Pemerintah Maksimalkan Evakuasi dan Distribusi Bantuan bagi Korban Bencana NTT

JAKARTA – Pemerintah mempercepat penanganan dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan mengerahkan berbagai sumber daya untuk mendukung proses evakuasi, pelayanan kesehatan, serta distribusi bantuan kepada masyarakat terdampak. Langkah cepat tersebut dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah guna memastikan kebutuhan dasar warga dapat segera terpenuhi sekaligus mempercepat proses pemulihan pascabencana.

Gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Sejumlah instansi, seperti Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Sosial, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Pemerintah Provinsi NTT, terlibat dalam penanganan darurat untuk membantu masyarakat yang terdampak.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menegaskan bahwa penyelamatan korban dan pemulihan layanan dasar harus menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana.

“Langkah penyelamatan, layanan kesehatan, serta perbaikan infrastruktur dasar, termasuk rumah sakit, harus ditempatkan sebagai prioritas utama,” ujar Pratikno.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu segera melakukan pendataan dan mengidentifikasi berbagai kebutuhan di lapangan. Pendataan tersebut dinilai penting agar pemerintah pusat dapat menyalurkan bantuan secara tepat sasaran sesuai dengan kondisi yang dihadapi masyarakat.

“Tolong segera lakukan identifikasi kebutuhan agar pemerintah pusat dapat memberikan dukungan yang lebih tepat dan efektif,” katanya.

Pratikno menjelaskan bahwa data kebutuhan dari daerah akan mempermudah BNPB dalam mengoordinasikan berbagai bentuk bantuan dari pemerintah pusat. Selain itu, kebutuhan mendesak, seperti rumah sakit sementara, fasilitas pengungsian, serta dukungan logistik lainnya, dapat segera dipenuhi berdasarkan hasil identifikasi tersebut.

Ia juga mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo memberikan perhatian khusus terhadap penanganan bencana di NTT. Pemerintah pusat telah memberikan dukungan penuh kepada BNPB agar proses penanganan dapat berlangsung secara cepat, terarah, dan efektif.

“Dukungan dari Presiden kepada BNPB sudah diberikan dan diharapkan seluruh proses penanganan dapat berlangsung secara efektif,” tuturnya.

Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan bahwa Kementerian Sosial langsung bergerak sejak gempa terjadi. Pemerintah telah mengirimkan bantuan berupa 48 ton beras untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat terdampak.

“Kami telah mengirimkan 48 ton beras untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat terdampak. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo juga telah berangkat ke NTT untuk memastikan penanganan di lapangan berjalan lebih cepat, bantuan tersalurkan dengan baik, serta berbagai kebutuhan yang belum terpenuhi dapat segera ditindaklanjuti,” kata Gus Ipul.

Ia menambahkan bahwa keselamatan warga harus menjadi fokus utama. Pemerintah juga diminta memastikan pengungsi memperoleh tempat yang aman, kebutuhan pangan tersedia, kelompok rentan mendapatkan pelayanan, serta pendataan korban dilakukan secara cepat dan akurat. (*)

Presiden Prabowo Kerahkan Respons Cepat Pemerintah untuk Penanganan Gempa NTT

JAKARTA – Pemerintah bergerak cepat menangani dampak gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui pengerahan personel, bantuan logistik, serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Langkah tersebut dilakukan atas instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto yang meminta seluruh jajaran pemerintah memberikan respons cepat untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera terpenuhi.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan bahwa pemerintah langsung mengambil langkah penanganan sejak bencana terjadi. Menurutnya, negara harus hadir di tengah masyarakat untuk memastikan proses penanganan berjalan secara efektif.

“Pemerintah terus bergerak cepat menangani saudara-saudara kita yang terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT),” kata Teddy.

Ia menjelaskan bahwa Presiden Prabowo telah menginstruksikan seluruh kementerian dan lembaga terkait untuk mempercepat penanganan serta memastikan bantuan dapat segera diterima masyarakat.

“Presiden Prabowo telah memerintahkan seluruh jajaran pemerintah bergerak cepat melakukan penanganan dan memastikan masyarakat yang terdampak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Presiden menugaskan sejumlah pejabat untuk turun langsung ke wilayah terdampak, yaitu Labuan Bajo dan Maumere. Rombongan tersebut terdiri atas Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum, Kepala BNPB, Kepala Basarnas, Wakil Menteri Kesehatan, Wakil Menteri Sosial, serta tim dari PLN, Telkom, Pertamina, dan Bulog.

Selain mengirimkan personel, pemerintah juga menyalurkan bantuan berupa 50 ribu paket sembako yang berasal dari bantuan Presiden. Bantuan tersebut dikirim ke Maumere untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak gempa.

“Selain itu telah diberangkatkan ke Maumere berupa 50 ribu paket sembako dari Banpres untuk masyarakat terdampak. Pemerintah akan terus hadir dan memastikan penanganan di lapangan berjalan cepat dan tepat,” kata Teddy.

Di sisi lain, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menginstruksikan seluruh jajaran balai di NTT untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam mendukung pemulihan infrastruktur pascabencana.

“Kesiapan personel, alat berat, serta koordinasi dengan pemerintah daerah menjadi bagian penting untuk memastikan infrastruktur yang terdampak dapat segera dipulihkan,” ujar Dody.

Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT juga melakukan penanganan terhadap sejumlah titik longsor di ruas jalan nasional. Sementara itu, Kepala BNPB Suharyanto meminta pemerintah daerah segera menetapkan status tanggap darurat dan mengaktifkan posko agar koordinasi penanganan bencana dapat berjalan lebih efektif. BNPB juga telah mengirimkan bantuan darurat dari gudang logistik di Flores Timur sebagai bentuk dukungan terhadap percepatan penanganan di wilayah terdampak. (*)

Literasi Digital Perkuat Ketahanan Masyarakat Hadapi Hoaks dan Provokasi

Oleh: Satya Wibawa )*

Tingginya aktivitas masyarakat di ruang digital pada momentum nasional membuat arus informasi bergerak semakin cepat. Kondisi tersebut memberikan manfaat dalam memperluas akses informasi, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa hoaks, disinformasi, konten provokatif, serta berbagai informasi yang sengaja dilepaskan dari konteks aslinya.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengingatkan masyarakat mengenai potensi meningkatnya produksi konten provokatif sepanjang Agustus. Konten semacam itu dapat digunakan untuk membangun persepsi tertentu dan memengaruhi kondisi sosial menjelang peringatan kemerdekaan.

Karena itu, peningkatan literasi digital menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat ketahanan masyarakat. Kemampuan menggunakan teknologi perlu disertai kecakapan dalam memahami, memeriksa, dan mengevaluasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Masyarakat yang memiliki literasi digital baik tidak mudah menerima informasi hanya berdasarkan judul, potongan video, gambar, maupun narasi yang beredar di media sosial. Informasi perlu diperiksa dengan melihat sumber, waktu kejadian, lokasi, konteks, serta membandingkannya dengan informasi dari sumber yang kredibel.

Kebiasaan melakukan verifikasi menjadi lapisan awal dalam mencegah penyebaran hoaks. Sebuah informasi yang tidak benar dapat memiliki dampak luas apabila terus dibagikan tanpa pemeriksaan. Sebaliknya, kebiasaan berhenti sejenak sebelum membagikan informasi dapat mempersempit ruang penyebaran konten menyesatkan.

Tantangan tersebut semakin kompleks karena konten digital tidak selalu mudah dikenali sebagai informasi palsu. Foto asli dapat digunakan dengan keterangan berbeda, video lama dapat kembali disebarkan seolah-olah merupakan peristiwa baru, sementara pernyataan seseorang dapat dipotong sehingga kehilangan konteks.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai foto dan video yang beredar, khususnya konten yang berkaitan dengan demonstrasi atau peristiwa tertentu.

Fifi Aleyda Yahya meminta publik memeriksa waktu, lokasi, dan sumber informasi sebelum menyebarkan sebuah konten. Informasi yang tidak mencantumkan unsur waktu, tempat, sumber, dan konteks memiliki potensi menyesatkan serta dapat memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Kecakapan tersebut perlu menjadi kebiasaan sehari-hari. Masyarakat dapat menelusuri sumber pertama, memeriksa tanggal publikasi, menggunakan layanan pemeriksa fakta, serta membandingkan informasi dengan pemberitaan media yang menjalankan proses jurnalistik dan verifikasi.

Ketahanan digital juga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengenali informasi palsu, tetapi juga kemampuan mengendalikan respons terhadap konten yang memancing emosi. Narasi yang sengaja membangkitkan kemarahan, ketakutan, atau kebencian dapat mendorong pengguna membagikan informasi secara spontan tanpa mempertimbangkan kebenarannya.

Karena itu, literasi digital perlu mencakup kemampuan membedakan fakta, opini, kritik, dan provokasi. Perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, tetapi perbedaan tersebut tidak seharusnya diperbesar melalui informasi palsu atau narasi yang sengaja memecah masyarakat.

Upaya memperkuat ketahanan masyarakat di ruang digital juga membutuhkan peran berbagai pihak. Pemerintah memiliki tanggung jawab melalui regulasi, edukasi, pengawasan, dan penanganan konten bermasalah. Platform digital, media massa, komunitas pemeriksa fakta, akademisi, dan masyarakat juga memiliki kontribusi dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat.

Anggota Dewan Pers, Dr. Rosarita Niken Widiastuti, menekankan pentingnya kemampuan masyarakat dalam memahami, mengevaluasi, memverifikasi, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Kemampuan mengoperasikan perangkat digital perlu diimbangi dengan kecakapan menilai informasi yang diterima.
Rosarita Niken Widiastuti juga menilai nilai-nilai Pancasila dapat menjadi dasar dalam membangun budaya digital yang sehat. Prinsip tersebut dapat mendorong masyarakat menjaga etika komunikasi, menghormati keberagaman, menangkal hoaks, dan mempertahankan persatuan di tengah perbedaan pandangan.

Media massa profesional turut memiliki posisi strategis dalam memperkuat ketahanan informasi. Informasi yang melalui proses verifikasi dan memenuhi prinsip jurnalistik dapat menjadi rujukan masyarakat ketika berhadapan dengan berbagai konten yang beredar cepat di media sosial.

Keberadaan media kredibel juga membantu masyarakat memperoleh konteks yang lebih lengkap. Hal tersebut penting karena sebuah informasi yang disampaikan secara parsial dapat menghasilkan pemahaman berbeda dari fakta sebenarnya.

Pada akhirnya, ketahanan masyarakat menghadapi hoaks dan provokasi sangat dipengaruhi kemampuan setiap individu dalam mengelola informasi. Literasi digital yang kuat membuat masyarakat tidak mudah terbawa arus informasi yang belum terverifikasi sekaligus lebih mampu menjaga komunikasi tetap sehat.

Membangun kebiasaan memeriksa sumber, memahami konteks, membandingkan informasi, mengendalikan respons emosional, serta berpikir sebelum membagikan konten merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap pengguna.

Dengan peningkatan literasi digital, masyarakat dapat menjadi lebih tangguh menghadapi hoaks, disinformasi, dan provokasi. Ruang digital pun dapat terus dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi, pembelajaran, dan partisipasi publik yang mendukung persatuan serta kehidupan demokrasi yang sehat.

*) Akademisi Bidang Ilmu Komunikasi Media

Peningkatan Literasi Digital Kunci Mencegah Berkembangnya Provokasi dan Hoaks

Oleh: Cantika Rahayu )*

Peningkatan literasi digital semakin menjadi kebutuhan penting dalam membangun ruang digital nasional yang sehat, aman, dan bertanggung jawab. Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh, memproduksi, serta menyebarkan informasi. Kemudahan tersebut perlu diimbangi kemampuan memahami dan memverifikasi informasi agar ruang digital tidak menjadi tempat berkembangnya hoaks, disinformasi, maupun provokasi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menilai literasi digital merupakan fondasi penting untuk menghadapi derasnya arus informasi di era media sosial. Dengan penetrasi internet yang mencapai 80,6 persen dari sekitar 287 juta penduduk dan cakupan jaringan telekomunikasi hingga 97 persen wilayah berpenghuni, ruang digital telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Besarnya jumlah pengguna internet membuat media sosial menjadi ruang komunikasi yang sangat aktif. Setiap pengguna dapat berperan sebagai penerima sekaligus pembuat informasi. Kondisi tersebut membuat sebuah informasi dapat menyebar dalam waktu singkat, termasuk informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.

Dalam situasi tersebut, kemampuan masyarakat memilah informasi menjadi semakin penting. Informasi yang diterima melalui media sosial tidak selalu memiliki sumber yang jelas. Judul provokatif, potongan video tanpa konteks, foto manipulatif, maupun narasi yang sengaja membangkitkan emosi dapat membuat masyarakat mengambil kesimpulan secara terburu-buru.

Pola konsumsi informasi melalui algoritma media sosial juga dapat membentuk filter bubble dan echo chamber. Pengguna cenderung menerima informasi yang sesuai dengan minat dan pandangannya. Jika tidak diimbangi kemampuan berpikir kritis, kondisi tersebut dapat mempersempit perspektif sekaligus memperbesar peluang seseorang mempercayai dan menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Nezar Patria menggambarkan kondisi tersebut sebagai situasi ketika percakapan di media sosial tidak lagi menjadi dialog, melainkan seseorang hanya menyuarakan pandangannya dan menerima kembali gaung dari pandangan yang serupa. Dalam lingkungan seperti itu, sentimen dapat lebih dominan daripada fakta.

Provokasi menjadi semakin mudah berkembang ketika informasi dikemas dengan narasi yang memancing kemarahan, ketakutan, atau kebencian. Apabila masyarakat langsung membagikan konten tanpa melakukan pemeriksaan, informasi tersebut dapat meluas dan memengaruhi persepsi publik.

Karena itu, peningkatan literasi digital perlu diarahkan tidak hanya pada kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kecakapan mengenali informasi yang menyesatkan. Masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber, membandingkan informasi dengan sumber terpercaya, membaca secara utuh, serta memastikan konteks sebelum memberikan respons atau membagikan konten.

Disinformasi dan misinformasi menjadi tantangan global. Penyebaran informasi keliru dapat memengaruhi cara masyarakat memahami suatu persoalan, membentuk persepsi yang tidak tepat, dan dalam kondisi tertentu memperbesar polarisasi sosial.

Nezar Patria menyebut laporan World Economic Forum yang menempatkan disinformasi dan misinformasi sebagai salah satu risiko global utama dalam dua tahun mendatang. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan masyarakat memahami dan mengevaluasi informasi merupakan bagian penting dari ketahanan ekosistem digital.

Pemerintah merespons tantangan tersebut melalui penguatan moderasi konten berdasarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Langkah tersebut perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesadaran masyarakat agar pencegahan hoaks dan provokasi tidak hanya mengandalkan regulasi, tetapi juga tumbuh dari kemampuan pengguna ruang digital.

Tantangan lain muncul dari perkembangan kecerdasan artifisial. Teknologi AI memungkinkan pembuatan konten sintetis dan deepfake yang semakin menyerupai materi autentik. Kemampuan membedakan konten asli dan hasil manipulasi pun semakin sulit bagi pengguna biasa.

Nezar Patria mengingatkan masyarakat agar membangun kebiasaan memeriksa asal-usul konten sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Pemerintah juga mendorong sosialisasi berbagai teknologi yang dapat membantu mengidentifikasi materi yang dibuat menggunakan AI.

Dimensi literasi digital juga berkaitan dengan karakter kebangsaan. Anggota Komisi I DPR RI, Nurul Arifin, menilai Pancasila perlu menjadi pedoman masyarakat ketika beraktivitas di ruang digital. Kemajuan teknologi perlu berjalan bersama penguatan nilai kebangsaan agar ruang digital tidak dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian, provokasi, maupun informasi yang dapat mengganggu persatuan.

Nurul Arifin menyoroti potensi hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi dalam memicu keresahan serta menurunkan kepercayaan masyarakat. Karena setiap orang kini dapat menjadi konsumen sekaligus produsen informasi, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting.

Nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan dalam perilaku digital. Nilai Ketuhanan mendorong kejujuran, nilai Kemanusiaan menekankan penghormatan terhadap martabat orang lain, sedangkan nilai Persatuan menguatkan komitmen menjaga kebinekaan. Nilai Kerakyatan dapat diwujudkan melalui dialog yang santun dan demokratis, sementara nilai Keadilan menjadi landasan membangun ruang digital yang inklusif.

Generasi muda memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Kedekatan dengan teknologi perlu disertai kemampuan literasi, etika bermedia, dan kesadaran menghasilkan konten positif. Generasi muda bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi juga memiliki peran dalam menentukan arah perkembangan ruang digital Indonesia.

Peningkatan literasi digital pada akhirnya menjadi salah satu kunci untuk mencegah berkembangnya provokasi dan hoaks. Masyarakat yang mampu memahami, memeriksa, dan mengevaluasi informasi tidak mudah terbawa arus konten menyesatkan.

Penguatan kemampuan tersebut akan membantu ruang digital tetap menjadi sarana komunikasi, pembelajaran, dan partisipasi publik. Dengan literasi digital yang semakin kuat, masyarakat tidak hanya semakin terkoneksi secara teknologi, tetapi juga semakin kritis, bertanggung jawab, dan mampu menjaga ruang digital dari berkembangnya hoaks serta provokasi.

*) Pengamat Isu Keamanan Digital

Literasi Media Jadi Benteng Masyarakat Hadapi Hoaks dan Provokasi

Jakarta – Masyarakat diingatkan untuk semakin kritis dalam menyaring informasi yang beredar di ruang digital. Kemampuan memeriksa sumber, kebenaran, dan konteks informasi menjadi penting agar publik tidak mudah terpengaruh hoaks maupun narasi provokatif yang dapat memicu keresahan.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan konten provokatif yang beredar di ruang digital menjadi perhatian pemerintah. Konten semacam itu dinilai berisiko memicu keresahan dan memengaruhi keputusan masyarakat.

“Dalam kerangka edukasi publik, kami perlu mengingatkan masyarakat,” ujar Meutya.

Meutya meminta masyarakat lebih kritis terhadap informasi yang beredar di ruang digital. Menurut dia, masyarakat perlu memastikan kebenaran informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya. Langkah tersebut penting agar konten yang sengaja dibuat untuk memicu kecemasan tidak berkembang luas.

Literasi media menjadi semakin penting karena ruang digital memungkinkan informasi menyebar dengan cepat. Masyarakat tidak hanya berperan sebagai konsumen informasi, tetapi juga dapat memproduksi dan menyebarkan konten kepada publik.

Di tempat terpisah, Pakar hukum Prof Henry Indraguna turut mengingatkan masyarakat agar cermat menghadapi konten yang dapat memicu kepanikan. Ia menyoroti pola penyebaran kembali video lama demonstrasi atau kerusuhan yang dikemas seolah-olah merupakan kejadian terkini.

“Aksi mendaur ulang video jadul demonstrasi atau kerusuhan tahun-tahun lalu lalu digoreng kembali di media sosial adalah kejahatan informasi yang sangat berbahaya,” tegas Henry.

Menurut Henry, manipulasi konten dapat menciptakan persepsi keliru mengenai kondisi keamanan. Karena itu, masyarakat perlu memeriksa sumber, waktu kejadian, serta konteks video sebelum membagikannya melalui media sosial.

Dari perspektif hukum, Henry menilai penyebaran berita bohong dan manipulasi rekaman yang memicu keresahan dapat berhadapan dengan ketentuan pidana yang berlaku. Penegakan hukum juga perlu dilakukan secara terukur terhadap pihak yang terbukti sengaja memproduksi maupun menyebarkan propaganda provokatif.

“Negara wajib hadir memberikan perlindungan hukum bagi rakyat dari segala bentuk teror informasi,” pungkas Prof Henry seraya mengajak seluruh elemen bangsa menjaga kedamaian dan kondusivitas perayaan kemerdekaan.

Pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, masyarakat diharapkan semakin cerdas memilah informasi dan tidak memberi ruang bagi provokasi. Literasi media menjadi benteng agar ruang digital tidak mudah dimanfaatkan untuk menyebarkan ketakutan dan keresahan.*

Perkuat Literasi Digital, Masyarakat Diajak Bijak Hadapi Provokasi dan Hoaks

Jakarta – Masyarakat diingatkan untuk semakin kritis menyikapi informasi yang beredar di ruang digital. Kemampuan memeriksa kebenaran informasi penting agar publik tidak mudah terpengaruh hoaks, disinformasi, maupun narasi provokatif dan Hoaks yang dapat memicu perpecahan.

Ketua DPR RI Puan Maharani menekankan pentingnya menjaga ruang digital agar tetap sehat dan tidak menjadi arena politik kebencian, polarisasi, serta kepentingan yang memecah belah masyarakat. Menurutnya, derasnya arus informasi harus diimbangi kecermatan dan kedewasaan pengguna.

“Perkembangan ruang digital telah membuka ruang yang semakin luas bagi masyarakat untuk memperoleh informasi, menyampaikan aspirasi, dan memberikan kritik,” ujar Puan.

Puan menyebut kemudahan tersebut juga membawa tantangan berupa disinformasi, hoaks, serta konten yang dimanipulasi atau dilepaskan dari konteks. Informasi semacam itu dapat memperuncing polarisasi dan mengaburkan batas antara kritik konstruktif dan provokasi.

Ia mencontohkan informasi keliru terkait DPR, seperti kutipan palsu yang mengatasnamakan pimpinan atau anggota DPR serta informasi tidak benar mengenai pembahasan rancangan undang-undang. Video lama yang digunakan kembali dengan narasi baru juga berpotensi membentuk persepsi yang keliru.

“Karena itu, menjaga ruang digital yang sehat membutuhkan peran dan kedewasaan semua pihak,” ujar Puan.

Senada, Analis Komunikasi Politik Silvanus Alvin juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai konten yang ramai beredar di media sosial. Ia menyoroti kembali munculnya video lama aksi demonstrasi mahasiswa yang dikemas seolah-olah sebagai peristiwa terkini.

“Entah apa maksud dan tujuannya, banyaknya video demo lama yang diviralkan kembali menunjukkan sebuah pola yang patut diduga bertujuan untuk menggiring opini publik. Apalagi meskipun akun-akunnya berbeda, narasi yang dikeluarkan seragam,” kata Alvin.

Alvin meminta publik melakukan pengecekan silang sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi. Menurutnya, masyarakat dapat membandingkan informasi di media sosial dengan pemberitaan media pers yang kredibel dan menerapkan standar jurnalistik.

“Dalam konteks ini, masyarakat harus mau melakukan check and recheck yakni mencocokkan dan memeriksa kembali kebenaran suatu informasi, berita, atau data angka,” jelasnya.

Sikap kritis tersebut menjadi bagian penting dari literasi digital. Dengan membiasakan diri memeriksa sumber, konteks, dan kebenaran informasi, masyarakat dapat menghindari penyebaran konten menyesatkan sekaligus menjaga ruang digital tetap sehat dan kondusif. *

Impact Papua Jadi Panggung Anak Muda Mengangkat Kreativitas dan Budaya ke Tingkat Nasional

JAYAPURA – Komunitas kreatif Imaji Papua menggelar Impact Papua: Film, Culture & Creativity di halaman Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih, Jayapura, Rabu (12/8/2026). Bertepatan dengan Hari Pemuda Internasional, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi generasi muda Papua untuk menampilkan karya, memperluas jejaring, serta membuka peluang kolaborasi di bidang ekonomi kreatif.

Kegiatan ini memperlihatkan bahwa kreativitas anak muda Papua terus berkembang dan mampu mengolah kekayaan budaya lokal menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi. Sineas, fotografer, desainer, ilustrator, musisi hingga pelaku UMKM melebur dalam satu ruang untuk memperkuat ekosistem kreatif berbasis komunitas.

Head of Imaji Papua Yulika Anastasia mengatakan kolaborasi menjadi kunci agar potensi ekonomi kreatif Papua dapat berkembang lebih luas dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kalau berkolaborasi, akan jauh lebih meyakinkan semua pihak, bisa bergandengan tangan, dan tumbuh bersama. Hari ini tidak bisa jalan sendiri-sendiri,” ujar Yulika Anastasia.

Salah satu karya yang menjadi perhatian adalah film dokumenter berdurasi 33 menit berjudul Tong Masih di Sini. Film garapan Yulika Anastasia tersebut merekam kehidupan pelaku ekonomi lokal, mulai dari anak muda yang menjadi petani kopi, petani sagu, pedagang pinang hingga petani sayur-mayur. Cerita tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat biasa turut berperan menggerakkan ekonomi daerah.

Semangat serupa terlihat dalam Fashion Show Noken yang menghadirkan lima desainer muda Papua, yakni Agusta Bunai, Pretty Syul Rogi, Margaretha Uktoselya, Lusi Umbora dan Alfianty Mandosir. Mereka memadukan kearifan lokal dengan sentuhan desain kontemporer.

Desainer Agusta Bunai menilai panggung tersebut memberikan ruang penting bagi talenta lokal untuk meningkatkan nilai karya sekaligus memperkenalkan produk Papua kepada khalayak yang lebih luas.

“Panggung Impact Papua menjadi kesempatan besar untuk memamerkan karya, meningkatkan nilai ekonomi produk lokal, sekaligus menambah jam terbang,” ujar Agusta Bunai.

Dari bidang fotografi, sebanyak 240 karya hasil kurasi 34 fotografer muda dipamerkan. Karya tersebut merekam keindahan alam, budaya, aktivitas ekonomi masyarakat hingga perkembangan pembangunan Papua dari perspektif kreator lokal. Koordinator Pameran Yosin Kogoya mengatakan karya fotografi tersebut dihadirkan untuk mengajak publik melihat Papua melalui pengalaman dan cerita masyarakatnya sendiri.

Dukungan terhadap kreativitas generasi muda juga disampaikan Pemerintah Kota Jayapura. Staf Ahli Bidang SDM dan Kemasyarakatan Pemkot Jayapura Sem Meraudje menilai kemampuan anak muda Papua memanfaatkan film, media digital dan seni audio-visual semakin kuat.

“Anak-anak muda Papua semakin cerdas dan adaptif memanfaatkan platform digital, film, media sosial, hingga seni audio-visual untuk menceritakan realitas dan keindahan tanah Papua secara utuh kepada dunia,” tegas Sem Meraudje.

Menurut Sem Meraudje, karya kreatif tersebut tidak hanya menjadi sarana menjaga identitas budaya, tetapi juga berpotensi membawa nama Papua ke tingkat nasional hingga internasional.

“Tong masih ada di sini, tra habis. Daya cinta itu masih ada, masih bisa bangkit dan terus berkarya. Keberadaan ini membawa nilai-nilai positif bagi tanah ini,” pungkas Sem Meraudje.

Impact Papua pun menjadi bukti bahwa kreativitas generasi muda dapat menjadi kekuatan baru dalam memperkenalkan wajah Papua yang kaya budaya, produktif, adaptif dan penuh peluang. (*)

Generasi Muda Papua Bergerak, Impact Papua Hidupkan Ekonomi Kreatif

JAYAPURA – Semangat generasi muda Papua untuk berkarya dan mengembangkan potensi daerah terus mendapat ruang. Momentum tersebut terlihat dalam gelaran “Impact Papua: Film, Culture & Creativity” yang digelar komunitas kreatif Imaji Papua di Halaman Museum Loka Budaya, Universitas Cenderawasih, Rabu (12/8/2026). Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Pemuda Internasional itu dihadiri ratusan warga.

Impact Papua tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni, tetapi menjadi ruang bertemunya para pelaku ekonomi kreatif untuk memperluas jejaring, memperkenalkan karya, dan membuka peluang ekonomi. Berbagai subsektor seperti film, fotografi, mode, musik, hingga kuliner khas Papua tampil dalam satu rangkaian kegiatan yang menonjolkan kekuatan kreativitas lokal.

Head of Imaji Papua Yulika Anastasia mengatakan kolaborasi menjadi kunci untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Papua. “Di tanah Papua, para kreator perlu bergandengan tangan, berkolaborasi membangun Papua lewat ekonomi kreatif, dan maju bersama,” ujar Yulika.

Semangat tersebut salah satunya diwujudkan melalui Fashion Show Noken yang menghadirkan karya lima desainer muda, yakni Agusta Bunai, Pretty Syul Rogi, Margaretha Uktoselya, Lusi Umbora, dan Alfianty Mandosir. Koleksi yang ditampilkan memadukan unsur budaya Papua dengan sentuhan desain modern sehingga memiliki nilai artistik sekaligus peluang ekonomi.

Desainer asal Wamena Agusta Bunai menampilkan busana berbahan benang noken rajutan tangan mama-mama Papua. “Ini upaya mempertahankan kearifan lokal sekaligus menambah nilai jual produk untuk meningkatkan perekonomian masyarakat asli Papua,” ungkap Agusta.

Dari dunia sinema, Impact Papua turut menghadirkan film dokumenter “Tong Masih Disini” karya Yulika Anastasia. Film tersebut mengangkat kehidupan empat tokoh dari Wamena, Jayapura, dan Merauke yang memiliki keterhubungan melalui aktivitas ekonomi, mulai dari kopi, pinang, hingga sagu.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan Papua tidak hanya tercermin dari keindahan alam, tetapi juga dari ketekunan masyarakat dalam mengembangkan usaha dan menjaga hubungan dengan lingkungan. Pesan serupa hadir melalui pameran fotografi yang melibatkan 34 fotografer dari berbagai wilayah Papua dengan 240 karya terpilih.

Kurator pameran Yosin Kogoya mengatakan fotografi dapat menjadi medium untuk memperkenalkan kehidupan Papua secara lebih dekat. “Pengunjung diharapkan tidak hanya melihat keindahan visual, tetapi juga merasakan kisah hidup di balik setiap bingkai,” kata Yosin.

Dukungan terhadap ruang kreatif tersebut disampaikan Kepala Taman Budaya Papua Melki Ohee. “Kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat identitas budaya Papua sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk berkarya melalui film, fashion, musik, dan seni visual,” ujarnya.

Staf Ahli Pemerintahan Kota Jayapura Stem Meraudje menilai geliat kreativitas anak muda menjadi modal penting bagi pembangunan daerah. “Tong masih di sini, tong masih berkarya. Di tengah berbagai tantangan, semangat untuk membangun dan berkontribusi tidak pernah padam,” tegasnya.

Melalui Impact Papua, kreativitas anak muda mendapat panggung sekaligus diarahkan menjadi kekuatan ekonomi yang berakar pada budaya lokal. Kolaborasi antarpelaku kreatif diharapkan semakin memperluas kesempatan bagi generasi muda Papua untuk berkarya, berdaya, dan memperkenalkan potensi Papua kepada masyarakat luas. (*)

Rangkaian HUT RI Berlangsung Kondusif, Publik Tunjukkan Semangat Kebangsaan

Jakarta – Perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia berlangsung aman dan kondusif di berbagai daerah. Antusiasme publik juga terlihat dari tingginya partisipasi dalam berbagai kegiatan peringatan kemerdekaan, yang mencerminkan kuatnya semangat kebangsaan dan kebersamaan.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan seluruh rangkaian peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia berjalan aman dan kondusif. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari sinergi Polri bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas keamanan selama rangkaian perayaan kemerdekaan.

“Kita bersama seluruh kementerian dan lembaga, khususnya yang memiliki tugas untuk menjaga stabilitas keamanan, bekerja sama dengan pemerintah daerah semuanya di seluruh Indonesia,” ujar Listyo.

Lebih lanjut, Kapolri mengajak masyarakat untuk menjadikan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai momentum memperkuat persatuan, gotong royong, dan kebersamaan. Menurutnya, perayaan kemerdekaan merupakan momentum bersama yang perlu dijaga agar tetap berlangsung dengan tertib sekaligus memperkuat keutuhan bangsa.

“Tentunya ini adalah perayaan kita, perayaan kemerdekaan yang ke-81, perayaan kita bersama, tentunya mari kita rayakan bersama-sama dengan baik, dan kita jaga keutuhan bangsa ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat untuk mengikuti Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka. Lebih dari 336 ribu masyarakat tercatat mengikuti mekanisme pendaftaran undangan atau war ticket yang dibuka pemerintah.

“Kami selaku Ketua Panitia, selaku Mensesneg menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia yang telah berpartisipasi di dalam war ticket untuk mendapatkan undangan. Ini menunjukkan dan membuktikan antusias masyarakat untuk dapat hadir mengikuti peringatan detik-detik proklamasi sangat tinggi,” ujar Prasetyo.

Prasetyo juga menyampaikan apresiasi terhadap berbagai inisiatif masyarakat di seluruh Indonesia dalam menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Beragam kegiatan yang digelar masyarakat, baik berupa perlombaan maupun aktivitas kreatif, tradisional, hingga modern, dinilai menunjukkan tingginya partisipasi publik dalam mengisi Bulan Kemerdekaan.

“Banyak inisiatif digelar di seluruh Indonesia. Kreativitas-kreativitas, inovasi-inovasi, perlombaan-perlombaan, mulai dari yang modern, tradisional sampai yang unik-unik,” katanya.

Antusiasme masyarakat untuk hadir dalam upacara kenegaraan serta maraknya berbagai kegiatan di daerah menunjukkan bahwa peringatan HUT ke-81 RI tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan rasa nasionalisme dan memperkuat kebersamaan. Kondisi keamanan yang tetap kondusif turut memberikan ruang bagi masyarakat untuk merayakan kemerdekaan secara tertib, positif, dan penuh semangat kebangsaan.

Sinergi pemerintah, aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga suasana perayaan kemerdekaan tetap aman dan kondusif.

Antusiasme Publik Rayakan Momentum HUT ke-81 RI Tunjukkan Semangat Persatuan

Jakarta – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa di berbagai penjuru Tanah Air. Beragam kegiatan yang melibatkan masyarakat menjadi ruang bersama untuk memperkuat semangat persatuan bangsa.

Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, menilai antusiasme masyarakat dalam merayakan Hari Kemerdekaan tetap terjaga dari tahun ke tahun. Menurutnya, berbagai perlombaan telah menjadi ruang yang efektif untuk mempererat hubungan sosial sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap bangsa.

“Antusiasme masyarakat dalam merayakan hari jadi proklamasi kemerdekaan tidak berubah dari tahun ke tahun. Denyut nadi kehidupan dan kebahagiaan masyarakat tertuang dalam setiap Sabtu dan Minggu melalui lomba-lomba di masing-masing RT dan RW,” ujarnya.

Fathoni menegaskan bahwa makna peringatan kemerdekaan tidak berhenti pada kemeriahan perlombaan semata. Ia menekankan bahwa perjuangan generasi saat ini adalah merawat keberagaman sebagai fondasi kokoh persatuan nasional.

“Perjuangan kemerdekaan di masa lalu susahnya luar biasa. Tugas kita sebagai generasi penerus adalah bagaimana merawat keberagaman sebagai pilar utama persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” tambahnya.

Semangat serupa disampaikan Wakil Bupati Minahasa, Vanda Sarundajang, yang mengapresiasi pemerintah bersama masyarakat atas penyelenggaraan berbagai kegiatan dalam menyambut HUT ke-81 RI.

Menurutnya, momentum kemerdekaan menjadi pengingat bahwa kebebasan yang dinikmati saat ini merupakan hasil perjuangan panjang para pendahulu bangsa.

“Momentum HUT Kemerdekaan harus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini diperoleh melalui perjuangan yang panjang. Karena itu, semangat persatuan, gotong royong, dan kebersamaan harus terus kita pelihara dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Kemudian, antusiasme masyarakat juga terlihat dalam penyelenggaraan Merdeka Run 2026 yang mendapat sambutan luar biasa. Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, mengungkapkan bahwa seluruh tiket kegiatan tersebut habis terjual hanya dalam waktu dua jam sejak pendaftaran dibuka.

“Terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia yang begitu antusias menyambut Merdeka Run. Tiket habis hanya dalam waktu dua jam sejak pendaftaran dibuka. Ini menunjukkan semangat masyarakat untuk berolahraga sekaligus merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sangat luar biasa,” katanya.

Menurut Erick, ajang lari sejauh delapan kilometer dari Istana Merdeka itu tidak sekadar mengajak masyarakat hidup sehat, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan persatuan.

“Merdeka Run bukan hanya tentang berlari. Ini adalah momen kita bersama-sama merayakan kemerdekaan dengan penuh kebahagiaan, semangat kebersamaan dan persatuan. Kita ingin olahraga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan,” pungkasnya. (*)