan merupakan langkah yang tepat dan relevan. Kebijakan tersebut tidak hanya berorientasi jangka pendek dalam merespons gejolak global, tetapi juga mencerminkan upaya membangun fondasi kemandirian nasional yang berkelanjutan.

Kesadaran untuk menghemat energi, khususnya bahan bakar minyak, menjadi sangat penting di tengah potensi kenaikan harga energi dunia. Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lengah dan harus selalu bersiap menghadapi dampak dari dinamika global. Pandangan ini menunjukkan bahwa stabilitas nasional tidak bisa dilepaskan dari kemampuan negara dalam mengelola konsumsi energi secara efisien. Ketergantungan pada energi fosil yang tinggi tanpa diimbangi perilaku konsumsi yang bijak akan memperbesar beban fiskal, terutama melalui peningkatan subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dukungan dari kalangan akademisi memperkuat urgensi kebijakan tersebut. Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia (RESSED UI) Ali Ahmudi menilai bahwa gerakan penghematan bahan bakar memang harus digalakkan secara luas. Ia mengingatkan bahwa situasi global saat ini menuntut masyarakat untuk tidak boros dalam menggunakan energi, termasuk dengan membatasi perjalanan yang tidak mendesak. Hal ini menegaskan bahwa penguatan stabilitas energi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif masyarakat. Kesadaran kolektif menjadi kunci agar kebijakan penghematan tidak berhenti sebagai imbauan, melainkan menjadi budaya.

Lebih jauh, kebijakan penghematan energi juga perlu diiringi dengan langkah strategis jangka panjang. Transisi menuju energi baru terbarukan menjadi salah satu solusi yang tidak bisa ditunda. Pengembangan biodiesel B50 serta pemanfaatan etanol sebagai bahan bakar alternatif merupakan langkah konkret yang harus terus dipercepat. Upaya ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor energi, tetapi juga memperkuat kedaulatan energi nasional. Dengan demikian, kebijakan hemat energi tidak sekadar bersifat reaktif, melainkan menjadi bagian dari transformasi struktural sektor energi Indonesia.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Peneliti kebijakan publik Institute for Development Policy and Local Partnership (IDP-LP), Riko Noviantoro yang menekankan pentingnya membangun budaya hemat energi dari level individu hingga kelembagaan. Ia menilai bahwa masyarakat perlu didorong untuk menggunakan transportasi umum sebagai bagian dari perubahan perilaku konsumsi energi. Meski tantangan kenyamanan masih menjadi kendala, upaya ini harus terus digalakkan demi kepentingan yang lebih besar. Bahkan, keteladanan dari para pejabat publik dalam menggunakan transportasi umum dinilai dapat menjadi simbol perubahan yang kuat dan efektif.

Selain energi, sektor pangan juga menjadi pilar penting dalam menjaga stabilitas nasional. Dalam situasi global yang tidak menentu, kemampuan negara dalam memastikan ketersediaan pangan menjadi faktor penentu ketahanan sosial dan ekonomi. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan cadangan beras nasional mencapai sekitar 4 juta ton, bahkan berpotensi meningkat hingga 5 juta ton, menjadi bukti bahwa fondasi ketahanan pangan Indonesia berada dalam kondisi yang kuat. Ketersediaan stok yang cukup hingga ratusan hari ke depan memberikan rasa aman bagi masyarakat sekaligus ruang bagi pemerintah untuk fokus pada strategi jangka panjang.

Kekuatan sektor pangan ini juga didukung oleh perkembangan positif komoditas strategis lainnya, termasuk peningkatan ekspor minyak sawit mentah yang memperkuat kinerja sektor pertanian. Hal tersebuut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan domestik, tetapi juga kontribusinya terhadap perekonomian nasional secara keseluruhan. Dengan demikian, stabilitas pangan dan energi saling berkaitan dan harus dikelola secara terintegrasi.

Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa meskipun kondisi pangan nasional saat ini aman, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat. Sektor perikanan, baik darat maupun laut, menjadi salah satu solusi strategis dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Diversifikasi sumber pangan menjadi langkah penting agar ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada satu komoditas, tetapi memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap berbagai risiko.

Kebijakan bijak konsumsi energi dan penguatan ketahanan pangan mencerminkan paradigma pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan. Pemerintah tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga pada stabilitas dan ketahanan nasional dalam menghadapi krisis global. Kebijakan seperti penghematan energi dan wacana kerja dari rumah menunjukkan bahwa adaptasi terhadap situasi global dapat dilakukan melalui pendekatan yang inovatif dan fleksibel.

Keberhasilan upaya ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan. Bijak dalam mengonsumsi energi dan menjaga ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi merupakan gerakan bersama yang harus dibangun secara kolektif. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, langkah-langkah ini menjadi bukti bahwa Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu memperkuat fondasi menuju kemandirian dan ketahanan nasional yang lebih kokoh.

)* penulis merupakan pengamat kebijakan publik

Pemerintah Perkuat Stabilitas Pangan dan Energi di Tengah Dinamika Global

Jakarta – Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono menegaskan bahwa sektor sawit nasional tetap menunjukkan kinerja positif di tengah ketegangan geopolitik global yang memengaruhi stabilitas ekonomi dan energi dunia.

Konflik yang melibatkan sejumlah negara besar telah mendorong kenaikan biaya logistik dan ketidakpastian pasar global, namun Indonesia dinilai masih memiliki fondasi ekonomi yang kuat melalui sektor komoditas strategis.

Eddy menyampaikan bahwa produksi kelapa sawit Indonesia pada 2025 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Produksi sawit kita. Jadi kita bersyukur tahun 2025 ini ada kenaikan produksi dari CPO itu kira-kira 51 juta ton atau secara total ini secara total produksi kita dengan PKO itu, 56 juta.” kata Eddy.

Peningkatan produksi tersebut didukung oleh kondisi cuaca yang relatif baik serta harga sawit yang stabil, sehingga mendorong petani untuk lebih optimal dalam merawat kebun.

Data menunjukkan produksi crude palm oil (CPO) mencapai sekitar 51,6 juta ton atau naik sekitar 7,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Dengan perang ini yang kondisi global seperti ini kita bersyukur sawit masih jalan. Sawit ekspornya masih jalan.” ungkapnya

Program biodiesel menjadi bagian penting dalam strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor. Saat ini, implementasi telah mencapai bauran B40, dengan rencana pengembangan menuju B50 dalam jangka panjang.

“Menteri Pertanian minta supaya kita memang setuju untuk peningkatan produktivitas untuk meningkatkan produksi kita karena program pemerintah ini akan swasembada energi utamanya untuk biodiesel. Jalan satu-satunya adalah kita harus meningkatkan produksi.” Ungkap Eddy.

Selain sawit, pemerintah juga mendorong optimalisasi komoditas lain seperti singkong sebagai bahan baku bioetanol. Langkah ini merupakan bagian dari diversifikasi energi berbasis sumber daya lokal.

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa krisis global justru menjadi momentum untuk mempercepat transformasi menuju kemandirian pangan dan energi nasional.

“Menurut saya, krisis justru mempercepat rencana transformasi kita. Akhirnya kita dipaksa akselerasi. Kita sudah mengerti masalahnya, dari dulu kita ingin swasembada pangan, swasembada energi. Kita sudah mengarah ke situ, tapi sekarang akan mempercepat,” ujar Presiden.

Presiden juga menekankan pentingnya transisi menuju energi terbarukan yang berbasis sumber daya domestik.

“Kita sudah tahu bahwa kita harus melakukan pengalihan energi pada energi terbarukan, kepada energi yang kita miliki sendiri. Kita sudah paham itu. Ini mempercepat, jadi memaksa kita untuk bekerja lebih keras,” kata Presiden.

[w.R]