Investasi Hijau Strategi Pemerintah Wujudkan Ekonomi Berkelanjutan

Oleh: Kira Putri )*

Investasi berkelanjutan menjadi prioritas utama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim serta dinamika ekonomi global. Indonesia, dengan sumber daya alam yang melimpah, terus berupaya mengembangkan ekosistem ekonomi hijau guna mencapai pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Pemerintah secara aktif menciptakan kebijakan fiskal yang mendukung investasi hijau, baik melalui regulasi, skema pembiayaan, maupun kerja sama internasional.

Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2024-2045, visi Indonesia Emas 2045 menitikberatkan pada pembangunan yang berkelanjutan. Transformasi ekonomi hijau menjadi salah satu pilar utama dalam meningkatkan daya saing nasional, sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Untuk mewujudkan hal ini, berbagai kebijakan telah diterapkan, termasuk penguatan regulasi dan insentif bagi industri yang mengadopsi praktik ramah lingkungan.

Dalam sektor energi, Pemerintah menargetkan peningkatan bauran energi terbarukan sebesar 23% pada 2025 dan 31% pada 2050, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022. Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi, Edi Prio Pambudi, menilai kebijakan ini tidak hanya bertujuan mengurangi risiko lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Ia menyoroti bahwa transisi energi bersih membutuhkan investasi besar, sebagaimana yang diproyeksikan BloombergNEF, yaitu USD3,1 triliun per tahun hingga 2050.

Selain itu, Pemerintah juga terus mengembangkan mekanisme perdagangan karbon untuk memanfaatkan potensi besar yang dimiliki Indonesia. Skema Karbon Nusantara (SKN) menjadi salah satu inisiatif yang bertujuan meningkatkan peran sektor kehutanan dalam penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Optimalisasi perdagangan karbon dilakukan dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, menetapkan harga karbon yang kompetitif, serta memperkuat regulasi guna memastikan keberlanjutan skema ini.

Langkah konkret lainnya dalam mendorong investasi hijau dilakukan melalui berbagai proyek strategis. Pemerintah telah menjalankan inisiatif seperti Carbon Capture and Storage (CCS), Just Energy Transition Partnership (JETP), serta pengembangan ekonomi sirkular. Dengan memanfaatkan sumber daya energi terbarukan seperti tenaga surya, hidro, panas bumi, dan bioenergi, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan energi bersih di kawasan.

Namun, transformasi menuju ekonomi hijau masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah kebutuhan pendanaan yang besar serta regulasi yang perlu lebih diselaraskan. Pemerintah terus melakukan reformasi kelembagaan guna menciptakan regulasi yang lebih terintegrasi dan tidak tumpang tindih. Berbagai insentif telah diterapkan untuk menarik investasi di sektor energi terbarukan, termasuk subsidi serta skema pembiayaan fleksibel melalui kerja sama dengan lembaga keuangan global.

Pendanaan hijau menjadi instrumen penting dalam mencapai target net zero emissions pada 2060. Pada 2024, Pemerintah berhasil meningkatkan pendanaan hijau menjadi Rp. 20,15 triliun melalui kerja sama dengan Bank Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW) Jerman. Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden RI, menegaskan bahwa kesepakatan ini menjadi langkah maju dalam mempercepat pengembangan energi bersih di Indonesia. Nota kesepahaman antara PT PLN dan KfW menunjukkan komitmen Indonesia dalam menarik investasi asing guna mendukung transisi energi nasional.

Dalam implementasi kebijakan ini, PLN, sebagai pemegang peran utama dalam sektor kelistrikan, terus memperkuat sinergi dengan mitra internasional. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa perusahaan telah menginisiasi berbagai proyek strategis guna mempercepat pembangunan kelistrikan berbasis energi terbarukan. Keterlibatan PLN dalam proyek-proyek hijau juga membuka peluang lebih luas bagi investasi asing, yang diharapkan menciptakan ekosistem energi yang lebih berkelanjutan dan kompetitif.

Di sektor industri, Pemerintah juga berupaya mendorong penerapan prinsip industri hijau sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Meitri Citra Wardani, menilai keberlanjutan industri menjadi faktor penting dalam menciptakan pembangunan ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Untuk itu, Pemerintah telah meluncurkan Program Penilaian Industri Hijau, yang memberikan sertifikasi kepada perusahaan yang memenuhi standar keberlanjutan. Insentif fiskal, seperti pengurangan pajak dan kemudahan investasi, juga terus diberikan guna mendorong lebih banyak perusahaan beralih ke praktik industri hijau.

Kolaborasi global menjadi faktor kunci dalam mendukung keberhasilan program ini. Pemerintah terus memperkuat kerja sama bilateral dan multilateral dalam sektor investasi hijau, baik melalui transfer teknologi, peningkatan kapasitas, maupun pendanaan. Upaya ini sejalan dengan strategi untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global serta mempercepat pencapaian target pembangunan berkelanjutan.

Upaya Pemerintah dalam mendorong investasi hijau mencerminkan visi jangka panjang untuk menciptakan ekonomi yang lebih tangguh dan inklusif. Dengan kombinasi kebijakan yang tepat, reformasi regulasi, serta sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, Indonesia berada di jalur yang benar untuk menjadi pemimpin dalam ekonomi hijau di kawasan.

Komitmen dalam menciptakan ekosistem investasi yang mendukung pembangunan berkelanjutan akan memberikan manfaat jangka panjang, baik bagi perekonomian nasional maupun kesejahteraan masyarakat. Langkah-langkah strategis yang telah diambil diharapkan dapat menjadikan investasi hijau sebagai fondasi utama dalam transformasi ekonomi Indonesia menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

)* Penulis adalah pengamat kebijakan publik

Regulasi Baru Pemerintah Percepat Transisi Energi Hijau untuk Wujudkan Kemandirian Energi

Oleh: Ahmad Saroni )*

Pemerintah Indonesia terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan kemandirian energi melalui kebijakan transisi energi hijau yang berkelanjutan. Berbagai langkah strategis ditempuh guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan biomassa. Langkah ini sekaligus mendukung target emisi nol bersih pada tahun 2060 serta meningkatkan ketahanan energi nasional.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjadi salah satu motor utama dalam kebijakan transisi energi ini. Bersama Agence Francaise De Developpement (AFD), kementerian tersebut telah meluncurkan Indonesia Energy Transition Facility (IETF), sebuah inisiatif yang bertujuan mempercepat transformasi sektor energi di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, menegaskan bahwa transisi energi menjadi prioritas utama dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, ketahanan dan swasembada energi harus menjadi landasan utama dalam setiap kebijakan sektor energi, sehingga Indonesia tidak hanya berorientasi pada pengurangan emisi tetapi juga memastikan kemandirian energi nasional. Ia menyebutkan beberapa langkah strategis yang telah dilakukan pemerintah, seperti hilirisasi mineral dan batu bara, peningkatan lifting minyak dan gas bumi, penerapan biodiesel 40%, serta optimalisasi gas untuk industri dalam negeri.

Dalam pelaksanaan kebijakan ini, pemerintah tetap berkomitmen pada target pengurangan emisi gas rumah kaca. Dadan menyampaikan bahwa pada 2024, realisasi penurunan emisi di sektor energi telah melampaui target yang ditetapkan, mencapai lebih dari 147 juta ton CO2 ekuivalen. Ia menekankan bahwa capaian ini menjadi bukti bahwa kebijakan transisi energi yang diterapkan telah berada di jalur yang tepat.

Sejalan dengan itu, pemerintah juga telah merancang peta jalan pengembangan kelistrikan nasional untuk periode 2025-2034, dengan target kapasitas listrik mencapai 71 gigawatt (GW). Dadan menjelaskan bahwa rencana ini dirancang untuk memastikan pemanfaatan energi terbarukan semakin meningkat, seiring dengan komitmen global Indonesia dalam pengurangan emisi dan penguatan sistem energi yang lebih berkelanjutan.

Untuk mempercepat implementasi kebijakan transisi energi, pemerintah terus membangun kerja sama dengan berbagai pihak. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa salah satu langkah konkret yang telah dilakukan adalah penandatanganan perjanjian kerja sama antara PT PLN (Persero) dan AFD dalam kerangka Joint Initiative of Energy Transition Cooperation in Indonesia.

Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan regulasi dan skema kerja sama untuk pemanfaatan teknologi Carbon Capture Storage (CCS). Dadan Kusdiana menyebut bahwa potensi penyimpanan karbon di Indonesia sangat besar, mencapai 500 gigaton. Dengan adanya regulasi yang mendukung, industri yang masih menggunakan bahan bakar fosil tetap dapat beroperasi dengan dampak lingkungan yang lebih terkendali melalui penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon ini.

Di tingkat internasional, pemerintah menunjukkan keseriusan dalam mempercepat transisi energi dengan menjalin kemitraan strategis melalui Asia Zero Emission Community (AZEC). Salah satu proyek yang menjadi perhatian utama adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Muara Laboh. Proyek ini diharapkan mampu mempercepat peralihan dari energi berbasis fosil ke sumber energi yang lebih berkelanjutan.

Selain pengembangan energi panas bumi, pemerintah juga mendorong implementasi proyek energi surya serta penguatan infrastruktur kelistrikan di kawasan ASEAN. Airlangga mengungkapkan bahwa proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Riau dan pembangunan ASEAN Power Grid merupakan langkah strategis dalam mendukung integrasi energi bersih di kawasan. Pemerintah juga menyoroti potensi pemanfaatan energi berbasis kelapa sawit untuk kebutuhan bahan bakar penerbangan sebagai bagian dari inovasi energi terbarukan.

Dukungan terhadap transisi energi ini juga datang dari Jepang. Chairman Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Tadashi Maeda, menyampaikan bahwa negaranya memiliki strategi baru dalam pengembangan energi terbarukan hingga 2040, dan Indonesia menjadi mitra penting dalam implementasi rencana tersebut. Maeda menekankan bahwa Jepang akan terus mendorong kerja sama dengan Indonesia dalam berbagai aspek, termasuk investasi dalam teknologi energi hijau dan penguatan infrastruktur energi bersih.

Pemerintah melihat transisi menuju ekonomi hijau sebagai salah satu pilar utama dalam kebijakan pembangunan nasional. Oleh karena itu, investasi dalam infrastruktur energi berkelanjutan terus didorong guna menciptakan sistem energi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berdaya saing tinggi. Implementasi proyek energi terbarukan tidak hanya berkontribusi terhadap lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru dengan menciptakan lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan industri hijau di dalam negeri.

Meski menghadapi berbagai tantangan, seperti regulasi, pendanaan, dan adopsi teknologi baru, pemerintah tetap optimis bahwa dengan kebijakan yang tepat serta dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, transisi energi di Indonesia dapat berjalan dengan efektif. Dadan Kusdiana menegaskan bahwa pemerintah akan terus memperkuat kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan, baik melalui kerja sama dengan mitra internasional maupun dengan mendorong peran aktif sektor swasta dalam investasi energi hijau.

Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat langkah-langkah strategis untuk mempercepat transisi energi, dengan memastikan bahwa setiap kebijakan yang diterapkan selaras dengan kepentingan nasional dan keberlanjutan lingkungan. Dengan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif, Indonesia bertekad untuk menjadi salah satu negara terdepan dalam pengembangan energi hijau di kawasan, sekaligus berkontribusi dalam upaya global untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

)* Pengamat Kebijakan Publik

Investasi dan Hilirisasi Era Presiden Prabowo Langkah Strategis Wujudkan Kemandiriaan Ekonomi

Oleh : Aditya Akbar )*

 

Pemerintah terus mengakselerasi investasi untuk memperkuat industri hilirisasi di berbagai sektor strategis. Langkah ini tidak hanya akan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dalam negeri, tetapi juga membuka lebih banyak lapangan pekerjaan dan memperkuat daya saing Indonesia di kancah global.

Presiden Prabowo Subianto telah mengimplementasikan kebijakan hilirisasi dan investasi sebagai bagian dari strategi besar transformasi ekonomi Indonesia. Pemerintahannya berkomitmen untuk memastikan bahwa nilai tambah dari sumber daya alam dapat dinikmati di dalam negeri, bukan hanya sebagai bahan mentah yang diekspor. Melalui langkah ini, Indonesia semakin menarik investasi besar di sektor pertambangan, energi, dan industri manufaktur.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah telah menargetkan investasi besar untuk mendorong hilirisasi industri. Sektor yang menjadi fokus mencakup minyak dan gas, pertambangan, pertanian, serta kelautan. Menurut Bahlil, pemerintah menargetkan investasi hilirisasi sekitar USD618 miliar hingga tahun 2025 guna mempercepat transformasi ekonomi nasional.

Sebagai tahap awal, pemerintah telah menyiapkan 21 proyek hilirisasi dengan total investasi mencapai USD40 miliar. Beberapa proyek ini akan didanai oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), sebagai bentuk nyata dalam mempercepat realisasi program.

Salah satu proyek utama adalah pembangunan fasilitas penyimpanan minyak di Pulau Nipah yang diharapkan mampu meningkatkan ketahanan energi nasional. Dengan kapasitas penyimpanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi nasional selama 30 hari, proyek ini akan menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga stabilitas energi.

Di sektor energi, pemerintah juga merancang pembangunan penyulingan minyak berkapasitas 500 ribu barel per hari, menjadikannya salah satu fasilitas pengolahan terbesar di Indonesia. Proyek ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar, memastikan ketersediaan energi dalam negeri, serta meningkatkan efisiensi rantai pasok energi nasional.

Tidak hanya itu, pemerintah juga tengah mengembangkan program gasifikasi batu bara untuk memproduksi dimethyl ether (DME) sebagai substitusi LPG. Proyek ini akan dikembangkan di Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan dengan pendekatan berbasis sumber daya dalam negeri. Dengan strategi ini, pemerintah ingin memastikan bahwa hilirisasi dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan perekonomian lokal.

Presiden Prabowo telah menetapkan 26 sektor komoditas sebagai prioritas hilirisasi nasional, termasuk sektor mineral, perikanan, pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Keputusan ini diambil untuk memastikan bahwa hilirisasi tidak hanya berfokus pada satu sektor tertentu, tetapi dapat menciptakan dampak luas bagi perekonomian nasional.

Senada, Ekonom CORE Indonesia, Muhammad Faisal mengungkapkan program hilirisasi yang akan dilakukan oleh pemerintah merupakan rencana yang baik mengingat masih banyak komoditas tanah air yang kurang dikembangkan sehingga kurang memiliki nilai tambah. Selain itu, program tersebut juga berkaitan dengan efek domino yang akan dirasakan di dalam negeri seperti salah satunya penciptaan lapangan pekerjaan

Kebijakan hilirisasi ini dipandang sebagai langkah positif yang akan meningkatkan nilai tambah berbagai komoditas di Indonesia. Hilirisasi tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga berdampak pada penciptaan lapangan pekerjaan dalam jumlah besar. Dengan adanya hilirisasi di sektor pertanian, misalnya, harga pangan dalam negeri bisa lebih stabil dan lebih banyak petani yang mendapatkan manfaat ekonomi.

Namun, masih banyak aspek yang perlu ditingkatkan dari pengalaman hilirisasi sebelumnya. Program hilirisasi nikel, misalnya, masih menghadapi tantangan dalam menciptakan keterkaitan dengan ekonomi lokal di sekitar lokasi smelter. Selain itu, dampak lingkungan juga harus menjadi perhatian utama agar industri hilirisasi tidak menimbulkan efek negatif bagi masyarakat sekitar.

Hilirisasi bukan hanya sekadar kebijakan ekonomi, tetapi juga strategi jangka panjang untuk menciptakan kemandirian nasional. Dengan memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dan meningkatkan nilai tambahnya di dalam negeri, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah dan impor produk jadi.

Investasi dalam hilirisasi juga akan menciptakan efek berganda yang besar. Selain membuka lapangan kerja baru, industri hilirisasi akan mendorong inovasi dan pengembangan teknologi di dalam negeri. Ini menjadi peluang bagi generasi muda untuk berperan dalam transformasi industri dan membangun ekosistem bisnis yang lebih berkelanjutan.

Keberhasilan hilirisasi tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah dan investasi dari sektor swasta, tetapi juga memerlukan dukungan aktif dari masyarakat. Masyarakat dapat berperan dalam berbagai aspek, mulai dari meningkatkan kesadaran akan pentingnya hilirisasi hingga menjadi bagian dari ekosistem industri yang berkembang.

Masyarakat perlu mendukung produk-produk dalam negeri yang dihasilkan melalui proses hilirisasi. Dengan meningkatkan konsumsi produk lokal, masyarakat turut memperkuat industri nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Dalam jangka panjang, hilirisasi akan menjadi motor penggerak ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, dukungan dari berbagai pihak, termasuk dunia usaha, akademisi, dan masyarakat luas, sangat dibutuhkan agar program ini dapat berjalan dengan optimal. Dengan semangat kolaborasi, kita bisa memastikan bahwa investasi dan hilirisasi akan membawa manfaat nyata bagi masa depan Indonesia.

 

)* Penulis adalah Pengamat Ekonomi

 

Sinergi Pemerintah Siapkan Tenaga Kerja Kompetitif untuk Industri Hilirisasi

Oleh : Randy Siregar )*

 

Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam menyediakan sumber daya manusia (SDM) terampil untuk memperkuat industri hilirisasi dan menarik investasi yang lebih besar. Kolaborasi antara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjadi langkah konkret dalam memastikan kesiapan tenaga kerja menghadapi kebutuhan industri modern serta meningkatkan daya saing nasional.

Dalam era persaingan global yang semakin ketat, SDM bukan hanya sekadar faktor produksi, tetapi juga aset strategis bagi pertumbuhan ekonomi. Tanpa tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan sertifikasi memadai, investasi yang masuk ke Indonesia tidak akan dapat memberikan manfaat optimal. Oleh karena itu, pemerintah berupaya menciptakan sistem pelatihan dan sertifikasi yang selaras dengan kebutuhan industri, terutama di sektor hilirisasi yang menjadi prioritas nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani dan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam pertemuan mereka sepakat bahwa kesiapan tenaga kerja menjadi faktor krusial dalam mendukung investasi dan hilirisasi. Pemerintah menyadari bahwa keberhasilan investasi bukan hanya diukur dari jumlah modal yang masuk, tetapi juga dari sejauh mana investasi tersebut mampu menciptakan lapangan pekerjaan berkualitas.

Data menunjukkan bahwa dalam lima tahun ke depan, investasi diproyeksikan mampu menciptakan lebih dari 2,6 juta lapangan pekerjaan baru per tahun. Bahkan, tahun lalu saja dengan realisasi investasi sebesar Rp 1.700 triliun, tenaga kerja yang terserap mencapai 2,45 juta orang, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat hingga 2,8–2,9 juta orang per tahun.

Dalam konteks menarik investasi, faktor kesiapan tenaga kerja menjadi salah satu pertimbangan utama bagi investor. Mereka tidak hanya melihat potensi pasar Indonesia yang besar, tetapi juga mencari kepastian bahwa tenaga kerja yang tersedia memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Pabrik yang dibangun dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun harus segera diisi oleh tenaga kerja yang sudah siap pakai. Dengan demikian, investasi yang masuk dapat langsung beroperasi secara efektif dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian.

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai infrastruktur pelatihan guna mendukung peningkatan kualitas tenaga kerja. Saat ini, terdapat 303 Balai Latihan Kerja (BLK) di seluruh Indonesia yang siap dimanfaatkan untuk mencetak tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan industri. BLK tersebut berperan penting dalam memberikan pelatihan berbasis kompetensi yang dapat meningkatkan keterampilan tenaga kerja, sehingga mereka dapat dengan mudah terserap ke dalam industri yang berkembang pesat, khususnya hilirisasi.

Selain pelatihan, sertifikasi juga menjadi aspek penting dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional. Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) di bawah Kemnaker bertugas memastikan bahwa tenaga kerja yang telah mengikuti pelatihan memiliki sertifikasi resmi yang diakui industri. Dengan sertifikasi ini, tenaga kerja Indonesia tidak hanya lebih kompetitif di pasar domestik, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk bekerja di luar negeri. Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat industri hilirisasi berbasis tenaga kerja terampil.

Kolaborasi antara BKPM dan Kemnaker tidak berhenti pada tahap pelatihan dan sertifikasi saja. Kedua kementerian ini juga berencana untuk menyusun perjanjian kerja sama teknis guna mengoptimalkan pemanfaatan data dalam perencanaan kebijakan ketenagakerjaan yang berbasis kebutuhan industri. Dengan pendekatan berbasis data, pemerintah dapat menyesuaikan kurikulum pelatihan dengan tren industri yang terus berkembang, sehingga lulusan program pelatihan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Dalam jangka panjang, sinergi antara ketenagakerjaan dan hilirisasi industri diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja serta mendorong investasi yang lebih inklusif. Dengan adanya tenaga kerja yang kompeten dan tersertifikasi, daya saing industri nasional dapat meningkat, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Model pembangunan berbasis SDM ini juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat luas, bukan hanya bagi segelintir pihak.

Dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0, pengembangan SDM juga harus mengikuti perkembangan teknologi. Digitalisasi industri dan otomatisasi semakin menuntut tenaga kerja yang memiliki kemampuan teknis dan adaptif. Oleh karena itu, program pelatihan yang diselenggarakan pemerintah harus mencakup keterampilan berbasis teknologi agar tenaga kerja Indonesia tidak tertinggal dalam era industri digital. Dengan demikian, SDM Indonesia tidak hanya siap bekerja di sektor hilirisasi berbasis sumber daya alam, tetapi juga mampu bersaing di sektor manufaktur canggih dan industri berbasis teknologi.

Membangun SDM yang terampil bukan sekadar investasi dalam tenaga kerja, tetapi juga investasi dalam masa depan ekonomi bangsa. Oleh karena itu, semua pihak, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat, perlu berperan aktif dalam mendukung upaya peningkatan keterampilan tenaga kerja. Dengan SDM yang unggul, Indonesia dapat memaksimalkan potensi investasi dan hilirisasi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

 

)* Penulis adalah pengamat ekonomi

 

Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi Melalui Investasi dan Hilirisasi

Oleh : Emil Kurniawan )*

 

Pemerintah terus menunjukkan komitmen dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan investasi dan penguatan hilirisasi. Langkah ini menjadi strategi utama untuk menciptakan nilai tambah dalam negeri serta meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global.

Salah satu contoh nyata dari kebijakan ini adalah target realisasi investasi yang ditetapkan oleh Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun 2025. Target tersebut mencapai Rp 61,09 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 yang hanya sekitar Rp 26,9 triliun. Lonjakan target ini menunjukkan tekad pemerintah dalam menggenjot investasi sebagai motor penggerak ekonomi daerah.

Namun, target ambisius ini tidak lepas dari tantangan. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, H. Mohammad Rum, mengungkapkan perlunya pertimbangan ulang terhadap target tersebut, mengingat kebijakan efisiensi anggaran yang tengah diterapkan. Pengurangan dana alokasi khusus (DAK) yang sebelumnya menjadi salah satu sumber pendanaan operasional dinilai dapat mempersulit upaya pencapaian investasi yang ditetapkan.

Meski demikian, capaian realisasi investasi NTB pada tahun 2024 memberikan optimisme. Dengan nilai investasi yang melampaui target, mencapai Rp 54,5 triliun, pemerintah pusat meyakini bahwa daerah ini memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) menjadi penyumbang terbesar investasi di NTB, dengan nilai mencapai Rp 37 triliun, diikuti oleh sektor industri serta pariwisata dan ekonomi kreatif.

Namun, kebergantungan terhadap sektor tambang juga menjadi perhatian. Dengan berakhirnya izin ekspor konsentrat AMMAN Mineral di Sumbawa Barat pada akhir 2024, industri pertambangan harus beradaptasi dengan kebijakan hilirisasi yang telah dicanangkan pemerintah. Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa kehadiran smelter baru di wilayah tersebut diharapkan mampu mendorong pengolahan bahan mentah di dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan nilai ekspor produk jadi.

Pada awal 2025, dampak dari kebijakan ini mulai terasa. Kontraksi di sektor tambang NTB terlihat dengan turunnya nilai ekspor hingga 97,12 persen dibandingkan Desember 2024. Meski hal ini menimbulkan tantangan jangka pendek, dalam jangka panjang strategi hilirisasi akan memberikan manfaat lebih besar bagi perekonomian daerah dan nasional. Peralihan dari ekspor bahan mentah ke produk olahan akan meningkatkan nilai tambah industri dan mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga komoditas global.

Selain itu, hilirisasi juga akan menciptakan efek berantai yang positif bagi industri pendukung lainnya, seperti logistik, manufaktur, dan tenaga kerja. Dengan adanya industri pengolahan yang berkembang, kebutuhan akan tenaga kerja terampil semakin meningkat. Oleh karena itu, diperlukan investasi di sektor pendidikan dan pelatihan vokasi agar tenaga kerja lokal dapat beradaptasi dengan tuntutan industri yang lebih maju.

Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menilai bahwa pemerintah juga harus memastikan adanya insentif bagi investor yang bersedia menanamkan modalnya dalam proyek hilirisasi. Keringanan pajak, fasilitas infrastruktur yang memadai, serta kepastian hukum menjadi faktor yang sangat menentukan bagi keberhasilan program ini. Selain itu, kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah dalam menyederhanakan regulasi investasi akan membantu menarik minat investor dalam negeri maupun asing.

Tidak hanya itu, penguatan daya saing produk dalam negeri juga menjadi bagian penting dari strategi hilirisasi. Dengan meningkatnya produksi barang jadi atau setengah jadi di dalam negeri, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan ekspor produk bernilai tambah tinggi. Hal ini akan berdampak pada perbaikan neraca perdagangan serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Untuk mencapai target investasi yang telah ditetapkan, pemerintah pusat dan daerah perlu bersinergi dalam menciptakan kebijakan yang mendukung iklim investasi yang kondusif. Peningkatan kemudahan berusaha, insentif fiskal bagi investor, serta penguatan infrastruktur menjadi faktor penting dalam menarik investasi baru. Selain itu, pengembangan sektor hilirisasi harus disertai dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar dapat mendukung industri yang lebih maju dan berkelanjutan.

Komitmen pemerintah dalam mendorong investasi dan hilirisasi bukan hanya sebatas target angka semata, tetapi juga harus diiringi dengan langkah konkret yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Pembangunan infrastruktur industri, perbaikan regulasi investasi, serta peningkatan kualitas tenaga kerja merupakan aspek penting yang harus diperhatikan. Dengan demikian, manfaat dari hilirisasi dan investasi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Investasi dan hilirisasi merupakan kunci bagi Indonesia dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah, dunia usaha, dan akademisi, perlu berkontribusi dalam mendukung agenda ini. Dengan komitmen yang kuat dan langkah yang terencana, Indonesia dapat menjadi pusat industri bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di kancah global.

 

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute

Optimalisasi Hilirisasi Tembaga untuk Meningkatkan Daya Saing Industri Nasional

Oleh : Aristika Utami

Tembaga merupakan salah satu komoditas mineral yang memiliki peranan penting dalam berbagai sektor industri, terutama dalam bidang elektronik, energi, dan infrastruktur. Namun, meskipun Indonesia memiliki cadangan tembaga yang besar, sebagian besar hasil tambang tembaga diolah di luar negeri, yang mengurangi potensi nilai tambah yang bisa diperoleh. Oleh karena itu, optimalisasi hilirisasi tembaga menjadi hal yang sangat penting untuk meningkatkan daya saing industri nasional Indonesia.

Dalam konteks tembaga, hilirisasi dapat mencakup pengolahan tembaga dari bahan mentah menjadi produk-produk seperti kabel, peralatan elektronik, dan berbagai komponen industri lainnya yang memiliki permintaan tinggi di pasar domestik maupun internasional. Dengan mengolah tembaga di dalam negeri, Indonesia tidak hanya dapat meningkatkan pendapatan negara melalui pajak dan ekspor, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan baru dan mengurangi ketergantungan pada impor produk tembaga olahan.

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus mengatakan bahwa hilirisasi tembaga memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan energi dan industri nasional. Namun, untuk memastikan daya saing produk hilirisasi dapat optimal di pasar global, diperlukan dukungan yang komprehensif dari berbagai sektor. Salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan adalah pembangunan infrastruktur dasar yang lebih baik serta peningkatan konektivitas yang lebih baik.

Dengan tumbuhnya tren menuju energi terbarukan dan mobilitas listrik, permintaan tembaga diperkirakan akan terus meningkat. Indonesia, yang memiliki cadangan tembaga melimpah, memiliki kesempatan besar untuk memanfaatkan momentum ini dengan mengolah tembaga di dalam negeri, sehingga tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga dapat memasok pasar internasional.

Hilirisasi tembaga akan mendukung pengembangan industri energi hijau dan kendaraan listrik di Indonesia, sekaligus membuka peluang bagi pengembangan teknologi dan inovasi baru yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam sektor industri global yang berkembang pesat. Dalam hal ini, pengolahan tembaga menjadi komponen penting dalam pembangunan infrastruktur energi terbarukan, seperti panel surya dan turbin angin, yang membutuhkan bahan baku tembaga untuk menghasilkan produk berkualitas.

Melalui PT Freeport Indonesia, MIND ID memainkan peran yang sangat krusial dalam mendorong hilirisasi tembaga di Indonesia, dengan tujuan untuk memastikan lebih banyak industri strategis berkembang di dalam negeri.  Sebagai salah satu produsen tembaga terbesar di Indonesia, Freeport memiliki potensi besar untuk mengolah tembaga menjadi produk-produk bernilai tambah tinggi yang dapat memenuhi kebutuhan berbagai sektor industri, seperti elektronik, energi terbarukan, dan otomotif.

Corporate Secretary MIND ID, Heri Yusuf, mengatakan MIND ID konsisten menjalankan hilirisasi secara berkelanjutan dan siap mendukung industri dalam menghasilkan berbagai produk teknologi inovatif berbasis tembaga di dalam negeri. Melalui langkah-langkah strategis dalam hilirisasi, MIND ID membantu mempercepat pengembangan ekosistem industri dalam negeri yang lebih mandiri dan berdaya saing. Salah satu upaya MIND ID dalam memperkuat hilirisasi dengan membangun smelter Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur. Smelter ini menjadi infrastruktur kunci dalam pemurnian tembaga nasional yang akan meningkatkan kapasitas produksi serta nilai tambah mineral di dalam negeri.

Untuk mendukung optimalisasi hilirisasi tembaga, pemerintah Indonesia telah mengambil berbagai langkah strategis. Salah satunya adalah dengan memperbaiki dan meningkatkan infrastruktur yang mendukung pengolahan tembaga. Pembangunan smelter (pabrik pengolahan tembaga) menjadi salah satu langkah penting dalam mempercepat hilirisasi. Dengan adanya smelter yang dapat mengolah tembaga menjadi produk setengah jadi atau barang jadi, Indonesia akan mendapatkan lebih banyak manfaat dari komoditas ini. Selain itu, fasilitas tersebut juga akan membantu meningkatkan kapasitas produksi tembaga nasional serta menciptakan lapangan pekerjaan di daerah sekitar smelter.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Rizal Kasli mengatakan bahwa terbentuknya Badan Pengelola Investasi dan peran MIND ID memberikan peluang besar untuk membangun perusahaan baru yang khusus bergerak di bidang hilir tembaga. Keberadaan badan ini juga memberi peluang bagi pengembangan teknologi dan inovasi baru yang dapat menghasilkan produk tembaga berkualitas tinggi. Hal ini tentunya sangat menghemat devisa negara, karena dapat mengurangi ketergantungan pada impor barang olahan tembaga.

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan, dan tembaga merupakan bahan baku utama dalam pembuatan peralatan pembangkit energi, seperti turbin angin dan sistem tenaga surya. Dengan mengoptimalkan hilirisasi tembaga, Indonesia tidak hanya dapat mendukung ketahanan energi domestik, tetapi juga berperan dalam pengembangan energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Optimalisasi hilirisasi tembaga merupakan langkah strategis yang sangat penting untuk meningkatkan daya saing industri nasional Indonesia. Dengan mengolah tembaga di dalam negeri, Indonesia dapat menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan, meningkatkan nilai tambah, serta mengurangi ketergantungan pada impor barang tembaga olahan.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung hilirisasi tembaga melalui kebijakan yang mempermudah investasi, peningkatan infrastruktur, dan pengembangan sumber daya manusia yang kompeten. Namun, tantangan dalam hal investasi dan teknologi harus terus diatasi untuk memastikan hilirisasi tembaga yang berkelanjutan dan efisien. Dengan langkah-langkah yang tepat, hilirisasi tembaga dapat menjadi pilar utama dalam pengembangan industri Indonesia yang mandiri, berdaya saing tinggi, dan mampu bersaing di pasar global.

 

)* Penulis adalah Pengamat Isu Ekonomi

 

Mewujudkan Asta Cita Presiden Melalui Hilirisasi untuk Kemandirian Industri Indonesia

Oleh : Naura Astika )*

Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, memiliki potensi besar untuk menjadi negara industri yang tangguh dan mandiri. Namun, selama ini, banyak dari kekayaan alam tersebut hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah tanpa ada nilai tambah yang signifikan. Hal ini menyebabkan Indonesia sering kali hanya menjadi negara konsumen daripada negara produsen dengan produk bernilai tambah yang lebih tinggi.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia fokus mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan meningkatkan industri pengolahan melalui hilirisasi. Kebijakan ini menjadi kunci dalam mewujudkan Asta Cita Presiden untuk menjadikan Indonesia lebih mandiri, berdaya saing, dan bernilai tambah tinggi.

Hilirisasi merujuk pada proses pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi atau setidaknya barang setengah jadi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Hal ini menjadi sangat penting agar Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi mampu menciptakan produk yang lebih bernilai dan berkompetisi di pasar global.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat mengatakan kebijakan hilirisasi yang dijalankan oleh pemerintah dapat memberikan dampak positif terhadap kawasan industri dan pergudangan. Karena ketika proses A to Z ada di dalam ranah manufaktur maka pihaknya merasa added value ini tidak hanya memberikan nilai tambah pada produk tapi juga memberikan nilai positif terhadap keseluruhan performa pasar kawasan industri.

Salah satu dampak positif dari kebijakan hilirisasi ini adalah perubahan sektor industri di kawasan Greater Jakarta. Kawasan ini yang sebelumnya dikenal dengan sektor industri padat karya, kini tengah beralih menuju high-tech industry. Oleh karena itu, kebijakan hilirisasi yang diterapkan pemerintah tentunya akan didukung oleh pembangunan infrastruktur. Pemerintah juga fokus membangun dan meningkatkan infrastruktur di kawasan industri dan pergudangan. Hal ini diharapkan dapat mendorong investasi serta membuka peluang baru dalam pengembangan sektor industri.

Dengan adanya pengolahan di dalam negeri, Indonesia tidak hanya dapat menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan, tetapi juga dapat meningkatkan daya saing industri di pasar global. Hilirisasi akan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor barang-barang manufaktur, yang seringkali lebih mahal dan kurang terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Proses hilirisasi akan mempercepat terciptanya industri yang dapat bersaing dengan negara lain dalam hal kualitas, efisiensi, dan harga.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa proyek-proyek hilirisasi mencakup berbagai sektor strategis, proyek utama dalam hilirisasi industri salah satunya adalah pembangunan storage proyek minyak di Pulau nipah.

Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional dengan memperkuat kapasitas penyimpanan minyak mentah di dalam negeri. Dengan adanya pengolahan di dalam negeri, Indonesia dapat memperluas lapangan pekerjaan, meningkatkan daya saing industri, serta mengurangi ketergantungan pada impor barang-barang manufaktur.

Hilirisasi adalah proses pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi atau setidaknya barang setengah jadi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Dalam sektor industri, hilirisasi berperan penting untuk mengubah Indonesia dari negara yang hanya mengandalkan ekspor bahan mentah menjadi negara industri yang mampu menghasilkan produk-produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengatakan bahwa pemerintah terus mendorong investasi dalam proyek hilirisasi yang lebih matang. Hilirisasi proyek hilirisasi ini juga diarahkan agar selaras dengan target pemerintah mencapai net zero emission (NZE) pada 2060 agar sesuai dengan industrialisasi yang ingin kita capai sehingga proyek-proyek ini menjadi proyek yang berkelanjutan dan pada saat yang sama, emisinya menjadi lebih baik.

Untuk mewujudkan hilirisasi yang sukses, investasi menjadi faktor penting yang harus didorong. Presiden Prabowo Subianto secara tegas mengarahkan kebijakan untuk menarik investasi asing dan domestik dalam sektor industri, termasuk industri pengolahan hasil alam. Beberapa kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah, seperti kemudahan perizinan, penyederhanaan regulasi, dan pemberian insentif fiskal, bertujuan untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif.

Keberhasilan hilirisasi sangat bergantung pada masuknya investasi yang tepat. Dengan adanya investasi, sektor industri akan berkembang pesat, dan lebih banyak produk bernilai tambah yang dihasilkan. Investasi ini juga membuka peluang bagi pengembangan sumber daya manusia yang lebih kompeten dalam bidang teknologi, rekayasa, dan manajemen industri. Hal ini akan membantu Indonesia untuk memiliki tenaga kerja yang lebih terampil dan profesional, yang menjadi landasan penting bagi kemajuan industri nasional.

Hilirisasi adalah langkah strategis yang tidak hanya mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan cita-cita besar Presiden Jokowi untuk kemandirian ekonomi, tetapi juga berperan penting dalam menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan daya saing industri, dan mengoptimalkan potensi sumber daya alam Indonesia. Investasi yang masuk ke sektor hilirisasi akan mempercepat proses pengolahan bahan mentah, menciptakan produk bernilai tambah, dan pada akhirnya memperkuat perekonomian Indonesia.

Dengan kebijakan yang tepat, dukungan investasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur, Indonesia dapat mewujudkan industri yang lebih mandiri dan berdaya saing tinggi. Hilirisasi bukan hanya sebuah upaya untuk meningkatkan ekonomi, tetapi juga menjadi kunci untuk membuka pintu menuju Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.

)* Penulis adalah Pengamat Kebijakan Publik

 

 

Hilirisasi dan Investasi: Kunci Membangun Masa Depan Indonesia

Oleh : Aristika Utami )*

Hilirisasi dan investasi merupakan dua elemen penting yang memiliki peranan strategis dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Di tengah tantangan global, Indonesia perlu memastikan bahwa sumber daya alam yang melimpah dapat dimanfaatkan secara optimal. Salah satu konsep yang relevan untuk mencapai tujuan ini adalah “Asta Cita”, yang memiliki makna sebagai visi atau cita-cita luhur yang harus diwujudkan untuk kebaikan bersama.

Investasi menjadi kunci utama dalam proses hilirisasi. Tanpa modal yang cukup, proses pengolahan dan pengembangan industri hilirisasi tidak akan berjalan dengan optimal. Oleh karena itu, Indonesia perlu menarik investasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, untuk mengembangkan sektor-sektor industri yang memiliki potensi besar.

Kebijakan yang mendukung, kemudahan berbisnis, serta adanya insentif pajak bagi investor yang berinvestasi di sektor-sektor hilirisasi sangat penting untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif. Investasi juga dapat mendorong pembangunan infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung proses hilirisasi, seperti pengembangan teknologi, energi, dan transportasi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa pemerintah telah menyepakati 21 proyek hiliriasasi untuk tahap pertama dengan nilai investasi sebesar USD 40 miliar. Jenis proyek tersebut, mencakup berbagai sektor strategis, termasuk minyak dan gas, pertambangan, pertanian, hingga kelautan.

Melalui hilirisasi dan investasi, Indonesia dapat meningkatkan nilai tambah produk-produk yang dihasilkan dari sumber daya alam, dan bukan hanya sekadar mengekspor bahan mentah. Hal ini sangat penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah yang sering kali rentan terhadap fluktuasi harga global. Dengan demikian, kedua aspek ini memiliki peran yang sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, serta mendorong pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia.

Sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam, BUMN Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, memperkuat posisinya sebagai pilar utama hilirisasi nasional dengan secara konsisten melaksanakan investasi untuk mempercepat industrialisasi di sektor mineral dan batu bara. Proyek hilirisasi yang dilakukan oleh MIND ID diharapkan dapat menjadi model bagi perusahaan-perusahaan lain dalam mengembangkan sektor industri yang lebih bernilai tambah tinggi.

Corporate Secretary MIND ID, Heri Yusuf mengatakan bahwa Grup MIND ID telah menyiapkan alokasi investasi Rp20,6 triliun untuk lima proyek strategis, investasi yang dialokasikan Grup MIND ID diarahkan untuk memperkuat hilirisasi, menciptakan industri turunan yang berkelanjutan, serta mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada 2025, MIND ID mengerjakan sejumlah proyek strategis, seperti Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Kalimantan Barat untuk mengurangi ketergantungan impor alumina, smelter aluminium baru oleh INALUM dengan kapasitas 600 ribu ton per tahun, serta smelter nikel dan fasilitas HPAL di Halmahera Timur untuk mendukung industri kendaraan listrik. Selain itu, smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik mulai beroperasi pada kuartal ketiga 2025, dan pengembangan infrastruktur batu bara di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, untuk efisiensi pengangkutan batu bara.

Hilirisasi dan investasi memainkan peran yang sangat penting dalam membangun masa depan Indonesia. Sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama di dunia. Namun, untuk mewujudkan potensi tersebut, Indonesia perlu memanfaatkan kedua hal ini dengan efektif.

Sejalan dengan itu, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) untuk mempersiapkan tenaga kerja yang terampil dan tersertifikasi. Inisiatif ini bertujuan mendukung pertumbuhan investasi dan mempercepat perkembangan industri hilirisasi di Indonesia. Ketersediaan tenaga kerja yang terampil sangat penting untuk memastikan bahwa sektor hilirisasi dapat berkembang dengan baik dan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Kemnaker guna mempersiapkan tena­ga kerja guna menarik investasi. Hal ini dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja, mendorong investasi yang lebih inklusif, serta memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional melalui sinergi antara ketenagakerjaan dan hilirisasi industri. Fokus utama dari kolaborasi ini adalah untuk menciptakan lapangan kerja yang tidak hanya banyak, tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan.

Upaya ini juga berfokus pada memastikan tenaga kerja Indonesia siap memenuhi tuntutan industri modern, sekaligus meningkatkan daya saing nasional dalam menarik investasi, khususnya di sektor hilirisasi yang menjadi prioritas Pemerintah. Dengan memanfaatkan SDA secara optimal, Indonesia dapat memperkuat sektor industri, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan negara.

Hilirisasi dan investasi saling berhubungan dan saling mendukung. Investasi yang masuk ke Indonesia dapat mempercepat pengembangan sektor hilirisasi, sedangkan hilirisasi yang sukses dapat meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi. Dengan hilirisasi, Indonesia tidak hanya mengandalkan ekspor bahan mentah, tetapi juga bisa menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi, yang akan meningkatkan pendapatan negara dan menciptakan ekosistem industri yang lebih beragam. Hal ini sejalan dengan upaya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri, berdaya saing, dan memiliki posisi yang kuat di dunia.

 

)* Penulis adalah Pengamat Isu Ekonomi

 

 

Pemerintah Targetkan Kontribusi Proyek Hilirisasi pada Industrialisasi Berkelanjutan

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto telah menerima laporan dari Satgas Hilirisasi dan beberapa kementerian terkait mengenai perkembangan investasi di sektor hilirisasi.

Pertemuan yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, tersebut memaparkan sejumlah proyek strategis yang akan dikembangkan untuk mendorong industrialisasi serta mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa pemerintah tengah mengevaluasi berbagai proyek hilirisasi yang mencakup sektor mineral, batu bara, serta produk pertanian dan kelautan.

Menurutnya, penilaian terhadap proyek-proyek ini tidak hanya berdasarkan aspek ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, dan pengurangan impor.

“Kami dari Satgas Hilirisasi dan juga semua kementerian terkait, termasuk Pak Menteri KKP, baru saja melaporkan kepada Bapak Presiden beberapa proyek yang akan kita investasikan, kita akan review di hilirisasi. Kita melihat proyek-proyek ini dampaknya gimana terhadap penciptaan lapangan pekerjaan, dampaknya ke segi ekspor seperti apa, penurunan impornya seperti apa, dan juga kesiapan tentunya dari pendanaannya,” ujar Rosan.

Rosan menambahkan bahwa pemerintah menargetkan agar proyek hilirisasi yang dipilih tidak hanya memberi manfaat jangka pendek, tetapi juga berkontribusi pada industrialisasi yang berkelanjutan.

Oleh karena itu, berbagai tahapan evaluasi akan dilakukan untuk memastikan investasi yang dilakukan memberikan hasil yang optimal.

“Dalam panel ini nanti, semua kementerian akan duduk lagi untuk lebih mendetailkan program-program itu, proyek-proyek itu sehingga bisa menjadi feasible karena ini investasinya juga harus memberikan return yang baik, yang acceptable karena ini akan banyak diberikan pendanaan, misalnya oleh Danantara,” jelas Rosan.

Selain aspek ekonomi, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya dampak proyek hilirisasi terhadap penciptaan lapangan pekerjaan.

Hilirisasi Berkualitas Ciptakan Lapangan Kerja dan Dukung Asta Cita Presiden Prabowo

Jakarta – Hilirisasi industri yang berkelanjutan dan berkualitas merupakan langkah penting dalam meningkatkan perekonomian Indonesia, menciptakan lapangan kerja, serta mewujudkan visi dan cita-cita Presiden Prabowo Subianto dalam membangun Indonesia yang lebih kuat dan mandiri.

Melalui kebijakan hilirisasi yang berbasis pada inovasi dan kualitas, Indonesia diharapkan dapat memperkuat daya saing global dan mendorong keberlanjutan pembangunan di berbagai sektor.

Anggota Komisi XII DPR RI, Christiany Eugenia Tetty Paruntu, menyampaikan penekanan Presiden Prabowo Subianto mengenai program hilirisasi yang harus berkualitas dengan sasaran dapat membuka banyak lapangan kerja, meningkatkan ekonomi yang inklusif di wilayah setempat, dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Artinya hilirisasi yang lebih banyak membuka lapangan kerja, inklusif, berkeadilan, berdampak sosial, dan berkelanjutan,” kata Tetty.

Hilirisasi yang berkualitas akan memainkan peran kunci dalam menciptakan lapangan kerja yang luas sekaligus mendukung pencapaian asta cita Presiden Prabowo Subianto.

Asta Cita, yang menjadi pedoman dalam arah kebijakan Presiden Prabowo, menekankan pentingnya peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia melalui penciptaan ekonomi yang berkelanjutan, pemerataan kesejahteraan, dan penguatan ketahanan ekonomi nasional.

Menurut Christiany Eugenia Tetty Paruntu, kualitas dan fokus hilirisasi akan menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan hilirisasi yang tepat, Indonesia dapat mengoptimalkan sumber daya alam, menciptakan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan daya saing global, yang pada akhirnya akan mengubah ekonomi Indonesia menjadi lebih maju dan mandiri.

“Dengan hilirisasi yang berkualitas maka akan tercipta lapangan kerja yang luas, berkeadilan, berdampak sosial dan juga berkelanjutan,” lanjut Tetty.

Sama halnya dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan selain memperkuat ketahanan energi dan industri nasional, hilirisasi ini juga diproyeksikan akan membuka peluang besar dalam menciptakan berbagai lapangan pekerjaan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di seluruh wilayah tanah air.

“Hilirisasi pasti akan menciptakan banyak lapangan pekerjaan. Cukup banyak angka-angkanya nanti kita akan umumkan pada kesempatan yang lain, tetapi yang jelas kita blending antara padat karya dan padat teknologi,” kata Bahlil.

Dengan hilirisasi yang berkualitas, Indonesia tidak hanya akan menikmati pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, tetapi juga menjamin pemerataan kesempatan bagi masyarakat, sesuai dengan tujuan asta cita Presiden Prabowo untuk menciptakan Indonesia yang lebih mandiri, makmur, dan sejahtera.