Presiden Prabowo Gaungkan Inklusivitas dan Solidaritas Dunia di Panggung PBB

Oleh : Hutapea Situmorang )*

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato bersejarah di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80. Kehadirannya di podium utama forum internasional tersebut menandai momen penting bagi diplomasi Indonesia, terutama setelah satu dekade posisi kepala negara tidak hadir langsung dalam ajang bergengsi itu.

Sejak awal, pidato yang disampaikan oleh Presiden Prabowo tersebut terus menekankan pada aspek inklusivitas, solidaritas, serta semangat kerja sama multilateral yang dianggap sebagai kunci dalam menghadapi berbagai macam tantangan global saat ini.

Pidato tersebut bukan hanya sekadar seremoni diplomasi belaka, melainkan juga menjadi refleksi dari kemana arah politik luar negeri Indonesia yang terus konsisten dengan prinsip bebas aktif.

Dalam orasi diplomatiknya, Kepala Negara menyoroti bagaimana multilateralisme harus senantiasa diperkuat agar dunia tidak kembali terjebak pada egoisme nasional maupun blok kekuatan tertentu.

Sorotan terhadap inklusivitas tersebut disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk penegasan bahwa masa depan global hanya dapat dijaga dengan membuka ruang partisipasi yang adil bagi semua bangsa, terutama negara berkembang.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menilai kehadiran Presiden Prabowo di forum PBB itu sebagai momentum penting bagi Indonesia. Ia menegaskan bahwa kehadiran langsung Presiden tidak hanya memulihkan posisi Indonesia di level tertinggi diplomasi global, melainkan juga memperkuat status Indonesia sebagai pemimpin Global South. Menurut Teddy, posisi tersebut konsisten memperjuangkan agenda reformasi tata kelola dunia agar lebih adil, inklusif, dan tidak lagi didominasi kepentingan negara besar semata.

Nada optimisme juga ditegaskan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela. Ia menjelaskan bahwa pesan utama pidato Presiden berfokus pada urgensi semangat inklusivitas serta optimisme kerja sama multilateral.

Menurut Nabyl, Presiden menekankan bahwa dunia tengah menghadapi krisis kepercayaan terhadap multilateralisme akibat berbagai konflik geopolitik, kesenjangan ekonomi, hingga ketidakadilan dalam tata kelola internasional.

Dengan menyoroti solidaritas dan inklusivitas, Presiden Prabowo mengirimkan pesan bahwa Indonesia mendorong agar PBB kembali menjadi rumah bersama yang melindungi kepentingan seluruh bangsa.

Momentum pidato tersebut juga tidak lepas dari refleksi sejarah keluarga besar Presiden RI kedelapan itu. Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia, Dino Patti Djalal, menilai kehadiran Presiden mengulang jejak perjuangan diplomasi Prof. Sumitro Djojohadikusumo, ayahanda Prabowo, yang pernah menjadi tokoh kunci dalam perjuangan diplomasi Indonesia di PBB pada era 1940-an.

Dino menekankan bahwa pidato Kepala Negara menghadirkan kesinambungan tradisi keluarga pejuang diplomasi yang sejak awal menegaskan Indonesia sebagai bangsa yang aktif memperkokoh multilateralisme. Menurutnya, kehadiran Presiden di forum tersebut membawa angin segar di tengah merosotnya semangat kerja sama global.

Pidato bersejarah itu semakin bermakna karena Prabowo berbicara pada urutan ketiga, setelah Presiden Brasil dan Presiden Amerika Serikat. Posisi strategis tersebut menjadikan pesan Indonesia mendapat perhatian penuh dunia internasional ketika forum masih padat dihadiri pemimpin global.

Dalam momen tersebut, Presiden juga menyinggung isu Palestina dengan tegas, mengingat tragedi kemanusiaan di Gaza terus menjadi luka panjang bagi komunitas internasional. Dengan mengedepankan prinsip keadilan dan solusi dua negara, Indonesia kembali menunjukkan konsistensi sikapnya dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina.

Kepala Negara menyerukan pengakhiran kekerasan di Palestina dan mengecam keras kekerasan terhadap warga sipil. Menurutnya, dengan mengakhiri seluruh tragedi kemanusiaan tersebut, maka sejatinya bukan hanya bagi Palestina, namun juga tentang masa depan Israel dan kredibilitas PBB sendiri.

Oleh karena itu, menurut Presiden Prabowo hanya solusi dua negara yang bisa membawa perdamaian akan konflik tersebut bagi seluruh pihak. Bahkan Kepala Negara juga mengajak seluruh negara lain untuk turut ikut bergerak aktif menyuarakan perdamaian.

Lebih dari sekadar isu politik global, Prabowo juga menyinggung dimensi ekonomi internasional yang sarat ketidakadilan. Tantangan global seperti krisis pangan, energi, serta ketidaksetaraan ekonomi antarnegara menjadi sorotan penting.

Pandangan tersebut sejalan dengan harapan banyak kalangan bahwa Indonesia harus menjadi jembatan antara negara maju dan negara berkembang, sekaligus memperkuat solidaritas Global South.

Kehadiran Prabowo di forum PBB tersebut menandai titik balik diplomasi Indonesia setelah satu dekade Presiden sebelumnya absen secara langsung. Tidak sedikit kalangan yang membandingkan momentum ini dengan pidato Presiden Soekarno pada 1960 yang menjadi tonggak sejarah diplomasi Indonesia.

Bagi Indonesia, momen tersebut mempertegas peran sebagai bangsa besar yang tidak hanya fokus pada kepentingan nasional, tetapi juga mendorong lahirnya tata kelola global yang lebih adil.

Pesan inklusivitas yang ditekankan dalam pidato Prabowo sejalan dengan semangat Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Semangat Bandung, yang mempromosikan solidaritas negara-negara Selatan untuk melawan dominasi kekuatan besar, kini kembali digaungkan di panggung PBB.

Dengan begitu, kehadiran Indonesia tidak sekadar menjadi simbol kehadiran formal, melainkan strategi nyata untuk memastikan suara negara berkembang mendapat tempat yang semestinya dalam tata kelola global.

Sidang Umum PBB ke-80 menjadi saksi bagaimana Indonesia, melalui Presiden Prabowo, menegaskan kembali peran aktifnya dalam menjaga perdamaian dunia, memperjuangkan keadilan, dan memperkokoh solidaritas global.

Di tengah krisis multilateralisme, pesan yang disampaikan Prabowo menjadi pengingat bahwa diplomasi inklusif adalah jalan terbaik untuk memastikan keberlanjutan dunia yang damai, adil, dan setara.

Melalui pidato bersejarah tersebut, Indonesia mengukuhkan kembali posisinya sebagai pemimpin Global South. Presiden Prabowo tidak hanya menyoroti masalah, tetapi juga menawarkan semangat optimisme yang relevan dengan harapan banyak negara berkembang.

Forum tertinggi diplomasi dunia itu akhirnya menjadi panggung nyata bagi Indonesia untuk menegaskan kembali komitmen terhadap inklusivitas, multilateralisme, serta perjuangan abadi bagi keadilan global. (*)

)* Penulis adalah pengamat hubungan internasional

Pidato Presiden Prabowo di PBB Gaungkan Semangat Solidaritas dan Reformasi Tata Kelola Dunia

Oleh : Ni Luh Made Kusuma )*

Presiden Prabowo Subianto berbicara dengan lantang di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 di New York, Kepala Negara menggaungkan semangat solidaritas serta dorongan untuk mereformasi tata kelola dunia.

Kehadirannya di forum internasional tertinggi tersebut tidak hanya menandai kembalinya Indonesia ke panggung utama dunia setelah satu dekade lamanya, tetapi juga sekaligus menegaskan dimana posisi bangsa ini sebagai pemimpin Global South yang terus secara konsisten mendorong terwujudnya perubahan global yang lebih adil dan inklusif.

Presiden Prabowo menekankan bahwa saat ini dunia sedang membutuhkan sebuah tata kelola baru yang mampu menghadapi tantangan di masa kini. Ia memandang bahwa multilateralisme sebagai jalan utama untuk dapat menciptakan stabilitas internasional, sekaligus juga membuka ruang bagi negara-negara berkembang untuk memperjuangkan seluruh kepentingannya.

Dalam pidato itu, solidaritas digambarkan sebagai nilai universal yang harus terus diterapkan bukan hanya pada isu politik saja, tetapi juga pada berbagai aspek lainnya seperti ekonomi, sosial, dan kemanusiaan.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memandang bahwa pidato yang disampaikan oleh Presiden Prabowo tersebut sebagai momentum yang penting. Menurutnya, Indonesia telah mampu tampil kembali di forum tertinggi PBB dengan misi besar, yakni menegaskan peran Global South dalam menyuarakan reformasi tata kelola dunia.

Teddy menilai, posisi Indonesia sebagai pembicara ketiga setelah Presiden Brasil dan Presiden Amerika Serikat semakin mempertegas bobot kehadiran Presiden Prabowo. Momentum itu memberi ruang strategis untuk memperkuat suara negara berkembang, yang selama ini kerap terpinggirkan dalam sistem internasional.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Vahd Nabyl Achmad Mulachela menekankan bahwa Prabowo secara tegas menyuarakan urgensi inklusivitas, optimisme, solidaritas, dan kerja sama multilateral.

Bagi Nabyl, pesan tersebut mencerminkan arah diplomasi Indonesia yang memandang kolaborasi antarbangsa sebagai modal utama menghadapi krisis global. Ia menilai, dunia membutuhkan energi baru yang lahir dari kesatuan dan keterbukaan, bukan dari rivalitas dan fragmentasi kepentingan.

Pidato bersejarah itu juga menyentuh isu Palestina. Presiden Prabowo menegaskan dukungan Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaan penuh dan menyerukan berakhirnya pendudukan asing.

Bagi Prabowo, solidaritas terhadap Palestina bukan hanya wujud komitmen kemanusiaan, melainkan juga konsistensi Indonesia dalam menjalankan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Dengan menyuarakan hal tersebut, Indonesia sekali lagi menegaskan posisinya sebagai negara yang tidak abai terhadap penderitaan bangsa lain.

Kepala Negara menyerukan pengakhiran kekerasan di Palestina dan mengecam keras kekerasan terhadap warga sipil. Menurutnya, dengan mengakhiri seluruh tragedi kemanusiaan tersebut, maka sejatinya bukan hanya bagi Palestina, namun juga tentang masa depan Israel dan kredibilitas PBB sendiri.

Oleh karena itu, menurut Presiden Prabowo hanya solusi dua negara yang bisa membawa perdamaian akan konflik tersebut bagi seluruh pihak. Bahkan Kepala Negara juga mengajak seluruh negara lain untuk turut ikut bergerak aktif menyuarakan perdamaian.

Dino Patti Djalal, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), menilai momen ini sebagai kelanjutan dari tradisi diplomasi keluarga Prabowo. Ia memandang pidato tersebut mengulang jejak perjuangan sang ayah, Prof. Sumitro Djojohadikusumo, yang pernah membawa suara Indonesia ke forum internasional.

Menurut Dino, Prabowo memperlihatkan tekad yang sama dalam memperjuangkan multilateralisme, sebuah semangat yang semakin mendesak di tengah meningkatnya gejolak global.

Reformasi tata kelola dunia menjadi fokus utama Prabowo. Ia menilai, sistem internasional yang ada terlalu condong pada kepentingan segelintir negara besar. Dalam pidatonya, Prabowo mengajak negara-negara berkembang untuk bersatu memperjuangkan perubahan struktur global agar lebih seimbang, transparan, dan berpihak pada kepentingan seluruh bangsa. Dorongan tersebut sejalan dengan semangat Bandung yang menekankan solidaritas, kemandirian, dan kerja sama lintas kawasan.

Selain agenda besar di level global, Prabowo menegaskan bahwa penguatan internal bangsa menjadi fondasi utama. Persatuan nasional, pembangunan yang inklusif, serta reformasi domestik disebut sebagai prasyarat agar Indonesia mampu tampil sebagai aktor global yang kuat. Pesan itu menunjukkan bahwa diplomasi luar negeri tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan membangun kekuatan internal bangsa.

Kehadiran Presiden Prabowo di forum tersebut membangkitkan rasa bangga di kalangan diaspora Indonesia. Mahasiswa Indonesia di New York menyambut dengan penuh semangat, memandang pidato itu sebagai simbol kembalinya bangsa ke panggung utama dunia.

Mereka menilai, suara Indonesia yang kembali lantang di forum internasional mampu menginspirasi generasi muda untuk percaya bahwa bangsanya memiliki posisi penting dalam membentuk arah peradaban global.

Sidang Umum PBB tahun ini jelas menjadi panggung bagi Prabowo untuk menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya pengikut dalam arus global, melainkan juga penggerak utama. Pidatonya memperlihatkan keberanian politik luar negeri Indonesia yang tidak sekadar bereaksi terhadap isu global, tetapi juga proaktif mendorong agenda perubahan. Dengan menggaungkan solidaritas dan reformasi tata kelola dunia, Indonesia menempatkan dirinya sebagai motor penggerak dalam membangun sistem internasional yang lebih adil.

Momentum bersejarah ini seolah menegaskan bahwa perjalanan diplomasi Indonesia terus berkembang dari masa ke masa. Jika pada era Soekarno suara Indonesia menggema dengan gagasan besar tentang anti-kolonialisme, kini suara Prabowo menggema dengan agenda reformasi global yang menekankan solidaritas dan inklusivitas. Pidato tersebut menjadi penanda bahwa Indonesia tidak kehilangan arah, melainkan semakin mantap menapaki jalur kepemimpinan global.

Dengan pidato yang menekankan solidaritas, multilateralisme, dan reformasi tata kelola dunia, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia berdiri di garis depan perjuangan global. Kehadirannya mengingatkan dunia bahwa bangsa ini memiliki visi besar: membangun sistem internasional yang lebih damai, inklusif, dan berkeadilan. (*)

)* Penulis adalah pengamat hubungan internasional

Sinergitas Pusat dan Daerah untuk Pemerataan Distribusi Bansos

Oleh: Citra Kurnia Khudori)*

Bantuan sosial merupakan instrumen strategis dari pemerintah untuk mengurangi kesenjangan ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin dan rentan.

Lebih dari hanya sekadar bantuan, keberadaan bansos diharapkan menjadi pengaman sosial untuk menahan goncangan ekonomi masyarakat kecil. Selain itu, bansos juga diperlukan untuk menjaga stabilitas sosial, meningkatkan rasa keadilan, serta memberikan rasa aman kepada masyarakat tidak mampu bahwa negara hadir untuk rakyatnya.

Meski telah membawa manfaat besar, pemerintah terus melakukan penyempurnaan agar pemerataan bansos semakin optimal di lapangan. Oleh karena itu, pemerintah mencoba mencari jalan keluar agar tujuan pemerataan kesejahteraan benar-benar tercapai.

Salah satu terobosan pemerintah untuk memaksimalkan pemerataan bansos ialah dengan mencegah bansos salah sasaran. Pemerintah melakukan sinkronisasi data bansos dengan memanfaatkan teknologi.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membantu perbaikan penyaluran bansos melalui sinkronisasi Data Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dipadukan dengan data dari kependudukan dan catatan sipil (Dukcapil). Dirjen Teknologi Pemerintah Digital (TPD) Komidi Mira Tayyiba mengatakan bahwa data DTSEN akan di-match-kan dengan Dukcapil sehingga dapat diketahui apakah penerima manfaat yang dimaksud eligible menerima bansos atau tidak.

Langkah ini merupakan tindak lanjut hasil evaluasi Susenas 2024, yang menjadi dasar bagi pemerintah untuk memastikan sinkronisasi data antar-instansi semakin kuat. Untuk itu, lanjutnya, penerapan digitalisasi program bantuan sosial diperlukan agar distribusi lebih transparan.

Digitalisasi juga memungkinkan masyarakat untuk mengusulkan diri sebagai penerima bantuan, meski status kelayakannya masih perlu diverifikasi melalui sistem terpadu.

Mira menegaskan bahwa penyaluran bansos dengan pemanfaatan teknologi tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto agar program prioritas pemerintah, termasuk penghapusan kemiskinan ekstrem tepat sasaran. Di sisi lain, adanya penyederhanaan regulasi akan berdampak pada percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Penerapan digitalisasi program bansos secara perdana akan dilakukan di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur, pada September ini sebagai wilayah uji coba. Mengingat, Banyuwangi tercatat menorehkan angka kemiskinan sebesar 6,59% (di bawah angka nasional) pada tahun 2024.

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa pusat maupun daerah harus berpegang pada DTSEN dalam pemerataan bansos. Ia menegaskan, kuncinya ada pada Bupati, Wali Kota, dan Dinas Sosial untuk memahami arah kebijakan Presiden dengan mempelajari model bisnis DTSEN supaya langkah pusat maupun daerah seirama.

Sementara itu terkait dengan pemanfaatan teknologi, Mensos menuturkan bahwa sistem digitalisasi dalam penyaluran bansos PKH bertujuan untuk memastikan penerimaan lebih tepat sasaran melalui mekanisme objektif dan transparan, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 83 Tahun 2025 tentang Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah.

Pria yang akrab disapa Gus Ipul itu menekankan bahwa meski pemanfaatan teknologi dinilai mengurangi subyektivitas, namun peran masyarakat dan pendampingan dari daerah tetap diperlukan dalam pemutakhiran data secara langsung, mulai dari mengusulkan, menyanggah, hingga mendaftarkan diri melalui aplikasi yang sudah disiapkan.

Kemensos memastikan tetap ada pemeriksaan lapangan untuk menjamin akurasi data penerima. Ribuan petugas pendamping sosial dan aparatur di kelurahan akan membantu masyarakat yang belum terbiasa menggunakan gawai agar tidak tertinggal dalam proses digitalisasi.

Dalam hal ini, peran pendamping PKH menjadi ujung tombak dalam mendampingi penerima manfaat sebab belum semua masyarakat penerima bansos terbiasa dengan teknologi digital. Meskipun digitalisasi bansos dirancang untuk mempermudah masyarakat, tetapi tidak menghilangkan peran pendamping sosial dalam memastikan bantuan tepat guna.

Selain membantu masyarakat dalam mengakses aplikasi, pendamping juga bertugas melakukan pengecekan lapangan, memverifikasi kondisi penerima, serta memberi edukasi agar bansos digunakan sesuai peruntukannya.

Oleh karenanya, Mensos menyadari bahwa sinergitas dari pusat hingga daerah sangat diperlukan untuk menyukseskan kebijakan ini. Pemerintah menyiapkan seluruh sumber daya untuk mendampingi masyarakat langsung di lapangan.

Mensos mengaku optimistis jika data penerima bansos semakin akurat, maka intervensi sosial juga lebih tepat sasaran. Dengan begitu, pemerintah mampu mengukur berapa banyak keluarga miskin yang bisa digraduasi atau naik kelas sehingga keberhasilan program bansos tidak hanya diukur dari seberapa besar bansos tersalurkan, tetapi juga dari dampak jangka panjangnya. Jika bansos mampu mengurangi ketergantungan, meningkatkan produktivitas, dan membantu keluarga miskin berdaya, maka tujuan pemerataan sosial akan tercapai.

Sinergitas pusat dan daerah dalam pemerataan distribusi bansos juga menajdi fondasi penting untuk mewujudkan pembangunan inklusif. Dengan basis data yang solid, dukungan teknologi digital, serta keterlibatan masyarakat, maka program bansos dapat berjalan lebih efektif. Pemerataan distribusi bansos pada akhirnya menjadi simbol nyata bahwa negara hadir untuk seluruh rakyatnya tanpa terkecuali. Selain itu, bansos dapat menjadi motor penggerak pemerataan sosial sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional menuju Indonesia yang lebih sejahtera.

)* Penulis merupakan Pemerhati Isu Sosial-Ekonomi

Pemerintah Optimalkan Peran Bansos sebagai Jalan Menuju Kemandirian

*) Oleh : M. Syahrul Fahmi

Bantuan sosial (bansos) merupakan salah satu instrumen kebijakan pemerintah yang paling strategis dalam mengatasi persoalan kemiskinan dan kerentanan sosial. Selama ini, bansos kerap dipandang hanya sebagai solusi sesaat untuk meringankan beban masyarakat kurang mampu. Namun, pemerintah menegaskan bahwa bansos bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju kemandirian dan pemberdayaan masyarakat. Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, pendekatan ini menjadi relevan untuk memastikan bansos tidak berhenti pada aspek karitatif, melainkan berkembang menjadi fondasi pembangunan sosial berkelanjutan. Dengan demikian, bansos perlu dilihat bukan hanya sebagai “bantuan hidup”, tetapi sebagai “gerbang pemberdayaan” bagi rakyat Indonesia.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan, bantuan sosial sejatinya adalah langkah awal yang harus diikuti dengan program pemberdayaan yang tepat sasaran. Pandangan ini menegaskan bahwa orientasi jangka panjang kebijakan sosial tidak cukup hanya mengandalkan transfer dana atau barang, melainkan juga harus menumbuhkan kemandirian keluarga penerima manfaat (KPM). Untuk itu, setiap daerah diharapkan mampu mempelajari model pemberdayaan yang sesuai dengan potensi lokal masing-masing. Misalnya, daerah pesisir dapat mengembangkan program berbasis perikanan, sementara daerah pertanian bisa memperkuat pemberdayaan petani. Model berbasis lokal inilah yang akan menjadi kunci agar bansos dapat berkembang menjadi jalan keluar dari lingkaran kemiskinan.

Dalam kerangka yang lebih luas, bansos perlu dipadukan dengan strategi perlindungan sosial dan pemberdayaan sosial. Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, menyampaikan bahwa ada dua aspek yang saling melengkapi dalam kebijakan kesejahteraan sosial. Pertama, perlindungan sosial melalui bansos berfungsi memastikan masyarakat dapat bertahan hidup pada masa sulit. Kedua, pemberdayaan sosial bertujuan mendorong masyarakat untuk mandiri dan mampu menciptakan peluang ekonomi. Menurutnya, penyaluran bansos tidak boleh berhenti di ranah karitatif yang berpotensi menimbulkan ketergantungan. Justru, bansos harus menjadi jembatan menuju kemandirian, sehingga keluarga penerima manfaat dapat keluar dari garis kemiskinan secara berkelanjutan.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) NTB, Hj. Sinta Agathia M. Iqbal, yang menekankan pentingnya kesinambungan program pengentasan kemiskinan. Menurutnya, LKKS NTB fokus pada pengembangan program “Desa Berdaya” yang selaras dengan tujuan pemerintah pusat dalam membangun kemandirian sosial-ekonomi masyarakat. Dengan pendekatan ini, setiap desa didorong menjadi pusat pemberdayaan yang berorientasi pada pemanfaatan sumber daya lokal. Program Desa Berdaya diharapkan mampu melahirkan ekosistem ekonomi mandiri yang bertumpu pada kekuatan komunitas. Jika pendekatan ini berjalan konsisten, maka bansos tidak lagi sekadar dipandang sebagai bantuan, melainkan bagian dari strategi pembangunan manusia yang inklusif.

Konsep Desa Berdaya juga menjadi jawaban atas tantangan klasik dalam penyaluran bansos, yakni efektivitas penggunaan dan keberlanjutan manfaat. Bansos yang disalurkan tanpa strategi pemberdayaan cenderung cepat habis dan tidak memberikan dampak jangka panjang. Namun, jika dikaitkan dengan program ekonomi lokal, bansos dapat menjadi modal awal untuk menggerakkan produktivitas masyarakat. Misalnya, penerima bansos pangan bisa diarahkan untuk mengelola program pertanian berkelanjutan atau koperasi desa. Dengan demikian, bansos akan memiliki efek ganda: menjaga ketahanan hidup sekaligus memperkuat basis ekonomi produktif. Strategi ini sangat penting agar masyarakat tidak terjebak dalam siklus ketergantungan, melainkan mampu menapaki jalan menuju kemandirian.

Selain itu, penting untuk melihat bansos sebagai instrumen pembangunan inklusif yang mampu menjembatani kesenjangan sosial antarwilayah. Di banyak daerah, terutama di wilayah timur Indonesia, bansos berperan besar dalam menjaga stabilitas sosial sekaligus membuka akses bagi masyarakat terhadap layanan dasar. Namun, langkah ini harus terus diiringi dengan peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan, kesehatan, dan pelatihan keterampilan. Pemberdayaan masyarakat tidak bisa dicapai hanya dengan bantuan sesaat, melainkan melalui investasi sosial jangka panjang. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta lembaga sosial seperti LKKS menjadi sangat penting dalam mewujudkan tujuan ini.

Sebagai pengamat ekonomi, saya melihat bahwa keberhasilan program bansos akan sangat ditentukan oleh efektivitas mekanisme pemberdayaan yang mengikutinya. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap rupiah yang disalurkan dalam bentuk bansos mampu melahirkan nilai tambah ekonomi bagi penerima manfaat. Hal ini bisa dicapai melalui program pendampingan usaha mikro, pelatihan keterampilan, dan akses permodalan. Dengan cara ini, bansos tidak hanya mencegah kemiskinan jangka pendek, tetapi juga menciptakan peluang keluar dari kemiskinan secara struktural. Efisiensi dan transparansi penyaluran bansos juga harus dijaga agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Dari perspektif pembangunan nasional, orientasi baru terhadap bansos ini mencerminkan visi pemerintah untuk membangun kesejahteraan yang berkelanjutan. Bansos bukan lagi sekadar kebijakan populis, melainkan instrumen penting dalam strategi besar pengentasan kemiskinan. Pendekatan ini juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mengurangi ketimpangan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin. Dengan fokus pada pemberdayaan, bansos diharapkan tidak hanya menolong masyarakat bertahan hidup, tetapi juga membekali mereka untuk bersaing di era ekonomi modern. Inilah langkah maju yang patut mendapat apresiasi dari seluruh elemen bangsa.

Pada akhirnya, bansos harus dipandang sebagai gerbang menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya. Pemerintah telah menunjukkan komitmennya untuk menjadikan bansos sebagai instrumen pembangunan jangka panjang. Kini, tantangannya adalah bagaimana masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan dapat bergandengan tangan untuk memastikan program ini benar-benar memberikan manfaat optimal. Dengan dukungan bersama, kita bisa mengubah bansos dari sekadar “bantuan sesaat” menjadi “modal kemajuan”.

*) Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik.

Pemerintah Libatkan Dunia Usaha dan Filantropi dalam Percepatan Penyaluran Bansos

Jakarta, Pemerintah mengumumkan penguatan kemitraan strategis dengan dunia usaha dan organisasi filantropi untuk mempercepat, menajamkan, dan mengefektifkan penyaluran bantuan sosial (bansos) kepada kelompok rentan. Sinergi ini menempatkan pemerintah sebagai orkestrator program, sementara sektor swasta dan filantropi menjadi pengungkit pembiayaan, inovasi, dan distribusi berbasis teknologi.

Ketua Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan digitalisasi bansos diharapkan mampu mendorong pemberantasan kemiskinan lebih tepat sasaran sekaligus memberikan perlindungan sosial yang lebih baik bagi masyarakat miskin dan rentan. Selain itu, pemerintah terus berkolaborasi mempercepat jangkauan bekerjasama dengan dunia usaha dan filantropi.

“Kolaborasi lintas-sektor mempercepat jangkauan, memperbaiki akurasi sasaran, serta menjaga keberlanjutan layanan sosial. Pemerintah tengah menyiapkan model co-funding, pemetaan penerima berbasis data terpadu, dan pemantauan real-time agar setiap rupiah memberi dampak terukur,” kata Luhut.

Hal senada juga diungkapkan Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bahwa pemerintah terus memperkuat sistem penyaluran bansos agar lebih tepat sasaran. Hal ini dilakukan setelah ditemukannya jutaan data penerima yang tidak lagi memenuhi syarat.

“Dari hasil ground check terhadap 12 juta keluarga penerima manfaat, ditemukan 1,9 juta yang tidak memenuhi syarat lagi, tapi sudah dialihkan kepada masyarakat yang lebih berhak,” kata Gus Ipul.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Komdigi, Ismail menegaskan bahwa percepatan penyaluran bansos membutuhkan orkestrasi lintas-sektor yang rapi. Komdigi mendorong pemadanan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial dengan ekosistem pembayaran nontunai, pelibatan bank agen/ritel untuk last mile, serta dashboard kinerja real-time yang menampilkan kecepatan salur, akurasi sasaran, dan umpan balik warga.

“Kami membuka ruang bagi korporasi dan filantropi untuk berbagi teknologi dan jaringan, sementara negara menjamin transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan data agar kepercayaan publik tetap terjaga,” ujarnya

Kolaborasi pemerintah dengan dunia usaha dan filantropi adalah kunci percepatan penyaluran bansos yang lebih tepat sasaran, terukur, dan berkelanjutan. Pemerintah berperan sebagai orkestrator kebijakan dan tata kelola, korporasi menghadirkan pengungkit teknologi-logistik serta skema pendanaan padanan, sementara filantropi menutup celah inovasi layanan di lapangan.

Integrasi data dengan pembayaran nontunai dan penguatan last mile menekan kebocoran serta memangkas waktu salur, sedangkan dashboard kinerja, audit independen, dan kanal aduan menjaga transparansi dan akuntabilitas. Sementara itu, manajemen risiko dari verifikasi komunitas hingga skenario distribusi alternatif membuat program lebih tangguh menghadapi dinamika.

Pemerintah Terapkan DTSEN untuk Percepat Penyaluran Bansos Akurat dan Adil

Jakarta – Pemerintah mulai 2025 resmi menerapkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis data utama dalam penyaluran bantuan sosial (bansos).

Kebijakan ini ditetapkan melalui Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025 yang mewajibkan seluruh kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah mengacu pada DTSEN dalam menentukan penerima bansos.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan, DTSEN akan menjadi acuan tunggal yang sah dalam setiap program bantuan pemerintah.

“Kita sudah memiliki Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional, dan ini dikukuhkan melalui Instruksi Presiden. Mulai sekarang, seluruh kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah wajib menggunakan DTSEN sebagai dasar penyaluran bantuan agar lebih tepat sasaran,” Jelasnya.

Pemerintah menjelaskan DTSEN dibangun untuk memperbaiki kelemahan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Sistem baru ini mengintegrasikan data sosial dan ekonomi nasional, serta diperbarui secara berkala setiap tiga bulan melalui ground checking oleh BPS dan pemerintah daerah. Langkah ini diharapkan mempercepat penyaluran bansos sekaligus meminimalkan potensi salah sasaran maupun kebocoran anggaran.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof. Rachmat Pambudy, menyebut DTSEN sebagai tonggak penting dalam reformasi sistem perlindungan sosial.

“Data yang valid dan terintegrasi memungkinkan bantuan tepat diterima oleh masyarakat miskin dan rentan. Dengan demikian, pemerintah dapat memastikan anggaran negara digunakan secara lebih efisien dan berkeadilan,” jelasnya.

Kementerian Sosial melaporkan, pada triwulan II 2025, sekitar 1,9 juta keluarga dinyatakan tidak lagi memenuhi syarat sebagai penerima bantuan setelah diverifikasi melalui DTSEN. Pembersihan data ini dinilai penting agar bansos benar-benar menyasar masyarakat yang membutuhkan.

Selain itu, masyarakat kini dapat mengecek status penerima bansos melalui aplikasi dan portal resmi pemerintah. Mekanisme koreksi data juga tersedia bagi warga yang merasa berhak tetapi belum tercatat. Pemerintah menegaskan proses ini dikawal dengan perlindungan data pribadi serta jalur banding yang transparan.

“Penerapan DTSEN adalah wujud komitmen pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan publik. Jika masyarakat bisa melihat transparansi proses pendataan, maka penyaluran bansos akan lebih dipercaya dan dampaknya bisa lebih besar,” tambah Rachmat Pambudy.

Pemerintah memastikan pemutakhiran data melalui DTSEN akan terus diperkuat seiring penyaluran bansos tahap 4 pada akhir 2025. Program bantuan seperti PKH dan BPNT dijadwalkan cair bertahap mulai Oktober hingga Desember, dengan seluruh data penerima mengacu penuh pada DTSEN.

Dengan langkah ini, pemerintah optimistis penyaluran bansos ke depan akan semakin akurat, adil, dan transparan, sekaligus menjadi fondasi bagi kebijakan perlindungan sosial nasional yang berkelanjutan.

MBG Jadi Bukti Pemerintah Hadirkan Kesetaraan Akses Gizi di Papua

*MBG Jadi Bukti Pemerintah Hadirkan Kesetaraan Akses Gizi di Papua*

Papua – Pemerintah terus memperkuat komitmennya dalam membangun sumber daya manusia (SDM) unggul melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir untuk memastikan anak-anak Indonesia, termasuk di Papua, mendapatkan hak yang sama atas gizi seimbang.

Kehadiran MBG di tanah Papua dipandang sebagai langkah strategis untuk mengurangi kesenjangan, terutama dalam akses pangan sehat dan bergizi yang selama ini masih menjadi tantangan di wilayah timur Indonesia.

Program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam pembangunan SDM Papua. Anak-anak yang sehat dan bergizi baik diyakini akan memiliki konsentrasi belajar yang lebih tinggi, daya pikir yang lebih tajam, serta daya tahan tubuh yang lebih kuat.

Dengan begitu, mereka dapat bersaing secara setara dengan anak-anak dari daerah lain di Indonesia. Hal inilah yang menjadi dasar utama pemerintah dalam memperluas cakupan MBG hingga ke wilayah pelosok dan perkampungan di Papua.

Tokoh Masyarakat Papua, Nikolas Demetouw, menyampaikan dukungan penuh terhadap program MBG yang dinilainya sangat bermanfaat bagi generasi muda Papua. Menurutnya, kehadiran MBG akan membantu anak-anak Papua untuk maju dan cerdas di masa depan.

“Saya mengajak seluruh masyarakat Papua agar mendukung program Bapak Presiden, Bapak Prabowo Subianto dengan adanya Makan Bergizi (MBG) untuk masa depan anak-anak kita,” ujarnya.

Nikolas juga menekankan pentingnya agar program MBG dapat didistribusikan secara merata, termasuk ke kampung-kampung di pelosok Papua. Ia menilai, keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dalam mengawal distribusi agar tepat sasaran.

“Kami bersaing dengan daerah-daerah lain atau provinsi lain di Indonesia, maka saya imbaukan untuk semua agar mendukung program ini sampai di kampung-kampung di Papua,” tutupnya.

Kehadiran MBG di Papua juga memiliki nilai strategis dalam memperkuat rasa keadilan sosial di tengah masyarakat. Selama ini, keterbatasan akses pangan bergizi sering menjadi hambatan bagi anak-anak Papua untuk berkembang secara optimal.

Dengan adanya MBG, pemerintah membuktikan bahwa tidak ada anak Indonesia yang dibiarkan tertinggal, baik di perkotaan maupun di pelosok terpencil. Kesetaraan dalam pemenuhan gizi ini akan menjadi modal penting untuk mencetak generasi emas Papua di masa depan.

MBG Jadi Bukti Nyata Upaya Pemerintah Perkuat Kualitas Generasi Muda Papua

MBG Jadi Bukti Nyata Upaya Pemerintah Perkuat Kualitas Generasi Muda Papua

*) Oleh : Andi Mahesa

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto merupakan salah satu langkah nyata pemerintah dalam memperkuat kualitas generasi muda di seluruh Indonesia, termasuk di Papua. Kehadiran program ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan anak-anak, terutama pelajar di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), mendapatkan akses gizi yang memadai. Papua, dengan kondisi geografis yang menantang, selama ini menghadapi hambatan dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak. Oleh karena itu, MBG hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut, dengan menekankan pentingnya gizi seimbang sebagai pondasi bagi kesehatan, kecerdasan, dan masa depan generasi muda.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas gizi anak-anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan kognitif dan fisik mereka. Anak yang mendapatkan asupan makanan bergizi akan memiliki daya konsentrasi yang lebih baik, stamina yang lebih kuat, serta kemampuan berpikir yang lebih tajam. Di sisi lain, kekurangan gizi dapat menyebabkan stunting, rendahnya prestasi akademik, hingga berkurangnya kualitas sumber daya manusia. Melalui MBG, pemerintah secara langsung menjawab persoalan ini dengan menyediakan makanan bergizi yang dapat diakses secara merata, termasuk di pedalaman Papua. Hal ini merupakan investasi jangka panjang yang tidak hanya menyentuh aspek kesehatan, tetapi juga pendidikan dan pembangunan SDM Papua.

Tokoh Masyarakat Papua, Nikolas Demetouw, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kebijakan Presiden Prabowo melalui program MBG. Menurutnya, program ini sangat penting karena membantu anak-anak Papua untuk maju dan cerdas di masa depan. Ia mengajak seluruh masyarakat Papua untuk mendukung penuh program ini, sebab manfaatnya sangat besar bagi peningkatan kualitas generasi muda di tanah Papua. Dukungan masyarakat menjadi kunci keberhasilan distribusi program hingga ke pelosok-pelosok, sehingga semua anak tanpa terkecuali dapat merasakan manfaat yang sama. Ajakan ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan keberhasilan program nasional.

Distribusi program MBG di Papua memang memerlukan perhatian khusus mengingat kondisi geografis yang tidak mudah. Banyak kampung masih terisolasi dan sulit dijangkau oleh akses transportasi darat. Dalam konteks ini, pemerintah diharapkan dapat bersinergi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, serta tokoh masyarakat agar distribusi makanan bergizi benar-benar sampai ke seluruh wilayah Papua. Nikolas Demetouw juga menekankan bahwa program ini harus dapat menjangkau kampung-kampung, karena di sanalah banyak anak yang selama ini kurang mendapat perhatian dari sisi gizi. Dengan begitu, MBG bukan hanya dinikmati oleh anak-anak di perkotaan, tetapi juga menyentuh akar rumput masyarakat di pedalaman.

Dari perspektif pembangunan manusia, program MBG juga memperlihatkan visi strategis pemerintah untuk membangun Indonesia dari pinggiran. Papua sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional tidak hanya membutuhkan infrastruktur fisik, tetapi juga perhatian serius terhadap pembangunan manusia. Gizi anak adalah kunci agar Papua dapat mencetak generasi yang sehat, tangguh, dan cerdas. Dengan adanya program MBG, anak-anak Papua memiliki kesempatan yang sama dengan anak-anak di daerah lain untuk tumbuh optimal. Inilah yang disebut sebagai keadilan sosial, di mana seluruh anak bangsa memperoleh hak yang sama dalam hal pendidikan dan kesehatan.

Lebih jauh, keberhasilan MBG di Papua akan membawa dampak positif bagi percepatan pembangunan daerah. Anak-anak yang sehat dan cerdas akan tumbuh menjadi generasi penerus yang mampu mengelola potensi alam Papua secara berkelanjutan. Mereka dapat menjadi tenaga profesional, pemimpin, maupun wirausahawan yang berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, MBG bukan hanya soal menyediakan makanan, melainkan juga upaya menyiapkan pondasi kuat bagi Papua agar dapat berdiri sejajar dengan daerah lain dalam hal pembangunan dan kemajuan.

Pemerintah pusat telah berkomitmen untuk mengalokasikan anggaran besar dalam pelaksanaan MBG, dan hal ini perlu mendapat dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat. Dukungan tidak hanya dalam bentuk penerimaan program, tetapi juga dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas distribusi. Masyarakat dapat berperan aktif dalam mengawasi pelaksanaan MBG agar benar-benar tepat sasaran. Dengan pengawasan yang baik, penyalahgunaan dana dan hambatan distribusi dapat diminimalisir. Inilah wujud nyata partisipasi masyarakat dalam mendukung kebijakan pemerintah yang pro-rakyat.

Selain manfaat gizi, MBG juga membawa dampak sosial positif. Program ini mampu mempererat kebersamaan di tingkat sekolah dan masyarakat karena anak-anak akan terbiasa menikmati makanan sehat bersama-sama. Kebiasaan tersebut menumbuhkan rasa solidaritas, kebersihan, dan pola hidup sehat sejak dini. Jika terus ditanamkan, generasi muda Papua akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara sosial. Program ini pada akhirnya memperkuat semangat persatuan di tengah keberagaman Papua yang kaya akan budaya dan tradisi.

Penting pula disadari bahwa MBG memiliki makna simbolis sebagai bentuk kehadiran negara di tanah Papua. Selama ini, masyarakat Papua sering merasa kurang diperhatikan, khususnya dalam hal layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Dengan MBG, pemerintah menunjukkan bahwa Papua memiliki prioritas khusus dalam agenda pembangunan nasional. Hal ini diharapkan dapat memperkuat rasa kebangsaan masyarakat Papua, bahwa mereka adalah bagian penting dari Indonesia yang terus diperhatikan dan diperjuangkan hak-haknya.

Pada akhirnya, program MBG bukan hanya kebijakan teknis semata, tetapi juga cerminan visi besar pemerintah dalam membangun manusia Indonesia yang unggul. Di Papua, MBG hadir sebagai bukti nyata kepedulian dan komitmen Presiden Prabowo untuk mencetak generasi muda yang sehat, cerdas, dan tangguh. Seruan Nikolas Demetouw agar masyarakat Papua mendukung penuh program ini harus dijadikan pegangan bersama, sebab keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh kesadaran kolektif masyarakat. Jika semua pihak bersatu, maka Papua akan memiliki generasi emas yang mampu membawa perubahan besar di masa depan.

*) Penulis merupakan Kontributor Media Lokal di Sulawesi Utara.

Generasi Papua Sehat dan Cerdas Lewat Program Makan Bergizi

Generasi Papua Sehat dan Cerdas Lewat Program Makan Bergizi

Papua – Program Makan Bergizi (MBG) yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan dampak positif di Papua. Anak-anak sekolah dasar di sejumlah kampung kini sudah rutin mendapatkan makanan bergizi, yang tidak hanya menyehatkan tetapi juga menumbuhkan semangat belajar mereka.

Tokoh Masyarakat Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Nikolas Demetouw, mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran program tersebut. Menurutnya, inisiatif Presiden Prabowo adalah bukti nyata bahwa Papua tidak dibiarkan tertinggal, melainkan diajak maju bersama seluruh bangsa.

“Salam sehat untuk kita semua. Saya Tokoh Masyarakat Distrik Depapre, Kab. Jayapura. Saya mengajak seluruh masyarakat Papua agar kami mendukung program Bapak kita Presiden, Bapak Prabowo Subianto dengan adanya Makan Bergizi (MBG) untuk anak-anak kita,” ujar Nikolas.

Nikolas Demetouw menegaskan, distribusi makanan bergizi ke sekolah-sekolah dan kampung telah berjalan baik. Anak-anak Papua kini tidak hanya lebih sehat, tetapi juga memiliki motivasi baru untuk belajar. Hal ini, katanya, menjadi modal besar agar Papua bisa sejajar dengan daerah lain di Indonesia.

“Untuk itu, saya imbaukan untuk kita semua di Papua, kami mendukung program Bapak Presiden kita yang begitu bagus. Agar kami ke depan, anak-anak Papua kami akan maju. Jangan kami ke belakang, kami harus maju sama dengan saudara-saudara kami di provinsi-provinsi lain yang ada di Indonesia,” tegas Nikolas.

Ia menambahkan, MBG bukan hanya soal makanan, tetapi merupakan fondasi penting untuk mencetak generasi emas Papua. Dengan tubuh sehat dan pikiran cerdas, anak-anak Papua akan lebih siap bersaing dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja di masa depan.

“Anak-anak kita akan sehat dan pikiran mereka akan maju. Mereka akan menjadi orang-orang pintar di atas tanah kita sendiri. Itu yang saya imbaukan agar program Bapak Presiden ini kami mendukung sepenuhnya,” pungkasnya.

Masyarakat Depapre sendiri kini semakin solid mendukung MBG. Banyak orang tua yang merasa terbantu karena kebutuhan gizi anak-anak mereka dipenuhi lewat program pemerintah. Harapan besar pun tumbuh bahwa generasi Papua tidak lagi tertinggal, tetapi mampu melangkah sejajar bahkan memimpin dalam pembangunan bangsa.

Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, MBG diyakini akan menjadi program strategis yang membawa Papua pada era baru yang sehat, cerdas, dan siap mengisi masa depan yang gemilang.

Papua Bangkit Bersama Program Makan Bergizi Presiden Prabowo

Papua Bangkit Bersama Program Makan Bergizi Presiden Prabowo

Papua – Program Makan Bergizi (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto kini telah dilaksanakan di Papua. Kehadiran program ini disambut dengan penuh antusias oleh masyarakat, karena terbukti memberikan manfaat langsung bagi anak-anak di tanah Papua.

Tokoh Masyarakat Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Nikolas Demetouw, menyampaikan apresiasinya atas realisasi program tersebut. Ia menegaskan bahwa MBG bukan sekadar bantuan makanan, melainkan simbol kehadiran negara dalam membangun masa depan Papua.

“Salam sehat untuk kita semua. Saya Tokoh Masyarakat Distrik Depapre, Kab. Jayapura. Saya mengajak seluruh masyarakat Papua agar kami mendukung program Bapak kita Presiden, Bapak Prabowo Subianto dengan adanya Makan Bergizi (MBG) untuk anak-anak kita,” ujarnya.

Ia menuturkan, pelaksanaan program ini sudah mulai dirasakan langsung manfaatnya oleh anak-anak Papua. Dengan distribusi makanan bergizi yang menyentuh kampung-kampung, kini generasi muda Papua memiliki bekal kesehatan dan kecerdasan untuk bersaing sejajar dengan daerah lain.

“Program pemerintah yang sudah dibuat untuk mendukung, membantu kami anak-anak Papua dengan MBG atau Makan Bergizi agar anak-anak kita akan maju cerdas untuk ke depan, untuk di tanah Papua. Kami bersaing dengan daerah-daerah lain atau provinsi lain di Indonesia, yang kami tinggal ke belakang,” kata Nikolas Demetouw.

Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan MBG di Papua menunjukkan bahwa pemerintah benar-benar memperhatikan daerah paling timur Indonesia. Ia mengajak seluruh masyarakat agar terus mendukung program ini, sehingga manfaatnya bisa menjangkau semua anak Papua tanpa terkecuali.

“Ya program yang begitu bagus, kami harus mendukung agar program ini sampai di kampung-kampung didistribusi semua. Harus kita ikuti program pemerintah masa sekarang ini. Untuk mendukung kita orang-orang Papua, untuk memajukan orang Papua ke depan,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa dengan adanya MBG, Papua tidak boleh lagi merasa tertinggal. Sebaliknya, inilah saatnya Papua bangkit dan menatap masa depan lebih cerah.

“Anak-anak kita akan sehat dan pikiran mereka akan maju. Mereka akan menjadi orang-orang pintar di atas tanah kita sendiri. Itu yang saya imbaukan agar program Bapak Presiden ini kami mendukung sepenuhnya. Terima kasih,” pungkas Nikolas Demetouw.

Kehadiran program MBG di Papua menjadi momentum penting untuk kebangkitan generasi baru. Dengan dukungan penuh dari masyarakat, Papua kini melangkah maju bersama seluruh bangsa menuju masa depan yang lebih adil, sehat, dan sejahtera.