Pemulihan NTT Cepat, Manusiawi dan Berkelanjutan

Oleh: Catur Ronggo*)
Gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi ujian besar bagi kemampuan negara memastikan keselamatan sekaligus memulihkan kehidupan masyarakat. Namun, perkembangan terakhir menunjukkan bahwa pemerintah bergerak dari fase tanggap darurat menuju pemulihan yang lebih terarah. Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di Nagekeo, koordinasi lintas kementerian, pemulihan listrik dan jalan, serta perhatian pada kebutuhan air bersih memperlihatkan bahwa pemulihan tidak berhenti pada distribusi bantuan, tetapi diarahkan agar kehidupan warga kembali berjalan.

Sejak gempa terjadi pada 15 Agustus 2026, pemerintah pusat langsung mengerahkan personel dan bantuan ke Flores. Pemerintah mencatat ribuan personel TNI-Polri dikerahkan, sementara logistik dari pusat dikirim ke wilayah terdampak. Sementara pada 26 Agustus, Presiden Prabowo memimpin rapat penanganan bencana di Nagekeo untuk mengevaluasi perkembangan dan mempercepat langkah rehabilitasi serta rekonstruksi. Data BNPB yang dipaparkan dalam rapat tersebut menunjukkan dampak besar terhadap masyarakat, dengan tujuh kabupaten di Pulau Flores terdampak bencana.

Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa kehadiran pemerintah pusat harus diterjemahkan menjadi pengerahan sumber daya dan pelayanan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Sikap tersebut menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan penanganan bencana bukan semata seberapa cepat pejabat datang ke lokasi, melainkan seberapa efektif negara memastikan kebutuhan warga terpenuhi. Pilihan untuk memberi ruang kepada instansi terkait bekerja pada fase awal juga dapat dibaca sebagai upaya menjaga konsentrasi operasi di lapangan.

Perkembangan terbaru memperkuat gambaran tersebut. Pemerintah telah menyalurkan bantuan kemasyarakatan sebesar Rp200 miliar untuk mendukung penanganan gempa NTT. Dana tersebut dialokasikan Rp40 miliar bagi Pemerintah Provinsi NTT dan masing-masing Rp20 miliar untuk delapan kabupaten terdampak di Flores. Dukungan anggaran ini menjadi instrumen penting agar pemerintah daerah memiliki ruang untuk menangani kebutuhan masyarakat sekaligus memulai proses pemulihan.

Dari sisi energi, Anggota Dewan Energi Nasional M Kholid Syeirazi menilai percepatan pemulihan listrik merupakan langkah mendasar. Menurutnya, listrik bukan hanya kebutuhan rumah tangga, tetapi fondasi bagi aktivitas masyarakat setelah bencana. Ketika pasokan listrik kembali, fasilitas kesehatan, komunikasi, layanan publik, kegiatan ekonomi, dan aktivitas sosial memiliki peluang lebih besar untuk beroperasi secara normal. Karena itu, pemulihan kelistrikan menjadi indikator penting bahwa negara mulai mengembalikan kehidupan masyarakat.

Kebutuhan dasar lain yang tidak kalah penting adalah air bersih. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyampaikan bahwa pemerintah memprioritaskan pemenuhan kebutuhan air di Palue, termasuk memperbaiki fasilitas penampungan air hujan yang terdampak gempa. Pemerintah juga menjajaki penggunaan teknologi Reverse Osmosis untuk mengolah air laut menjadi air tawar. Pilihan teknologi tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan tidak hanya mengandalkan pola bantuan konvensional, tetapi mulai memanfaatkan solusi yang sesuai dengan karakter geografis wilayah kepulauan.

Di sektor konektivitas, pemulihan jalan nasional juga terus dikejar. Kementerian PU menyatakan konektivitas jalan nasional yang terdampak gempa di Pulau Flores telah kembali pulih. Infrastruktur jalan memiliki fungsi strategis karena menentukan kelancaran distribusi bantuan, mobilitas tenaga kesehatan, akses masyarakat, serta aktivitas ekonomi. Semakin cepat konektivitas pulih, semakin besar peluang masyarakat kembali menjalankan kegiatan sehari-hari.

Dukungan fiskal dan kelembagaan juga perlu diikuti pengawasan agar setiap bantuan benar-benar menjangkau warga yang paling membutuhkan. Dalam kondisi pascabencana, kecepatan memang penting, tetapi akurasi sasaran tidak kalah menentukan. Pemulihan yang transparan akan memperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan sumber daya negara digunakan untuk memperbaiki kehidupan warga, bukan sekadar menyelesaikan target administratif. Prinsip ini juga penting untuk menjaga agar proses rehabilitasi berlangsung adil dan dapat dipertanggungjawabkan.

Gubernur NTT Melki Laka Lena melihat kehadiran Presiden Prabowo memberikan dorongan moral sekaligus memperkuat dukungan pusat bagi daerah. Pandangan tersebut penting karena pemulihan bencana membutuhkan kerja bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah daerah memiliki pemahaman langsung mengenai kebutuhan masyarakat, sementara pemerintah pusat memiliki kapasitas sumber daya dan koordinasi nasional untuk mempercepat penyelesaian persoalan yang lebih besar.

Pemulihan Flores karena itu perlu dipandang sebagai proses berlapis. Bantuan darurat harus tetap berjalan, tetapi pada saat yang sama listrik, air, jalan, layanan kesehatan, tempat tinggal, dan aktivitas ekonomi harus dipulihkan secara bertahap. Pemerintah juga perlu memastikan pembangunan kembali lebih tangguh agar masyarakat tidak sekadar kembali ke kondisi sebelum bencana, tetapi memiliki ketahanan lebih baik menghadapi risiko di masa depan.

Kehadiran negara dalam situasi bencana pada akhirnya diukur dari kemampuan mengubah respons cepat menjadi pemulihan yang nyata. Langkah pemerintah di NTT menunjukkan arah tersebut: bantuan digerakkan, layanan dasar dipulihkan, infrastruktur diperbaiki, teknologi dipertimbangkan, dan koordinasi pusat-daerah diperkuat. Dengan kepemimpinan Presiden Prabowo dan kerja bersama seluruh unsur pemerintahan, pemulihan NTT memiliki fondasi untuk berlangsung cepat, manusiawi, dan berkelanjutan, sekaligus membuktikan bahwa negara hadir ketika masyarakat membutuhkan perlindungan dan dukungan untuk bangkit.

*) Penulis merupakan Pengamat Sosial

Pemerintah Presiden Percepat Pemulihan Penyintas Gempa NTT Secara Terpadu

Flores, NTT – Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mempercepat pemulihan masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui penanganan bencana yang dilakukan secara terpadu. Upaya tersebut tidak hanya difokuskan pada pemenuhan kebutuhan darurat, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara aman dan aktivitas sosial ekonomi berangsur pulih.

Bagi Presiden Prabowo, penanganan bencana tidak berhenti hanya pada pengiriman bantuan. Pemerintah terus memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan aman, anak-anak kembali belajar, pelayanan kesehatan berjalan, aktivitas ekonomi kembali bergerak, serta rumah dan infrastruktur yang terdampak dapat segera dipulihkan.

Karena itu, pemerintah memastikan seluruh tahapan penanganan dilakukan secara terpadu, cepat, dan terukur. Penanganan darurat, evakuasi, distribusi logistik, pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, hingga tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi terus dikawal agar benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Kehadiran Presiden Prabowo di Nagekeo juga turut menegaskan bahwa dalam keadaan sulit, rakyat tidak berjalan sendiri. Negara hadir, bekerja bersama rakyat, dan akan terus mendampingi hingga masyarakat kembali bangkit.

Dukungan pemerintah pusat juga diperkuat melalui bantuan anggaran bagi daerah terdampak. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto memastikan bantuan sebesar Rp20 miliar untuk setiap kabupaten telah diterima pemerintah daerah.

“Untung Pak Presiden memberikan bantuan 20 miliar itu, sehingga itu sangat membantu pada pemerintah daerah,” ujar Suharyanto.

Ia menegaskan, seluruh bantuan telah diterima dan disampaikan kepada para bupati untuk digunakan secara khusus dalam penanganan bencana. “Sudah sampai, kami juga sudah sampaikan ke Bupati, bantuan itu tidak boleh digunakan hal yang lain kecuali untuk menangani bencana,” ujar Suharyanto.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan apresiasi atas dukungan Presiden Prabowo. Menurutnya, bantuan tersebut memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam menangani dampak bencana dan memenuhi kebutuhan para pengungsi.

“Terima kasih Bapak Presiden sudah mendapatkan bantuan. Semua kabupaten di Pulau Flores ini mendapatkan Rp20 miliar dan provinsi Rp40 miliar, itu sangat membantu kami untuk menggerakkan lebih maksimal lagi biar bisa bantu pengungsi,” ujar Melkiades.

Melalui koordinasi pemerintah pusat dan daerah, percepatan pemulihan diharapkan tidak hanya menyelesaikan kebutuhan masa tanggap darurat, tetapi juga menjadi pijakan bagi masyarakat NTT untuk kembali membangun kehidupan, memulihkan perekonomian, serta memperbaiki rumah dan infrastruktur yang terdampak bencana. (*)

Pemulihan Penyintas Gempa NTT Dikebut, Negara Jaga Hak Dasar Penyintas

Jakarta – Pemulihan kehidupan para penyintas gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dikebut melalui penanganan terpadu. Negara memastikan hak dasar masyarakat terdampak tetap terpenuhi, mulai dari kebutuhan pangan, tempat tinggal sementara, layanan kesehatan, hingga dukungan psikososial, sekaligus memperkuat pemulihan menuju tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono mengatakan seluruh sumber daya lintas kementerian dan lembaga dikerahkan untuk mempercepat penanganan darurat serta pemulihan masyarakat terdampak. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut atas instruksi Presiden Prabowo Subianto agar koordinasi dan pembagian tugas antarlembaga berjalan efektif.

“Seluruh kekuatan dikerahkan bersama untuk mempercepat penanganan dan memastikan kebutuhan dasar para penyintas dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono.

Pemenuhan kebutuhan dasar menjadi fokus utama melalui penyediaan pangan, tenda, pakaian, dan selimut. Bersamaan dengan itu, pemulihan akses jalan dan jembatan yang terdampak longsor, jaringan listrik, serta komunikasi terus dipercepat guna mendukung kelancaran distribusi bantuan dan aktivitas masyarakat.

Menurut Agus Jabo Priyono, ratusan personel gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, BNPB, Tagana, dan relawan telah dimobilisasi untuk menjangkau masyarakat terdampak, termasuk pengungsi di wilayah terpencil dan pulau-pulau terluar.

“Tidak boleh ada masyarakat terdampak yang terlewat dari jangkauan. Seluruh unsur bergerak agar bantuan dapat tiba secara cepat dan merata,” kata Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono.

Kementerian Sosial juga menyiapkan anggaran Rp14 miliar untuk kebutuhan logistik dan sarana pengungsian serta mengoperasikan tujuh dapur umum di sejumlah kabupaten terdampak. Tim psikososial turut diterjunkan untuk memberikan pendampingan bagi para penyintas.

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi mengatakan penanganan gempa tidak berhenti setelah masa tanggap darurat. Pemerintah akan melanjutkan pemulihan secara bertahap melalui rehabilitasi dan rekonstruksi untuk membangun kembali infrastruktur, fasilitas, layanan, dan kehidupan masyarakat.

“Pemulihan akan terus dilanjutkan secara bertahap, tidak hanya memperbaiki fasilitas dan layanan terdampak, tetapi juga membangun kembali kehidupan masyarakat dengan lebih baik dan berkelanjutan,” ujar Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

Menurut Prasetyo, Presiden Prabowo Subianto sejak hari pertama telah menginstruksikan agar bantuan disalurkan cepat, terarah, dan merata. Sejak 15 hingga 24 Agustus 2026, pemerintah telah menyalurkan berbagai bantuan pangan, air mineral, obat-obatan, tenda, selimut, matras, peralatan komunikasi, serta dua unit rumah sakit lapangan sebagai wujud komitmen negara menjaga hak dasar dan mempercepat pemulihan penyintas. (*)

Karhutla Ditangani dengan Ilmu, Anggaran, dan Komando Terpadu

Oleh: Ricky Rinaldi *)

Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia telah mengalami transformasi paradigma yang sangat mendasar dan progresif. Negara tidak hanya memposisikan diri sebatas pemadam api di masa darurat bencana, melainkan hadir secara proaktif membangun tata kelola pencegahan berbasis data sains, kesiapan alokasi anggaran yang kuat, dan komando operasional terpadu. Pendekatan ilmiah modern yang dipadukan dengan kesiapsiagaan seluruh instrumen pertahanan lingkungan hidup membuktikan keseriusan kepemimpinan pemerintah dalam menjaga kedaulatan ekologis, melindungi kesehatan masyarakat luas, serta membebaskan langit Nusantara dari ancaman kabut asap pekat lintas batas.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan pemerintah terus memperkuat langkah pencegahan terstruktur melalui integrasi pemantauan titik panas berbasis teknologi satelit penginderaan jauh dan percepatan restorasi ekosistem gambut. Penguatan regulasi, audit kepatuhan korporasi perkebunan secara berkala, serta penegakan hukum lingkungan yang tegas tanpa pandang bulu diintensifkan guna memastikan kawasan hutan lindung maupun area konsesi swasta tidak dikelola dengan cara-cara pembakaran yang merusak kelestarian alam.

Hanif menjelaskan bahwa pendekatan penanganan karhutla modern menuntut pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi pemodelan iklim secara presisi. Pemerintah mengoptimalkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) lebih awal sebelum puncak musim kemarau tiba, sehingga tingkat kelembapan lahan gambut dapat terus dipertahankan dan potensi kemunculan titik api dapat ditekan seminimal mungkin. Langkah antisipatif ini dinilai jauh lebih efektif serta efisien dibandingkan melakukan operasi pemadaman masif saat api telah menjalar ke lapisan bawah tanah gambut yang sangat sulit dijangkau.

Pemberantasan karhutla bukan sekadar urusan teknis pemadaman titik api di lapangan, melainkan manifestasi nyata perlindungan hak asasi seluruh warga negara atas lingkungan hidup yang bersih, sehat, dan aman. Pemerintah memberikan pesan yang sangat tegas kepada publik bahwa kelestarian alam dan keselamatan rakyat adalah prioritas mutlak yang tidak boleh dikompromikan oleh kepentingan ekonomi jangka pendek segelintir pihak. Segala bentuk kelalaian maupun kesengajaan dalam membakar lahan akan berhadapan langsung dengan sanksi administratif berat, pembekuan izin usaha, hingga proses penuntutan pidana yang berkeadilan.

Menurut Hanif, keberhasilan pengendalian kebakaran hutan sangat bergantung pada konsistensi edukasi publik dan kemitraan strategis bersama masyarakat adat serta kelompok tani peduli api di tingkat tapak. Program pemberdayaan ekonomi ramah lingkungan terus digencarkan agar masyarakat di sekitar kawasan rawan memiliki alternatif mata pencaharian produktif tanpa harus membuka lahan perkebunan dengan cara membakar.

Keandalan mitigasi karhutla juga diperkuat oleh kesiapan alokasi pembiayaan negara dan struktur koordinasi lintas sektoral yang sangat solid di lapangan. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto mengatakan kesiapan anggaran kebencanaan dan pengerahan armada penanganan udara maupun satgas darat telah disiagakan secara penuh sejak penetapan status siaga darurat di berbagai provinsi rawan. Menurutnya, respons cepat yang didukung oleh kesiapan helikopter patroli, armada water bombing, dan ribuan personel gabungan menjadi kunci utama keberhasilan pemadaman api pada menit-menit pertama kemunculannya.

Suharyanto memaparkan bahwa sinergi operasional antara TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD daerah, dan para sukarelawan masyarakat berjalan di bawah satu rantai komando terpadu yang sangat adaptif. Pemanfaatan sistem peringatan dini digital memungkinkan satgas darat bergerak cepat menuju koordinat titik api secara presisi sebelum meluas menjadi kebakaran besar yang tidak terkendali. Langkah operasional yang terukur ini sekaligus memastikan keselamatan personel pemadam api di garda terdepan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap misi penanganan darurat.

Ditinjau dari kacamata analitis, keterpaduan antara penguasaan sains meteorologi, kesiapan alokasi anggaran negara, dan ketegasan rantai komando lapangan membuktikan hadirnya model tata kelola kebencanaan nasional yang matang dan berdaya tahan tinggi. Sinergi yang kokoh antara kementerian teknis, otoritas penanggulangan bencana, dan pemerintah daerah berhasil menekan drastis angka deforestasi akibat kebakaran hutan, sekaligus menghapus predikat Indonesia sebagai pengekspor asap di kawasan regional Asia Tenggara.

Di sisi lain, partisipasi aktif masyarakat dan kesadaran dunia usaha di sektor kehutanan serta perkebunan menjadi pilar pendukung yang sangat menentukan keberlanjutan program ini. Korporasi diwajibkan memiliki sarana prasarana pencegahan kebakaran mandiri, kanal pembasahan gambut, dan menara pemantau api yang terhubung langsung dengan posko komando terpadu. Kolaborasi harmonis antara ketegasan aparatur negara, kepatuhan dunia usaha, dan partisipasi aktif masyarakat peduli api menjadi benteng terkuat dalam mewujudkan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.

Dengan demikian, langkah komprehensif pemerintah dalam menangani karhutla melalui pendekatan sains, dukungan anggaran yang matang, dan komando operasional terpadu merupakan bukti nyata komitmen negara dalam menjaga kedaulatan lingkungan nasional. Penegakan hukum tanpa tebang pilih, restorasi lahan gambut berkelanjutan, kesiapsiagaan personel gabungan, serta integrasi teknologi canggih adalah rangkaian kerja nyata yang saling melengkapi. Tujuannya adalah memastikan bahwa seluruh rakyat Indonesia menikmati udara bersih, ekosistem alam tetap lestari, dan masa depan generasi penerus bangsa terlindungi seutuhnya di bawah naungan Sang Saka Merah Putih.

*) Pengamat Isu Strategis

Anggaran Karhutla, Instrumen Cepat Menyelamatkan Rakyat

Oleh : Abdul Razak)*

Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla bukan sekadar persoalan api yang melahap kawasan vegetasi. Bencana ini membawa dampak langsung terhadap keselamatan masyarakat, kesehatan, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga kualitas lingkungan. Ketika asap mulai menyelimuti permukiman dan titik api meluas, kecepatan penanganan menjadi faktor yang sangat menentukan. Dalam kondisi seperti ini, ketersediaan anggaran bukan hanya persoalan administrasi fiskal, melainkan instrumen penting untuk memastikan negara dapat bergerak cepat melindungi rakyat.

Komitmen pemerintah untuk menyiapkan anggaran penanganan bencana, termasuk karhutla di Kalimantan, menjadi bagian penting dari upaya memperkuat respons di tengah ancaman musim kemarau. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah memiliki kesiapan fiskal untuk mendukung kebutuhan penanganan yang diajukan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB. Mekanisme tersebut memungkinkan pemerintah menyesuaikan dukungan anggaran berdasarkan asesmen dan kebutuhan nyata di lapangan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa anggaran bencana harus bersifat responsif. Penanganan karhutla tidak selalu dapat diprediksi secara persis sejak awal tahun anggaran karena perkembangan titik api, kondisi cuaca, luas wilayah terdampak, serta kebutuhan operasi dapat berubah dengan cepat. Karena itu, asesmen BNPB menjadi tahapan penting untuk memastikan dana yang disediakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan penanganan.

Kementerian Keuangan juga membuka ruang penambahan anggaran apabila dana yang tersedia tidak mencukupi. BNPB diketahui memiliki anggaran sekitar Rp5 triliun untuk penanganan bencana, sementara pemerintah siap memberikan dukungan tambahan sesuai kebutuhan. Fleksibilitas tersebut menjadi modal penting agar operasi penanggulangan tidak terhambat hanya karena keterbatasan pembiayaan ketika situasi di lapangan membutuhkan respons segera.

Meski demikian, kesiapan anggaran harus berjalan beriringan dengan tata kelola yang akuntabel. Setiap rupiah yang dialokasikan untuk bencana harus benar-benar sampai pada kebutuhan masyarakat dan mendukung kerja petugas di lapangan. Pengawasan menjadi penting untuk mencegah penyimpangan maupun praktik penggelembungan anggaran. Kecepatan dalam situasi darurat tidak boleh menghilangkan prinsip transparansi, efisiensi, dan pertanggungjawaban.

Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga memperlihatkan langkah konkret dengan menyiapkan sekitar Rp50 miliar sepanjang 2026 untuk penanganan karhutla. Anggaran yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi tersebut diarahkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari operasi pemadaman hingga pengadaan sarana dan peralatan bagi masyarakat yang berada di wilayah rawan kebakaran.

Salah satu fokus pemanfaatan anggaran adalah pengadaan kendaraan roda tiga yang akan diserahkan kepada Masyarakat Peduli Api atau MPA. Dukungan peralatan bagi masyarakat memiliki arti strategis karena warga sering kali menjadi pihak yang berada paling dekat dengan lokasi munculnya kebakaran. Dengan sarana yang memadai, upaya deteksi dini dan pemadaman awal dapat dilakukan lebih cepat sebelum api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Penanganan karhutla juga memperlihatkan pentingnya investasi pada ketersediaan sumber air. Di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, petugas menghadapi kendala karena sumber air alami dan embung mengalami kekeringan. Untuk menjawab persoalan tersebut, Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah membangun 10 sumur bor secara swadaya di sejumlah lokasi yang membutuhkan dukungan sumber air, termasuk kawasan Tumbang Nusa, Kameloh Baru di Palangka Raya, dan Sampit.

Keberadaan sumur bor dapat menjadi salah satu instrumen pendukung yang sangat penting ketika pemadaman berlangsung dalam kondisi sumber air terbatas. Dengan kedalaman rata-rata 25 hingga 30 meter dan biaya pembangunan sekitar Rp2,5 juta per unit, pembangunan titik-titik air menunjukkan bahwa langkah penanganan tidak selalu harus menunggu proyek berskala besar. Solusi yang relatif sederhana, jika ditempatkan di lokasi strategis, dapat memberikan manfaat nyata bagi operasi pemadaman.

Upaya berikutnya adalah menginventarisasi sumur bor yang pernah dibangun sebelumnya. Berdasarkan informasi sementara, jumlah fasilitas tersebut di Kalimantan Tengah diperkirakan mencapai 3.000 hingga 4.000 unit. Inventarisasi penting dilakukan untuk mengetahui mana saja fasilitas yang masih berfungsi, membutuhkan perbaikan, atau perlu dibangun kembali. Pemanfaatan aset yang sudah tersedia dapat membuat penggunaan anggaran menjadi lebih efisien sekaligus mempercepat kesiapan menghadapi kebakaran.

Namun, anggaran dan infrastruktur saja tidak cukup. Karhutla membutuhkan kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, relawan MPA, Manggala Agni, TNI, dan Polri. Para personel di lapangan menghadapi risiko besar ketika melakukan pemadaman, sehingga dukungan logistik, peralatan, transportasi, perlindungan, dan pembiayaan harus menjadi perhatian serius.

Dalam konteks inilah anggaran karhutla harus dipandang sebagai instrumen penyelamatan rakyat. Dana yang tersedia bukan semata-mata angka dalam dokumen keuangan negara, tetapi dapat diterjemahkan menjadi mobilisasi personel yang lebih cepat, peralatan yang lebih memadai, ketersediaan air, dukungan bagi relawan, hingga perlindungan masyarakat dari paparan asap.

Ke depan, keberhasilan penanganan karhutla akan sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh pihak mengubah anggaran menjadi tindakan nyata. Respons cepat, asesmen yang akurat, penggunaan dana yang transparan, serta koordinasi lintas sektor harus berjalan secara bersamaan. Ketika negara dan daerah memiliki kesiapan fiskal yang kuat serta didukung masyarakat dan aparat di lapangan, ancaman karhutla dapat ditangani dengan lebih sigap.

Pada akhirnya, anggaran yang disiapkan untuk karhutla bukan sekadar biaya penanggulangan bencana. Anggaran tersebut merupakan investasi untuk melindungi kesehatan, keselamatan, lingkungan, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat. Semakin cepat anggaran diterjemahkan menjadi langkah konkret yang tepat sasaran, semakin besar pula peluang untuk menyelamatkan rakyat dari dampak kebakaran hutan dan lahan.

)* Analis Kebijakan

Pemerintah Siapkan Anggaran Tambahan Percepat Penanganan Karhutla

Jakarta – Pemerintah memastikan dukungan anggaran untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa Kementerian Keuangan siap menambah pendanaan apabila anggaran yang tersedia bagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tidak mencukupi kebutuhan operasi di lapangan.

“Kami uangnya siap terus, tinggal Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) operasinya seperti apa,” kata Purbaya.

Purbaya menjelaskan, BNPB saat ini memiliki anggaran sekitar Rp5 triliun untuk penanganan bencana nasional. Namun, pemerintah belum mencairkan tambahan dana khusus untuk karhutla karena BNPB masih melakukan asesmen dan belum menyampaikan kebutuhan biaya secara keseluruhan.

“BNPB belum kasih biaya total, kami nggak tahu berapanya. Kan ini masih terjadi, dia (BNPB) akan menilai ulang,” ujar Purbaya.

Menurut Purbaya, pemerintah tidak membatasi besaran tambahan anggaran yang dapat diajukan BNPB selama pengajuan tersebut sesuai kebutuhan riil dan dapat dipertanggungjawabkan. Kementerian Keuangan, kata dia, akan memberikan dukungan pendanaan karena penanganan bencana menyangkut keselamatan dan kepentingan masyarakat.

“Asal jangan di-mark up saja. Kalau untuk bencana kan pendekatannya beda dengan belanja biasa,” tegas Purbaya.

Selain BNPB, Kementerian Kehutanan juga telah mengajukan kebutuhan anggaran untuk mendukung penanganan karhutla. Sebagian anggaran tersebut telah diberikan pemerintah untuk memperkuat langkah penanggulangan di wilayah terdampak.

Kebijakan penambahan anggaran tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah mempercepat penanganan karhutla yang dilakukan secara terpadu. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengatakan bahwa pemerintah mengerahkan sumber daya lintas sektor untuk mengatasi kebakaran di sejumlah daerah.

“Sekarang saya kira sudah mulai teratasi, termitigasi di beberapa tempat saya kira saya berharap dalam satu dua minggu ini bisa selesai semua,” kata Prabowo.

Dengan kesiapan anggaran dan pengerahan sumber daya tersebut, pemerintah menargetkan penanganan karhutla dapat berlangsung cepat, terukur, dan sesuai kebutuhan lapangan. Pemerintah juga menekankan pentingnya penggunaan anggaran secara tepat sasaran agar setiap dukungan fiskal benar-benar memperkuat operasi pemadaman dan melindungi masyarakat terdampak.

Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah menempatkan respons kebencanaan sebagai prioritas, dengan mekanisme pembiayaan yang dapat disesuaikan secara cepat mengikuti perkembangan situasi dan hasil evaluasi BNPB di lapangan, terutama di wilayah yang menghadapi ancaman karhutla berulang tahunan.

Pemerintah Perkuat Operasi Lintas Sektor Hadapi Ancaman Karhutla

Oleh: Gavin Asadit

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menjadi tantangan serius bagi Indonesia memasuki periode risiko tinggi pada Agustus hingga September 2026. Ancaman ini tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan pemadaman api, sebab karhutla berkaitan dengan kerusakan lingkungan, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga keberlangsungan kehidupan warga di wilayah terdampak. Karena itu, langkah pemerintah yang menggabungkan pencegahan, operasi lapangan, dukungan teknologi, serta penegakan hukum menunjukkan bahwa penanganan karhutla kini ditempatkan sebagai persoalan nasional yang membutuhkan kerja bersama.

Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arah yang jelas dalam rapat penanganan karhutla di Riau, Senin (24/8). Pemerintah tidak akan memberikan toleransi terhadap pembakaran lahan yang dilakukan secara sengaja, termasuk apabila terdapat keterlibatan korporasi. Sikap tersebut penting karena keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup diukur dari seberapa cepat api dipadamkan. Negara juga perlu memastikan siapa yang menyebabkan kebakaran dan mengapa praktik pembakaran masih terjadi di tengah berbagai aturan yang telah diberlakukan.

Pada tingkat masyarakat, pendekatan pencegahan menjadi sangat penting. Edukasi mengenai larangan pembukaan lahan dengan cara membakar perlu diperkuat hingga tingkat desa. Pemerintah daerah, TNI, Polri, dan kelompok tani dapat membangun mekanisme pembukaan lahan yang lebih aman sehingga masyarakat tidak terdorong mengambil jalan pintas. Gagasan pengorganisasian melalui kelompok tani dan koperasi juga dapat menjadi instrumen untuk menyediakan dukungan pembiayaan sekaligus memastikan aktivitas pembukaan lahan berlangsung secara tertib. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak semata-mata diposisikan sebagai objek penertiban, tetapi menjadi bagian dari solusi.

Namun, pendekatan persuasif terhadap masyarakat harus berjalan beriringan dengan ketegasan terhadap korporasi. Presiden Prabowo menekankan pentingnya penyelidikan terhadap perusahaan yang diduga memerintahkan pembakaran. Pemerintah juga membuka ruang bagi pencabutan izin apabila ditemukan indikasi keterlibatan. Pesan ini menunjukkan bahwa kepentingan investasi tidak boleh ditempatkan di atas keselamatan lingkungan dan kepentingan publik. Perusahaan yang menjalankan usaha secara bertanggung jawab tentu tidak perlu khawatir terhadap penegakan hukum, sementara pelaku yang terbukti melanggar harus menghadapi konsekuensi yang setimpal.

Ketegasan tersebut menemukan konteksnya ketika pemerintah menghadapi risiko karhutla yang cukup tinggi sepanjang 2026. BMKG memperkirakan kondisi lebih kering di sejumlah wilayah dan pengaruh El Niño masih dapat berlangsung hingga awal 2027. Potensi Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Artinya, kondisi alam dapat memperbesar risiko, tetapi faktor manusia tetap menjadi bagian penting yang harus dikendalikan. Cuaca kering tidak dengan sendirinya menghasilkan kebakaran apabila tidak ada sumber api yang memicu dan memperluasnya.

Hingga awal Agustus 2026, luas lahan terbakar di Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan mencapai sekitar 48.889 hektare. Angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla membutuhkan respons yang terukur dan tidak sporadis. Pemerintah memperkuat operasi lintas sektor dengan melibatkan BNPB, BMKG, pemerintah daerah, TNI, Polri, kementerian terkait, dunia usaha, serta masyarakat. Koordinasi lintas lembaga menjadi penting karena karakter kebakaran berbeda-beda di setiap wilayah.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menekankan pentingnya kombinasi operasi darat dan udara. Water bombing diperlukan untuk menjangkau titik api yang sulit diakses, tetapi tidak boleh menggantikan penyisiran di darat. Hal ini terutama berlaku di kawasan gambut karena bara dapat bertahan di bawah permukaan. Dengan demikian, ukuran keberhasilan bukan hanya hilangnya api dari pandangan, melainkan benar-benar terkendalinya sumber kebakaran. Pendekatan ini juga mengurangi risiko api kembali muncul setelah operasi pemadaman selesai.

Pemerintah menggunakan pemantauan titik panas, patroli, helikopter, pompa air, mobil tangki, hingga Operasi Modifikasi Cuaca. Di Kalimantan, puluhan helikopter dan ribuan personel gabungan disiagakan. Sementara itu, Kementerian Kehutanan melalui Manggala Agni terus memperkuat patroli dan pengawasan kawasan rawan. Pendekatan ini memperlihatkan pergeseran dari pola reaktif menuju sistem pencegahan berbasis data, prakiraan cuaca, dan kondisi lapangan. Operasi Modifikasi Cuaca juga menjadi instrumen pendukung untuk meningkatkan curah hujan dan membantu pembasahan wilayah yang rentan terbakar, khususnya kawasan gambut.

Perhatian juga tidak berhenti di Sumatra dan Kalimantan. Papua menjadi bagian dari cakupan kewaspadaan karena karakter geografis Indonesia menuntut sistem pemantauan yang mampu menjangkau wilayah dari barat hingga timur. Informasi cuaca, titik panas, laporan daerah, dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi mata rantai penting dalam mendeteksi ancaman sejak dini. Pola ini penting agar pemerintah tidak menunggu kebakaran meluas sebelum mengerahkan sumber daya.

Di tengah ancaman cuaca kering dan potensi karhutla yang masih tinggi, pesan pemerintah cukup terang: pencegahan harus dimulai sebelum api muncul, sementara penegakan hukum harus menyasar siapa pun yang dengan sengaja membakar. Ketegasan Presiden Prabowo, jika diterjemahkan secara konsisten hingga tingkat lapangan, dapat menjadi fondasi penting untuk membangun tata kelola penanganan karhutla yang tidak hanya cepat memadamkan api, tetapi juga mampu mencegah kebakaran berulang. Melindungi hutan pada akhirnya bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan dan melindungi masyarakat.

)* Penulis adalah pemerhati lingkungan

Penanganan Karhutla Sumatra hingga Papua, Cepat, Terpadu, dan Tegas

Oleh: Athari Yuanto )*

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menguji komitmen negara dalam menjaga lingkungan dan memastikan keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam. Persoalan ini tidak mengenal batas wilayah. Dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, ancaman karhutla dapat muncul ketika musim kering bertemu dengan praktik pembukaan lahan yang mengabaikan aspek keselamatan lingkungan. Karena itu, penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi harus dibangun melalui sistem pencegahan, pengawasan, penegakan hukum, dan pemulihan yang berjalan secara terpadu.

Langkah Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memberikan sanksi kepada enam perusahaan terkait karhutla di Kalimantan menjadi sinyal penting bahwa kewajiban pemegang konsesi tidak boleh berhenti pada pengelolaan kegiatan usaha. Direktur Pengawasan, Pengenaan Sanksi Administratif, dan Keperdataan Kehutanan Kemenhut, Ardi Risman, menyatakan enam perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dijatuhi sanksi paksaan pemerintah. Keenam perusahaan tersebut terdiri atas PT WEL, PT FI, PT MPK, dan PT WSP di Kalimantan Barat, PT NES di Kalimantan Tengah, serta PT PSR di Kalimantan Timur.

Sanksi tersebut merupakan tindak lanjut pengawasan terhadap kewajiban perusahaan dalam mencegah dan mengendalikan karhutla di areal kerja masing-masing. Pengawasan mencakup kesiapan regu pengendalian kebakaran, ketersediaan peralatan pemadam, sumber air, menara pemantau, sekat kanal, hingga sistem deteksi dan respons dini. Menurut Ardi Risman, sanksi paksaan pemerintah memberikan konsekuensi kepada perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan, mulai dari pembenahan sistem pengendalian kebakaran hingga pemulihan areal terdampak dalam batas waktu tertentu.

Khusus kawasan gambut, tanggung jawab tersebut bahkan menjadi semakin penting. Kebakaran gambut tidak mudah ditangani hanya dengan penyemprotan air dari udara atau darat karena api dapat menjalar di bawah permukaan. Karena itu, pemulihan harus mencakup perbaikan fungsi hidrologis, penataan tata air, penyekatan kanal, pembasahan kembali gambut, serta pemantauan tinggi muka air tanah. Api harus dipadamkan, penyebabnya ditelusuri, kawasan yang rusak dipulihkan, dan sistem pencegahan diperkuat agar kejadian serupa tidak berulang.

Pada saat yang sama, penegakan hukum menjadi unsur yang tidak dapat dipisahkan dari strategi penanganan karhutla. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mendukung langkah Polri untuk mengusut kasus karhutla secara menyeluruh. Komisioner Kompolnas Choirul Anam menegaskan bahwa pengusutan tidak boleh berhenti pada pelaku yang ditemukan di lapangan. Individu maupun perusahaan yang memiliki tanggung jawab lebih besar harus ditelusuri dan diproses sesuai mekanisme hukum yang berlaku.

Penegakan hukum yang hanya menyasar pelaku lapangan berisiko tidak menyelesaikan persoalan secara mendasar. Apabila terdapat bukti bahwa pembakaran berkaitan dengan kepentingan pembukaan lahan, keuntungan ekonomi, atau kelalaian pengelolaan konsesi, maka pihak yang mendapatkan manfaat maupun pihak yang bertanggung jawab harus ikut diperiksa. Dengan demikian, hukum tidak sekadar menjadi instrumen untuk menghukum, tetapi juga menjadi mekanisme untuk membangun kepatuhan dan mencegah terulangnya pelanggaran.

Dukungan terhadap langkah tegas juga disampaikan Ketua Fraksi Golkar DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Heri Mustamin. Ia menilai perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran lahan dan menimbulkan dampak luas kepada masyarakat harus ditindak tanpa keraguan. Heri juga menyoroti potensi penggunaan api sebagai jalan pintas dalam pembukaan lahan karena pembukaan secara mekanis membutuhkan biaya lebih besar. Karena itu, apabila ditemukan fakta hukum yang kuat, aparat diminta tidak ragu mengambil tindakan. Perusahaan pemegang konsesi harus lebih proaktif mencegah karhutla, termasuk memastikan lahan yang belum dikelola tidak menjadi sumber kebakaran.

Perspektif tersebut relevan untuk melihat karhutla sebagai persoalan nasional. Penanganan tidak boleh berhenti di Kalimantan Barat, tetapi harus diterapkan secara konsisten dari Sumatra hingga Papua. Setiap wilayah memiliki karakteristik ekologis dan sosial yang berbeda, tetapi prinsip dasarnya sama, pencegahan harus diperkuat, respons harus cepat, koordinasi harus terpadu, dan pelanggaran harus ditindak tegas. Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, kementerian terkait, dunia usaha, masyarakat, serta komunitas lokal perlu berada dalam satu sistem pengendalian yang memiliki pembagian tugas dan mekanisme respons yang jelas.

Kecepatan juga menjadi faktor krusial. Titik api yang terdeteksi sejak dini harus segera ditindaklanjuti sebelum berkembang menjadi kebakaran besar. Teknologi pemantauan, patroli lapangan, ketersediaan sumber air, kesiapan personel, dan koordinasi lintas lembaga harus dipastikan berfungsi. Perusahaan pemegang konsesi harus ditempatkan sebagai bagian penting dari sistem pencegahan karena mereka memiliki tanggung jawab langsung terhadap areal yang dikelola.

Keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya diukur dari luas lahan yang berhasil dipadamkan. Dari Sumatra hingga Papua, pesan kebijakannya harus sama, bahwa karhutla bukan bencana musiman yang harus diterima begitu saja. Ia adalah persoalan yang dapat dicegah dan dikendalikan melalui tata kelola yang kuat.

Ketegasan pemerintah dalam memberikan sanksi kepada perusahaan, dukungan agar aparat tidak ragu menindak pelanggaran menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan keberanian untuk bergerak dari sekadar respons menuju pencegahan dan penegakan hukum. Dengan langkah yang cepat, terpadu, dan tegas, negara hadir sebelum api membesar, saat kebakaran terjadi, bahkan setelah api padam.

)* Penulis merupakan pengamat kebijakan publik

Pemerintah Perkuat Mitigasi Karhutla di Sumatra, Kalimantan, dan Papua

Kalimantan Tengah – Pemerintah memperkuat langkah mitigasi dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah rawan, khususnya Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Penguatan dilakukan melalui peningkatan kesiapsiagaan, deteksi dini, patroli, pemadaman, penyediaan sarana pendukung, hingga penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran secara sengaja.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah akan mengambil tindakan hukum terhadap korporasi maupun pihak lain apabila terbukti melakukan pembakaran hutan dan lahan secara sengaja. Penegasan tersebut disampaikan setelah rapat di Posko Aju Penanganan Karhutla Kalimantan Tengah, Palangka Raya.

“Harus kita tindak ya, akan kita tindak. Kalau benar-benar terbukti, ya kita tindak. Kita akan tindak sesuai dengan hukum dan peraturan,” tegas Prabowo.

Presiden mengatakan mitigasi menjadi prioritas untuk mencegah meluasnya kebakaran sekaligus mengantisipasi munculnya titik api baru. Pemerintah juga terus menambah dukungan operasional berupa helikopter, peralatan pemadaman, serta mesin bor untuk memenuhi kebutuhan sumber air di lokasi terdampak.

“Saya berharap kita segera bisa kendalikan. Dan kalau kita lihat sejarah tahun-tahun yang dulu sangat lebih parah, kita mampu atasi. Jadi saya percaya ini segera kita atasi,” ujar Prabowo.

Sejalan dengan arahan tersebut, Polri memperkuat pemetaan wilayah rawan, verifikasi hotspot, sistem peringatan dini, patroli terpadu, serta respons cepat terhadap titik api. Kesiapsiagaan dilakukan bersama TNI, Manggala Agni, pemerintah daerah, dan masyarakat, termasuk melalui patroli darat maupun udara menggunakan helikopter dan drone.

Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pencegahan karhutla. “Yang kita harapkan dengan teman-teman media, khususnya kita bisa memberikan awareness, pengetahuan, kesadaran kepada masyarakat tentang pendekatan membangun kesadaran dan tindakan untuk melindungi lingkungan,” katanya di Jakarta.

Polri juga menyiapkan infrastruktur pembasahan seperti embung, sekat kanal, dan sumur bor. Respons terhadap hotspot ditargetkan dilakukan dalam waktu satu hingga dua jam sejak deteksi satelit.
Dari sisi penegakan hukum, Polri telah menangani puluhan perkara karhutla sepanjang 2026. Hingga 21 Agustus, tercatat 89 laporan polisi di sembilan Polda dengan 72 tersangka dan luas lahan terbakar dalam perkara mencapai 1.006,67 hektare. Pemerintah menegaskan mitigasi dan penegakan hukum akan terus diperkuat untuk melindungi lingkungan, masyarakat, serta mencegah karhutla berkembang menjadi bencana yang lebih luas di Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Negara Hadir, Karhutla Sumatra hingga Papua Ditangani Terpadu

JAKARTA — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah daerah, TNI-Polri, stakeholder terkait, dan masyarakat. Upaya tersebut mencakup pemadaman titik api, pencegahan, mitigasi, hingga penegakan hukum guna mencegah kebakaran meluas maupun muncul di wilayah baru.

Di Sumatra Selatan, kolaborasi lintas sektor terus diperkuat untuk memastikan pengendalian karhutla berjalan optimal. Kapolda Sumsel Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho mengatakan seluruh unsur bergerak bersama, baik untuk menangani titik api yang masih aktif maupun mengantisipasi potensi kebakaran.

“Kolaborasinya luar biasa. Pencegahannya kita maksimalkan, yang masih nyala kita padamkan, yang di depan kita juga akan kita mitigasi agar jangan sampai terbakar juga,” kata Sandi Nugroho

Menurut Sandi, pengendalian karhutla dilakukan secara menyeluruh dengan mengedepankan tiga langkah utama, yakni pencegahan, pemadaman, dan penegakan hukum. Hingga saat ini, sebanyak 17 orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara karhutla.

Sejumlah perkara telah dituntaskan, sementara perkara lainnya masih dalam proses penanganan. Penegakan hukum tersebut berjalan beriringan dengan upaya pencegahan dan pemadaman titik api di lapangan.

“Mudah-mudahan ketika kita sudah berbuat bersama dengan Pak Kajati, dengan Pak Gubernur, semuanya sudah baik,” ujar Sandi.

Di lapangan, masih terdapat sejumlah kawasan yang membutuhkan perhatian. Pemadaman pada lokasi yang masih memiliki titik api serta mitigasi terhadap wilayah yang berpotensi terbakar terus dilakukan bersama seluruh unsur terkait.

Kabidhumas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya menegaskan, pengendalian karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan munculnya kebakaran baru.

“Polda Sumsel bersama jajaran akan terus mengoptimalkan langkah pencegahan, pemadaman dan mitigasi, sekaligus melakukan penegakan hukum terhadap perkara Karhutla yang ditangani. Kami juga mengajak masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran,” ujar Nandang.

Ia menambahkan, sinergi antara kepolisian, pemerintah daerah, TNI, stakeholder terkait hingga masyarakat harus terus diperkuat. Informasi dari masyarakat mengenai munculnya titik api maupun potensi kebakaran juga diperlukan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Polda Sumsel memastikan pengendalian karhutla terus dilakukan secara terpadu melalui langkah preventif, respons cepat terhadap titik api, dan penegakan hukum. Kolaborasi seluruh unsur diharapkan mampu menekan risiko kebakaran sekaligus melindungi masyarakat dan lingkungan.

Semangat kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya negara memastikan penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman, tetapi mencakup pencegahan dan mitigasi secara berkelanjutan di wilayah rawan kebakaran, dari Sumatra hingga Papua.