Siap-Siap! Hilirisasi Industri Bakal Buka Banyak Peluang Kerja

Jakarta – Pemerintah berkomitmen meningkatkan investasi guna mempercepat hilirisasi industri di berbagai sektor strategis. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa investasi besar-besaran telah disiapkan untuk mendukung program ini.

“Kami telah memutuskan, (investasi) hilirisasi yang ditargetkan kurang lebih sekitar USD618 miliar untuk tahun 2025,” ujar Bahlil.

Pada tahap awal, pemerintah akan meluncurkan 21 proyek dengan total investasi mencapai USD40 miliar. Beberapa proyek akan mendapatkan pendanaan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Bahlil merinci sejumlah proyek hilirisasi yang akan segera berjalan. Salah satunya adalah pembangunan fasilitas penyimpanan minyak di Pulau Nipah yang diharapkan dapat meningkatkan ketahanan energi nasional. Penyimpanan ini ditargetkan mampu memenuhi kebutuhan energi nasional selama 30 hari, sesuai dengan amanat Peraturan Presiden.

Selain itu, pemerintah akan membangun fasilitas penyulingan minyak berkapasitas 500 ribu barel per hari, menjadikannya salah satu yang terbesar di Indonesia. Proyek ini bertujuan untuk menstabilkan pasokan energi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Di sektor gasifikasi batu bara, pemerintah menargetkan produksi dimethyl ether (DME) sebagai substitusi LPG. Proyek ini akan dikembangkan di Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan dengan pendekatan berbasis sumber daya dalam negeri.

Sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo, pemerintah telah menetapkan 26 sektor komoditas sebagai prioritas hilirisasi nasional. Sektor-sektor tersebut mencakup mineral, minyak dan gas, perikanan, pertanian, perkebunan, serta kehutanan.

Ekonom CORE Indonesia, Muhammad Faisal menilai kebijakan ini sebagai langkah positif.

“Hilirisasi bukan hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga berdampak pada penciptaan lapangan pekerjaan,” ujarnya. Namun, ia mengingatkan perlunya perbaikan dari pengalaman sebelumnya, terutama terkait keterkaitan industri dengan ekonomi lokal dan aspek lingkungan.

Faisal juga menyoroti pentingnya mempertimbangkan permintaan pasar sebelum mengembangkan industri hilirisasi.

“Kita tidak ingin menciptakan produk yang nanti tidak memiliki pembeli,” tegasnya.

Meski ada tantangan seperti kebijakan proteksionisme Amerika Serikat, Faisal optimistis pasar hilirisasi tetap luas, baik di dalam maupun luar negeri.

Ia menekankan bahwa kebijakan proteksionisme lebih menyasar negara seperti China, Meksiko, Kanada, dan Vietnam, sementara Indonesia masih memiliki potensi besar untuk berkembang.

**

Hilirisasi dan Investasi, Kunci Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa hilirisasi merupakan kunci utama dalam mendorong investasi nasional dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada investasi yang saat ini menyumbang sekitar 30% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Ekonomi kita tidak bisa hanya bergantung pada konsumsi. Untuk menciptakan lapangan pekerjaan, kita harus mendorong investasi. Dan investasi itu harus berbasis industrialisasi dan hilirisasi,” ujar Bahlil.

Ia mencontohkan keberhasilan hilirisasi nikel yang telah meningkatkan nilai ekspor Indonesia secara signifikan. Sebelum hilirisasi, Indonesia hanya mengekspor bahan mentah, tetapi kini ekspor nikel telah mencapai 40 miliar USD.

“Ini membuktikan bahwa hilirisasi mampu mengubah struktur ekonomi kita,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antar-kementerian agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan.

“Tidak ada satu pun negara yang berhasil melakukan industrialisasi tanpa keterlibatan negara secara aktif. Oleh karena itu, kita harus memastikan ada tata kelola yang jelas agar hilirisasi berjalan efektif,” tegasnya.

Di sisi lain, ia juga menyoroti ketimpangan dalam distribusi manfaat dari hilirisasi. Menurutnya, keuntungan industri ini masih lebih banyak dinikmati oleh investor asing dibandingkan masyarakat lokal.

“Hilirisasi harus adil. Jangan sampai hanya dinikmati oleh investor luar negeri sementara masyarakat kita hanya jadi penonton,” ujarnya.

Anggota Komisi XII DPR RI, Christiany Eugenia Tetty Paruntu menegaskan bahwa hilirisasi di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto harus berkualitas dan berorientasi pada peningkatan lapangan kerja serta ekonomi inklusif.

“Artinya hilirisasi yang lebih banyak membuka lapangan kerja, inklusif, berkeadilan, berdampak sosial, dan berkelanjutan,” kata Tetty.

Ia menambahkan bahwa hilirisasi menjadi strategi penting untuk mencapai ketahanan energi dan pangan nasional. Indonesia, menurutnya, memiliki potensi besar di sektor energi dan kemaritiman yang perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mengembangkan ekonomi hijau dan biru.

“Dalam ekonomi hijau ini, kita tahu, sangat rendah karbon, dan ini baik untuk lingkungan. Sementara dalam ekonomi biru, kita punya laut yang luas dan sumber daya manusia angkatan kerja yang banyak,” tuturnya.

Tetty menekankan bahwa hilirisasi berkualitas harus didukung regulasi pemerintah pusat dan daerah guna menciptakan ekosistem ekonomi yang baik.

“Dengan hilirisasi yang berkualitas maka akan tercipta lapangan kerja yang luas, berkeadilan, berdampak sosial, dan juga berkelanjutan,” kata dia.

*

Hilirisasi dan Investasi Strategi Ampuh Pemerintah Ciptakan Lapangan Kerja

Jakarta – Optimalisasi program hilirisasi dan investasi yang dilaksanakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mendapat dukungan dari kalangan legislatif. Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi XII DPR RI, Christiany Eugenia Tetty Paruntu.

“Artinya hilirisasi yang lebih banyak membuka lapangan kerja, inklusif, berkeadilan, berdampak sosial, dan berkelanjutan,” kata Tetty dalam keterangannya di Jakarta.

Ia menegaskan bahwa hilirisasi merupakan strategi penting dalam mencapai ketahanan energi dan pangan nasional.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar di sektor energi dan kemaritiman sehingga hilirisasi berperan dalam meningkatkan nilai ekonomi hijau dan ekonomi biru.

“Dalam ekonomi hijau ini, kita tahu, sangat rendah karbon, dan ini baik untuk lingkungan. Sementara dalam ekonomi biru, kita punya laut yang luas dan sumber daya manusia angkatan kerja yang banyak,” ujarnya.

Tetty juga menyoroti tantangan yang akan dihadapi dalam pelaksanaan hilirisasi. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, termasuk dukungan regulasi dari pemerintah pusat dan daerah untuk menciptakan ekosistem usaha yang baik.

“Dengan hilirisasi yang berkualitas maka akan tercipta lapangan kerja yang luas, berkeadilan, berdampak sosial dan juga berkelanjutan,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani menekankan pentingnya menyiapkan tenaga kerja yang mampu menghadapi tuntutan industri modern.

Dengan meningkatnya investasi di sektor hilirisasi, dibutuhkan tenaga kerja terampil dan tersertifikasi agar manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih luas.

“Untuk tahun lalu saja, dari realisasi investasi sebesar Rp1.700 triliun, tenaga kerja yang tercipta adalah 2,45 juta orang. Kami melihat pada tahun ini sampai lima tahun ke depan, tenaga kerja yang tercipta per tahun secara rata-rata mencapai 2,8-2,9 juta orang,” ujar Rosan.

Hilirisasi dan investasi yang terarah diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat secara berkelanjutan.

*

Cek Kesehatan Gratis Dinikmati Masyarakat secara langsung

Jakarta – Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program cek kesehatan gratis menjadi program pemerintah yang secara langsung dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat, dengan adanya program tersebut tentunya dapat memberikan pelayanan kesehatan preventif dan deteksi dini bagi masyarakat dari berbagai kelompok usia.

 

Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengungkapkan bahwa program ini menggunakan anggaran sebesar Rp3,4 triliun, dengan rincian Rp2,2 triliun dari Kementerian Kesehatan dan Rp1,2 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

 

“Pemeriksaan kesehatan gratis ini diberikan kepada masyarakat yang berulang tahun, anak-anak di sekolah, ibu hamil, serta bayi dan anak hingga usia enam tahun sesuai dengan petunjuk teknis (Juknis),” ujarnya.

 

Program telah berjalan, secara serentak sejak 10 Februari 2025. Program ini memungkinkan masyarakat yang sedang berulang tahun untuk menikmati layanan kesehatan gratis di fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan klinik. Pelaksanaan program ini akan dilakukan secara merata di seluruh daerah dengan koordinasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kini, CKG tidak hanya dapat dilakukan di tanggal ulang tahun, tetapi di tanggal berapapun selama setahun sekali.

 

Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Adita Irawati, menyampaikan bahwa program ini sebagai bagian dari janji kampanye Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Presiden berharap program ini dapat menjadi bagian dari perlindungan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

 

“Adanya program cek kesehatan gratis diharapkan bisa menjadi langkah preventif dalam menjaga kesehatan masyarakat Indonesia. Dengan jumlah penduduk mencapai 280 juta jiwa, layanan ini akan dinikmati secara bertahap,” ungkapnya.

 

Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara bertahap berdasarkan kelompok usia, yang terbagi menjadi tiga kategori utama. CKG ditujukan untuk usia 0-6 tahun dan 18 tahun ke atas, dengan pemeriksaan kesehatan gratis dalam kurun waktu satu kali selama setahun di puskesmas dan klinik. CKG Sekolah diperuntukkan bagi anak usia 7-17 tahun dan dilakukan setiap tahun ajaran baru sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan berkala di sekolah. CKG Khusus ditujukan bagi ibu hamil dan balita, yang akan mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan secara berkala di puskesmas dan posyandu sesuai jadwal.

 

Langkah pemerintah dalam menyediakan program pemeriksaan kesehatan gratis yang bermanfaat bagi masyarakat sangat patut diapresiasi. Inisiatif ini menunjukkan komitmen nyata dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup, memastikan akses layanan kesehatan yang lebih merata bagi semua kelompok usia.

 

 

Sinergi Lintas Sektoral Mendukung Ketahanan Pangan Nasional

Oleh: Samad Arifin *)

 

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berkomitmen penuh dalam mewujudkan Indonesia yang mandiri dan sejahtera melalui program Asta Cita. Salah satu aspek penting dalam agenda pembangunan nasional adalah ketahanan pangan, yang menjadi fondasi utama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Ketahanan pangan bukan sekadar memastikan ketersediaan bahan makanan, tetapi juga mencakup stabilitas harga, aksesibilitas bagi seluruh lapisan masyarakat, serta keberlanjutan produksi di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Dalam upaya mencapai swasembada pangan, pemerintah menggalakkan berbagai kebijakan strategis, termasuk penguatan cadangan pangan.

Akademisi di bidang ekonomi dan industri dari Universitas Persada Indonesia YAI, Nurina, menilai langkah ini sebagai strategi yang sangat krusial. Menurutnya, perubahan iklim, fluktuasi harga pangan global, serta risiko bencana alam merupakan tantangan nyata yang memerlukan respons cepat dan terukur. Dengan cadangan pangan yang memadai, Indonesia tidak hanya dapat menghadapi gejolak eksternal, tetapi juga membangun sistem ketahanan pangan yang berkelanjutan untuk jangka panjang. Ia menegaskan bahwa program Asta Cita perlu mendapat dukungan penuh karena secara langsung berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Namun, keberhasilan dalam mencapai swasembada pangan tidak semata-mata bergantung pada ketersediaan sumber daya, tetapi juga pada efektivitas implementasi kebijakan yang dilakukan secara transparan dan inklusif. Untuk itu, pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem pangan nasional melalui berbagai pendekatan, termasuk pemanfaatan inovasi teknologi, peningkatan kapasitas petani, serta kolaborasi lintas sektor yang lebih erat. Nurina menekankan bahwa cadangan pangan yang dikelola dengan baik harus memastikan kuantitas yang cukup, kualitas yang baik, serta distribusi yang merata bagi seluruh masyarakat.

Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Jeki, turut menyoroti pentingnya cadangan pangan sebagai elemen kunci dalam menghadapi tantangan global. Menurutnya, ketersediaan pangan yang stabil akan mendukung kesejahteraan masyarakat, terutama dalam kondisi yang rentan terhadap gangguan eksternal seperti perubahan iklim dan krisis pangan dunia. Ia juga menegaskan bahwa sinergi lintas sektor merupakan faktor utama dalam keberhasilan swasembada pangan. Keterlibatan pemerintah bersama berbagai elemen masyarakat, mulai dari petani, akademisi, sektor swasta, hingga TNI-Polri, menjadi kunci untuk menjamin produksi pangan yang mencukupi dan berkelanjutan.

Pemerintah memiliki peran strategis dalam menciptakan kebijakan yang berpihak pada petani. Melalui Kementerian Pertanian dan lembaga terkait, berbagai program telah digulirkan, seperti subsidi pupuk, penyediaan benih unggul, serta penyuluhan dan pendampingan bagi petani. Selain itu, pembangunan infrastruktur pertanian juga menjadi prioritas, mencakup irigasi, jalan tani, dan fasilitas penyimpanan hasil panen yang lebih baik. Dengan adanya dukungan menyeluruh ini, diharapkan produktivitas pertanian dapat terus meningkat dan berkontribusi langsung terhadap ketahanan pangan nasional.

Dalam skala global, laporan FAO tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 864 juta jiwa mengalami kerawanan pangan, terutama di kawasan pedesaan Asia. Fenomena ini menjadi peringatan bagi Indonesia untuk terus memperkuat ketahanan pangan dengan memperhatikan keseimbangan antara kota dan desa. Ketimpangan dalam akses pangan masih menjadi tantangan besar, di mana kota-kota besar cenderung memiliki ketersediaan pangan yang lebih baik dibandingkan wilayah pedesaan yang justru menjadi penghasil utama bahan makanan. Untuk mengatasi hal ini, pendekatan pembangunan yang lebih merata menjadi keharusan, agar desa sebagai tulang punggung produksi pangan dapat berkembang dan mendukung ketahanan pangan nasional secara lebih optimal.

Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, pemerintah meluncurkan program Brigade Pangan (BP), sebuah langkah konkret dalam mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan. Pendekatan terstruktur dan terintegrasi dari program ini bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya dan teknologi guna meningkatkan hasil produksi pangan secara signifikan. Keberhasilan Brigade Pangan sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, serta kolaborasi dengan berbagai sektor. Tidak hanya melibatkan sektor pertanian, program ini juga melibatkan TNI-Polri dalam pengamanan serta pendampingan, perbankan dalam dukungan pembiayaan, Bulog dalam pengelolaan cadangan pangan, serta sektor swasta dalam inovasi dan teknologi pertanian.

Sinergi dalam implementasi program Brigade Pangan diwujudkan melalui pembentukan kelompok tani yang lebih terorganisir, kemitraan antara petani dan sektor swasta, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pendampingan dan pelatihan. Dengan kerja sama yang erat antara berbagai pihak, produksi pangan nasional dapat ditingkatkan secara signifikan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani sebagai ujung tombak ketahanan pangan.

Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian, terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan program swasembada pangan berjalan dengan optimal. TNI dan Polri berperan dalam pengamanan serta pendampingan teknis, sementara perbankan memberikan dukungan finansial bagi petani dan pelaku usaha di sektor pertanian. Sektor swasta juga dilibatkan dalam pengembangan teknologi pertanian yang lebih modern, yang dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor pangan.

Kolaborasi antara berbagai elemen masyarakat ini menjadi landasan utama dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Dengan sinergi yang kuat, kebijakan yang tepat sasaran, serta koordinasi yang efektif, upaya mencapai swasembada pangan bukan sekadar wacana, tetapi sebuah kenyataan yang dapat diwujudkan dalam waktu dekat. Dengan kerja sama yang erat dan semangat gotong royong, Indonesia dapat membangun ketahanan pangan yang tangguh, memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat, serta menciptakan kesejahteraan yang lebih merata di seluruh wilayah.

 

)* Penggerak Petani Milenial asal Boyolali

Waspadai Seruan Indonesia Gelap Jilid II Ganggu Kekhidmatan Bulan Ramadhan

Oleh : Ilham Ramadhan )*

 

Ajakan untuk menggelar demonstrasi “Indonesia Gelap Jilid II” kembali mencuat di tengah berlangsungnya bulan suci Ramadhan. Seruan aksi ini berpotensi mengganggu kekhidmatan umat Muslim dalam menjalankan ibadah serta menghambat berbagai program pembangunan nasional yang tengah berlangsung.

 

Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, menegaskan bahwa pemerintahan Prabowo Subianto telah menjalankan berbagai kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Pemerintah tengah bekerja keras menjawab berbagai tuntutan masyarakat, sehingga kritik yang disampaikan seharusnya bersifat membangun dan tidak merusak proses pemerintahan yang tengah berjalan.

 

Dalam konteks ini, ajakan untuk menggelar demonstrasi “Indonesia Gelap Jilid II” perlu dicermati secara kritis. Gerakan ini dinilai lebih sebagai bentuk provokasi yang berpotensi mengganggu ketertiban umum serta menghambat berbagai program pembangunan nasional. Daripada terlibat dalam aksi yang kontraproduktif, masyarakat sebaiknya memberikan dukungan bagi pemerintah agar percepatan pembangunan dapat terus berlangsung. Jangan sampai energi bangsa hanya terkuras untuk hal-hal yang tidak memiliki manfaat secara langsung.

 

Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), turut menyampaikan optimisme bahwa masa depan Indonesia tidaklah gelap. Dengan kerja keras dan kolaborasi dari seluruh elemen bangsa, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju. Ia menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menciptakan masa depan yang lebih baik, bukan justru terjebak dalam aksi yang dapat menghambat kemajuan.

 

SBY juga menyoroti bahwa Indonesia adalah negara yang penuh harapan. Perdebatan dan kritik terhadap pemerintah memang penting, tetapi harus diiringi dengan tindakan nyata yang bersifat konstruktif. Kritik yang hanya berorientasi pada provokasi tanpa solusi justru dapat merugikan kepentingan masyarakat luas.

 

Seruan demonstrasi “Indonesia Gelap Jilid II” menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas nasional. Jika aksi ini berlangsung dalam skala besar, maka potensi gangguan terhadap berbagai sektor kehidupan, termasuk ekonomi dan sosial, menjadi semakin nyata. Padahal, pemerintah tengah berupaya keras untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang sedang berjalan.

 

Selain berdampak pada pembangunan, seruan aksi ini juga berpotensi mengganggu kekhidmatan bulan suci Ramadhan. Menteri Agama, Nasaruddin Umar, mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum yang menyenangkan dan menenangkan. Ramadhan adalah bulan yang penuh makna, sehingga sudah sepatutnya umat Muslim dan masyarakat secara umum memanfaatkan kesempatan ini untuk memperbanyak aktivitas positif.

 

Menag menekankan bahwa Ramadhan adalah bulan istimewa, di mana banyak peristiwa penting dalam sejarah terjadi, termasuk proklamasi kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh umat beragama untuk membangun energi positif dan menetapkan momentum ini sebagai ajang untuk memperkuat persatuan bangsa. Demonstrasi yang berpotensi menimbulkan gesekan sosial justru bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi selama bulan suci ini.

 

Menjaga situasi tetap kondusif selama Ramadhan sangatlah penting bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Ramadhan adalah waktu bagi umat Muslim untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, menjalankan ibadah dengan khusyuk, serta memperkuat hubungan sosial melalui berbagai kegiatan positif seperti berbagi dengan sesama. Aksi demonstrasi yang berpotensi menimbulkan kericuhan hanya akan mengganggu suasana spiritual dan kebersamaan masyarakat.

 

Selain itu, ketenangan selama bulan suci ini juga mendukung kelancaran aktivitas ekonomi, terutama bagi para pelaku usaha kecil dan menengah yang banyak mengandalkan momentum Ramadhan untuk meningkatkan pendapatan. Jika situasi tidak kondusif, maka perekonomian masyarakat bisa terganggu, yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Oleh karena itu, menciptakan suasana yang aman dan damai selama Ramadhan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

 

Dalam situasi seperti ini, mahasiswa sebagai elemen intelektual bangsa diharapkan mampu berpikir jernih dan tidak mudah terprovokasi oleh ajakan-ajakan yang tidak jelas arah dan tujuannya. Gerakan mahasiswa memang memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan demokrasi, tetapi harus tetap berlandaskan pada kajian akademik dan moralitas yang tinggi. Mahasiswa seharusnya mendorong perubahan melalui jalur yang lebih strategis dan solutif.

 

Indonesia saat ini membutuhkan kolaborasi dan sinergi dari berbagai pihak untuk terus maju. Program-program nasional yang tengah berjalan, mulai dari pembangunan infrastruktur, penguatan ketahanan pangan, hingga peningkatan kesejahteraan sosial, memerlukan dukungan penuh dari masyarakat. Ketika ada pihak yang mencoba menghambat laju pembangunan melalui aksi-aksi provokatif, maka masyarakat perlu bersikap bijak dan tidak mudah terpengaruh.

 

Tantangan bangsa saat ini bukanlah tentang kegelapan yang disuarakan oleh kelompok tertentu, melainkan bagaimana semua elemen bangsa dapat berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang lebih cerah. Dengan semangat persatuan dan gotong royong, Indonesia dapat terus melangkah maju tanpa terjebak dalam narasi pesimistis yang tidak berdasar.

 

Oleh karena itu, seruan demonstrasi “Indonesia Gelap Jilid II” sebaiknya dibatalkan karena tidak membawa manfaat nyata bagi bangsa maupun mewakili kepentingan masyarakat umum. Lebih baik fokus pada upaya bersama dalam mendukung pembangunan dan menjaga stabilitas nasional demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

 

)* Penulis adalah pengamat sosial

 

Pemerintah Optimis Swasembada Pangan Segera Terwujud

Jakarta – Swasembada pangan menjadi salah satu misi utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Presiden Prabowo menargetkan Indonesia mencapai swasembada pangan dalam kurun waktu tiga sampai empat tahun mendatang dengan mencetak luas lahan panen hingga empat juta hektar di akhir masa jabatannya. Dengan komitmen kuat dan kerjasama lintas sektoral, pemerintah yakin dapat mencapai tujuan tersebut dalam waktu dekat.

 

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menyampaikan optimisme bahwa Indonesia dapat mencapai swasembada pangan pada tahun 2025.

 

“Sudah begitu lama pangan bukan menjadi program prioritas utama. Barulah zaman Pak Prabowo, pangan menjadi prioritas utama,” ujar Zulhas.

 

Zulhas menambahkan, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan perintah tegas agar swasembada pangan segera tercapai. Sektor pangan mencakup berbagai komoditas penting, seperti padi dan jagung sebagai sumber karbohidrat, serta ayam, telur, susu, dan daging sebagai sumber protein.

 

“Hari ini karbo, padi, dan jagung. Tidak mungkin pemerintah pusat bekerja sendirian, tapi harus kerja sama. Presiden komandannya, menteri, gubernur, bupati, TNI, Polri, semua pihak termasuk media. Hari ini sebagai contoh, kalau bisa kerja sama erat, tidak menunggu lama, tahun ini kita bisa swasembada pangan,” imbuh Zulhas.

 

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono mengajak Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkuat industri peternakan demi mencapai swasembada pangan, melalui kolaborasi dengan peternak ayam petelur dan sapi pedaging, dalam upaya meningkatkan kemandirian daging di Indonesia.

 

“Saya mendorong teman-teman Kadin untuk membuat formula atau cara yang efektif dalam meningkatkan produksi, kemudian pemasaran dan sebagainya yang tentu saja bermanfaat bagi masyarakat,” pinta Sudaryono.

 

Sudaryono menilai peran organisasi pengusaha seperti Kadin sangat penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan ayam petelur dan daging sapi lokal. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah dengan merumuskan formula yang efektif untuk meningkatkan produksi dan pemasaran produk peternakan.

 

“Ke depan kami dari pemerintah siap untuk memfasilitasi. Jadi kalau ada ilmu itu nggak boleh kita simpan sendiri,” kata Sudaryono.

 

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Peternakan, Cecep MW menyatakan kesiapan pihaknya untuk mendukung program pemerintah terkait pengembangan ayam petelur dan sapi pedaging. Kadin akan berperan aktif dalam melengkapi kebijakan pemerintah dengan melibatkan investor dan memfasilitasi produksi pakan untuk mendukung kemandirian pangan Indonesia.

 

“Kadin siap hadir melengkapi dan mensukseskan program pemerintah terkait dengan ayam petelur dan sapi perah agar investor dan pemerintah juga terlibat. Kadin juga hadir untuk memenuhi pabrik pakan dalam mendukung kemandirian dan keamanan pangan,” kata Cecep.

 

Dengan dukungan dari berbagai pihak, Indonesia dapat segera mewujudkan swasembada pangan, yang akan meningkatkan kemandirian sektor pertanian negara. Salah satu langkah strategis yang ditempuh oleh pemerintahan Prabowo-Gibran adalah mengoptimalkan teknologi dan inovasi di sektor pangan. Mari kita bersinergi untuk mendukung swasembada pangan Indonesia.

 

 

 

Masyarakat Menolak Aksi Indonesia Gelap yang Mengancam Stabilitas Nasional

 

 

JAKARTA – Aksi “Indonesia Gelap” yang belakangan ini terjadi telah menimbulkan gangguan terhadap stabilitas nasional dan berpotensi menghambat pembangunan. Menanggapi hal ini, Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh masyarakat untuk tetap optimis dan menjaga ketertiban demi kelangsungan negara. Presiden menegaskan pentingnya menjaga demokrasi yang sehat dan tidak membiarkan aksi tersebut merusak stabilitas nasional. “Presiden memahami adanya gerakan tersebut, namun tetap menekankan pentingnya menjaga ketertiban serta demokrasi yang konstruktif,” ujar Rektor IPB, Arif Satria, yang turut menyampaikan pandangan Presiden.

 

 

Arif Satria menambahkan, Presiden sangat terbuka terhadap kritik dan masukan, terutama dari kalangan akademisi. Dalam kesempatan yang sama, ia juga menjelaskan bahwa pertemuan Presiden dengan para rektor bukanlah bentuk intervensi, melainkan upaya untuk memahami visi dan kebijakan pemerintah secara langsung. “Pertemuan ini lebih kepada peluang untuk berdialog dan memahami langkah-langkah yang diambil pemerintah,” tambahnya.

 

 

Di sisi legislatif, Wakil Ketua DPR, Cucun Ahmad Syamsurijal, turut menanggapi aksi tersebut dengan menyatakan bahwa kritik terhadap pemerintah adalah hal yang wajar dalam demokrasi, namun harus bersifat konstruktif dan tidak merusak tatanan yang ada. “Pemerintahan Prabowo telah bekerja dengan merespons tuntutan masyarakat. Kritik perlu disampaikan dengan cara yang tepat dan dalam konteks yang membangun,” jelas Cucun.

 

 

Ia juga menolak seruan pemakzulan Presiden yang muncul dalam aksi tersebut. “Pemerintahan baru saja dimulai, dan seruan pemakzulan tanpa dasar yang jelas hanya akan memperburuk situasi politik,” tegasnya.

 

 

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan bahwa pemerintah tetap menerima tuntutan massa aksi dan membuka pintu untuk berdialog dengan perwakilan mahasiswa. “Kami siap berdiskusi dengan mahasiswa secara konstruktif demi mencapai solusi terbaik,” ujarnya.

 

 

Prasetyo menegaskan bahwa kebebasan berpendapat dijamin oleh undang-undang, namun harus disertai dengan tanggung jawab. “Aparat kepolisian diminta untuk mengedepankan pendekatan persuasif, mengingat para demonstran adalah bagian dari generasi penerus bangsa,” lanjutnya.

 

 

Aksi “Indonesia Gelap” telah menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, dengan isu-isu yang diangkat seharusnya bisa dibahas melalui jalur yang lebih konstruktif. Pemerintah tetap membuka ruang untuk dialog demi menampung aspirasi masyarakat secara bijak, sehingga demokrasi dapat berjalan dengan baik tanpa mengorbankan stabilitas dan ketertiban negara.

 

Pemerintah Terus Tingkatkan Jangkauan Penerima Cek Kesehatan Gratis

JAKARTA – Pemerintah terus memperluas cakupan layanan cek kesehatan gratis (CKG) bagi masyarakat di seluruh Indonesia.

 

Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menyebut bahwa program CKG tahun 2025 menggunakan anggaran sebesar Rp3,4 triliun, dengan rincian Rp2,2 triliun dari Kementerian Kesehatan dan Rp1,2 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

 

“Pemeriksaan cek kesehatan gratis ini diberikan pada masyarakat yang berulang tahun, anak-anak di sekolah, ibu hamil, serta bayi dan anak hingga usia enam tahun,” kata Suahasil

 

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat bahwa hingga 11 Maret 2025, sebanyak 500 ribu orang telah mendaftar program ini. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, mengatakan bahwa pendaftaran kini telah dibuka sepanjang tahun, tidak hanya terbatas pada hari ulang tahun penerima manfaat.

 

“Sekarang tidak terikat hari ulang tahun. Tetap kado ulang tahun, tapi boleh diambil kapan saja, sesuai dengan kesiapan masyarakat,” ujarnya.

 

Layanan cek kesehatan gratis juga menjangkau kelompok veteran. Pada Kamis (13/3), Sebanyak 140 veteran mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis di Gedung Dharmais Seroja, Kota Bekasi, Jawa Barat.

 

Kegiatan yang digelar oleh Yayasan Rabu Biru Indonesia dan Ditjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Ditjen Pothan Kemenhan) ini menemukan empat veteran mengidap kolesterol dan hipertensi. Mereka langsung diberikan obat dan dipantau oleh puskesmas setempat.

 

Di sisi lain, Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung pelaksanaan program CKG di Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan dan Pancoran. Ia menekankan bahwa layanan ini harus dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk melalui pendaftaran langsung di puskesmas terdekat selain melalui aplikasi digital seperti Satu Sehat dan WhatsApp.

 

“Program ini dirancang agar menjangkau semua masyarakat sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Program ini dapat menjangkau masyarakat sesuai dengan usia dan kebutuhannya,” tegas Gibran.

 

Diketahui program ini dirancang berdasarkan siklus hidup masyarakat dengan tiga momentum utama yaitu ulang tahun, sekolah, serta untuk ibu hamil dan balita. Diharapkan lebih banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan CKG untuk mendeteksi dini berbagai penyakit dan menjaga kesehatan mereka.

(/rls)

Hilirisasi Sawit Percepat Swasembada Pangan

Oleh: Nana Sukmawati )*

Hilirisasi sawit menjadi salah satu sektor strategis yang berperan dalam percepatan swasembada pangan dan energi di Indonesia. Pemerintah telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang didukung oleh penguatan sektor hilir sawit. Para pelaku industri pun menyambut baik langkah ini sebagai upaya meningkatkan daya saing global dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Dua aspek utama yang menjadi kunci dalam industri hilir sawit adalah optimalisasi kerja sama internasional, termasuk BRICS, serta peningkatan investasi di sektor hilirisasi. Indonesia yang resmi menjadi anggota ke-10 BRICS, memiliki peluang besar untuk memperluas ekspor produk sawit tanpa hambatan dagang di dalam kelompok tersebut.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), Rapolo Hutabarat, mengatakan bahwa kerja sama ekonomi bilateral Indonesia dengan berbagai negara masih kurang memanfaatkan potensi produk sawit secara maksimal. Beberapa insentif yang tersedia belum sepenuhnya dikenal oleh dunia usaha di dalam negeri, sehingga perlu sosialisasi lebih lanjut.

Menurutnya, keanggotaan Indonesia di BRICS dapat menjadi daya tarik bagi investasi di sektor hilirisasi sawit. Dengan populasi BRICS yang mencapai 3,9 miliar jiwa atau 48 persen dari total populasi dunia, Indonesia memiliki pasar yang sangat besar untuk produk turunannya. Hal ini harus dimanfaatkan dengan optimal agar industri sawit dalam negeri bisa berkembang lebih jauh.

Lebih lanjut, Rapolo menegaskan bahwa pengembangan produk bernilai tambah dari sawit seperti fitonutrien, betakaroten, tokoferol, dan tokotrienol masih belum dimaksimalkan. Padahal, dalam tiga tahun terakhir, pangsa pasar produk tersebut mencapai US$10 miliar. Potensi ini bahkan bisa meningkat hingga US$15 miliar per tahun, setara dengan 50 persen dari total ekspor sawit Indonesia yang mencapai US$30 miliar.

Peningkatan investasi di sektor hilirisasi juga harus didukung oleh insentif pemerintah serta alih teknologi yang memungkinkan industri dalam negeri memproduksi produk-produk bernilai tinggi. Hilirisasi juga perlu diperluas ke sektor biomassa sawit yang masih belum digarap secara optimal, padahal memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung industri pertanian secara keseluruhan.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, mengatakan pentingnya kepastian regulasi dalam industri sawit nasional. Dia menyoroti Perpres 5/2025 tentang Penertiban Kawasan Hutan yang dikhawatirkan dapat menghambat industri sawit dan sektor terkait yang bergantung pada pemanfaatan lahan.

Menurut Sahat, jika ada perusahaan yang operasionalnya berada di luar Hak Guna Usaha (HGU), sebaiknya pemerintah menyelesaikan persoalan administrasi tanpa menimbulkan ketidakpastian hukum. Kejelasan regulasi menjadi krusial agar iklim investasi tetap kondusif dan mendukung pertumbuhan industri sawit di dalam negeri.

Dia juga mengusulkan agar program Minyakita dihentikan karena dinilai menimbulkan dualisme harga dalam satu jenis produk. Sahat menyarankan agar subsidi kepada masyarakat yang kurang mampu dilakukan melalui skema yang lebih terfokus, seperti program dari Kementerian Sosial yang dananya dapat diambil dari levy industri sawit tanpa membebani APBN.

Sementara itu, Sekjen Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Ernest Gunawan, menegaskan bahwa industri biodiesel telah mendukung program B35 dengan realisasi penyaluran mencapai 13,1 juta KL pada tahun 2024. Untuk mencapai target B50, diperlukan peningkatan kapasitas produksi dari 19,6 juta KL saat ini menjadi sekitar 24-25 juta KL.

Untuk mendukung ekspansi tersebut, investasi tambahan sekitar 4-5 juta KL kapasitas terpasang masih dibutuhkan. Namun, menurut Ernest, investasi ini hanya akan terjadi jika ada jaminan kepastian hukum serta kenyamanan berusaha bagi para investor. Saat ini, masih ada beberapa perusahaan anggota APROBI yang sedang dalam pemeriksaan oleh Kejaksaan Agung, sehingga kondisi ini perlu segera mendapatkan kejelasan.

Secara keseluruhan, hilirisasi sawit tidak hanya berperan dalam peningkatan ekonomi tetapi juga dalam pencapaian swasembada pangan dan energi. Dengan memanfaatkan potensi produk bernilai tambah tinggi serta memperluas ekspor ke negara-negara BRICS, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam industri sawit global.

Selain itu, penting bagi pemerintah untuk memberikan insentif fiskal dan teknologi guna mempercepat pengembangan industri hilir sawit. Dengan langkah ini, Indonesia tidak hanya akan meningkatkan nilai ekspor tetapi juga menciptakan lapangan kerja serta menekan impor produk pangan dan energi.

Hilirisasi berpotensi meningkatkan ketahanan pangan nasional dengan memanfaatkan produk turunan sawit sebagai bahan baku industri pangan. Dengan demikian, ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap.

Selain itu, pengembangan industri biomassa dari kelapa sawit dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi. Pemanfaatan limbah sawit untuk pupuk organik dan energi terbarukan dapat menjadi solusi dalam mengurangi jejak karbon sekaligus meningkatkan efisiensi sektor perkebunan.

Dalam jangka panjang, hilirisasi sawit dapat menjadikan Indonesia sebagai pusat industri berbasis sawit global. Dengan langkah strategis yang tepat dapat memanfaatkan keunggulan komparatifnya untuk mendominasi pasar dunia.

Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan investor sangat diperlukan untuk mendorong percepatan hilirisasi sawit. Dengan demikian, target swasembada pangan dan energi serta pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintah dapat tercapai dengan lebih cepat dan berkelanjutan.

 

)* Penulis adalah mahasiswa Palembang tinggal di Jakarta