Penguatan Rupiah dan IHSG Menjadi Sinyal Positif Pemulihan Kepercayaan Pasar

Jakarta – Penguatan nilai tukar rupiah dan lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir menjadi sinyal positif bagi pemulihan kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.

Perbaikan ini menunjukkan respons positif investor terhadap berbagai langkah stabilisasi yang ditempuh pemerintah dan otoritas terkait.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menilai penguatan IHSG terjadi setelah berbagai isu yang sebelumnya menjadi perhatian investor mendapatkan penjelasan yang memadai.

Selain itu, munculnya wacana buyback saham tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) turut memberikan sentimen positif bagi pasar.

“Alhamdulillah (IHSG) rebound. Dan kita lihat juga beberapa hal yang kemudian menjadi pertanyaan dari investor, sudah disampaikan. Dan juga kita melihat upaya untuk buyback saham tanpa RUPS sudah mulai ada wacana untuk dilakukan,” ujar Friderica.

Menurut Friderica, tekanan yang sempat terjadi di pasar saham Indonesia bukan fenomena yang berdiri sendiri.

Sejumlah bursa saham di kawasan Asia juga mengalami koreksi yang cukup dalam, termasuk Korea Selatan yang sempat memberlakukan penghentian sementara perdagangan setelah indeks Kospi anjlok lebih dari 8,5 persen.

“Kalau kita lihat kemarin di Korea itu sampai trading halt karena sudah 8,5 persen lebih mereka turun dan juga bursa-bursa lainnya,” katanya.

Penguatan IHSG juga didukung tingginya aktivitas perdagangan. Pada penutupan perdagangan, volume transaksi mencapai 45,17 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp28,01 triliun dan frekuensi perdagangan lebih dari 2,7 juta kali transaksi.

Optimisme serupa disampaikan Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi. Ia menilai fase terburuk pasar saham Indonesia telah berlalu. Menurutnya, penguatan rupiah yang kembali bergerak di bawah Rp18.000 per dolar AS menjadi indikator penting membaiknya sentimen pasar.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai kenaikan IHSG merupakan perkembangan positif yang telah lama dinantikan pasar.

“Kenaikan IHSG ini merupakan sinyal positif yang telah lama dinantikan pasar, meskipun belum memadai untuk menyatakan bahwa seluruh persoalan telah teratasi,” ujarnya.

Meski masih terdapat sejumlah risiko global dan domestik yang perlu diwaspadai, Hendra menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka.

Ia menegaskan bahwa stabilitas rupiah, perbaikan sentimen global, serta kebijakan pemerintah yang mendukung investasi akan menjadi faktor penting dalam memperkuat pemulihan kepercayaan pasar pada paruh kedua 2026.

Rupiah Menguat di Tengah Gejolak Global, Bukti Ketahanan Ekonomi Nasional

Oleh: Abimanyu Putra S. )*

Penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu indikator penting yang menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika dan ketidakpastian global.

Di saat berbagai negara masih menghadapi tekanan pasar keuangan akibat gejolak geopolitik, perubahan arah kebijakan moneter dunia, dan perlambatan ekonomi global, Indonesia justru memperlihatkan kemampuan untuk menjaga stabilitas ekonomi melalui koordinasi kebijakan yang terukur dan responsif.

Pergerakan positif rupiah tidak berdiri sendiri. Penguatan mata uang nasional berlangsung bersamaan dengan membaiknya kinerja pasar modal yang ditandai oleh rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kondisi ini mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia setelah sempat mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa penguatan IHSG didorong oleh sejumlah sentimen positif yang berhasil mengurangi kekhawatiran pelaku pasar.

Menurut Friderica, berbagai isu yang sebelumnya menjadi perhatian investor telah mendapatkan penjelasan yang memadai dari otoritas sehingga membantu mengembalikan optimisme terhadap pasar keuangan domestik.

Selain itu, wacana pelaksanaan buyback saham tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham juga memperoleh respons positif dari investor. Kebijakan tersebut dinilai mampu memperkuat stabilitas pasar serta memberikan ruang bagi emiten untuk menjaga nilai sahamnya di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi.

Friderica menegaskan bahwa tekanan yang sebelumnya dialami pasar saham Indonesia bukan fenomena yang terjadi secara khusus di dalam negeri. Sejumlah bursa saham di kawasan Asia juga mengalami koreksi yang cukup tajam. Bahkan, pasar saham Korea Selatan sempat mengalami penghentian sementara perdagangan setelah indeksnya turun lebih dari delapan persen dalam satu hari perdagangan.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi sebelumnya lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan persoalan fundamental ekonomi Indonesia. Karena itu, ketika sentimen global mulai membaik dan langkah-langkah stabilisasi dijalankan secara efektif, pasar domestik mampu menunjukkan pemulihan yang relatif cepat.

Kembalinya optimisme investor terlihat dari tingginya aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Volume transaksi yang meningkat menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai kembali memanfaatkan peluang investasi di tengah valuasi saham yang dinilai menarik.

Pandangan serupa disampaikan oleh Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi. Ia menilai fase terburuk yang sempat dialami pasar saham Indonesia telah berlalu. Salah satu indikator yang mendukung pandangan tersebut adalah penguatan rupiah yang berhasil kembali bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat setelah sebelumnya sempat menembus Rp18.200 per dolar AS.

Menurut Prasetya, penguatan rupiah tidak terlepas dari respons kebijakan Bank Indonesia yang semakin tegas dalam menjaga stabilitas pasar keuangan. Kenaikan suku bunga acuan secara kumulatif serta langkah-langkah moneter lainnya berhasil meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset-aset keuangan Indonesia.

Selain faktor moneter, terdapat pula sejumlah kebijakan ekonomi yang berpotensi memperkuat fundamental eksternal Indonesia. Upaya meningkatkan arus devisa melalui pengelolaan sektor pertambangan yang lebih baik dinilai dapat memberikan kontribusi positif terhadap stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah dan panjang.

Dari sisi fiskal, pengelolaan anggaran yang lebih efisien juga menjadi faktor pendukung. Langkah-langkah rasionalisasi program dan penguatan efektivitas belanja negara membantu menjaga persepsi positif pasar terhadap kondisi ekonomi nasional.

Kepercayaan investor juga tercermin dari kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik. Setelah beberapa waktu mengalami tekanan arus keluar modal, pasar Indonesia mulai mencatat arus masuk dana asing bersih. Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa investor internasional mulai melihat peluang yang lebih menarik pada instrumen keuangan Indonesia.

Prasetya menilai valuasi pasar saham Indonesia saat ini berada pada level yang relatif murah dibandingkan rata-rata historisnya. Situasi tersebut membuka ruang pemulihan yang cukup besar apabila stabilitas ekonomi terus terjaga dan sentimen global semakin kondusif.

Optimisme terhadap pasar domestik juga disampaikan oleh Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor, Hendra Wardana. Menurutnya, penguatan IHSG merupakan sinyal positif yang menunjukkan dimulainya proses pemulihan kepercayaan pasar setelah periode tekanan yang cukup panjang.

Hendra menilai penguatan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal seperti kebijakan buyback saham, tetapi juga didukung oleh membaiknya kondisi eksternal. Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberikan dampak positif terhadap sentimen pasar global dan mendorong peningkatan minat terhadap aset berisiko di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun demikian, Hendra melihat peluang penguatan pasar masih terbuka. Menurutnya, apabila pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat konsumsi domestik, dan menghadirkan kebijakan yang mendukung investasi, maka tren pemulihan pasar berpotensi berlanjut pada paruh kedua tahun 2026.

Perkembangan rupiah yang kembali menguat di tengah gejolak global menjadi bukti bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap memiliki daya tahan yang baik. Ketika banyak negara menghadapi tekanan akibat ketidakpastian eksternal, Indonesia mampu menunjukkan kemampuan beradaptasi melalui kombinasi kebijakan moneter, fiskal, dan sektor keuangan yang saling mendukung.

*) Analis Ekonomi Makro

Pasokan Energi Terjaga, Pemerintah Pastikan Stok BBM Subsidi dalam Kondisi Aman

Oleh: M. Farhan Hidayat
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan menggunakan bahan bakar secara bijak karena pemerintah bersama PT Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan energi nasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite, berada dalam kondisi aman. Kepastian ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah potensi meningkatnya konsumsi masyarakat setelah adanya penyesuaian harga BBM nonsubsidi Pertamax.

PT Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa stok Pertalite masih mencukupi kebutuhan masyarakat di seluruh Indonesia. Distribusi BBM subsidi tersebut juga dipastikan berjalan sesuai dengan penugasan yang diberikan pemerintah. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat yang berhak tetap dapat memperoleh akses terhadap BBM bersubsidi, sekaligus menjaga keberlangsungan program subsidi energi yang selama ini menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung aktivitas masyarakat.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa perusahaan terus melakukan pemantauan terhadap stok dan penyaluran BBM secara real time. Menurutnya, upaya tersebut dilakukan agar kebutuhan energi masyarakat di berbagai wilayah dapat terpenuhi secara optimal. Roberth MV Dumatubun menyampaikan bahwa selain memastikan stok Pertalite tersedia dan distribusi ke seluruh SPBU berlangsung normal, Pertamina Patra Niaga juga terus memonitor kondisi pasokan serta penyaluran BBM di seluruh Indonesia sehingga kebutuhan masyarakat dapat terlayani dengan baik.

Langkah antisipasi juga telah dipersiapkan oleh Pertamina Patra Niaga untuk menghadapi kemungkinan meningkatnya permintaan Pertalite di sejumlah daerah. Perusahaan terus memperkuat koordinasi dengan berbagai unit operasional maupun pemangku kepentingan terkait guna memastikan distribusi BBM berjalan tanpa hambatan. Upaya tersebut dinilai penting mengingat konsumsi BBM dapat mengalami perubahan seiring dengan dinamika harga energi di pasar domestik.

Dalam menjaga ketahanan energi nasional, Pertamina Patra Niaga mengandalkan berbagai infrastruktur yang telah tersedia. Terminal BBM, fasilitas penyimpanan, armada distribusi, serta sistem pemantauan terintegrasi menjadi faktor penting yang mendukung kelancaran penyaluran energi kepada masyarakat. Dengan dukungan sarana tersebut, perusahaan optimistis pasokan BBM nasional dapat terus terjaga meskipun terjadi peningkatan kebutuhan di beberapa wilayah.

Roberth MV Dumatubun juga menegaskan bahwa apabila terdapat lonjakan konsumsi di daerah tertentu, Pertamina akan segera memperkuat distribusi guna menjaga ketersediaan Pertalite. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bentuk kesiapsiagaan perusahaan dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan BBM di lapangan.

Selain memastikan kelancaran distribusi, Pertamina Patra Niaga juga mengajak masyarakat untuk menggunakan energi secara lebih bijaksana. Roberth MV Dumatubun mengimbau masyarakat agar membeli BBM sesuai kebutuhan, memperhatikan peruntukan penggunaannya, serta menyesuaikan jenis bahan bakar dengan kendaraan yang dimiliki. Imbauan tersebut dianggap penting untuk mendukung efisiensi penggunaan energi sekaligus menjaga keberlanjutan program subsidi yang disiapkan pemerintah.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui adanya potensi perpindahan konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite setelah harga BBM nonsubsidi RON 92 mengalami kenaikan sebesar 32 persen menjadi Rp16.250 per liter. Kondisi tersebut diperkirakan dapat memengaruhi tingkat permintaan Pertalite dalam beberapa waktu mendatang sehingga diperlukan langkah-langkah antisipatif dari pemerintah dan badan usaha yang bertugas menyalurkan BBM.

Menghadapi situasi tersebut, pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi mitigasi guna memastikan distribusi BBM subsidi tetap berjalan tepat sasaran. Kebijakan tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga keberlanjutan subsidi energi agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang berhak menerimanya.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa sistem MyPertamina yang menggunakan QR Code masih menjadi instrumen utama dalam mengawasi penyaluran BBM subsidi. Menurut Dwi Anggia, pemerintah terus memanfaatkan teknologi digital untuk memastikan proses distribusi berjalan secara lebih terukur dan akuntabel. Sistem tersebut juga diharapkan dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan BBM subsidi oleh pihak-pihak yang tidak berhak.

Tidak hanya itu, pemerintah juga berkomitmen memperketat pengawasan terhadap berbagai praktik penyalahgunaan BBM subsidi di lapangan. Dwi Anggia menyampaikan bahwa langkah antisipasi dan mitigasi terus dilakukan. Ia menjelaskan bahwa akses pembelian BBM subsidi saat ini menggunakan QR Code, sementara Menteri ESDM telah meminta Pertamina bersama pihak terkait untuk meningkatkan pengawasan di berbagai daerah.

Kebijakan pengawasan yang diperkuat tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memastikan subsidi energi dapat dinikmati oleh kelompok masyarakat yang memang membutuhkan. Selama setahun terakhir, pemerintah dinilai berhasil menjaga stabilitas distribusi energi nasional melalui berbagai kebijakan pengawasan, peningkatan koordinasi antarlembaga, serta pemanfaatan teknologi dalam sistem penyaluran BBM subsidi. Keberhasilan tersebut menjadi modal penting dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah tantangan ekonomi dan dinamika kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

Di sisi lain, kepastian mengenai ketersediaan stok Pertalite memberikan rasa tenang bagi masyarakat. Dengan sistem distribusi yang terus dipantau dan berbagai langkah mitigasi yang telah dipersiapkan, Pertamina Patra Niaga optimistis kebutuhan BBM masyarakat dapat terpenuhi meskipun terdapat potensi peningkatan konsumsi akibat kenaikan harga Pertamax. Optimisme tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah dan badan usaha terkait memiliki kesiapan dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Pada akhirnya, terjaganya pasokan BBM nasional merupakan faktor penting dalam mendukung aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat sehari-hari. Karena itu, masyarakat diharapkan dapat mendukung upaya pemerintah dengan menggunakan energi secara bijaksana dan memanfaatkan BBM sesuai peruntukannya. Dengan kolaborasi antara pemerintah, Pertamina, dan masyarakat, ketahanan energi nasional diharapkan dapat terus terjaga sehingga manfaat subsidi benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.

*) Peneliti Kebijakan Publik dan Energi

Pemerintah Perpanjang Penyaluran Bantuan Beras 10 Kg Selama Tiga Bulan

Jakarta – Pemerintah kembali melanjutkan program bantuan pangan berupa beras untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah potensi kenaikan harga kebutuhan pokok. Bantuan beras sebanyak 10 kilogram per bulan akan diberikan selama tiga bulan kepada jutaan keluarga penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengatakan kebijakan tersebut diambil sebagai tindak lanjut arahan Presiden guna memastikan masyarakat tetap terlindungi dari dampak kenaikan harga pangan yang berpotensi terjadi saat memasuki musim kemarau.

“Memasuki periode musim kemarau dan mempertimbangkan perkembangan situasi terkini, sesuai petunjuk Bapak Presiden, pemerintah ingin memastikan harga kebutuhan pokok tetap terkendali dan tidak membebani masyarakat. Oleh sebab itu, masa penyaluran bantuan pangan beras diperpanjang menjadi tiga bulan,” ujar Zulkifli Hasan.

Ia menjelaskan bantuan akan mulai disalurkan pada Juli 2026 dengan alokasi 10 kilogram beras per bulan kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat. Pelaksanaan program akan dikoordinasikan oleh Kementerian Sosial bersama instansi terkait.

Meski demikian, pemerintah masih akan mengevaluasi penyaluran pada Agustus dan September dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi musim, kebutuhan masyarakat, dan ketersediaan pasokan beras nasional.

“Penyaluran untuk bulan Juli sudah dipastikan terlaksana. Sementara untuk bulan-bulan berikutnya akan diputuskan setelah melihat perkembangan situasi dan kebutuhan masyarakat di lapangan,” katanya.

Zulkifli Hasan memperkirakan kebutuhan beras untuk program tersebut mencapai sekitar 1 juta ton. Namun, ia memastikan stok beras nasional masih mencukupi.

“Cadangan beras nasional saat ini berada di kisaran 5,2 juta ton sehingga masih sangat cukup untuk mendukung pelaksanaan program bantuan pangan tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas harga beras, termasuk mempercepat penyaluran bantuan pangan dan distribusi beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

“Hingga awal Juni 2026, persediaan beras yang berada dalam pengelolaan Bulog telah mencapai sekitar 5,3 juta ton. Jumlah tersebut lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan bantuan pangan, program SPHP, maupun berbagai kebijakan intervensi pemerintah,” kata Ahmad Rizal.

Hingga Juni 2026, realisasi penyaluran bantuan pangan beras telah mendekati 60 persen atau diterima hampir 20 juta penerima dari target 33,2 juta penerima. Selain itu, Bulog telah menyalurkan sekitar 315 ribu ton beras SPHP melalui pasar tradisional, kios pangan, pengecer mitra pemerintah daerah, dan Gerakan Pangan Murah.

“Beras SPHP menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam menjaga akses masyarakat terhadap beras dengan harga yang terjangkau,” tambahnya.

Ahmad Rizal juga mengimbau masyarakat tetap tenang karena stok beras nasional berada dalam kondisi aman dan pemerintah akan terus menjaga stabilitas pasokan serta harga pangan di seluruh wilayah Indonesia.

Subsidi Beras 10 Kg Diperpanjang Pemerintah demi Jangkau 33 Juta KPM

Jakarta – Pemerintah memperpanjang program bantuan pangan berupa beras 10 kilogram dengan menambah masa penyaluran menjadi tiga bulan pada tahun 2026. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan sekitar 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) tetap memperoleh kebutuhan pangan pokok di tengah ketidakpastian ekonomi dan potensi kenaikan harga bahan pangan.

Keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Melalui program ini, setiap keluarga penerima manfaat akan menerima bantuan beras sebanyak 10 kilogram pada setiap tahap distribusi. Pemerintah menilai langkah tersebut penting untuk memperkuat perlindungan sosial bagi masyarakat rentan serta menjaga stabilitas harga pangan nasional.

Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa tambahan bantuan pangan diberikan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang berpotensi memengaruhi produksi pangan di sejumlah wilayah. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan menjaga harga kebutuhan pokok agar tetap terkendali dan tidak membebani masyarakat.

“Pemerintah memperkirakan musim kemarau akan segera berlangsung dan perkembangan kondisi pangan terus dipantau. Sesuai arahan Presiden, harga kebutuhan pokok harus tetap terkendali dan masyarakat tidak boleh merasakan kesulitan akibat kenaikan harga. Karena itu, bantuan pangan beras diputuskan untuk diperpanjang selama tiga bulan,” ujar Zulkifli Hasan.

Penyaluran tahap pertama dijadwalkan dimulai pada Juli 2026. Sementara dua tahap berikutnya akan disesuaikan dengan kondisi pangan nasional dan potensi masa paceklik di berbagai daerah. Untuk mendukung program tersebut, pemerintah menyiapkan hampir satu juta ton beras.

“Jika dihitung untuk tiga kali distribusi dengan alokasi 10 kilogram bagi 33,2 juta keluarga penerima manfaat, kebutuhan berasnya mendekati satu juta ton. Langkah ini dilakukan agar hampir 34 juta warga yang tergolong rentan tetap terlindungi dari dampak perubahan nilai tukar maupun tekanan ekonomi lainnya,” katanya.

Kebijakan ini juga mendapat dukungan dari Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa.

“Badan Pangan Nasional mendukung penuh langkah pemerintah dalam menjaga kestabilan pangan masyarakat. Program bantuan pangan menjadi salah satu upaya untuk memastikan pasokan pangan tetap tersedia serta memberikan perlindungan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan,” ujar Ketut Astawa.

Melalui program ini, pemerintah berharap kebutuhan pangan masyarakat rentan tetap terpenuhi serta stabilitas harga pangan nasional dapat terus terjaga sepanjang tahun 2026.

Bansos Beras Presiden Jadi Bantuan Strategis bagi Keluarga Penerima

Oleh: Andika Prasetyo
Komitmen pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat kembali diperkuat melalui kebijakan penambahan bantuan pangan beras bagi puluhan juta keluarga penerima manfaat di seluruh Indonesia. Di tengah tantangan ekonomi global, perubahan iklim, dan potensi kenaikan harga kebutuhan pokok, langkah ini menjadi strategi penting untuk memastikan masyarakat berpenghasilan rendah tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Kebijakan tersebut sekaligus menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada kelompok rentan agar tidak terdampak gejolak ekonomi yang dapat memengaruhi kesejahteraan rumah tangga.

Pemerintah memutuskan menambah alokasi bantuan pangan beras selama tiga periode penyaluran kepada sekitar 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Setiap keluarga akan menerima 10 kilogram beras pada setiap tahap penyaluran. Program ini diperkirakan membutuhkan sekitar satu juta ton beras untuk mendukung pelaksanaannya.

Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Koordinasi Terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden yang menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok sekaligus melindungi masyarakat dari tekanan ekonomi yang berpotensi muncul akibat berbagai faktor, baik domestik maupun global.

Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa pemerintah ingin memastikan harga bahan pokok tetap terkendali meskipun Indonesia akan memasuki musim kemarau yang berpotensi memengaruhi kondisi pangan nasional. Menurutnya, Presiden memberikan arahan agar tidak ada kebijakan yang membuat masyarakat semakin terbebani. Karena itu, pemerintah memutuskan memperpanjang bantuan pangan beras selama tiga bulan tambahan sebagai bentuk perlindungan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.

Kebijakan tersebut juga ditujukan untuk menjaga ketahanan pangan rumah tangga berpenghasilan rendah. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi nilai tukar yang dapat memengaruhi harga berbagai komoditas, bantuan beras menjadi instrumen penting untuk mengurangi beban pengeluaran masyarakat. Dengan cakupan penerima yang mencapai lebih dari 33 juta keluarga, program ini diharapkan mampu menjaga stabilitas konsumsi pangan sekaligus memperkuat daya beli kelompok rentan.

Penyaluran bantuan dijadwalkan mulai berlangsung pada Juli 2026. Sementara dua tahap berikutnya akan disesuaikan dengan kondisi musim paceklik dan perkembangan situasi pangan nasional. Pemerintah menilai pendekatan tersebut penting agar bantuan dapat diberikan pada waktu yang paling dibutuhkan masyarakat.

Dari sisi kesiapan stok dan distribusi, pemerintah memastikan seluruh kebutuhan program telah dipersiapkan dengan baik. Direktur Utama Perum Bulog Letnan Jenderal TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan bahwa berbagai langkah strategis telah dilakukan untuk mengantisipasi dinamika harga beras di sejumlah daerah. Upaya tersebut mencakup percepatan distribusi bantuan pangan serta optimalisasi penyaluran beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke pasar-pasar rakyat.

Menurut Ahmad Rizal Ramdhani, kombinasi antara bantuan pangan dan distribusi beras SPHP menjadi langkah efektif untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga di pasar domestik. Melalui strategi tersebut, masyarakat diharapkan tetap dapat memperoleh beras dengan harga yang terjangkau sekaligus mendukung stabilitas pangan nasional.

Ketersediaan stok nasional menjadi faktor utama yang memperkuat keyakinan pemerintah dalam menjalankan program ini. Hingga awal Juni 2026, cadangan beras yang dikelola Bulog mencapai sekitar 5,3 juta ton. Jumlah tersebut dinilai sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan bantuan pangan, pelaksanaan program SPHP, serta berbagai intervensi pemerintah guna menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di seluruh Indonesia.

Realisasi penyaluran bantuan juga menunjukkan perkembangan yang positif. Hingga 6 Juni 2026, distribusi bantuan pangan beras telah mencapai hampir 60 persen dari target nasional dan telah diterima oleh hampir 20 juta penerima bantuan pangan. Pemerintah menargetkan seluruh sisa alokasi bantuan dapat tersalurkan sebelum akhir Juni sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat dan mampu mendukung penguatan daya beli.

Selain bantuan pangan, Bulog juga terus memperluas distribusi beras SPHP. Hingga saat ini, penyalurannya telah mencapai sekitar 315 ribu ton melalui berbagai jalur resmi, termasuk pasar tradisional, kios pangan, jaringan pengecer yang bekerja sama dengan pemerintah daerah, serta kegiatan Gerakan Pangan Murah di berbagai wilayah. Program tersebut bertujuan memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap beras berkualitas dengan harga yang terjangkau.

Keberhasilan pemerintah selama setahun terakhir menjadi modal penting dalam mendukung pelaksanaan program ini. Produksi pangan nasional menunjukkan tren yang positif, cadangan beras pemerintah berada pada level yang kuat, inflasi pangan relatif terkendali, dan berbagai program bantuan sosial terus diperkuat. Pemerintah juga berhasil menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tantangan global melalui kebijakan yang berfokus pada perlindungan masyarakat rentan, penguatan sektor pertanian, dan peningkatan efektivitas distribusi pangan.

Dengan dukungan stok beras yang besar serta jaringan distribusi yang luas, pemerintah optimistis kebutuhan pangan masyarakat tetap dapat terpenuhi. Bulog bersama Badan Pangan Nasional dan berbagai pemangku kepentingan terus memperkuat koordinasi guna memastikan stabilitas harga tetap terjaga dan pasokan pangan tersedia secara memadai di seluruh wilayah Indonesia.

Pada akhirnya, tambahan bantuan pangan beras merupakan langkah strategis pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus melindungi kesejahteraan masyarakat. Program ini diharapkan mampu membantu keluarga penerima manfaat menghadapi berbagai tantangan ekonomi, menjaga daya beli, dan memastikan kebutuhan pangan tetap terpenuhi. Dukungan seluruh pihak diperlukan agar penyaluran bantuan berjalan tepat sasaran dan manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat yang membutuhkan.

*) Peneliti Ekonomi Pangan dan Pembangunan Daerah

Bansos Beras Presiden Bantu Ringankan Beban Masyarakat

Oleh: Fajar Nugroho
Pemerintah kembali memperkuat perlindungan sosial bagi masyarakat melalui penambahan program bantuan pangan beras pada tahun 2026. Kebijakan ini menjadi langkah strategis untuk membantu masyarakat rentan menghadapi tekanan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas harga pangan nasional. Sebanyak 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) akan menerima bantuan beras sebanyak 10 kilogram pada setiap tahap penyaluran yang direncanakan berlangsung selama tiga bulan. Program tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap terpenuhi di tengah berbagai tantangan ekonomi dan ancaman musim kemarau yang berpotensi memengaruhi produksi pangan.

Kebijakan penambahan bantuan pangan beras diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Pemerintah menilai langkah tersebut perlu dilakukan untuk mengantisipasi dampak musim kemarau sekaligus menjaga agar harga kebutuhan pokok tetap terkendali. Menurut Zulkifli Hasan, Presiden mengarahkan agar masyarakat tidak mengalami kesulitan akibat kenaikan harga bahan pokok maupun tekanan ekonomi lainnya. Oleh karena itu, bantuan pangan beras ditambah selama tiga bulan guna memberikan perlindungan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat. Ketika harga pangan berpotensi mengalami kenaikan akibat faktor cuaca maupun kondisi ekonomi global, bantuan beras diharapkan dapat membantu rumah tangga memenuhi kebutuhan dasar tanpa harus menanggung beban tambahan. Kebijakan tersebut sekaligus menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi di tingkat masyarakat.

Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa penyaluran bantuan tahap pertama akan dimulai pada Juli 2026. Sementara dua tahap berikutnya akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi pangan nasional dan potensi musim paceklik di sejumlah wilayah. Dengan jumlah penerima mencapai 33,2 juta keluarga, kebutuhan beras yang harus disiapkan pemerintah diperkirakan hampir mencapai satu juta ton selama seluruh periode distribusi. Besarnya alokasi tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melindungi masyarakat dari dampak ketidakpastian ekonomi maupun gejolak harga pangan.

Dukungan terhadap kebijakan ini juga datang dari Badan Pangan Nasional. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa bantuan pangan merupakan salah satu instrumen penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Menurutnya, program bantuan pangan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga berfungsi menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di pasar.

I Gusti Ketut Astawa menilai keberadaan bantuan pangan sangat penting untuk memastikan kelompok masyarakat rentan tetap mendapatkan akses terhadap bahan pangan yang cukup. Selain itu, distribusi bantuan juga dapat menjadi alat pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasar sehingga gejolak harga dapat diminimalkan. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima bantuan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap stabilitas ekonomi secara lebih luas.

Keberhasilan program bantuan pangan selama tahun 2026 juga terlihat dari realisasi distribusi yang telah dilakukan sebelumnya. Berdasarkan data hingga 9 Juni 2026, penyaluran bantuan pangan untuk periode Februari-Maret telah mencapai 62,16 persen dari target nasional. Sebanyak 20,6 juta keluarga telah menerima manfaat dari program tersebut. Dalam periode yang sama, pemerintah berhasil mendistribusikan sekitar 413.300 ton beras dan 82.600 kiloliter minyak goreng ke berbagai daerah di Indonesia.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa program bantuan pangan masih menjadi instrumen yang efektif dalam menjaga ketahanan sosial masyarakat. Di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang, bantuan pangan terbukti mampu membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok sekaligus menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga. Program ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mencegah meningkatnya kerentanan sosial akibat tekanan ekonomi.

Selama setahun terakhir, pemerintah juga mencatat sejumlah keberhasilan dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat. Berbagai kebijakan berhasil menjaga inflasi tetap terkendali, memperkuat cadangan pangan nasional, memperluas jangkauan bantuan sosial, serta meningkatkan efektivitas distribusi logistik ke berbagai daerah. Selain itu, pemerintah terus memperkuat program perlindungan sosial melalui bantuan pangan, bantuan tunai, subsidi energi, dan berbagai kebijakan yang bertujuan menjaga daya beli masyarakat.

Dalam bidang ketahanan pangan, pemerintah terus melakukan berbagai langkah strategis, mulai dari penguatan cadangan pangan pemerintah hingga stabilisasi pasokan dan harga komoditas penting. Berbagai upaya tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan terjangkau. Langkah ini menjadi penting mengingat ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sosial nasional.

Penambahan bantuan pangan beras selama tiga bulan pada tahun 2026 menunjukkan komitmen pemerintah dalam melindungi masyarakat yang membutuhkan. Kebijakan ini tidak hanya membantu meringankan beban ekonomi jutaan keluarga rentan, tetapi juga berperan menjaga stabilitas harga pangan dan memperkuat ketahanan sosial nasional. Karena itu, dukungan seluruh pihak diperlukan agar distribusi bantuan dapat berjalan tepat sasaran dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, upaya menjaga ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan rakyat diharapkan dapat terus berlanjut demi terciptanya Indonesia yang lebih kuat, sejahtera, dan berkeadilan.
*) Analis Ekonomi Kerakyatan

Tata Ulang Program MBG, Pemerintah Pastikan Layanan Gizi Lebih Tepat Sasaran

Jakarta — Pemerintah terus melakukan penyempurnaan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna memastikan manfaat program diterima secara optimal oleh kelompok sasaran. Penataan ulang program dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan, memperkuat tata kelola, serta memastikan distribusi bantuan gizi berjalan efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.

Program MBG merupakan salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya bagi peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Melalui program ini, pemerintah berupaya menekan angka stunting, meningkatkan kesehatan masyarakat, serta mendukung tumbuh kembang generasi muda yang sehat dan produktif.

Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang menegaskan komitmennya untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis melalui penguatan tata kelola, efisiensi anggaran, penajaman sasaran penerima manfaat, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang tersedia. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan program berjalan lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

“Fokus kami saat ini adalah memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami melakukan penataan pelaksanaan program agar kualitas layanan dapat terus ditingkatkan,” ujar Nanik.

Dalam proses penataan ulang, pemerintah memperkuat sistem verifikasi dan validasi data penerima manfaat agar bantuan benar-benar menjangkau kelompok yang membutuhkan. Pemanfaatan teknologi digital juga ditingkatkan untuk mendukung akurasi data, mempercepat pelaporan, serta memudahkan pemantauan pelaksanaan program di berbagai daerah.

Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, menyampaikan bahwa penguatan tata kelola akan dilakukan melalui peningkatan sistem pengendalian internal, integrasi data, validasi informasi, serta pengembangan sistem yang lebih terstruktur dan terukur.

“Tata kelola yang baik harus dibangun melalui sistem yang kuat sehingga pelaksanaan program dapat berjalan secara akuntabel, transparan, dan berkelanjutan.”

Selain memperkuat tata kelola, pemerintah juga meningkatkan koordinasi antarinstansi, memperketat pengawasan kualitas pangan, serta menyempurnakan mekanisme distribusi makanan. Melalui berbagai langkah penyempurnaan tersebut, pemerintah optimistis Program MBG akan semakin efektif dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, memperkuat pembangunan sumber daya manusia, serta mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Pemerintah Siapkan Penambahan Ahli Gizi dan Dokter Perkuat Standar Mutu Program MBG

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyiapkan penambahan tenaga ahli gizi dan dokter dalam struktur Badan Gizi Nasional (BGN). Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai standar kesehatan dan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang mengatakan dewan pengarah dalam struktur organisasi BGN akan diisi oleh kalangan profesional yang memiliki kompetensi di bidang kesehatan dan gizi. Kehadiran para pakar tersebut diharapkan mampu memberikan panduan strategis dalam penyelenggaraan program MBG secara berkelanjutan.

“Baik di SOTK dari BGN ada dewan pengarah di dewan pengarah akan kami isi dengan profesi ahli gizi dan dokter anak nanti yang akan meng-guideline kami mungkin di antara tujuh orang itu, lima dari pakar gizi,” ujar Nanik.

Menurutnya, penguatan sumber daya manusia penting dalam upaya meningkatkan kualitas layanan gizi nasional. Selain membentuk dewan pengarah yang diisi para ahli, BGN juga akan melakukan refocusing penerima manfaat agar bantuan gizi lebih tepat sasaran dan diprioritaskan bagi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

BGN juga akan memperketat pengawasan terhadap kualitas makanan dan operasional dapur penyedia MBG melalui sistem penilaian dan grading terhadap seluruh fasilitas yang telah beroperasi. Mekanisme tersebut diharapkan dapat menjaga standar keamanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas layanan di setiap daerah.

Upaya pembenahan tersebut mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kesehatan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan pihaknya siap mendukung empat langkah strategis yang disiapkan BGN dalam menata ulang pelaksanaan Program MBG.

Empat langkah tersebut meliputi refocusing penerima manfaat, moratorium pembangunan dapur baru, pembenahan dapur yang telah beroperasi, serta penyusunan skema baru pelaksanaan MBG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Silakan siapa pun yang dipilih, kami menyiapkan yang terbaik, silakan Ibu yang memutuskan,” kata Menteri Budi Gunadi Sadikin.

Kementerian Kesehatan telah menyiapkan tenaga ahli kesehatan dan gizi anak yang dapat dilibatkan dalam pelaksanaan program. Sinergi antarinstansi ini diharapkan mampu memperkuat sistem pengawasan sekaligus memastikan setiap menu yang disajikan memenuhi standar gizi dan keamanan pangan.

Dengan penguatan kelembagaan, dukungan tenaga profesional, serta evaluasi menyeluruh terhadap operasional dapur, pemerintah optimistis Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang lebih besar dalam meningkatkan kualitas kesehatan serta pemenuhan gizi masyarakat Indonesia. (*)

Menata MBG, Menjaga Masa Depan Generasi Bangsa

Oleh : Deka Dirgantara*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu langkah strategis pemerintah dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini. Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan anak-anak sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi, mulai dari stunting, kekurangan gizi, hingga kesenjangan akses makanan sehat, MBG hadir sebagai upaya nyata untuk memastikan setiap anak mendapatkan asupan nutrisi yang memadai. Karena itu, menata pelaksanaan MBG dengan baik bukan sekadar urusan distribusi makanan, melainkan bagian penting dalam menjaga masa depan generasi bangsa.

Ketersediaan makanan bergizi memiliki hubungan langsung dengan perkembangan fisik dan kemampuan belajar anak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang memperoleh nutrisi cukup cenderung memiliki daya konsentrasi lebih baik, tingkat kehadiran sekolah yang lebih tinggi, serta kemampuan berpikir yang lebih optimal. Sebaliknya, kekurangan gizi dapat berdampak pada perkembangan otak, pertumbuhan tubuh, hingga produktivitas ketika mereka dewasa. Dalam konteks ini, MBG menjadi instrumen penting untuk membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat sekaligus mengurangi risiko gangguan pertumbuhan yang masih menjadi perhatian di berbagai daerah.

Namun, keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang dibagikan setiap hari. Kualitas menu menjadi faktor yang sangat penting. Makanan yang diberikan harus memenuhi standar gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, vitamin, mineral, serta kebutuhan energi sesuai usia anak. Penyusunan menu juga perlu memperhatikan variasi bahan pangan agar tidak menimbulkan kejenuhan sekaligus mendukung kecukupan nutrisi. Dengan pengelolaan yang baik, MBG dapat menjadi sarana edukasi bagi anak-anak untuk mengenal pola makan sehat sejak dini, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada program semata tetapi juga membentuk kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.

Direktur Political and Public Policy Studies, Jerry Massie menjelaskan selain aspek kualitas, tata kelola dan pengawasan menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan program. Sistem distribusi harus dirancang secara transparan dan akuntabel agar makanan yang disiapkan benar-benar sampai kepada penerima manfaat dalam kondisi layak konsumsi. Pengawasan terhadap proses pengolahan, penyimpanan, hingga pengiriman makanan perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan standar keamanan pangan tetap terjaga. Kepercayaan masyarakat terhadap program akan semakin kuat apabila seluruh proses berjalan terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan menjelaskan program MBG juga memiliki potensi besar dalam menggerakkan perekonomian daerah. Kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar dapat melibatkan petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha mikro dan kecil sebagai bagian dari rantai pasok. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh siswa penerima makanan bergizi, tetapi juga oleh masyarakat yang terlibat dalam penyediaan bahan baku. Jika dikelola secara tepat, MBG dapat menjadi penggerak ekonomi lokal yang mendorong peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Partisipasi berbagai pihak menjadi faktor penting dalam menyukseskan program ini. Pemerintah memiliki peran dalam menyusun kebijakan, menyediakan anggaran, dan memastikan pengawasan berjalan efektif. Sementara itu, sekolah berperan sebagai pelaksana yang berinteraksi langsung dengan peserta didik. Orang tua juga memiliki kontribusi besar melalui dukungan terhadap pola makan sehat di rumah. Kolaborasi yang baik antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat akan menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Dengan kerja sama yang kuat, tujuan besar MBG akan lebih mudah tercapai.

Di tengah besarnya cakupan program, evaluasi berkelanjutan perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan MBG. Setiap tantangan yang muncul harus dijadikan bahan perbaikan agar kualitas layanan terus meningkat. Pengumpulan data mengenai status gizi siswa, tingkat kepuasan penerima manfaat, serta efektivitas distribusi dapat menjadi dasar untuk menyempurnakan kebijakan ke depan. Pendekatan yang adaptif akan membantu memastikan bahwa program tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan mampu memberikan dampak nyata dalam jangka panjang.

Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Fraksi Golkar, Bambang Soesatyo mengatakan menata MBG berarti menata fondasi masa depan Indonesia. Program ini bukan sekadar penyediaan makanan gratis, melainkan investasi besar dalam pembangunan manusia. Anak-anak yang tumbuh sehat hari ini akan menjadi generasi yang memimpin berbagai sektor pembangunan di masa depan.

Oleh karena itu, setiap upaya untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan MBG merupakan langkah penting dalam menjaga harapan bangsa. Dengan tata kelola yang baik, kualitas gizi yang terjamin, serta dukungan seluruh elemen masyarakat, MBG dapat menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju, sehat, dan berdaya saing di masa mendatang.

*) Penulis merupakan Ekonomi Makro dan Peneliti Kebijakan Fiskal