Swasembada Pangan 2025 Tercapai Lebih Cepat pada Era Pemerintahan Prabowo-Gibran

Jakarta – Pemerintah memastikan Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan lebih cepat dari target awal pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Capaian tersebut terutama ditopang oleh keberhasilan swasembada beras, seiring melonjaknya produksi nasional dan menguatnya stok cadangan pemerintah.

Sejak awal masa pemerintahan, Presiden Prabowo menargetkan swasembada beras dapat diraih dalam waktu empat tahun atau pada 2028.

Namun, ia mendorong percepatan kepada jajaran Kabinet Merah Putih dan seluruh pemangku kepentingan agar target tersebut bisa dicapai jauh lebih cepat.

“Kita juga sekarang di bidang pangan, ini salah satu prestasi kita yang sangat melegakan kita. Saya memberi waktu empat tahun untuk kita kembali swasembada beras, ternyata tim pangan kita berhasil insyaallah swasembada dalam satu tahun,” ujar Prabowo.

Pada Oktober 2025, Presiden mengungkapkan produksi beras nasional sepanjang Januari hingga Oktober 2025 telah mencapai 31.038.197 ton. Menurutnya, angka tersebut merupakan produksi tertinggi sepanjang sejarah Indonesia dan menjadi dasar percepatan target swasembada pangan.

“Ini adalah produksi tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia. Jadi ya boleh kita tegakkan kepala kita dengan penuh kehormatan. Saya kasih target empat tahun, mereka hasilkan dalam satu tahun,” kata Prabowo.

Selain produksi, Prabowo juga menyoroti penguatan stok cadangan beras pemerintah. Ia menyebut cadangan beras di gudang Perum Bulog telah mencapai 4,2 juta ton pada Juni 2025, angka tertinggi sepanjang sejarah nasional.

“Kita juga sekarang cadangan beras pemerintah di gudang Bulog mencapai 4,2 juta ton di bulan Juni 2025, juga tertinggi sepanjang sejarah NKRI,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan status swasembada pangan akan diumumkan pada awal Januari 2026.

Ia menyebut produksi beras sepanjang 2025 diproyeksikan mencapai 34,79 juta ton atau meningkat 4,17 juta ton, dengan stok beras nasional sekitar 3,7 juta ton.

Ketahanan Pangan Nasional Menguat Sepanjang 2025 pada Era Pemerintahan Prabowo Gibran

Oleh: Dita Permata Siwi )*

Ketahanan pangan nasional menunjukkan penguatan signifikan sepanjang 2025 pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran RakabumingRaka. Berbagai kebijakan strategis yang dijalankan pemerintah secara konsisten membuahkan hasil nyata, baik dari sisi produksi, ketersediaan stok, stabilitas harga, maupun peningkatan kesejahteraan pelaku utama sektor pangan. Pangan tidak lagi diposisikan sekadar sebagai komoditas, melainkan sebagai fondasi kedaulatan dan ketahanan nasional.

Pemerintah sejak awal menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan pangan harus bertumpu pada kekuatan produksi dalam negeri. Melalui Kementerian Pertanian, arah kebijakan difokuskan pada peningkatan produksi, perlindungan petani, serta penguatan cadangan pangan nasional. Pendekatan ini terbukti mampu menjaga pasokan beras tetap aman sepanjang 2025, sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor.

Salah satu instrumen penting yang dijalankan adalah kebijakan penetapan harga pembelian gabah di tingkat petani sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini menjadi bagian dari pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2025 tentang pengadaan dan pengelolaan gabah serta penyaluran cadangan beras pemerintah. Dengan harga yang lebih berpihak, petani memperoleh kepastian usaha sekaligus insentif untuk meningkatkan produksi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai capaian sektor pangan sepanjang 2025 merupakan hasil kerja kolektif yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan petani di lapangan. Ia menekankan bahwa kebijakan pangan yang dijalankan tidak semata-mata mengejar peningkatan stok, tetapi juga diarahkan untuk memperbaiki kesejahteraan petani sebagai tulang punggung ketahanan pangan nasional. Menurutnya, produksi yang meningkat harus berjalan seiring dengan harga yang adil dan akses pangan yang terjangkau bagi masyarakat.

Keberhasilan kebijakan tersebut tercermin dari berbagai indikator. Badan Pusat Statistik mencatat Nilai Tukar Petani pada September 2025 mencapai 124,36. Angka ini menunjukkan bahwa pendapatan petani berada jauh di atas biaya produksi, sebuah kondisi yang menandakan perbaikan kesejahteraan secara nyata. Pemerintah memandang peningkatan NTP sebagai bukti bahwa kebijakan pangan yang diterapkan tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga berkelanjutan.

Dari sisi persepsi publik, hasil survei Litbang Kompas pada Oktober 2025 menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap kebijakan pangan pemerintah. Mayoritas responden meyakini kenaikan harga gabah berdampak positif bagi kesejahteraan petani. Selain itu, sebagian besar masyarakat menilai beras SPHP yang disalurkan pemerintah memiliki kualitas baik dan harga terjangkau. Tingginya tingkat kepuasan publik ini memperkuat legitimasi kebijakan pangan nasional.

Penguatan ketahanan pangan pada 2025 juga tidak terbatas pada sektor pertanian konvensional. Pemerintah mendorong keterlibatan lintas sektor, termasuk melalui program ketahanan pangan di lembaga pemasyarakatan. Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan menjadikan program ini sebagai sarana pembinaan sekaligus kontribusi nyata terhadap pemenuhan kebutuhan pangan nasional.

Menteri Imigrasi dan Permasyarakatan, Agus Andrianto, melihat ketahanan pangan di lapas sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian warga binaan. Melalui pelibatan ribuan narapidana dalam kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan, pemerintah tidak hanya memperluas basis produksi pangan, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan produktif. Pendekatan ini diharapkan mampu mengikis stigma lapas semata sebagai tempat penghukuman dan mengubahnya menjadi ruang pembinaan yang bernilai ekonomi dan sosial.

Pulau Nusakambangan dijadikan proyek percontohan dalam program tersebut. Di kawasan ini, pemerintah mengembangkan lahan ketahanan pangan sekaligus mendirikan berbagai balai pelatihan kerja, mulai dari konveksi, pengolahan hasil pertanian, hingga produksi pupuk organik. Konsep ini dirancang agar satu program mampu memberikan banyak manfaat, baik bagi pembinaan warga binaan maupun bagi ketahanan pangan nasional.

Selain menghasilkan produk pangan, pembinaan di lapas juga mendorong tumbuhnya kegiatan usaha produktif yang terhubung dengan pasar. Sejumlah produk olahan berbasis sumber daya alam bahkan telah menembus pasar internasional. Pemerintah memandang keberhasilan ini sebagai bukti bahwa ketahanan pangan dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi kerakyatan dan peningkatan keterampilan sumber daya manusia.

Dukungan terhadap kebijakan pangan pemerintah juga datang dari parlemen. Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Ahmad Yohan, menilai bahwa dalam satu tahun terakhir, arah kebijakan pangan nasional menunjukkan hasil konkret di lapangan. Menurutnya, langkah pemerintah dalam menaikkan harga gabah, menjaga stabilitas pasokan, dan memperkuat koordinasi lintas lembaga telah memberikan dampak langsung bagi petani.

Ahmad Yohan berpandangan bahwa kebijakan pangan yang dijalankan pemerintah tidak hanya berhasil menjaga ketersediaan beras, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani. Ia mendorong agar kebijakan tersebut terus dilanjutkan secara konsisten dengan tetap berpegang pada prinsip keadilan, keberlanjutan, dan keberpihakan kepada petani. Fokus pada kesejahteraan petani, penguatan ketahanan pangan, dan keterjangkauan harga bagi masyarakat dinilai sebagai kunci menjaga stabilitas pangan nasional.

Secara keseluruhan, penguatan ketahanan pangan nasional sepanjang 2025 menunjukkan bahwa kepemimpinan pemerintahan Prabowo Gibran berhasil menghadirkan arah kebijakan yang jelas dan terukur. Dengan produksi yang meningkat, stok yang terjaga, kesejahteraan petani yang membaik, serta dukungan publik dan legislatif yang kuat, ketahanan pangan Indonesia memasuki fase yang lebih kokoh. Fondasi ini menjadi modal penting bagi pemerintah untuk melangkah lebih jauh menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan dan berdaulat.

)* Penulis adalah pengamat kebijakan publik

Capaian Swasembada Pangan 2025 Perkuat Kedaulatan Ekonomi pada Era Pemerintahan Prabowo Gibran

Oleh: Dani Pratama )*

Swasembada pangan menjadi pijakan awal yang menentukan arah pembangunan nasional pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sejak tahun pertama kepemimpinan, sektor pangan ditempatkan sebagai prioritas utama karena berkaitan langsung dengan stabilitas ekonomi, kemandirian bangsa, dan kesejahteraan rakyat. Sepanjang 2025, berbagai kebijakan strategis yang dijalankan pemerintah menunjukkan hasil nyata, terutama pada capaian swasembada beras yang memperkuat fondasi kedaulatan ekonomi nasional.

Pemerintah memandang swasembada pangan bukan sekadar target produksi, melainkan strategi jangka panjang untuk mengamankan kebutuhan dasar rakyat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar global. Dengan pendekatan tersebut, produksi komoditas utama didorong secara agresif melalui perbaikan tata kelola, penguatan insentif bagi petani, serta penataan ulang sistem distribusi. Fokus awal diarahkan pada beras sebagai komoditas strategis, sebelum dilanjutkan ke sumber protein dan komoditas pangan lainnya.

Pada 2025, pemerintahan Prabowo Gibran mengklaim keberhasilan mencapai swasembada beras, ditandai dengan penghentian impor komoditas tersebut. Capaian ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan hasil konsistensi kebijakan sejak awal tahun, termasuk penerbitan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang menegaskan optimalisasi penyerapan gabah dan beras petani lokal. Kebijakan ini memastikan hasil panen terserap maksimal, sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat petani dan konsumen.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menilai bahwa percepatan swasembada beras melampaui target awal yang ditetapkan presiden. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik, produksi beras nasional diperkirakan meningkat signifikan hingga jutaan ton sepanjang 2025. Kenaikan produksi tersebut berjalan seiring dengan penguatan cadangan beras pemerintah di Perum Bulog, yang mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Kondisi ini memberikan ruang fiskal dan kebijakan yang lebih luas bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas pangan nasional.

Selain produksi, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada faktor biaya produksi petani. Reformasi distribusi pupuk bersubsidi menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung swasembada pangan. Pada Oktober 2025, pemerintah menurunkan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi hingga 20 persen melalui efisiensi industri dan perbaikan tata kelola, tanpa menambah beban anggaran negara. Penurunan harga ini mencakup seluruh jenis pupuk utama yang digunakan petani, sehingga berdampak langsung pada penurunan biaya usaha tani.

Langkah tersebut memperkuat posisi petani sebagai pelaku utama swasembada pangan. Dengan biaya produksi yang lebih rendah dan kepastian penyerapan hasil panen, petani memiliki insentif yang lebih kuat untuk meningkatkan produktivitas. Pemerintah memandang keberpihakan semacam ini sebagai prasyarat mutlak agar swasembada pangan tidak bersifat sementara, melainkan berkelanjutan.

Di sisi lain, pemerintah menyadari bahwa peningkatan produksi tidak akan optimal tanpa dukungan infrastruktur. Melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025, program perbaikan dan rehabilitasi jaringan irigasi dilaksanakan secara masif di berbagai daerah. Perbaikan irigasi seluas jutaan hektare dilakukan secara terintegrasi lintas wilayah administratif, dengan tujuan memastikan ketersediaan air yang memadai bagi lahan pertanian produktif.

Tantangan struktural tetap dihadapi, terutama menyusutnya lahan pertanian di Pulau Jawa akibat tekanan pertumbuhan penduduk dan alih fungsi lahan. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyoroti kondisi ini sebagai persoalan serius yang harus diatasi melalui perluasan lumbung pangan di luar Jawa. Pemerintah kemudian mengarahkan pengembangan kawasan pangan baru, termasuk di Merauke, Papua, serta mendorong penggunaan varietas dan bibit unggul yang lebih adaptif dan produktif.

Upaya menjaga keberlanjutan lahan pertanian juga diperkuat melalui kebijakan pengendalian alih fungsi lahan. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, NusronWahid, mengambil langkah moratorium terbatas terhadap perubahan fungsi lahan sawah di wilayah dengan data yang belum sinkron. Pemerintah menilai pembenahan data lahan sebagai fondasi penting agar kebijakan perlindungan lahan pertanian dapat diterapkan secara efektif dan tepat sasaran.

Setelah memperkuat swasembada beras, pemerintah mulai memperluas fokus pada swasembada pangan kaya protein. Menjelang akhir 2025, program peningkatan produksi telur, daging ayam, dan perikanan mulai digencarkan dengan target pencapaian pada 2026. Pemerintah menyiapkan pembangunan pabrik pakan, pengembangan tambak, serta pembentukan kampung nelayan untuk memperkuat ekosistem produksi protein nasional.

Langkah lanjutan juga diarahkan pada komoditas gula dan garam. Pemerintah merencanakan ekspansi lahan tebu secara signifikan sebagai dasar penghentian impor gula putih. Menteri Pertanian menyampaikan bahwa optimalisasi lahan tebu, khususnya di Jawa Timur, menjadi kunci menuju swasembada gula dalam waktu dekat. Pendekatan ini menegaskan konsistensi pemerintah dalam membangun kedaulatan pangan secara bertahap dan terukur.

Secara keseluruhan, capaian swasembada pangan pada 2025 mencerminkan keseriusan pemerintahan Prabowo Gibran dalam memperkuat kedaulatan ekonomi nasional. Dengan kebijakan yang terintegrasi dari hulu ke hilir, keberpihakan nyata kepada petani, serta pengelolaan sumber daya yang lebih efisien, swasembada pangan tidak hanya menjadi simbol keberhasilan sektor pertanian, tetapi juga fondasi penting bagi ketahanan ekonomi Indonesia di masa depan.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Pemerintah Lakukan Penanganan Pascabencana Sumatera Secara Holistik

Jakarta, – Pemerintah Republik Indonesia terus mengintensifkan penanganan pascabencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, meliputi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa penanganan pascabencana tidak boleh dilakukan secara parsial.

“Negara harus hadir secara utuh. Kita tidak hanya membangun kembali rumah yang rusak, tetapi juga memulihkan kehidupan, penghidupan, dan masa depan masyarakat yang terdampak bencana,” ujar Presiden Prabowo dalam rapat koordinasi penanganan bencana di Aceh Tamiang.

Penanganan dilakukan secara holistik dengan mengintegrasikan langkah tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi jangka menengah hingga panjang guna memastikan pemulihan menyeluruh bagi masyarakat terdampak.

Berdasarkan data pemerintah hingga awal Januari 2026, bencana hidrometeorologi tersebut menyebabkan lebih dari seribu korban jiwa, puluhan ribu warga mengungsi, serta kerusakan signifikan pada rumah tinggal, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, dan infrastruktur dasar. Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah pusat bergerak cepat dengan melibatkan lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, TNI – Polri, serta dukungan dunia usaha dan masyarakat.

Pemerintah telah mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) serta menyiapkan program relokasi permanen di wilayah yang dinilai rawan bencana. Selain itu, pemulihan fasilitas umum seperti sekolah, puskesmas, rumah sakit, dan sarana transportasi menjadi prioritas agar aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat dapat segera berjalan normal.

Di bidang sosial, Kementerian Sosial menyalurkan bantuan logistik, bantuan tunai, serta santunan bagi keluarga korban meninggal dan luka berat. Program pemulihan ekonomi juga digulirkan melalui bantuan usaha mikro dan pemberdayaan masyarakat agar warga terdampak dapat kembali mandiri.

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengapresiasi langkah pemerintah yang menempatkan aspek kemanusiaan sebagai prioritas utama.

“Pendekatan holistik ini sangat penting agar masyarakat tidak hanya selamat dari bencana, tetapi juga mampu bangkit dan melanjutkan kehidupan secara berkelanjutan,” katanya.

Untuk mendukung keberlanjutan program, pemerintah memastikan ketersediaan anggaran pemulihan bencana tanpa mengganggu program prioritas nasional lainnya. Sinergi dengan BUMN, sektor swasta, serta partisipasi publik juga terus diperkuat sebagai bagian dari gotong royong nasional.

Dengan pendekatan terintegrasi dan berkelanjutan, pemerintah optimistis proses pemulihan pascabencana di Sumatera dapat berjalan efektif, adil, dan memberikan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat, sekaligus memperkuat ketangguhan wilayah terhadap risiko bencana di masa mendatang.

Pemulihan Hunian Sementara Dipercepat, Prabowo Pastikan Layanan Dasar Warga Kembali Normal

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah memandang serius penanganan bencana dan berkomitmen meringankan beban warga. Presiden juga mengapresiasi inisiatif Danantara dalam percepatan pembangunan huntara, serta meminta koordinasi dijalankan ketat agar penanganan berjalan tertib.

“Saya terima kasih sama Danantara yang telah melakukan suatu pekerjaan yang saya lihat baik. Ini membangun hunian dalam waktu singkat itu suatu prestasi. Nanti saya minta Danantara untuk berkoordinasi dekat dengan BNPB dan pemerintah daerah,” ujar Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menilai kolaborasi lintas pihak menjadi kunci percepatan pemulihan. Kecepatan dan ketapatan dalam membangun hunian bagi masyarakat terdampak di Aceh dan Sumatera Barat merupakan hal yang prinsip.

Sementara itu, Chief Operating Officer (COO) Danantara, sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria mengatakan percepatan pembangunan hunian menjadi komitmen negara untuk memastikan warga terdampak dapat kembali menjalani kehidupan dan kegiatan ekonomi secara bertahap.

“Pada prinsipnya kami ingin ikut berpartisipasi membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana. Kami berharap hunian ini menjadi tempat tinggal yang aman dan layak, sekaligus mendukung proses pemulihan mereka,” ujarnya

Ia menegaskan bahwa pengembangan kawasan hunian dirancang tidak sekadar cepat, tetapi juga memperhatikan kualitas. Berbagai fasilitas pendukung seperti sarana publik, tempat ibadah, hingga ruang bermain akan dibangun untuk menjaga keberlanjutan aktivitas warga selama masa transisi.

Program ini merupakan bagian dari target pembangunan hingga 15.000 unit hunian yang akan digarap secara bertahap di berbagai wilayah terdampak, menyesuaikan kesiapan dan kebutuhan lokasi.

“Kami menunggu arahan pemerintah daerah terkait wilayah lain yang membutuhkan dan siap dibangun,” kata Dony.

Senada, Direktur Utama Hutama Karya, Koentjoro, menyatakan Hutama Karya senantiasa siap dan sedia hadir untuk menjadi bagian dari pembangunan negara.

“Kami dengan semangat bersama seluruh sumber daya yang kami miliki, optimis dapat bersinergi bersama melayani dengan memberikan kontribusi terbaik. Kami yakin, Huntara dapat hadir untuk memulihkan kehidupan yang lebih layak bagi warga yang terdampak,” jelasnya.

Dukungan Hutama Karya merupakan bagian dari kolaborasi lintas pihak dalam transisi penanganan bencana dari fase darurat menuju pemulihan yang lebih terstruktur, termasuk pemulihan layanan dasar agar aktivitas warga berangsur pulih.

Kolaborasi ini berjalan melalui koordinasi dengan Danantara, BP BUMN serta keterlibatan BUMN lainnya dalam program pembangunan huntara di Aceh Tamiang.

Continue Reading

Presiden Dorong Pemulihan Sekolah, Puskesmas, dan Rumah Sakit Segera Melayani Warga Pascabencana

Oleh: Bara Winatha*)

Pemulihan layanan publik pascabencana di tiga provinsi Sumatra menjadi perhatian serius pemerintah. Berbagai fasilitas vital yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, mulai dari sekolah, puskesmas, hingga rumah sakit, didorong untuk segera kembali berfungsi agar aktivitas sosial dan ekonomi warga dapat pulih secara bertahap. Percepatan pemulihan tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik bangunan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan pelayanan dasar, perlindungan kelompok rentan, serta pemulihan rasa aman masyarakat pascabencana.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengatakan bahwa percepatan pemulihan fasilitas publik harus menjadi prioritas utama seluruh jajaran kementerian dan lembaga. Kepala negara menilai sekolah dan fasilitas kesehatan merupakan simpul utama pemulihan kehidupan sosial masyarakat, sehingga harus mendapatkan perhatian khusus agar segera dapat melayani warga kembali. Dalam kunjungannya ke Aceh Tamiang, Prabowo menekankan pentingnya sinkronisasi data kerusakan dan kebutuhan lapangan agar penanganan tidak tumpang tindih serta benar-benar tepat sasaran. Presiden menilai keberhasilan percepatan pembangunan jembatan dan hunian darurat sebagai bukti bahwa dengan komitmen bersama, hambatan teknis dapat diatasi demi kepentingan rakyat.

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengatakan bahwa Polri berkomitmen penuh mendampingi masyarakat terdampak sejak fase tanggap darurat hingga pemulihan dan rekonstruksi. Percepatan pembersihan fasilitas pendidikan menjadi fokus utama agar kegiatan belajar mengajar dapat segera dimulai kembali sesuai jadwal awal tahun ajaran. Menurutnya, keberlangsungan pendidikan anak-anak tidak boleh terhenti terlalu lama karena dapat berdampak pada masa depan generasi muda. Oleh karena itu, personel Polri bersama masyarakat dan pihak sekolah terus bergotong royong membersihkan lumpur dan sisa material bencana di puluhan sekolah terdampak.

Sigit juga menyampaikan bahwa selain sektor pendidikan, Polri memastikan kesiapan lokasi pembangunan hunian sementara dan hunian tetap bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Ia menilai hunian tersebut penting sebagai solusi jangka menengah dan panjang, agar masyarakat memiliki kepastian tempat tinggal yang aman dan layak. Untuk mendukung percepatan pemulihan, Polri mengerahkan lebih dari seribu personel serta alat berat di berbagai titik terdampak. Ia menegaskan bahwa pendampingan Polri tidak berhenti pada pembersihan awal, tetapi berlanjut hingga proses rekonstruksi dan relokasi selesai serta kehidupan masyarakat kembali normal.

Di sektor kesehatan, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa pemerintah terus memantau pemulihan puluhan rumah sakit dan fasilitas layanan kesehatan di wilayah terdampak bencana. Ia menjelaskan bahwa prioritas utama Kementerian Kesehatan adalah memastikan layanan kegawatdaruratan, hemodialisis, dan operasi bedah dapat kembali berjalan optimal. Distribusi bantuan alat kesehatan seperti ventilator, EKG, dan oksigen konsentrator terus dilakukan untuk menggantikan fasilitas yang rusak agar pelayanan kepada pasien tidak terganggu.

Budi juga menekankan pentingnya memastikan tidak terjadi penumpukan pasien di unit gawat darurat serta menjaga ketersediaan tenaga medis dan obat-obatan di seluruh puskesmas, termasuk di wilayah pelosok yang akses jalannya masih terkendala. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah terus diperkuat, termasuk dalam penyediaan genset dan dukungan logistik, agar layanan kesehatan primer tetap berjalan. Pemulihan sektor kesehatan tidak hanya soal bangunan, tetapi juga memastikan sistem pelayanan dan sumber daya manusia siap melayani masyarakat pascabencana.

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan bahwa kementeriannya bergerak cepat mempercepat pembersihan sedimen dan penyaluran air bersih untuk mendukung operasional Rumah Sakit. Ia menjelaskan bahwa pemulihan infrastruktur dasar, khususnya air bersih, menjadi prasyarat utama agar rumah sakit dapat berfungsi secara maksimal. Kementerian PU akan terus mendampingi pemerintah daerah selama masa tanggap darurat dan pemulihan hingga infrastruktur dasar benar-benar pulih dan berfungsi optimal bagi masyarakat.

Dari kalangan akademisi dan tokoh masyarakat, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Makmun Murod menilai bahwa percepatan pemulihan fasilitas pendidikan dan kesehatan pascabencana memiliki dampak strategis bagi ketahanan sosial masyarakat. Sekolah, puskesmas, dan rumah sakit bukan hanya bangunan fisik, tetapi ruang sosial yang menjaga keberlanjutan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, percepatan pemulihan layanan dasar berpotensi mempersempit kesenjangan sosial dan memutus trauma masyarakat terdampak bencana.

Makmun menilai langkah Presiden yang mendorong sinergi lintas sektor patut diapresiasi karena menunjukkan kehadiran negara dalam situasi krisis. Ia berpandangan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, aparat keamanan, dan masyarakat merupakan model ideal penanganan bencana yang harus diperkuat ke depan. Menurutnya, pemulihan pascabencana juga perlu dibarengi dengan perencanaan mitigasi yang lebih matang agar risiko serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.

Berbagai langkah yang ditempuh lintas sektor menunjukkan komitmen kuat untuk memastikan layanan publik kembali berjalan secepat mungkin pascabencana. Dorongan Presiden untuk mempercepat pemulihan sekolah, puskesmas, dan rumah sakit mencerminkan kesadaran bahwa pelayanan dasar merupakan fondasi utama kebangkitan masyarakat. Melalui sinergi lintas sektor, masyarakat terdampak tidak hanya pulih secara fisik, tetapi juga kembali memperoleh rasa aman dan kepastian layanan. Literasi publik mengenai pentingnya percepatan pemulihan fasilitas pendidikan dan kesehatan menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan sosial pascabencana.

*) Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

Akses Desa Tapsel Kembali Terbuka Berkat Percepatan Penanganan Banjir

Oleh: Alexander Royce*)

Akses menuju desa-desa yang sempat terisolir akibat bencana banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, kini kembali terbuka secara signifikan berkat upaya percepatan penanganan yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah. Kemajuan ini menjadi simbol keberhasilan kolaborasi lintas kementerian/lembaga serta sinergi aparat TNI/Polri bersama masyarakat dalam mengatasi dampak bencana alam yang melanda kawasan Sumatra beberapa pekan terakhir.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembukaan akses yang sebelumnya terputus merupakan bukti komitmen kuat pemerintahan dalam melayani dan mengutamakan keselamatan rakyat. Dalam kunjungannya ke Posko Pengungsian Batu Hula pada Rabu malam menjelang pergantian tahun, Prabowo menyatakan rasa syukurnya atas perkembangan yang dicapai dalam waktu relatif singkat. Ia menyampaikan bahwa ribuan warga yang terdampak kini mulai merasakan manfaat dari kerja cepat pemerintah bersama instansi terkait.

Menurut Presiden, strategi penanganan yang terintegrasi antara kementerian/lembaga termasuk Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta aparat keamanan, telah mempercepat pemulihan kondisi jalan dan jembatan. Prabowo menunjukkan optimisme ketika membandingkan proses pembangunan jembatan darurat yang biasanya memakan waktu hingga satu bulan, kini dapat diselesaikan dalam 10 hari melalui kerja keras tim di lapangan. Hal ini menurutnya merupakan cerminan dari semangat gotong-royong Indonesia dalam menghadapi tantangan berat seperti bencana alam.

Di hadapan petugas di posko pengungsian, Presiden juga memberikan apresiasi kepada personel TNI/Polri serta relawan yang telah bertugas lebih dari 20 hari tanpa henti untuk membantu warga dan mempercepat pemulihan infrastruktur serta distribusi bantuan. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan berhenti sampai seluruh layanan dan sarana masyarakat pulih sepenuhnya. Pernyataan ini mencerminkan komitmen tinggi pemerintah dalam memastikan setiap warga yang terdampak mendapatkan perhatian dan dukungan yang layak.

Percepatan yang dicapai tersebut juga mendapat dukungan penuh dari Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution. Sebelum Presiden Prabowo menyampaikan perkembangan signifikan itu, Gubernur Bobby melaporkan dari puluhan desa yang sebelumnya terputus, kini hanya tersisa lima desa yang masih membutuhkan penanganan lanjutan. Pemerintah provinsi bersama pemerintah pusat menargetkan akses ini dapat segera terselesaikan dalam waktu dekat sehingga seluruh warga di Tapsel dapat beraktivitas kembali dengan normal.

Lebih lanjut, Bobby Nasution berkomitmen bahwa pemulihan tidak sekadar membuka akses jalan. Provinsi Sumatera Utara juga memprioritaskan program perlindungan sosial dan pemulihan ekonomi bagi penduduk terdampak. Ia memastikan bantuan hunian tetap akan diberikan kepada ratusan kepala keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana, serta memperluas sejumlah program sosial seperti pendidikan gratis bagi anak-anak korban banjir dan longsor di beberapa wilayah termasuk Tapsel. Pernyataan Gubernur ini menunjukkan bahwa penanganan pascabanjir bersifat komprehensif, mencakup pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Situasi di Sumatra pada akhir tahun lalu memang merupakan tantangan besar bagi pemerintah. Banjir dan tanah longsor yang dipicu oleh hujan ekstrem telah menimbulkan kerugian luas, menyebabkan ratusan korban jiwa serta ribuan bangunan rusak, dan mengisolasi banyak desa. Pemerintah pusat merespons kejadian ini dengan cepat, menolak untuk menetapkan status darurat nasional namun meningkatkan operasi pemulihan infrastruktur dan distribusi bantuan di berbagai wilayah terdampak secara intensif. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah mampu menyikapi bencana besar tanpa mengendurkan fokus pada percepatan pemulihan wilayah terdampak.

Reaksi masyarakat setempat atas pembukaan akses dan pemulihan infrastruktur juga sangat positif. Warga menyampaikan harapan besar agar pemulihan jalan dan fasilitas umum terus berlanjut sehingga aktivitas ekonomi dan sosial mereka dapat kembali normal. Banyak keluarga berharap segera kembali ke rumah masing-masing setelah lama tinggal di pengungsian, sekaligus memulai proses rehabilitasi kehidupan mereka bersama keluarga. Kehadiran pemerintah di lapangan untuk berdialog langsung dengan warga memberikan rasa aman dan optimisme baru bagi mereka.

Ke depan, pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah lanjutan untuk memperkuat ketahanan daerah terhadap bencana, termasuk peningkatan infrastruktur yang tahan terhadap kondisi ekstrem, serta memperkuat sistem peringatan dini dan mitigasi bencana di daerah rawan. Pemerintah optimis bahwa melalui kebijakan yang terarah dan dukungan penuh seluruh komponen bangsa, tantangan bencana alam seperti yang terjadi di Sumatra dapat diatasi dengan baik tanpa meninggalkan warga yang terdampak.

Dengan momentum pembukaan akses desa yang kembali normal di Tapsel sebagai bukti keberhasilan, suara optimisme terdengar dari berbagai lapisan masyarakat. Keberhasilan ini sekaligus menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan yang konsisten dalam merespons krisis, pemerintahan mampu menjadikan tantangan sebagai peluang untuk memperkuat solidaritas nasional, meningkatkan kapasitas respons bencana, dan memastikan kesejahteraan rakyat tetap menjadi prioritas utama.

Di tengah proses pemulihan yang masih berjalan, semangat gotong-royong antara pemerintah dan masyarakat menunjukkan Indonesia semakin kuat menghadapi bencana, siap pulih lebih cepat, dan bergerak menuju masa depan yang lebih aman serta sejahtera.

*) Penulis merupakan Pengamat Sosial

Penanganan Pascabencana Aceh Dipandang Efektif, Tolak Provokasi Separatis di Masyarakat

Oleh : Andhika Rachma

Penanganan pascabencana Aceh dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan suatu perkembangan yang menggembirakan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, terutama bagi warga Aceh sendiri yang tengah berjuang bangkit dari dampak banjir bandang dan longsor yang terjadi. Bencana alam tersebut telah menguji ketangguhan sosial dan fisik Aceh, namun respons yang cepat dan terkoordinasi dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta aparat keamanan mampu memberikan harapan baru bagi warga yang terdampak.

Negara hadir nyata dalam penanganan pascabencana melalui distribusi logistik, rehabilitasi infrastruktur, dan layanan kesehatan yang berjalan efektif. BNPB memastikan bantuan tersalurkan cepat dan tepat sasaran tanpa penumpukan, memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Sejalan dengan itu, Presiden RI bersama lintas kementerian menetapkan pemulihan Aceh sebagai prioritas nasional, dengan sinergi pemerintah pusat dan daerah untuk mempercepat rehabilitasi serta mendorong pemulihan sosial-ekonomi yang berkelanjutan dan menumbuhkan optimisme masyarakat terdampak.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan, percepatan pemulihan pascabencana alam di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat melalui penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Sinergi dan koordinasi yang kuat antara kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan efektif dan berkelanjutan.

Keberhasilan penanganan ini juga tidak terlepas dari koordinasi yang solid antara berbagai lembaga, seperti DPR melalui Satgas Pemulihan Pascabencana yang berkantor di lokasi terdampak, serta keterlibatan semua kementerian dan lembaga yang saling bersinergi untuk mempercepat proses pemulihan di setiap wilayah Aceh yang terdampak. Dengan strategi seperti ini, setiap tantangan yang muncul baik dari aspek logistik maupun aspek teknis dapat diidentifikasi dan diatasi secara cepat, menunjukkan efektivitas pendekatan manajemen bencana yang komprehensif.

Di tengah upaya besar pemulihan yang tengah berjalan, muncul pula tantangan lain yang tidak kalah penting, bagaimana menjaga ketenangan sosial dan menolak narasi-narasi provokatif yang bisa memecah belah masyarakat. Di masa sulit seperti sekarang, sebuah situasi darurat kemanusiaan sering kali bisa dimanfaatkan oleh oknum atau pihak-pihak tertentu untuk menebarkan isu-isu yang tidak relevan dengan tujuan kemanusiaan, termasuk penggunaan simbol-simbol separatis yang memiliki beban ideologis dan historis bagi Aceh.

Pemerintah terus mengintensifkan pemulihan pascabencana di Sumatra Utara, Sumatra Barat, hingga Aceh, sekaligus menumbuhkan optimisme masyarakat. Anggota pemrakarsa 98 Resolution Network, Haris Rusly Moti mengatakan pemerintah sedang memaksimalkan penyampaian informasi ke publik terkait tahap dan langkah yang sangat optimal yang sedang ditempuh dalam penanganan darurat bencana di Sumatra. Pemerintahan Prabowo melalui sejumlah jajaran pemerintahannya telah menjawab beragam disinformasi dan misinformasi yang menyudutkan seakan pemerintah pusat tidak prioritaskan penanganan bencana Sumatra.

Pemerintah bersama TNI dan Polri menegaskan sikap tegas menolak segala bentuk provokasi yang dapat mengganggu stabilitas dan proses pemulihan pascabencana. Aparat gabungan membantu masyarakat, sementara setiap upaya provokatif akan ditindak sesuai aturan sebagai langkah preventif untuk menjaga persatuan bangsa di tengah agenda kemanusiaan.

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengatakan TNI dan semua kementerian lembaga dan masyarakat sedang bekerja untuk membantu percepatan pemulihan akibat bencana alam. Saya harapkan tidak ada kelompok-kelompok yang memprovokasi yang mengganggu proses tersebut. Pihaknya akan menindak tegas kelompok-kelompok yang melakukan provokasi, termasuk melakukan pengibaran bendera GAM, di tengah upaya percepatan penanganan bencana banjir dan longsor dilakukan pemerintah dan masyarakat.

Masyarakat Aceh sendiri telah menunjukkan kedewasaan dan solidaritas luar biasa dalam menyikapi situasi ini. Dalam banyak kesempatan, warga secara kolektif menyatakan dukungan mereka terhadap proses pemulihan yang tengah terjadi, sekaligus menolak segala bentuk provokasi yang bisa mengganggu keharmonisan sosial. Pemerintah daerah bersama masyarakat telah melakukan sosialisasi intensif melalui berbagai saluran, dari pertemuan tatap muka hingga kampanye edukatif di ruang-ruang publik dan media sosial, agar narasi-narasi provokatif tidak menyebar tanpa kontrol dan dipahami secara kritis oleh publik.

Solidaritas dan semangat gotong royong menjadi nilai-nilai yang kuat di tengah situasi pascabencana ini. Masyarakat saling bahu membahu dalam kegiatan pemulihan, sembari menjaga ketenangan dan saling menghormati satu sama lain. Ini adalah contoh nyata bagaimana semangat kebangsaan yang kuat mampu menjadi pelindung sosial yang efektif di tengah tantangan yang kompleks.

Danrem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Ali Imran mengatakan perdamaian Aceh bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga komitmen bersama seluruh elemen masyarakat untuk tidak kembali pada simbol, narasi, dan tindakan yang berpotensi memecah belah.

Dengan demikian, gambaran yang kita lihat di Aceh hari ini adalah sebuah harmoni yang luar biasa antara kekuatan institusi dan kekuatan sosial masyarakat. Di satu sisi, respons pemerintah yang cepat, tepat, dan terkoordinasi mencerminkan efektivitas penanganan pascabencana yang patut diapresiasi. Di sisi lain, kesadaran kolektif masyarakat untuk menolak provokasi serta mendukung proses pemulihan adalah bukti nyata dari kedewasaan sosial dan kekuatan solidaritas.

)* Pengamat Kebijakan Publik

Kolaborasi Pemerintah Pusat dan Daerah Distribusi Bantuan, Warga Terdampak Bencana Sepakat Tolak Simbol Separatisme

Oleh : Ricky Rinaldi

Kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi fondasi utama dalam memastikan distribusi bantuan berjalan efektif di wilayah terdampak bencana maupun konflik sosial. Dalam situasi yang menuntut kehadiran negara secara cepat dan tepat, sinergi lintas level pemerintahan dinilai mampu menjaga stabilitas sosial sekaligus memperkuat kepercayaan publik. Pemerintah menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan tidak boleh terhambat oleh perbedaan kepentingan maupun disusupi agenda yang berpotensi mengganggu persatuan nasional.

Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa distribusi bantuan merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam melindungi seluruh warga tanpa kecuali. Menurut Presiden, kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah harus berjalan dalam satu komando kebijakan agar bantuan dapat disalurkan secara merata dan tepat sasaran. Presiden memandang bahwa soliditas pemerintahan di semua level menjadi kunci agar masyarakat tidak merasa ditinggalkan, terutama di wilayah yang menghadapi tantangan geografis dan sosial.

Presiden menilai bahwa distribusi bantuan yang terkoordinasi dengan baik akan memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Ketika negara hadir secara cepat dan konsisten, ruang bagi provokasi dan penyebaran simbol-simbol yang bertentangan dengan nilai persatuan akan semakin sempit. Dalam pandangan Presiden, pelayanan publik yang optimal merupakan cara paling efektif untuk merawat kepercayaan masyarakat sekaligus menjaga keutuhan bangsa.

Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa pemerintah tidak mentolerir upaya pemanfaatan situasi darurat untuk menyebarkan simbol separatisme. Menurutnya, bantuan kemanusiaan harus murni berorientasi pada keselamatan dan kesejahteraan warga, bukan dijadikan alat propaganda oleh kelompok tertentu. Presiden menilai bahwa mayoritas masyarakat memiliki kesadaran kuat untuk menjaga persatuan dan menolak segala bentuk simbol yang dapat memecah belah bangsa.

Presiden memandang bahwa sikap tegas tersebut sejalan dengan aspirasi warga di daerah terdampak yang menginginkan ketenangan, pemulihan, dan stabilitas. Pemerintah pusat, dalam hal ini, memberikan dukungan penuh kepada pemerintah daerah agar mampu menjalankan fungsi pelayanan dengan optimal. Sinergi kebijakan dan pelaksanaan di lapangan menjadi bentuk konkret komitmen negara dalam melindungi kepentingan rakyat.

Presiden juga menyoroti peran pemerintah daerah sebagai ujung tombak pelayanan. Pemerintah daerah dinilai memiliki pemahaman paling dekat terhadap kondisi sosial masyarakat setempat. Oleh karena itu, kolaborasi yang harmonis antara pusat dan daerah dipandang penting agar distribusi bantuan tidak hanya cepat, tetapi juga sensitif terhadap kebutuhan dan dinamika lokal.

Dalam konteks ini, Presiden Prabowo menegaskan bahwa negara hadir bukan hanya melalui bantuan material, tetapi juga melalui pesan kebangsaan yang meneguhkan persatuan. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap proses penanganan krisis menjadi momentum untuk memperkuat rasa kebangsaan dan menegaskan komitmen bersama terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah arah kebijakan ditegaskan oleh Presiden, pelaksanaan teknis di lapangan menjadi faktor penentu keberhasilan distribusi bantuan dan stabilitas sosial di wilayah terdampak.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah tercermin dalam mekanisme distribusi bantuan yang terkoordinasi. BNPB bekerja bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan instansi terkait untuk memastikan bantuan logistik, layanan kesehatan, serta dukungan kemanusiaan dapat menjangkau warga dengan cepat dan aman. Pendekatan ini dilakukan untuk mencegah keterlambatan yang berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat.

Abdul Muhari menyampaikan bahwa kehadiran pemerintah yang konsisten di lapangan turut membangun kepercayaan warga. Menurutnya, ketika bantuan datang tepat waktu dan dikelola secara transparan, masyarakat cenderung bersikap kooperatif dan menolak segala bentuk provokasi. Hal ini terlihat dari sikap warga yang secara terbuka menegaskan penolakan terhadap simbol-simbol separatisme yang tidak mencerminkan aspirasi mayoritas masyarakat.

Ia menegaskan bahwa BNPB dan pemerintah daerah selalu mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis dalam penyaluran bantuan. Pendekatan ini dinilai efektif untuk menjaga kondusivitas sosial sekaligus memastikan bahwa bantuan tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang memiliki agenda tertentu. Pemerintah berupaya agar setiap bantuan yang disalurkan benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan.

Abdul Muhari juga menjelaskan bahwa koordinasi lintas sektor menjadi elemen penting dalam menjaga stabilitas. Dengan keterlibatan aparat keamanan dan pemerintah daerah, distribusi bantuan dapat berlangsung aman dan tertib. Langkah ini sekaligus memastikan bahwa ruang publik tidak dimanfaatkan untuk penyebaran simbol atau narasi yang bertentangan dengan semangat persatuan nasional.

Dalam pandangannya, penolakan warga terhadap simbol separatisme merupakan indikator kuat bahwa masyarakat menginginkan ketenangan dan keberlanjutan pembangunan. Warga lebih memprioritaskan pemulihan kondisi kehidupan sehari-hari dibandingkan terlibat dalam konflik ideologis yang tidak membawa manfaat langsung. Sikap ini dinilai sejalan dengan tujuan pemerintah dalam menciptakan stabilitas dan kesejahteraan.

BNPB mencatat bahwa sinergi pusat dan daerah juga memudahkan proses pemantauan dan evaluasi distribusi bantuan. Dengan sistem koordinasi yang terintegrasi, pemerintah dapat dengan cepat menyesuaikan strategi apabila ditemukan kendala di lapangan. Fleksibilitas ini menjadi penting untuk menjaga efektivitas bantuan sekaligus menghindari potensi gesekan sosial.

Secara keseluruhan, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam distribusi bantuan menunjukkan bahwa negara hadir secara solid dan terkoordinasi. Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan persatuan, serta dukungan teknis dari BNPB, memperlihatkan bahwa penanganan krisis tidak hanya berfokus pada aspek kemanusiaan, tetapi juga pada penguatan kohesi sosial. Dengan kehadiran negara yang konsisten dan sikap warga yang menolak simbol separatisme, pemerintah optimistis stabilitas nasional dapat terus terjaga di tengah berbagai tantangan.

*) Pengamat Isu Strategis

Pemulihan Pascabencana Terus Berlangsung, Warga Sepakat Tolak Kehadiran Simbol Separatisme di Aceh

Jakarta – Pemulihan pascabencana di sejumlah wilayah Aceh terus berjalan seiring upaya pemerintah dan masyarakat mengembalikan aktivitas kehidupan secara bertahap. Di tengah proses tersebut, warga secara tegas menyatakan penolakan terhadap kehadiran simbol separatisme demi menjaga persatuan dan stabilitas daerah.

Masyarakat khususnya para korban bencana menginginkan semua pihak fokus menangani bencana dan menyalurkan bantuan. Salah satu korban banjir di Bireuen, Muhammad, mengaku khawatir bila kehadiran simbol bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menggeser isu bencana ke politik murni.

“Saya dan keluarga, serta teman-teman yang lain sesama pengungsi, sudah lelah hidup di bawah tenda,” ungkapnya.

Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto meminta agar tidak ada pihak-pihak yang melakukan provokasi. Sebab hal tersebut dapat mengganggu stabilitas keamanan di tengah upaya percepatan pemulihan pascabencana di wilayah Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat

“Saya harapkan tidak ada kelompok-kelompok yang memprovokasi, yang menganggu proses (pemulihan pascabencana) tersebut,” kata Agus.

Ia menegaskan, TNI tidak akan menoleransi bila terjadi aksi provokatif yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan negara hingga menghambat pemulihan pascabencana di Aceh. Sanksi tegas akan diterapkan bila hal itu sampai terjadi.

“Saya akan tindak tegas kalua ada kelompok-kelompok seperti itu,” ujarnya.

Agus menerangkan, TNI, Polri, bersama Kementerian/Lembaga bergotong-royong secara maksimal untuk mempercepat pemulihan pascabencana. Untuk itu, ia meminta dukungan seluruh elemen masyarakat agar proses rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana berjalan cepat dan lancar.

“Saya harapkan tidak ada kelompok-kelompok yang memprovokasi, yang menganggu proses tersebut,” pungkasnya.

Selain itu, pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan relawan setempat memastikan distribusi bantuan logistik, layanan kesehatan, serta pemulihan infrastruktur dasar berjalan merata dan tepat sasaran. Sinergi lintas sektor tersebut dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan warga sekaligus memperkuat semangat kebersamaan, sehingga seluruh energi masyarakat dapat difokuskan pada pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi tanpa terganggu oleh isu-isu yang berpotensi memecah persatuan.